Category Archives: sosial

Jakarta Lawyer’s Club: Penegakan Hukum Terhadap Aksi Kekerasan

Jakarta Lawyer’s Club minggu lalu membahas soal Penegakan Hukum Terhadap Aksi Kekerasan, terjadi beda pendapat:

Imam Prasodjo: segregasi sosial menyebabkan konflik mudah tersulut diperparah dengan penegak hukum yang lemah, kunci utama adalah menekan segregasi sosial disusul penegakan hukum

Karni Ilyas: tak masalah ada segregasi sosial selama hukum ditegakkan maka tak akan ada yang berani berkonflik, dengan contoh di Kanada kunci utamanya adalah penegakan hukum.

Erlangga Masdiana: tak masalah segregasi sosial asalkan terjadi dialog antara kelompok dan hukum ditegakkan.

Menanggapi Karni, pikiran Karni ini terlalu idealis, menurut saya dengan kondisi penegak hukum seperti sekarang maka masyarakat yang tersegregasi secara sosial akan memperberat kerja mereka. Solusinya tekan segregasi sosial sambil berbarengan dengan perbaikan penegakan hukum.

Menanggapi Erlangga, pembaruan sosial sudah built-in dialog didalamnya, membina dialog pada masyarakat yang tersegrasi secara sosial tidak efektif karena butuh effort terpisah, tidak alamiah.

Kerja penegak hukum akan jauh lebih mudah pada masyarakat yang membaur, konflik akan bisa diredam karena dialog alamiah bisa tercipta dari perkenalan antara elemen kelompok lain dalam satu lingkungan.

Menurut Imam Prasodjo pembauran bisa dirancang sedemikian rupa dalam bentuk kebijakan pemerintah, misalnya pada perumahan, tempat ibadah, tempat kerja, sekolah, kampus, pasar, penamaan, dan banyak lagi yang selama ini belum diatur.

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan komentar

Filed under sosial, televisi

Koin Keadilan

Perkembangan kasus Prita Mulyasari memicu solidaritas masyarakat secara spontan. Solidaritas dalam bentuk pengumpulan uang receh yang disimbolisasikan dengan “koin keadilan”. Posko (pos koin) penampungan koin muncul dimana mana hampir di seluruh Indonesia. Ganti rugi yang ditetapkan oleh pengadilan yang mencapai jumlah 204 juta rupiah menjadi target konkret pengumpulan, sementara target wacana adalah simbolisasi perlawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan yang menindas.

Adanya dua target ini sering kali memicu perbedaan cara pandang, terutama dari orang orang yang memiliki pola pikir yang berbeda. Perbedaan ini sering dikumandangkan di social media seperti Twitter, blog ataupun Facebook. Semula ini hal yang tidak terlalu mengganggu, dinamika yang sangat lumrah di arena social media.

meeting di wetiga

Namun rupanya pengaruh social media ini sudah lebih kuat dari apa yang saya kira. Cara pandang yang berbeda ini mengalami penguatan disana sini hingga ke media mainstream. Malam itu (7 Des) di Wetiga kami sedang meeting bersama beberapa blogger lain diantaranya Ndoro Kakung, Enda Nasution, Paman Tyo, Ndaru dan hadir juga praktisi hukum Ari Juliano. Pada kesempatan meeting itu hadir beberapa wartawan dari berbagai media mainstream.

Kebetulan saya sempat diwawancara wartawan RCTI untuk Seputar Indonesia (Dady Suryadi) perihal layanan website Paypal yang diprovide oleh CyberGL untuk berpartisipasi dalam memenuhi target konkret ganti rugi 204 juta.

wartawan RCTI

Semula saya mempersiapkan diri untuk berbagai pertanyaan yang sifatnya teknis tentang payment gateway Paypal.com yang kami gunakan. Tapi agak sedikit diluar dugaan pertanyaan juga menyinggung soal perbedaan cara pandang diatas. Sejak dari mewawancara Ndoro Kakung banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul seputar: kenapa Prita didukung habis habisan? kenapa koin? harus koinkah? kalau melebihi target bagaimana? bagaimana kalau tuntutan batal? Pertanyaan pertanyaan tersebut persis seperti apa yang beredar di social media.

Kalau kita bisa memandang hal ini dari dua persepsi tentang target diatas maka mungkin tidak perlu ada perdebatan seperti ini. Bagaimana saya melihat gerakan Koin Keadilan ini bisa saya tuliskan disini dan semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan yang krusial.

Pertama tama tentang perbedaan antara target wacana dan target konkret. Ketika kita ingin mewujudkan sesuatu yang konkret maka biasanya dimulai dari wacana. Ketika kita sudah terlatih untuk mewujudkan wacana menjadi hal yang konkret maka wacana seperti tidak terasa, seperti orang bernafas, kita tak sadar bahwa kita sudah bernafas setiap saat yang membuat kita hidup dan mampu berbuat hal hal yang konkret.

Tapi ketika berwacana saja kita “tersengal-sengal” maka hal konkret apa yang bisa kita wujudkan? Untuk melancarkan berwacana dalam kondisi yang “tersengal-sengal” sering kali dibutuhkan “alat” bantu berupa “simbol”. Jaman dahulu wacana tentang keadilan disimbolkan dengan “Ratu Adil”.

Ratu dalam bahasa Jawa artinya Raja. Tempat tinggal Raja disebut ke-Ratu-an (keraton). Simbol “Ratu Adil” artinya penguasa yang adil. Tapi apakah penguasa yang adil tersebut konkretnya berupa Raja? ternyata tidak. Inilah bedanya. Simbol digunakan untuk berwacana sedangkan konkretnya tidak secara harfiah diterjemahkan sesuai textnya.

Pemilihan simbol diambil dari pola pikir masyarakatnya. Jaman dahulu simbol kekuasaan adalah Raja. Maka munculah konsep “Ratu Adil”. Konsep ini bukan untuk melanggengkan sistem kerajaan, tapi justru ingin keluar dari segala macam bentuk ketidakadilan dengan meminjam pola pikir masyarakatnya. Jadi simbol bisa muncul sedemikian rupa hingga bisa mengecoh akal sehat dari orang yang memiliki pola pikir yang berbeda.

Bila terjadi “miskonsepsi” bisa berakibat pada wacana yang hanya tinggal wacana dan tidak kunjung menjadi hal yang konkret. Kita tentu tak ingin terjebak pada situasi seperti ini. Banyak hal yang merefleksikan hal ini sekarang. Seperti misalnya hal tentang nasionalisme, tentang pelestarian budaya, tentang solidaritas dan berbagai hal yang terasa lebih banyak wacananya ketimbang hal konkretnya.

Mengkonkretkan wacana memang bukan hal yang mudah. Butuh latihan dan konsistensi dalam wacana itu sendiri. Bahkan pada tingkat negara ada legislatif yang berwacana (membuat undang undang) dan ada eksekutif yang mengkonkretkannya (menjalankan undang undang) dimana dalam prosesnya perlu pengawasan dan evaluasi.

Jika proses “pengkonkretisasian” itu dirasa tidak berhasil maka rakyat akan mencari jalannya sendiri. Contoh ekstrem dalam sejarah adalah reformasi sebagai wacana tahun 1998 dimana rakyat bersatu “mengkonkretkan” keadilan politik di negeri ini, walaupun wacana reformasi belum tuntas hingga kini.

Apa yang terjadi pada kasus Prita adalah gejala yang sama. Koin muncul sebagai simbol perlawanan rakyat kecil pada kekuasaan yang menindas. Tapi secara konkret tentu tidak harus harfiah berupa “koin”. Ada tujuan konkret dimana angkanya adalah 204 juta rupiah. Sedangkan tujuan wacana adalah perlawanan atas ketidakadilan dimana simbol keberhasilannya adalah pembebasan Prita dari segala tuntutan hukum.

Kalau kita bisa melihat dari dua sisi ini maka tak perlu bingung ketika misalnya terjadi penarikan tuntutan oleh RS OMNI atas Prita. Sebab apa yang terjadi adalah keberhasilan wacana perlawanan terhadap ketidakadilan dimana koin sebagai simbol telah berfungsi dengan sangat baik sebagai “alat” dari wacana perlawanan tersebut. Simbol koin berhasil menggerakan hati masyarakat dari berbagai lapisan untuk berbuat konkret mengumpulkan rupiah demi mendukung wacana perlawanan atas ketidakadilan.

Sedangkan hasil konkret bernilai ratusan jutaan rupiah (dalam bentuk koin maupun uang kertas) tidak akan kehilangan makna karena wacananya adalah melawan ketidakadilan dan bukan membantu Prita secara pribadi tapi membantu Prita yang dalam hal ini telah menjelma menjadi simbol.

