Category Archives: budaya

Klaim Tari Pendet: Inferioritas Malaysia

Beberapa postingan dalam blog saya boleh dibilang “abadi”. Artinya tidak pernah surut pembaca (dilihat dari trafic stat) dan komentar, selalu saja ada yang memberikan komentar. Diantaranya adalah Fenomena Kangen Band dan Prisa The Cute Devil.

Selain kategori musik, yang juga termasuk “abadi” adalah postingan tentang Malaysia. Biasanya postingan tentang Malaysia kembali ramai dicari dan dikomentari pada saat situasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Sekarang ini terjadi lagi.

Media gencar memberitakan perihal tari Pendet Bali yang diklaim oleh Malaysia. Seperti biasa berita ini mengundang reaksi yang keras dari masyarakat Indonesia. Saya sendiri juga merasa geram untuk yang kesekian kalinya setelah Angklung, Reog Ponorogo, Wayang Kulit dan banyak lagi yang lain yang tidak sempat saya tulis di blog.

Wayang dan Keris sudah menjadi World Heritage yang diakui dari Indonesia tapi toh tetap saja tidak menyurutkan aksi Malaysia. Bahkan sekarang Tari Pedet yang sudah sangat terkenal berasal dari Bali itu pun digasaknya. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan geleng geleng kepala.

Sebelum saya ikut komentar keras seperti pada postingan saya sebelumnya tentang Malaysia, saya ingin lebih jernih kali ini. Melihat tingkah pemerintah Malaysia yang bebal menurut saya sudah tidak masuk akal. Apakah mereka terlalu bodoh mengklaim tari Pendet yang sudah terkenal dari Bali sebagai budaya mereka? Pasti ada penjelasanya.

Radhar Panda Dahana

Sebagai pembanding saya ingin tahu bagaimana reaksi sementara sebagian budayawan tentang hal ini maka saya coba kutip Republika, Rabu (19/8), yang memuat pendapat dari Radhar Panca Dahana tentang klaim Malaysia atas tari Pendet Bali.

Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. “Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli,” ujarnya.

Untuk dapat menjadi jernih marilah kita kesampingkan terlebih dahulu kemarahan terhadap Malaysia. Mas Radhar memposisikan kita sebagai bangsa yang terluka dan malu. Saya tidak ingin berada dalam posisi itu dalam melihat masalah ini. Saya ingin berada diluar untuk dapat melihat dari perspektif yang berbeda, bukan dari perspektif orang yang marah. Apakah benar ini sebuah kecolongan? Apakah kita perlu merasa terluka dan malu?

“Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,” katanya.

Mencoba memahami kutipan dari Republika itu: dikatakan Malaysia pintar menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan sementara kita tidak, kita lebih perduli pada olahraga dan program lainnya. Lantas kita yang seharusnya lebih menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil.

Apakah itu yang disebut dengan menghargai kebudayaan? Jika kita sudah menggunakan kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil maka itu sudah disebut menghargai kebudayaan? Bukankah selama ini itu yang sudah dan sedang terjadi di Bali, bahkan perkembangannya sudah mengarah ke arah komersialisasi kebudayaan yang mulai eksesif dan dikhawatirkan oleh banyak pihak akan merubah Bali sama sekali. Sebut saja pembangunan properti untuk keperluan pariwisata yang kurang mengindahkan aspek harmonisasi landscape kebudayaan setempat.

Kalau yang dimaksud dengan menghargai kebudayaan adalah menggunakannya untuk kepentingan komersil terutama pariwisata seperti yang dilakukan Malaysia maka menurut hemat saya, kita bukannya tidak menghargai, bahkan kita sudah “terlalu” menghargai.

Menurut saya menghargai sesuatu adalah pertama tama dengan pengakuan, penggunaan manfaatnya dan pelestariannya. Pengakuan akan menjadi identitas dan bila diterjemahkan dalam bahasa teknis adalah dengan pendataan dan peresmian yang minim dilakukan pada bangsa kita. Penggunaan manfaat seperti pariwisata untuk manfaat ekonomi, kesenian untuk manfaat hiburan, teknologi untuk manfaat kesejahteraan dan bahkan kebudayaan bisa digunakan untuk manfaat politik.

Tapi seluruh penggunaan manfaat itu tidak boleh merusak pelestarian kebudayaan itu sendiri. Jadi kebudayaan juga harus dilestarikan, dijaga orisinalitasnya, dirawat eksistensinya di masyarakat, diberikan ruang untuk hidup. Ketiga aspek penghargaan ini saling terkait satu sama lain. Mereka bisa terdapat dalam sebuah sikap. Jika digunakan maka bisa terjadi sekaligus pelestarian. Tapi bisa juga hanya salah satu saja dari aspek diatas, misalnya hanya memanfaatkan saja tanpa mau melestrasikan, atau hanya mengakui saja tanpa mau menggunakan manfaatnya. Untuk dapat disebut menghargai menurut hemat saya harus mengandung tiga aspek diatas.

Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. “Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita,” tandasnya.

