Category Archives: sinema

The Raid

foto diambil dari facebooknya yayan ruhiat
Film ini menuai banyak pujian, awal-awal karena sederet penghargaan dari dunia International:

1. Winner (Best Midnight Madness Film – People’s Choice Award) Toronto Film Festival (2011).
2. Official Selection Sundance Film Festival (2012).
3. Official Selection SXSW Film Festival (2012).
4. Winner (Best Action Film) Baliwood (2011).
5. Winner (Best Action Film) INAFF 2011 (Indonesia International Fantastic Film Festival).
6. Official Selection SITGES 2011 (International Fantastic Film Festival).
7. Official Selection Busan International Film Festival 2011.
8. Official Selection Fright Festival 2012.
9. Winner (Best Film – Dublin Film Critics) Dublin Film Festival 2012.
10. Official Selection Glasgow Film Festival 2012.
11. Official Selection Moma ND/NF Film Festival 2012.

Sumber: Yoga Efendi

Lalu pujian dari kesaksian orang orang yang sudah pernah menonton film ini ada di mana mana, di IMDB, Twitter dan Facebook. Itu bukan hanya orang Indonesia loh, kebanyak dari luar negeri karena film ini juga ditayangkan di luar negeri setelah dibeli oleh Sony Picture. Ok saya rasa kalo soal reputasi sudah cukup, tidak usah lebay… mari kita masuk ke review filmnya.

Pertama-tama yang bisa saya sampaikan film ini hanya untuk orang dewasa, hanya orang tua bodoh yang membawa putra-putrinya ikut nonton. Semua adegan action dipertontonkan secara vulgar dan penuh darah, dari gerakan memukul, menendang, membacok, menggorok, menusuk, membanting lawan ke property yang bukan terbuat dari styrofoam dan seterusnya…

Film ini plotnya datar, mungkin sengaja gak dibikin ribet supaya penonton gak perlu susah berpikir dan bisa fokus menikmati actionnya. Saya rasa memang apa yang dijual oleh film ini adalah action silatnya dimana Iko Uwais dan Yayan Ruhiat sebagai koreografer berhasil membuat film ini tidak kalah dengan film-film Kungfu Hongkong atau bahkan film Kungfu yang sudah ada sentuhan Hollywood seperti Crouching Tiger Hidden Dragon. Kalo film-filmnya Stevan Seagal, Jean-Claude Van Damme, Chuck Norris atau Michael Dudikoff lewat lah sama The Raid.

Sutradara Gareth Evans berhasil memaksimalkan kekuatan filmnya pada action hingga menutupi unsur lain dalam film yang sebenarnya kurang bagus seperti dari sisi akting dan dialog. Bahkan dialognya menurut saya yang paling kurang, sebagai contoh diawal film ada adegan Rama sedang sholat kemudian selesai sholat Rama menghampiri istrinya yang sedang hamil tua di tempat tidur hendak pamit berangkat ke misi berbahaya. Selesai ngobrol pamitan Rama bilang “Aku cinta kamu”, lalu istrinya menjawab, “Aku juga cinta kamu”… halah… gak ada dialog kaya gitu di Indonesia, itu hanya ada di Barat, sepertinya memang dialognya terjemahan bahasa Inggris. Pinternya Gareth Evants tidak membuat banyak adegan dialog drama dalam filmnya.

Kemudian dari sisi akting hanya aktor senior Ray Sahetapy yang berhasil mentransformasi kekuatan aktingnya untuk menghidupkan karakter perannya, yang lain butuh action berdarah-darah. Padahal Ray hanya kebagian scene sedikit. Untuk yang muda-muda saya suka komandan pasukan, Joe Taslim dan tukang jagal dengan logat Ambon, Godfred Orindeod. Iko dan Yayan keliatannya lebih mengandalkan aksi laganya untuk membentuk karakter yang diperankan.

