Arsip Tag: menkominfo

Dibalik Sikap Pak Nuh Tentang YouTube

YouTubePada pertemuan dengan Menkominfo kemarin terungkap beberapa hal yang penting menyangkut pemblokiran situs YouTube.

Pak Nuh memberi tahu bahwa perintah blokir itu datang langsung dari Presiden dan ketika ditanya oleh Mas Wicaksono apakah ada kemungkinan dibuka kembali, Pak Nuh menjawab tidak, sampai YouTube menghapus video Fitna itu.

Kenapa pemerintah sampai sebegitunya?

Beberapa dari teman teman yang hadir seperti Priyadi dan Jim Geovedi sudah memberikan masukannya bahwa secara teknis pemblokiran ini tidak efektif.

Kemudian Pak Nuh menanggapi bahwa apakah karena tidak efektif lantas kita biarkan. Saya menangkap kesan dari jawaban itu bahwa Pak Nuh enggan membahas aspek teknis dari pemblokiran itu, berarti ada aspek lain yang lebih menjadi pertimbangan.

Kalau dikatakan pemerintah ingin melindungi rakyat dari rasa tersinggung karena menonton film itu saya rasa tidak tepat karena prosentase pengguna Internet di Indonesia masih kecil dibanding rakyat keseluruhan yang 220 juta lebih.

Jadi kami pengguna Internet dianggap minoritas sehingga layak dikorbankan?

Tunggu dulu, diblokirnya situs YouTube memiliki implikasi sosial. Orang jadi penasaran dan mengcopy film tersebut dalam media lain seperti CD atau file yang bisa ditransfer lewat HP.

Kalau sudah begini masalahnya jadi lain. Disebuah milis malah saya mendapati ada email yang bertanya, “Sudah nonton Fitna?”. Perilaku ini memang jadi kecenderungan. Apa apa yang dilarang maka akan diburu. Orang jadi penasaran.

Apakah pemerintah aware dengan ini? Melihat perintah pemblokiran datang langsung dari Presiden maka patut dapat diduga bahwa pemblokiran ini karena alasan alasan politis. Film Fitna menghina agama dan sudah mendapat kecaman dari pemerintah Belanda sendiri dan juga dari SekJen PBB.

Mayoritas rakyat Indonesia adalah umat Islam. Pemerintah tentu dituntut untuk merepresentasikan sikap sebagai pemerintah dari negara dengan pendudukan beragama Islam terbesar didunia. Apa kata dunia jika Indonesia tidak bersikap protes terhadap pemuatan Film tersebut oleh YouTube.

Kira kira demikianlah pertimbangan politik luar negeri Presiden SBY ketika membuat keputusan pemblokiran YouTube. Soal yang lain jadi nomor dua. Apakah itu tentang bahaya transfer film Fitna ke media lain yang justru akan menyebar dengan cara yang lebih luas, atau apakah itu tentang pengguna Internet yang butuh akses ke YouTube akan terganggu, atau apakah itu terjadi kesalahan implementasi perintah blokir sehingga yang terblokir bukan hanya YouTube tapi juga situs penting lain seperti Multiply dan Rapidshare. Semua jadi nomor dua.

Adalah aspek politik luar negeri yang menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan ini. Mengenai aspek lain jadi nomor dua. Dari diskusi kemarin terlihat bahwa Pak Nuh tidak dapat membuka diskusi lebih dalam tentang pemblokiran ini, seolah olah itu harga mati.

Bisa dipahami karena beliau hanya seorang menteri yang harus take order dari Bos besar, Presiden SBY. Pemerintahan SBY dengan ini lebih mementingkan citra pemerintahannya ketimbang memperhatikan kebutuhan dan rakyatnya dari segala golongan.

Saya yakin banyak dari pengguna Internet Indonesia yang hanya sedikit prosentasenya itu yang tidak berminat menonton film jelek yang tak berkualitas itu. Hanya sedikit yang menonton atas dasar penasaran saja.

Setidaknya itu yang diungkapkan oleh Riyogarta pada saat diberi kesempatan oleh Pak Nuh untuk berbicara. Jadi sekarang kunci bukan di Pak Nuh tapi di Presiden SBY. Rasanya kok mustahil Presiden SBY mau mengundang kami ke istana untuk dengar pendapat seperti yang dilakukan oleh Pak Nuh. Citra lebih penting, apalagi mau 2009, begitu mungkin pertimbangannya.

Kita disini tinggal bengong. Bagi saya yang tidak terlalu butuh akses ke YouTube dan Multiply mungkin tidak terlalu merasakannya, apalagi saya pakai Speedy yang berani tidak manut perintah Menkominfo. Tapi bagi teman teman lain yang butuh tentu akan sangat menderita.