Apa yang dikutip Republika diatas adalah suatu bentuk usaha penggunaan manfaat sebagai upaya pengakuan dan pelestarian yang diharapkan mampu mencegah kita dari “kecolongan” lagi. Tapi harapan itu kelihatannya masih sumir. Kenapa demikian? Untuk tahu jawabannya kita mesti pahami duduk persoalannya.

Pertama perlu dipahami apa yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia. Malaysia menggunakan kebudayaan Indonesia untuk mengambil manfaat ekonomi pariwisata. Kemudian masyarakat Indonesia lebih menyuarakan keberatannya atas pengakuan. Ini dua hal yang berbeda. Penggunaan manfaat tidak otomatis menjadi pengakuan jika tidak disertai suatu pernyataan resmi seperti mengusahakan hak paten misalnya. Pernahkah kita dengar pernyataan resmi dari pemerintah Malaysia tentang klaim Tari Pendet ini?

Kata klaim pada tari Pendet sejauh ini saya lihat hanya ada di media, entahlah untuk tujuan apa media melakukan itu tapi masyarakat menjadi percaya bahwa Malaysia melakukan klaim. Lantas mulai muncul suara yang mengatakan semua ini akibat kita yang kurang menghargai kebudayaan kita sendiri.

Lantas kalau kita sudah menghargai kebudayaan kita maka apakah Malaysia tidak akan melakukan itu lagi? Saya skeptis. Saya kira Malaysia hanya mau dan bisa menggunakan manfaatnya, saya kira juga mereka tidak akan mampu melestarikan apalagi mengakuinya. Untuk melestarikan itu berat, kebudayaan itu harus hidup dalam epistimologi masyarakatnya. Ketika kebudayaan itu lestari dalam sebuah masyarakat maka akan memperoleh pengakuan.

Sekarang siapa yang mau percaya tari Pendet yang sarat dengan ornamen Bali itu adalah kebudayaan Malaysia? Hanya orang bodoh yang akan percaya.

Lalu kenapa Malaysia jalan terus? Seperti yang saya katakan diatas, Malaysia bukan mau mengklaim, karena memang tidak bisa, tapi hanya mampu menggunakan manfaatnya. Kalau sudah begini saya rasa kita tidak perlu merasa kecolongan. Pakailah sesukamu. Tapi kita perlu jengah, kita yang melestarikan tapi orang lain yang mengambil manfaat. Sebenarnya tidak keberatan juga, cuma karena Malaysia ini tengil jadi banyak yang marah. Kenapa tengil?

Menjadi menarik melihat kenapa Malaysia begitu. Semua ini akibat dari konsep Malaysia is a Truly Asia. Malaysia terdiri dari mayoritas tiga bangsa antara lain bangsa Melayu, bangsa Cina dan bangsa India. Jadi tidak ada bangsa Malaysia. Mereka merasa, atau pemerintahnya merasa bahwa Malaysia adalah miniatur dari berbagai bangsa bangsa di Asia karena itu berhak menyandang “gelar” Truly Asia. Dalam usahanya mewujudkan Truly Asia mereka mengumpulkan produk kebudayaan dari berbagai bangsa bangsa di Asia ini sebagai mosaik.

Jadi sebaik apapun kita mampu menghargai dengan melestarikan kebudayaan kita sendiri, itu tidak akan menghentikan usaha Malaysia dalam “mencuri” kebudayaan Indonesia. Mereka sedang membangun identitas berdasarkan konsep Truly Asia. Apakah ini konsep yang brilian? Saya rasa ini konsep yang kontra produktif buat Malaysia. Alih alih mendapat pengakuan tapi justru menuai kontroversi yang bermuara pada citra negatif.

Pencitraan Truly Asia itu sendiri hanya dipermukaan yang bersifat artificial. Sementara di dalam Malaysia sendiri tidak pernah terjadi pembauran kebudayaan antara tiga bangsa besar tadi. Konsep Truly Asia muncul sebagai akibat dari sindrom inferioritas yang dalam beberapa kasus dapat menjadi sebaliknya.

Saya ingin ambil contoh dalam sejarah. Alexander The Great adalah pahlawan bangsa Yunani yang diakui oleh dunia. Kekaisaranya membentang dari Eropa hingga Asia. Melalui Alexander kebudayaan Yunani memberi pengaruh yang kuat pada berbagai kebudayaan besar dunia.

Tapi tahukah bahwa Alexander mengalami kompleks inferioritas dalam dirinya? Kala itu orang Yunani yang dianggap sebenar benarnya adalah orang Athena. Sementara Alexander bukan orang Athena tapi orang Macedonia yang lahir dan besar di kota kecil bernama Pella di pinggiran Yunani.

Selama masa kecil dan remajanya Alexander terobsesi untuk menjadi orang Yunani yang sebenar benarnya dengan membaca buku buku karya penulis Athena (Illiad karya Homerus), berguru pada cendikiawan Athena (Aristoteles) dan bermimpi menjadi pahlawan Athena (Achilles).

