Category Archives: televisi

Jakarta Lawyer’s Club: Penegakan Hukum Terhadap Aksi Kekerasan

Jakarta Lawyer’s Club minggu lalu membahas soal Penegakan Hukum Terhadap Aksi Kekerasan, terjadi beda pendapat:

Imam Prasodjo: segregasi sosial menyebabkan konflik mudah tersulut diperparah dengan penegak hukum yang lemah, kunci utama adalah menekan segregasi sosial disusul penegakan hukum

Karni Ilyas: tak masalah ada segregasi sosial selama hukum ditegakkan maka tak akan ada yang berani berkonflik, dengan contoh di Kanada kunci utamanya adalah penegakan hukum.

Erlangga Masdiana: tak masalah segregasi sosial asalkan terjadi dialog antara kelompok dan hukum ditegakkan.

Menanggapi Karni, pikiran Karni ini terlalu idealis, menurut saya dengan kondisi penegak hukum seperti sekarang maka masyarakat yang tersegregasi secara sosial akan memperberat kerja mereka. Solusinya tekan segregasi sosial sambil berbarengan dengan perbaikan penegakan hukum.

Menanggapi Erlangga, pembaruan sosial sudah built-in dialog didalamnya, membina dialog pada masyarakat yang tersegrasi secara sosial tidak efektif karena butuh effort terpisah, tidak alamiah.

Kerja penegak hukum akan jauh lebih mudah pada masyarakat yang membaur, konflik akan bisa diredam karena dialog alamiah bisa tercipta dari perkenalan antara elemen kelompok lain dalam satu lingkungan.

Menurut Imam Prasodjo pembauran bisa dirancang sedemikian rupa dalam bentuk kebijakan pemerintah, misalnya pada perumahan, tempat ibadah, tempat kerja, sekolah, kampus, pasar, penamaan, dan banyak lagi yang selama ini belum diatur.

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan komentar

Filed under sosial, televisi

Republik BBM Format Baru RCTI

Si Ajo tidak biasanya menelepon saya, biasanya dia penganut aliran SMS, segenting apapun masalahnya. Tapi kali ini lain, oh rupanya kami dapat kesempatan nonton Republik BBM format baru tayang perdana di RCTI.

Dengan girang kami berangkat ke RCTI menemui harapan bertemu sejumlah tokoh tokohnya seperti Effendi Gazali, Butet Kertarajasa, Kelik Pelipur Lara dan tentu saja artis artis pendukung dan bintang tamu yang untuk kali ini membuat temen saya Ikrar menjadi bersemangat.

Bintang tamunya antara lain Meutya Hafid (Golkar), Wanda Hamidah (PAN), Angelina Sondakh (PD) dan Astrid Kumentas (PDIP).

Kami tidak terlalu perduli topiknya apa, tapi yang penting masuk TV…. 🙂

Katanya kali ini BBM itu singkatan dari Benar Benar Membangun. Kalau dulu kita masih ingat BBM pernah singkatan dari “Benar Benar Mabok”, kemudian juga pernah “Baru Bisa Mimpi”.

Format baru kali ini bisa dilihat pada foto layoutnya, Effendy Gazali duduk ditengah seperti seorang direktur sedangkan para tamu diberikan sofa tamu. Ada dua co-host Denny Padhyangan Project dan Deswita Maharani.

Sebelum mereka memanggil para bintang tamu dimunculkan dilayar beberapa poster caleg yang tidak biasanya dan menarik perhatian seperti misalnya poster Caleg Superman dan Caleg Papanya Cintya Lamusu, penonton langsung geerrrrr….

Tapi Deswita sempat nyentil sedikit, dia bilang jangan pilih Caleg Superman (Egy Massadiah), wah wah.. ini black campaign nih… Mas Egy yang orang teater semoga gak marah yah.

Bintang tamu yang pertama dipanggil adalah Angelina Sondakh dan pertanyaan yang diajukan apalagi kalau bukan soal statement orang nomor 2 di Partai Demokrat (Ahmad Mubarok) yang memperkirakan Golkar hanya meraih dukungan 2,5 persen saja. Tentu ini dianggap sebagai pelecehan terhadap partai Golkar.

Begitu duduk Angie langsung diminta berbicara soal ini (lagi). Angie kemudian menjawab bahwa masalah 2,5 persen ini sudah diberitakan diberbagai media nasional selama seminggu lebih jadi tak usah dibesar-besarkan.

Effendy Gazali menanggapi dengan guyon spontan mengatakan, okelah masalah 2,5 persen itu tak perlu kita besar-besarkan, jadi cukup 2,5 persen saja…. penonton geeerrrr lagi…

Kemudian bintang tamu kedua yang dihadirkan adalah Meutya Hafid yang bukan kebetulan dari Golkar. Menanggapi isu pelecehan itu Meutya dengan manisnya mengatakan didepan Angie, enggak lohh… kita enggak sekecil itu lohh…. membuat Angie yang biru jadi merah padam….

Menyusul sesi yang cukup emosional itu tiba saatnya sesi menyapa konstituen dengan bahasa daerah dapil masing masing. Terjadi hal yang lucu karena masing masing caleg bukan berasal dari daerah dapil yang mencalokannya.

Angie yang orang Manado harus berbahasa Jawa karena dapilnya di Jawa Tengah, sedangkan Meutya yang orang Sunda harus berbahasa Batak karena dapilnya di Sumatra Utara.

Angie terlihat sangat berhati hati karena tahu bahasa Jawa bertingkat tingkat, ada yang halus ada yang kasar. Menanggapi ucapan permisi Angie, Butet yang orang Jogja lantas nyeletuk spontan, “wis.. ra popo, njepla’o…

Penonton yang mengerti bahasa Jawa langsung meledak tawanya…

Ketimbang berbahasa Jawa yang rumit, Angie memilih menyanyi lagu Jawa saja.

Selesai lagu giliran Meutya yang menyapa konstituenya dengan bahasa Batak, saya kira Bahasa Batak beneran tapi ternyata dialeknya doang. Alasan Meutya karena dia baru menikah 2 minggu dengan orang Medan jadi belum menguasai Bahasa Batak, sebelum mulai Effendy sempet nyeletuk, “dua minggu tapi berasa dua tahun…”, Bung Effendy saya mau tanya: maksuuddd loooo…..????

Kemudian giliran Caleg berikutnya Wanda Hamidah dan Astrid Kumentas. Tidak ada isu panas antara dua partai caleg ini, jadinya hanya perkenalan apa yang akan diperjuangkan di parlemen jika terpilih. Bisa dilihat sendiri di videonya.

Wanda sudah cukup banyak dikenal sebagai orang asli Betawi, berbahasa Betawipun bukan soal baginya. Sedangkan Astrid yang orang asli Manado menyapa dengan bahasa semi Manado semi Indonesia dan entah apakah itu gaya Manado atau bukan, terasa agak cepat bicaranya, mungkin mau mengejar batas waktu 1 menit.

Menyoal isu panas antara Golkar dan Demokrat sebenarnya hanya soal waktu. Bara itu merambat ke atas secara pelan tapi pasti. Sebelumnya banyak selentingan dari para kadernya tentang hubungan partai mereka, terutama isu seputar capres.

Belum surut riak di partai Golkar tentang siapa yang akan diusung sebagai capres. Banyak suara di Golkar yang menginginkan Golkar punya capres sendiri seperti Fadel Muhammad yang mengatakan Golkar bukan partai kecil yang cukup puas dengan posisi Wapres saja.

Sementara ada juga yang menyuarakan bahwa posisi R1 tak begitu penting selama kebijakan R1 sejalan denga Golkar, ini seolah mengatakan selama ini walaupun posisi JK hanya Wapres tapi dialah yang mengendalikan kebijakan Negara.

Salah satu kader Golkar yang mengatakan hal ini adalah Nurul Arifin namun tidak terlalu menuai tanggapan dari petinggi kedua partai. Reaksi baru terlihat setelah Syafii Maarif mengeluarkan pernyataan bahwa JK is The Real President.

JK merasa perlu menanggapi bahwa dirinya hanya Wapres. SBY diam saja tapi kubu Demokrat diam diam meradang, terakumulasi hinga akhirnya pecah oleh Ahmad Mubarak dengan statement berujung pelecehan.