Jadi bila ada yang mempertanyakan kenapa Prita didukung habis habisan karena Prita telah menjelma menjadi simbol. Lalu kenapa Prita bisa muncul sebagai simbol dan kenapa nenek Minah atau korban Lapindo kurang berhasil berfungsi sebagai simbol?

Simbol perlu diartikulasikan. Jaman perang kemerdekaan pidato para orator menjadi media artikulasi simbol simbol perlawanan. Kini kita berada pada era informasi. Lebih tepatnya era social media. Dimana media mainstream tidak bisa lagi seperti dulu menjadi satu satunya rujukan informasi bagi publik.

Era social media mengubah sama sekali bagaimana kita mendapatkan informasi secara lebih cepat, lebih transparan dan lebih akurat. Dengan karakteristik seperti itu tidak heran informasi pertama kepada publik tentang bom Kuningan ditemukan di Twitter. Bahkan CNN kalah cepat dengan Twitter dalam memberitakan konflik pemilu di Iran.

Berbagai wacana perlawanan atas ketidakadilan ditemukan di Facebook seperti misalnya dukungan kepada Bibit-Chandra yang menembus angka satu juta pendukung. Media mainstream memantau social media untuk tidak jarang dikutip dan dijadikan berita pada medianya.

Ketika kasus Prita, terjadi kehebohan di social media melebihi kehebohan kasus manapun sebelumnya yang disusul dengan pemberitaan di media mainstream. Kedua media ini saling menguatkan, ketika media mainstream memberitakan perkembangan kasusnya maka di social media ramai membahasnya. Sebaliknya media mainstream juga memantau perkembangan pendukung Prita di social media.

Kenapa kasus Prita lebih menarik perhatian komunitas online adalah karena kasusnya berkenaan dengan aktifitas yang dilakukan oleh komunitas online sehari hari, yaitu email. Komunitas online merasa terancam dengan apa yang terjadi pada Prita bisa terjadi pula pada mereka. Inilah sebab pembahasan Prita di social media lebih intens dibanding kasus yang lain. Prita menjadi simbol perlawanan mereka.

Lalu apa yang akan terjadi pada kasus kasus ketidakadilan yang lain? Akankah kasus lain mendapat perhatian yang sama seperti kasus Prita? Keberhasilan target wacana akan menjadi preseden baik dan melatih bagaimana mengkonkretkan rasa solidaritas.

Hasil konkret rupiah yang berhasil terkumpul dari berbagai lapisan dan berbagai bentuk (koin, uang kertas, check dan paypal) telah mencapai 500 juta lebih. Ini akan menguatkan rasa percaya diri masyarakat bahwa kita bisa mengubah wacana menjadi hal yang konkret. Walau beberapa sumbangan dalam jumlah besar baru muncul setelah gerakan koin terlihat lebih konkret.

Skeptisisme yang pernah muncul sebelumnya tentang berbagai gerakan berbasis solidaritas atau nasionalisme seperti gerakan #IndonesiaUnite akan terkikis dan semakin mengarah pada kemampuan melakukan gerakan yang menghasilkan sesuatu yang lebih konkret. Semua gerakan itu akan menjadi ajang latihan konkretisasi wacana yang merupakan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat yang lebih berdaya adalah jawaban dari apa yang dituntut pada ketidakadilan ditengah masyarakat kita dan bangsa kita. Maju terus Indonesia.

8 Komentar

Filed under sosial

Reportase Pesta Blogger 2008

Parkiran BPPT masih lengang waktu saya tiba dengan bergegas karena takut nanti Fenny teman dari Bali Blogger Community datang lebih dulu dan menunggu saya di gerbang.

Seorang yang wajahnya familiar parkir di sebelah saya. Saya jabat tangannya dan kebetulan saya juga ingin konfirmasi ketidak-hadiran beliau untuk acara penjurian lomba Speedy Blogging Competition di Senayan esok harinya (minggu 24 nov).

Beliau confirm tak bisa hadir karena bentrok dengan acara seminar di UI Depok. Rencananya saya, Mas Budi dan Mas Enda akan menjadi juri lomba blog yang diadakan oleh Telkom Speedy. Jalan sampai di depan gerbang, beliau disambut banyak orang.

Semula saya mengira blogger tahun ini benar benar sudah menghargai penampilan begitu melihat banyak orang berjas rapi ala anggota dewan wara wiri. Tapi rupanya mereka bukan blogger, gak jelas sampai sekarang gak ada yang tahu rombongan berjas itu orang ngapain sebenernya. Mereka seperti laron, datang dan pergi begitu saja.

SMS jawaban dari Fenny bilang kalo dia masih dijalan dari Bandung ke Jakarta. Oke lah saya tunggu karena kami adalah perwakilan dari BBC yang tidak terlalu banyak yang hadir. Lagipula ticket masuk saya dipegang Fenny, mosok saya beli lagi 🙂 Banyak orang bilang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, tapi tidak untuk kali ini.

Saya menikmati mondar mandir didepan pintu gerbang. Menduga duga siapakah blogger baru datang yang masuk pintu gerbang. Berhasil menyapa dengan akurat blogger yang belum pernah ketemu sebelumnya adalah sebuah kebahagian tersendiri.

Sebaliknya salah sangka dengan telak dalam mengidentifikasi seorang blogger adalah sebuah hal yang memalukan. Dua fenomena ini terjadi silih berganti tak kenal kompromi.

Tante EdRatna berhasil saya kenali, walaupun masih harus ada embel embel nyebut namanya Kunderemp (putra sulung beliau). Beliau heran:

Saat ketemu saya kaget, lha tulisanmu selama ini serius…ternyata Wibi masih muda sekali.

hehehe gak juga Tante, saya lebih tua “sedikit” dibanding Narpen (putra kedua beliau).

Selain Tante EdRatna ada beberapa blogger yang saya kenali dari avatarnya seperti Fenny, Rendy Maulana, Bu Endhoot dan Ady Permadi yang sempet saya salah identifikasi sebagai Pak PYAP di Facebook. Banyak lagi salah tebak yang lain.

Seperti Gundala misalnya… eh bukan, maksud saya Golda misalnya, saya pikir Golda ini seseorang yang bekerja FirstMedia tapi ternyata bukan… memangnya ada berapa Golda di negeri ini yah 🙂

Sesama anggota Bali Blogger tapi tak begitu kenal karena memang anggotanya kami tersebar, mungkin BBC adalah komunitas yang paling tersebar anggotanya.

Pesta tahun lalu ada Nana Nias, tapi tahun ini saya tidak melihat batang hidungnya. Banyak lagi yang tahun lalu hadir tapi tahun ini tak bisa hadir. Gagal menemukan teman blogger yang tahun lalu bertemu, saya coba coba tebak blogger dari avatarnya.

Tercatat sepanjang acara tidak kurang 3 kali saya salah tebak. Malu tapi dengan mudah dilalui karena banyak pilihan “tebakan” yang lain. Selain senang main “tebak-tebakan” saya juga menikmati mendapat temen blogger baru yang senasib dengan saya nunggu di depan gerbang karena tiket masih dibawa oleh temannya yang belum datang.

Antara lain: Billy Koesoemadinata,  Sujarwoyo, Yulyanto dan Achill Gelis dari Bandung Blog Village. Sambil sibuk menyapa tokoh tokoh yang lewat seperti mas Koencoro, mas Budi Putra, pak Cahyana, mas Julian Firdaus, mas Idban Secandri, mbak Shinta, mas Wicaksono, saya mencurigai setiap mobil yang lewat sebagai mobil yang mengangkut Fenny dkk.

Blogger yang lain juga tidak ingin buru buru masuk ke auditorium. Mereka terlihat foto sana sini, pose gila gilaan. Ketawa ketiwi karena lama tak berjumpa. Rupanya mereka sudah kulino satu sama lain. Kadang kadang kamera foto diarahkan ke arah gerbang tempat saya duduk. Terpaksa saya pura pura cool.

Kecurigaan berakhir setelah seseorang yang bertampang sangat Fenny mengangguk mengakui bahwa dirinya adalah Fenny dan tiket diserahkan lalu kami kongkow sebentar di depan gerbang sebelum masuk ke dalam setelah mengambil bingkisan tas pestablogger dengan segala isinya.

Didalam kami kehilangan jejak. Baru terlacak kembali setelah Fenny turun dari balkon untuk naik kepanggung menerima hadiah sebagai perwakilan dari Bali Blogger Community. Saya mau ikut naik tapi notebook sedang digelar dan gak ada yang jagain, biarlah Fenny ajah, dia sudah gede, sudah bisa sendiri.. hehehe

Sebelum penetapan pemenang seperti biasa ritual sambutan sambutan yang membuat pestablogger menjadi terasa agak formal tapi perlu juga.