Rasa bangga yang tak terkira ketika Alexander membebaskan Athena dari tekanan Sparta membuat inferioritasnya berbalik menjadi superioritas untuk menaklukan Eropa mulai Persia hingga Asia barat (India). Pembuktian bahwa dirinya mewarisi kebudayaan Yunani yang Agung.

Psikologi inferioritas yang kurang lebih mirip terjadi pada pemerintah Malaysia. Ingin menjadi lebih besar dari kebudayaan Indonesia dengan menggunakan label Truly Asia. Untuk menjadi besar butuh figur besar seperti Alexander pada bangsa Yunani, atau figur seperti Bung Karno pada bangsa Indonesia. Malaysia tak memiliki itu dan Truly Asia hanya akan menjadi label. Kasihan. Kalau mereka bijak dan berjiwa besar, Truly Asia tak usah dilanjutkan tapi diubah, seperti apa? Bukan urusan saya.

Kita tak perlu malu, terluka atau merasa kecolongan. Sedekahkan saja. Namun demikian penghargaan pada kebudayaan kita harus tetap ditingkatkan, terutama pada pelestarian. Hidupkan kesenian, perdalam budi pekerti, kuasai teknologi dan kita akan hidup dalam kebudayaan yang luhur.

Update 24 Agustus 2009

Sudah selesai, mereka menyesal katanya, setelah ngeles bilang itu kerjaan swasta.

Kata mas KuncoroSo, let’s simply forgive it and forget it. See you next theft, neighbour 🙂

Iklan

120 Komentar

Filed under budaya

Radiasi Kebudayaan

Anda orang Jawa? orang Bali? Batak? Sunda? Bugis? Ambon? Atau tak mau diklasifikan? Kalau begitu sebut saja orang Indonesia? Bagaimana orang Indonesia itu? Jawabannya akan kembali ke awal. Indonesia adalah persenyawaan dari suku suku tadi. Itu sajakah? Tidak juga, Indonesia juga dapat pengaruh dari luar, sebut saja India, Arab, Tiongkok, Eropa, Amerika, Jepang dst.

Atau kalau mau disebut kebudayaanya maka menjadi Hindu, Islam, Barat, dst. Masih bisa dipecah lagi menjadi pengaruh ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme dst. Lalu unsur mana yang paling menonjol dan dominan terhadap yang lainnya.

Clash of CivilizationItu semua menjadi critical sekarang karena kita belum lagi menginjak globalisasi yang sesungguhnya tapi radiasi globalisasi itu sudah dirasakan dan membawa dampak yang mengkhawatirkan.

Tak bisakah kita escape dari semua kebudayaan besar itu untuk mendapatkan sebuah identitas yang murni? Samuel P Huntington bahkan membuat teori “Clash of Civilization“. Sebuah teori yang mengerikan dan membuat banyak pihak menjadi reaksioner.

Teori itu semakin nyata ketika boundary kebudayaan besar semakin dikontraskan oleh masyarakatnya. Lalu dimana posisi kita dalam hal ini. Terlepas dari teori itu kita tetap perlu mengidentifikasi posisi kebudayaan kita untuk dapat bersikap kontsruktif.

Tidak ada kebudayaan yang benar benar murni. Apalagi Indonesia yang majemuk ini. Di Indonesia terjadi perkawinan kebudayaan hingga melahirkan kebudayaan baru yang tak meninggalkan ciri kebudayaan yang lama. Bagaimana komposisinya perlu dilihat bagaimana cara masuknya.

Arnold J ToynbeeBagaimana suatu sistem kebudayaan masuk ke sistem kebudayaan yang lain. Berikut adalah dalil dari sejarawan terkemuka Arnold. J. Toynbee tentang Radiasi Budaya:

Pertama, aspek budaya tak pernah masuk secara keseluruhan melainkan secara partial sesuai dengan lapisan aspeknya. Contohnya kebudayaan Barat bila dipecah akan memiliki lapisan aspek dari yang terluar aspek teknologi, seni, etika dan agama.

Kedua, kekuatan menembus suatu aspek budaya berbanding terbalik dengan nilai budaya. Aspek terluar yakni teknologi memiliki nilai budaya yang paling rendah sedangkan lapisan terdalam yakni agama memiliki nilai budaya paling tinggi.

Teknologi baru akan mudah sekali diterima oleh suatu masyarakat tetapi agama baru akan sulit sekali untuk diterima. Ini karena teknologi sebagai lapisan terluar yang memiliki nilai budaya terendah memiliki nilai kegunaan praktis yang paling tinggi.

Suatu masyarakat ketika menerima sebuah kebudayaan baru akan memilah milah aspek budayanya sehingga mereka dapat menyaring mana nilai terluar dan mana nilai terdalam.

Tiongkok misalnya telah berhubungan dengan kebudayaan Barat sejak abad ke 17 tapi sedikit sekali nilai budaya Barat dari aspek yang lebih dalam dari teknologi yang berhasil masuk. India dan Jepang juga demikian. Mereka menerima teknologi Barat tapi agama tak dibiarkan masuk seperti halnya teknologi.

