Koin Keadilan

Perkembangan kasus Prita Mulyasari memicu solidaritas masyarakat secara spontan. Solidaritas dalam bentuk pengumpulan uang receh yang disimbolisasikan dengan “koin keadilan”. Posko (pos koin) penampungan koin muncul dimana mana hampir di seluruh Indonesia. Ganti rugi yang ditetapkan oleh pengadilan yang mencapai jumlah 204 juta rupiah menjadi target konkret pengumpulan, sementara target wacana adalah simbolisasi perlawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan yang menindas.

Adanya dua target ini sering kali memicu perbedaan cara pandang, terutama dari orang orang yang memiliki pola pikir yang berbeda. Perbedaan ini sering dikumandangkan di social media seperti Twitter, blog ataupun Facebook. Semula ini hal yang tidak terlalu mengganggu, dinamika yang sangat lumrah di arena social media.

meeting di wetiga

Namun rupanya pengaruh social media ini sudah lebih kuat dari apa yang saya kira. Cara pandang yang berbeda ini mengalami penguatan disana sini hingga ke media mainstream. Malam itu (7 Des) di Wetiga kami sedang meeting bersama beberapa blogger lain diantaranya Ndoro Kakung, Enda Nasution, Paman Tyo, Ndaru dan hadir juga praktisi hukum Ari Juliano. Pada kesempatan meeting itu hadir beberapa wartawan dari berbagai media mainstream.

Kebetulan saya sempat diwawancara wartawan RCTI untuk Seputar Indonesia (Dady Suryadi) perihal layanan website Paypal yang diprovide oleh CyberGL untuk berpartisipasi dalam memenuhi target konkret ganti rugi 204 juta.

wartawan RCTI

Semula saya mempersiapkan diri untuk berbagai pertanyaan yang sifatnya teknis tentang payment gateway Paypal.com yang kami gunakan. Tapi agak sedikit diluar dugaan pertanyaan juga menyinggung soal perbedaan cara pandang diatas. Sejak dari mewawancara Ndoro Kakung banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul seputar: kenapa Prita didukung habis habisan? kenapa koin? harus koinkah? kalau melebihi target bagaimana? bagaimana kalau tuntutan batal? Pertanyaan pertanyaan tersebut persis seperti apa yang beredar di social media.

Kalau kita bisa memandang hal ini dari dua persepsi tentang target diatas maka mungkin tidak perlu ada perdebatan seperti ini. Bagaimana saya melihat gerakan Koin Keadilan ini bisa saya tuliskan disini dan semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan yang krusial.

Pertama tama tentang perbedaan antara target wacana dan target konkret. Ketika kita ingin mewujudkan sesuatu yang konkret maka biasanya dimulai dari wacana. Ketika kita sudah terlatih untuk mewujudkan wacana menjadi hal yang konkret maka wacana seperti tidak terasa, seperti orang bernafas, kita tak sadar bahwa kita sudah bernafas setiap saat yang membuat kita hidup dan mampu berbuat hal hal yang konkret.

Tapi ketika berwacana saja kita “tersengal-sengal” maka hal konkret apa yang bisa kita wujudkan? Untuk melancarkan berwacana dalam kondisi yang “tersengal-sengal” sering kali dibutuhkan “alat” bantu berupa “simbol”. Jaman dahulu wacana tentang keadilan disimbolkan dengan “Ratu Adil”.

Ratu dalam bahasa Jawa artinya Raja. Tempat tinggal Raja disebut ke-Ratu-an (keraton). Simbol “Ratu Adil” artinya penguasa yang adil. Tapi apakah penguasa yang adil tersebut konkretnya berupa Raja? ternyata tidak. Inilah bedanya. Simbol digunakan untuk berwacana sedangkan konkretnya tidak secara harfiah diterjemahkan sesuai textnya.

Pemilihan simbol diambil dari pola pikir masyarakatnya. Jaman dahulu simbol kekuasaan adalah Raja. Maka munculah konsep “Ratu Adil”. Konsep ini bukan untuk melanggengkan sistem kerajaan, tapi justru ingin keluar dari segala macam bentuk ketidakadilan dengan meminjam pola pikir masyarakatnya. Jadi simbol bisa muncul sedemikian rupa hingga bisa mengecoh akal sehat dari orang yang memiliki pola pikir yang berbeda.

Bila terjadi “miskonsepsi” bisa berakibat pada wacana yang hanya tinggal wacana dan tidak kunjung menjadi hal yang konkret. Kita tentu tak ingin terjebak pada situasi seperti ini. Banyak hal yang merefleksikan hal ini sekarang. Seperti misalnya hal tentang nasionalisme, tentang pelestarian budaya, tentang solidaritas dan berbagai hal yang terasa lebih banyak wacananya ketimbang hal konkretnya.

Mengkonkretkan wacana memang bukan hal yang mudah. Butuh latihan dan konsistensi dalam wacana itu sendiri. Bahkan pada tingkat negara ada legislatif yang berwacana (membuat undang undang) dan ada eksekutif yang mengkonkretkannya (menjalankan undang undang) dimana dalam prosesnya perlu pengawasan dan evaluasi.

Jika proses “pengkonkretisasian” itu dirasa tidak berhasil maka rakyat akan mencari jalannya sendiri. Contoh ekstrem dalam sejarah adalah reformasi sebagai wacana tahun 1998 dimana rakyat bersatu “mengkonkretkan” keadilan politik di negeri ini, walaupun wacana reformasi belum tuntas hingga kini.

