Category Archives: teater

Teater Koma: Kenapa Leonardo?

Pak Martin (Budi Ros) terlihat duduk dengan pandangan kosong tak memperdulikan dua orang dokter disebelahnya yang sedang berdebat dengan sesekali mencoba berkomunikasi dengan Pak Martin.

Gambar dari Media Indonesia

Pak Martin adalah seorang pasien sebuah lembaga syaraf yang dipimpin oleh seorang Neurolog senior bernama Dr Hopman (Nano Riantiarno).

Tidak seperti pasien lain dalam lembaga syaraf tersebut yang lebih banyak menunjukan gejala neurologis seperti contohnya Pak Miring (Joko Yuwono) yang hanya bisa berdiri tegak ketika memakai kacamata yang diberi bandul di kiri kanan.

Pak Martin adalah pasien spesial karena gejala yang ditunjukannya lebih kepada gejala psikologis ketimbang neurologis. Amnesia total disertai hilangnya perasaan. Jika hanya amnesia maka dia masih bisa merasakan perasaan entah itu tersinggung, suka, benci dan bahkan cinta.

Tapi ini selain hilangnya perasaan juga disertai amnesia ditambah tingkah yang aneh tanpa kehilangan kecerdasan terutama kemampuan memori otaknya. Pak Martin bisa dengan mudah menghafal semua puisi Shakespeare yang hanya diperdengarkan sekali saja.

Suatu gejala yang sangat menarik bagi Dr Da Silva (Cornelia Agatha) seorang psikiater yang sedang mencari obyek penelitian untuk studi PhDnya.

Atas ijin Nyonya Martin (Ratna Riantiarno) Dr Da Silva kemudian menghabiskan banyak biaya untuk mendatangkan berbagai guru les privat untuk mengajari Pak Martin berbagai macam mata pelajaran yang bisa dengan mudah dikuasai oleh Pak Martin.

Walhasil Pak Martin bisa menguasai 29 bahasa asing dan berbagai macam konsep konsep keilmuan. Berbagai macam pertanyaan dari Dr Hopman dijawab dengan mudah oleh Pak Martin dan membuat Dr Da Silva sangat bangga. Tapi ada satu pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Pak Martin. Pertanyaan Dr Hopman itu adalah: “Bagaimana perasaan Pak Martin sekarang ini?”.

Pak Martin ternyata tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanya. Kemudian Dr Hopman mengubah pertanyaanya menjadi lebih mudah. Pertanyaannya adalah: “Pak Martin, 40 derajat celcius bagi Anda terasa dingin, panas atau hangat?”.

Pak Martin hanya menjawab 40 derajat celcius sama dengan 100 derajat farenheit. Dia ternyata tak bisa mengungkapkan perasaan yang sangat sederhana itu. Ini membuat Dr Da Silva sangat gusar dan berjanji kepada Dr Hopman sebagai kepala lembaga syaraf tersebut bahwa usaha yang dia lakukan tinggal sedikit lagi.

Jika berhasil maka seorang manusia baru dengan kemampuan yang sangat luar biasa seperti Leonardo Da Vinci akan tercipta. Dr Hopman menggeleng gelengkan kepalanya tanda tak sependapat dan menurutnya itu tak mungkin terjadi.

Mereka berdebat sengit dan perdebatan itu menurut dramawan senior Ikranagara mengarah kepada dialog filsafat Strukturalis vs Post-Strukturalis yang membahas “human subject, historicism’s progress“.

Kuncinya adalah bagaimana menyentuh sisi terdalam dari perasaan Pak Martin untuk bisa terjadi koherensi antara semua kemampuan otaknya yang cemerlang itu dengan perasaannya.

Berbagai macam keindahan diumpankan pada Pak Martin mulai dari puisi yang indah karya Shakespeare, musik klasik hingga berbagai jenis tari.

Dr Da Silva berpasangan dengan Pak Martin berdansa berbagai macam dansa seperti Tanggo, Rumba, dan Salsa. Pak Martin memang menjadi mahir berdansa tapi semua itu seperti tak mampu menggugah perasaanya.

Dr Da Silva menjadi sangat jengah dibuatnya tapi apa daya dana sudah menipis dan kelanjutan penelitiannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk menggalang dana akhirnya Dr Da Silva mencari jalan pintas dengan membuka informasi penelitiannya kepada media. Masyarakat menjadi gempar dengan headline lahirnya seorang Leonardo kedua.

Dr Robert yang memiliki dana berlimpah dari para politisi dan penguasa bersedia mendanai proyek Dr Da Silva tersebut dengan syarat menguasai sepenuhnya Pak Martin untuk diexploitasi.

Pak Martin kemudian diambil alih dan apa yang terjadi kemudian adalah Pak Martin tidak hanya diberi guru les privat tapi dilatih untuk menjadi seorang prajurit dengan kemampuan membunuh yang sangat efektif melebihi prajurit profesional yang paling hebat sekalipun.

Jelas sudah proyek Dr Robert tersebut bukan untuk menyembuhkan Pak Martin tapi untuk kepentingan lain yaitu militer. Padahal menurut Dr Da Silva penyembuhan Pak Martin tinggal selangkah lagi yaitu bagaimana membongkar belenggu kejiwaan yang telah menghalangi Pak martin untuk dapat menghayati perasaannya sebagai seorang manusia yang berhati nurani.

Mengetahui kenyataan ini Dr Da Silva sangat menyesal dan berlari kembali ke Dr Hopman yang sejak awal tidak menyetujui tindakan Dr Da Silva. Suatu aksi penyelamatan Pak Martin direncanakan oleh Dr Da Silva tapi Dr Hopman tidak mau ikut bergabung karena tidak setuju dengan metode yang dipilih oleh Dr Da Silva.

Metode yang dipilih oleh Dr Da Silva untuk menggugah sisi terdalam jiwa Pak Martin adalah dengan memberi stimulan pada naluri dasar manusia yang sangat melibatkan perasaan yaitu SEX.

Suatu adegan artistik yang menggambarkan sexual-healing Pak Martin oleh Dr Da Silva yang cantik dan seksi itu ditampilkan diatas panggung membuat penonton menahan nafas.

Lenguhan dan erangan menggema kemudian terjadi sesuatu, dalam nafas yang masih memburu Pak Martin terlihat menggeliat dan berubah ubah emosinya. Silih berganti perasaan datang dan pergi membuat Pak Martin tampil dalam banyak karakter seperti apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Sampai pada karakter pembunuh yang efektif Pak Martin menghabisi nyawa Dr Da Silva yang masih tanpa busana itu dengan tragis. Karakter pembunuh itu tak mau hilang bahkan menggila. Dengan keahlian membunuh luar biasa Pak Martin tak terbendung dan banyak korban tewas.

Dr Robert sebagai seorang ahli beladiri Kendo mencegat Pak Martin dengan samurainya. Terjadilah pertarungan dua orang samurai antara guru dan murid. Pak Martin memang memiliki kemampuan belajar teknik Kendo yang luar biasa hingga Dr Robert sebagai gurunya mampu dibunuhnya dengan tebasan samurai yang artistik.

Ketika berhadapan dengan Dr Hopman proses healing itu mencapai klimaks. Pak Martin sadar dan bertanya dimana dia dan mengenali Dr Hopman. Dr Hopman kemudian melakukan pengujian dengan berbagai macam pertanyaan yang sebelumnya tak bisa dijawab.

Pak Martin telah sembuh, amnesianya hilang dan dia kembali mengenali dirinya dengan semua cerita masa lalunya. Dr Hopman bahagia karena Pak Martin sembuh tapi sedih karena banyak korban tewas. Pak Martin adalah seorang pemilik toko makanan dan bukan seorang pembunuh lagi. Dia tak ingat semua kemampuannya yang diajarkan ketika dia masih amnesia.

Ketika pamit dan akan berjalan pulang tiba tiba Pak Martin mendengar sesuatu ditelingannya. Oh rupanya itu suara telephone dan bergegas mengangkat telephone. “Halo…”, katanya. Kemudian dia berkata lagi, “Oh Pak Presiden… jadi mau pesan makanan dari toko saya?.. tentu… boleh boleh…”. Melihat kejadian itu Dr Hopman hanya menggeleng sambil memegang keningnya yang tertunduk.

Ya benar… Pak Martin kumat, dia gila lagi…

Oleh perawat (Herlina S) kemudian Pak Martin digiring masuk kembali ke lembaga syaraf itu dan tetap menjadi penghuni setia dalam pengawasan Dr Hopman.

***

Menurut Bung Ikra drama ini mengusung filsafat Post-Modernism yang dibingkai dengan tragic-comedy. Menurut saya drama ini menghibur dan mencerahkan.