Bersabarlah teman teman, badai pasti berlalu. Cuma kapan…? Melihat kenyataan ini saya merenung betapa lemahnya kedaulatan TIK negara kita ini. Tak ada alternatif lain yang bisa diberi oleh anak bangsa. Mohammad DAMT dimilis nyeletuk yang menurut saya berisi poin penting.

MDAMT bilang kini saatnya mengembangkan konten lokal lebih giat lagi, memang ada layartancap.com tapi apakah server cukup kuat? Mari kita coba. Kita tak bisa begini terus, didepan sana akan banyak sekali problem yang tak bisa dipecahkan kalau kita tidak berdaulat.

Pemerintah akan hampir pasti lebih mementingkan aspek politik ketimbang yang lainnya. Bosen mikirin pemerintah mari kita perkuat TIK Indonesia sehingga kita bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

64 Komentar

Filed under curhat, islam, politik

Pentingnya Pengendalian Situs Porno

Diskusi dalam sebuah milis menjadi sengit sejak thread tentang pemblokiran situs porno oleh pemerintah diposting. Jika itu milis dari komunitas yang memiliki perspektif yang sama, maka bisa dilihat arah diskusinya searah.

Tapi yang seru adalah bila milis tersebut memiliki anggota dengan perspektif yang berbeda. Diskusi jadi kacau balau. Seseorang dengan latar belakang teknis sedang asik membahas bagaimana metode sensor tapi disanggah oleh yang lain dengan mengatakn tidak setuju sensor karena urusan moral bukan urusan pemerintah.

Ada yang mengkhawatirkan pelaksanaan UUITE akan menyimpang jauh dan dijadikan alasan aparat untuk bertindak represif pada rakyat. Kebanyakan pendapat yang menentang rata rata emosional. Diantara sekian banyak pendapat yang menentang tersebut ada juga yang memiliki argumentasi yang berdasar.

Tapi diskusi yang keroyokan semacam itu sering kali tidak menghasilkan kesimpulan apa apa. Karena masing masing tidak membahas aspek yang sama. Orang sedang membahas teknologi sensor direcoki oleh yang tidak setuju penyensoran. Tentu itu beda aspek.

Idealnya untuk diskusi tentang teknologi sensor diikuti oleh orang orang yang setuju dengan ide penyensoran tersebut, untuk orang yang tidak setuju untuk apa membahas teknologinya.

Tentu setuju atau tidak setuju tidaklah hitam putih, ada yang setuju tapi diikuti oleh kondisi kondisi. Misalnya setuju dengan ide sensor tapi dengan syarat pelaksanaannya harus transparan dan bisa dikontrol oleh masyarakat.

Tampilnya Menkominfo di berbagai media untuk menjelaskan duduk perkara UUITE yang tidak sekedar mengurusi pornografi rupanya belum cukup menenangkan keadaan.

Salah satu media dimana Menkominfo tampil sebagai narasumber adalah acara TV Perspektif Wimar. Dalam acara itu selain Menkominfo, Pak Budi Rahardjo pakar network security dari ITB juga sempat berdialog lewat telephone.

Dalam dialog di acara tersebut boleh dikatakan tidak ada yang sepaham dengan Menkominfo Pak Nuh. Bung Wimar, Wulan Guritno dan Pak Budi berada pada pihak yang berseberangan dengan Pak Nuh.

Memang terjadi dialog tapi tidak tuntas walaupun ada beberapa poin dari Bung Wimar yang telah dijawab oleh Pak Nuh. Menarik ulasan Pak Budi sebagai orang yang menolak sensor dengan argumentasi yang memiliki dasar.

Banyak pandangan tentang sensor terutama yang tidak setuju. Diantara pandangan pandangan tersebut saya jelas tidak sependapat dengan orang yang berpandangan bahwa pornografi bukan suatu masalah.

Ini bukan soal moralitas tapi soal dampak sosial yang mungkin timbul akibat pornografi. Saya yakin orang orang yang berminat pada pornografi bukanlah orang yang tidak bermoral.

Pornografi perlu dikendalikan untuk meredam dampak negatif yang merugikan masyarakat akibat kegandrungan akan pornografi.

Sebelumnya saya ingin mengungkapkan fakta bahwa pornografi memiliki dua sisi yakni sisi positif dan sekaligus sisi negatif. Positif bila terkendali dan negatif bila tidak terkendali dan menjadi eksesif, bahkan bisa menjadi obsesif. Disinilah timbul masalah itu.

