Arsip Tag: leonardo dicaprio

Inception

Pernahkah anda bermimpi, dalam tidur tentunya? Pernah suatu kali ayah saya bermimpi sedang berkelahi melawan mahluk buas dan bengis. Pertarungan itu begitu seru sehingga ayah berteriak teriak sambil tidur. Ibu kemudian membangunkan ayah dengan menepuk pundaknya dan seketika ayah terbangun sambil dengan sigap menangkis tepukan dipundaknya.

Ternyata dalam mimpi itu ayah sudah terdesak oleh mahluk buas itu yang akan mengigit pundaknya. Begitu mahluk dalam mimpi itu menggigit maka rasanya benar benar nyata dan ternyata itu adalah tepukan pada pundak yang dilakukan oleh Ibu.

Ayah menceritakan mimpinya itu cukup lama. Jalan ceritanya cukup panjang sebelum digigit di pundak. Bagaimana mungkin bisa sesuai timing cerita dalam mimpi itu dengan momen tepukan di pundak. Kemungkinan yang bisa saya bayangkan adalah ketika pundak ayah ditepuk informasi tepukan dikirim ke otak dan oleh otak kemudian dibuatkan skenario tersebut. Berarti otak dapat membuat sebuah skenario cerita mimpi yang cukup panjang dalam waktu yang sangat singkat.

Inception

Ternyata pikiran saya itu seperti mendapat pembenaran dalam film Inception. Dalam film ini dikatakan bahwa satu menit bermimpi sama dengan 10 menit dalam alam mimpi. Kemudian juga dalam film Inception ini mimpi dapat bertingkat tingkat. Orang dalam sebuah mimpi dapat bermimpi lagi dan tentunya berlaku juga hukum relatifitas waktu seperti diatas.

Dengan sebuah teknologi dan melalui pelatihan dari ahlinya seorang dapat berbagi mimpi (shared). Artinya kita bisa masuk ke mimpi orang lain ketika sama sama tertidur dengan bantuan sebuah alat canggih.

Ketika kita masuk ke mimpi seseorang maka kita akan melihat dan mengetahui hal hal yang ada dalam pikiran orang tersebut. Kemampuan inilah yang digunakan untuk menggali informasi rahasia yang sudah terkubur jauh didalam hati. Bahkan kemampuan masuk ke alam mimpi ini dapat digunakan untuk menanamkan doktrin tertentu yang akan terbawa terus hingga orang tersebut tersadar dari alam mimpinya.

Sutradara: Christopher Nolan

Ini yang terjadi pada Cobb -diperankan oleh Leonardo DiCaprio- ketika ia untuk pertama kali mencoba kemampuan tersebut pada istrinya sendiri, Mallorie -diperankan oleh Marion Cottilard- yang berakibat pada kematiannya. Cobb kemudian menyadari bahwa tekniknya berhasil namun harus kehilangan istrinya dan harus menghadapi tuduhan pembunuhan. Cobb menghilang dari kejaran hukum dan bertemu seseorang yang berminat menggunakan keahlian Cobb tersebut untuk kepentingan pribadinya dengan imbalan Cobb akan mendapatkan kembali hidupnya bersama anak anaknya dan pembersihan namanya dari segala tuduhan.

Cobb sangat mencintai istrinya dan anak anaknya. Ia ingin hidup normal dan mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut. Tapi Cobb butuh tim untuk bekerja dan merekrut mahasiswa berbakat dalam bidang arsitektur karena Cobb harus mendesign mimpi yang rumit.

Tim telah terbentuk dan mereka harus terjun ke mimpi hingga kedalaman tiga tingkat bersama korban yang ingin mereka korek informasinya. Pada mimpi tingkat ketiga munculah Mallorie yang memang dalam alam mimpi Cobb selalu muncul walaupun dalam alam nyata Mal sudah meninggal. Serunya film ini adalah pada pergulatan pada relatifitas waktu antara mimpi yang bertingkat tingkat.

Jika seseorang terbunuh dalam alam mimpi maka orang tersebut akan terbangun ke alam nyata. Jika mimpi tersebut bertingkat maka ia akan terbangun pada tingkat diatasnya. Namun pada operasi ini tidak sesederhana itu karena ada tambahan obat bius yang digunakan sehingga jika terbunuh maka orang tersebut tidak akan segera terbangun pada mimpi ditingkat diatasnya namun akan terjatuh pada area mimpi tak bertuan, tak memiliki koneksi dan tak memiliki design. Area ini bernama Limbo.

Teknik untuk mengetahui apakah sedang berada dalam mimpi atau alam nyata Cobb menggunakan semacam gasing yang diputar. Jika gasing tersebut berhenti berputar maka artinya alam nyata, namun jika gasing tersebut tidak berhenti berputar maka artinya sedang berada dalam alam mimpi.

Diakhir cerita mirip film Leonardo sebelumnya Shutter Island yang menyisakan teka teki apakah akhir cerita Cobb telah benar-benar kembali ke alam nyata atau tetap berada dialam mimpi. Saya punya analisi tapi silahkan nonton dulu filmnya baru kita diskusi. Film ini lebih bagus dibanding Shutter Island karena ada Marion Cottilard peraih Oscar aktris terbaik 2007, saya nonton filmnya: Public Enemies dan Nine. Kalimat terakhir saya itu spoiler, jangan dianggep.. :-)

6 Komentar

Filed under sinema

Shutter Island

Ted and Chuck

Sinopsis:

Seorang pasien gila bernama Rachel Solano yang sangat berbahaya telah menghilang dari sebuah rumah sakit jiwa khusus. Rumah sakit jiwa tersebut khusus merawat pasien sakit jiwa yang paling berbahaya hingga ditempatkan di sebuah pulau terpencil bernama Shutter Island. Pemerintah Amerika mengirimkan seorang agen federal kawakan bernama Teddy Daniels untuk menyelidiki peristiwa tersebut.