Budi Ros pemeran Pak MartinSaya sempat bertemu dengan Budi Ros (pemeran Pak Martin) dibelakang panggung usai pertunjukan dan Mas Budi menyampaikan bahwa penulis naskahnya Evald Flisar sendiri sempat ikut hadir pada sebuah diskusi tentang pementasan ini dan baru kembali tanggal 19 kemarin.

Salut untuk Budi Ros yang berakting sungguh gemilang malam itu. Setelah sekian lama Nano Riantiarno tampil hanya sebagai sutradara kali ini Nano sebagai aktor memerankan Dr Hopman dengan penuh karakter dari dalam.

Cornelia Agatha berfoto bersama fans dibelakang panggungWalaupun Cornelia Agatha memerankan Dr Da Silva dengan baik tapi saya penasaran bagaimana jika Dr Da Silva diperankan oleh Ratna Riantiarno. Tapi mungkin cast karakter dari Dr Da Silva adalah psikiater muda yang ambisius dan cantik (tentu saja Ratna Riantiarno juga cantik)

Drama ini sudah dipentaskan diberbagai negara termasuk kali ini di Indonesia. Dari berbagai pementasan itu Evald lebih menyukai dua pementasan diantara yang lainnya yaitu yang di London dan yang di Indonesia. “Suatu kebanggaan buat kita bangsa Indonesia”, ujar Mas Budi.

Malam ini tanggal 25 Januari adalah pementasan malam terakhir sejak tanggal 11 Januari di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Mulai jam 19:30 dengan harga tiket 30, 50, 75 dan 100 ribu rupiah. Rugi kalau anda melewatkan pertunjukkan drama teater kali ini.

Drama Teater ini dipentaskan oleh Teater Koma dalam rangka ulang tahunnya yang ke 31. Pementasan kali ini adalah pementasan yang ke 112.

“KENAPA LEONARDO?”
Karya EVALD FLISAR
Alih Bahasa RANGGA RIANTIARNO
Sutradara N. RIANTIARNO

Informasi pemesanan tiket:

  1. Jl. Cempaka Raya No. 15 Bintaro ? Jakarta Selatan 12330
    Telp 021 735 0460
    Telp/Fax 021 735 9540
  2. Jl. Setiabudi Barat No. 4 Jakarta Selatan
    Telp 021 525 1066
    Telp/Fax 522 4058 ; 529 63603
  3. Tiket Box Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki

Didukung oleh :
BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, SARI MADJID, DUDUNG HADI, OHAN ADIPUTRA, DORIAS PRIBADI, EKO PARTITUR, TUTI HARTATI,JOKO YUWONO, HENGKY GUNAWAN, ADRI PRASETYO, HERLINA SYARIFUDIN,YULIUS, RANGGA, YOGI, SENA SUKARYA, SUNTEA, INA KAKA, L.YOGA.

Skenografi ONNY K.
Cahaya ISKANDAR K. LOEDIN
Busana SAMUEL WATTIMENA
Rias & rambut SENA SUKARYA
Akustik TOTOM KODRAT
Grafis SAUT IRIANTO MANIK
Konsultan Gerak LINDA KARIM
Manajer Panggung TINTON PRIANGGORO
Pimpinan Produksi RATNA RIANTIARNO

***

Nano, Ikra dan BapakSaya menonton drama ini bersama ayah saya yang kebetulan seorang dokter yang pernah memimpin sebuah Rumah Sakit Jiwa, RSJ Bina Atma Denpasar. Ayah bercerita tentang bagaimana dulu ketika ia masih mahasiswa berkunjung ke RSUD Wangaya Denpasar Bali untuk ujian Neurologi yang di test oleh sesepuh Dokter Spesialis Saraf & Jiwa (Neuropsikiatri) Prof Dr Gusti Ngurah Gde Ngurah.

Menurut ayah dalam ilmu kedokteran Pak Martin menunjukan gejala Schizophrenia yang banyak ditemui di RS Wangaya. Ayah memahami ilmu neurologi dan psikiatri berkat bimbingan Prof Ngurah.

Telah ribuan dokter ahli syaraf yang dicetak oleh tangan dingin Prof Ngurah sebagai pendidik. Profil akademik Prof Ngurah mirip seperti Dr Hopman digabung sekaligus dengan Dr Da Silva. Prof Ngurah adalah seorang Neurolog dan juga sekaligus Psikiater, suatu expertise yang jarang dimiliki oleh seorang dokter apalagi sekarang ini.

Tidak heran Prof Ngurah pernah menjabat direktur RS Wangaya (1959-1968) dan bahkan dikemudian hari menjadi Rektor Univ Udayana. Rumah Sakit Wangaya adalah rumah sakit pertama di Denpasar. Hingga kini RS Wangaya telah berkembang dan menjadi rumah sakit yang maju.

Prof Ngurah tercatat sebagai ketua dan anggota Perhimpunan Neurologi Psikiatri Neuro Chirurgi Indonesia Cabang Bali, Ketua dan anggota Ikatan Dokter Ahli Saraf Indonesia Cabang Bali, sebagai Penasihat Pengurus Pusat IDASI, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Bali, anggota WFN (World Federation of Neurology).

Sebelum ke Bali, Prof Ngurah bekerja di Bagian Neurologi- Psikiatri FK UI Jakarta (1949-1952). Prof Dr Ngurah pernah menciptakan alat sederhana ECT (Electro Convulsive Therapy) untuk penyembuhan pasien gangguan jiwa (1966).

Alat tersebut kini tersimpan di Museum Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Atas jasa-jasanya tersebut, Universitas Udayana di bawah Rektor Prof. Dr. dr. W. Wita, Sp.PD. memberikan Udayana Award pada 29 September 2004 saat Dies Natalis ke-42 Unud.

Bagi saya yang anak seorang dokter memandang sekilas dunia kedokteran sepertinya membosankan dan tidak menarik. Tidak ada tantangan kreatifitas sebab semua harus sesuai textbook, kalau tidak sesuai textbook maka dokter bisa dituntut melakukan malpraktek. Karena itu saya tidak memilih studi kedokteran.

Tapi kalau kita melihat profil Prof Ngurah diatas maka dunia kedokteran sungguh suatu pekerjaan yang pernuh tantangan berkreatifitas hingga sampai pada tingkat filsafat seperti yang ditunjukan oleh drama teater “Kenapa Leonardo?”.

Hmm.. Saya jadi tertarik punya istri dokter.. eh.. bukan maksud saya.. mempelajari dunia kedokteran. Tapi tetap saya memilih untuk tidak jadi dokter sebab saya yang suka ngoprek ini kalau jadi dokter Neurolog dan Psikiater maka kemungkinan besar saya akan seperti Dr Da Silva, bahkan lebih parah seperti Dr Frankenstein.

Tuhan telah memilihkan saya yang terbaik, jadi programer saja 🙂

12 Komentar

Filed under teater

Seputar FTI Award 2007

ChatterboxSMS tentang event ini saya terima dari manajemen Teater Mandiri ketika sedang makan siang bersama bung Ikranegara di Cafe Chatterbox Sogo Plaza Senayan. Keesokan harinya dari kantor saya harus pulang dulu ngurus rekening PLN sebelum libur panjang 4 hari.

Begitu sampai di gedung Teater Studio TIM terlihat kerumunan kru yang sibuk mempersiapkan pembukaan acara. Saya datang terlalu awal rupanya. Tapi itu memberikan kesempatan saya melihat lihat persiapan kru.

Brosur belum boleh diambil sebelum acara dibuka. Ada dua counter penerimaan lengkap dengan buku tamu, brosur masing masing dan mbak mbak yang jaga. Satu counter khusus untuk PERS dengan brosur khusus (dilengkapi buku “Putu Wijaya, Magma Teater Indonesia”) sedangkan counter satu lagi untuk umum brosur tanpa buku.

Saya menginginkan buku itu tapi saya bukan dari kalangan PERS, apa daya? Saya lihat setiap wartawan yang antri di bagian PERS selalu ditanya dari media mana. Si wartawan menjawab lalu dipersilahkan mengambil buku dan brosur setelah mengisi buku tamu.

Saya antri saja dibagian PERS lalu ketika ditanya saya bilang saja dari Blogger. Si mbaknya mengernyitkan dahinya sebentar lalu manggut manggut. Entah tanda mengerti atau bingung, mungkin dia pikir ini media baru jadi belum dia kenal. Untung dia gak tanya kartu nama wartawan. Kemudian saya dipersilahkan. Selameeetttt…

Dalam hati saya bilang, saya gak bohong kok, lha wong Blog juga termasuk media, jadi saya berhak dapat buku itu, sama seperti wartawan media lainnya. Saya gak nipu lho mbak 🙂

Sekar-Alex-RiaSetelah acara makan makan selesai kemudian host acara itu yang bernama Sekar Harum membuka acara bersama Ria Irawan dan Alex Komang. Ternyata Sekar Harum ini sangat berbakat salah menyebut nama dan sebutan.