Jika pornografi diakses oleh kalangan terbatas dengan cara yang terkendali maka kecenderungan untuk menjadi eksesif bisa diminimalkan. Pornografi memiliki kencederungan untuk menjadi eksesif lebih besar dari sex.

Aktifitas menikmati sex dan aktifitas menikmati pornografi memiliki karakteristik psikologi yang berbeda. Kegiatan Sex bersama pasangan memiliki pola yang lebih bisa memberikan resolusi (kepuasan sexual) sedangkan pornografi cenderung bertahan pada tingkat stimulasi dan jarang sekali berlanjut hingga resolusi.

Itulah sebab kecenderungan untuk menjadi addict pada pornografi lebih besar ketimbang addict pada Sex. Faktor lain adalah pornografi mudah didapat dimana saja. Orang tak perlu pergi kekamar mandi atau check in ke hotel untuk melihat porn. Cukup dimeja kerja dikantor tanpa diketahui oleh rekan kerja disebelahnya. Tentu Sex tak bisa dilakukan dimeja kerja tanpa ketahuan rekan disebelah meja.

Jika seseorang telah addict maka akan menjadi eksesif. Pada tingkat eksesif ini sudah banyak dampak merugikan yang bisa ditimbulkan. Mulai dari pemborosan bandwidth kantor, menurunnya produktifitas karyawan (sebagian besar karyawan dipecat karena mengakses situs porno pada jam kerja di kantor), hingga pada kecenderungan ketahap selanjutnya yaitu obsesif.

Sebagai gambaran seberapa besar perilaku eksesif ini pada masyarakat penikmat pornografi bisa dilihat dari kegiatan bisnis pornografi yang saya ambil dari situsnya Romi Satrio Wahono.

Total pendapatan pertahun industri pornografi di dunia adalah sekitar 97 miliar USD, ini setara dengan total pendapatan perusahaan besar di Amerika yaitu: Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix and EarthLink.

Saya lanjutkan. Jika perilaku eksesif telah lebih maju lagi menjadi obsesif maka yang terjadi adalah kehancuran. Seperti seorang pecandu narkoba yang sakau. Jika tak mendapatkannya akan berusaha dengan segala cara, bahkan tindakan kriminal. Jika sudah sampai pada tahap ini maka kemerosotan moral tak perlu diperdebatkan lagi.

Berdasarkan argumentasi diatas saya berbeda pendapat dengan Bung Wimar yang mengatakan bahwa pornografi tidak usah dibatasi. Sayang beliau tidak sempat mengemukakan argumentasinya karena keterbatasan waktu. Karena pornografi yang bebas membawa masalah maka harus diredam dan dikendalikan agar tidak menjadi eksesif apalagi obsesif.

***

Bagi orang orang yang tidak sependapat dengan argumentasi diatas mungkin tidak perlu melanjutkan membaca karena selanjutnya saya akan membahas bagaimana cara mengendalikan situs porno, tentu tidak bermanfaat bagi orang yang tidak setuju.

Foto dari Blognya Pak BudiBagi yang setuju tentu juga memiliki beragam perspektif. Salah satunya adalah Pak Budi Rahardjo. Pak Budi setuju bahwa pornografi itu bermasalah tapi tidak setuju dengan metode sensor yang dipakai untuk mengendalikannya.

Untuk itu saya ingin membuka dialog imaginer dengan orang orang yang menentang sensor dan sebagai model saya akan gunakan pandangan dari Pak Budi sebagai lawan dialog.

Pak Budi mengatakan ketimbang melakukan sensor maka lebih baik ditempuh cara lain yaitu dengan meningkatkan konten positif, berikut kutipannya dari acara Perspektif Wimar:

“Kalau kita mau membuat Internet lebih sehat harusnya kita lebih banyak membuat konten yang positif sehingga konten yang negatif ini akan menjadi minoritas justru”.

Saya memiliki pandangan yang berbeda dengan Pak Budi. Apakah benar konten positif bisa membuat pornografi menjadi minoritas? Belum lagi kemampuan pembuat konten anak negeri yang masih seperti sekarang ini tentu tak bisa banyak berharap. Kalau kita sudah mampu membuat konten yang baik, apakah tidak terjadi justru akan membuat mereka membangun konten yang negatif karena tidak dilarang?

Saya ingin ambil contoh negara yang telah mampu membuat begitu banyak konten dengan baik, Amerika Serikat. Apakah situs pornografi di Amerika lantas menjadi minoritas? Begitu banyak konten positif di Amerika tapi situs porno tak urung menjadi minoritas disana. Amerika justru menjadi penyumbang situs porno terbesar di dunia dengan prosentase 89% situs porno disumbangkan oleh Amerika.