Setelah insiden 2,5 persen ini mulai terlihat manuver manuver yang lebih menjurus. SBY yang hanya menjabat sebagai ketua dewan pembina Demokrat melakukan konferensi pers yang selayaknya menjadi tugas ketua umumnya.

Sedangkan Surya Paloh ketua dewan penasihat Golkar memberikan pernyataannya yang terasa melebihi porsinya sebagai ketua dewan penasihat. Golkar kuat tanpa SBY-JK katanya dan mengecam elit-elit politik Golkar yang gencar menyuarakan lanjutkan pasangan SBY-JK.

Hingga saat ini Golkar belum punya capres dan ini sangat merisaukan kader kader Golkar. SBY sangat berhati hati melangkah mengingat partainya yang kelihatannya saja besar melalui survey survey.

Hal yang paling merisaukan adalah ketidak pastian kekuatan lawan. Megawati dengan PDIP sudah “aman” karena dapat memberikan kepastian untuk maju. Tapi Golkar seperti tahun 2004 menjadi bola api yang liar.

Kalau begini terus tokoh tokoh Golkar seperti Sultan kansnya akan semakin besar karena telah menyatakan diri siap maju sebagai capres dan JK akan semakin ditinggalkan karena keraguannya sendiri.

Selepas acara kami pulang dengan riang gembira dan Ikrar yang wajahnya tampil di TV tak henti hentinya menerima telephone dan sms dari sanak family di Padang dan Pekan Baru yang mengenalinya di TV.  Jadi seleb dadakan nih Krar… hehehe

Bersama Dek Pendi

Bersama Dek Pendi

10 Komentar

Filed under televisi

Presenter Berita Televisi

Bagi yang lahir tahun 70an pasti mengalami masa dimana TVRI masih satu satunya stasiun televisi. Remaja ditahun 80an tidak memiliki banyak pilihan.

Berita adalah konsumsi orang tua yang mau tidak mau ditonton juga. Sehingga saya masih ingat Anita Rachman, Ussy Karundeng, Max Sopacua, Idrus, Hasan Ashari Oramahe, Inke Maris, Sambas Mangundikarta dan favorit ayah saya, Sazli Rais. Mohon maaf bagi yang lupa disebut.

Dulu rasanya mereka biasa saja, baca berita ya memang harusnya seperti itu. Tapi setelah masuk ke era 90an, mulai ada stasiun televisi swasta. Acara berita mulai beragam dan presenternyapun mulai banyak.

Acara berita dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi menarik dan karena persaingan segala aspek benar benar dibenahi. Banyak muka baru dan segar, gaya membawakan berita juga banyak inovasi.

Tahukah anda di Rusia bahkan sampai sampai ada yang namanya Naked News, dimana presenter berita tampil membaca berita sambil perlahan lahan satu demi satu mencopot busananya sendiri hingga telanjang lonjong.

Huff… itu tak akan terjadi disini… lupakan impian kita anda itu.

Apa yang terjadi disini adalah para presenter berita itu tampil cantik, cerdas, berani dan tangkas. Kehadiran para presenter inipun memiliki dinamikanya sendiri. Jenjang karir, award, skorsing, pindah stasiun televisi dan bahkan skandal bak artis. Untuk yang terakhir saya tidak tertarik untuk membahasnya.

Bagi saya yang menarik adalah bagaimana para presenter itu tampil membawakan berita dengan sebaik mungkin dengan tetap mengindahkan kaidah kaidah jurnalistik. Disisi lain juga yang menarik adalah akibat dari era informasi memungkinkan munculnya forum forum diskusi dari penggemar para presenter itu.

Orang orang jaman dulu tak mungkin bisa melakukanya. Selain belum ada Internet juga karena stasiun TV hanya ada satu yang presenternya sudah tua tua. Sekarang para presenter itu memiliki penggemar yang tidak kalah militannya dengan para penggemar artis. Ternyata beda profesi beda karakteristik penggemarnya.

Dalam dunia artis kita lihat para penggemarnya berbagi rasa dengan cara membuat klub penggemar (fansclub). Demikian juga dengan para penggemar presenter berita. Bedanya klub untuk penggemar artis berdasarkan artisnya sedangkan klub penggemar presenter tidak berdasarkan presenternya tapi berdasarkan forumnya.

Para penggemar presenter lebih mudah berbagi kekaguman atas idola mereka dibanding para penggemar artis. Sering kita lihat diforum web fans dari artis tertentu menyerang artis lain dengan membuat perbandingan mana yang lebih baik, yang membuat fans dari artis yang diserang itu meradang dan menyerang balik.

Karakteristik seperti itu tidak tampak pada para penggemar presenter. Mereka sangat terbuka dengan kelebihan dari presenter lain selain yang mereka kagumi atau idolakan.

Mungkinkah karena karakteristik dari profesi presenter itu sendiri? Saya tidak tahu. Orang bilang, kalau anda cantik maka jadilah artis, kalau anda cerdas jadilah manajer tapi kalau anda cantik dan cerdas maka jadilah presenter.

Oleh karena penggemar presenter lebih lintas idola maka mereka lebih leluasa dalam memuja dan memuji. Saya akan angkat sebuah contoh aktifitas penggemar presenter yang rasanya tak mungkin diselenggarakan oleh para penggemar artis.

***

Situs situs web yang memiliki fasilitas forum digunakan oleh para penggemar untuk membuat thread khusus pujaan mereka. Forum forum itu antara lain: Forum WebGaul, KasKus, TransTV FORUM, Multiply, Lautan Indonesia, KafeGaul, CHIP-Forum, Friendster dan Facebook.

Nama thread yang umum dipakai biasanya seperti “Penyiar Berita Kesayangan” dan sejenisnya.

Kemudian ada kelompok yang bertanggung jawab menjaga thread tersebut, semacam admin kalau di milis. Salah satu kelompok penjaga thread tersebut menamakan dirinya The Brethren Courts.

Asalnya muasalnya adalah dari postingan seorang bernama Andrade Silva di Blognya yang berjudul “The Lady of The Ring“, yang memperhatikan presenter Meutya Hafidz ketika membaca berita mengganti ganti posisi cincin dijarinya pada saat televisi menayangkan visual beritanya.

Pergantian posisi cincin itu diberi analisys oleh Andrade sedemikian rupa yang membuat saya tertawa terpingkal pingkal. Postingan itu rupanya cikal bakal dari diskusi yang seru dan ramai diforum.

Apa saja yang mereka bicarakan tidak melulu pemujaan pada fisik belaka seperti, “Duh senyumnya manis sekali….”. Tapi juga ada beberapa tulisan yang menurut saya memiliki nilai uraian yang orisinil.

Berikut saya kutipkan dari yang penggemar menyayangkan kepindahan Chantal dari MetroTV ke RCTI, Juni 2007.

Terus terang saja, Chantal bukanlah salah satu dari top5 anchor favorite saya. Meskipun begitu saya menyukai Chantal karena beliau memiliki skill dan kemampuan yang unik dan tidak biasa.

Dari 30-an anchor yang dimiliki Metro, Chantal tergolong anchor yang paling lengkap. Memang mungkin dia tidak segarang Najwa Shihab atau Meutya Hafid ketika “membantai” orang, tidak juga memiliki kemampuan bahasa sehebat Kania Sutisnawinata maupun Zelda Savitri.

Kemampuan lengkap yang saya maksudkan di sini adalah bahwa Chantal ahli dalam memegang beberapa kategori ini: Membacakan Berita, Menterjemahkan Display, Skill Wawancara Narasumber, Manajemen Durasi, juga (ini yang paling penting) Skill Wawancara Commoner.

Terus terang untuk skill wawancara commoner (wawancara dengan warga biasa, jadi bukan narasumber ahli), jarang ada anchor yang bisa, biar itu yang basisnya dari Reporter sekalipun.

Pada Metro, ada beberapa acara yang bisa dijadikan tolok ukur diversifikasi skill, yaitu: Headline News, Metro Hari Ini, Sport Corner, Special Dialogue/Todays Dialogue/Public Corner, dan Suara Anda.

Dan yang membuat Chantal unik adalah bahwa Chantal pernah mengalami di semua program ini. Apabila hendak dirunut siapa lagi, maka satu-satunya anchor yang bisa menyamai hanyalah Frida Lidwina. Sayangnya skill Frida Lidwina masih agak lemah dalam hal Manajemen Durasi.