Apa yang terjadi pada kasus Prita adalah gejala yang sama. Koin muncul sebagai simbol perlawanan rakyat kecil pada kekuasaan yang menindas. Tapi secara konkret tentu tidak harus harfiah berupa “koin”. Ada tujuan konkret dimana angkanya adalah 204 juta rupiah. Sedangkan tujuan wacana adalah perlawanan atas ketidakadilan dimana simbol keberhasilannya adalah pembebasan Prita dari segala tuntutan hukum.

Kalau kita bisa melihat dari dua sisi ini maka tak perlu bingung ketika misalnya terjadi penarikan tuntutan oleh RS OMNI atas Prita. Sebab apa yang terjadi adalah keberhasilan wacana perlawanan terhadap ketidakadilan dimana koin sebagai simbol telah berfungsi dengan sangat baik sebagai “alat” dari wacana perlawanan tersebut. Simbol koin berhasil menggerakan hati masyarakat dari berbagai lapisan untuk berbuat konkret mengumpulkan rupiah demi mendukung wacana perlawanan atas ketidakadilan.

Sedangkan hasil konkret bernilai ratusan jutaan rupiah (dalam bentuk koin maupun uang kertas) tidak akan kehilangan makna karena wacananya adalah melawan ketidakadilan dan bukan membantu Prita secara pribadi tapi membantu Prita yang dalam hal ini telah menjelma menjadi simbol.

Jadi bila ada yang mempertanyakan kenapa Prita didukung habis habisan karena Prita telah menjelma menjadi simbol. Lalu kenapa Prita bisa muncul sebagai simbol dan kenapa nenek Minah atau korban Lapindo kurang berhasil berfungsi sebagai simbol?

Simbol perlu diartikulasikan. Jaman perang kemerdekaan pidato para orator menjadi media artikulasi simbol simbol perlawanan. Kini kita berada pada era informasi. Lebih tepatnya era social media. Dimana media mainstream tidak bisa lagi seperti dulu menjadi satu satunya rujukan informasi bagi publik.

Era social media mengubah sama sekali bagaimana kita mendapatkan informasi secara lebih cepat, lebih transparan dan lebih akurat. Dengan karakteristik seperti itu tidak heran informasi pertama kepada publik tentang bom Kuningan ditemukan di Twitter. Bahkan CNN kalah cepat dengan Twitter dalam memberitakan konflik pemilu di Iran.

Berbagai wacana perlawanan atas ketidakadilan ditemukan di Facebook seperti misalnya dukungan kepada Bibit-Chandra yang menembus angka satu juta pendukung. Media mainstream memantau social media untuk tidak jarang dikutip dan dijadikan berita pada medianya.

Ketika kasus Prita, terjadi kehebohan di social media melebihi kehebohan kasus manapun sebelumnya yang disusul dengan pemberitaan di media mainstream. Kedua media ini saling menguatkan, ketika media mainstream memberitakan perkembangan kasusnya maka di social media ramai membahasnya. Sebaliknya media mainstream juga memantau perkembangan pendukung Prita di social media.

Kenapa kasus Prita lebih menarik perhatian komunitas online adalah karena kasusnya berkenaan dengan aktifitas yang dilakukan oleh komunitas online sehari hari, yaitu email. Komunitas online merasa terancam dengan apa yang terjadi pada Prita bisa terjadi pula pada mereka. Inilah sebab pembahasan Prita di social media lebih intens dibanding kasus yang lain. Prita menjadi simbol perlawanan mereka.

Lalu apa yang akan terjadi pada kasus kasus ketidakadilan yang lain? Akankah kasus lain mendapat perhatian yang sama seperti kasus Prita? Keberhasilan target wacana akan menjadi preseden baik dan melatih bagaimana mengkonkretkan rasa solidaritas.

Hasil konkret rupiah yang berhasil terkumpul dari berbagai lapisan dan berbagai bentuk (koin, uang kertas, check dan paypal) telah mencapai 500 juta lebih. Ini akan menguatkan rasa percaya diri masyarakat bahwa kita bisa mengubah wacana menjadi hal yang konkret. Walau beberapa sumbangan dalam jumlah besar baru muncul setelah gerakan koin terlihat lebih konkret.

Skeptisisme yang pernah muncul sebelumnya tentang berbagai gerakan berbasis solidaritas atau nasionalisme seperti gerakan #IndonesiaUnite akan terkikis dan semakin mengarah pada kemampuan melakukan gerakan yang menghasilkan sesuatu yang lebih konkret. Semua gerakan itu akan menjadi ajang latihan konkretisasi wacana yang merupakan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat yang lebih berdaya adalah jawaban dari apa yang dituntut pada ketidakadilan ditengah masyarakat kita dan bangsa kita. Maju terus Indonesia.

8 Komentar

Filed under sosial

Klaim Tari Pendet: Inferioritas Malaysia

Beberapa postingan dalam blog saya boleh dibilang “abadi”. Artinya tidak pernah surut pembaca (dilihat dari trafic stat) dan komentar, selalu saja ada yang memberikan komentar. Diantaranya adalah Fenomena Kangen Band dan Prisa The Cute Devil.

Selain kategori musik, yang juga termasuk “abadi” adalah postingan tentang Malaysia. Biasanya postingan tentang Malaysia kembali ramai dicari dan dikomentari pada saat situasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Sekarang ini terjadi lagi.