Film ini ada sekuelnya, judulnya Berandal, semoga apa yang kurang di film ini bisa diperbaiki di sekuelnya. Selain aksi laga film ini mudah ditebak jalan ceritanya. Jika mau lebih bagus lagi ada baiknya aksi yang dijual tidak dimonopoli oleh aksi silat Iko dkk, tapi bisa diimbangi dengan plot atau cerita seperti film Speed.

Tinggalkan komentar

Filed under sinema

Inception

Pernahkah anda bermimpi, dalam tidur tentunya? Pernah suatu kali ayah saya bermimpi sedang berkelahi melawan mahluk buas dan bengis. Pertarungan itu begitu seru sehingga ayah berteriak teriak sambil tidur. Ibu kemudian membangunkan ayah dengan menepuk pundaknya dan seketika ayah terbangun sambil dengan sigap menangkis tepukan dipundaknya.

Ternyata dalam mimpi itu ayah sudah terdesak oleh mahluk buas itu yang akan mengigit pundaknya. Begitu mahluk dalam mimpi itu menggigit maka rasanya benar benar nyata dan ternyata itu adalah tepukan pada pundak yang dilakukan oleh Ibu.

Ayah menceritakan mimpinya itu cukup lama. Jalan ceritanya cukup panjang sebelum digigit di pundak. Bagaimana mungkin bisa sesuai timing cerita dalam mimpi itu dengan momen tepukan di pundak. Kemungkinan yang bisa saya bayangkan adalah ketika pundak ayah ditepuk informasi tepukan dikirim ke otak dan oleh otak kemudian dibuatkan skenario tersebut. Berarti otak dapat membuat sebuah skenario cerita mimpi yang cukup panjang dalam waktu yang sangat singkat.

Inception

Ternyata pikiran saya itu seperti mendapat pembenaran dalam film Inception. Dalam film ini dikatakan bahwa satu menit bermimpi sama dengan 10 menit dalam alam mimpi. Kemudian juga dalam film Inception ini mimpi dapat bertingkat tingkat. Orang dalam sebuah mimpi dapat bermimpi lagi dan tentunya berlaku juga hukum relatifitas waktu seperti diatas.

Dengan sebuah teknologi dan melalui pelatihan dari ahlinya seorang dapat berbagi mimpi (shared). Artinya kita bisa masuk ke mimpi orang lain ketika sama sama tertidur dengan bantuan sebuah alat canggih.

Ketika kita masuk ke mimpi seseorang maka kita akan melihat dan mengetahui hal hal yang ada dalam pikiran orang tersebut. Kemampuan inilah yang digunakan untuk menggali informasi rahasia yang sudah terkubur jauh didalam hati. Bahkan kemampuan masuk ke alam mimpi ini dapat digunakan untuk menanamkan doktrin tertentu yang akan terbawa terus hingga orang tersebut tersadar dari alam mimpinya.

Sutradara: Christopher Nolan

Ini yang terjadi pada Cobb -diperankan oleh Leonardo DiCaprio- ketika ia untuk pertama kali mencoba kemampuan tersebut pada istrinya sendiri, Mallorie -diperankan oleh Marion Cottilard- yang berakibat pada kematiannya. Cobb kemudian menyadari bahwa tekniknya berhasil namun harus kehilangan istrinya dan harus menghadapi tuduhan pembunuhan. Cobb menghilang dari kejaran hukum dan bertemu seseorang yang berminat menggunakan keahlian Cobb tersebut untuk kepentingan pribadinya dengan imbalan Cobb akan mendapatkan kembali hidupnya bersama anak anaknya dan pembersihan namanya dari segala tuduhan.

Cobb sangat mencintai istrinya dan anak anaknya. Ia ingin hidup normal dan mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut. Tapi Cobb butuh tim untuk bekerja dan merekrut mahasiswa berbakat dalam bidang arsitektur karena Cobb harus mendesign mimpi yang rumit.

Tim telah terbentuk dan mereka harus terjun ke mimpi hingga kedalaman tiga tingkat bersama korban yang ingin mereka korek informasinya. Pada mimpi tingkat ketiga munculah Mallorie yang memang dalam alam mimpi Cobb selalu muncul walaupun dalam alam nyata Mal sudah meninggal. Serunya film ini adalah pada pergulatan pada relatifitas waktu antara mimpi yang bertingkat tingkat.