Kemungkinan dia bukan dari kalangan teater. Nyebut nama Radhar Panca Dahana jadi Radhar Panca Buana. Ebiet G Ade jadi Ebit Gedit. Mas Garin jadi Bapak Garin. Semua yang hadir kontan meralat sebutan yang salah itu.

Gedung Teater StudioAcara pemotongan tumpeng sukses, kemudian dilanjutkan dengan kedatangan sang penerima FTI Award Putu Wijaya dengan arak arakan teatrikal langsung masuk ke gedung teater. Acara pembukaan di Lobypun selesai kemudian para tamu semua ikut masuk ke gedung yang akustiknya sangat bagus itu.

Acara dimulai. Sambutan demi sambutan dilakukan. Pertama tama sambutan dari ketua FTI Radhar Panca Dahana, seperti biasa dosen pasca sarjana UI ini memberi sambutan yang lugas.

Slamet RahardjoKemudian duet Didi Petet dan Slamet Rahardjo. Didi PetetSambutannya dalam bentuk dialog. Slamet memberi gambaran tentang teater dengan gaya metafor yang dramatis. Didi Petet maunya juga begitu tapi ngaku kalah kharisma yang diikuti derai tawa penonton.

Kemudian tampil Danarto yang merupakan salah satu juri penilai peraih FTI Award. Dikemukakan alasan alasan dan pertimbangan yang digunakan sebagai dasar penentuan peraih FTI Award dijatuhkan pada Putu Wijaya. Putu dipandang sebagai sosok pekerja teater yang memberi pengaruh pada perjalanan teater Indonesia.

Dalam pandangan saya Putu merupakan sosok pemberontak yang tak pernah mau tunduk pada suatu pakem bila pakem tersebut membatasi proses perkembangan berteater.

Rata rata teater mengikuti pakem aliran aliran mainstream sehingga orang orang mengira bahwa teater hanya boleh ditampilkan seperti aliran yang mainstream saja.

Sayangnya di Indonesia aliran yang menentang arus sering dipandang aneh, bahkan dijauhi. Tidak hanya berlaku bagi teater Mandiri. Teater Seinendan yang dikonsep oleh Oriza Hirata dari Jepang ketika salah satu karyanya “Tokyo Notes” dipentaskan di Goethe Institute Jakarta juga mengalami hal yang serupa. Tak diminati karena dianggap aneh.

Padahal teater Mandiri dan Seinendan ketika dipentaskan di Eropa sangat menarik perhatian dan mendapat apresiasi yang tinggi. Bagi masyarakat Eropa dapat menikmati suatu bentuk teater yang lain sangatlah menggairahkan.

Tak heran FTI memasukan salah satu misinya adalah memperjuangkan secara kolektif tegaknya hak ekspresi dan hak kultural para pekerja teater. Penganugrahkan FTI Award kali ini kepada Putu Wijaya menjadi langkah yang strategis.

Dengan demikian teater Indonesia memiliki sebuah icon teater yang non-mainstream untuk bisa dijadikan inspirasi generasi muda sebagai mudigah genre baru teater Indonesia.

Teater Putu Wijaya tak pernah bisa di definisikan dengan akurat dan konsisten dari waktu ke waktu. Berubah terus. Sejak pementasan JMI (Jangan Menangis Indonesia) banyak perubahan yang cukup mendasar dengan memberi lebih banyak porsi untuk verbal.

Pada pementasan pementasan berikutnya unsur verbal ini semakin kental tanpa kehilangan ciri visualnya. Dalam sebuah pementasan saya memberi kesan kesan kepada Putu tentang pementasan itu. Begitu bersemangatnya saya memberi komentar hingga tampak seperti kritikan.

Semula saya mengira sebuah penjelasan yang fokus pada pementasan itu tapi ternyata jawabannya mencakup konsep keseluruhan. Lebih baik anda baca sendiri jawaban beliau.

Wibi,

Komentarmu betul semuanya. Tapi apa yang terjadi pada latihan, berubah pada gladiresik, berubah lagi pada saat pementasan dan kembali berubah pada hari kedua. Terus tumbuh, kadang menjadi lebih baik, kadang lebih buruk. Kami sangat memulyakan proses, sehingga tak merasa sungkan untuk merespons dan memanfaatkan apa yang sedang kejadian.

Pada malam gladiresik, kami tampil buruk sekali. Di malam pertama dengan kehadiran penonton hampir memenuhi gedung, pertunjukan bagus. Di tengah-tengah pementasan kami laporkan skor pertandingan World Cup yang sedang berlangsung.

Pada hari kedua, saya sudah beli bola, sebab mau main bola sebentar di panggung dan mempersilakan pemain yang mau ikut di bagian kontak dengan penonton. Tetapi rencana gagal, karena penonton tipis, trak bisa di drive ke sana, atau katakanlah saya tak mau mengambil resiko itu.

Kembali kepada dialog buat saya lebih banyak karena para pemain memang rindu sekali ngomong. Juga penonton di Indonesia tak suka teater itu bisu. Di sampung juga saya tidak pernah membenci kata. Ada misteri lain di dalam kata yang bisa kita telusuri. Hanya saja pemain-pemain saya kurang siap, karena kata-kata yang mau saya lontarkan agak berbeda.

Tapi begitulah. Karena pemain-pemain bukan aktor dan teater bagi saya bukan hanya pertunjukan tetapi pelajaran kehidupan, bukan hanya sukses yang diburu tetapi juga pembelajaran yang kami dapat setelah 40 kali pertemuan dan memikul sebuah proyek tsb.

Musik memang masih lemah, karena mereka orang musik beneran, belum ngeh betul saya memerlukan bunyi bukan musik. Namun saya anggap mereka cukup cepat belajar. Yang lain-lain yang pernah saya coba, egonya terlalu besar sehingga bunyi yang saya cari tak pernah tersua, yang ada adalah melodi.

Bapakmu kemaren nelpon dan memberi komentar yang bagus sekali yang tak pernah dikatakan orang lain. Dia bilang tontonan (itu istilah saya untuk penampilan kami) adalah tontonan verbal yang sangat visual. Bukan karena visualisasinya, tetapi di dalam verbalisme kata-kata itu terasa sesuatu yang sangat visual.

Teater memang menarik sekali Wibi. Seperti opium yang membuat kita ekstase.

Trims komentarmu, akan saya simpan, karena jujur dan spontan.

PW

***

Sutrisno BachirTiba saatnya puncak acara penyerahan FTI Award 2007. Putu dipanggil ke atas panggung dan setelah memberi sambutan singkat tanpa diduga muncul ketua DPP PAN Sutrisno Bachir untuk menyerahkan topi dan tropi kepada Putu Wijaya.

Kemudian W.S Rendra sebagai sesepuh teater dan penerima FTI Award 2006 diberi kehormataan naik keatas panggung untuk memberi piagam. Menarik sekali menyimak sambutan yang diberikan oleh Rendra.

Satu hal yang membuat Rendra menyampaikan rasa hormatnya pada Putu adalah karena Putu seorang pekerja keras yang tak pernah mengklaim apapun atas hasil karya maupun dampak dari hasil karyanya pada bangsa ini.

RendraKira kira dua tahun yang lalu saya sempat bertemu Rendra dirumahnya di Depok untuk sebuah wawancara skripsi seorang rekan. Pada kesempatan itu Rendra juga mengatakan hal yang sama. Rendra kurang suka pada pekerja teater yang baru berkarya sekali saja sudah berkoar koar tentang teater lebih heboh dari karyanya sendiri.

Lebih jauh lagi yang dikagumi Rendra pada Putu Wijaya adalah enersinya dalam menulis. Rendra memperagakan bagaimana Putu bisa mengulang tulisan baru dari awal karena kurang puas pada tulisannya sendiri yang sudah ditulisnya panjang lebar.

Tulis dari awal dengan penuh antusias bagi Putu tak memberatkan sama sekali sementara bagi penulis muda kebanyakan kalau sudah panjang menulis tapi tidak puas enggan untuk mengulang dan hanya perbaiki sana dan sini.

Kini kesan tentang Putu dari Rendra itu semakin kuat dan bahkan mendapat pengukuhan dari FTI. Sebuah penghargaan yang sangat membesarkan hati Putu dan keluarga besar Teater Mandiri dan bahkan para pekerja teater pada umumnya.

Radhar Panca DahanaTapi penghargaan tanpa hadiah kurang klop rasanya. Bakrie Award yang pernah diraih Putu memberi hadiah sejumlah uang. Saya bertanya tanya bagaimana dengan Award yang ini. Ketua FTI Radhar Panca Dahana tampil ke atas panggung dengan membawa stereofoam berbentuk cek raksasa.