Saya ingat dahulu Chantal juga memiliki kelemahan seperti halnya yang dimiliki oleh Frida, tapi setelah Chantal biasa di Suara Anda, tiba-tiba saja dia seperti anak panah melesat dari busurnya, dan dalam sekejap “menguasai” program Suara Anda ini.

Kemudian ada juga ulasan tentang program Suara Anda di MetroTV selepas kepergian Chantal.

Dari semua program, mungkin hanya Suara Anda yang “betul-betul menderita” akibat kepergian Chantal. Sudah beberapa anchor mencoba mengisi kekosongan ini, tapi tetap tidak ada yang sesempurna Chantal.

Bahkan Virgie Baker dan Rahma Sarita yang notabene merupakan “mantan penguasa” program ini pun tidak bisa menjadikan Suara Anda seperti sebagaimana ketika masih ada Chantal. Apa sih sebenarnya kehebatan Chantal dibandingkan dengan semua anchor di atas?

Pertama kali, Chantal itu orangnya keibuan sekali, dan naluri itu terbawa bahkan hingga ke Suara Anda. Chantal selalu menganggap semua penelpon tidaklah seperti “orang biasa”, melainkan seperti “seorang anak yang hendak mengadu pada Ibunya”, dan Chantal lah “ibu si anak tersebut”.

Kedua, Chantal tidak pernah terikat pada teks, dia biarkan saja masing-masing berpendapat menurut bahasa mereka sendiri, dan Chantal juga selalu mendengarkannya dengan amat sabar.

Selain itu, Chantal juga tidak pernah memberikan penilaian atau men-judge apakah pendapat orang tersebut betul atau salah. Chantal juga selalu go with the flow, dia seolah-olah tahu kemana pembicaraan seseorang dan dia selalu bisa mengimbanginya.

Memang terkadang terlihat tidak tegas, akan tetapi berbicara dengan Chantal bisa menjadi sebuah kedamaian tersendiri, cita-cita yang tampaknya tidak bakal bisa terwujud untuk saya.

Lalu, apa kelemahan masing-masing pengganti Chantal? Ada beberapa anchor yang mencoba menggantikan Chantal di Suara Anda, yaitu Virgie Baker, Rahma Sarita, Fifi Aleyda Yahya, Meutya Hafid, Frida Lidwina, dan Prita Laura.

Rahma Sarita itu orang dialog, dia adalah (menurut saya) predator terbaik Metro setelah Najwa Shihab dan Meutya Hafid. Sayangnya orangnya agak “mbregudul”, keras kepala.

Apabila ada penelepon yang pendapatnya dianggap tidak sreg dengannya, maka pasti langsung di-cut, itu masih mending, jangan-jangan bisa diajak berantem dulu.

Virgie Baker orangnya sebenarnya baik, tidak terlalu menuntut seperti Rahma, sayangnya dia agak kaku, konservatif. Apabila digariskan seperti ini ya harus seperti ini.

Jeleknya lagi, Virgie memiliki kecenderungan untuk “mengarahkan” pendapat para penelepon, paling parah lagi dia sering juga menjawab pertanyaannya sendiri sehingga penelepon seolah-olah tidak bebas untuk berpendapat.

Fifi Aleyda Yahya malah paling parah di antara semuanya. Dari semua anchor yang berdebut di Suara Anda, Fifi lah yang mendapat debut terburuk.

Di sana Fifi betul-betul terlihat seperti amatiran, seolah-olah pengalaman bertahun-tahun selama ini lenyap begitu saja di pangkal telepon Suara Anda. Fifi gagal, bukan dari segi skill atau teknik, tapi dari mental.

Meutya Hafid dan Prita Laura sedikit lebih beruntung, sayangnya pada debut mereka, mereka lebih sering bermain aman. Tidak ada hal-hal khusus yang dilakukan, tidak ada. Prita Laura sendiri bahkan hampir terpancing untuk “menginterogasi” penelepon, seolah-olah mereka narasumber berita atau apa.

Yang paling mendekati adalah Frida Lidwina, dia cukup lancar menangani para penelepon, mungkin ini hasil “bertapa” di Sport Corner (nggak ada hubungannya, ya?).

Cuma Manajemen Durasi-nya masih lemah, tapi seharusnya jika dia dipasang lebih sering, skill ini pasti akan meningkat dengan sendirinya. Apalagi Frida tergolong ramah dan memiliki mimik wajah yang menyenangkan.

Foto diambil dari Friendster salah satu anchor MetroTV, saya lupa siapa, sehingga belum sempat minta ijin. Ini sekalian minta ijinya… 🙂

Memang mungkin ada beberapa yang subyektifitas tapi itulah opini. Dan mereka tidak melulu membahas hal hal yang serius tapi juga banyak yang remeh temeh dan lucu seperti:

  • CHANTAL DELLA CONCETTA adalah anchor dengan suara paling melankolis
  • Selepas CHANTAL DELLA CONCETTA, LUCIA SAHARUI memegang peringkat pertama sebagai The Best Voice of MetroTV, dengan suaranya yang “as a whispering wind”, sementara MEUTYA HAFID di peringkat kedua dengan suaranya yang “as a flowing water”

Istilah istilah yang dimengerti oleh mereka saja.

  • Anchor-anchor berbahasa Inggris terbaik di Metro adalah: ZELDA SAVITRI, KANIA SUTISNAWINATA, DIAN KRISHNA, GADIZA FAUZI, dan ELVITA KHAIRANI. Di luar itu, rata-rata masih terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai “Indonesian-English” atau malah “Javanese-English”.
  • Untuk Bahasa Asing non-Inggris dan Mandarin, pronounciation terbaik dipegang oleh DIAN KRISHNA. DK mampu mengucapkan kata-kata, nama-nama, dan istilah-istilah dalam bahasa asing (non-Inggris & Mandarin) secara baik, benar, dan fasih.
  • FIONA YUAN adalah anchor berbahasa Mandarin terbaik. Selain itu, dia juga bisa menyanyi dengan amat baik.
  • Suara CHEN SHAO YING ketika berbahasa Mandarin mirip dengan JET LEE

Bagaimana mereka bisa tahu Fiona Yuan terbaik yah? Tentunya yang menilai itu bisa berbahas Mandarin.

  • Rata-rata orang bisa mengenali dan membedakan suara LUCIA SAHARUI, RAHMA SARITA, PRITA LAURA, FIFI ALEYDA YAHYA, FIONA YUAN, dan SUMI YANG seketika tanpa harus melihatnya.

Semua yang disebut dari MetroTV. (Rahma sudah tidak lagi)

  • SUMI YANG paling sering membuat spelling error dalam Metro Xin Wen

Nah ini bagaimana mereka bisa tahu?

  • DIAN KRISHNA paling sering membuat spelling error tanpa ketahuan, sebagian besar dibuat di Sport Corner.
  • Anchor MetroTV selalu menyebut “Cina” dengan “China” (baca: Tja-i-na), di mana pembatasan serupa tidak didapatkan di RCTI dan SCTV.
  • Orang bisa mengenali suara DIAN KRISHNA seketika pada saat Sport Corner tapi harus berpikir dalam siaran berita bahasa Indonesia.
  • AMELIA ARDAN memiliki penekanan, aksen, dan toning yang unik dan khas ketika dia menyebutkan nama “DIAN KRISHNA” (denger aja sendiri deh, baru percaya)
  • GADIZA FAUZI memiliki dua warna suara yang berbeda. Saat dia membaca berita, suaranya adalah Alto, sementara ketika berbicara biasa, suaranya menjadi Sopran.
  • Tone, warna suara, dan cara bicara PRITA LAURA (Archipelago) mirip dengan RORO RATIH DEWANTI (Jelajah). Secara kebetulan pula, mereka berdua menjadi host dalam acara travelling di dua station TV yang berbeda. Kemiripan tone lain adalah antara FIFI ALEYDA YAHYA dengan FAUZIAH ERWIN, juga antara CHANDRA SUGARDA NAZIR dengan YULIA SUPADMO
  • Dalam dialog, NAJWA SHIHAB dan MEUTYA HAFID termasuk anchor berkategori “Summer” sementara GADIZA FAUZI dan PRITA LAURA adalah anchor berkategori “Winter
  • PRITA LAURA dan MEUTYA HAFID memiliki cara yang unik dalam memenggal kalimat.