Ketiga, suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya dari lapisan yang lebih dalam. Masuknya teknologi berupa televisi telah membuka jalan masuknya aspek seni pada masyarakat. Budaya Pop Barat yang berada pada lapisan kedua terluar (seni) masuk melalui teknologi tv dan radio.

Keempat, aspek budaya yang tidak berbahaya pada suatu masyarakat bisa jadi berbahaya pada masyarakat lain yang menerima budaya tersebut. Toynbee memberikan contoh tentang Nasionalisme.

Nasionalisme sebagai sebuah ideologi yang baru berkembang di Eropa abad ke 19 sebagai akibat tumbuhnya negara negara nasional yang berproses sejak abad ke 17, ketika masuk ke Timur, terutama Timur Tengah menjadi sesuatu yang berbahaya karena Nasionalisme telah memecah belah jazirah Arab.

Hingga kini tak bisa bersatunya negara negara Arab menjadi salah satu kunci gagalnya usaha perdamaian dikawasan itu karena adanya split nationalism itu tadi. Nasionalisme yang merupakan evolusi historis di Barat telah menjadi berbahaya ketika masuk ke Timur Tengah.

Saya sedang memikirkan dalil ke empat ini mungkinkah berlaku sebaliknya? Suatu budaya yang berbahaya pada suatu sistem kebudyaan menjadi tidak berbahaya ketika di masuk sistem kebudayaan yang lain.

Seperti contoh budaya Skinhead di Inggris yang dianggap berbahaya ketika masuk ke masyarakat kita menjadi sesuatu yang sifatnya fashion. Dari dalil ke dua Toynbee, Skinhead di negara asalnya berada dalam lapisan aspek budaya etika tapi ketika masuk ke Indonesia yang diterima hanyalah lapisan aspek budaya seni. Artinya ada proses saringan oleh masyarakat yang menerimanya.

Tapi harus diwaspadai tentang dalil ke ketiga Toynbee yakni masuknya suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya yang lebih dalam.

Banyak lagi kasus radiasi budaya yang perlu kita waspadai terutama menjelang era globalisasi karena globalisasi memberi jalan tol yang sangat lebar bagi masuknya aspek budaya asing. Bila kita tidak memiliki perangkat yang memadai untuk mengantisipasi maka yang terjadi adalah terdesaknya suatu budaya yang lebih lemah atas yang lebih kuat (creolization).

Tapi bila kita mampu menyaring dengan baik maka yang terjadi adalah perkawinan budaya yang cantik sekali (hibridization). Tapi ada lagi yang lebih menakutkan yaitu bila kita berusaha keluar dari penindasan oleh budaya asing tapi gagal melakukan perkawinan budaya maka yang terjadi adalah penajaman boundary dengan ciri pencarian identitas yang salah kaprah (crystallization). Kalau sudah begini maka clash of civilization tak terhindarkan lagi.

3 Komentar

Filed under budaya

Kontemplasi Kebudayaan

SultanSri Sultan HB X dalam bukunya “Merajut Kembali Ke Indonesiaan Kita” meminjam istilah Max Lane ngatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang belum selesai (Unfinished Nation).

Dalam bukunya itu Sultan mengemukakan pendapatnya yang sejalan dengan pandangan antropolog terkemuka Clifford Geertz yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat sulit dilukiskan anatominya karena begitu kompleksnya kebudayaan Indonesia yang bersenyawa menjadi satu.

Menurut Sri Sultan, masyarakat Indonesia masa kini, sesungguhnya bukan lagi konstruksi pluralisme tradisional suku, agama, atau ras, tetapi konstruksi neo-pluralisme. Artinya, struktur kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil atau neo-tribal. Dengan demikian peta pluralisme menjadi demikian kompleks. sehingga membawa kepentingan yang menjadi semakin terfragmentasi.

Saya belum membaca buku Sri Sultan tersebut tapi dari poin poin yang dikemukakan kelihatannya buku itu lebih banyak membahas tentang konsep antisipasi dari keadaan yang sedang terjadi sekarang. Keadaan masyarakat kita sekarang memang persis seperti yang diuraikan oleh referensi yang digunakan oleh Sri Sultan antara lain Max Lane, Clifford Geertz dan Benedict Anderson.

Apapun konsep yang ditawarkan menurut hemat saya akan lebih relevan bila disertai dengan identifikasi anatomi object yang ingin dianalisa. Istilah istilah neo-pluralisme, neo-tribal yang dipakai oleh Sultan adalah konsep yang butuh elaborasi lebih lanjut yang berhubungan dengan konteks.

Saya berharap bisa mendapatkan sebuah pandangan yang bisa mencerahkan seperti Kuntowijoyo yang menguraikan tentang fenomena anarkis yang diidentifikasi oleh sementara orang sebagai radikalisme agama, padahal menurut Kuntowijoyo  apa yang terjadi sebenarnya adalah bukan radikalisme agama tapi radikalisme agraris. Kuntowijoyo menjelaskan teori radikalisme agraris dengan baik sekali.