Lihat saja penghasilan bisnis pornografi yang mengalahkan gabungan penghasilan perusahaan-perusahaan besar. Berdasarkan ini saya tidak sependapat dengan Pak Budi bahwa konten positif itu akan dengan sendirinya membuat situs pornografi menjadi minoritas.

Kemudian tentang himbauan Pak Budi pada Pak Nuh untuk lebih fokus pada pengembangan kreatifitas IT ketimbang sensor situs porno. Saya berpendapat justru dilengkapinya UUITE dengan pasal kesusilaan adalah untuk menjaga kreatifitas tetap pada jalur yang positif.

Bayangkan jika anak anak kita di daerah telah pandai membuat konten maka minat mereka pada pornografi akan menjadi bahan eksperiman yang sangat menyenangkan. Dengan karakteristik psikologi pornografi seperti yang saya paparkan diatas bukan tidak mungkin mereka lantas akan menjadi eksesif dan selanjutnya.

Tentu saya tak perlu menjelaskan pada Pak Budi apa sesungguhnya yang ingin dicapai melalui disahkannya UUITE.

Kemudian teori lain yang dikemukakan oleh Pak Budi adalah metode untuk menangkal pornografi. Beliau berpendapat metode yang dipilih untuk menangkal pornografi adalah sbb, quote dari Blognya:

Yang pertama adalah edukasi dan pembinaan moral. Ini harus dilakukan di semua lini; rumah, sekolah, dan masyarakat. Tujuannya adalah adanya tekanan moral bahwa melihat situs porno itu adalah salah, memalukan, tidak bermoral, dan sejenisnya.

Saya ingin menanggapi dengan mengambil analogi sebuah sistem, untuk lebih mudah dipahami berhubung beliau pakar security system :-). Langkah yang diambil oleh Pak Budi merupakan langkah proteksi pada individu, walaupun itu dilakukan disemua lini mulai dari rumah tangga hinga sekolah tapi tetap saja sasarannya adalah individu dan bukan pada sistem.

Jika ini berhasil maka sempurnalah proteksi itu. Tak ada yang bisa menembus. Tapi to be realistic, dalam sebuah sistem entah itu masyarakat atau sistem jaringan komputer kenyataannya tak ada sistem yang benar benar bisa secure hanya dengan memproteksi individu.

Kondisi ideal tak pernah bisa ditemui, apalagi tahu sendiri kondisi masyarakat kita sekarang. Saya akan ambil contoh sebuah sistem jaringan komputer.

Saya masih ingat kuliah Pak Budi tentang security disebuah seminar. Waktu itu Pak Budi bilang sistem pengamanan yang baik itu yang bagaimana sih? Kata Pak Budi melanjutkan bahwa sistem yang baik adalah yang acceptable.

Bisa saja kita kunci komputer kita di gudang tanpa jatringan tapi itu sangat tidak nyaman dan masih bisa dibobol maling kalau satpamnya lengah. Kemudian kalau kita sambungkan PC kita ke jaringan juga akan rentan serangan dari luar.

Jadi sistem pengamanan yang baik adalah yang acceptable. Kita perlu tersambung ke jaringan untuk bekerja tapi juga perlu aman, karena itu langkah langkah pengamanan harus disesuaikan dengan resiko.

Kalau kita pakai teori Pak Budi tentang menangkal pornografi dengan analogi menangkal serangan pada jaringan maka bisa saya analogikan langkah edukasi dan pembinaan moral adalah langkah membina pengguna jaringan untuk berhati dalam melakukan perkejaan didalam jaringan.

Kemudian melengkapi semua PC yang tersambung ke jaringan dengan antivirus terbaru yang selalu update. Tentu Pak Budi paham betul bahwa itu saja ternyata tidak cukup, perlu Firewall yang menjaga dipintu gerbang masuk sebelum diakses oleh pengguna jaringan.

Kalau hanya mengandalkan pengaman pada PC individual maka itu akan sangat mudah ditembus, karena kondisi dilapangan tidak selalu ideal. Ada PC yang sudah pakai Vista tapi ada juga yang masih pakai XP bahkan masih ada yang Win 98 mungkin.

Dari sisi pengguna juga demikian ada yang aware dengan security ada yang ceroboh. Karena itu perlu ada sistem pengaman yang lain yang tidak individual tapi sistemik seperti dalam jaringan perlu Firewall.