Saya rasa Fifi dan Khadijah Al Jufri juga unik dalam memenggal kalimat dan mirip pada saat bertanya ketika wawancara di studio.

  • Sementara, FRIDA LIDWINA memiliki tone yang unik dalam mengakhiri sebuah kalimat.
  • FRIDA LIDWINA juga memiliki tone yang unik ketika menyebutkan namanya sendiri.
  • PRITA LAURA, LUCIA SAHARUI, dan ELVITA KHAIRANI memiliki ciri khas yang unik ketika mengakhiri Headline News. Sementara GADIZA FAUZI hampir selalu menyebutkan acara selanjutnya plus topik dan host yang membawakan, ketika mengakhiri Headline News.
  • RALPH TAMPUBOLON dianggap sebagai anchor cowok yang memiliki suara paling sexy di Metro (Akoord, Mje??)
  • DAISY WEKU di TransTV selalu membawakan berita dalam tempo cepat, yang lain adalah AMANDA MANUPUTY di Metro Papua TV
  • LUCKY SAVITRI memiliki aksen yang sangat unik yang saya sebut sebagai “tonguebiter”.
  • Para anchor cewek di SCTV rata-rata bisa dikategorikan sebagai anchor dengan Most Sexiest Lips, sementara Best Voice dipegang oleh Metro TV.
  • FRIDA LIDWINA adalah anchor dengan the most beautiful smile.

Kalau versi saya ada beberapa yang lain yang juga masuk most beautiful smile.

  • GADIZA FAUZI, LUCKY SAVITRI, dan GITHA NAFEEZA memiliki Mouse Smile, sementara PRITA LAURA dan TENGKU FIOLA memiliki Duck Smile.

Kategori yang unik.

  • Senyuman VALERINA DANIEL, GRACE NATALIE, LOLO SIREGAR, dan AMELIA ARDAN sama dan setipe, yang saya sebut sebagai Vixen Smile. Sementara MEUTYA HAFID dan IRA SYARIF juga satu tipe yaitu Cat Smile.

Semua pendapat itu memang subyektif tapi mereka juga memiliki Anchor Liga untuk memilih presenter terbaik versi mereka tentunya. Pemilihannya mengikuti aturan yang dapat mengurangi subyektifitas seperti opini opini diatas.

Tahapannya dari Anchor of the Month yang dipilih tiap bulan berdasarkan kata kunci Google yang masuk ke dalam statistik Blog mereka. Para presenter yang mereka miliki dan bahas di forum berjumlah 307 newsperson dari semua stasiun TV swasta.

Dalam daftar kata kunci dari Google yang masuk statistik Blog mereka didapat data untuk bulan ini adalah sbb:

  1. Eva Julianti 355
  2. Tina Talisa 329
  3. Grace Natalie 307
  4. Shara Aryo 300
  5. Aditya Wardhani 293
  6. Frida Lidwina 248
  7. Ratna Dumila 231
  8. Githa Nafeeza 205
  9. Lucia Sharui 205
  10. Rahma Sarita 200

Sehingga untuk bulan Juli 2008, Anchor of the Month mereka adalah Eva Julianti dari MetroTV. Kemudian selanjutnya Anchor of the Year. Tahun lalu, Anchor of the Year 2007 dimenangkan oleh Gadiza Fauzi. Gadiza Fauzi telah dua kali tampil sebagai Anchor of the Month untuk tahun 2008. Gadiza berpeluang untuk menjadi Anchor of the Year 2008.

Tapi selain Anchor of the Year ada lagi award mereka yang konsepnya beda dengan Anchor of the Year. Mereka memberi nama Jewel of The Station Award. Konsepnya adalah pemilihan Anchor terfavorit yang dipilih anggoat forum. Proses pemilihannya harus mengikuti aturan yang cukup ketat. Mula mula tiap stasiun ditentukan kandidat wakil presenter yang akan dinominasikan. Berikut note dari aturan penentuan kandidat:

Sistem “one man three vote” dipakai untuk menghindari kefanatikan pada satu anchor, sekaligus mengurangi “voting bias” yang disebabkan oleh sistem Anchormate/Sidemate bagi tiap-tiap anggota BC.

Setiap voter memilih 3 kandidat per station tanpa perbedaan bobot rank, dan semua station harus dipilih. Pilihan secara random diperbolehkan, karena semua kandidat anchor yang ikut dalam primary sudah pernah ada di WebGaul.

Dengan kriteria favorit, maka tidak diharuskan memilih berdasarkan pertimbangan tertentu kecuali selera pribadi saja.

Kemudian setelah nominasi didapat diperoleh pemenang yang berhak mewakili stasiun televisinya. Berikkut adalah proses convention mulai dari perkaukus hingga penentuan pemenangnya:

  1. The Red Carpet: Penyaringan kandidat masing masing kaukus
  2. Secondary: Menghasilkan dua kelompok convention yaitu:
    • Eastern Convention
      1. Eva Julianti (MetroTV)
      2. Woro Windrati (TransTV)
      3. Rike Amru (SCTV)
      4. Virgianty Kusumah (Global-MNC News)
      5. Fitrianti Megantara (ASTRO Awani)
    • Western Convention
      1. Tengku Fiola (ANTV)
      2. Isyana Bagoes Oka (RCTI)
      3. Rahma Sarita (tvOne)
      4. Lolo Siregar (Trans|7)
      5. Nike Kusmarini (Indosiar)
      6. Sandra Dewi (TPI)
  3. The National Convention: Menghasilkan pemenang dari Eastern Convention (Isyana Bagoes Oka, mereka menyebutnya Democratic candidate) dan pemenang dari Western Convention (Eva Julianti, mereka menyebutnya Republican candidate)
  4. Electoral College: Hingga akhirnya the road to the one jewel sampai pada penentuan pemenang dimana pemenangnya berasal dari Democratic candidate yaitu: Isyana Bagoes Oka

Sekilas award Jewel of the Station yang diselengarakan oleh The Brethren Courts ini tidak serius dan main main, tapi kalau dilihat dari metode penyelanggaraannya maka panitia profesionalpun mungkin kesulitan bisa menyelenggarakannya.

Mengingat untuk publik di Internet mereka telah memiliki jaringan di berbagai situs besar, bahkan di situs pertemanan terbesar seperti Friendster dan Facebook.

Salut buat mereka yang tidak hanya sekedar memuja muji tapi juga bikin acara yang seru dan tentu saja selamat buat Isyana Bagoes Oka, The One Jewel of All Stations 2008.

Foto diambil dari hasil capture anggota BC yang bernama Reds and Black

***

Sampai sejauh ini adakah yang terlewatkan? Tentu saja. Kebanyakan dari para penggemar presenter itu adalah laki laki, kebalikan dari penggemar artis yang umumnya remaja putri.

Karena kebanyakan mereka adalah pria maka presenter yang diidolakanpun juga presenter wanita. Padahal menurut saya presenter laki laki juga layak dan bagus bagus. Ralph Tampubolon dan Gustav Aulia adalah beberapa nama yang pernah muncul di forum BC. Favorit saya untuk presenter pria bukan Ralph atau Aulia tapi Putra Nababan.

Matanya yang sayu memberi kesan dingin dan seolah olah tak terpengaruh isi berita yang dibacakannya. Tapi mungkin belum seperti Sazli Rais jaman TVRI waktu membawakan berita perang Malvinas antara Inggris dan Argentina. Sazli Rais itu gabungan antara ekspresi Putra Nababan dan warna suara Ralp Tampubolon. Belum ada yang seperti itu lagi sekarang.

Untuk presenter wanita para penggemar lebih suka mengomentari senyum, tone, vokal dan cara memenggal kalimat maka saya lebih suka memperhatikan cara presenter tersebut mengucapkan kalimat. Desi Anwar mungkin menjadi panutan banyak presenter muda. Desi punya cara yang khas dalam mengucapkan kata yang mengandung unsur huruf “c“, bibir agak dimonyongin ketika mengucapkannya.

Cara ini kemudian menular ke presenter lain seperti Sandrina Malakiano, menular lagi ke Wianda Pusponegoro. Akhirnya menjadi semacam trend. Terus terang saya kurang suka. Mungkin bisa pas pada Desi Anwar tapi ketika ditiru oleh yang lain maka itu menjadi tidak pas lagi.