Pemberi sambutan antara lain Ndoro Kakung, Pak Cahyana dan Pak Kusmayanto Kadiman (Menristek). Sambutan Pak Kusmayanto  yang ditulis oleh mas John Herf:

Kusmayanto Kadiman, Menristek RI mengatakan mereka (blogger dari luar negeri) pasti akan berbahasa Indonesia. Suka atau tidak para blogger asing akan belajar.

Suhu blogger, Ndoro Kakung dan Enda Nasution menjadi legenda yang menguasai A sampai Z blog, yang membikin goblog. Kusmayanto Kadiman menambahkan, “Tragedi kartun Nabi Muhammad dapat diselesaikan oleh Enda Nasution dengan baik, yang mengirim surat kepada wordpress untuk menarik tulisan dari blog.”

Pak Kusmayanto memberi sedikit narasi tentang asal muasal istilah Blog. Sedikit nyeleneh beliau bilang bahwa sebenarnya istilah belog di Bali telah lama digunakan jadi kalau mau tahu siapa sebenarnya inventor istilah blog ya orang orang Bali… 🙂 bisa ajah Pak Menteri.

Setelah usai sambutan sambutan kemudian oleh Joana, host pestablogger yang “gersang” itu acara penyerahan hadiah dibuka. Bali Blogger Community  dinobatkan sebagai The Most Promising Community. Sungguh sedih melihat kenyataan sedikit sekali wakil dari BBC yang hadir.

Terus terang saya ngiri melihat teman teman dari komunitas lain seperti Cah Andong yang sedari awal acara riuh rendah dengan jeritan histeris diatas balkon sana. Mereka benar benar banyak dan ngumpul.

Tapi kemudian saya menghidur diri bahwa komunitas blogger tak mesti akrab secara fisik, walaupun kriteria penilaian sebagai The Most Promising Community adalah seringnya melakukan kegiatan sosial bersama secara fisik tapi kenyataan bahwa sesungguhnya tidak semua anggota BBC pernah bertemu dan akrab secara fisik tapi toh bisa membina sebuah komunitas dengan kegiatan yang insyallah bermanfaat bagi masyarakat.

Komunitas Cah Andong di Balkon yang seru…

Banyak diantara anggota kami yang tidak tinggal di Bali lagi tapi tetap bisa mengikuti perkembangan kegiatan karena kami punya milis yang merupakan urat nadi komunikasi. Ketika wawancara dengan wartawan dari Inilah.com, Fenny telp saya untuk naik ke balkon.

Dalam wawancara dengan mas Augusta dari Inilah.com saya berkesempatan menjelaskan bahwa kenapa BBC bisa punya banyak kegiatan offline buat masyarakat. Salah satunya adalah karena pulau Bali itu relatif kecil sehingga memudahkan untuk bisa berkumpul bagi para blogger. Bahkan menurut Fenny acara acara kopdar lebih sering berhasil jika diadakan secara dadakan tanpa direncanakan.

Hal lain yang mungkin membuat BBC menjadi unik adalah karena kami lebih menggunakan milis untuk berkomunikasi. Kebanyakan komunitas biasanya akan terjebak pada pertemanan yang menjadi akrab secara personal.

Walhasil blogpun menjadi ajang komunikasi yang personal juga. Maka tak heran bila banyak kita jumpai blog-blog yang memiliki ikatan komunitas akan menuai komentar-komentar pada postingan-postingannya yang sifatnya personal.

Pada komunitas BBC hal itu lebih sedikit terjadi, BBC lebih aktif dimilis untuk komunikasi semacam itu. Ketua BBC bapak Anton Muhajir akan bisa menjelaskan hal ini dengan lebih baik saya rasa.

Setelah wawancara usai lalu kami turun makan dan bertemu dengan anggota BBC yang Dian Aryanti, Yoskebe dan Brokencode. Di arena makan saya bertemu dengan banyak blogger yang sudah saya kenal sebelumnya seperti Riyogarta, Kang Tutur, Eko Juniarto dan Priyadi.

Saya nyangkut dari satu blogger ke blogger yang lain sampai tas bingkisan pestablogger saya ketinggalan, padahal disitu ada titipan baju kaos pestablogger dari dua temen blogger dikampus (Irwan Suprayitno dan Anto Junanto) yang tak bisa hadir.

Waduh lumayan nih, 65 rb kali 2 terancam hilang begitu saja. Dalam rangka mencari tas yang hilang tersebut saya ngider, dan tentu saja sambil mencari-cari tas tak lupa juga untuk melihat-lihat yang bening bening di berbagai stand yang ada.

Tapi untung, rupanya Dian dan Fenny sempat mengamankan tas tersebut setelah dikonfirmasi oleh Bang Yoskebe.

Tiba sesi breakout, kami BBC sepakat untuk ikut sesinya Pak Nukman Lutfie tentang membangun personal brand melalui blog.

Menurut Pak Nukman sebuah blog tidak banyak membantu membangun personal brand kita kalau pengunjung dan pembaca blog kita hanya sekitar temen temen kita saja.

Komentarnya juga seperi chating saja. Blog yang banyak membantu membangun personal brand kita adalah blog yang selalu dihadiri oleh orang orang baru yang antusias pada tulisan kita dan kemudian mengingat brand kita.

Beliau memberi ilustrasi betapa sebuah brand yang berhasil itu sangat powerfull. Kita tak perlu menulis nama kita pada nametag karena orang orang sudah bisa mengenali tanpa harus membaca. Berbagai kesempatan akan datang dengan sendirinya karena brand kita yang kuat.

Sebelumnya saya menyempatkan diri memperkenalkan diri pada Pak Nukman. Namun karena personal brand saya belum begitu kuat maka Pak Nukman perlu mengeryitkan dahi untuk mengingat ngingat siapa saya.

Well… saya harus bangun brand saya dengan sungguh sungguh agar dikemudian hari Pak Nukmanlah yang datang pada saya… hehehe

Selesai sesi breakout, tiba sesi snack. Ternyata snacknya jauh lebih nikmat ketimbang makan siang tadi. Entah kenapa saya lebih suka makan snacknya. Sudah agak sore dan kelihatnnya para peserta sudah banyak yang lelah.

Panitia berkali kali mengingatkan agar tidak langsung pulang karena ada sesi doorprize yang layak untuk ditunggu. Mulai dari Ipod, PC HP, hingga Notebook.

Karena lelah tidak heran banyak yang tertidur, tidak terkecuali teman saya Fenny. Duh kasihan bener liat dia tidur. Karena tidak tega akhirnya saya foto dia 🙂

Rupanya Fenny tidak sendiri banyak saya lihat yang tertidur dan jadi obyek foto temen temennya.

Tidak hanya para blogger, para wartawan juga dan kru panitia juga banyak yang tertidur. Bahkan lebih dari sekedar obyek foto tapi dikerjain 🙂

Menunggu doorprize memang melelahkan. Diperparah lagi dengan si Joana centil itu membaca nomor undian dengan cara terbata bata, sangat menjatuhkan mental 🙂

Ada seorang blogger yang menang dua kali, sungguh beruntung blogger ini. Sungguhpun demikian para blogger tak beranjak.

Entah hadiah itu sangat diharapkan atau memang masih ingin kumpul. Walaupun harus berbaring karena lelah dan nomor tak kunjung dipanggil.

Sesi pembagian hadiah diselingi dengan sesi semacam rangkuman sesi breakout. Pertama adalah sesi “Mari Jadi Blogger yang Kreatif” yang dilaporkan oleh salah satu perserta. Saya tidak ikut sesi itu tapi sekilas ada yang aneh.

Apakah karena yang menyampaikan kurang cermat sehingga terjadi mispersepsi tentang menjadi blogger yang kreatif. Disampaikan bahwa postingan yang kreatif seperti judulnya… “mau cari foto bejat *****?”.

Saya sering liat judul judul yang semacam itu di top-posting-hari-ini di WordPress. Tapi itu cuma judulnya saja dan isinya tidak benar benar menceritakan judulnya.

Lagipula apakah itu yang dimaksud kreatif dalam sesi itu, saya tidak tahu, yang jelas reaksi dari para blogger pada saat itu adalah teriakan… huuuuuuuu

Sesi jeda ini benar benar membuat para blogger tambah lelah, banyak yang merebahkan diri dan banyak juga yang saya lihat sudah pulang. Untunglah ada Maylaffayza yang tampil menghibur kita semua dengan penampilannya yang luar biasa. Para blogger menjadi segar kembali.

Terakhir adalah sesi foto foto bersama antar para komunitas. Terutama komunitas yang seru dan rame, mereka naik ke atas panggung dan berfoto bersama.

Kelelahan sejak pagi seakan hilang ditelan keceriaan. Masih banyak sebenarnya kejadian menarik di pestablogger ini yang tidak terceritakan seperti foto kontes, ada live band dan berbagai stand dari sponsor.

Silahkan kunjungi repository ceriat cerita pestblogger dari perspektif yang berbeda di situs pestablogger.com.