Bila uraian semacam itu tidak ada maka mungkin Sultan hanya ingin mengklasifikasikan berdasarkan observasi. Apakah klasifikasi seperti Clifford Geertz yang mengelompokkan masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok yaitu priyayi, santri dan abangan?

Saya belum tahu, belum baca. Sebuah klasifikasi seperti itu akan membuat kita memiliki kerangka dalam berpikir dan memudahkan pemahaman. Buku ini jadi menarik karena bila pikiran Sultan itu bisa menjelaskan anatomi permasalahan budaya maka barulah relevan membicarakan konsep antisipasinya. Sebagai contoh kutipan berikut:

Politik identitas dalam format identitas suku, daerah dan agama, kata Sultan, mudah menguat, yang bisa dilihat misalnya, dalam istilah “putra daerah”. Bahkan tuntutan pemekaran daerah pun sering dipicu oleh menguatnya politik identitas.

Tapi tak diuraikan analisa tentang kenapa politik identitas mudah menguat, apa penyebab kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil, dst. Sekali lagi saya belum membaca buku itu dan berharap bisa mendapatkannya dalam waktu dekat.

Apapun itu buku ini telah mengilhami kita untuk melakukan kontemplasi lebih dalam tentang budaya. Adalah luar biasa mendapati seorang tokoh budaya seperti Sultan memiliki cara pandang tersendiri yang accountable.

Saya berharap bisa mendapat gambaran tentang anatomi kebudayaan Indonesia sekaligus konsep antisipasinya dari buku Sultan tersebut mengingat globalisasi semakin “mengancam” dan kita perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin.

3 Komentar

Filed under budaya

Merajut Kembali Ke Indonesiaan Kita

Sumber: Humas UGM

Kalau dulu mempersandingkan kata “bangsa” dan “negara” belum bisa terbayangkan bagaimana wujudnya. Namun, saat ini, dengan begitu mudahnya orang mengucapkan ungkapan “demi kehidupan berbangsa dan bernegara” seakan tiada soal diantara keduanya.

Bila menukik ke dalam sejarah, maka akan terasa bahwa “bangsa” dan “kebangsaan”, baik dalam dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan “negara”, ternyata terkandung banyak masalah. bahkan sekarang, begitu banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari induknya, menjadi propinsi atau kabupaten baru, dan banyaknya permasalahan bangsa yang tak kunjung ada solusinya, terasakan bahwa keIndonesiaan kita memang perlu dirajut kembali.

SultanDemikian pernyataan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X saat peluncuran bukunya “Merajut Kembali KeIndonesiaan Kita”, Sabtu (15/3) di Auditorium Pascasarjana UGM.

Menurut Sri Sultan, masyarakat Indonesia masa kini, sesungguhnya bukan lagi konstruksi pluralisme tradisional suku, agama, atau ras, tetapi konstruksi neo-pluralisme. Artinya, struktur kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil atau neo-tribal. Dengan demikian peta pluralisme menjadi demikian kompleks. sehingga membawa kepentingan yang menjadi semakin terfragmentasi.

“Keberagaman justru cenderung menyempit, mengkristal dalam kelompok, dan dimaknai sebatas prinsip, bahwa orang lain tidaklah lebih baik dari kelompoknya sendiri. Pendapat ini mempertegas pendapat Clifford Geertz tentang sulitnya melukiskan anatomi Indonesia, karena begitu kompleks dan serba multinya unsur yang bersenyawa,” ucapnya.

Sementara, rajutan historis dan ideologis dari pluralisme tidak tumbuh dengan baik, sehingga keIndonesiaan yang terbentuk pun belum sepenuhnya utuh. Meminjam istilah Max Lane, Indonesia adalah bangsa yang belum selesai.

“Atau, jika merujuk Benedict Anderson, bangsa Indonesia adalah sesuatu yang baru terbayang, imagined. Akibatnya, seperti yang tampil saat ini, bangsa Indonesia terkotak-kotak sehingga identitas keIndonesiaannya pun rapuh,” ungkap Sultan.

Politik identitas dalam format identitas suku, daerah dan agama, kata Sultan, mudah menguat, yang bisa dilihat misalnya, dalam istilah “putra daerah”. Bahkan tuntutan pemekaran daerah pun sering dipicu oleh menguatnya politik identitas.

“Jika hal tersebut tidak berhasil didayagunakan menjadi modal sosial, maka kemajemukan bangsa bukan saja tidak akan memberikan kontribusi apapun bagi pembentukan keIndonesiaan, tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi stabilitas dan eksistensi Republik,” jelas Sultan.

SultanUntuk itu, kata Sultan, agar hal tersebut tidak terjadi, dan sebaliknya, agar keragaman bangsa dapat memberikan kontribusi signifikan bagi konsolidasi keIndonesiaan, maka mimpi bersama tentang keIndonesiaan harus diciptakan. “Karena, menurut Daniel Dhakidae, tidak pernah bisa dikatakan suatu bangsa itu ‘lahir’, namun ‘hadir’ dalam sebuah proses ‘formasi’ sebagai suatu ‘histrical being”, tandasnya.