Dalam masyarakat pengguna Internet, sensor adalah sistem pengamanan yang bukan individu. Dengan hanya mengandalkan sistem pengaman individu celah untuk masuk masih sangat besar. Berikut ada kutipan dari Mas Romi:

Perlu diingat bahwa produsen situs pornografi di dunia sangat mahir menerapkan berbagai teknik internet marketing, Search Engine Optimization (SEO) dan berbagai taktik untuk menyebarkan produk yang mereka buat.

Salah satu yang membuat pornografi susah dicegah adalah akibat jebakan akses tidak sengaja. Produsen pornografi di dunia bisa menggunakan berbagai taktik di bawah untuk mengantarkan pengguna Internet ke situs pornografi:

  • Kesalahan tulis keyword: shareware vs. sharware
  • Keyword biasa: toys, boys, pets, etc
  • Kedekatan nama domain: whitehouse.com, coffeebeansupply.com, teenagershideout.com, clothingcatalog.com, watersports.com
  • Penggunaan nama brand: Disney, Nintendo, Barbie, Levis, etc
  • Email spam: 30% spam adalah pornografi

Dengan demikian pada masyarakat dengan kondisi kesadaran proteksi diri yang masih sangat beragam itu jelas dibutuhkan sistem pengamanan lain yang lebih diatas tingkat, semacam Firewall pada sistem jaringan komputer.

Pak Budi juga mengusulkan sistem proxy untuk anak anak yang bebas pornografi. Ide yang bagus namun tetap itu masih pada lapis network yang belum berperan secara global.

Semakin kebawah lapisan semakin sulit untuk dimonitor. Lapis lapis yang dikemukakan oleh Pak Nuh adalah pertama / paling bawah lapis individu. Cara Pak Budi dengan membina moral adalah aplikasi pada lapis ini.

Lapis kedua adalah lapis network. Usul Pak Budi tentang Proxy bebas porn adalah aplikasi pada lapis network.

Bagaimana jika warnet warnet yang sering dikunjungi anak anak lantas emoh memasang proxy itu, dan kecenderungan ini akan besar karena berkaitan dengan income warnet.

Lapis paling tinggi adalah lapis ISP sebagai pintu gerbang koneksi internet. Sensor situs porno oleh pemerintah adalah aplikasi pada lapis ini.

Kenapa Pak Budi tidak setuju pada pengamanan lapis terkahir ini saya tidak tahu. Tapi yang jelas Pak Budi pernah bilang bahwa salah satu kebanggan beliau dengan Internet Indonesia adalah karena tidak pernah disensor sejak jaman Pak Harto.

Sama Pak, saya juga bangga dengan hal itu. Saya masih ingat dulu tahun 98, kala reformasi bergulir. Belum banyak yang bisa mengakses Internet. Jangankan anak SMP, mahasiswa saja jarang yang punya akses ini.

Saya beruntung waktu itu masih mahasiswa tapi karena saya sudah bekerja di sebuah ISP maka saya bisa akses Internet leluasa. Waktu itu saya ingat membina sebuah forum yang namanya “Forum Civitas Akademika, Anti Status Quo, Pro Reformasi”… hehehe jadi nostalgia.

Dalam situs itu ada link ke situs lain diantaranya ke situsnya Priyadi dan Pak Budi Rahardjo sendiri. Disitulah saya pertama kali dengar nama Pak Budi dari atasan saya Pak Bob Hardian, mungkin Pak Budi kenal karena masih sama sama di IDNIC?

Romantisme kebanggaan itu tak akan pernah hilang. Tapi waktu itu peran ICT di masyarakat masih minim sekali. Sekarang sudah sangat berbeda. Dulu anak anak SMP tak kenal warnet, sekarang hampir ditiap sudut jalan ada warnet.

Bahkan anak SD sudah mulai kenal Google. Perkembangan inilah yang saya rasa harus disikapi tanpa kehilangan kebanggaan itu. Kalau alasan Pak Budi bahwa usaha sensor itu tak akan efektif maka itu tentu harus dibuktikan.

Atau kalau khawatir praktik sensor itu akan menyimpang dari tujuan semula maka mari sama sama kita awasi. Beri usulan pada Depkominfo tentang metode sensor yang kita anggap sesuai.

Sampai disini saya berharap para pembaca bisa memahami cara saya memandang sesnor ini. Pada prisipnya setuju cuma tinggal bagaimana metode sensor yang memenuhi semau aspek. Tidak berpotensi menjadi represif seperti yang ditakutkan banyak kalangan.