Tulisan saya ini sebatas yang saya ingat dan apabila ada yang terlupakan, tidak akurat atau tidak berkenan saya mohon maaf.

Semua foto foto pada postingan ini diambil dari flickr dengan tag pb2008 yang saya ambil dari situs pestablogger.cybergl.co.id.

Saya tidak sempat meminta ijin satu persatu untuk para pemilik foto tersebut. Bagi para pemilik foto foto tersebut silahkan ngaku saja lewat komentar 🙂

Semoga tahun depan blogger tambah banyak dan tambah berkualitas sebagai agen perubahan bangsa.

38 Komentar

Filed under sosial

Eko Juniarto vs Roy Suryo

Isu isu yang muncul dimedia masa sebelum dialog terbuka adalah isu tentang Blogger Negatif (Enda, Priyadi dan Eko), Hacker=Blogger, dll. Headline dimedia antara lain:

Foto dari KompasSebelum dialog berlangsung Roy sempat bertemu dengan Enda Nasution dan kelihatannya terjadi semacam saling pengertian. Dari pertemuan itu tercium jurus Roy selanjutnya yaitu PERS salah mengutip pernyataannya. Kemudian Enda tak disebut sebut lagi sebagai Blogger Negatif.

Kemudian dialog berlangsung dan seperti dugaan sebelumnya Roy mengatakan semua itu adalah pelintiran PERS alias tidak benar dia mengatakan demikian.

Kemudian pemberitaan dimedia masa adalah:”Roy Suryo: Hak Saya untuk Tidak Ngeblog“.

Saya sebagai pribadi ingin sekali memaafkan yang telah lalu. Baiklah kalau memang itu dilimpahkan pada kesalahan PERS (mungkin para wartawan gak bisa terima ini), tapi saya ingin berprasangka baik pada Mas Roy untuk menerima itu sebagai alasan untuk memulai babak baru.

Saya hargai kebesaran hati Mas Roy dengan mengatakan tak usah kutip saya, kutip saja Blog. Sayapun akan beranggapan itu bukan suatu arogansi tapi memang sebuah niat yang tulus.

Waktu dialog berlangsung ada kutipan dari postingan belumnya:

Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Kemudian bertanya pada penonton apakah Priyadi dan Eko ada diantara penonton. Memang sangat disayangkan mereka tidak bisa hadir karena harinya tidak mendukung, mereka harus bekerja hari jumat.

Setelah dialog usai kemudian muncul headline di DetikInet.com: “Roy Suryo esalkan Hanya Sedikit Blogger Vokal Datang Berdialog“.

Baiklah Mas Roy, itu semua saya artikan sebagai niat yang tulus untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas. Kelihatannya Mas Eko juga memiliki niat yang sama melalui komentarnya pada postingan saya terdahulu. Mas Eko mengatakan:

kalau memang berniat mengajak saya diskusi, silakan beliau buat janji, nanti saya sesuaikan dengan jadwal saya.

Saya anggap ini sebuah langkah maju. Kita tahu akar permasalahan ada disini. Setelah Mas Enda bertemu Mas Roy, mas Enda tak lagi disebut sebagai Blogger Negatif. Sekarang diharapkan jika memang pertemuan antara Mas Roy dan Mas Eko bisa berlangsung maka banyak sekali perubahan persepsi dari sisi Mas Roy bisa diubah.

Mas Roy bilang tidak tahu alasannya kenapa Mas Eko selalu menyerang pribadi Mas Roy. Mas Eko punya argumentasi sendiri bahwa apa yang dikomentari oleh Mas Eko bukan hal hal pribadi tapi hal hal yang bersifat teknis dari pernyataan Mas Roy ke media yang dianggap tidak akurat.

Sekarang, daripada nanti dikemudian hari Mas Roy kumat lagi menyerang Blogger dan bikin heboh maka sebaiknya Mas Roy selesaikan dulu masalah Mas Roy dengan Mas Eko.

Undangan dari Mas Eko dan penyesalan dari Mas Roy tak bisa bertemu Mas Eko didialog kemarin bisa ditindak lanjuti dengan dialog antara Roy Suryo dan Eko Juniarto.

Kali ini tak usah dibesar-besarkan, nanti orang bosan baca berita tentang Mas Roy. Kali ini sifatnya lebih intern walaupun isu isu yang dibahas nanti mungkin saja isu yang sudah melegenda itu.

Seperti kata Mas Eko, silahkan Mas Roy atur waktunya, tempat kami sediakan. Tetap dengan semangat membangun IT lebih maju. Bagaimana Mas Roy? Saya tak mau lihat dikemudian hari Mas Roy bikin blunder lagi soal Blog dan Blogger ini Mas, capek…

34 Komentar

Filed under sosial, tokoh

Roy Suryo: Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia

Dialog terbuka antara Blogger dan Roy Suryo akhirnya digelar di ruang teater Budi Luhur dengan kapasitas 250 orang penuh. Kebanyakan penonton rupanya dari kalangan mahasiswa BL sendiri. Tidak banyak wajah wajah familiar yang bisa saya kenali.

Salah satunya adalah Wazeen dan Caplang yang pernah komen di Blog saya. Semula saya pikir Caplang itu nama minyak angin tapi ternyata memang kupingnya caplang… hehe.. hush.

AbimanyuRiyogartaAbimanyu Panca Kusuma seorang praktisi IT dan juga Blogger bertindak sebagai moderator. Riyogarta sebagai pembicara Blogger sejak awal memberitahu bahwa dia hanya mewakili pribadi dirinya dan tidak mengatasnamakan komunitas Blogger. Setuju.

Sebelum acara dibuka panitia mempersilakan Rektor Universitas Budi Luhur, Prof Ronny Nitibaskara, untuk memberi sambutan yang panjang dan membosankan. Maklum Pak Rektor ini Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, jadi sambutannya panjang lebar seperti kuliah saja.

Beliau juga menyampaikan pesan salah satu mahasiswa bimbinganya yang katanya musuhnya Roy Suryo dan sedang menyelesaikan program doktornya untuk bidang Cyber Crime. Roy bilang kenal betul siapa Petrus dan mereka katanya berteman sekaligus bermusuhan (kok bisa yah?)

Setelah Pak Rektor selesai memberi sambutan, kemudian moderator Abimanyu memulai acara dengan perkenalan yang bertele-tele. Memang ada humor sedikit disana sini yang membuat penonton tertawa tapi sesunguhnya kami sudah tidak sabar menunggu acara dialog dimulai.

Roy Suryo dipersilahkan oleh moderator untuk memulai dan Roy menceritakan kenapa ia bersedia hadir, tak usah saya ceritakan detailnya karena rada retorik, terkecuali cerita tentang peran Mas Wicaksono sebagai penghubung diawal awal antara dirinya dan Riyogarta.

Dia juga maunya Mas Wicak ini yang jadi moderator tapi rupanya Ndoro Kakung ini jam 9 pagi belum bangun katanya. Roy bilang Mas Wicak itu guyon, tapi kalo orang yang gak ngerti guyonnya maka akan dibilang sombong, “kok untuk acara penting gini jam 9 belum bangun”, ungkap Roy memberi contoh ekspresi orang yang gak ngerti guyonnya Mas Wicak. Mungkin Roy mau protes sama Mas Wicak tapi dengan cara seperti itu.

Kemudian dialog dimulai dengan penjelasan dari Riyogarta tentang topik dialog semula bukanlah “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia”, judul topik tersebut adalah pilihan dari Roy Suryo. Kemudian Riyo melanjutkan dengan membuka slide situs detikINET yang memuat:

Siapa ‘mereka‘ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008).

Riyo kemudian mempertanyakan apa masuk dari pernyataan tersebut, siapa yang dimaksud dengan “mereka”, kata Riyo.

Dimulai dengan cengar cengir yang khas, Roy kemudian menjawab bahwa sebuah media sering kali membutuhkan headline yang Eye Catching. Sehingga apa yang dia lakukan itu semata mata adalah sebuah teknik komunikasi. Itu intinya, kemudian ia melanjutkan dengan penjelasan yang panjang lebar dan berputar putar tentang hal hal yang menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan pertanyaanya.

Demikian seterusnya pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan dijawab dengan teknik yang sama, berputar putar yang sering kali diakhir putaran tidak menjawab pertanyaannya. Saya jadi geretan. Diperparah lagi oleh moderator yang menurut saya terlalu banyak mengambil waktu untuk menjelaskan sejarah media di Internet. Mohon maaf Mas Abim tapi ini suatu perasaan subyektif saja, siapa tahu yang lain malah seneng 🙂

Ada satu poin penting yang disampaikan oleh Abimanyu disini yaitu ketika paparannya sampai pada Blog dimana Abimanyu mempertanyakan seberapa besar jumlah Blogger Negatif tersebut. Tapi itu bukan untuk dijawab Roy. Abim melanjutkan kembali paparannya hingga selesai.