Jika seseorang terbunuh dalam alam mimpi maka orang tersebut akan terbangun ke alam nyata. Jika mimpi tersebut bertingkat maka ia akan terbangun pada tingkat diatasnya. Namun pada operasi ini tidak sesederhana itu karena ada tambahan obat bius yang digunakan sehingga jika terbunuh maka orang tersebut tidak akan segera terbangun pada mimpi ditingkat diatasnya namun akan terjatuh pada area mimpi tak bertuan, tak memiliki koneksi dan tak memiliki design. Area ini bernama Limbo.

Teknik untuk mengetahui apakah sedang berada dalam mimpi atau alam nyata Cobb menggunakan semacam gasing yang diputar. Jika gasing tersebut berhenti berputar maka artinya alam nyata, namun jika gasing tersebut tidak berhenti berputar maka artinya sedang berada dalam alam mimpi.

Diakhir cerita mirip film Leonardo sebelumnya Shutter Island yang menyisakan teka teki apakah akhir cerita Cobb telah benar-benar kembali ke alam nyata atau tetap berada dialam mimpi. Saya punya analisi tapi silahkan nonton dulu filmnya baru kita diskusi. Film ini lebih bagus dibanding Shutter Island karena ada Marion Cottilard peraih Oscar aktris terbaik 2007, saya nonton filmnya: Public Enemies dan Nine. Kalimat terakhir saya itu spoiler, jangan dianggep.. 🙂

6 Komentar

Filed under sinema

Shutter Island

Ted and Chuck

Sinopsis:

Seorang pasien gila bernama Rachel Solano yang sangat berbahaya telah menghilang dari sebuah rumah sakit jiwa khusus. Rumah sakit jiwa tersebut khusus merawat pasien sakit jiwa yang paling berbahaya hingga ditempatkan di sebuah pulau terpencil bernama Shutter Island. Pemerintah Amerika mengirimkan seorang agen federal kawakan bernama Teddy Daniels untuk menyelidiki peristiwa tersebut.

Ted ditemani seorang agen muda bernama Chuck Aule. Ted sebenarnya memiliki misi pribadi ke pulau tersebut untuk mencari seorang penjahat yang telah membunuh istrinya. Penjahat tersebut bernama Andrew Laeddis yang diyakini oleh Ted dikirim ke Shutter Island karena profil kejahatan Laeddis yang karakteristiknya seperti kejahatan penjahat dengan gangguan jiwa.

Ketika Ted tiba di pulau Shutter Island, Ted mencium aktifitas illegal yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Jiwa terhadap para pasiennya. Begitu tertutupnya pihak Rumah Sakit Jiwa akan akses pada catatan para pasien dan pegawai membuat Ted memutuskan menghentikan penyelidikan Rachel Solano dan memberikan laporan kepada pemerintah federal untuk melakukan penyelidikan lebih dalam tentang Rumah Sakit Jiwa tersebut.

Satu satunya akses ke dan dari pulau Shutter Island adalah kapal fery yang tak bisa segera datang karena cuaca buruk. Ted tak bisa kembali dan memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan. Indikasi praktek ilegal semakin kuat ketika Ted bertemu dengan Rachel Solano pasien yang dilaporkan hilang tersebut.

Ted peluk istri dalam halusinasi

Terjebak di pulau yang sedang dilanda badai dan angin topan, Ted yang veteran Perang Dunia II itu harus berjuang tidak hanya untuk keluar dari pulau tapi juga harus berjuang menyelamatkan kewarasannya karena pihak Rumah Sakit Jiwa telah memberinya obat obatan yang membuatnya berhalusinasi akan masa lalunya ketika perang. Wujud almarhum istri yang sangat dicintainya selalu muncul dan berdialog dengannya membuat pergulatan emosi yang sangat kuat. Semua teka-teki, kejanggalan, keanehan dan kerancuan antara kenyataan dan halusinasi membuat Ted mulai tidak yakin dengan kewarasannya…

Leonardo DiCaprio

Leonardo memerankan Teddy Daniels dengan karakter yang kuat antara Ted sebagai agen federal dan Ted sebagai orang yang bimbang. Bahkan untuk film film sebelumnya Leonardo tak tampil seperti di film ini. Leonardo pada Titanic terlalu pop, terlalu jagoan pada The Gangs of New York. Pada film Catch Me If You Can menurut saya justru Tom Hanks rekan main Leonardo yang lebih berhasil membangun karakter.