Sebagai rangkuman, dalam kenyataan masyakarat seperti sekarang ini sensor menurut saya adalah suatu teknik proteksi dilapis paling tinggi yang mampu membatasi akses situs porno dengan sangat sigfinikan, ketimbang proteksi pada level yang lebih rendah.

Tentu semua usaha disemua lapis adalah positif tapi lapis paling atas tetap dibutuhkan guna menyongsong booming pemanfaatan ICT sebagai akibat disahkannya UUITE.

Semoga dialog imaginer diatas bisa dimengerti dengan hati yang tenang. Mohon maaf Pak Budi kalau ada perbedaan tapi saya tetap hormat. Bagaimana usulan saya tentang metode sensor? Insyallah saya akan hadir di diskusi dengan Pak Nuh di Depkominfo dan memberi usulan. Tunggu postingan saya selanjutnya.

19 Komentar

Filed under sosial

Perspektif Wimar

Setelah Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) disahkan oleh DPR muncul banyak pro dan kontra, terutama dikalangan masyarakat yang berkecimpung didunia IT.

Apalagi diperheboh dengan ulah seorang “pakar” mengail diair keruh. Milis yang semula sepi jadi ramai, para Blogger punya topik tulisan baru dan panen komentar. Hingga akhirnya TV pun tidak ketinggalan mengangkat isu ini sebagai pembahasan mereka.

Salah satunya adalah acara anyar Perspektif Wimar berdurasi 30 menit yang ditayangkan di ANTV pada jam 6 pagi.

Gambar dari Perspektif.net

Acara ini tentu saja diasuh oleh Wimar Witoelar, sang pemandu talkshow kawakan yang sudah punya pengalaman 14 kali dibredel oleh pemerintah sejak jaman Orde Baru. Selain Om Wimar acara ini juga memiliki co-host seorang wanita cantik yang juga seleb, untuk kali ini co-host nya adalah Wulan Guritno.

Pada acara ini dihadirkan langsung orang yang paling bertanggung jawab atas hadirnya UUITE, Menteri Komunikasi dan Informasi, Pak Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA sebagai nara sumber.

Isu yang paling santer dari UUITE ini adalah tentang pemblokiran situs porno walaupun sebenarnya UUITE itu lebih banyak mengatur tentang traksaksi elektronik.

Wulan Guritno membuka pembicaraan dengan menyebut topiknya kali ini adalah “Pemblokiran Situs Porno“, yang kemudian Pak Nuh diminta menceritakan tentang perihal pemblokiran tersebut.

Kalau politisi biasanya defensif dengan mencegat diawal tapi Pak Nuh tidak merasa perlu untuk menjelaskan bahwa UUITE itu sebenarnya tidak fokus untuk urusan situs porno semata tapi beliau menanggapi langsung ke masalahnya dengan pertanyaan:

“Salah satu alasanya, tolong carikan Bang Wimar, Mbak Wulan, apakah bisa membangun bangsa ini dengan cara menumbuh kembangkan, mensuburkan pornografi, kasih contoh best pratice nya negara mana?”.

Kemudian Wimar menanggapi:

“Mungkin saya bisa temukan tempatnya disini untuk menjawabnya yah… saya bisa temukan banyak alasan kenapa pornografi jangan dibatasi… eemmmm tapi bukan waktunya sekarang.”

Kemudian Pak Menteri melanjutkan:

“Ok, saya rasa itu salah satu alasannya dan yang kedua ada kerisauan di masyarakat ketika pemerintah dan masyarakat IT sedang menggalakkan penggunaan IT ke desa desa…. padahalah disalah satu falsafah ITnya kan dalam sebuah produk teknologi itu pasti ada plus ada minusnya,…

lha kalau masyarakat itu tidak kita lengkapi dengan proteksi terhadap yang negatif, sangat khawatir kita itu, jangan jangan malahan justru yang negatifnya yang diambil, dari situlah maka hal hal yang menyangkut public domain itu yang kita berikan limitasi.”

Kemudian Wimar menanggapi:

“Dan pemerintah selalu lebih tahu dari siapapun apa yang bagus dan apa yang jelek untuk moralitas publik?”

Pak Menteri menjawab:

“Saya kira tidak dalam posisi itu, jadi kita menempatkan mana yang boleh mana, yang tidak boleh, bukan porsi atau bukan pemerintah sendiri yang menetapkan tetapi bersama sama komunitas masyarakat yang lain, yang memiliki perspektif yang sama bahwa untuk membangun bangsa itu memang ada kaidah kaidah, ada rule rule yang harus diikuti.”