Diskusi berlanjut lagi. Secara umum argumentasi dasar Roy adalah pers yang salah dalam mengutip pernyataanya. Salah satu contohnya pernyataan tentang Blogger tukang tipu. Penjelasan Roy sebenarnya panjang lebar tentang Blogger dan tidak semuanya jelek, cuma diakhir pernyataan dia memang bilang ada Blogger yang jadi tukang tipu. Nah lantas media mengutip hanya bagian akhirnya saja, sehingga mengundang reaksi dari para Blogger.

Ketika disanggah oleh Riyo bahwa wartawan sekelas Kompas dan Tempo kecil kemungkinannya untuk salah mengutip. Roy mengatakan bahwa ia orang yang apa adanya, jika A dia katakan A, jika B dia katakan B, dan dia bertanggung jawab dengan semua pernyataanya itu.

Riyo menyanggah lagi dengan mengatakan, aneh kalau salah kutip terjadi secara massal, biasanya kalau cuma satu media salah dan yang lain benar ada kemungkinan salah kutip yang satu itu.

Seperti biasa Roy melanjutkan dengan panjang lebar tentang sulitnya membuat pernyataan didepan wartawan agar mudah dikutip dan jelas. Dia tak bisa berbuat apa apa kalau memang wartawannya salah mengutip, contohnya dia diwawancara tentang teknik Flagging yang oleh wartawan keliru di kutip menjadi tenik Flaring. Kalau sudah begitu salah siapa katanya?

Dalam penjelasannya yang panjang lebar tersebut kemudian Roy sampai pada pembahasan mengenai keberadaan Blogger Negatif. Roy mengatakan adalah benar Blog itu sebuah media yang sangat bermanfaat tapi juga bisa berbahaya bila penulis Blognya tidak bertanggung jawab dengan tulisannya yang menjelek jelekan orang lain.

Kemudian Riyo mempertanyakan apakah Roy alergi dengan yang namanya Anonymous. Roy tersenyum manis lantas bilang itu kan menurut Mas Riyo saja. Seperti biasa Roy tak menjawab pertanyaan itu.

Sebelum sesi tanya jawab Riyo mempersembahkan hadiah berupa sebuah account blog dengan domain roy.suryo.info. Riyo kemudian membujuk Roy untuk mau menggunakan account blog itu untuk nulis bagaimana menjadi Blogger Positif atau paling tidak membuat klarifikasi atas semua pelintiran media atas dirinya.

Roy yang sejak tadi sudah memberi wejangan falsafah tentang menghargai pilihan orang lain dalam memilih media, kini berdiplomasi dengan mengatakan bahwa bagaimana dia memutuskan, itu soal pilihan tanpa mengatakan ya atau tidak.

Riyo kemudian menyergah dengan mengatakan Roy tidak usah banyak alasan, Roy telah memberi label Blogger Negatif sekarang tolong beri kami contoh bagaimana menjadi Blogger yang Positif. Diskusi menjadi memanas yang ujung ujungnya dilerai oleh moderator.

Kemudian sesi dilanjutkan dengan pertanyaan dari penonton. Pertanyaan demi pertanyaan dari anak Binus yang teleconference dan dari anak Budi Luhur. Kemudian ada satu pertanyaan yang membuat Roy mulai bernada suara agak tinggi.

BannerPertanyaan dari seorang Blogger bernama Syam yang mempertanyakan sikap Roy yang seolah olah kini mengkambing hitamkan PERS. Disaat yang sama Riyo membuka slide yang berisi postingan Blognya Ndoro Kakung yang ada Banner dengan tulisan “Jangan Kutip Roy Suryo Daripada Dibilang Salah Kutip“.

Roy mengatakan no problem buat dia wartawan gak mau ngutip dia. Roy malah bilang kalau memang begitu para wartawan sebaiknya mengutip Blog. Saya gak usah dikutip gak papa katanya. “Biarlah masyarakat yang mengakreditasi Blog Blog itu mana yang layak dikutip dan mana yang tidak”, lanjut Roy.

Menanggapi pertanyaan JaFF seorang wartawan yang menyampaikan keluhan Mas Koencoro di pertemuan Depkominfo kemarin bahwa label Blog itu negatif telah merusak citra Blogger sehingga ketika Mas Koen masuk kede desa, dipesantren pesantren mereka menolak materi Blogging karena menurut Roy Suryo, Blog itu adalah hal yang negatif.

Roy kemudian menjawab bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita memperkenalkan IT kepada para penduduk di desa desa, seperti biasa dia kemudian cerita panjang lebar tentang pengalamannya masuk pesantren, gereja dan wihara memperkenalkan IT.

***

Pertanyaan demi pertanyaan oleh penonton, jawaban demi jawaban oleh Roy, celetukan demi celetukan oleh Riyo dan paparan tentang Blog adalah sebuah pohon dari Abimanyu membuat saya mulai bosan dan merasa dialog ini tidak mengraha ke arahyang diinginkan semula.

Waktu mulai mendekati setengah dua belas, mau jumatan tapi Roy bilang mau sampai Adzan jug agak papa katanay dia mau ladeni terus dan senang bisa bertemu seperti sekarang ini. Dia juga cerita bahwa pernah bac di Blog ada orang yang rela potong kepala kalau Roy mau hadir dicara ini. Dengan bangga Roy bilang buktinya sekarang saya hadir.

Dialog Terbuka

Kemudian acara selesai, Riyo dam Roy bersalaman, penonton berfoto foto ria, wartawan mewawancarai. Roy keluar ruangan dengan senyum lebar diwajah, Riyo terlihat agak murung walaupun banyak yang memberi selamat atas terselenggaranya acara itu. Kata kunci yang sempat dilontarkan Roy adalah marilah sama sama kita mencerdaskan masyarakat.

Saya ingin sekali mengajukan pertanyaan sendiri tapi tidak ada kesempatan. Beruntung setelah sholat jumat saya diajak Riyo untuk makan siang di Rektorat. Ternyata Roy Suryo juga ikut makan disana sebelum berangkat ke KPPU.

Karena makan satu meja saya mengambil kesempatan itu untuk mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tadi ingin saya sampaikan. Tapi memang momentnya tidak tepat karena kami semua sedang menyantap makan siang.

Tapi kelihatannya Roy mau meladeni setiap ada pertanyaan yang diajukan kepada dirinya oleh siapa saja yang hadir sambil makan. Disela sela itulah saya coba mengklarifikasi beberapa persoalan, antara lain:

Apakah Mas Roy akan menggunakan account dari Riyo untuk menjadikan Blog sebagai media klarifikasi pada media yang suka memelintir atau salah kutip?

Roy menjawab bahwa itu adalah pilihan, dia telah menyediakan media lain yaitu email dan sms. Roy bilang bahwa ia senantiasa membalas sms dari berbagai pihak yang ingin klarifikasi.

Apakah Mas Roy tidak merasa repot harus menjawab berkali kali suatu permasalahan yang sama dengan cara itu, sebab jika Mas Roy punya Blog maka itu cukup dilakukan sekali saja.

Kembali lagi ini soal pilihan, kemudian Roy menyantap nasinya dengan lahap.

Pada saat digedung tadi Roy sempat cerita tentang Blogger Negatif sebagai reaksi dari postingan di Blog yang mencerca dirinya sedemikian hingga para komentator ikut mencerca dengan kata kata kasar. Kemudian Roy mengatakan semua itu berawal dari dua orang Blogger yang tidak ia ketahui sebabnya selalu saja menyerang dirinya secara pribadi, dua orang Blogger tersebut adalah Priyadi dan Eko Juniarto.

Tapi saya tidak ingin frontal dan ingin memulai dari soal cerita Mas Koen yang mengalami kesulitan memasyarakatkan Blog karena ada stigma negatif yang disebarluaskan oleh Roy. Roy menjawab singkat bahwa itu aneh.

Kemudian saya ajukan pertanyaan:

Apakah Mas Roy menganggap cerita dari Mas Koen sebagai suatu yang tidak akurat, artinya Mas Roy mempertanyakan akurasi dari cerita Mas Koen itu?

Roy lalu menelan nasi yang sedang dikunyahnya lalu menerangkanb bahwa tidak demikian maksudnya dan menjawab yang persis sama seperti digedung tadi yang mengatakan bahwa itu tergantung dari bagaimana cara kita menjelaskan soal IT. Saya pikir permasalahan yang dialami oleh Mas Koen agak beda, yaitu soal stigma negatif Blogger dan bukan soal IT. Lantas saya kejar dengan pertanyaan,

…tapi kan citra Blog adalah negatif itu datang dari Mas Roy…

Belum selesai saya tanya, sudah dijawab, tapi itu kan pelintiran media. Kemudian Roy menjelaskan tentang kalau media memang tidak mau kutip dia yah gak papa, silahkan kutip yang lain. Lantas saya jawab:

Wah itu kok kesannya ingin menunjukan power bahwa bagaimanapun media nanti pasti akan balik kepada Mas Roy lagi…

Roy cuma tersenyum lalu bilang, ” itu kan menurut Mas aja toh?”.