Ted ditemani seorang agen muda bernama Chuck Aule. Ted sebenarnya memiliki misi pribadi ke pulau tersebut untuk mencari seorang penjahat yang telah membunuh istrinya. Penjahat tersebut bernama Andrew Laeddis yang diyakini oleh Ted dikirim ke Shutter Island karena profil kejahatan Laeddis yang karakteristiknya seperti kejahatan penjahat dengan gangguan jiwa.

Ketika Ted tiba di pulau Shutter Island, Ted mencium aktifitas illegal yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Jiwa terhadap para pasiennya. Begitu tertutupnya pihak Rumah Sakit Jiwa akan akses pada catatan para pasien dan pegawai membuat Ted memutuskan menghentikan penyelidikan Rachel Solano dan memberikan laporan kepada pemerintah federal untuk melakukan penyelidikan lebih dalam tentang Rumah Sakit Jiwa tersebut.

Satu satunya akses ke dan dari pulau Shutter Island adalah kapal fery yang tak bisa segera datang karena cuaca buruk. Ted tak bisa kembali dan memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan. Indikasi praktek ilegal semakin kuat ketika Ted bertemu dengan Rachel Solano pasien yang dilaporkan hilang tersebut.

Ted peluk istri dalam halusinasi

Terjebak di pulau yang sedang dilanda badai dan angin topan, Ted yang veteran Perang Dunia II itu harus berjuang tidak hanya untuk keluar dari pulau tapi juga harus berjuang menyelamatkan kewarasannya karena pihak Rumah Sakit Jiwa telah memberinya obat obatan yang membuatnya berhalusinasi akan masa lalunya ketika perang. Wujud almarhum istri yang sangat dicintainya selalu muncul dan berdialog dengannya membuat pergulatan emosi yang sangat kuat. Semua teka-teki, kejanggalan, keanehan dan kerancuan antara kenyataan dan halusinasi membuat Ted mulai tidak yakin dengan kewarasannya…

Leonardo DiCaprio

Leonardo memerankan Teddy Daniels dengan karakter yang kuat antara Ted sebagai agen federal dan Ted sebagai orang yang bimbang. Bahkan untuk film film sebelumnya Leonardo tak tampil seperti di film ini. Leonardo pada Titanic terlalu pop, terlalu jagoan pada The Gangs of New York. Pada film Catch Me If You Can menurut saya justru Tom Hanks rekan main Leonardo yang lebih berhasil membangun karakter.

Pada film ini akting Leonardo membuat kita terbawa pada cara pandang seorang agen federal yang cerdas tapi kemudian sama sekali tak terduga ada karakter kerapuhan jiwa sang agen handal itu. Tidak berlebih kalau saya katakan akting Leonardo kali ini adalah yang paling berbeda kalau dikatakan akting yang terbaik mungkin akan dianggap spoiler.

Martin Scorsese

Leonardo dan sutradara Martin Scorsese telah bekerja sama untuk yang keempat kalinya dalam film. Tentu semakin sering mereka bekerjasama semakin terjalin chemistry yang menghasilkan karya yang lebih baik. Kerja bareng mereka di film The Aviator menghasilkan beberapa nominasi Oscar. Jangan kaget bila kerjasama mereka kali ini akan masuk nominasi lagi pada Academy Award 2010. Menurut saya Martin berhasil membawa naskah berdasarkan novel karya Dennis Lehane yang sudah penuh dengan dialog dalam plot yang berliku kedalam visual yang artistik menegangkan.

Poster

Adegan Ted berdialog dengan Rachel dalam goa dekat mercusuar sangat artistik menurut saya. Kemudian adegan Ted masuk ke lorong di bangsal yang gelap untuk mencari Laeddis membuat penonton fX Platinum XXI tempat saya menonton beberapa kali menjerit -terutama wanita- ketika Ted menyalakan korek api. Mungkin itu sebab poster filmnya dipilih adegan Leonardo sedang memegang korek api.

Review

Menonton film ini saya teringat sebuah pertunjukan teater Koma dari naskah karya Evalds Flisar dengan tema exploitasi pasien gangguan jiwa. Tema ini sangat menarik untuk dibuatkan permainan plot yang tak terduga untuk menghasilkan kisah thriller. Dalam cerita yang berjudul “Kenapa Leonardo” tersebut dikisahkan sebuah klinik syaraf dan kejiwaan yang melakukan eksperimen terhadap pasiennya untuk menciptakan manusia super. Persis seperti apa yang dilakukan di Shutter Island.

Film ini bukan untuk yang mencari sekedar hiburan pelepas penat diakhir pekan. Film ini butuh konsentrasi untuk dipahami plotnya. Mengira ngira siapa berperan sebagai siapa. Menduga duga siapa pelaku kejahatan dalam teka teki yang tersamar. Juga butuh jantung yang sehat dan tentu saja akal yang waras sebab bisa jadi anda akan berdebat sengit dengan partner anda menonton tentang siapa sebenarnya yang nyata… “kewarasan” anda akan diuji dalam perdebatan itu nanti :-)

20 Komentar

Filed under sinema