Nah ini dia pikir saya. Tapi ketika diperlihatkan ternyata angkanya kosong. What is the maksud? Oh ternyata ini adalah sesi penggalangan dana untuk hadiah. Radhar kemudian melambai lambaikan cek tersebut dan memprovokasi hadirin untuk menyumbang.

Karena sudah sekian lama tak ada yang mau mengangkat tangan tanda mau menyumbang maka mulai terdengar teriakan teriakan penonton menyebut nama nama orang yang diminta untuk menyumbang (tak perlu saya sebut nama nama itu).

Wah wajah mereka yang disebut sebut itu menjadi pucat pasi. Bahkan ada yang menundukkan kepala entah karena apa. Tapi kemudian tiba tiba Slamet Rahardjo mengangkat tangannya.

Nah ini kali penyumbang pertama pikir saya. Kemudian Slamet berkata, “Saya menganut asas perwakilan, karena itu untuk masalah ini saya wakilkan pada bung Sutrisno Bachir”, sambil menunjuk Sutrisno Bachir diatas panggung.

Kemudian Sutrisno terhenyak dan bertanya, “Lho ini serius toh?”. Rupanya Sutrisno tidak menyadari kalau penggalangan dana tersebut adalah serius sebab Radhar membawakannya dengan cara sedikit guyon mengundang tawa.

Sekarang sudah jelas ini serius dan saya mengira paling paling orang akan menyumbang sekitar satu dua jutalah kemudian yang nyumbang juga gak banyak.

Tapi kemudian Sutrisno Bachir menjawab. “Ok kalau begitu dari saya 50 juta”. Wow… saya terkejut dan bertepuk tangan dengan semangat, luar biasa pikir saya.

Kemudian ruang Teater Studio menjadi riuh sekali karena penyumbang silih berganti mulai dari beberapa teman dekat Putu yang menyumbang 10 juta dan 5 juta kemudian dari Pemda DKI yang diwakili oleh Aurora sebesar 10 juta juga.

Sungguhpun demikian kalau saya melihat wajah pucat pasi orang orang yang di “todong” penonton untuk menyumbang maka saya merasakan ini agak kurang pantas. IkranegaraMenurut bung Ikra, di Barat tak begini cara melakukan penggalangan dana. Entahlah kalau disini tapi kalau mau bertumpu pada rasa, kok rasanya kurang pantas.

Tapi mungkin juga ini adalah strategi FTI untuk bisa menggalang dana sebab penyumbang dana semua bukan orang teater dan apa yang terjadi kemudian adalah bisa diduga. Putu Wijaya kemudian maju mendekati Radhar, mengambil mic dan berkata:

Terus terang saya merasa agak kurang enak dengan hal ini, kok rasanya seperti pemerasan. Karena itu hadiah ini akan saya serahkan pada FTI.

Pernyataan Putu tersebut kemudian mendapat tepuk tangan riuh penonton dan mengelu elukan Putu Wijaya.

Jadi itu adalah strategi? Sebab kalau “menjual” FTI mungkin akan sulit bagi FTI untuk mendapat dana tapi kalau “menjual” Putu Wijaya lihat sendiri hasilnya.

Kalau itu memang strategi maka sah sah saja karena sudah sama sama tahu (kecuali penyumbang dan penonton) tapi kalau itu bukan strategi dan memang begitu adanya maka mungkin perlu dicari cara lain sebab menurut hemat saya kesannya persis seperti yang dikatakan Putu.

***

Putu WijayaUsai acara penganugerahan dan penggalangan dana kemudian masuk ke sesi performance. Putu kemudian tampil pertama membawakan monolog dari naskah cerpen berjudul “Dokter” yang dibawakan dengan gaya khasnya dan memukau seluruh hadirin malam itu.

Monolog yang dibawakan mengisahkan tentang seorang dokter yang ditugaskan di daerah terpencil tapi kemudian bukan problem kesehatanlah yang paling utama untuk dipecahkan tapi justru persoalan sosial dan budaya.

Bayangkan dokter yang harus menghidupkan orang mati hanya karena si orang mati adalah kepala suku yang merupakan kehormatan suku tersebut. Berikut kutipan monolog:

Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu.

Bapak orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!

Ilmu kedokteran yang dipelajari dokter di masa kuliah tak mampu menyelesaikan masalah itu tapi yang mampu memberi penyelesaian adalah nasihat orang tua dokter yang terngiang ngiang di telinganya ketika nyawanya diancam oleh anak kepala suku yang nekat mendesak dokter menghidupkan kembali mayat sang kepala suku.

Sebuah nasihat yang mengatakan bahwa pahlawan tak akan pernah mati. Jasad boleh mati tapi tidak semangatnya. Nilai yang diwariskanya tak akan pernah mati. Dengan sebuah aksi yang dramatis anak kepala suku menerima konsep itu dan mengubah pandangannya dengan melihat ayahnya mati sebagai pahlawan.

Sejak saat itu dokter percaya ilmu di bangku kuliah bukan apa apa tanpa kasih sayang yang sempat ia rasakan dari orang tuanya. Sekarang negeri ini sedang membutuhkan kasih sayang dalam bentuk nilai nilai budaya.

Bangku kuliah hanya mengasah otak tapi seni dan budaya mengasah nurani yang sudah sangat tumpul di negeri ini. Teater adalah salah satu kawah candradimuka untuk mengasah kepekaan nurani.

Aksi monolog Putu yang dibawakannya tanpa teks ditangan itu memukau penonton dan berkali kali bertepuk tangan. Usai monolog penampil berikutnya adalah Aning Katamsi dan Tommy Awuy. Aning menyanyi dan Tommy bermain piano.

Usai Aning kemudian ketika Tommy hendak turun dari panggung Tommy melihat Slamet Rahardjo yang duduk dideretan terdepan. Tommy kemudian menawarkan Slamet untuk menyanyi diatas panggung. Sebuah penampilan yang spontan dan suara bariton Slamet Rahardjo ternyata lumayan memukau.

Tiba saatnya penampilan dari Butet Kertaredjasa. Setelah penampilan monolog Putu yang dramatis, nyanyian Aning dan Slamet yang serius maka monolog Butet ini penampilan yang menyegarkan.

Butet KertaredjasaButet mengaku hadir jauh jauh dari Jogja dengan biaya sendiri dan untung uang hadiahnya oleh Putu sudah di serahkan ke FTI sebab kalau tidak maka dia akan minta ganti candanya… semua penontonpun tertawa.

Butet sebelum mulai monolog sempat cerita tentang hal ihwal dirinya bisa tampil diatas pentas teater seperti sekarang ini. Adalah almarhum ayahnya penata tari terkemuka Bagong Kusudiardjo yang pada waktu itu Butet masih duduk dibangku SMP dan melihat ayahnya melukis potret Putu Wijaya sang dramawan.

Butet bertanya pada ayahnya, “Siapa itu pak?”, ayahnya menjelaskan obyek lukisannya itu adalah dramawan hebat Putu Wijaya. Butet manggut manggut sambil memikirkan seperti apa sih dunia drama dan teater itu. Itulah pertama kali ia mengenal sosok Putu Wijaya dan teater.

Kemudian tokoh kedua yang memperkenalkan dirinya pada teater adalah Rendra. Di tempat latihan teater Rendra oleh senior seniornya Butet disuruh jalan dengan gaya teatrikal sepanjang panggung selama setengah jam.

Butet bingung ini maksudnya apa dan dalam hati Butet misuh, “Asu…”, kemudian buru buru dia menambahkan, “bathin…” (red: misuh hanya dalam hati maksudnya). Kemudian butet pernah disuruh makan ditengah tengah kotoran binatang yang berbau busuk. Apa sih maksudnya semua itu, pikirnya dalam hati.

Sekarang dia baru bisa menghayati apa yang dimaksud. Saya tak bisa pura pura mengerti karena saya memang tak pernah mengalami hal itu. Hanya orang orang teater yang tahu maknanya. Anda mau jadi orang teater?

Seno Gumira AjidarmaKemudian Butet membawaan monolog karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Menunggu Kematian Paman Gober“. Karya itu sungguh luar biasa melampaui jamannya. Dulu ketika karya ini dibuat tahun 1994 orang hanya bisa memahami bahwa ini hanya metafora tentang penguasa saat itu yang mungkin ada berbagai macam versi metafora semacam itu yang pernah dibuat oleh penyair yang lain.

Tapi untuk karya yang satu ini saya kira sebuah mahakarya seorang Seno Gumira. Situasi yang dihadapi oleh Paman Gober dimainkan begitu rupa sehingga sangat relevan dengan situasi yang terjadi saat ini.