Media gencar memberitakan perihal tari Pendet Bali yang diklaim oleh Malaysia. Seperti biasa berita ini mengundang reaksi yang keras dari masyarakat Indonesia. Saya sendiri juga merasa geram untuk yang kesekian kalinya setelah Angklung, Reog Ponorogo, Wayang Kulit dan banyak lagi yang lain yang tidak sempat saya tulis di blog.

Wayang dan Keris sudah menjadi World Heritage yang diakui dari Indonesia tapi toh tetap saja tidak menyurutkan aksi Malaysia. Bahkan sekarang Tari Pedet yang sudah sangat terkenal berasal dari Bali itu pun digasaknya. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan geleng geleng kepala.

Sebelum saya ikut komentar keras seperti pada postingan saya sebelumnya tentang Malaysia, saya ingin lebih jernih kali ini. Melihat tingkah pemerintah Malaysia yang bebal menurut saya sudah tidak masuk akal. Apakah mereka terlalu bodoh mengklaim tari Pendet yang sudah terkenal dari Bali sebagai budaya mereka? Pasti ada penjelasanya.

Radhar Panda Dahana

Sebagai pembanding saya ingin tahu bagaimana reaksi sementara sebagian budayawan tentang hal ini maka saya coba kutip Republika, Rabu (19/8), yang memuat pendapat dari Radhar Panca Dahana tentang klaim Malaysia atas tari Pendet Bali.

Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. “Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli,” ujarnya.

Untuk dapat menjadi jernih marilah kita kesampingkan terlebih dahulu kemarahan terhadap Malaysia. Mas Radhar memposisikan kita sebagai bangsa yang terluka dan malu. Saya tidak ingin berada dalam posisi itu dalam melihat masalah ini. Saya ingin berada diluar untuk dapat melihat dari perspektif yang berbeda, bukan dari perspektif orang yang marah. Apakah benar ini sebuah kecolongan? Apakah kita perlu merasa terluka dan malu?

“Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,” katanya.

Mencoba memahami kutipan dari Republika itu: dikatakan Malaysia pintar menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan sementara kita tidak, kita lebih perduli pada olahraga dan program lainnya. Lantas kita yang seharusnya lebih menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil.

Apakah itu yang disebut dengan menghargai kebudayaan? Jika kita sudah menggunakan kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil maka itu sudah disebut menghargai kebudayaan? Bukankah selama ini itu yang sudah dan sedang terjadi di Bali, bahkan perkembangannya sudah mengarah ke arah komersialisasi kebudayaan yang mulai eksesif dan dikhawatirkan oleh banyak pihak akan merubah Bali sama sekali. Sebut saja pembangunan properti untuk keperluan pariwisata yang kurang mengindahkan aspek harmonisasi landscape kebudayaan setempat.

Kalau yang dimaksud dengan menghargai kebudayaan adalah menggunakannya untuk kepentingan komersil terutama pariwisata seperti yang dilakukan Malaysia maka menurut hemat saya, kita bukannya tidak menghargai, bahkan kita sudah “terlalu” menghargai.

Menurut saya menghargai sesuatu adalah pertama tama dengan pengakuan, penggunaan manfaatnya dan pelestariannya. Pengakuan akan menjadi identitas dan bila diterjemahkan dalam bahasa teknis adalah dengan pendataan dan peresmian yang minim dilakukan pada bangsa kita. Penggunaan manfaat seperti pariwisata untuk manfaat ekonomi, kesenian untuk manfaat hiburan, teknologi untuk manfaat kesejahteraan dan bahkan kebudayaan bisa digunakan untuk manfaat politik.

Tapi seluruh penggunaan manfaat itu tidak boleh merusak pelestarian kebudayaan itu sendiri. Jadi kebudayaan juga harus dilestarikan, dijaga orisinalitasnya, dirawat eksistensinya di masyarakat, diberikan ruang untuk hidup. Ketiga aspek penghargaan ini saling terkait satu sama lain. Mereka bisa terdapat dalam sebuah sikap. Jika digunakan maka bisa terjadi sekaligus pelestarian. Tapi bisa juga hanya salah satu saja dari aspek diatas, misalnya hanya memanfaatkan saja tanpa mau melestrasikan, atau hanya mengakui saja tanpa mau menggunakan manfaatnya. Untuk dapat disebut menghargai menurut hemat saya harus mengandung tiga aspek diatas.

Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. “Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita,” tandasnya.

Apa yang dikutip Republika diatas adalah suatu bentuk usaha penggunaan manfaat sebagai upaya pengakuan dan pelestarian yang diharapkan mampu mencegah kita dari “kecolongan” lagi. Tapi harapan itu kelihatannya masih sumir. Kenapa demikian? Untuk tahu jawabannya kita mesti pahami duduk persoalannya.

Pertama perlu dipahami apa yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia. Malaysia menggunakan kebudayaan Indonesia untuk mengambil manfaat ekonomi pariwisata. Kemudian masyarakat Indonesia lebih menyuarakan keberatannya atas pengakuan. Ini dua hal yang berbeda. Penggunaan manfaat tidak otomatis menjadi pengakuan jika tidak disertai suatu pernyataan resmi seperti mengusahakan hak paten misalnya. Pernahkah kita dengar pernyataan resmi dari pemerintah Malaysia tentang klaim Tari Pendet ini?

Kata klaim pada tari Pendet sejauh ini saya lihat hanya ada di media, entahlah untuk tujuan apa media melakukan itu tapi masyarakat menjadi percaya bahwa Malaysia melakukan klaim. Lantas mulai muncul suara yang mengatakan semua ini akibat kita yang kurang menghargai kebudayaan kita sendiri.