Pada film ini akting Leonardo membuat kita terbawa pada cara pandang seorang agen federal yang cerdas tapi kemudian sama sekali tak terduga ada karakter kerapuhan jiwa sang agen handal itu. Tidak berlebih kalau saya katakan akting Leonardo kali ini adalah yang paling berbeda kalau dikatakan akting yang terbaik mungkin akan dianggap spoiler.

Martin Scorsese

Leonardo dan sutradara Martin Scorsese telah bekerja sama untuk yang keempat kalinya dalam film. Tentu semakin sering mereka bekerjasama semakin terjalin chemistry yang menghasilkan karya yang lebih baik. Kerja bareng mereka di film The Aviator menghasilkan beberapa nominasi Oscar. Jangan kaget bila kerjasama mereka kali ini akan masuk nominasi lagi pada Academy Award 2010. Menurut saya Martin berhasil membawa naskah berdasarkan novel karya Dennis Lehane yang sudah penuh dengan dialog dalam plot yang berliku kedalam visual yang artistik menegangkan.

Poster

Adegan Ted berdialog dengan Rachel dalam goa dekat mercusuar sangat artistik menurut saya. Kemudian adegan Ted masuk ke lorong di bangsal yang gelap untuk mencari Laeddis membuat penonton fX Platinum XXI tempat saya menonton beberapa kali menjerit -terutama wanita- ketika Ted menyalakan korek api. Mungkin itu sebab poster filmnya dipilih adegan Leonardo sedang memegang korek api.

Review

Menonton film ini saya teringat sebuah pertunjukan teater Koma dari naskah karya Evalds Flisar dengan tema exploitasi pasien gangguan jiwa. Tema ini sangat menarik untuk dibuatkan permainan plot yang tak terduga untuk menghasilkan kisah thriller. Dalam cerita yang berjudul “Kenapa Leonardo” tersebut dikisahkan sebuah klinik syaraf dan kejiwaan yang melakukan eksperimen terhadap pasiennya untuk menciptakan manusia super. Persis seperti apa yang dilakukan di Shutter Island.

Film ini bukan untuk yang mencari sekedar hiburan pelepas penat diakhir pekan. Film ini butuh konsentrasi untuk dipahami plotnya. Mengira ngira siapa berperan sebagai siapa. Menduga duga siapa pelaku kejahatan dalam teka teki yang tersamar. Juga butuh jantung yang sehat dan tentu saja akal yang waras sebab bisa jadi anda akan berdebat sengit dengan partner anda menonton tentang siapa sebenarnya yang nyata… “kewarasan” anda akan diuji dalam perdebatan itu nanti 🙂

20 Komentar

Filed under sinema

Public Enemies

Adegan awal dari film ini memperlihatkan barisan berseragam tahanan yang mengingatkan saya pada seragam gerombolan Si Berat di komik Donal Bebek. Belang belang hitam putih. Berbagai resensi film ini menceritakan tentang kisah perampok legendaris John Dillinger yang menjadi musuh nomor satu di Amerika Serikat pada tahun 30an.

Public Enemies The Movie

John Dillinger
Ini film diangkat dari kisah nyata. Profil John Dillinger ini memang luar biasa. Masa itu adalah masa krisis ekonomi berkepanjangan di AS. Headline di koran koran terkemuka didominasi oleh berita kebangkrutan, pengangguran kian bertambah dan kejahatan semakin merajalela. Pemerintah kian dituntut segera mengembalikan keadaan.

