Monthly Archives: Maret 2010

Shutter Island

Ted and Chuck

Sinopsis:

Seorang pasien gila bernama Rachel Solano yang sangat berbahaya telah menghilang dari sebuah rumah sakit jiwa khusus. Rumah sakit jiwa tersebut khusus merawat pasien sakit jiwa yang paling berbahaya hingga ditempatkan di sebuah pulau terpencil bernama Shutter Island. Pemerintah Amerika mengirimkan seorang agen federal kawakan bernama Teddy Daniels untuk menyelidiki peristiwa tersebut.

Ted ditemani seorang agen muda bernama Chuck Aule. Ted sebenarnya memiliki misi pribadi ke pulau tersebut untuk mencari seorang penjahat yang telah membunuh istrinya. Penjahat tersebut bernama Andrew Laeddis yang diyakini oleh Ted dikirim ke Shutter Island karena profil kejahatan Laeddis yang karakteristiknya seperti kejahatan penjahat dengan gangguan jiwa.

Ketika Ted tiba di pulau Shutter Island, Ted mencium aktifitas illegal yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Jiwa terhadap para pasiennya. Begitu tertutupnya pihak Rumah Sakit Jiwa akan akses pada catatan para pasien dan pegawai membuat Ted memutuskan menghentikan penyelidikan Rachel Solano dan memberikan laporan kepada pemerintah federal untuk melakukan penyelidikan lebih dalam tentang Rumah Sakit Jiwa tersebut.

Satu satunya akses ke dan dari pulau Shutter Island adalah kapal fery yang tak bisa segera datang karena cuaca buruk. Ted tak bisa kembali dan memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan. Indikasi praktek ilegal semakin kuat ketika Ted bertemu dengan Rachel Solano pasien yang dilaporkan hilang tersebut.

Ted peluk istri dalam halusinasi

Terjebak di pulau yang sedang dilanda badai dan angin topan, Ted yang veteran Perang Dunia II itu harus berjuang tidak hanya untuk keluar dari pulau tapi juga harus berjuang menyelamatkan kewarasannya karena pihak Rumah Sakit Jiwa telah memberinya obat obatan yang membuatnya berhalusinasi akan masa lalunya ketika perang. Wujud almarhum istri yang sangat dicintainya selalu muncul dan berdialog dengannya membuat pergulatan emosi yang sangat kuat. Semua teka-teki, kejanggalan, keanehan dan kerancuan antara kenyataan dan halusinasi membuat Ted mulai tidak yakin dengan kewarasannya…

Leonardo DiCaprio

Leonardo memerankan Teddy Daniels dengan karakter yang kuat antara Ted sebagai agen federal dan Ted sebagai orang yang bimbang. Bahkan untuk film film sebelumnya Leonardo tak tampil seperti di film ini. Leonardo pada Titanic terlalu pop, terlalu jagoan pada The Gangs of New York. Pada film Catch Me If You Can menurut saya justru Tom Hanks rekan main Leonardo yang lebih berhasil membangun karakter.

Pada film ini akting Leonardo membuat kita terbawa pada cara pandang seorang agen federal yang cerdas tapi kemudian sama sekali tak terduga ada karakter kerapuhan jiwa sang agen handal itu. Tidak berlebih kalau saya katakan akting Leonardo kali ini adalah yang paling berbeda kalau dikatakan akting yang terbaik mungkin akan dianggap spoiler.

Martin Scorsese

Leonardo dan sutradara Martin Scorsese telah bekerja sama untuk yang keempat kalinya dalam film. Tentu semakin sering mereka bekerjasama semakin terjalin chemistry yang menghasilkan karya yang lebih baik. Kerja bareng mereka di film The Aviator menghasilkan beberapa nominasi Oscar. Jangan kaget bila kerjasama mereka kali ini akan masuk nominasi lagi pada Academy Award 2010. Menurut saya Martin berhasil membawa naskah berdasarkan novel karya Dennis Lehane yang sudah penuh dengan dialog dalam plot yang berliku kedalam visual yang artistik menegangkan.

Poster

Adegan Ted berdialog dengan Rachel dalam goa dekat mercusuar sangat artistik menurut saya. Kemudian adegan Ted masuk ke lorong di bangsal yang gelap untuk mencari Laeddis membuat penonton fX Platinum XXI tempat saya menonton beberapa kali menjerit -terutama wanita- ketika Ted menyalakan korek api. Mungkin itu sebab poster filmnya dipilih adegan Leonardo sedang memegang korek api.