Berikut kutipannya:

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati? Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Yang banyak kita lihat karya metafora semacam ini tahun tahun itu adalah umunnya tentang wacana lengsernya penguasa saat itu yang memang telah berkuasa sangat lama. Tapi Seno tidak hanya mengangkat wacana lengsernya, tapi juga kematiannya.

Bagaimana mungkin Seno menulis sesuatu yang menggambarkan situasi yang sangat spesifik saat ini dari kejauhan 14 tahun yang lalu. Tapi itu belum selesai. Kalau kita hanya membaca mungkin kita bisa tersenyum, tapi lain hal bila menyaksikan karya itu dibawakan oleh seorang raja monolog Butet Kertaredjasa yang mempersonifikasikan suara Gober Bebek persis dengan suara tokoh yang sangat dia kuasai itu. Wah rugi deh kalo gak nonton sebab monolog itu tak mungkin ditayangkan di TV dalam situasi seperti ini.

Usai monolog yang sangat menyegarkan itu tampil kemudian Ebiet G Ade yang membawakan tiga lagu. Mulanya hanya dua lagu tapi diakhir lagu ke dua kemudian penonton kompak berteriak meminta lagu tambahan, Camelia. Lagu Camelia versi yang pertama dinyanyikan sambil diikuti semua penonton.

Usai acara ditutup oleh Sekar Harum dan Alex Komang. Diloby gedung ucapan selamat buat Putu Wijaya bertubi tubi dilakukan oleh para tamu yang hadir. Terlihat kesibukan para wartawan memburu berita dan wawancara.

Terlihat juga para penonton yang memburu para tokoh teater yang juga sineas papan atas untuk sekedar minta foto atau tanda tangan.

Sambutan oleh Garin sebelum masuk ke gedungSebuah hajatan besar pekerja teater telah dituntaskan malam itu. Kegembiraan yang meluap seakan dirasakan oleh tiap insan teater yang hadir. Kehidupan dunia teater penuh dinamika sedih dan gembira. Tak terkecuali malam itu yang penuh akan kegembiraan tapi juga diwarnai kesedihan.

Seorang sahabat saya anggota tetap Teater Mandiri yang menjadi salah satu kru acara malam itu mendapat berita tentang meninggalnya ayahandanya tercinta dikampung halaman. Sahabatku yang berduka itu bernama Kleng. Sebagai anggota teater Mandiri, Kleng mendapat ucapan selamat sekaligus ucapan duka cita.

Peran apa yang mesti dia mainkan malam itu? Haruskah Kleng tersenyum ketika ucapan selamat dan bermuram ketika ucapan duka cita diberikan secara silih berganti? Tak bisa saya gambarkan, saya tak tahu rasanya bagaimana. Tapi Kleng tampil tegar malam itu, seperti itulah dunia teater.

Gembira dan bangga ketika melihat kampiun teater seperti Putu Wijaya mendapat penghargaan tapi juga sedih melihat generasi muda belum ada yang muncul sebagai pengganti babakan baru teater Indonesia. Yang tua akan segera berlalu tapi yang muda belum juga siap muncul. Semoga FTI bisa membidani kelahiran dramawan muda Indonesia.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Federasi Teater Indonesia

Radhar Panca DahanaPada malam penganugerahan FTI Award 2007 (Federasi Teater Indonesia) kepada Putu Wijaya yang berlangsung kemarin 9 Januari di Teater Studio Taman Ismail Marzuki, Ketua FTI Radhar Panca Dahana tampil diatas panggung memberi sambutan. Dalam sambutannya Radhar memaparkan pentingnya kolektivitas dalam melakukan pergerakan.

FTI lahir pada 27 Desember 2004 bersama 250 pekerja teater setelah berada dalam rahim sejak tahun 2000 dalam kegelisahan bersama akibat posisi teater Indonesia yang inferior ketika berhadapan dengan lembaga lain diluar teater.

FTI adalah lembaga yang didesign untuk dapat memberdayakan teater Indonesia dari sisi non-artistik yang pada gilirannya akan berdampak pada kualitas produksi teater itu sendiri.

Pemberdayaan teater melalui lembaga semacam FTI dirasa sangat penting dan strategis melihat indikasi rendahnya apresiasi publik pada teater, lemahnya posisi teater dalam relasi politik-ekonomi-sosial, kecilnya akses pada berbagai fasilitas sosial-ekonomi-politik, daya juang hidup teater yang masih individual dan kurangnya kolektivitas sebagai unsur penting dalam kemajuan teater.

Mungkin atas dasar ini para tokoh yang hadir di malam itu tidak hanya tokoh teater seperti WS Rendra, Didi Petet, Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, Deddy Mizwar, Jajang C Noer, Rachman Arge, Ikranagara, Ria Irawan, Remy Silado, Butet Kertaredjasa atau Alex Komang, tapi juga hadir tokoh dari “planet” lain seperti Sutrisno Bachir (ketua PAN), Faisal Basri (Ekonom), Ebiet G Ade (Musisi), Muji Sutrisno (Rohaniawan) dan Ibu Aurora (Pemda DKI).

Untuk mengukur bagaimana tingkat pengetahuan, apresiasi dan harapan publik saat ini atas teater, FTI telah melakukan survey dari 500 orang responden dengan komposisi wanita(33,3%), pria(66,7%) dari latar belakang mahasiswa(28%), pelajar(20%), wiraswata(16%), karyawan(15%), guru(9%), tidak berkerja(7%), PNS(4%) dan ibu rumah tangga(1%).

Hasil dari survey tersebut mengungkap bahwa 95,6% dari responden mengenal teater dan sisanya tidak mengenal, 74,4% pernah menonton teater dan sisanya belum pernah, 43% menonton pertunjukkan teater di TIM (Taman Ismail Marzuki), 4,4% menonton di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), sisanya 52,3% menonton di tempat lain.

Kemudian seberapa sering responden menonton teater; 1,6% persen menjawab 1 kali seminggu, 8,9% 1 kali sebulan, sisanya 89,5 diatas satu bulan. Dari pertanyaan siapa tokoh teater yang mereka kenali jawabannya adalah: WS Rendra (50%), Putu Wijaya (25,6%), N Riantiarno (8,9%) lainnya (15,5%).

Yang menarik adalah 57,8% responden menjawab teater sudah berkembang di Indonesia padahal dibentuknya FTI justru karena perkembangan teater di Indonesia dirasakan mengalami stagnasi. Jadi pengetahuan masyarakat umum tentang posisi teater masih kurang. Ini karena konsepsi yang salah tentang teater.

Terbukti dari harapan para responden pada teater, 50% hanya berharap teater sebagai sebuah hiburan yang mencerahkan padahal teater bisa berperan jauh lebih dari itu. Bahkan 16% menjawab yang diharapkan dari teater hanya pertunjukan yang menghibur. Hanya 24% yang menjawab teater diharapkan bisa mengangkat derajat dan wibawa bangsa.

Pada sambutan Slamet Rahardjo dan Didi Petet diatas panggung yang disampaikan dalam dialog mereka berdua, bahwa teater adalah personifikasi kehidupan dimana imaginasi dimainkan. Tanpa imaginasi tak ada itu teknologi, jalan tol, gedung bertingkat, komputer, handphone dan segala macam hasil kebudayaan manusia.

Angka angka diatas bisa dijadikan salah satu tolok ukur kemajuan kinerja FTI. Semoga survey tahun depan bisa memberikan angka angka yang lebih menggembirakan asalkan FTI bisa bekerja dengan baik pada tahun 2008 ini.

FTI menjadi strategis bila misi yang dilakukannya berhasil, diantaranya memperjuangkan hak ekspresi dan hak kultural para pekerja teater, menyokong penciptaan, penerbitan dan penyebarluasan karya seni pertunjukan teater. Kegiatan yang digelar dalam rangka mencapai misi itu diantaranya Bulan Teater, Sayembara Naskah Drama, FTI Award dan refleksi tahunan FTI.

Selain kegiatan strategis juga ada program rutin seperti sosialisasi, penggalangan dana, kursus pelatihan manajemen dan pelatihan guru teatral bersama Depdiknas.

Menjadi anggota FTI bagi kelompok teater atau pekerja teater akan mendapat manfaat berupa dukungan manajerial dengan mengupayakan semua kebutuhan non-artistik berupa prasarana dan infrastruktur pertunjukan.

FTI akan menggunakan jaringan internal (komunitas teater dalam negeri) dan eksternal (komunitas teater mancanegara) sepenuhnya untuk mencapai misi yang ingin diraihnya.

Dengan selesai diselenggarakannya FTI Award 2007 yang menempatkan Putu Wijaya sebagai peraih FTI Award tahun 2007 maka satu misi strategis telah berhasil dijalankan dan semoga tahun tahun kedepan teater Indonesia lebih berjaya.