Johnny Depp as Dillinger

Pada situasi seperti itulah muncul seorang penjahat perampok bank yang pada awalnya menjadi headline karena aksinya membobol penjara untuk membebaskan teman teman gangnya. Aksi perampokan yang mereka lakukan dikemas dengan sedemikian rupa hingga mereka mendapat simpati publik.

Johnny Depp in action

Masyarakat yang tertekan oleh situasi ekonomi yang buruk butuh seorang “pahlawan”. Dillinger kerap menjadi headline berita karena merampok bank dengan pesan bahwa mereka tidak merampok uang nasabah tapi merampok uang bank… apa bedanya? Tapi itulah waktu itu. Masyarakat terpesona dan menganggap Dillinger sebagai Robin Hood. Dillinger dikenal dengan julukan The Jackrabbit karena aksinya dalam merampok bank yang loncat dari satu meja teller/kasir ke meja lainnya pada saat merampok.

John Dillinger

Ini tentu sangat meresahkan pemerintah AS pada waktu itu. Apalagi berkali kali pemerintah AS di permalukan oleh keberhasilan Dillinger yang berkali kali ditangkap tapi berkali kali pula dapat meloloskan diri dan melanjutkan aksi perampokkan bank yang total jumlahnya mencapai puluhan bank di seluruh AS.

Dillinger juga menciptakan trend dan modus baru dalam perampokan bank. Dillinger adalah perampok yang lari dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk merampok sehingga menyulitkan polisi negara bagian yang memburunya karena pada waktu itu koordinasi antar polisi negara bagian belum menemukan mekanismenya untuk menangkap penjahat lintas batas negara bagian.

Kalau anda nonton film ini maka akan terlihat bagaimana polisi jaman dulu di AS itu lugu, culun dan cupu. Dillinger dengan mudah mengelabui mereka semua dan ketika tertangkappun masih bisa mengejek melalui media yang kesempatan wawancaranya bagaikan konferensi pers dan diijinkan sendiri oleh polisi.

Federal Bureau of Investigation (FBI)
Sebelum bernama FBI badan ini bernama Bureau of Investigation dan hanya terdiri dari tim kecil detektif. John Edgar Hoover sang direktur yang setelah keberhasilannya menangkap Dillinger lantas mengubah nama Bureau of Investigation menjadi Federal Bureau of Investigation karena peran dan kekuasaannya diperluas untuk menangani kejahatan lintas negara bagian.

Johnny Depp and Marion Cotillard

Berawal dari pengalamannya memburu, menangkap dan membunuh perampok sekelas Dillinger, FBI berkembang menjadi sebuah badan dengan kemampuan intelijen yang canggih dan ilmiah. FBI memiliki database sidik jari paling lengkap dan berbagai data profil para penjahat.

Marion Cotillard

Marion Cotillard

Penonton film ini biasanya lebih terpesona pada aksi sang perampok legendaris, apalagi ada bumbu kisah cinta antara Dillinger dan Billie Frechette yang cantik (diperankan oleh Marion Cotillard). Kalau nonton (lagi) film ini maka sebenarnya bisa disimak dari sisi sejarah bagaimana FBI dimasa masa awal dan membandingkannya dengan FBI sekarang yang sudah sangat canggih dan menjadi andalan AS dalam memerangi kejahatan dan melindungi warganya.

Kalau belum nonton, bagaimana akhir kisah Dillinger dan FBI? Apakah Dillinger mati tertembak seperti Dr Azhari atau tertangkap dan dihukum mati? Lebih baik nonton filmnya…

Noordin M Top dan Densus 88

Malam ini di Twitter yang sedang terseok karena serangan DDoS saya masih sempat membaca tweet Pak Nukman tentang baku tembak antara Densus 88 dan gerombolan teroris yang diduga diantaranya terdapat Noordin M Top, penjahat teroris yang sangat diburu itu.