Mirip Desi Anwar, Sandrina Malakiano memberikan tambahan intonasi pada berita yang dibawakannya. Bahkan untuk memperkuat kesan, Sandrina sering menggerakan kepalanya seperti mengangguk dan menggeleng.

Gaya Desi dan Sandrina inipun cepat berkembang menjadi trend di kalangan presenter. Mungkin ada yang menilai cara seperti itu adalah cara yang baik, memberi penekanan intonasi dan ekspresi pada isi berita. Tapi saya kok kurang suka, sering saya terganggu dengan penekanan intonasi dan gerakan kepala seperti itu.

Orang sering teralihkan perhatiannya oleh cara membaca yang dimonyongin itu, intonasi dan gerakan kepala presenter sehingga tidak memperhatikan isi berita tapi malah mengomentari presenternya. Menurut saya pembaca berita sebaiknya tidak usah memberi penekanan pada intonasi atau memberi gerakan kepala yang berlebihan.

Ketika banyak presenter menggandrungi trend trend tersebut adalah Fifi Aleyda Yahya, Rosiana Silalahi dan Kania Sutisnawinata yang tampil dengan image unity tersendiri yang lebih orisinil.

Menurut Andrade Silva, Fifi gagal ketika membawakan program Suara Anda. Mungkin Andrade benar tapi masalahnya Fifi tidak harus berada disitu. Meminjam istilah Mas Satrio Arismunandar, seorang presenter memiliki image personality masing masing yang harus dipahami oleh stasiun TV tempatnya bekerja.

Jika memang Fifi tidak cocok untuk program Suara Anda maka seharusnya MetroTV paham akan hal itu dan tidak menempatkan Fifi di acara tersebut. Mungkin Fifi lebih cocok di acara hardnews atau conference. Acara debat dan dialog juga cocok karena pembawaan Fifi yang serius dan tegas.

Ketidakpahaman seperti ini yang bila terjadi berulang ulang tanpa evaluasi mungkin akan bermuara pada pindahnya sang presenter ke stasiun TV lain.

Jika seorang presenter bagus mungkin tidak di semua lini. Kalau bagus di semua lini (generalist) mungkin kalah oleh presenter specialist di lini yang spesifik. Memang ada beberapa presenter generalist sekaligus specialist. Najwa Shihab dan Rosiana Silalahi mungkin bisa masuk kategori ini. Tapi untuk bisa begitu perlu jam terbang yang tinggi dengan semua fasilitas dan kesempatan terbaik yang bisa diberi oleh stasiun TV.

Sungguhpun demikian Najwa bukan tanpa kekurangan. Waktu itu Meutya Hafidz masih disandra oleh kaum Mujahidin di Irak. MetroTV secara marathon memberitakan perkembangan terakhir dan disampaikan bergiliran oleh beberapa presenter yang tentu saja juga teman teman Meutya.

Pada saat giliran Najwa Shihab yang menyampaikan berita, Najwa tidak kuasa menahan emosinya dan menangis didepan kamera sambil menyampaikan berita. Walhasil kalimatnya terbata bata. Apakah orang akan bilang Najwa tidak profesional sebagai presenter. Jurnalis juga manusia bukan, punya perasaan.

Satu lagi contoh yang menurut saya sebenarnya tidak perlu terjadi kalau stasiun TV memiliki pemahaman tentang presenternya. Presenter sebagus Najwapun bisa terlihat tidak pro kalau sudah begitu. Masalahnya kenapa MetroTV tidak menyadari kedekatan emosi antara Najwa dan Meutya. Mungkin bisa dipilih presenter lain yang lebih stabil emosinya pada saat itu.

Tapi kejadian itu tidak sampai membuat Najwa diskors. Tapi kalau ditegur saya tidak tahu. Saya bukan orang dalam. Kalau kesalahan ringan mungkin sering terjadi. Kania Sutisnawinata yang dianggap kemampuan berbahasa paling baik toh pernah keseleo lidah dengan mengatakan: “Studio mini MetroTV” menjadi “Studio Metromini”, untung tidak ditambah dengan jurusannya sekalian 🙂

Video captured Studio Metromini di Youtube

Profesi presenter sebenarnya adalah profesi yang menurut saya memiliki resiko yang tinggi. Profesi apapun selain presenter kalau salah bicara masih bisa minta maaf, ralat dan melanjutkan karirnya. Tapi kalau presenter salah bicara sedikit maka karir bisa berubah.

Tanggal 16 Mei 1998, saat saat genting sebelum reshufle kabinet terakhir Presiden Soeharto yang ternyata tidak direspon oleh para menteri yang dipilih masuk reshufle.

Salah satu menteri yang menolak reshufle kabinet adalah Sarwono Kusumaatmadja yang sebelum pembacaan reshufle sempat diwawancarai oleh Ira Kusno dari SCTV.

Pada wawancara itu yang sangat ingin didengar oleh masyarakat adalah dukungan pada reformasi dan anti pada status-quo.

Pak Sarwono waktu itu mengibaratkan reshufle kabinet kali ini hanya tambal gigi saja. Sedangkan yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah cabut gigi. Istilah cabut gigi tersebut mengarah kepada tuntutan agar Pak Harto mundur saja, tidak usah reshufle kabinet segala.

Walhasil bos SCTV waktu itu (Peter F Gontha) yang merupakan tangan kanan Bambang Trihatmojo itu marah besar dan memecat jurnalisnya: Don Bosco Salamun (produser), Sumitha Tobing (pemred) dan presenter Ira Kusno diskors.

Posisi Ira sangat sulit, dia harus menjaga alignment dengan kebijakan stasiun TV tempatnya bekerja sementara narasumbernya sulit dikendalikan. Ira telah berusaha tapi belum cukup untuk mengamankan plot interview. Padahal Ira dikenal sangat agresif untuk urusan interview.

Contoh lain adalah ketika reformasi telah bergulir dan ramai ramai orang membuat partai baru untuk ikut pemilu. RCTI waktu itu menampilkan narasumber Yusril Ihza Mahendra yang akan membentuk partai baru bernama Partai Bulan Bintang. Sedangkan wawancara dilakukan oleh jurnalis Nova Poerwadi.

Waktu itu partai baru sudah cukup banyak. Kemudian hal yang ingin ditanyakan oleh Nova kepada narasumbernya Yusril adalah apakah dengan sekian banyak partai itu masih perlu membentuk partai baru.

Yusril seperti biasa menjawab dengan argumentasi bahwa selama itu dibolehkan secara hukum kenapa tidak, tapi rupanya Nova belum puas dengan jawaban itu dan terus bertanya seputar perlunya partai baru.

Akhirnya Yusril bertanya balik dengan mengatakan jangan jangan RCTI masih menganut paradigma lama. Pertanyaan seperti itu tentu menohok RCTI tapi Nova tak memiliki jawaban apalagi membantahnya dan hanya merespon dengan senyum saja.

Sejak kejadian itu saya tak pernah melihat Nova lagi di RCTI. Saya tak tahu apa yang terjadi. Belakangan Nova terlihat muncul di program VOA.

Contoh lain lagi waktu itu pemerintahan Presiden Gusdur sedang goyah. Banyak pihak yang merespon pernyataan Gusdur sebagai Presiden yang sering kali keluar bingkai (nyeleneh).

Media kerap memuat respon dari Amien Rais atas pernyataan Gusdur. Pihak yang pro Gusdur balik menuduh Amien Rais memiliki agenda tersembunyi menggulingkan pemerintahan Gusdur. Suasana politik memanas dan pada saat itu SCTV menghadirkan wawancara eksklusif dengan narasumber Amien Rais dan pewawancara jurnalis Chandra Wibowo.

Setelah sekian panjang wawancara dan kelihatannya Pak Amien narasumber yang kalem dan mengikuti saja plot yang diatur oleh Chandra. Seandainya Chandra tampil netral maka ia tak akan terjerumus dalam situasi yang sulit. Disini Chandra tampil seolah olah mewakili orang yang curiga pada Amien Rais.

Beberapa kali Pak Amien diminta klarifikasi tentang tuduhan itu. Pak Amien akhirnya menjawab bahwa jika ia memang menginginkan Gusdur untuk mundur maka ia tak akan sembunyi-sembunyi seperti yang dituduhkan. Ia akan mengatakannya terang terangan (dikemudian hari memang terbukti demikian).