Lantas kalau kita sudah menghargai kebudayaan kita maka apakah Malaysia tidak akan melakukan itu lagi? Saya skeptis. Saya kira Malaysia hanya mau dan bisa menggunakan manfaatnya, saya kira juga mereka tidak akan mampu melestarikan apalagi mengakuinya. Untuk melestarikan itu berat, kebudayaan itu harus hidup dalam epistimologi masyarakatnya. Ketika kebudayaan itu lestari dalam sebuah masyarakat maka akan memperoleh pengakuan.

Sekarang siapa yang mau percaya tari Pendet yang sarat dengan ornamen Bali itu adalah kebudayaan Malaysia? Hanya orang bodoh yang akan percaya.

Lalu kenapa Malaysia jalan terus? Seperti yang saya katakan diatas, Malaysia bukan mau mengklaim, karena memang tidak bisa, tapi hanya mampu menggunakan manfaatnya. Kalau sudah begini saya rasa kita tidak perlu merasa kecolongan. Pakailah sesukamu. Tapi kita perlu jengah, kita yang melestarikan tapi orang lain yang mengambil manfaat. Sebenarnya tidak keberatan juga, cuma karena Malaysia ini tengil jadi banyak yang marah. Kenapa tengil?

Menjadi menarik melihat kenapa Malaysia begitu. Semua ini akibat dari konsep Malaysia is a Truly Asia. Malaysia terdiri dari mayoritas tiga bangsa antara lain bangsa Melayu, bangsa Cina dan bangsa India. Jadi tidak ada bangsa Malaysia. Mereka merasa, atau pemerintahnya merasa bahwa Malaysia adalah miniatur dari berbagai bangsa bangsa di Asia karena itu berhak menyandang “gelar” Truly Asia. Dalam usahanya mewujudkan Truly Asia mereka mengumpulkan produk kebudayaan dari berbagai bangsa bangsa di Asia ini sebagai mosaik.

Jadi sebaik apapun kita mampu menghargai dengan melestarikan kebudayaan kita sendiri, itu tidak akan menghentikan usaha Malaysia dalam “mencuri” kebudayaan Indonesia. Mereka sedang membangun identitas berdasarkan konsep Truly Asia. Apakah ini konsep yang brilian? Saya rasa ini konsep yang kontra produktif buat Malaysia. Alih alih mendapat pengakuan tapi justru menuai kontroversi yang bermuara pada citra negatif.

Pencitraan Truly Asia itu sendiri hanya dipermukaan yang bersifat artificial. Sementara di dalam Malaysia sendiri tidak pernah terjadi pembauran kebudayaan antara tiga bangsa besar tadi. Konsep Truly Asia muncul sebagai akibat dari sindrom inferioritas yang dalam beberapa kasus dapat menjadi sebaliknya.

Saya ingin ambil contoh dalam sejarah. Alexander The Great adalah pahlawan bangsa Yunani yang diakui oleh dunia. Kekaisaranya membentang dari Eropa hingga Asia. Melalui Alexander kebudayaan Yunani memberi pengaruh yang kuat pada berbagai kebudayaan besar dunia.

Tapi tahukah bahwa Alexander mengalami kompleks inferioritas dalam dirinya? Kala itu orang Yunani yang dianggap sebenar benarnya adalah orang Athena. Sementara Alexander bukan orang Athena tapi orang Macedonia yang lahir dan besar di kota kecil bernama Pella di pinggiran Yunani.

Selama masa kecil dan remajanya Alexander terobsesi untuk menjadi orang Yunani yang sebenar benarnya dengan membaca buku buku karya penulis Athena (Illiad karya Homerus), berguru pada cendikiawan Athena (Aristoteles) dan bermimpi menjadi pahlawan Athena (Achilles).

Rasa bangga yang tak terkira ketika Alexander membebaskan Athena dari tekanan Sparta membuat inferioritasnya berbalik menjadi superioritas untuk menaklukan Eropa mulai Persia hingga Asia barat (India). Pembuktian bahwa dirinya mewarisi kebudayaan Yunani yang Agung.

Psikologi inferioritas yang kurang lebih mirip terjadi pada pemerintah Malaysia. Ingin menjadi lebih besar dari kebudayaan Indonesia dengan menggunakan label Truly Asia. Untuk menjadi besar butuh figur besar seperti Alexander pada bangsa Yunani, atau figur seperti Bung Karno pada bangsa Indonesia. Malaysia tak memiliki itu dan Truly Asia hanya akan menjadi label. Kasihan. Kalau mereka bijak dan berjiwa besar, Truly Asia tak usah dilanjutkan tapi diubah, seperti apa? Bukan urusan saya.

Kita tak perlu malu, terluka atau merasa kecolongan. Sedekahkan saja. Namun demikian penghargaan pada kebudayaan kita harus tetap ditingkatkan, terutama pada pelestarian. Hidupkan kesenian, perdalam budi pekerti, kuasai teknologi dan kita akan hidup dalam kebudayaan yang luhur.

Update 24 Agustus 2009

Sudah selesai, mereka menyesal katanya, setelah ngeles bilang itu kerjaan swasta.

Kata mas KuncoroSo, let’s simply forgive it and forget it. See you next theft, neighbour 🙂

120 Komentar

Filed under budaya

#merdeka

25 Komentar

Filed under Uncategorized

Public Enemies

Adegan awal dari film ini memperlihatkan barisan berseragam tahanan yang mengingatkan saya pada seragam gerombolan Si Berat di komik Donal Bebek. Belang belang hitam putih. Berbagai resensi film ini menceritakan tentang kisah perampok legendaris John Dillinger yang menjadi musuh nomor satu di Amerika Serikat pada tahun 30an.