Densus 88 sebelumnya telah menembak mati Dr Azahari rekan Noordin M Top yang lolos. Malam ini sedang terjadi pengepungan, sudah 4 orang tertangkap tapi identitas Noordin M Top belum di konfirmasi Densus 88.

Akankah Densus 88 dapat berkembang menjadi seperti FBI? Besar harapan kita tentunya tidak saja Densus 88 ini bisa menangkap Noordin M Top kelak tapi juga bisa berkembang menjadi sebuah badan yang punya kemampuan seperti FBI.

Apa yang dibutuhkan Densus 88 untuk bisa seperti itu? Sebagai perbandingan FBI punya pemimpin seperti John Edgar Hoover yang boleh dikatakan memimpin FBI seumur hidupnya sejak 1935 hingga 1972. Hoover memimpin FBI hingga 6 masa jabatan Presiden AS. Setelah Hoover meninggal masa jabatan direktur FBI dibatasi hingga maksimal 10 tahun saja. Mungkin Densus 88 tidak harus begitu tapi leadership menjadi isu penting. Semoga Densus 88 bisa menangkap Noordin M Top malam ini dan menjadi tonggak awal keberhasilan yang lebih besar dikemudian hari… seperti FBI.

7 Komentar

Filed under sinema

Defiance

Sebenernya saya masih seneng duduk di Cafe Mister Bean tapi si Ajo sudah beli tiketnya, terpaksa deh buru buru naik ke Studio 21 Citos…

Empat tiket untuk film Defiance, dibintangi oleh Daniel Craig.

Three Jewish brothers (Craig, Schreiber and Bell) escape from Nazi-occupied Poland into the Belarussian forest, where they join Russian resistance fighters and endeavor to build a village in order to protect themselves and others in danger.

Filmnya lumayan bagus, fitur standard film hollywood masuk pada film ini. Mulai dari plot, konflik, ketegangan dan humornya khas hollywood.

Cuma yang menarik ada sedikit perbedaan dibanding film film yang bertema perang dunia ke dua. Biasanya film tentang Yahudi cerita utama tak akan lepas dari Holocaust, seperti  film Schlinder List karya Spielberg.

Sudah menjadi kesan umum bahwa Yahudi jaman perang dunia ke dua tak ikut berperang, mereka pasif dan “sibuk” menjadi korban.

Dalam film ini kelihatannya ada beberapa hal yang ingin diangkat. Sangat jelas terlihat ketika Tuvia Bielski berniat bergabung dengan pasukan Rusia dan saat berhadapan dengan Kamerad Rusia yang memiliki anggapan bahwa Yahudi tak berperang, meragukan kemampuan berjuang keluarga Bielski. Tuvia kemudian menjawab dengan mengatakan bahwa mereka adalah Yahudi yang berperang.

Jadi ada “spesies” lain dalam masyarakat Yahudi.

Kesan itu juga muncul ketika Zus Bielski sang adik yang enggan berjuang membela orang orang Yahudi yang ikut lari ke hutan menemui mereka.

Zus beranggapan mereka itu masyarakat Yahudi Borjuis, kita Yahudi gembel bukan siapa siapa di mata mereka, kita hanya berharga ketika mereka lemah dan butuh bantuan dari gempuran serdadu Jerman yang memeranginya.

Konflik terjadi seputar masalah itu, sampai Tuvia harus menembak mati salah seorang anak buahnya yang mendominasi makanan karena merasa sebagai pejuang harus mendapat jatah makanan lebih banyak dibanding yang lain, yang tidak ikut berperang.

Dramatisasi mencapai puncaknya pada adegan pertempuran terakhir dimana Zus yang berbeda pandangan dengan Tuvia dan lebih memilih bergabung dengan tentara Rusia kembali pada kakaknya ketika rombongan anak-anak dan orang tua yang dipimpin oleh Tuvia terdesak tentara Jerman dan dengan gagah berani, cerdas dan strategis,  Zus tampil mengganyang habis tentara Jerman yang mengepung rombongan.

