Tag Archives: timor leste

Film Balibo(hong)

Balibo

Berbekal doorprize #KopdarJakarta dari Wetiga saya dan Hanny Purba menuju Salihara untuk menonton film Balibo yang secara resmi dilarang oleh LSF itu.

Film ini fokus pada kisah 5 orang wartawan Australia, Selandia Baru dan Inggris. Mereka adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham dan Toney Steward yang hilang pada saat berusaha mendapatkan berita dari tengah medan perang.

Dalam film diceritakan dialog antara Roger East -wartawan senior Australia yang datang ke Balibo untuk mencari 5 wartawan yang hilang itu- dan Ramos Horta tokoh Fretilin yang mengkoordinir keberangkatan 5 wartawan naas itu ke Balibo.

Horta dalam dialog itu mengungkapkan kekesalannya pada pemerintah Australia dan Amerika yang mendukung Indonesia menyerbu Timor Leste atas alasan politik international mempersempit ruang gerak komunisme. Pemerintah Amerika bahkan mensponsori penyerbuan itu dengan fasilitas peralatan militer.

Kesan yang paling kuat yang muncul ketika saya menonton film ini adalah usaha untuk mendiskreditkan Indonesia dengan fokus pada kisah terbunuhnya 5 orang wartawan asing itu. Padahal apa yang terjadi di Timor Leste kurun waktu itu 74-75 jauh lebih besar dari tewasnya 5 orang wartawan itu saja.

Diakhir film itu menampilkan tulisan korban rakyat Timor akibat invasi Indonesia mencapai 100 ribu jiwa. Sementara kesaksian lain dari korban Fretilin mengatakan kekejaman Fretilin juga mencapai jumlah yang sama, lebih dari 100 ribu jiwa.

Bekas Wali Kota Dili 1986-1999 itu menjelaskan, Fretilin (kelompok separatis Timor Timur yang salah satu pentolannya adalah Xanana Gusmao) telah membunuh sekitar 100 ribu warga Timor Timur pada 1970-an. Namun, pada medio Januari, Presiden Timor Leste Xanana Gusmao menyerahkan laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (CAVR) kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa tanpa meminta masukan dari warga pro-integrasi. Laporan itu berisi pelanggaran HAM TNI pada 1970-an.

Beberapa keganjilan yang saya rasakan pada logika film ini adalah pada inti cerita yakni pembunuhan kelima wartawan itu. Digambarkan ketika pasukan Indonesia memasuki Balibo para wartawan itu bersembunyi disebuah rumah. Yakin mereka tak disakiti salah satu dari mereka nekat keluar rumah yang sudah dikepung itu.

Tampak pimpinan pasukan yang berbusana lebih seperti turis ketimbang tentara itu tanpa tanya ini itu langsung menembak dari jarak sangat dekat dengan pistolnya hingga wartawan yang tanpa senjata dan tangan keatas itu mati tersungkur dengan kepala bolong. Benarkah demikian? atau rekaan itu terlalu jauh?

Menurut kesaksian Gatot Purwanto, salah seorang anggota TNI yang berada disana: pimpinan pasukan adalah Kapten Yunus Yosfiah dan mereka pada saat tidak mengantisipasi adanya wartawan asing di lapangan sehingga pimpinan pasukan belum tahu apa yang akan dilakukan terhadap kelima orang wartawan asing tersebut.

Saya masih agak di bawah (bukit), dekat dengan Pak Yunus (Mayjen Purn. Yunus Yosfiah, saat itu kapten, komandan tim). Kami dilapori ada orang asing tertangkap. Pak Yunus memerintahkan saya untuk melapor ke Pak Dading (Letjen Purn. Dading Kalbuadi, saat itu komandan), yang ada di perbatasan. Kalau tak salah, Pak Dading lalu mengontak Jakarta, menanyakan orang-orang ini mau diapakan.

Menurut kesaksian Gatot belum sempat instruksi dari Jakarta sampai pada mereka situasi sudah berubah dan memaksa mereka untuk melepaskan tembakan.

Situasi serba salah. Kalau ditangkap, nanti ketahuan yang menangkap tentara Indonesia. Kalau mau dieksekusi, juga bagaimana. Pada saat itulah, ketika tentara kita sudah santai, sudah duduk-duduk, mendadak ada tembakan lagi dari arah dekat situ. Mungkin ada yang mau menyelamatkan mereka (lima wartawan itu). Anggota kita langsung memberondong ke sana… pada mati semua itu wartawan.

Keterangan Gatot lebih masuk akal ketimbang penggambaran dalam film tersebut. Mereka adalah tentara yang hanya menembak sesuai perintah kecuali dalam tekanan untuk membela diri sementara penggambaran dalam film tersebut, tentara yang mengeksekusi tidak dalam keadaan tertekan. Jadi jelas pesan yang ingin disampaikan film itu adalah eksekusi yang sesuai perintah.