Cukup puas dengan jawaban Pak Menteri kemudian Wimar mengatakan:

“Pak Nuh ini sangat populer yah Wulan yah, karena setiap hari acara ini dibahas di website kami Perspektif.net, sama sekali gak ada pornonya, dari sekian banyak edisi yang paling diantisipasi adalah acara ini karena biasanya orang cuma kasih 11-12 pertanyaan ini sampai 40 lebih…”.

Suasana pun dari semula tegang menjadi cair kembali.

Wimar menceritakan dalam website tersebut banyak pertanyaan bagaimana cara melakukan sensornya. Banyak kekhawatiran bagaimana kalau saya pakai webcam atau foto foto pakai baju renang dst…

Kemudian Wulan menyela dengan pertanyaan yang gak penting hingga Wimar sampai harus menyela lagi untuk menambahkan pertanyaan setelah Wimar menyatakan traumanya kena bredel sejak jaman Soekarno-Soeharto.

Pertanyaan Wimar:

“Apakah Undang Undangnya akan didomplengi oleh pembatasan terhadap kebebasan?”

Kemudian Pak Menteri menjawab:

“Saya kira kalau konteksnya UUITE itu sama sekali bukan untuk hal seperti itu, ITE itu falsafahnya sekarang kita itu tidak bisa lepas dari transaksi transaksi yang sifatnya elektronik base, tapi disatu sisi kita belum punya payung hukum untuk melindungi masyarakat sendiri yang melakukan transaksi elektronik base itu”.

Kemudian ada telephone masuk dari Budi Rahardjo, pakar network security dari ITB. Pak Budi diminta pendapatnya tentang isu ini. Beliau lantas mengemukakan kekhawatirannya dengan sensorship seperti ini. Salah satu kebanggaan Pak Budi dengan Internet kita adalah sejak jaman Orde Baru kita tidak ada sensorship. Langkah pemerintah dalam melakukan sensor ini menurut Pak Budi adalah langkah kemunduran.

Kemudian Pak Budi berpendapat:

“Kalau kita mau membuat Internet lebih sehat harusnya kita lebih banyak membuat konten yang positif sehingga konten yang negatif ini akan menjadi minoritas justru”.

Pak Budi lantas menekankan bahwa seharus pemerintah fokus pada pengembangan kreatifitas masyarakat dalam membuat konten.

Pak Nuh kemudian menjawab Pak Budi dengan mengatakan bahwa yang ditutup itu yang sudah sangat jelas mudharatnya, justru pemerintah tidak ingin masyarakat dalam mengembangkan kreatifitasnya itu justru dicemari oleh kreatifitas kreatifitas yang bisa menimbulkan efek negatif.

Pak Nuh kemudian menekankan untuk tidak usah khawatir pemerintah akan menyentuh masalah kreatifitas di bidang politik dan kritik. Itu semuanya bebas kata Pak Nuh, dan hanya mengecualikan satu saja yakni Pornografi.

Bahkan Pak Nuh menambahkan bahwa jalur private tak disentuh, misalnya lewat email tapi yang dibatasi adalah jalur publik situs web. Menanggapi pertanyaan Wulan yang mempertanyakan kenapa media lain masih bisa longgar sedangkan di ranah maya jadi lebih ketat, Pak Nuh menjawab sasarannya sebenarnya adalah untuk minimazing konten porno karena tak bisa sekaligus.

Sasaran yang ingin ditembak ada tiga layer. Pertama pemerintah ingin menumbuh kembangkan kesadaran kolektif bagaimana masyarakat memanfaatkan teknologi IT dalam koridor yang baik.

Belum sempat lanjut ke layer kedua Wimar mengajukan pertanyaan:

“Orang yang membagi ini sangat porno, ini sedang sedang, dan ini ringan, jadi gimana mencapai kesepakatan itu, Pak Nuh ikut lihat semua situs situs itu?”

Mendengar pertanyaan itu Wulan langsung teriak, “Seru dong yah….“.

Semua tertawa dan suasana cair lagi.

Pak Nuh mengatakan sangat jelas sebuah situs porno sejak halaman awal. Sebelum menjelaskan lebih lanjut Wulan mengajukan pertanyaan:

“Mewakili pertanyaan teman teman selebku.. cieeehhh… akhir akhir ini kan…”

Terus terang saya sangat sulit meng-quote perkataan Wulan sebab tidak tertata dengan baik kalimatnya jadi saya kutip menurut saya saja bahwa Wulan menghawatirkan bagaimana kalau teman teman selebnya berfoto foto dipantai pakai bikini kemudian foto itu diambil orang trus dipublish ke media cetak.