Menarik melihat bagaimana mereka survive dalam hutan dan perang dengan perbedaan pandangan dan status sosial yang mencolok. Zus sangat marah dan dendam pada Jerman sedangkan Tuvia lebih menghargai hidup. Bagi Tuvia menyelamatkan 1 orang tua lebih bermakna dibanding membunuh 10 tentara Nazi.

Film ini diangkat dari kisah nyata melalui sebuah buku. Digarap dengan apik membuat spirit heroik, simpati, romantis dan terharu bisa ditimbulkan bila anda menonton film ini. Bahkan ada penonton yang tepuk tangan ketika Zus berhasil menang bertempur.

Sebuah spirit yang sejatinya dan selayaknya dialamatkan pada bangsa Palestina yang kini menempati posisi keluarga Bielski dan rombongannya pada film itu. Ironisnya posisi tentara Jerman yang sangat bengis, kejam dan tak berperi kemanusiaan dalam film itu sekarang diperankan oleh Israel, negeri kaum Zionist.

Adakah Yahudi dari “spesies” yang berbeda akan muncul dan berperan seperti pada film itu? entahlah…

Chico… thx for the movie, dinner and parkir 🙂

3 Komentar

Filed under sinema

Terowongan Casablanca

Malam ini saya nonton Showbiz news yang dipandu oleh Prita Laura, bintang tamunya kali ini pembuat Film Terowongan Casablanca diantaranya produser INIDIKA, Shanker, 2 pemain diantaranya Ardina Rasti dan Jupiter Fortisimo.

Sebelum saya komentari baca dulu sinopsisnya sbb:

Setelah menghamili Astari, Refa malah pergi kuliah keluar negeri. Ketika suatu hari bertemu Astari, Refa malah merencanakan menggugurkan kandungan Astari. Namun saat prosesi pengguguran, Astari bangun dan melawan. Astari pun berhasil melarikan diri dari situ, meski anaknya sudah keluar separuh dari rahimnya dan bergelantungan di selangkangannya. Refa kalap, ia membunuh dan mengubur Astari di tanah kosong samping apartemennya yang memang banyak kuburan. Dia sama sekali tak mengetahui kalau jasad Astari sudah diambil Kuntilanak dan Astari pun menjadi setan Kuntilanak.

Sangaji, seorang dukun, berhasil memaku kepala Astari hingga dia menjelma menjadi manusia dan diserahkan pada Refa yang senang saja ditemani gadis mantan pacarnya itu. Namun saat mereka bermesraan Refa justru menarik paku yang menancap di kepala Astari yang selama ini menjadikan dia “manusia”, sehingga Astari kembali jadi Kuntilanak dan membunuhnya.

Dari hasil wawancara Showbiz tadi, sinopsis dan judul, saya ingin berkomentar bahwa Film ini tidak memiliki sinergi antara judul dan jalan ceritanya, di Showbiz News Shanker menceritakan betapa ankernya terowongan Casablanca tersebut karena dulunya terowongan itu adalah sebuah kuburan yang dibelah, tapi cerita Filmnya sama sekali tidak menceritakan hal itu, yang diceritakan justru kuntilanak yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan terowongan itu.

Tapi saya tidak tahu bagaimana nanti hubungannya karena saya belum nonton, tapi kalo dilihat dari sinopsisnya sih gak menarik lagi untuk ditonton, kan film bagus pasti sinopsisnya menarik, kalo ini mah biasa aja dan malah aneh…

Lagian yang ditonjolkan Shanker pada saat wawancara tentang keunggulan film ini adalah teknik dan sepcial efeknya yang katanya mirip film Matrix.. uuughhh tambah gak menarik lagi deh menurut gw… mending nonton TV dirumah ajah…

2 Komentar

Filed under sinema

FFI 2006

Semenjak kisruh perfilman nasional mencuat gara gara dimenangkannya film Ekskul oleh para juri FFI 2006, acara acara di TV ramai dengan pembahasan seputar perfilman nasional.

Mulai dari infotainment sampai dialog serius digelar berbagai stasiun TV. Tapi dari berbagai acara tersebut tidak semuanya menarik karena hampir selalu timpang karena tidak dihadiri oleh orang orang yang memang berkompeten dengan masalah ini.

