Category Archives: islam

Dibalik Sikap Pak Nuh Tentang YouTube

YouTubePada pertemuan dengan Menkominfo kemarin terungkap beberapa hal yang penting menyangkut pemblokiran situs YouTube.

Pak Nuh memberi tahu bahwa perintah blokir itu datang langsung dari Presiden dan ketika ditanya oleh Mas Wicaksono apakah ada kemungkinan dibuka kembali, Pak Nuh menjawab tidak, sampai YouTube menghapus video Fitna itu.

Kenapa pemerintah sampai sebegitunya?

Beberapa dari teman teman yang hadir seperti Priyadi dan Jim Geovedi sudah memberikan masukannya bahwa secara teknis pemblokiran ini tidak efektif.

Kemudian Pak Nuh menanggapi bahwa apakah karena tidak efektif lantas kita biarkan. Saya menangkap kesan dari jawaban itu bahwa Pak Nuh enggan membahas aspek teknis dari pemblokiran itu, berarti ada aspek lain yang lebih menjadi pertimbangan.

Kalau dikatakan pemerintah ingin melindungi rakyat dari rasa tersinggung karena menonton film itu saya rasa tidak tepat karena prosentase pengguna Internet di Indonesia masih kecil dibanding rakyat keseluruhan yang 220 juta lebih.

Jadi kami pengguna Internet dianggap minoritas sehingga layak dikorbankan?

Tunggu dulu, diblokirnya situs YouTube memiliki implikasi sosial. Orang jadi penasaran dan mengcopy film tersebut dalam media lain seperti CD atau file yang bisa ditransfer lewat HP.

Kalau sudah begini masalahnya jadi lain. Disebuah milis malah saya mendapati ada email yang bertanya, “Sudah nonton Fitna?”. Perilaku ini memang jadi kecenderungan. Apa apa yang dilarang maka akan diburu. Orang jadi penasaran.

Apakah pemerintah aware dengan ini? Melihat perintah pemblokiran datang langsung dari Presiden maka patut dapat diduga bahwa pemblokiran ini karena alasan alasan politis. Film Fitna menghina agama dan sudah mendapat kecaman dari pemerintah Belanda sendiri dan juga dari SekJen PBB.

Mayoritas rakyat Indonesia adalah umat Islam. Pemerintah tentu dituntut untuk merepresentasikan sikap sebagai pemerintah dari negara dengan pendudukan beragama Islam terbesar didunia. Apa kata dunia jika Indonesia tidak bersikap protes terhadap pemuatan Film tersebut oleh YouTube.

Kira kira demikianlah pertimbangan politik luar negeri Presiden SBY ketika membuat keputusan pemblokiran YouTube. Soal yang lain jadi nomor dua. Apakah itu tentang bahaya transfer film Fitna ke media lain yang justru akan menyebar dengan cara yang lebih luas, atau apakah itu tentang pengguna Internet yang butuh akses ke YouTube akan terganggu, atau apakah itu terjadi kesalahan implementasi perintah blokir sehingga yang terblokir bukan hanya YouTube tapi juga situs penting lain seperti Multiply dan Rapidshare. Semua jadi nomor dua.

Adalah aspek politik luar negeri yang menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan ini. Mengenai aspek lain jadi nomor dua. Dari diskusi kemarin terlihat bahwa Pak Nuh tidak dapat membuka diskusi lebih dalam tentang pemblokiran ini, seolah olah itu harga mati.

Bisa dipahami karena beliau hanya seorang menteri yang harus take order dari Bos besar, Presiden SBY. Pemerintahan SBY dengan ini lebih mementingkan citra pemerintahannya ketimbang memperhatikan kebutuhan dan rakyatnya dari segala golongan.

Saya yakin banyak dari pengguna Internet Indonesia yang hanya sedikit prosentasenya itu yang tidak berminat menonton film jelek yang tak berkualitas itu. Hanya sedikit yang menonton atas dasar penasaran saja.

Setidaknya itu yang diungkapkan oleh Riyogarta pada saat diberi kesempatan oleh Pak Nuh untuk berbicara. Jadi sekarang kunci bukan di Pak Nuh tapi di Presiden SBY. Rasanya kok mustahil Presiden SBY mau mengundang kami ke istana untuk dengar pendapat seperti yang dilakukan oleh Pak Nuh. Citra lebih penting, apalagi mau 2009, begitu mungkin pertimbangannya.