Saya ingin sekali masuk ke pembahasan Priyadi dan Eko tapi ada wartawan yang kebetulan sedang ikut makan di ruang itu dan mengajuakn pertanyaan. Roy sambil makan menjawab pertanyaan wartawan itu.

Ada hal menarik dari Roy yang dikemukakan oleh Prof Ronny yang guru besar Kriminologi itu sebelum meninggalkan ruangan. Beliau mengatakan suatu fenomena dengan bahasa akademis, “Labeling Theori: Stigmanisasi”, (bener gak sih nulisnya?)

Teori itu punya premis bahwa seseorang yang terstigma dimata masyarakat akan cenderung menjadi begitu seterusnya. Jadi kadung sudah kepalang basah maka itu akan diteruskan. Saya gak tahu soal itu tapi ini menarik.

Semua kekisruhan ini berawal dari perseteruan antara Roy dengan (Eko dan Priyadi). Karena Eko dan Priyadi adalah Blogger dan dalam komunitas Blogger ada pengikut maka tercipta sebuah komunitas yang sepaham. Kesaksian Roy yang bilang bahwa banyak Blogger lantas ikut ikutan mencerca dirinya tanpa tahu bahwa apa yang dibacanya itu belum tentu benar, karena perlu klarifikasi.

Karena itulah Roy menuduh Priyadi dan Eko sebagai biang Blogger Negatif, karena menyebarkan paham yang mencerca dirinya. Kalau demikian maka persoalannya mulai bisa diisolasi. Akarnya adalah Blogger yang dianggap mencerca dirinya yang lantas diikuti oleh yang lain yang tidak minta klarifikasi tentang kebenarannya kepada dirinya.

Roy lantas mengangkat isu Blogger Negatif ini ke permukaan, tak sadar akan dampaknya secara luas. Jadi ini persoalan dirinya dengan beberapa orang Blogger yang tidak sepaham dengan dirinya. Dengan memilih judul topik “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia“, dapat dengan mudah dibaca.

Judul itu ingin mengesankan ada apa dengan Blogger Indonesia sehinga perlu dibuat menjadi Positif. Saya rasa Roy Suryo harus memaparkan data yang lebih masuk akal untuk dapat meyakinkan publik bahwa Blogger Indonesia sudah sedemikian negatifnya sehingga memang harus dibuat Positif. Memang ada Blog yang tidak berkualitas dan hanya omong kosong tapi apa perlu dibuat dikotomi Positif Negatif.

Terus terang cara cara seperti ini adalah metode politik yang dalam sejarahnya terbukti dipakai untuk melakukan pembersihan lawan politik. Dulu ada cap PKI untuk memberantas orang orang yang tidak bersesuaian dengan Orde Baru, orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan PKI bisa saja diberi cap PKI untuk dapat punya alasan menyingkirkannya.

Mungkin Roy tidak sadar telah melakukannya, karena itu saya meminta kepada Mas Roy untuk tidak lagi melakukan dikotomi Positif Negatif. Juga buat teman teman PERS untuk tidak mengutip istilah istilah yang membuat dikotomi itu menjadi termasyarakatkan.

Saya berpandangan akar masalahnya adalah perseteruan antara Roy vs Priyadi dan Eko. Karena itu dialog yang baru saja terjadi itu seperti tidak efektif untuk waktu yang lama. Nanti dikemudian hari akan ada friksi lagi, karena akar permasalahnya tidak dituntaskan.

Karena akar permasalahan adalah Roy vs Priyadi dan Eko maka saya mengusulkan untuk diadakan dialog yang diantara mereka. Riyogarta telah melakukan perannya semaksimal mungkin yang bisa ia lakukan. Tapi karena Riyo bukan bagian dari akar masalah maka sasaran yang bisa dicapai masih dipermukaan.

Klarifikasi tentang Blogger=Hacker, Blogger Negatif, Pelintiran Media dll, itu semua hanyalah akibat, bukan sebab. Mungkin dengan dialog hari ini bisa sedikit diredam tapi lain waktu akan muncul lagi masalah yang lain. Kalau bisa terselenggara dialog diantara mereka (Roy vs Priyadi dan Eko) maka saya rasa banyak masalah yang bisa terselesaikan.

Saya yakin Roy bersedia membuka diri untuk berdialog dengan Priyadi dan Eko. Saya yakin itu setelah bertemu dengannya. Saya juga yakin banyak pihak yang ingin melihat itu terjadi dan bersedia membantu.

Setelah menyelesaikan makan siangnya dengan lahap Roy Suryo lantas berangkat dengan senyum lebar diwajahnya. Tinggal saya, Riyo dan Mas Abimanyu yang melanjutkan obrolan seputar e-Commerce.

254 Komentar

Filed under sosial, tokoh

Pentingnya Pengendalian Situs Porno

Diskusi dalam sebuah milis menjadi sengit sejak thread tentang pemblokiran situs porno oleh pemerintah diposting. Jika itu milis dari komunitas yang memiliki perspektif yang sama, maka bisa dilihat arah diskusinya searah.

Tapi yang seru adalah bila milis tersebut memiliki anggota dengan perspektif yang berbeda. Diskusi jadi kacau balau. Seseorang dengan latar belakang teknis sedang asik membahas bagaimana metode sensor tapi disanggah oleh yang lain dengan mengatakn tidak setuju sensor karena urusan moral bukan urusan pemerintah.

Ada yang mengkhawatirkan pelaksanaan UUITE akan menyimpang jauh dan dijadikan alasan aparat untuk bertindak represif pada rakyat. Kebanyakan pendapat yang menentang rata rata emosional. Diantara sekian banyak pendapat yang menentang tersebut ada juga yang memiliki argumentasi yang berdasar.

Tapi diskusi yang keroyokan semacam itu sering kali tidak menghasilkan kesimpulan apa apa. Karena masing masing tidak membahas aspek yang sama. Orang sedang membahas teknologi sensor direcoki oleh yang tidak setuju penyensoran. Tentu itu beda aspek.

Idealnya untuk diskusi tentang teknologi sensor diikuti oleh orang orang yang setuju dengan ide penyensoran tersebut, untuk orang yang tidak setuju untuk apa membahas teknologinya.

Tentu setuju atau tidak setuju tidaklah hitam putih, ada yang setuju tapi diikuti oleh kondisi kondisi. Misalnya setuju dengan ide sensor tapi dengan syarat pelaksanaannya harus transparan dan bisa dikontrol oleh masyarakat.

Tampilnya Menkominfo di berbagai media untuk menjelaskan duduk perkara UUITE yang tidak sekedar mengurusi pornografi rupanya belum cukup menenangkan keadaan.

Salah satu media dimana Menkominfo tampil sebagai narasumber adalah acara TV Perspektif Wimar. Dalam acara itu selain Menkominfo, Pak Budi Rahardjo pakar network security dari ITB juga sempat berdialog lewat telephone.

Dalam dialog di acara tersebut boleh dikatakan tidak ada yang sepaham dengan Menkominfo Pak Nuh. Bung Wimar, Wulan Guritno dan Pak Budi berada pada pihak yang berseberangan dengan Pak Nuh.

Memang terjadi dialog tapi tidak tuntas walaupun ada beberapa poin dari Bung Wimar yang telah dijawab oleh Pak Nuh. Menarik ulasan Pak Budi sebagai orang yang menolak sensor dengan argumentasi yang memiliki dasar.

Banyak pandangan tentang sensor terutama yang tidak setuju. Diantara pandangan pandangan tersebut saya jelas tidak sependapat dengan orang yang berpandangan bahwa pornografi bukan suatu masalah.

Ini bukan soal moralitas tapi soal dampak sosial yang mungkin timbul akibat pornografi. Saya yakin orang orang yang berminat pada pornografi bukanlah orang yang tidak bermoral.

Pornografi perlu dikendalikan untuk meredam dampak negatif yang merugikan masyarakat akibat kegandrungan akan pornografi.

Sebelumnya saya ingin mengungkapkan fakta bahwa pornografi memiliki dua sisi yakni sisi positif dan sekaligus sisi negatif. Positif bila terkendali dan negatif bila tidak terkendali dan menjadi eksesif, bahkan bisa menjadi obsesif. Disinilah timbul masalah itu.

Jika pornografi diakses oleh kalangan terbatas dengan cara yang terkendali maka kecenderungan untuk menjadi eksesif bisa diminimalkan. Pornografi memiliki kencederungan untuk menjadi eksesif lebih besar dari sex.