Biasanya bila pihak penggugat (para sineas muda) hadir maka pihak tergugat (para dewan juri dan Shanker cs) tidak hadir dengan lengkap. Apakah mereka sengaja menghindar atau bagaimana, akhirnya pada suatu acara yang di pandu oleh Tika Panggabean menghadirkan salah satu juri yang saya rasa sangat berkompeten yaitu Remi Silado.

Sedangkan dari pihak penggugat salah satunya hadir Nia Dinata, saya berharap ada pembahasan yang lebih fokus ke substansi permasalahan daripada membahas soal peran LSF ataupun soal pengembalian piala Citra.

Dengan hadirnya Remi Silado pembahasan memang bergerak ke arah materi yang dipersoalkan yaitu musik dari film Ekskul yang dianggap jiplakan dari musik film lain. Saya berharap Remi yang punya reputasi dibidang musik itu akan lebih bisa aspiratif dengan pihak penggugat dan tidak defensif seperti Shanker dengan membawa pengacara segala, tapi ternyata Remi bermanuver dengan mengatakan bahwa sistem hukum di Indonesia belum bisa mengakomodasai permasalahan plagiat musik ini.

Kemudian Remi memberikan contoh beberapa lagu yang merupakan karya plagiat tapi tidak mendapat perhatian seperti lagu Burung Kakak Tua dan lagu Topi Saya Bundar. Seolah olah ingin taken for granted saja masalah plagiat musik ini. Apakah karena dia duduk di jajaran dewan juri jadi tidak mau mempermasalahkannya. Untuk lebih meyakinkan bahwa karya plagiat tidak perlu terlalu diresahkan dia memberi contoh yang menurut saya sangat sensitif, Remi mengatakan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah karya plagiat.

Kalaupun mungkin itu benar tapi dia mengatakannya dalam konteks yang tidak tepat, kalau saya mengatakan bahwa ada kepentingan untuk mencari pembenaran atas posisinya yang sedang terdesak mungkin saya berlebihan. Tapi coba saya beri ilustrasi bagaimana jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus Kristus itu bukan Tuhan tapi hanya salah seorang Nabi. Walaupun mungkin bagi orang yang mengatakan itu punya argumentasi atau bahkan keyakinan tentang apa yang dikatakannya tapi jangan katakan itu di depan orang yang beriman Kristiani, sehebat apapun argumentasinya tetap hanya akan membuat masalah atau paling tidak, tidak akan mendapat simpati.

Saya tidak tertarik lagi mendengar argumentasi Remi tentang lagu Indonesia Raya yang katanya karya plagiat itu. Apalagi melihat posisi dia yang sedang terdesak, tidakkah dia menghayati bagaimana perasaan rakyat Indonesia ketika mendengar lagu Indonesia Raya di kumandangkan 17 agustus 1945, atau pada saat atlit Indonesia meraih medali emas di Olimpiade.

Jika itu semua tidak memberi kesan dan arti yang mendalam bagi Remi maka saya mempertanyakan visi kebangsaanya.

Bagi saya perfilman nasional kedepan harus lebih memiliki integritas dan kwalitas, kalau masih di gawangi oleh orang orang yang taken for granted saja maka siap siaplah menerima film film baru yang bermasalah, jauh dari kwalitas state of art.

Viva sineas muda kita yang terus berjuang untuk perfilman nasional, semoga perjuangan kalian menemukan hasil yang sepadan dikemudian hari, aku ikut dibelakang bersama kalian.

Persoalan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sudah pernah digugat tahun 50an tapi gugatanya gagal karena tidak memenuhi syarat. Mungkin penggugat gagal menghadirkan lagu aslinya yang berjudul Lekka-Lekka itu kepengadilan yang saya sendiri juga belum pernah dengar. Jadi secara hukum belum bisa dibuktikan bahwa Lagu Indonesia Raya itu adalah karya plagiat.

1 Komentar

Filed under sinema