Diakhir wawancara Chandra kembali membuat kesalahan dengan menghimbau sebaiknya Pak Amien diam tidak usah berkomentar agar tak membuat suasana keruh. Pak Amien menjawab bahwa ia hanya merespon pernyataan Gusdur. Semenjak usai acara wawancara itu saya tak pernah lagi melihat Chandra Wibowo muncul di layar kaca.

***

Menjadi presenter memang tidak sekedar menjadi cantik di depan kamera tapi juga dituntut cantik berdiplomasi.

Banyak presenter muda yang berpeluang menjadi lebih baik dari penduhulunya. Tapi memang mereka perlu diberi kesempatan menambah jam terbang. Isyana misalnya yang terpilih menjadi presenter favorite The Jewel of All Stations belum pernah saya lihat dia menjadi interviewer atau moderator dialog.

Kalau Eva Julianti sudah pernah saya lihat memandu acara dialog ringan. Belum dialog berat seperti Today’s Dialogue. Tapi memang perlu semacam kapasitas tertentu untuk bisa di program interview atau dialog. Kembali lagi kalau tidak pernah dicoba atau diberi kesempatan maka tak akan pernah tahu.

Dunia presenter memang unik, penuh tantangan dan resiko. Setelah melihat sebagian dinamika yang bisa diungkap diatas, bagaimana? Tertarik dengan menjadi presenter?

Layangkan lamaran anda pada stasiun TV, jangan ke saya yah.. saya cuma blogger… hehe

44 Komentar

Filed under televisi

MetroTV e-Lifestyle: Onno W Purbo

MetroTV e-LifestyleAtas saran Mas Koen yang udah mulai bosen sama berita Mas Roy, saya coba posting selingan. Kali ini acara di Metro TV, e-Lifestyle yang diasuh oleh beliau…

(hah.. dia lagi… ampyunnnn)… sabar sabar, bukan beliau kok yang jadi hostnya kali ini, tapi host baru namanya Ferry (padahal saya lebih suka Meutia Hafidz).

Kali ini topiknya adalah “Pemblokiran Situs di Internet”. Narasumbernya seorang pakar betulan (bukan gadungan), Bpk Onno W. Purbo dan Bpk Son Kuswadi Edmon Makarim (Staff ahli Menkominfo).

Diskusinya tidak terlalu menarik karena yang dibahas hal hal yang umum saja. Bahwa pemblokiran lebih efektif dilevel grassroot dengan Parental Control. Semakin keatas semakin kurang efektifitasnya.

Kang Onno juga mengatakan bahwa pengguna Internet itu paling sebel kalo didikte, kita harus hati hati kalo Play God kata Kang Onno.

Pak Son Edmon kemudian memberi pandangan dari segi hukum, bahwa ada dua unsur yang harus dipenuhi untuk bisa dihukum yaitu unsur “sengaja” dan dengan “hak”.

Kang Onno W PurboContoh yang diberikan tidak terlalu akurat saya rasa, males saya mengquotenya disini karena tidak berminat.

Ada satu kata dari Pak Son Edmon yang saya ingat muncul lagi dari pertemuan antara Blogger dengan Menkominfo kemarin, kata itu adalah Xenophobia. Avianto paling sebel sama kata itu.

Kapan kapan ketemu dialog terbuka antara Pak Son Edmon dan Avianto… hahaha.. kata “dialog terbuka” jadi ngetop sekarang gara gara… tuh kan kepleset ke dia lagi.

Udah ah… ntar mbahas dia lagi Mas Koen dan Bli Anton protes lagi ntar…

eh.. Kang Onno mirip Taufik Savalas yak…? hush… 🙂

Pada sesi tanya jawab dengan penelopon, ada yang tanya pada Kang Onno, mungkin gak untuk memfilter dari konten yang bukan teks tapi dari image processing. Kang Onno bilang itu sulit, lebih mudah pakai teks tapi ada kesulitan menentukan konteksnya.

Menurut saya lupakan filter konten image maupun teks, paling feasible pakai sistem blacklist URL yang disubmit oleh user dan diapprove oleh komite, loh kok jadi serius…? ok nyantai lagi.

Ngomong ngomong soal image processing, kita memang krisis pakar, eh bukan kita sih tapi para wartawan, khususnya wartawan infotainment. Untuk itu bisa kita munculkan pakar pakar yang sudah ada untuk dapat dirujuk oleh wartawan kalo butuh narasumber yang kompeten.

Ariya HidayatSelain Kang Onno berikut adalah beberapa pakar yang bisa dirujuk oleh wartawan: Bpk Andi S Budiman dan Bpk Ariya Hidayat. Ada lagi yang lain ? bisa diberi masukan!

29 Komentar

Filed under televisi

Perspektif Wimar

Setelah Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) disahkan oleh DPR muncul banyak pro dan kontra, terutama dikalangan masyarakat yang berkecimpung didunia IT.

Apalagi diperheboh dengan ulah seorang “pakar” mengail diair keruh. Milis yang semula sepi jadi ramai, para Blogger punya topik tulisan baru dan panen komentar. Hingga akhirnya TV pun tidak ketinggalan mengangkat isu ini sebagai pembahasan mereka.

Salah satunya adalah acara anyar Perspektif Wimar berdurasi 30 menit yang ditayangkan di ANTV pada jam 6 pagi.

Gambar dari Perspektif.net

Acara ini tentu saja diasuh oleh Wimar Witoelar, sang pemandu talkshow kawakan yang sudah punya pengalaman 14 kali dibredel oleh pemerintah sejak jaman Orde Baru. Selain Om Wimar acara ini juga memiliki co-host seorang wanita cantik yang juga seleb, untuk kali ini co-host nya adalah Wulan Guritno.

Pada acara ini dihadirkan langsung orang yang paling bertanggung jawab atas hadirnya UUITE, Menteri Komunikasi dan Informasi, Pak Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA sebagai nara sumber.

Isu yang paling santer dari UUITE ini adalah tentang pemblokiran situs porno walaupun sebenarnya UUITE itu lebih banyak mengatur tentang traksaksi elektronik.

Wulan Guritno membuka pembicaraan dengan menyebut topiknya kali ini adalah “Pemblokiran Situs Porno“, yang kemudian Pak Nuh diminta menceritakan tentang perihal pemblokiran tersebut.

Kalau politisi biasanya defensif dengan mencegat diawal tapi Pak Nuh tidak merasa perlu untuk menjelaskan bahwa UUITE itu sebenarnya tidak fokus untuk urusan situs porno semata tapi beliau menanggapi langsung ke masalahnya dengan pertanyaan:

“Salah satu alasanya, tolong carikan Bang Wimar, Mbak Wulan, apakah bisa membangun bangsa ini dengan cara menumbuh kembangkan, mensuburkan pornografi, kasih contoh best pratice nya negara mana?”.

Kemudian Wimar menanggapi:

“Mungkin saya bisa temukan tempatnya disini untuk menjawabnya yah… saya bisa temukan banyak alasan kenapa pornografi jangan dibatasi… eemmmm tapi bukan waktunya sekarang.”

Kemudian Pak Menteri melanjutkan:

“Ok, saya rasa itu salah satu alasannya dan yang kedua ada kerisauan di masyarakat ketika pemerintah dan masyarakat IT sedang menggalakkan penggunaan IT ke desa desa…. padahalah disalah satu falsafah ITnya kan dalam sebuah produk teknologi itu pasti ada plus ada minusnya,…

lha kalau masyarakat itu tidak kita lengkapi dengan proteksi terhadap yang negatif, sangat khawatir kita itu, jangan jangan malahan justru yang negatifnya yang diambil, dari situlah maka hal hal yang menyangkut public domain itu yang kita berikan limitasi.”

Kemudian Wimar menanggapi:

“Dan pemerintah selalu lebih tahu dari siapapun apa yang bagus dan apa yang jelek untuk moralitas publik?”

Pak Menteri menjawab:

“Saya kira tidak dalam posisi itu, jadi kita menempatkan mana yang boleh mana, yang tidak boleh, bukan porsi atau bukan pemerintah sendiri yang menetapkan tetapi bersama sama komunitas masyarakat yang lain, yang memiliki perspektif yang sama bahwa untuk membangun bangsa itu memang ada kaidah kaidah, ada rule rule yang harus diikuti.”