Pak Nuh lantas menjawab hukum tidak membedakan seleb atau bukan, kemudian Pak Nuh menjelaskan dalam UUITE memberikan perlindungan terhadap hak hak pribadi.

Sebenarnya saya ingin memberi opini terakhir tapi saya tidak tahan untuk beropini sekarang. Wulan ini dari pertanyaannya seperti tidak paham dengan isu yang sedang dibahas. Waktu yang cuma sedikit jadi terbuang hanya untuk memahami maksud yang ingin dia sampaikan.

Wimar lantas ingin menyudahi pembicaraan dan mengajukan pertanyaan kepada Pak Nuh untuk menjelaskan kepada penonton yang masih bingung tentang UUITE. Pak Nuh lantas menjawab bahwa UUITE untuk mengatur transaksi elektronik dan bukan UU pornografi.

Kemudian Pak Nuh menjelaskan secara singkat apa itu UUITE dan dilanjutkan dengan sesi baca SMS. Dalam sesi baca SMS ini Pak Nuh kembali melanjutkan penjelasannya tentang sasaran tiga layer tadi diatas.

Layer pertama adalah grassroot dimana pelaku seonsor adalah diri kita sendir. Kedua adalah di layer limited network, disetiap kantor, sekolah. Belum sempat dibahas layer ketiga sudah ada pertanyaan tentang hukuman yang diancamkan pada pelanggar.

Pak Nuh menjelaskan bahwa hukuman bukan untuk menakut nakuti tapi untuk menumbuhkan kesadaran. Penjelasan Pak Nuh tentang ancaman hukuman kurang bisa memuaskan Wimar dan Wulan dan kelihatannya juga para pentonon. Pak Nuh juga mengingatkan UU bisa direview dan tak usah terlalu khawatir karena semua fraksi di DPR menyetujuinya… Kemudian waktunya habis, acara selesai.

Sekian reportase, mungkin ada yang kurang silahkan komentar, opini saya akan saya tulis dalam postingan selanjutnya.

Bacaan terkait: UUITE Bukan Sekedar Pornografi

16 Komentar

Filed under televisi

Tantangan Menkominfo

Menkominfo, diambil Flickrnya Satya WitoelarPidato Pak Menteri terasa agak bertele tele waktu membuka acara pesta blogger membuat blogger disebelah saya mulai menggerutu, “ah pake mbahas namanya mas Enda segala”

…bla bla bla pidato dan sampai pada tantangan yang membuat para blogger tertawa. Pak Menteri memberi tantangan untuk membuat lagu theme song blogger. Ide tantangan itu terasa agak organisatoris akademis klimis (halah opo toh maksute…). Semacam hymne perguruan tinggi gitulah. Maklum mantan rektor.

Waktu ide itu pertama kali disampaikan sebenarnya sudah terasa agak aneh. Banyak blogger yang tertawa tapi gak berani kenceng kenceng (takut gak diresmiin acaranya kali). Seorang yang duduk dibelakang saya bergumam “lagu bakal apaan???”.

Semakin lama semakin terasa aneh. Sewaktu saya baca diblog blog yang memuat liputan pestablogger hampir selalu memuat tantangan Pak Menteri ini. Buat saya lagu sih baik baik saja tapi secara manfaat teknis yang bisa membuat blogger Indonesia lebih terpacu apa yah?

Apa karena kalau tantangannya adalah membuat bandwidth murah atau komputer murah untuk para guru ngeblog maka yang kebagian kerja adalah justru pemerintah juga sedangkan kalau bikin lagu kan pemerintah gak usah ikut ikut.

Tapi gak usah berburuk sangkalah. Kalau memang gak mau terlibat dengan rumitnya masalah bandwidth dan komputer murah kan bisa aja tantangannya adalah membuat Blog Engine asli Indonesia misalnya.

Apa karena pak Menteri ragu bahwa orang Indonesia cuma bisa bikin lagu bagus dan belum mampu bikin Blog Engine yang bagus? Dicoba dulu atuh Pak, apalagi kalau di iming-imingi hadiah.

Jadi kalau pak Menteri sempet baca artikel ini mohon dipertimbangkan perubahan tantangan itu dari membuat lagu menjadi membuat Blog Engine. Saya rasa banyak blogger yang lebih suka melihat keberadaan Blog Engine baru buatan Indonesia daripada lagu baru buatan Indonesia.

Sebelumnya maafkanlah saya, mungkin saya ini Blogger kualat. Sudah dikasih hari Blogger nasional tapi masih mau kritisi Menkominfo.

13 Komentar

Filed under tokoh