Kita disini tinggal bengong. Bagi saya yang tidak terlalu butuh akses ke YouTube dan Multiply mungkin tidak terlalu merasakannya, apalagi saya pakai Speedy yang berani tidak manut perintah Menkominfo. Tapi bagi teman teman lain yang butuh tentu akan sangat menderita.

Bersabarlah teman teman, badai pasti berlalu. Cuma kapan…? Melihat kenyataan ini saya merenung betapa lemahnya kedaulatan TIK negara kita ini. Tak ada alternatif lain yang bisa diberi oleh anak bangsa. Mohammad DAMT dimilis nyeletuk yang menurut saya berisi poin penting.

MDAMT bilang kini saatnya mengembangkan konten lokal lebih giat lagi, memang ada layartancap.com tapi apakah server cukup kuat? Mari kita coba. Kita tak bisa begini terus, didepan sana akan banyak sekali problem yang tak bisa dipecahkan kalau kita tidak berdaulat.

Pemerintah akan hampir pasti lebih mementingkan aspek politik ketimbang yang lainnya. Bosen mikirin pemerintah mari kita perkuat TIK Indonesia sehingga kita bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

Iklan

64 Komentar

Filed under curhat, islam, politik

Keluarga Muslim Bali

Silaturahmi Muslim BaliHari minggu kemarin saya menghadiri silaturahmi keluarga muslim Bali se Jabodetabek. Acara ini terakhir kali diadakan tahun 2003 di TMII. Silaturahmi ini punya riwayat panjang sejak tahun 80an.

Pertengahan 80an pengurusnya vakum karena anggota yang menggiatkan acara ini meninggal dunia. Kemudian kepengurusan diketuai oleh Abdullah Baharmus dan beberapa kali acara sempat diadakan walaupun tidak secara rutin.

Berbagai macam kendala membuat silaturahmi ini seperti antara hidup dan mati. Mulai dari kendala komunikasi, database anggota, pendanaan hingga kepergian pengurus ke-Rahmatullah yang begitu tiba tiba mewarnai riwayat silaturahmi warga muslim Bali di perantauan ini.

Saya masih ingat silaturahmi terakhir tahun 2003 di TMII begitu berkesan dan masih lengkap dihadiri anggota yang belum meninggal. Kini 2007 tercatat beberapa anggota telah pergi meninggalkan kita diantaranya tokoh nasional mantan ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) KH Hussein Umar.

Kemudian seksi sibuk Mas Idris yang menjadi motor penggerak kegiatan di waktu waktu sebelumnya, kemudian terakhir masih dalam hitungan hari dan masih dalam rangka kegiatan persiapan acara silaturahmi kemarin, Mas Cuk Sarudin salah seorang panitia, telah wafat secara tiba tiba akibat serangan stroke, sungguh suatu kehilangan yang mendalam.

Ketua paguyuban silatutrahmi muslim bali bpk Abdullah Baharmus memberi sambutan pembukaan dilanjutkan oleh ceramah agama oleh bpk Prof KH Ali Yafie. Acara yang mengambil tempat di Warung Bali Lebak Bulus ini mengagendakan pergantian kepengurusan karena penguruh yang lama telah bertugas hampir 20 tahun. Secara aklamasi dipilih ketua yang baru Mas Sunaryo Sarudin SH (kakak Mas Cuk Sarudin alm).

Banyak hal menarik sebenarnya yang bisa digali dari komunitas muslim Bali ini. Bagaimana kami berinterkasi dengan saudara kami yang Hindu dimasa lalu. Salah satu contohnya adalah ditemukannya Al-Quran tertua di Indonesia oleh Soegianto Sastrodiwiryo yang meyakini bahwa penulisnya adalah seorang muslim Bali. Soegianto sekarang sedang menyusun buku tentang jejak jejak Islam di Bali.

Abdullah Baharmus juga menceritakan bagaimana kelompok muslim Bali pada saat peristiwa Bom Bali turut serta di garda depan membantu evakuasi korban Bom Bali. Kemudian juga bagaimana negara negara Timur Tengah yang sangat terbantukan oleh peran muslim Bali dalam menyalurkan bantuan kepada korban Bom Bali.

Warga muslim Bali sangat mengutuk peristiwa Bom Bali sebagai suatu peristiwa yang merusak sendi sendi kehidupan beragama di Bali yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Dan tentu saja juga merusak industri pariwisata Bali dan Indonesia secara umum.