Public Enemies The Movie

John Dillinger
Ini film diangkat dari kisah nyata. Profil John Dillinger ini memang luar biasa. Masa itu adalah masa krisis ekonomi berkepanjangan di AS. Headline di koran koran terkemuka didominasi oleh berita kebangkrutan, pengangguran kian bertambah dan kejahatan semakin merajalela. Pemerintah kian dituntut segera mengembalikan keadaan.

Johnny Depp as Dillinger

Pada situasi seperti itulah muncul seorang penjahat perampok bank yang pada awalnya menjadi headline karena aksinya membobol penjara untuk membebaskan teman teman gangnya. Aksi perampokan yang mereka lakukan dikemas dengan sedemikian rupa hingga mereka mendapat simpati publik.

Johnny Depp in action

Masyarakat yang tertekan oleh situasi ekonomi yang buruk butuh seorang “pahlawan”. Dillinger kerap menjadi headline berita karena merampok bank dengan pesan bahwa mereka tidak merampok uang nasabah tapi merampok uang bank… apa bedanya? Tapi itulah waktu itu. Masyarakat terpesona dan menganggap Dillinger sebagai Robin Hood. Dillinger dikenal dengan julukan The Jackrabbit karena aksinya dalam merampok bank yang loncat dari satu meja teller/kasir ke meja lainnya pada saat merampok.

John Dillinger

Ini tentu sangat meresahkan pemerintah AS pada waktu itu. Apalagi berkali kali pemerintah AS di permalukan oleh keberhasilan Dillinger yang berkali kali ditangkap tapi berkali kali pula dapat meloloskan diri dan melanjutkan aksi perampokkan bank yang total jumlahnya mencapai puluhan bank di seluruh AS.

Dillinger juga menciptakan trend dan modus baru dalam perampokan bank. Dillinger adalah perampok yang lari dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk merampok sehingga menyulitkan polisi negara bagian yang memburunya karena pada waktu itu koordinasi antar polisi negara bagian belum menemukan mekanismenya untuk menangkap penjahat lintas batas negara bagian.

Kalau anda nonton film ini maka akan terlihat bagaimana polisi jaman dulu di AS itu lugu, culun dan cupu. Dillinger dengan mudah mengelabui mereka semua dan ketika tertangkappun masih bisa mengejek melalui media yang kesempatan wawancaranya bagaikan konferensi pers dan diijinkan sendiri oleh polisi.

Federal Bureau of Investigation (FBI)
Sebelum bernama FBI badan ini bernama Bureau of Investigation dan hanya terdiri dari tim kecil detektif. John Edgar Hoover sang direktur yang setelah keberhasilannya menangkap Dillinger lantas mengubah nama Bureau of Investigation menjadi Federal Bureau of Investigation karena peran dan kekuasaannya diperluas untuk menangani kejahatan lintas negara bagian.

Johnny Depp and Marion Cotillard

Berawal dari pengalamannya memburu, menangkap dan membunuh perampok sekelas Dillinger, FBI berkembang menjadi sebuah badan dengan kemampuan intelijen yang canggih dan ilmiah. FBI memiliki database sidik jari paling lengkap dan berbagai data profil para penjahat.

Marion Cotillard

Marion Cotillard

Penonton film ini biasanya lebih terpesona pada aksi sang perampok legendaris, apalagi ada bumbu kisah cinta antara Dillinger dan Billie Frechette yang cantik (diperankan oleh Marion Cotillard). Kalau nonton (lagi) film ini maka sebenarnya bisa disimak dari sisi sejarah bagaimana FBI dimasa masa awal dan membandingkannya dengan FBI sekarang yang sudah sangat canggih dan menjadi andalan AS dalam memerangi kejahatan dan melindungi warganya.

Kalau belum nonton, bagaimana akhir kisah Dillinger dan FBI? Apakah Dillinger mati tertembak seperti Dr Azhari atau tertangkap dan dihukum mati? Lebih baik nonton filmnya…

Noordin M Top dan Densus 88

Malam ini di Twitter yang sedang terseok karena serangan DDoS saya masih sempat membaca tweet Pak Nukman tentang baku tembak antara Densus 88 dan gerombolan teroris yang diduga diantaranya terdapat Noordin M Top, penjahat teroris yang sangat diburu itu.

Densus 88 sebelumnya telah menembak mati Dr Azahari rekan Noordin M Top yang lolos. Malam ini sedang terjadi pengepungan, sudah 4 orang tertangkap tapi identitas Noordin M Top belum di konfirmasi Densus 88.

Akankah Densus 88 dapat berkembang menjadi seperti FBI? Besar harapan kita tentunya tidak saja Densus 88 ini bisa menangkap Noordin M Top kelak tapi juga bisa berkembang menjadi sebuah badan yang punya kemampuan seperti FBI.

Apa yang dibutuhkan Densus 88 untuk bisa seperti itu? Sebagai perbandingan FBI punya pemimpin seperti John Edgar Hoover yang boleh dikatakan memimpin FBI seumur hidupnya sejak 1935 hingga 1972. Hoover memimpin FBI hingga 6 masa jabatan Presiden AS. Setelah Hoover meninggal masa jabatan direktur FBI dibatasi hingga maksimal 10 tahun saja. Mungkin Densus 88 tidak harus begitu tapi leadership menjadi isu penting. Semoga Densus 88 bisa menangkap Noordin M Top malam ini dan menjadi tonggak awal keberhasilan yang lebih besar dikemudian hari… seperti FBI.