Bagi kelompok teater yang ingin bergabung berikut persyaratannya:

  1. Kelompok atau grup yang telah berdiri minimal 3 (tiga) tahun
  2. Telah membuat produksi pertunjukkan sekurang kurangnya 3 (tiga) kali atau 1 (satu) kali dalam setahun
  3. Memiliki anggota tetap minimal 10 (sepuluh) orang
  4. Memiliki komitmen dan idealiasme, serta motivasi tinggi untuk belajar
  5. Mengembangkan seni pertunjukkan

Formulir pendaftaran bisa didapatkan dengan mengisi formulir pendaftaran dengan menghubungi nomor telephone 021 9827 5912, lalu mengirimkannya ke alamat sekretariat FTI JL Kebagusan Dalam 59, Jagakarsa, Jakarta Selatan atau kirim email ke ftindonesia [at] yahoo.com atau faks ke 021 7471 2992.

23 Komentar

Filed under teater

Art Summit Indonesia V 2007

Gagal menghadiri Adeging Praja Mangkunegaran saya lumayan terhibur bisa menghadiri “ART SUMMIT INDONESIA V, 2007: INTERNATIONAL FESTIVAL ON CONTEMPORARY ARTS” yang diikuti oleh berbagai seniman kelas dunia diantaranya dari Jerman, Mesir, Selandia Baru, Korea dll. Dari Indonesia diwakili oleh Made Sidia (Wayang Listrik) dan Butet Kertaredjasa (Monolog Sarimin).

PanggungKebetulan saya berkesempatan menonton Monolog Sarimin oleh Butet Kertaredjasa. Monolog ini membawa pesan tentang hukum. Untuk memainkan segala problematika masyarakat yang bergesekan dengan hukum tokoh tokoh dalam cerita yang ditulis oleh Agus Noor ini menampilkan peran tokoh Sarimin, Polisi, Hakim Agung dan Pengacara.

Sarimin adalah wong cilik dengan profesi tukang topeng monyet keliling (ada gak sih topeng monyet mangkal?). Jadi nama Sarimin sebenarnya adalah nama si monyet piaraannya itu tapi kemudian dia lebih dikenal sebagai Sarimin ketimbang nama aslinya yang menurut pengakuannya adalah Pradjoto (pengamat perbankan yang kebetulan menjadi nara sumber dan ikut menonton, penonton lantas gerrr).

Kisahnya dimulai dengan Sarimin nemu sebuah KTP ditengah jalan. Karena tidak bisa membaca Sarimin kemudian memutuskan untuk menyerahkan KTP tesebut kepada Polisi untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Ternyata pemilik KTP tersebut adalah Hakim Agung. Disinilah dimulai konflik yang menggambarkan berbagai fenomena anomali hukum yang terjadi dimasyarakat hingga jargon pementasan ini adalah “karena benar, maka kamu salah“.

Butet KertaredjasaButet sebagai aktor dalam memerankan tokoh Sarimin, Polisi dan Pengacara berhasil memunculkan karakter masing masing sehingga terasa ada banyak Butet di panggung. Tapi munculnya karakter tokoh belum jaminan pertunjukan menjadi hidup.

Dalam menghidupkan monolog Sarimin ini Butet menggunakan keahliannya dalam melakukan eksplorasi musik dan tari. Untuk hal ini Butet dibantu oleh Djaduk Ferianto dalam efek suara dan musik.

Kolaborasi seni peran, musik dan tari terasa satu jiwa dalam pertunjukan monolog ini. Ketika Butet memerankan Polisi yang digambarkan mirip sosok Buto dalam pewayangan jawa terasa seperti operet.

Sedangkan sebelumnya tokoh Sarimin dimainkan dengan gaya celetukan yang khas, kritik dalam bentuk sindiran satire bertebaran dimana mana, dan disampaikan dalam situasi yang komedi. Penonton tak habis habisnya tertawa, termasuk saya. Salah satunya adalah filsafat tentang munyuk (monyet) yang punya kitab bernama Kitab Jambul Tangkur Munyuk.

Sarimin berkata: “Si munyuk itu sukanya makan pisang. Pohon pisang adalah pohon yang kecil tapi bermanfaat. Tidak seperti pohon beringin yang besar, sulurnya menjurai dimana mana, akarnya merambat luas ke berbagai penjuru membuat pohon yang lain mati”.

Lantas Djaduk menimpali dari tempatnya duduk dengan “tapi beringin lumayan buat berteduh gembel”.

Sarimin kemudian menjawab: “oh bukan cuma gembel yang berteduh di beringin mas, tapi juga buat berteduh kroco, lonte, keple, cecunguk…”, penontonpun jadi gerrr.

Masih banyak lagi sindiran bergaya satire yang dibawakan oleh Butet dengan caranya yang khas kocak mengocok perut. Tapi itu tidak bertahan lama. Begitu masuk ke sesi Polisi keadaan menjadi lebih serius. Suara tawa penonton mulai agak jarang. Saya melihat Butet mencoba lebih mendramatisasi adegan yang sayang tampaknya agak kurang berhasil.

Peralihan dari Sarimin ke Polisi memang cukup mulus tapi entahlah apakah karena naskahnya yang kurang persiapan dalam menggiring emosi penonton atau karena Butet yang kurang prima dalam menghidupkan suasana dramatis.

Satu satunya adegan yang lumayan dramatis adalah ketika Polisi mengangkat tangan dan berkata “Atas nama hukum anda kami tahan”, padahal sebelumnya sudah terjadi negosiasi yang gagal karena Sarimin tidak punya uang sepeserpun untuk diberi kepada Polisi.

Saya pikir Butet mampu tampil untuk nuansa apapun dalam peran. Soalnya saya pernah lihat penampilan Butet yang bagus sekali di pementasan Jangan Menangis Indonesia (JMI) bersama Putu Wijaya.

Dalam JMI Butet memerankan beberapa tokoh diantaranya Bung Karno dan PSK. PSK diperankan dengan kocak dan seperti biasa berhasil dengan baik. Dalam memerankan Bung Karno yang serius Butet tampil luar biasa. Saya seperti melihat Bung Karno.

Belakang panggungDengan aktor yang sama bisa tampil berbeda tentu ada penyebabnya. Saya kira penyebabnya mungkin dalam naskah dan sekaligus skenarionya.

Kekuatan paling besar dalam monolog Sarimin menurut hemat saya adalah kolaborasi musikal dan gerak tari teatrikalnya yang tidak meninggal ciri seni tradisional jogjanya.

Selamat untuk Mas Butet saya beri dibelakang panggung. Rencananya saya ingin wawacara sedikit tapi melihat sudah banyak wartawan yang mengerubungi maka saya putuskan untuk berfoto saja.

4 Komentar

Filed under budaya, teater

Cipoa

Hari sabtu tanggal 23 juni pementasan teater Mandiri yang berjudul Cipoa di TIM berlangsung sukses. Sejak pementasan Jangan Menangis Indonesia teater Mandiri punya konsep baru yang membuatnya menjadi berbeda dari pementasan sebelumnya. Pementasan selanjutnya memberi ruang lebih banyak pada dialog tanpa membunuh sisi visual teater Mandiri yang sudah mendarah mendaging.

Teror mental Putu Wijaya yang bila pada pementasan visual ditampilkan dengan wujud abstrak dan suara yang menggelegar dan bila pada monolog disajikan dengan penjungkirbalikan norma yang berlaku di masyarakat. Tapi pada pementasan Cipoa ini, teror itu dikemas dalam dialog komedi satire tentang hal hal yang sedang melanda masyarakat dan negara kita sekarang ini.

Pementasan Cipoa ini kalau saya lihat terdiri dari praktis 2 babak, babak pertama dibuka dengan semacam monolog Putu Wijaya yang berperan sebagai tokoh pewayangan Semar yang memberi restu pada para raksasa yang menyamar sebagai manusia untuk dapat kembali mengunakan jati dirinya sebagai rakasa guna memakan daging manusia. Isi monolognya seperti memberi pengantar tentang apa yang akan terjadi di babak selanjutnya. Babak selanjutnya dikemas dalam drama komedi satire yang mengambil setting di sebuah pertambangan.

Cerita yang diusung tentang sebuah eksplorasi pertambangan untuk mencari harta karun memberikan kemungkinan dimasukkannya peran peran yang bisa mewakili berbagai macam elemen di masyarakat seperti penguasa (peran Juragan, diperankan oleh Putu Wijaya sendiri), birokrat (peran anak buah Juragan, diperankan oleh Alung dan Kribo), kaum wanita (peran para istri, diperankan oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Fien Herman), rakyat jelata (peran para pekerja tambang, diperankan oleh Ucok,Kardi,Kleng,Bei,Dyas,Agung dkk) dan investor asing (peran Meneer Belanda, diperankan oleh Arswendy Nasution).