Acara peluncuran diprakarsai oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM dan dibuka oleh Rektor Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D. Sebagai tanda launching, sejumlah tamu undangan mendapat buku secara langsung dari Sri Sultan HB X, diantaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan Dr. Meutia Hatta dan Rektor UGM. Bahkan beberapa tamu berkesempatan memberikan narasi dan pembahasan terhadap buku itu, Garin Nugroho, Surya Paloh, Prof Komarudin Hidayat, Prof Sutaryo, Maria Ulfah, Fransiscus Welirang serta Mira Lesmana.

8 Komentar

Filed under budaya

Hotel Surabaya

Tampak DepanPernahkah anda berwisata ke obyek wisata dengan nuansa kuno? Di Jogja ada banyak hotel dengan nuansa kuno. Ada yang dibangun dengan arsitektur kuno tapi banyak juga yang memang menggunakan bangunan kuno sebagai hotel.

Di Bandung ada Hotel Surabaya yang dibangun tahun 1886. Namanya Hotel Surabaya karena dibangun oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Surabaya. Arsitekturnya campuran China dan Eropa.

Dari Blognya Mas Teguh didapat keterangan:

Tampak DepanBerdasar data Bandung Heritage, Hotel Surabaya berdiri di kawasan Pecinan dan lebih tua dari Pasar Baru yang dibangun pada 1906 sebagai pasar modern pertama di Bandung yang makin memperkental keberadaan China-town di Bandung.

Dibyo Hartono, aktifis Bandung Heritage, mengungkapkan Hotel Surabaya merupakan penginapan tertua dan langka di Bandung. Tahun 1989 pernah diminta melakukan restorasi pada hotel ini oleh pemiliknya terdahulu.

Hotel ini sendiri terdiri atas tiga bangunan, bangunan pertama berada dibagian belakang yang dibangun 1886 bergaya neo-classical dan dibangun untuk menyambut adanya jalur kereta-api Batavia (Jakarta) – Bandung ditandai berdirinya stasiun Bandung pada 1884.

Bagian kaca menggunakan color glass bukan kaca patri, ujarnya. Sementara, bangunan kedua yang terdapat tower-nya dibangun antara 1900 hingga 1910 dengan gaya art nouveau, dan bangunan ketiga sudah bergaya art deco.

Menginap di Hotel ini sungguh suatu pengalaman yang mengesankan. Begitu menurut Teh Kathy yang pernah menginap di Hotel itu lewat Blognya.

PintuHotelnya di malam hari seperti hotel drakula. Selain kuno banyak bagian2 yang gelap. Yang menginap sudah tua2 sekali. Jalan menuju kamar berliku-liku seperti masuk rumah kuno yang besar.

Ada 2 ruangan terbuka untuk menonton TV ramai2, piano, foto2 yang punya hotel, meja marmer & kursi antik. Eternit/atapnya masih asbes yang motifnya timbul. Kalau lapar dihalaman hotel ada tukang mi tek2.

Langit langitKesan pertama very very spooky. Ngga bisa ngebayangin yang tidur di tingkat atas. Tapi besok paginya waktu jalan2 di sekeliling hotel ternyata orang2 hotelnya sangat ramah2 biarpun sudah tua2. Sayang hotel ini kalau lebih dirawat pasti banyak turis asing yang menginap karena modelnya antik.

Hotel Surabaya bukan hanya sebuah hotel tapi sebuah monumen sejarah dan sudah masuk dalam Bangunan Cagar Budaya. Jika saja pelaku industri pariwisata punya wawasan sejarah yang baik maka Hotel Surabaya akan bisa dikelola dengan lebih baik dan bisa diselamatkan dari kehancuran.

KamarKini sudah terlambat, atas nama uang Hotel Surabaya sudah dirobohkan. Diatas tanahnya akan dibangun sebuah hotel baru megah 8 lantai. Mungkin secara bisnis lebih menguntungkan tapi sesungguhnya kita sudah merugi karena kehilangan monumen sejarah dan hilang sudah sebuah wahana untuk memahami budaya kita.

12 Komentar

Filed under budaya

Obrolan Ringan di Cafe Chatterbox

Cafe Chatter BoxJika dua orang sahabat lama tak bersua pastilah kangen ingin bertemu. Apalagi persahabatan itu sudah dijalin sejak dari generasi orang tua mereka.

Antara keluarga Ibu Gedong Bagoes Oka dan keluarga Dr AAM Djelantik telah terjalin persahabatan yang kental hingga anak anak mereka. Konon katanya dulu hampir saja Ibu Gedong dijodohkan dengan Dr AAM Djelantik.

Mula mula pertemuan pada Blog saya dibeberapa postingan lalu kontak beberapa kali melalui email kemudian Benky Bagoes Oka (putra pertama Ibu Gedong) dan Bulantrisna Djelantik (putra pertama Dr AAM Djelantik) meminta saya untuk mengatur sebuah pertemuan.