Aktifitas menikmati sex dan aktifitas menikmati pornografi memiliki karakteristik psikologi yang berbeda. Kegiatan Sex bersama pasangan memiliki pola yang lebih bisa memberikan resolusi (kepuasan sexual) sedangkan pornografi cenderung bertahan pada tingkat stimulasi dan jarang sekali berlanjut hingga resolusi.

Itulah sebab kecenderungan untuk menjadi addict pada pornografi lebih besar ketimbang addict pada Sex. Faktor lain adalah pornografi mudah didapat dimana saja. Orang tak perlu pergi kekamar mandi atau check in ke hotel untuk melihat porn. Cukup dimeja kerja dikantor tanpa diketahui oleh rekan kerja disebelahnya. Tentu Sex tak bisa dilakukan dimeja kerja tanpa ketahuan rekan disebelah meja.

Jika seseorang telah addict maka akan menjadi eksesif. Pada tingkat eksesif ini sudah banyak dampak merugikan yang bisa ditimbulkan. Mulai dari pemborosan bandwidth kantor, menurunnya produktifitas karyawan (sebagian besar karyawan dipecat karena mengakses situs porno pada jam kerja di kantor), hingga pada kecenderungan ketahap selanjutnya yaitu obsesif.

Sebagai gambaran seberapa besar perilaku eksesif ini pada masyarakat penikmat pornografi bisa dilihat dari kegiatan bisnis pornografi yang saya ambil dari situsnya Romi Satrio Wahono.

Total pendapatan pertahun industri pornografi di dunia adalah sekitar 97 miliar USD, ini setara dengan total pendapatan perusahaan besar di Amerika yaitu: Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix and EarthLink.

Saya lanjutkan. Jika perilaku eksesif telah lebih maju lagi menjadi obsesif maka yang terjadi adalah kehancuran. Seperti seorang pecandu narkoba yang sakau. Jika tak mendapatkannya akan berusaha dengan segala cara, bahkan tindakan kriminal. Jika sudah sampai pada tahap ini maka kemerosotan moral tak perlu diperdebatkan lagi.

Berdasarkan argumentasi diatas saya berbeda pendapat dengan Bung Wimar yang mengatakan bahwa pornografi tidak usah dibatasi. Sayang beliau tidak sempat mengemukakan argumentasinya karena keterbatasan waktu. Karena pornografi yang bebas membawa masalah maka harus diredam dan dikendalikan agar tidak menjadi eksesif apalagi obsesif.

***

Bagi orang orang yang tidak sependapat dengan argumentasi diatas mungkin tidak perlu melanjutkan membaca karena selanjutnya saya akan membahas bagaimana cara mengendalikan situs porno, tentu tidak bermanfaat bagi orang yang tidak setuju.

Foto dari Blognya Pak BudiBagi yang setuju tentu juga memiliki beragam perspektif. Salah satunya adalah Pak Budi Rahardjo. Pak Budi setuju bahwa pornografi itu bermasalah tapi tidak setuju dengan metode sensor yang dipakai untuk mengendalikannya.

Untuk itu saya ingin membuka dialog imaginer dengan orang orang yang menentang sensor dan sebagai model saya akan gunakan pandangan dari Pak Budi sebagai lawan dialog.

Pak Budi mengatakan ketimbang melakukan sensor maka lebih baik ditempuh cara lain yaitu dengan meningkatkan konten positif, berikut kutipannya dari acara Perspektif Wimar:

“Kalau kita mau membuat Internet lebih sehat harusnya kita lebih banyak membuat konten yang positif sehingga konten yang negatif ini akan menjadi minoritas justru”.

Saya memiliki pandangan yang berbeda dengan Pak Budi. Apakah benar konten positif bisa membuat pornografi menjadi minoritas? Belum lagi kemampuan pembuat konten anak negeri yang masih seperti sekarang ini tentu tak bisa banyak berharap. Kalau kita sudah mampu membuat konten yang baik, apakah tidak terjadi justru akan membuat mereka membangun konten yang negatif karena tidak dilarang?

Saya ingin ambil contoh negara yang telah mampu membuat begitu banyak konten dengan baik, Amerika Serikat. Apakah situs pornografi di Amerika lantas menjadi minoritas? Begitu banyak konten positif di Amerika tapi situs porno tak urung menjadi minoritas disana. Amerika justru menjadi penyumbang situs porno terbesar di dunia dengan prosentase 89% situs porno disumbangkan oleh Amerika.

Lihat saja penghasilan bisnis pornografi yang mengalahkan gabungan penghasilan perusahaan-perusahaan besar. Berdasarkan ini saya tidak sependapat dengan Pak Budi bahwa konten positif itu akan dengan sendirinya membuat situs pornografi menjadi minoritas.

Kemudian tentang himbauan Pak Budi pada Pak Nuh untuk lebih fokus pada pengembangan kreatifitas IT ketimbang sensor situs porno. Saya berpendapat justru dilengkapinya UUITE dengan pasal kesusilaan adalah untuk menjaga kreatifitas tetap pada jalur yang positif.

Bayangkan jika anak anak kita di daerah telah pandai membuat konten maka minat mereka pada pornografi akan menjadi bahan eksperiman yang sangat menyenangkan. Dengan karakteristik psikologi pornografi seperti yang saya paparkan diatas bukan tidak mungkin mereka lantas akan menjadi eksesif dan selanjutnya.

Tentu saya tak perlu menjelaskan pada Pak Budi apa sesungguhnya yang ingin dicapai melalui disahkannya UUITE.

Kemudian teori lain yang dikemukakan oleh Pak Budi adalah metode untuk menangkal pornografi. Beliau berpendapat metode yang dipilih untuk menangkal pornografi adalah sbb, quote dari Blognya:

Yang pertama adalah edukasi dan pembinaan moral. Ini harus dilakukan di semua lini; rumah, sekolah, dan masyarakat. Tujuannya adalah adanya tekanan moral bahwa melihat situs porno itu adalah salah, memalukan, tidak bermoral, dan sejenisnya.

Saya ingin menanggapi dengan mengambil analogi sebuah sistem, untuk lebih mudah dipahami berhubung beliau pakar security system :-). Langkah yang diambil oleh Pak Budi merupakan langkah proteksi pada individu, walaupun itu dilakukan disemua lini mulai dari rumah tangga hinga sekolah tapi tetap saja sasarannya adalah individu dan bukan pada sistem.

Jika ini berhasil maka sempurnalah proteksi itu. Tak ada yang bisa menembus. Tapi to be realistic, dalam sebuah sistem entah itu masyarakat atau sistem jaringan komputer kenyataannya tak ada sistem yang benar benar bisa secure hanya dengan memproteksi individu.

Kondisi ideal tak pernah bisa ditemui, apalagi tahu sendiri kondisi masyarakat kita sekarang. Saya akan ambil contoh sebuah sistem jaringan komputer.

Saya masih ingat kuliah Pak Budi tentang security disebuah seminar. Waktu itu Pak Budi bilang sistem pengamanan yang baik itu yang bagaimana sih? Kata Pak Budi melanjutkan bahwa sistem yang baik adalah yang acceptable.

Bisa saja kita kunci komputer kita di gudang tanpa jatringan tapi itu sangat tidak nyaman dan masih bisa dibobol maling kalau satpamnya lengah. Kemudian kalau kita sambungkan PC kita ke jaringan juga akan rentan serangan dari luar.

Jadi sistem pengamanan yang baik adalah yang acceptable. Kita perlu tersambung ke jaringan untuk bekerja tapi juga perlu aman, karena itu langkah langkah pengamanan harus disesuaikan dengan resiko.

Kalau kita pakai teori Pak Budi tentang menangkal pornografi dengan analogi menangkal serangan pada jaringan maka bisa saya analogikan langkah edukasi dan pembinaan moral adalah langkah membina pengguna jaringan untuk berhati dalam melakukan perkejaan didalam jaringan.

Kemudian melengkapi semua PC yang tersambung ke jaringan dengan antivirus terbaru yang selalu update. Tentu Pak Budi paham betul bahwa itu saja ternyata tidak cukup, perlu Firewall yang menjaga dipintu gerbang masuk sebelum diakses oleh pengguna jaringan.

Kalau hanya mengandalkan pengaman pada PC individual maka itu akan sangat mudah ditembus, karena kondisi dilapangan tidak selalu ideal. Ada PC yang sudah pakai Vista tapi ada juga yang masih pakai XP bahkan masih ada yang Win 98 mungkin.

Dari sisi pengguna juga demikian ada yang aware dengan security ada yang ceroboh. Karena itu perlu ada sistem pengaman yang lain yang tidak individual tapi sistemik seperti dalam jaringan perlu Firewall.