Cukup puas dengan jawaban Pak Menteri kemudian Wimar mengatakan:

“Pak Nuh ini sangat populer yah Wulan yah, karena setiap hari acara ini dibahas di website kami Perspektif.net, sama sekali gak ada pornonya, dari sekian banyak edisi yang paling diantisipasi adalah acara ini karena biasanya orang cuma kasih 11-12 pertanyaan ini sampai 40 lebih…”.

Suasana pun dari semula tegang menjadi cair kembali.

Wimar menceritakan dalam website tersebut banyak pertanyaan bagaimana cara melakukan sensornya. Banyak kekhawatiran bagaimana kalau saya pakai webcam atau foto foto pakai baju renang dst…

Kemudian Wulan menyela dengan pertanyaan yang gak penting hingga Wimar sampai harus menyela lagi untuk menambahkan pertanyaan setelah Wimar menyatakan traumanya kena bredel sejak jaman Soekarno-Soeharto.

Pertanyaan Wimar:

“Apakah Undang Undangnya akan didomplengi oleh pembatasan terhadap kebebasan?”

Kemudian Pak Menteri menjawab:

“Saya kira kalau konteksnya UUITE itu sama sekali bukan untuk hal seperti itu, ITE itu falsafahnya sekarang kita itu tidak bisa lepas dari transaksi transaksi yang sifatnya elektronik base, tapi disatu sisi kita belum punya payung hukum untuk melindungi masyarakat sendiri yang melakukan transaksi elektronik base itu”.

Kemudian ada telephone masuk dari Budi Rahardjo, pakar network security dari ITB. Pak Budi diminta pendapatnya tentang isu ini. Beliau lantas mengemukakan kekhawatirannya dengan sensorship seperti ini. Salah satu kebanggaan Pak Budi dengan Internet kita adalah sejak jaman Orde Baru kita tidak ada sensorship. Langkah pemerintah dalam melakukan sensor ini menurut Pak Budi adalah langkah kemunduran.

Kemudian Pak Budi berpendapat:

“Kalau kita mau membuat Internet lebih sehat harusnya kita lebih banyak membuat konten yang positif sehingga konten yang negatif ini akan menjadi minoritas justru”.

Pak Budi lantas menekankan bahwa seharus pemerintah fokus pada pengembangan kreatifitas masyarakat dalam membuat konten.

Pak Nuh kemudian menjawab Pak Budi dengan mengatakan bahwa yang ditutup itu yang sudah sangat jelas mudharatnya, justru pemerintah tidak ingin masyarakat dalam mengembangkan kreatifitasnya itu justru dicemari oleh kreatifitas kreatifitas yang bisa menimbulkan efek negatif.

Pak Nuh kemudian menekankan untuk tidak usah khawatir pemerintah akan menyentuh masalah kreatifitas di bidang politik dan kritik. Itu semuanya bebas kata Pak Nuh, dan hanya mengecualikan satu saja yakni Pornografi.

Bahkan Pak Nuh menambahkan bahwa jalur private tak disentuh, misalnya lewat email tapi yang dibatasi adalah jalur publik situs web. Menanggapi pertanyaan Wulan yang mempertanyakan kenapa media lain masih bisa longgar sedangkan di ranah maya jadi lebih ketat, Pak Nuh menjawab sasarannya sebenarnya adalah untuk minimazing konten porno karena tak bisa sekaligus.

Sasaran yang ingin ditembak ada tiga layer. Pertama pemerintah ingin menumbuh kembangkan kesadaran kolektif bagaimana masyarakat memanfaatkan teknologi IT dalam koridor yang baik.

Belum sempat lanjut ke layer kedua Wimar mengajukan pertanyaan:

“Orang yang membagi ini sangat porno, ini sedang sedang, dan ini ringan, jadi gimana mencapai kesepakatan itu, Pak Nuh ikut lihat semua situs situs itu?”

Mendengar pertanyaan itu Wulan langsung teriak, “Seru dong yah….“.

Semua tertawa dan suasana cair lagi.

Pak Nuh mengatakan sangat jelas sebuah situs porno sejak halaman awal. Sebelum menjelaskan lebih lanjut Wulan mengajukan pertanyaan:

“Mewakili pertanyaan teman teman selebku.. cieeehhh… akhir akhir ini kan…”

Terus terang saya sangat sulit meng-quote perkataan Wulan sebab tidak tertata dengan baik kalimatnya jadi saya kutip menurut saya saja bahwa Wulan menghawatirkan bagaimana kalau teman teman selebnya berfoto foto dipantai pakai bikini kemudian foto itu diambil orang trus dipublish ke media cetak.

Pak Nuh lantas menjawab hukum tidak membedakan seleb atau bukan, kemudian Pak Nuh menjelaskan dalam UUITE memberikan perlindungan terhadap hak hak pribadi.

Sebenarnya saya ingin memberi opini terakhir tapi saya tidak tahan untuk beropini sekarang. Wulan ini dari pertanyaannya seperti tidak paham dengan isu yang sedang dibahas. Waktu yang cuma sedikit jadi terbuang hanya untuk memahami maksud yang ingin dia sampaikan.

Wimar lantas ingin menyudahi pembicaraan dan mengajukan pertanyaan kepada Pak Nuh untuk menjelaskan kepada penonton yang masih bingung tentang UUITE. Pak Nuh lantas menjawab bahwa UUITE untuk mengatur transaksi elektronik dan bukan UU pornografi.

Kemudian Pak Nuh menjelaskan secara singkat apa itu UUITE dan dilanjutkan dengan sesi baca SMS. Dalam sesi baca SMS ini Pak Nuh kembali melanjutkan penjelasannya tentang sasaran tiga layer tadi diatas.

Layer pertama adalah grassroot dimana pelaku seonsor adalah diri kita sendir. Kedua adalah di layer limited network, disetiap kantor, sekolah. Belum sempat dibahas layer ketiga sudah ada pertanyaan tentang hukuman yang diancamkan pada pelanggar.

Pak Nuh menjelaskan bahwa hukuman bukan untuk menakut nakuti tapi untuk menumbuhkan kesadaran. Penjelasan Pak Nuh tentang ancaman hukuman kurang bisa memuaskan Wimar dan Wulan dan kelihatannya juga para pentonon. Pak Nuh juga mengingatkan UU bisa direview dan tak usah terlalu khawatir karena semua fraksi di DPR menyetujuinya… Kemudian waktunya habis, acara selesai.

Sekian reportase, mungkin ada yang kurang silahkan komentar, opini saya akan saya tulis dalam postingan selanjutnya.

Bacaan terkait: UUITE Bukan Sekedar Pornografi

16 Komentar

Filed under televisi

KPK Tumpuan Harapan Baru

WahyuningratMas Wahyu, salah seorang kru acara MetroTV Todays Dialogue memberi informasi bahwa Todays Dialogue sekarang tampil dengan format baru. Saya penasaran format baru itu seperti apa. Tanggal 4 kemarin saya terlewatkan nonton karena ada kuliah. Kali ini sempat kebagian buntutnya ajah. Topiknya kali ini adalah: “Kasus Suap Jaksa BLBI“.

Rupanya format baru yang dimaksud adalah mengacu pada format yang dipakai pada saat Todays Dialogue edisi khusus akhir tahun dengan host Najwa Shihab yang topiknya “Meretas Jalan Reformasi“.

Meutia HafidzKali ini hostnya Meutia Hafidz. Waktu edisi khusus akhir tahun itu ada penonton, ada sesi pandangan dari tokoh yang duduk dibangku penonton kemudian ada sesi tanya jawab dari penonton yang kebanyakan dihadiri oleh mahasiswa. Improvement yang baik sekali melihat animo masyarakat pada Todays Dialogue edisi khusus akhir tahun kemarin.

Pada sesi pandangan dari tokoh yang duduk di bangku penonton salah satunya ada Abdul Malik, Sekjen Transparancy International Indonesia (TII) yang mengaku pernah dimarahin oleh salah satu nara sumber: Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR Gayus Lumbuun, karena TII membuat survey yang hasilnya menempatkan lembaga DPR sebagai lembaga terkorup tahun lalu.

Sempat juga ditayangkan cuplikan Todays Dialogue episode yang topiknya “Polisi dan DPR Lembaga Terkorup“. Dalam cuplikan itu ditayangkan ngototnya Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto waktu mendebat Todung Mulya Lubis.