Saya dengan senang hati melakukannya. Untuk lebih meramaikan saya juga undang beberapa orang kenalan mereka tapi ternyata yang bisa hadir hanya Ikranagara (beserta istri: Kay Ikra)

Cafe Chatterbox Sogo Plaza Senayan dipilih jadi tempat pertemuan karena berada ditengah dan dekat dari mana mana. Mereka semua adalah angkatan ayah saya dan memang sebenarnya ayah yang lebih berkepentingan dengan acara temu kangen ini.

Karena ayah juga menjadi salah seorang anggota SBS (Society for Balinese Studies) yang didirikan salah satunya oleh Dr AAM Djelantik beserta tokoh tokoh yang antara lain Prof Adrian Vickers, Prof Hildred Geertz, Prof Ngurah Bagus dkk. Tapi sayang ayah tak bisa hadir karena masih tugas di Laut Cina Selatan.

Wibi, Ikra, Bulan, BenkyTante Bulan cerita dulu pernah satu Box dengan Om Benky ketika masih bayi. Tapi kemudian Om Benky meluruskan cerita itu bahwa tak mungkin dia satu mungkin Box dengan Bulan karena beda usia mereka 5 tahun. Jadi foto berdua satu box tersebut pastilah dengan Om Rudi (adik Om Benky). “I’m too big for the baby box“, kata Om Benky sambil tertawa.

Pembicaraan dimulai pada isu hangat seputar penamaan RS Sanglah dan beberapa postingan tentang Dr AAM Djelantik di Blog saya. Tante Bulan menegaskan bahwa ayahnya dan keluarganya tak pernah minta untuk dihargai, “Ayah kami hanya memberi yang ia miliki” kata Tante Bulan. Kenapa ada pihak yang takut sekali nama Dr Djelantik dijadikan nama RS Sanglah.

Menanggapi komentator anonymous di Blog saya yang menyerang Dr Djelantik secara pribadi, Tante Bulan hanya tertawa dan mengatakan, “Saya dituduh tidak menjaga Budaya karena kurang feodal? Ayah selalu mendidik anak anaknya untuk menjadi egaliter dan perhatian pada rakyat kecil.”

Kemudian Tante Bulan menceritakan bagaimana Dr Djelantik berani mengangkat anak dari kalangan Jaba (non-bangsawan) lengkap dengan nama Djelantik dibelakangnya. Hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya oleh para bangsawan Puri Karangasem.

Kemudian pembicaraan pindah ke topik yang lain karena topik penamaan RS Sanglah itu tidak menarik. Topik yang paling seru adalah tentang film terbaru Mas Garin Nugroho yang berjudul “Di Bawah Pohon“. Film tersebut berlokasi di Bali dan kebetulan Om Ikra dan Tante Bulan terlibat disana sebagai artis.

IkranagaraTopik seru karena Om Ikra punya banyak sekali cerita tentang film itu. Cerita tentang bagaimana sebenarnya dia takut darah dan pada saat syuting dia sedang mengelus elus ayam yang baik dan ternyata ayam itu harus disembelih dihadapannya, peristiwa itu membuat Om Ikra pucat pasi dan kru disekitarnya mengira Om Ikra kerangsukan setan… 🙂

Kebetulan pada syuting itu terjadi kerasukan massal. Banyak kru dan pemain figuran yang mengelapar gelepar karena kerasukan mahluk halus di lokasi syuting. Tante terpingkal pingkal menceritakan bagaimana Om Ikra berakting sebagai orang mati yang jatuh terjengkang dengan kaki keatas seperti serangga…

Kemudian kami membicarakan Mas Garin yang dalam membuat film selalu berhasil menggabung berbagai macam aspek seni dan bahkan dokumentasi. Saya masih ingat dulu bagaimana Mas Garin membentak bentak seorang aktris junior hingga si aktris itu menangis tersedu-sedu.

Saya pikir sadis juga yah kalo jadi sutradara harus membentak pemain, tapi rupanya itu hanya teknik untuk dapat membuat si aktris menangis secara alamiah… halah… Si aktris yang mengira dimarahi beneran oleh Mas Garin tak kunjung reda tangisnya hingga scene “menangis” berakhir.

Nadia SaphiraDalam film terbarunya ini Mas Garin menggamit Nadia Saphira sebagai pemain wanita dan Om Ikra sebagai pemain pria. Om Ikra tak ada masalah dengan perannya tapi Nadia kelihatannya sudah bolak balik baca naskah tapi belum bisa menampilkan karakter seperti yang diminta, akhirnya Mas Garin memberi keleluasaan pada Nadia untuk menampilkan karaternya sendiri dan jadilah Nadia berakting.

Berakting secara alamiah menjadi kunci dari bagusnya film film Mas Garin. Karena itu pula ketika dalam film Mas Garin itu ada peran seorang penari Legong maka Tante Bulan yang dipilih untuk memerankan karakter yang tidak beda dengan dirinya sendiri yaitu seorang penari yang juga seorang dokter.