7 Komentar

Filed under sinema

Teori Konspirasi Bom Marriot 2

Pagi 17 Juli, jam sembilanan saya terbangun oleh telephone dari sepupu di Bali yang menanyakan perihal bom di hotel Marriot Kuningan Jakarta. Saya kaget dan langsung online dan di twitter telah ramai tweet tentang bom ini.

Sejak awal saya bertanya-tanya siapa pelaku pemboman kali ini. Hubungan AS dan Timur Tengah tidak sedang memanas, bahkan cenderung lebih baik sejak Obama terpilih menjadi Presiden.

Hotel J.W Marriot adalah hotel yang penjagaan keamanannya sangat ketat karena sudah pernah dibom sebelumnya. Perlu strategi dan perencanaan yang sangat matang untuk meledakan bom kembali disana.

Noordin M Top adalah teroris yang diduga menjadi dalang dari pemboman ini oleh beberapa pengamat seperti Sidney Jones. Opini Sidney Jones ini akan menggiring spekulasi kearah dalangnya adalah M Top semata dan tidak terkait jaringan sebelumnya yaitu JI.

Pelaku teknis bom bunuh diri dilapangan memiliki ciri yang sama dengan jaringan M Top. Tapi apakah ini murni design dari M Top sendiri? Dengan melihat bagaimana kondisi jaringan M Top sekarang yang sudah tidak seperti dulu lagi ketika Dr Azhari dan Imam Samudra masih hidup, saya meragukan mereka sendiri bisa melakukan semua ini.

Faktor faktor seperti tingkat kesulitan yang tinggi untuk melakukan pemboman kembali di Marriot, kondisi jaringan M Top yang sudah tidak seperti dulu lagi, kondisi politik di Timur Tengah yang tidak sedang memanas, membuat saya mensinyalir bahwa pelakunya tidak dalam format seperti yang dituduhkan oleh Sidney Jones.

Lalu apa? Melihat timing dari pemboman ini patut dapat diduga motifnya adalah politik. Cuma saja mesti hati hati untuk tidak terplot oleh pidato SBY beberapa jam setelah bom.

Banyak pihak yang sangat berkepentingan dengan siapa yang akan jadi Presiden RI nanti. Lawan politik SBY tentu saja berkepentingan tapi apakah mereka pelaku pemboman? Sebagian orang melihat SBY melalui pidatonya seperti ingin menyiratkan kearah situ.

Siapa Presiden RI dikemudian hari akan menentukan nasib kepentingan kepentingan banyak pihak di Indonesia. Indonesia adalah negara yang strategis tidak saja dalam kawasan Asia tapi juga dunia.

Sejak kampanye pilpres isu kepentingan kepentingan ini sudah menyeruak. Mulai dari isu neoliberal yang didaulat sebagai wakil kepentingan asing di Indonesia. Tidak berlebihan juga kalau saya katakan asing sangatlah ingin presiden terpilih nanti dapat mengakomodasi kepentingan mereka. Entah kepentingan ekonomi maupun politik.

Konstalasi kekuatan capres terbagi dua: SBY-Boediono lawan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Jika SBY mengusung visi yang lebih pro investasi asing maka lawan politiknya pasti akan sebaliknya. Para investor asing tentu tak mau bukan SBY yang terpilih. Tapi mereka tidak mau ikut campur urusan politik dalam negeri seperti mencurangi pilpres misalnya. Mereka juga mau melihat Indonesia menjadi negara yang demokratis.

Melihat perkembangan perhitungan suara yang mengarah kepada kemenangan SBY maka mereka bisa berbesar hati. Tapi surut lagi setelah melihat gelagat bahwa hasil pilpres ini bisa di gugat melalu MK jika cukup bukti bahwa pilpres tidak beres. Bukti yang paling krusial untuk dapat menggugat pilpres adalah DPT yang kacau balau. Jika bukti bukti itu dapat meyakinkan MK maka pilpres dapat diangap tidak sah dan harus diulang. Kacau balau kalau begini.

Melakukan intervensi seperti di Irak/Iran akan merusak Indonesia sebagai negara yang sudah mengarah ke demokrasi. Usaha yang dilakukan oleh Mega-Prabowo untuk menggugat pilpres melalui MK sangat mengkhawatirkan pihak yang ingin melihat SBY-Boediono segera dilantik.

Melihat bagaimana kondisi sosial-politik di Indonesia dimana keadaan keamanan yang pernah cacat oleh peristiwa pemboman teroris sangat mungkin dilakukan pengalihan perhatian melalui operasi intelijen dengan modus terorisme.

Operasi intelijen dengan modus terorisme ini akan memberikan dampak politik yang sempurna antara lain:

  • Tidak memiliki dampak merusak sendi sendi demokrasi Indonesia secara langsung karena masyarakat percaya yang salah adalah teroris.
  • Proses gugatan pilpres ke MK oleh Mega-Prabowo menjadi terganggu karena Prabowo memiliki profil masa lalu yang dapat di mis-identifikasi sebagai pelaku pemboman.