Kuatnya usaha meyakinkan penonton bahwa pasukan TNI sudah bertindak sesuai dengan perintah adalah dialog antara Roger East dan Ramos Horta ditengah hutan sehabis mereka ditembaki dari atas helikopter tempur TNI. Horta mengatakan kepada East darimana pasukan TNI tahu keberadan mereka berdua ditengah hutan kalau bukan dari pemerintah Australia yang memberikan informasi intelijen kepada pemerintah Indonesia.

Kesan ini penting karena akan menjadi faktor pendukung argumentasi justifikasi tindakan eksekusi dilapangan oleh TNI. Bahkan sejak tahun 2001 telah diungkap data intelijen dalam buku karya Jill Jollife yang berjudul Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five, (kemudian diadaptasi menjadi naskah film Balibo), halaman 312:

Benny Moerdani berpesan kepada Dading Kalbuadi “We can’t have any witness“. Dading menjawab “Don’t worry!

Sedemikian hebatnya data intelijen Australia sehingga hampir semua hal sudah ketahui termasuk keberadaan lima wartawan asing plus seorang wartawan senior Roger East di Balibo. Kesimpulannya semua sesuai perintah dan yang harus menanggung kesalahan adalah mantan petinggi TNI, bahkan Polisi Federal Australia pada Agustus 2009 berencana menyeret mereka ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.

Dengan mengikuti logika mereka saja tidakkah terasa ada yang ganjil?

Apalagi kalau dilihat dari perspektif yang lain:

Pertama tama pemerintah Australia mendukung invasi tersebut. Artinya bisa jadi pemerintah Australia “berbaik hati” pada pemerintah Indonesia dengan memberikan informasi intelijen. Pemerintah Amerika Serikat saja telah “berbaik hati” memberikan peralatan tempur pada TNI.

Mereka seiya sekata. I’ll take my part, you take your part. Jika demikian ketika ada wartawan Australia tertangkap maka sangat mungkin keputusan pemerintah pusat Indonesia atas wartawan Australia yang tertangkap hidup hidup tersebut adalah mengembalikannya kepada pemerintah Australia setelah segala peralatan medianya dilucuti. Segala kesaksian mereka tanpa bukti rekaman akan tidak kuat.

Setelah dikembalikan, pemerintah Australia tentu akan menjaga “keselamatan” operasi “bersama” tersebut dengan tidak membiarkan para wartawan itu tampil di publik. Singkatnya mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Jadi untuk apa dibunuh? Apalagi dibunuh dengan ilustrasi pada adegan film Balibo tersebut. Tapi kondisi dilapangan sangat berbeda, komunikasi pada saat itu tidak seperti sekarang. Sebelum instruksi datang dari Jakarta tembakan dari arah persembunyian para wartawan itu telah memancing tembakan balasan dari TNI yang menyebabkan mereka tewas semua oleh peluru TNI.

Memang pada saat setelah itu ditemukan sepucuk senjata di ruang persembunyian para wartawan itu. Tapi itu senjata milik siapa? Saya ragu itu miliki para wartawan yang mencoba membela diri. Sementara perkiraan tembakan itu adalah usaha dari Fretilin untuk menyelamatkan para wartawan yang terkepung dari TNI. Tepatkah demikian?

Tidakkah Fretilin yang tahu persis aspek pertempuran itu melakukannya justru untuk memancing TNI membalas tembakan yang sudah diperhitungkan akan menewaskan para wartawan tersebut. Tembakan itu arahnya dari persembunyian wartawan, tak mungkin rasanya para wartawan itu menembak dengan hanya menggunakan sepucuk senjata yang ditemukan itu sementara mereka tahu sudah dikepung TNI.

Diawal film ketika Ramos Horta membujuk Roger East untuk mau membantunya menjadi kepala kantor berita resmi Timor Leste, Horta tak menceritakan bahwa dirinyalah yang menempatkan kelima wartawan asing tersebut di Balibo, saya kira ini adalah suatu tanda upaya untuk menutupi perannya pada insiden tersebut kepada Roger hingga ia bersedia bergabung.

Horta dan kru film Balibo (Vivanews.com)

Sementara ketika pemutaran perdana film Balibo ini di Australia, Ramos Horta yang mendapat anugerah hadiah nobel perdamaian itu justru memberi komentar yang sama sekali tidak mencerminkan semangat pembawa perdamaian dengan melontarkan pernyataan yang sangat provokatif.

Mereka tidak hanya dieksekusi. Dari yang saya ingat saat itu, salah satunya disiksa secara sangat sangat brutal.

Padahal begitu perihnya pengorbanan di kedua belah pihak hingga ada kesepakatan politik antara kedua negara Indonesia dan Timor Leste untuk menutup luka lama ini dan menatap kedepan bersama.

Semua itu tak ada artinya bagi Horta. Dia sangat terlatih mempermainkan sentimen pihak pihak yang berseteru. Bahkan bisa jadi film Balibo ini, film yang menjadikan Horta sebagai tokoh sentral dan seolah olah tak ada tokoh lain yang berperan dalam kemerdekaan Timor Leste, bahkan Xanana Gusmao pun tak dikisahkan dalam film ini. Mirip propaganda film G30S/PKI.

Iklan

17 Komentar

Filed under politik