Dengan komposisi peran seperti itu dan format komedi satire yang sudah dikuasai dengan sangat baik oleh teater Mandiri membuat pementasan benar benar bisa mendramatisasi berbagai macam persoalan bangsa.

Sebagai contoh ketika adegan Juragan menekan anak buahnya yang lugu untuk mau menjadi corong penguasa dan menipu rakyat terasa sangat membumi karena kita bisa dapati pada kehidupan sehari hari. Saya teringat sebuah dialog di TV swasta dimana tampil seorang juru bicara Presiden RI membela mati matian keputusan pemerintah tentang dukungan Indonesia terhadap resolusi PBB tentang nuklir Iran.

Kemudian ketika adegan harta karun berupa bongkahan emas yang dijual oleh Juragan ke Meneer Belanda dengan harga bongkahan batu saja. Saya teringat bagaimana BUMN BUMN kita dijual dengan harga obral ke investor asing melalui restu IMF, teringat bagaimana kayu gelondongan kita dicuri oleh rakyat kita sendiri untuk dijual ke Malaysia, teringat bagaimana hak pengelolaan berbagai lahan tambang dan pengeboran minyak kita jatuh ke tangan asing.

Semua itu digambarkan penuh dengan aksi tipu menipu untuk kepentingan sendiri yang di justifikasi dengan semboyan bohong itu benar untuk kebaikan. Tentunya kebaikan yang menipu. Adegan tipu menipu ini mengundang tawa penonton tiada henti hingga akhir pementasan.

Para pemain kali ini bermain dengan sangat baik. Sebagai catatan setiap celetukan Rieke Dyah Pitaloka selalu saja dapat diasosiasikan dengan kritikan atas kondisi masyarakat sekarang. Kemudian Kardi yang memerankan rakyat jelata yang lugu tapi skeptis ini sangat lihai menghidupkan suasana kocak. Kemudian Yanto Kribo berperan sebagai birokrat yang masih memiliki nilai moral kejujuran digambarkan sering mendapat sial dan malu, celananya sering dibikin melorot hingga hanya tampak celana dalamnya yang dekil itu membuat penonton tertawa terpingkal pingkal.

Walhasil di akhir pementasan semua menjadi sadar bahwa bohong dan tipu menipu itu hanya akan membawa sengsara dan memberi keuntungan pada pihak asing saja. Butet Kertaradjasa muncul di penutup pementasan sebagai pemanis dengan gaya Pak Harto membawakan pidato yang isinya tidak penting.

Yah.. itulah teater yang bisa dibikin happy ending atas skenario sutradaranya. Pementasan teater sudah berakhir tapi masalah yang dihadapi bangsa ini belum lagi mau berakhir. Malah makin menggila. Banyak pihak dan cara yang dilakukan anak bangsa untuk mengingatkan penguasa akan bahaya cipoa atau tipu menipu atau korupsi atau apapun yang merugikan bangsa ini.

Ada yang tajam seperti Kwik Kian Gie yang menghitung ada 28 miliar US dolar (atau sekitar 280 trilyun Rupiah) uang negara hilang akibat korupsi tiap tahunnya yang membuat banyak orang kaget dan prihatin. Ada yang blak blakan seperti Amien Rais dengan pengakuan kasus DKP yang membuat berbagai pihak beringsut memasang kuda kuda. Tapi Putu Wijaya dengan teater Mandirinya menyampaikan peringatan itu dengan cara yang sangat halus sehingga bila sang koruptor ikut menontonpun akan masih bisa tertawa karena memang sudah tidak punya hati nurani lagi.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Samuel Beckett

Sebuah monolog rasanya hampir sama saja, seorang seniman berdiri di depan microphone sambil ngomong sendiri, kadang sang seniman mengubah nada suaranya untuk memerankan tokoh lain dalam cerita monolognya. Tapi sering juga tidak ada ceritanya hanya mengekspresikan penggalan emosi.

Daya tarik monolog bisa datang dari berbagai faktor, seniman yang handal akan bisa menampilkan monolog yang sangat menarik walaupun naskahnya tidak menarik. Sebagai contoh Butet Kertarajasa ketika membawakan monolog Pak Harto atau Habibie. Orang senang melihat tiruan Pak Harto tanpa harus menyimak apa yang dimonologkan. Monolog Pak Harto itu tidak akan menarik lagi jika dibawakan oleh orang yang tidak punya kemampuan meniru gerak gerik Pak Harto dalam berbicara dan Butet sangat piawai dalam masalah ini.

Tapi ada juga monolog yang menarik untuk disimak apa yang disampaikan secara verbal. Contohnya monolog yang dibawakan oleh Taufik Ismail. Tidaklah mungkin menikmati monolog Taufik Ismail tanpa menyimak isi naskahnya. Adalah kepiawaian sang seniman dalam membawakan naskah itu yang membuat monolog menjadi lebih hidup. Coba kita bayangkan bagaimana jika kita tukar naskah Butet dibawakan Taufik dan naskah Taufik dibawakan Butet, saya tidak perlu mengomentarinya.

Tapi yang jelas akan lebih sulit untuk membawakan monolog yang naskahnya dibuat oleh orang lain. Dituntut kemampuan seni peran yang tinggi untuk bisa menghidupkan sebuah monolog, apalagi jika monolog tersebut adalah karya yang sudah dikenal luas dari seniman termasyur seperti Samuel Beckett misalnya.

Kebetulan sebuah karya Samuel Beckett dipentaskan di TUK (Teater Utan Kayu) dan saya ingin lihat apakah seniman kita mampu membawakan karya seniman kaliber dunia itu. Saya sengaja tidak membaca sinopsis apapun tentang karya ini untuk bisa lebih merasakan bagaimana sang seniman membawakan perannya tanpa dibantu persepsi awal dari sinopsis.
Pertunjukan akan segera dimulai, lampu telah dipadamkan penonton hening menunggu kemunculan sang aktor. Kemudian lampu sorot kecil menyala semakin terang dan terlihat sosok seseorang sedang duduk didepan sebuah meja kerja. Semakin lama semakin terang hingga terlihat sosok seorang tua renta berumur 70an, pak tua itu terlihat tidak terurus, rambut acak acakan pakaian lusuh janggut dan kumis berantakan.

Duduk tenang dengan wajahnya menyiratkan kelelahan dan pikiran yang kosong menerawang, untuk orang setua dia tak mungkinlah dia memikirkan masa depan, masa lalu adalah hal yang paling sering menjadi pikiran para orang tua setua dia. Sejurus kemudian dia terlihat mengalami kesulitan untuk berjalan, makan pisang dan sempat terpeleset jatuh akibat kulit pisang yang ia buang sendiri secara sembarangan.

Hidupnya terasa sulit dan tak menyenangkan, dia duduk termenung memikirkan sesuatu hingga mimik wajahnya berubah dan terlihat gerakan tubuhnya yang gelisah. Rupanya ia teringat sesuatu dan kemudian bangkit melakukan gerakan yang gesit. Apa kiranya yang membuat ia menjadi begitu bersemangat melakukannya.

Rupanya ia mengeluarkan sesuatu dari dalam gudangnya berupa buku katalog dan satu set tape recorder usang lengkap dengan pita rekamanya. Mungkin pak tua ini dulu bekerja sebagai wartawan atau penyiar radio. Ada banyak koleksi pita rekaman yang ia punya, sibuk mencari pita rekaman membuat nafasnya yang pendek itu terengah-engah.

Penasaran apa sih yang ada di dalam pita rekaman tersebut, semula saya kira isinya lagu tapi ternyata itu rekaman suaranya sendiri yang ia rekam 30 tahun yang lalu. Lalu kejadian penting apa yang ia ingin dengar dari rekaman suaranya itu.

Terlihat dengan jelas betapa orang tua itu sangat dikendalikan oleh emosinya, tiap tiap rekaman suara tertentu didalam pita rekaman itu memicu tawa, tangis dan amarah. Ada satu rekaman yang ia ulang berkali-kali, rekaman itu berisi kesaksian erotis masa lalunya. Saya jadi bergidik, akankah saya seperti orang tua itu nanti dikemudian hari, sungguh menyedihkan, menonton monolog ini membuat saya merenung introspeksi diri tentang kehidupan saya saat ini dan yang akan datang.

Ditengah lamunan dan renungan tanpa saya sadari pertunjukan sudah usai, lampu terang benderang dan sosok orang tua renta yang emosional tadi berdiri tegak dan tersenyum lalu sosok orang tua tadi berubah menghilang menjadi seorang seniman yang saya kenal, Putu Wijaya. Rupanya Putu Wijaya yang memerankan tokoh orang tua tadi.