Muslim Bali memiliki makna penting bagi kehidupan beragama di Bali dan di Indonesia pada umumnya. Muslim di Bali adalah minoritas tapi kami bisa hidup rukun dan damai bersama saudara kami yang mayoritas Hindu di Bali. Mereka menyebut kami sebagai nyame selam (saudaraku yang islam).

Dalam berbagai sendi kehidupan sosial kami berbagi suka dan duka. Tapi dalam kehidupan beragama kami saling menghargai dan tak pernah mencampur adukan akidah. Kami tak pernah menyebut Tuhan kami sebagai Sang Hyang Allah. Kami tak pernah beribadah menggunakan aksesoris peribadatan umat Hindu.

Warga muslim Bali tidak melakukan dakwah agresif kepada warga Hindu untuk mengislamkan mereka. Kalaupun ada perpindahan agama maka biasanya karena perkawinan.

Dalam jaman perang kemerdekaan kami ikut berperang bersama mereka mengusir penjajah. Dalam makanan umat Hindu menghargai bahwa kami tidak memakan daging babi. Masih banyak kisah mesra yang belum kami ceritakan yang sesungguhnya amat berharga untuk memupuk kerukunan hidup beragama.

Apa sebenarnya muslim Bali itu? Muslim Bali adalah orang Bali yang muslim. Bagaimana bisa mengklaim sebagai orang Bali? Orang Bali pada umumnya juga bukanlah orang Bali asli. Orang Bali asli hanya sedikit dan mendiami daerah tertentu. Orang Bali pada umumnya merasa berasal dari Jawa yang datang ke Bali ratusan tahun yang lampau bersamaan dengan invasi Majapahit ke pulau Bali.

Kemudian gelombang pendatang berkelanjutan. Salah satunya adalah ketika pasukan Mataram jaman Amangkurat ke I menyerbu Jawa Timur (Blambangan). Sebagian pasukan Mataram tersebut ikut ke Bali sebagai tentara bayaran dan menetap di Bali dengan tetap memeluk agama Islam. Oleh Raja Bali mereka diperlakukan istimewa dan diberi tanah lungguh buat desa mereka di Pegayaman.

Gelombang selanjutnya datang sebagai pedagang dan berbagai macam profesi. Jaman penjajahan kolonial banyak pendatang yang berprofesi sebagai guru, termasuk ayahnya Bung Karno(termasuk juga leluhur saya dan leluhur sebagian besar para anggota muslim Bali yang lain).

Pendatang dari Jawa Timur dan Madura banyak berprofesi sebagai penjual dan pembuat masakan khas Jawa Timur seperti sate, rawon dan soto yang sangat mudah ditemui di Singaraja hingga kini. Banyak juga pendatang dari suku Bugis sebagai nelayan dan guru agama (guru ngaji masa kecil saya orang Bugis bernama Pak Samsudin).

Kenapa banyak pendatang? Karena Singaraja adalah kota dagang dan pelabuhan, jaman dulu ada jembatan untuk kapal berlabuh. Saya waktu SMP sering mancing di jembatan itu bersama Paklik saya Sutrisno.

Kampung kampung di Singaraja banyak diberi nama sesuai dengan asal pendatang. Karena itu ada Kampung Bugis, Banjar Jawa, Kampung Sasak, Kampung Arab, Kampung Tinggi (pecinan). Kampung orang tua saya bernama Kampung Mumbul karena ada tempat mata air.

Bahkan saking banyaknya kampung kampung non Bali di tengah kota Singaraja itu hingga ada satu kampung ditengah kampung kampung non Bali yang bernama Banjar Bali. Aneh yah, di Bali ada kampung bernama Banjar Bali. Itulah Singaraja.

Di daerah lain juga kurang lebih sama. Pada waktu silaturahmi kemarin terasa belum diberi porsi cukup untuk saling mengenal antar warga muslim dari daerah lain (Klungkung, Badung, Gianyar, Tabanan, Negara dan Karangasem). Ada 300 orang dan mereka berkelompok sesuai dengan daerah mereka sendiri.

Rapat pemilihan ketua baruSebagian dari mereka dari generasi tua. Yang muda hanya bengong tak kenal siapa siapa lagi. Apalagi jika orang tua mereka telah meninggal. Kemungkinan mereka tidak akan datang lagi pada acara silaturahmi berikutnya.

Karena itu saya berharap dengan kepengurusan yang baru ini akan dapat membuat program acara silaturahmi yang bisa membuat kita saling mengenal lebih dekat lagi. Terutama untuk keluarga muslim Bali yang telah meninggalkan Bali secara fisik tapi dihati mereka masih merasa sebagai muslim Bali.