Seperti layaknya operasi intelijen, pelaku selalu dari komunitas lokal yang gampang diperalat. Golongan garis keras yang fanatik sangat mudah diperalat untuk kepentingan ini. MOSAD melakukannya di Palestina terhadap HAMAS yang dikemudian hari berbalik merepotkan mereka. CIA melakukannya di Afganistan melalui Osama bin Laden untuk memerangi Rusia yang dikemudian hari juga berbalik menghantam Amerika.

Sementara itu para pengamat Barat akan terus memberikan pencitraan dimedia bahwa ini murni terorisme dengan kondisi yang sangat spesifik dan cenderung dipaksakan. Ditambah lagi CIA sekarang sedang membentuk sebuah komisi yang akan membantu mengungkap siapa pelaku peledakan bom aneh kali ini.

Bisa ditebak hasilnya siapa…

Ini juga bisa menjadi bukti kenapa M Top tidak tertangkap. Karena dibutuhkan sosok seperti M Top pada situasi yang seperti ini. Konsep jangan dilumpuhkan dan cukup dilemahkan saja sudah teruji sejak jaman VOC dimana oara Ketju merajalela di kerajaan Mataram.

Cuma saja hasilnya tidak pernah sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya…

31 Komentar

Filed under politik

blog.cybergl.co.id

Fasilkom MTI UI

Fasilkom MTI UI

Sudah satu tahun belakangan saya jarang update di blog ini. Itu karena saya disibukan dengan perkuliahan (selain sibuk facebookan juga). Apalagi sekarang memasuki masa tesis. Saya bakal jarang blogging disini dan lebih sering aktif posting di blog saya yang satu lagi: blog.cybergl.co.id, itupun blogging yang terkait dengan tesis.

Bagi yang berminat bidang TI mungkin bisa ikuti tulisan saya di sana. Semoga tamat kuliah bisa lebih aktif lagi disini. Hidup blogging…

Tinggalkan komentar

Filed under curhat

Kandidat Cawapres SBY

Kemenangan Demokrat pada pemilu 2009 “melambungkan” SBY pada tingkat percaya diri yang luar biasa. Hingga mengeluarkan 5 kriteria bagi siapa yang ingin menjadi cawapresnya. Banyak yang mau tentu saja melihat kemungkinan menang SBY sangat besar. Terutama bila tidak ada perubahan konstelasi politik yang radikal.

Dari kriteria tersebut tersirat bahwa SBY tak menginginkan JK karena ada kriteria tidak boleh ketua umum partai. Banyak tokoh lain yang ramai dipergunjingkan sebagai kandidat cawapres mendampingi SBY. Masing masing oleh pers dan bloggers diulas dengan pandangannya, berikut adalah versi saya.

Akbar Tanjung

AT menjadi sering disebut media pasca “perceraian” Golkar dan PD. Dikatakan AT berpeluang besar sebagai pembawa suara para pemilih Golkar. Berikut dari tulisan Asep Mulyana:

Saya yakin Demokrat tidak menolak Golkar. Mereka hanya menolak aspirasi elit-elit Golkar pro-JK yang ngotot menyandingkan kembali JK dengan SBY. Tentu Demokrat tak akan mengabaikan Golkar. Suara yang besar (14 persen) dan mesin partai yang masih terjaga adalah modal sosial Golkar yang menggiurkan bagi SBY dan Demokrat. Bagaimana mendapatkan semua itu? Tak ada cara lain bagi SBY dan Demokrat kecuali merekrut kader Golkar yang punya akar kuat di Golkar. Siapa lagi kalau bukan Akbar Tanjung!

Memang benar suara Golkar tidak bisa diabaikan tapi AT sekarang ini tidak memiliki pengaruh yang legitimate di dalam tubuh Golkar. Adapun suara suara dalam Golkar yang menjagokan AT hanya karena ingin menawarkan tokoh alternatif kepada SBY setelah JK ditolak. Mereka berpikir SBY sangat berpeluang terpilih dan Golkar sudah terbiasa menjadi bagian dari pemerintah dan enggan menjadi opisisi.

Bagaimana peluang AT sebenarnya. Perlu diingatkan bahwa posisi AT sekarang tidak sama dengan posisi JK dulu. Dulu suara Golkar terpecah dan banyak memilih SBY-JK karena mereka bersimpati pada JK yang memainkan peran “teraniaya” setelah keluar dari konvensi Golkar. AT sekarang tidak memiliki itu. Hal yang teringat ketika orang menyebut nama AT adalah kasus Bulogate.

Berdasarkan 5 kriteria yang diberikan oleh SBY, ada beberapa poin yang membuat saya yakin SBY tak akan memilih AT. Pertama soal kesetiaan. Masih teringat bagaimana AT membuat konvensi yang berujung pada mundurnya JK dan Sultan dalam konvensi tersebut. SBY tak mau mengambil resiko dengan reputasi seperti itu.

Kedua soal chemistry. SBY dan AT tak pernah bekerja dalam satu tim yang solid. Walaupun masih harus dibuktikan apakah mereka bisa cocok atau tidak tapi trauma ketidak cocokan chemistry bersama JK membuat SBY tak mau bertaruh soal chemistry ini.

Satu hal yang mesti diingat, siapa cawapres SBY bukan ditentukan oleh rampimnas Golkar tapi oleh SBY tentunya. Rampimnas Golkar boleh mengusung siapa saja tapi kalau SBY menolak maka itu tidak akan terjadi.

Hidayat Nur Wahid

Setelah PKS memutuskan untuk tidak mengajukan cawapresnya maka selesailah sudah harapan orang orang untuk melihat HNW sebagai cawapres SBY.