LegongBulantrisna Djelantik adalah seorang penari Legong senior yang berkiprah sejak jaman Presiden Soekarno, bahkan dalam berbagai kesempatan studinya diluar negeri Tante Bulan selalu menari sebagai upaya memperkenalkan seni budaya Indonesia.

Tante Bulan adalah murid dari maestro tari klasik Bali seperti Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog. Salah satu pementasan akbarnya adalah pementasan The Amazing Bedaya-Legong dengan lakon Calonarang.

Makanan sudah ludes, obrolan masih belum selesai, topik ngalor ngidul, sebagian besar tentang Bali. Keluhan tentang bagaimana budaya kekerasan di Bali yang akhir akhir ini semakin menjadi jadi.

Juga tentang pembukaan Djelantik Room di museum ARMA secara permanen yang memamerkan 15 lukisan Dr Djelantik secara bergantian dari total 60 lukisannya. Menurut Tante Bulan sebenarnya lebih tepat dikatakan corner daripada room, tapi apalah artinya istilah.

Sampai akhirnya Tante Bulan harus pamit karena jadwal pesawat sudah dekat. Diakhir pembicaraan Om Benky selalu sigap untuk membayar. Dia tak pernah memberi kesempatan pada yang lain untuk melakukannya… hehe

Gamelan of PeliatanSebelum bubar Tante Bulan sempat memberi cinderamata buat saya sebuah CD Gamelan Peliatan. Peliatan adalah sebuah nama desa di Bali yang sangat terkenal dengan kelompok seni tabuh dan tari.

Obrolan ringan yang terjadi tanggal 13 Januari 2008 di Cafe Chatter Box Senayan ini terasa beda apalagi saya mendapat oleh oleh yang sangat berharga, sebuah CD Audio yang isinya 9 rekaman gamelan yang direkam tahun 1954. Tahun itu merupakan kali pertama gamelan Bali dipentaskan di luar negeri dan direkam.

Sepanjang perjalanan pulang yang macet saya dengar berulang ulang dan terasa atmosfir Bali mengingatkan saya pada masa kanak kanak, sungguh indah.

9 Komentar

Filed under budaya

Hari Raya Galungan

banyumalaSaya masih ingat dulu waktu masih kanak kanak kalau nuju hari raya Galungan maka semua jadi sumringah. Keriangan bertebaran dimana-mana. Selama tiga hari penuh kegembiraan.

bantenSecara umum tahap perayaan harinya adalah Penampahan-Galungan-Manis. Sehari sebelum Galungan disebut Penampahan Galungan. Pada hari itu dilakukan penyembelihan hewan.

Saya selalu suka mondar mandir dikegiatan itu. Biasanya ada candaan diantara temen temen.

I berag: Eh cai de pesu nah!
I mokoh: Kenape? (jejeh)
I berag: nyanan cai juke ajak mekejang kadene kucit lakar tampahe… hahaha
I mokoh: beh cai ade ade de’en.

Itu mungkin mecande yang kasar tapi hanya berlaku di temen temen dekat saja sehingga tidak menyinggung perasaan.

Kemudian hari kedua yaitu hari raya Galungan itu sendiri. Saya selalu senang mengiri saudara saudara yang sedang sembahyang ke Pura. Saya kerap menjadi biang kerok ketidak tertiban karena suak memprovokasi sepupu saya yang sebaya untuk bermain kring keb. Walau saya tidak ikut masuk ke Pura tapi saya bisa bermain disekitarnya.

Hari ketiga adalah Manis Galungan. Ini hari yang dinanti nanti. Hari Manis Galungan adalah hari dimana kita melancong, tamasya atau piknik atau apalah namanya. Biasanya sekeluarga penuh kami main ke obyek wisata, yang jadi langganan kami biasanya Air Sanih, Lovina, Tenganan, Bedugul atau Kintamani.

Bertmeu STA di hari raya manis KuninganBanyak dokumentasi foto foto keluarga diambil pada hari raya Manis Galungan atau Manis Kuningan. Waktu itu saya ingat berkunjung ke cottagesnya Sutan Takdir Alisyahbana di tepi danau Batur, itu kalau tidak salah Manis Kuningan.

Masa kecil bagi saya sangat indah di Bali. Saya menikmati semua liburan dan perayaan mulai dari Idul Fitri, Idul Adha, Galungan, Kuningan, Pagerwesi dan Nyepi. Kini tak mungkin lagi saya nikmati, saya tak begitu risau karena telah mengalaminya tapi yang bikin saya risau bagaimana dengan anak anak saya nanti, bisakah mereka menikmati apa yang saya nikmati dulu itu, sementara Bali sekarang sudah banyak berubah. Apakah Galungan masih seperti dulu?

Tak bisa saya jawab dan untuk saudara saudaraku di Bali selamat Hari Raya Galungan. Bersenang senanglah sebelum semuanya itu lenyap ditelan jaman.

Artikel tentang Galungan
http://www.babadbali.com/piodalan/galungan.htm

5 Komentar

Filed under budaya