Pipin dan kedua anaknya Alif dan Rani. Putra Om Hussein Umar: Emil dan keluarganya Echa dan Fouz.Sebagai contoh keluarga KH Hussein Umar beserta istri yang beliau berdua telah wafat namun putra putri beliau masih hadir di acara silaturhami tersebut.

Banyak juga saya lihat generasi muda yang lain yang masih semangat mau hadir. Mungkin karena merasa senasib diperantauan.

Apapun itu kita perlu menjalin silaturahmi lebih erat lagi. Kita ingin seperti eratnya keluarga Minang di perantauan yang sungguh luar biasa.

Saling membantu jika ada kesusahan (biasanya bila ada yang meninggal) dan saling berbagi kebahagian (biasanya bila ada yang menikah). Dalam acara tersebut oleh Sekjen terpilih Ida Bagus Mayure diusulkan untuk memiliki sebuah website untuk forum komunikasi maya.

Saya sangat setuju dan mendukung 100%. Mungkin sebagai langkah awal saya akan buat sebuah Blog untuk melaporkan segala sesuatu tentang kegiatan silaturahmi.

Bagi warga muslim Bali yang belum bergabung silahkan bergabung denga komen di Blog ini.

36 Komentar

Filed under islam, sosial

In Memoriam Om Hussein Umar

KH Hussein UmarBang Hussein, demikianlah ayah saya memanggil beliau. Nama itu pertama kali saya dengar waktu masih dibangku kuliah tahun 90an. Ketika itu saya dan ayah sedang menyusuri jalan Kramat Raya dan tiba tiba ayah menunjuk ke sebuah gedung seraya berkata “Itu, disitu dulu kakekmu berkantor, sekarang ada Bang Hussein disitu”. Ramainya lalu lintas membuat perhatian kami teralihkan, saya tidak sempat bertanya tentang apa yang dikatakan ayah.

Rupanya gedung yang dimaksud adalah gedung DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Saya baru tahu setelah ayah mengajak sholat jum’at disana. Siapa sebenarnya Hussein Umar saya tidak terlalu hirau, maklum waktu itu perhatian saya hanya kepada bidang yang berkenaan dengan IT. Karena itu saya tidak banyak tanya tentang beliau.

Yang saya tahu Om Hussein itu orang yang kalau sedang bicara ditelpon dengan ayah selalu membicarakan masalah politik, agama dan berbagai macam masalah kenegaraan lainnya.

Beberapa topik yang saya masih ingat pernah didiskusikan antara lain tentang partai Masyumi, tentang strategi para misionaris, tentang perpustakaan, tentang strategi dakwah dan masih banyak lagi. Pernah juga Om Hussein menanyakan sebuah buku milik kakek saya yang merupakan pemberian dari Pak Natsir untuk kakek yang berjudul “Islam Sebagai Dasar Negara”. Ayah berencana untuk memfotocopy buku tersebut dan memberiakannya kepada Om Hussein.

Walaupun saya tidak terlalu tertarik tapi ayah selalu menceritakan topik yang sedang didiskusikan dengan beliau. Mungkin ayah berkeinginan supaya saya bisa memiliki perhatian dengan masalah selain IT.

Sibuk dengan perkuliahan dan akhirnya selesai tahun 1998 pada saat reformasi bergulir, dapat saya gambarkan suasana pada saat itu menegangkan dan masyarakat bingung mencari kepastian politik.

Waktu itu terjadi tarik ulur kekuatan antara kaum status-quo dan kaum reformis. Hampir semua pihak mengidentifikasi diri sebagai kaum reformis, mulai dari MPR, DPR dan bahkan Kabinet Pembangunan VI waktu itu.

Ditelevisi terlihat Pak Amin Rais dan teman teman mahasiswa memberi support mental kepada MPR untuk berani mengeluarkan pernyataan mundur kepada Presiden Soeharto. Setelah pernyatan mundur dari MPR keluar lantas ABRI mengeluarkan statement bahwa pernyataan MPR tersebut tidak sah yang membuat suasana menjadi sangat tegang dan bahkan mencekam.

Berbagai lembaga dan dewan kemasyarakatan kemudian silih berganti tampil ditelevisi untuk memberi arahan kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan. Pernyataan demi pernyataan menjadi wacana tarik ulur kekuatan politik. Ada yang tegas tapi ada juga yang masih abu abu dalam bersikap.