Mengenai cawapres, PKS menyerahkan sepenuhnya ke SBY. Mereka tak akan ikut campur. Power sharing antara keduanya akan diwujudkan dalam kabinet, bukan di pucuk pimpinan RI 2.

“PKS menyerahkan sepenuhnya dan tidak ingin mengusik hak Pak SBY sebagai capres untuk memilih siapa cawapresnya. Apalagi Pak SBY sudah punya 5 kriteria,” kata Mahfudz.

Soetrisno Bachir

SB sebagai ketua umum parpol tentu sudah tidak memenuhi kriteria SBY. Adapun disebutnya nama SB sebagai cawapres dari PAN selain Hatta Rajasa menurut hemat saya hanya untuk kesantunan politik melihat SB sebagai ketua umum dan untuk menjaga agar PAN tidak pecah.

Hal lain yang saya lihat SB tidak akan dipilih oleh SBY sebagai cawapres adalah dua kriteria lain yakni loyalitas dan chemistry. Setelah SB didukung oleh Amien Rais sebagai ketua umum PAN kemudian SB mempromosikan dirinya sebagai capres yang menimbulkan friksi di tubuh PAN. Dari sisi chemistry SB belum pernah satu tim kerja bersama SBY. Kelihatannya sulit sekali memenuhi kriteria yang satu ini.

Sri Sultan HB X

Menurut kriteria SBY mungkin Sultan dapat memenuhi hampir semuanya walaupun tidak dengan sangat meyakinkan. Tapi satu hal yang jelas Sultan adalah kader Golkar. Ketegangan antara Demokrat dan Golkar sudah sampai ke akar rumput.

Namun jika SBY tetap memilih cawapres dari Partai Golkar, kemungkinan besar akan menimbulkan gejolak di tingkat daerah. Hal ini disebabkan, beberapa DPD masih terpecah dukungannya untuk berpisah dengan Demokrat atau tidak.

Namun yang paling penting disini adalah apakah Sultan bersedia menjadi cawapres SBY melihat deklarasi Sultan sejak awal adalah capres. Diperparah lagi ada wacana Sultan akan dicapreskan oleh PDIP.

Sri Mulyani

SM memenuhi banyak kriteria SBY. Bukan ketua partai dan memiliki kapabilitas yang kuat dalam bidang ekonomi. Tapi selain kelebihan itu SM juga memiliki kelemahan. SBY prefer cawapres yang memiliki dukungan partai. SM dari PDIP tapi dapat dipastikan tidak akan mendapat endorse dari Megawati jika SM menjadi cawapres SBY.

Satu hal yang kelihatannya juga menjadi ganjalan adalah masalah chemistry. Kita tahu SM seorang yang kuat dalam berprinsip dan keras dalam sikap. Sikap ini pernah menjadi “sandungan” ketika SM pasang badan untuk menentang kebijakan SBY dalam kasus “Membela Bakrie“.

Setelah tahu dirinya dimarahi Presiden SBY, Sri Mulyani berinisiatif untuk menemui Kepala Negara dan sekaligus untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).

Namun, Presiden SBY rupanya tak mau memenuhi permintaan Sri Mulyani, dan bahkan Kepala Negara tunduk dengan keinginan Sri untuk membuka suspensi BUMI ketimbang ia ditinggal salah satu menteri andalannya itu. (Inilah.com)

Suatu sikap tegas dan berani SM, namun secara chemistry ini tidak terlalu bagus sehingga banyak pihak yang menilai SM akan lebih efektif bila berada dalam kabinet saja.

Hatta Rajasa

Dulu ketika terjadi guncangan di dalam tubuh PAN, HR mendapat tuduhan sebagai orang yang berusaha menggembosi PAN dari dalam, tapi Amien Rais mengatakan bahwa membayangkan HR menggembosi PAN dari dalam sama dengan membayangkan matahari terbit dari barat. Suatu citra akan loyalitas yang terus dibawa hingga masuk ke kabinet SBY.

SBY sendiri juga sudah merasakan dan melihat sendiri kepiawaian HR dalam menjaga keutuhan koalisi di tengah dinamika politik. Masih teringat konflik antara SBY dan Amien Rais hingga SBY mengadakan konferensi pers yang geram, disana HR tampil menjadi mediator kedua belah pihak. SBY tentu terkesan dengan peran HR tersebut.

HR menunjukan tingkat chemistry yang terbaik diantara semua kandidat diatas. Berbagai macam posisi menteri telah ditempati oleh HR bersama SBY dan kelihatannya SBY terkesan dengan loyalitas HR. Seolah olah kriteria itu dibuat hanya untuk HR.

Menurut saya SBY akan memilih HR sebagai cawapresnya kalau dilihat dari kecocokan kriteria. Sedangkan dilihat dari perhitungan politik HR memiliki kelebihan dibanding SM. HR didukung PAN dan Amien Rais.

Dukungan PAN memang tidak terlalu besar tapi dukungan ini bisa memberi pengaruh pada partai lain seperti PKS dan PPP dan bahkan PKB untuk ikut memberikan berkoalisi mendukung pasangan SBY-Hatta. Kita masih belum melihat siapa lawan SBY-Hatta yang paling potensial. Golkar telah mengusung JK tapi ini belum harga mati karena serentetan loby dari PDIP masih terus dilakukan.

Siapa lawan ideal SBY-Hatta? Tunggu postingan saya selanjutnya…

http://www.facebook.com/pages/Say-Yes-For-SBY-HATTA/69163018278

9 Komentar

Filed under Uncategorized