Dalam masyarakat pengguna Internet, sensor adalah sistem pengamanan yang bukan individu. Dengan hanya mengandalkan sistem pengaman individu celah untuk masuk masih sangat besar. Berikut ada kutipan dari Mas Romi:

Perlu diingat bahwa produsen situs pornografi di dunia sangat mahir menerapkan berbagai teknik internet marketing, Search Engine Optimization (SEO) dan berbagai taktik untuk menyebarkan produk yang mereka buat.

Salah satu yang membuat pornografi susah dicegah adalah akibat jebakan akses tidak sengaja. Produsen pornografi di dunia bisa menggunakan berbagai taktik di bawah untuk mengantarkan pengguna Internet ke situs pornografi:

  • Kesalahan tulis keyword: shareware vs. sharware
  • Keyword biasa: toys, boys, pets, etc
  • Kedekatan nama domain: whitehouse.com, coffeebeansupply.com, teenagershideout.com, clothingcatalog.com, watersports.com
  • Penggunaan nama brand: Disney, Nintendo, Barbie, Levis, etc
  • Email spam: 30% spam adalah pornografi

Dengan demikian pada masyarakat dengan kondisi kesadaran proteksi diri yang masih sangat beragam itu jelas dibutuhkan sistem pengamanan lain yang lebih diatas tingkat, semacam Firewall pada sistem jaringan komputer.

Pak Budi juga mengusulkan sistem proxy untuk anak anak yang bebas pornografi. Ide yang bagus namun tetap itu masih pada lapis network yang belum berperan secara global.

Semakin kebawah lapisan semakin sulit untuk dimonitor. Lapis lapis yang dikemukakan oleh Pak Nuh adalah pertama / paling bawah lapis individu. Cara Pak Budi dengan membina moral adalah aplikasi pada lapis ini.

Lapis kedua adalah lapis network. Usul Pak Budi tentang Proxy bebas porn adalah aplikasi pada lapis network.

Bagaimana jika warnet warnet yang sering dikunjungi anak anak lantas emoh memasang proxy itu, dan kecenderungan ini akan besar karena berkaitan dengan income warnet.

Lapis paling tinggi adalah lapis ISP sebagai pintu gerbang koneksi internet. Sensor situs porno oleh pemerintah adalah aplikasi pada lapis ini.

Kenapa Pak Budi tidak setuju pada pengamanan lapis terkahir ini saya tidak tahu. Tapi yang jelas Pak Budi pernah bilang bahwa salah satu kebanggan beliau dengan Internet Indonesia adalah karena tidak pernah disensor sejak jaman Pak Harto.

Sama Pak, saya juga bangga dengan hal itu. Saya masih ingat dulu tahun 98, kala reformasi bergulir. Belum banyak yang bisa mengakses Internet. Jangankan anak SMP, mahasiswa saja jarang yang punya akses ini.

Saya beruntung waktu itu masih mahasiswa tapi karena saya sudah bekerja di sebuah ISP maka saya bisa akses Internet leluasa. Waktu itu saya ingat membina sebuah forum yang namanya “Forum Civitas Akademika, Anti Status Quo, Pro Reformasi”… hehehe jadi nostalgia.

Dalam situs itu ada link ke situs lain diantaranya ke situsnya Priyadi dan Pak Budi Rahardjo sendiri. Disitulah saya pertama kali dengar nama Pak Budi dari atasan saya Pak Bob Hardian, mungkin Pak Budi kenal karena masih sama sama di IDNIC?

Romantisme kebanggaan itu tak akan pernah hilang. Tapi waktu itu peran ICT di masyarakat masih minim sekali. Sekarang sudah sangat berbeda. Dulu anak anak SMP tak kenal warnet, sekarang hampir ditiap sudut jalan ada warnet.

Bahkan anak SD sudah mulai kenal Google. Perkembangan inilah yang saya rasa harus disikapi tanpa kehilangan kebanggaan itu. Kalau alasan Pak Budi bahwa usaha sensor itu tak akan efektif maka itu tentu harus dibuktikan.

Atau kalau khawatir praktik sensor itu akan menyimpang dari tujuan semula maka mari sama sama kita awasi. Beri usulan pada Depkominfo tentang metode sensor yang kita anggap sesuai.

Sampai disini saya berharap para pembaca bisa memahami cara saya memandang sesnor ini. Pada prisipnya setuju cuma tinggal bagaimana metode sensor yang memenuhi semau aspek. Tidak berpotensi menjadi represif seperti yang ditakutkan banyak kalangan.

Sebagai rangkuman, dalam kenyataan masyakarat seperti sekarang ini sensor menurut saya adalah suatu teknik proteksi dilapis paling tinggi yang mampu membatasi akses situs porno dengan sangat sigfinikan, ketimbang proteksi pada level yang lebih rendah.

Tentu semua usaha disemua lapis adalah positif tapi lapis paling atas tetap dibutuhkan guna menyongsong booming pemanfaatan ICT sebagai akibat disahkannya UUITE.

Semoga dialog imaginer diatas bisa dimengerti dengan hati yang tenang. Mohon maaf Pak Budi kalau ada perbedaan tapi saya tetap hormat. Bagaimana usulan saya tentang metode sensor? Insyallah saya akan hadir di diskusi dengan Pak Nuh di Depkominfo dan memberi usulan. Tunggu postingan saya selanjutnya.

19 Komentar

Filed under sosial

Indonesian Blog Of The Year 2007 versi Marisa Duma

Tahun 2007 sudah berlalu dan saya sudah sibuk dengan kegiatan perkuliahan tanpa sempat membuat postingan tentang resolusi 2008 ataupun kaleidoskop 2007. Blogging ditahun 2007 cukup ramai dan dilegitimasi dengan event Pesta Blogger 2007.Selama tahun 2007 ada beberapa topik yang seru dan sangat banyak Blog-Blog baru yang juga bagus bagus. Memang rata rata Blog Indonesia masih berkisah tentang diary tapi banyak juga yang sudah lebih fokus pada topik tertentu dan bagus bagus juga.

Fatih Syuhud membuat Blogger of the year versinya sendiri dan tentu dengan segala reputasinya sebagai Blogger senior Blog-Blog yang ia pilih punya bobot yang baik. Fatih bahkan memilih Blog of the week yang menjadi syarat untuk bisa dipilih menjadi Blog of the year versi Fatih Syuhud.

Tidak banyak yang menyediakan waktu untuk menulis tentang topik Blogging itu sendiri. Pekerjaan yang dilakukan oleh Fatih sangat bermanfaat untuk bisa memberi evaluasi pada kualitas Blog Indonesia.

Marisa DumaMarisa Duma, seorang wanita jurnalis yang tulisannya banyak dikutip dan dimuat diberbagai milis juga membuat daftar dari Blog-Blog yang dianggap layak masuk predikat baik untuk tahun 2007. Walaupun usianya masih sangat muda tapi wawasannya sudah sangat dewasa. Seorang Blogger tak dilihat dari usianya tapi dari tulisan pada Blognya.

Dari halaman about bisa kita lihat betapa banyak orang yang takjub dan tidak menyangka bahwa Marisa masih sangat muda tapi memiliki kemampuan menulis yang baik sekali. Berikut adalah kutipan tentang Marisa Duma dari halaman About.

My name is Marisa Duma, also known as ichaduma or ms. id. I am an Indonesian, born 9th October 1982 and presently living in Jakarta. I study psychology, communications, journalism, and the media, graduated as a certified ad kid, and I’ve had around 5 years of professional experience in various fields.

Currently I am focusing my career in feature writing, columns, or alternatively in web design for side jobs. My journalism genre is creative non-fiction, essays, features, and a bit gonzo (!).

My writings are mainly commentary analysis –in short, yes, an extended form of opinion that will bore you to death. My research subjects thus far are Journalism and Media, Web 2.0 and Blogging, Design and Advertising, Society and Pop Culture; conclusively on humanism.

Therefore, my articles are most likely to bound two or three aspects in one article. This also explains the ribbon image as the website’s logo; it tied things together.

Marisa membuat daftar Blog-Blog terbaik untuk tahun 2007 menurut versi dia dan cukup menarik. Berikut adalah daftar Blog yang masuk dalam daftarnya:

  1. International Blog of the Year: The Cool Hunter
  2. Indonesian Blog of the Year: Budayawan Muda
  3. Event of the Year: Armin van Buuren Universal Religion 3
  4. Celebrity Wear of the Year: Wimar Witoelar’s Crocs
  5. Cyber Entity of the Year: Achmad Sudarsono
  6. Hotspot Cafe of the Year: Anomali Coffee
  7. Protest of the Year: Save Cookie Monster Petition
  8. TV Show of the Year: Republik Mimpi
  9. Person of the Year: Jerry van den Brink
  10. Fact of the Year: Results Graph on the Seven Roman Virtues

Bisa dilihat satu persatu Blog pilihan Marisa diatas dan salah satunya gak pergi kemana mana.

Marisa, thank you for your kind recognition and honor, keep on Blogging… 🙂

16 Komentar

Filed under sosial