Menarik uraian dari Denny Indrayana (Ketua Pukat Korupsi UGM) sebagai nara sumber yang mengatakan bahwa peringkat korupsi Lembaga Peradilan dari tahun ke tahun berdasarkan survey TII meningkat terus hingga sekarang jadi peringkat atas.

Menyusul tertangkapnya Jaksa Urip karena kasus suap, KPK yang diwakili oleh Haryono sebagai nara sumber mendapat banyak pujian. Tapi menurut Denny KPK juga berperan dalam naiknya peringkat korupsi peradilan karena KPK baru fokus pada kasus korupsi peradilan tahun ini sedangkan pada tahun tahun sebelum korupsi peradilan belum disentuh oleh KPK.

Rupanya KPK menjadi tumpuan penegakan hukum sekarang ini. Lembaga lembaga lain sepertinya tak bisa diharapkan lagi. Terbukti waktu Meutia memberi questionair sederhana dengan pertanyaan kepada penonton siapa yang masih optimis pada penegakan hukum di Indonesia. Terlihat yang angkat tangan hanya 20% saja.

Pada sesi tanya jawab salah seorang teman mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia melontarkan pertanyaan: “Apa usaha Kejaksaan Agung untuk memulihkan kepercayaan masyarakat atas penegakan hukum dan atas institusi Kejaksaan Agung sendiri”.

Narasumber BD Nainggolan sebagai Kapuspenkum Kejagung tidak menjawab substansi pertanyaan dan malah menjawab dengan hal hal lain yang tidak ada hubungannya, sampai akhirnya Meutia merasa perlu untuk memotong dan mengulang pertanyaannya, kemudian BD Nainggolan menjawab lagi tapi saya tetap tidak mengerti jawabannya 😦

Satu hal yang saya suka dari Todays Dialogue adalah adanya sesi tak resmi, sesi “berantem”. Kali ini ketika Denny Indrayana menekankan bahwa KPK sebagai lembaga yang menjadi tumpuan harapan penegakan hukum perlu fokus selain pada korupsi peradilan, perlu juga lebih fokus pada korupsi lembaga politik seperti DPR.

Sebagai orang DPR, Gayus masih kalem, tapi begitu Denny menyinggung soal KPK juga harus menyelidiki kebijakan pemerintah yang juga sarat dengan resiko korupsi seperti keputusan pemerintah pada masa Presiden Megawati tentang dana BLBI 600 triliun maka Gayus yang berasal dari partai PDI-P itu seperti naik pitam dan segera menyerang Denny dengan mengatakan di dunia pendidikan juga ada korupsi kok katanya sambil menunjuk Denny. Denny yang seorang akademisi cuma tersenyum simpul mendengarnya.

Kalaupun ada, gak sampe 600 triliun kalee, masa mau dibarter sih? Jadi karena sama sama ada korupsi lantas diam diam saja gituh? wah logika kolusi, sikap mental yang defensif.

KPK sudah mulai unjuk kinerja tapi jangan buru buru senang, masih banyak sekali yang perlu diusut oleh KPK dan apakah ketua KPK Antasari Azhar punya nyali untuk itu? Selain nyali tentu juga skill tentang bisnis proses dari praktek korupsi. Terkuatnya kasus suap Jaksa Urip mungkin juga karena Antasari sebagai mantan Jaksa Agung tahu betul seluk beluk praktik suap di Kejaksaan Agung.

KPK maju terus, berantas korupsi negeri, kita sudah muak dengan pencurian uang rakyat…

3 Komentar

Filed under televisi

Komentar Najwa Shihab

Foto dari metrotvnews.comKetika menonton Today’s Dialog di Metro TV edisi khusus awal tahun dengan tema “Meretas Jalan Reformasi” tak terpikirkan oleh saya untuk menulisnya. Saya hanya menikmati.

Baru terpikirkan untuk menulis ketika keesokan harinya. Perlu waktu empat hari untuk menyelesaikan tulisanya karena disamping beberapa kesibukan juga karena saya harus mengingat-ingat detil dialog dan alurnya.

Bahkan sempat diinterupsi oleh sebuah tulisan tentang peradilan Pak Harto karena saya lihat di TV Pak Harto masuk RSPP lagi. Juga disibukkan sedikit oleh seorang komentator yang mengaku alumni ITS tapi tak mau menunjukan identitasnya.

Akhirnya tanggal enam tulisan itu rampung juga dan saya posting. Dalam tulisan tersebut saya berusaha menampilkan berdasarkan ingatan saya. Mulai dari dialog Amien Rais, Wiranto, Jusuf Kalla dan tentu saja pemandu acara tersebut Najwa Shihab.

Terus terang agak sulit mengingat ingat kembali. Lain kali untuk menulis reportase memang harus ada persiapan minimal membawa catatan. Tapi yang paling baik memang adalah merekam dalam media kaset maupun digital.

Saya bukan jurnalis jadi tidak punya insting seperti itu. Saya hanya mengandalkan ingatan. Untuk esensi saya pasti ingat tapi alurnya kadang suka tertukar. Saya pikir tak apalah karena toh pembaca tidak disuguhi dengan data yang tidak benar tapi hanya alurnya yang tidak berurutan selama tidak mengubah esensi.

Dan juga saya pikir siapa yang bakal begitu teliti mengingat urutan dialog yang saking panjangnya itu harus ditayangkan dalam dua episode (tanggal 1 dan 2 Januari). Bahkan untuk penonton yang hadir di studio MetroTV sekalipun mungkin tidak terlalu hirau dengan urutan dialog.

Beberapa komentar mulai masuk dan terkesan tulisan saya sangat membantu bagi yang tidak menonton acara tersebut secara langsung. Saya merasa cukup senang dengan hal itu.

Tak pernah terbayangkan Najwa Shihab sendiri melakukan blogwalking dan menemukan Blog saya lalu berkomentar sampai muncul satu buah komentar:

Dear Mas Wibisono,
Terima kasih atas ulasan dan komentarnya. Lengkap dan sangat detail. Ada bbrp bagian dialog yang alurnya tertukar, tapi esensi talk show-nya tidak berubah kok. Again, really appreciated it…:) itu siaran terakhir saya sebelum cuti panjang setahun ini, jadi senang sekali bisa di-review dan diapresiasi oleh teman2.

salam,

najwa

Ini mirip dengan kejadian waktu Yusril Ihza Mahendra berkomentar di Blognya Julian Firdaus yang bikin heboh karena para Blogger menyangsikan keabsahannya. Kemudian rame rame membahas dan malah sampai kopdar untuk membuktikannya karena banyak yang penasaraan.

Untuk soal Najwa saya sama sekali tak meragukan keabsahaannya sejak awal. Kemudian saya analisa lagi komentarnya.

Kalau informasi tentang cuti panjang selama setahun mungkin sudah jadi informasi umum tapi yang membuat saya yakin adalah dia tahu alur dialog yang tertukar.

Sebagai host acara tersebut tentu tanpa dihafalpun sudah ingat dengan sendirinya semua detil dan alurnya. Ini mungkin akan sulit dilakukan oleh orang selain kru acara tersebut terutama Hostnya.

Belakangan saya cari di Google dan nemu di Wiki tentang keberangkatan Najwa ke Australia untuk menimba ilmu di bidang hukum media selama setahun. Najwa mendapat beasiswa (Full Scholarship) dari Australian Leadership Awards karena prestasinya dibidang jurnalistik.

Kemudian saya check lagi menggunakan alamat emailnya untuk mendapatkan account Friensternya. Ketemu. Tambah yakin lagi saya.

Well, selamat yah Najwa, penonton MetroTV khususnya program Today’s Dialog yang menjadi acara favorite banyak orang akan kehilangan sosok Najwa. Paling tidak selama studi.

Tentang siapa penggantinya tentu urusan manajemen MetroTV tapi semoga bisa sehebat Najwa. Bagi pembaca Blog ini yang punya kandidat mungkin bisa disebutkan.  Kemungkinan menurut saya Fifi Aleyda Yahya atau Meutia Hafidz.

Saya harap Najwa mau tetap minimal blogwalking dan maunya saya sih Najwa dan para jurnalis lainya punya Blog. Kalo presenter infotaintmen sih bisa punya account Friendster saja sudah bagus 🙂

Selamat menempuh studi Najwa.

16 Komentar

Filed under televisi, tokoh