Wartawan senior Gunawan Muhamad berkomentar “Saya bahagia dengan pertunjukan ini, Putu mengingatkan bahwa seni peran belum mati disini. Tak boleh mati, para penonton yang berjubel itu tahu”. Bagi saya monolog kali ini tidak sekedar hiburan tapi sebuah renungan.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Seinendan: Tokyo Notes

Pada tanggal 7 Juli kemarin di Goethe Institute Jakarta digelar sebuah pementasan teater Seinendan dari Jepang berjudul “Tokyo Notes” yang naskah dan skenarionya ditulis oleh Sang pendirinya yaitu Oriza Hirata.Teater papan atas Jepang ini punya pengaruh kuat pada perkembangan teater kontemporer di Jepang sejak berdirinya tahun 1983 hingga sekarang.

“Tokyo Notes” adalah karya Oriza yang meraih penghargaan ‘the 39th Kishida Kunio Drama Award’ di tahun 1995, sebuah penghargaan paling bergengsi untuk penulisan naskah teater. Saya beruntung mendapat kesempatan untuk menonton pementasan tersebut.Dengan predikat yang sedahsyat itu, saya sangat ingin tahu apa sih yang disuguhkan dalam “Tokyo Notes”. Dari sinopsis yang saya baca “Tokyo Notes” mengisahkan berbagai orang yang datang mengunjungi sebuah museum seni kecil di Tokyo tahun 2014.

Dengan seting panggung yang sederhana dan terang benderang pertunjukan dimulai.Semula saya pikir lampu akan meredup begitu pertunjukan dimulai tapi ternyata tidak, sebelum saya sadar bahwa pertunjukan sudah dimulai ada beberapa orang Jepang yang mondar mandir diatas panggung sambil melihat melihat seting panggung.Saya pikir itu kru tapi ternyata itu para aktor yang sudah berakting.Sepanjang pertunjukan saya menantikan adegan adegan teatrikal yang biasa saya lihat di pementasan teater, entah itu teater realisme, kontemporer atau aliran teater apapun itu. Tapi sampai hampir frustasi saya menunggu tidak ada semua itu, yang ada hanyalah orang berdialog.

Sepintas mirip aliran teater realis tapi banyak aspek teater realis yang tidak bisa saya temukan dipementasan itu, tidak seperti pementasan teater realis yang lain yang masih menampilkan ekspresi teatrikal, tapi ini hampir tidak ada. Semula saya hampir bingung, kenapa banyak aspek teater diabaikan, bloking pemain tidak diperhatikan (ada pemain yang berdialog membelakangi penonton), dialog tidak jelas dan tumpang tindih (ada yang berbisik dan tertawa secara bersamaan), tidak ada sound, lighting dan yang lebih menyedihkan lagi miskin ekspresi. Sekilas mirip talk show, tapi talk showpun masih ada topik dan bahkan ada cerita, tapi “Tokyo Notes” ini tidak memiliki jalan cerita.

Saya mulai takut apakah hanya saya seorang yang mengalami kesulitan memahami pementasan ini. Kemudian saya perhatikan penonton lain yang ternyata banyak yang tertidur, kalaupun tidak tertidur posisi duduknya sudah melorot seperti kehilangan antusias. Dalam sinopsis dikatakan bahwa teater Seinendan ini adalah teater kontemporer genre baru yang mengusung teori “contemporarry colloquial theatre” (teater kontemporer dengan bahasa sehari hari).

Penasaran, kemudian saya mencoba mencari perbandingan dengan teater kontemporer Indonesia yang sekelas atau paling tidak memiliki reputasi International seperti teater Seinendan ini. Satu satunya teater di Indonesia yang menurut saya memiliki spesifikasi diatas adalah teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya. Teater Mandiri bagi saya tidak asing lagi karena sudah lama saya kenal dan merupakan teater kontemporer juga sama seperti teater Seinendan, walaupun bagi kebanyakan penonton Indonesia teater Mandiri sulit untuk dipahami.

Penonton Indonesia juga memiliki kesulitan memahami teater Seinendan tapi teater Seinendan dan teater Mandiri ketika dipentaskan ditingkat International mendapat apresiasi yang luar biasa. Timbul pertanyaan apa sebenarnya konsep yang dianut oleh kedua teater ini, sungguh sangat menarik kalau dilihat dari sisi konsep. Pemahaman tentang teater Mandiri membantu saya memahami konsep teater Seinendan. Ada sebuah dialog dipementasan itu yang menggambarkan tentang konsep, berikut dialognya “Kenapa manusia suka melihat lukisan? Bukankah melihat obyek aslinya lebih indah di banding obyek yang dipindahkan ke kanvas sebagai lukisan?”.

Saya merenungkan apa jawabannya… Kemudian menemukan sesuatu dalam pikiran saya.Pikiran manusia bekerja dengan simbol-simbol dan bukan dengan obyek real.Ketika manusia melihat obyek yang merepresentasikan simbol maka obyek itu akan diperlakukan terbalik untuk mencari bentuk obyek realnya.Dalam proses pencarian itulah otak manusia bisa mencerna keindahan.Misalnya ketika melihat sebuah obyek gambar wajah maka otak manusia akan mengenali bagian bagian gambar yang ia kenali sebagai bagian dari obyek real wajah seperti mata, hidung, bibir dst.

Hal yang sama juga terjadi pada teater, teater Mandiri sangat intens memainkan simbol simbol sehingga memberi tugas pada otak penonton untuk mencari bentuk realnya.Sebaliknya pada teater Seinendan yang ditampilkan adalah obyek realnya.Pertanyaan pada dialog diatas seolah olah ingin “menggugat” orang orang yang suka menonton teater yang banyak bermain simbol. Kenapa mesti menonton simbol kalau bisa menikmati yang realnya, bukankah yang real lebih indah… Mungkin itu yang ingin disampaikan Oriza Hirata dalam konsep teaternya.

Lepas dari itu konsepnya menarik sekali, seolah olah teater Seinendan itu adalah bentuk klise dari teater Mandiri. Kalau foto kita punya bentuk positif sebagai hasil foto dan ada negatif sebagai klisenya. Yang satu bermain simbol simbol abstrak dan yang satu lagi bermain realis, bahkan mungkin ultra realis. Masih penasaran dengan konsep kedua teater ini saya meminta pendapat dari Putu Wijaya pendiri teater Mandiri dan mengutip Senda Akihiko dalam “Half a Century of Japanese Theatre”.

Menurut Senda, Oriza bergerak melawan arus untuk memperoleh sebuah rasa teatrikal realisme baik dalam pementasan maupun penyutradaraan. Oriza mencoba untuk memperolehnya secara utuh melalui penampilan yang melampaui (penampilan teater sebelumnya) dengan apa yang disebutnya sebagai realisme. Menurut Senda lagi, pengungkapan emosi sangat dihindarkan dan apa yang terkadang dilihat oleh orang asing sebagai kebiasaan orang Jepang tidak ekspresif, merupakan hal yang termasuk dalam metode akting realistik yang teliti. Semua itu akhirnya melahirkan suatu bentuk teater seperti Seinendan ini yang dijuliki sebagai “teater tenang”.

Sangat berbeda dengan Putu Wijaya yang dalam penyutradaraanya mengarahkan pemainnya untuk melipatgandakan ekspresi sebagai metode akting visual yang sangat kuat dan hingar bingar. Menurut Putu, di belakang setiap fenomena teater, bukan hanya bentuk-bentuk tetapi juga filsafat. Surealisme, modernisme, post modernisme, anarkhisme, eksistensialisme, absurdisme, fatalisme, terorisme, dadaisme, nihilisme dan sebagainya mendorong kelahiran bentuk-bentuk teater tertentu. Bedanya, di Barat mulai dengan konsep/filsafat dan merupakan reaksi dari keadaan sebelumnya, kita di Timur mengalir merupakan kelanjutan dan terselip campur-aduk dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Putu lagi, ketika dunia merapat, banyak orang Timur berpikir secara Barat dan sebaliknya orang Barat mempergunakan kebijakan Timur. Beda Mandiri dengan Seinendan menurut Putu, Hirata berpikir seperti orang Barat, lalu menontonkan ketimurannya (hal yang sama dilakukan oleh Kurosawa dalam film) dan Mandiri memaksakan bertolak dari Timur untuk menerobos dominasi Barat (di dalam film Jepang dilakukan oleh sutradara Osu).

Karena itu tidak heran teater Mandiri memainkan simbol-simbol abstrak yang merupakan ciri khas ketimuran dan teater Seinendan menggunakan landasan filsafat realisme sebagai konsep teaternya yang merupakan ciri khas cara berpikir barat. Apapun itu, dua-duanya memiliki kalibrasi International dan kita khalayak teater Indonesia selayaknya perlu meningkatkan apresiasi terhadap seni teater demi kemajuan Indonesia.

5 Komentar

Filed under teater