Kami sekeluarga sangat menanti pernyataan resmi dari DDII dan berharap suatu pernyataan yang tentu saja pro gerakan reformasi. Sampai akhirnya Pak Anwar Harjono ketua umum DDII pada waktu itu tampil ditelevisi dengan pernyataan bahwa gerakan Reformasi harus dilakukan dan dipimpim oleh Presiden sendiri.

Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengecewakan, ayah terlihat sangat gusar dan berusaha menghubungi Om Hussein untuk meminta konfirmasi tentang statement tersebut. Tapi apa daya Om Hussein susah sekali dihubungi lewat telephone. Kami berniat berangkat ke Kramat Raya tapi melihat kondisi dijalan yang tidak aman waktu itu kami urungkan niat.

Saya tidak ingat lagi bagaimana sikap DDII setelah itu karena kami kecewa dan sibuk menggalang dukungan pro reformasi dari berbagai pihak. Bahkan saya sempat dengan bahasa pemrograman PERL membuat sebuah forum di web dengan judul Pro-Reformasi yang cukup ramai dikunjungi waktu itu.

Lama berselang setelah itu tepatnya tahun 1999, saya sudah bekerja di sebuah perusahaan ISP dan sedang ada proyek pembuatan aplikasi Web yang dikerjakan onsite di gedung DPR untuk fraksi PPP atau fraksi Karya Pembangunan kalau tidak salah, saya harus menscan foto ketika mendapati foto Om Hussein.

Sejak saat itu saya kembali tertarik menanyakan pribadi Om Hussein kepada ayah, karena beberapa kali saya melihat beliau di TV maupun artikel di web dengan pikiran dan perhatiannya pada dunia dakwah Islam. Terlebih lagi karena beliau memiliki kesamaan historisitas dengan keluarga kami. Sama sama memiliki darah Bali (ibunda Om Hussein adalah wanita asli Bali dari Karangasem) dan juga kesamaan visi tentang Islam sejak perkenalan beliau dengan keluarga kami pada tahun 50an ketika kakek saya menjadi ketua GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) untuk wilayah Sunda Ketjil.

Om Hussein kemudian menjadi sosok idola ketika mengetahui kiprahnya di Parlemen dalam usaha penghapusan Pancasila sebagai asas tunggal. Ciri khas orang Masyumi yang tidak luntur mengingatkan kenangan kami akan kakek tercinta yang dulu pernah menjadi wakil partai Masyumi di Parlemen propinsi Bali dan Sunda Ketjil.

Ciri yang khas adalah berani dan amanah tampak ketika jaman pemerintahan Gus Dur ketika Gus Dur mulai tidak disukai rakyat dan dituntut untuk mundur. Waktu itu saya trauma lagi dengan DDII dan menduga jangan jangan DDII memihak Presiden lagi. Tapi keraguan itu sirna begitu mendengar Om Hussein yang masih sekjen DDII dengan berani menyatakan bahwa Gus Dur tidak arif dan biang masalah.

Untuk ukuran sekarang sulit kita mencari tokoh yang amanah dan berani sekaligus pintar. Kalaupun ada seperti Om Hussein maka akan dianggap berbahaya oleh penguasa -mungkin karena itulah Om Hussein tidak terpilih sebagai penasihat Presiden tapi yang terpilih adalah Ma’ruf Amin (bukan orang nomor satu di DDII)-

Pertemuan terakhir saya dengan Om Hussein terjadi kalau tidak salah tahun 2006 di TMII anjungan Bali, waktu itu ada pertemuan reuni muslim Bali yang tinggal di Jakarta. Sebenarnya saya ingin sekali ngobrol panjang lebar dengan beliau tapi Om Hussein sibuk ngobrol dengan ayah dan saya tidak enak hati untuk nimbrung.

Banyak rencana yang ingin saya lakukan dengan beliau, seperti membuat web site untuk DDII, rencananya saya ingin main ke rumah beliau atau ke kantor DDII untuk sosialisasi dengan lingkungan DDII. Tapi rupannya bukan saya saja yang rindu bertemu dengan Om Hussein, rupanya Pak Natsir, Hamka, Kasman Singodimejo dan bahkan Rasulullah juga sudah rindu untuk bertemu beliau. Kepergian Om Hussein yang sangat tiba tiba begitu mengagetkan, sungguh suatu kehilangan besar untuk perjuangan dakwah Islam Indonesia.

Semoga pengganti beliau mewarisi sikap seorang Masyumi yang tidak pernah luntur.
Dan aku pun masukkan dalam daftarmu.

4 Komentar

Filed under islam, tokoh