Review

Menonton film ini saya teringat sebuah pertunjukan teater Koma dari naskah karya Evalds Flisar dengan tema exploitasi pasien gangguan jiwa. Tema ini sangat menarik untuk dibuatkan permainan plot yang tak terduga untuk menghasilkan kisah thriller. Dalam cerita yang berjudul “Kenapa Leonardo” tersebut dikisahkan sebuah klinik syaraf dan kejiwaan yang melakukan eksperimen terhadap pasiennya untuk menciptakan manusia super. Persis seperti apa yang dilakukan di Shutter Island.

Film ini bukan untuk yang mencari sekedar hiburan pelepas penat diakhir pekan. Film ini butuh konsentrasi untuk dipahami plotnya. Mengira ngira siapa berperan sebagai siapa. Menduga duga siapa pelaku kejahatan dalam teka teki yang tersamar. Juga butuh jantung yang sehat dan tentu saja akal yang waras sebab bisa jadi anda akan berdebat sengit dengan partner anda menonton tentang siapa sebenarnya yang nyata… “kewarasan” anda akan diuji dalam perdebatan itu nanti 🙂

20 Komentar

Filed under sinema

Java Jazz Festival 2010 Hari Pertama

JavaJazz

Pukul 17 saya masih di Mampang, padahal JJF sudah mulai dari jam 16. Macet membuat saya baru dapet parkir di JIExpo Kemayoran pukul 20. Calo bertebaran di mana mana menawarkan tiket dengan agresif kalo gak bisa dibilang maksa. Sadar saya sudah tak mungkin lagi nonton RAN maka saya langsung ke John Legend. Selepas itu baru deh ngelencer kemana mana… cuci mata…

Dari satu panggung ke panggung lain. Menarik diperhatikan bahwa event ini adalah festival dan bukan konser yang fokus pada panggung. Ada banyak panggung yang bisa dipilih, saking banyaknya bisa bingung.

Karena banyak pilihan tentukan dulu panggung mana dan jam berapa. Apalagi misalnya jika anda membawa pasangan, lebih baik sepakat dulu daripada karena gak enak ama pasangan akhirnya ngalah nonton di panggung yang tidak diinginkan.

Karakteristik panggung ternyata berbeda beda. Ada yang dengan kursi nonton di studio TV, ada yang lesehan dan bahkan ada yang berdiri. Ada yang membebaskan pengunjung keluar masuk, ada yang tidak. Saya lebih suka panggung yang lesehan ketimbang pake kursi. Lebih santai dan memang menurut saya sebaiknya demikian Jazz di nikmati.

Panggung yang membebaskan pengunjung keluar masuk lebih tepat dari pada yang diatur. Pada panggung Indra Lesmana, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan, Matez, Dewa Budjana dkk pengunjung dibebaskan keluar masuk Hall. Memang penuh tapi tertib, penonton tahu sendiri bahwa penuh gak mungkin bisa dipaksakan.

Beda dengan panggung Ecoutez yang dibatasi. Karena kami mau nonton Sandy Sondoro yang sesinya setelah Ecoutez dipanggung yang sama maka kami antri. Tapi tidak diperbolehkan masuk. Hanya diperbolehkan masuk sedikit demi sedikit, sudah 45 menit antri dan antrian belum juga mendekat ke pintu padahal sesi Sandy sudah lewat setengah jam.

Apa yang terjadi? Selidik punya selidik ternyata penonton Ecoutez pada sesi sebelumnya tidak mau keluar Hall, mereka lanjut nonton Sandy. Sebenarnya tidak masalah, asal antrian diluar diberi tahu duduk persoalannya. Seandaianya kami dibiarkan saja masuk maka pastilah bisa dipahami bahwa Hall sudah penuh dan bisa memutuskan untuk ke panggung yang lain. Apa yang terjadi adalah kami mengira ada penundaan show dari Sandy Sondoro sehingga antrian sabar menanti. Dengan kecewa kehinglangn waktu 45 menit maka kami putuskan untuk makan dulu. Gak jadi nonton Sandy Sondoro.

Karakteristik pengunjung juga beragam, tidak hanya menengah ke atas. Tapi mereka semua antusias. Apakah mereka semua benar benar penikmat Jazz betulan? Saya tidak terlalu yakin sama seperti diri saya sendiri yang hanya menikmati Jazz setelah terjadi “sinkretisme” dengan genre lain terutama POP.

Tapi paling tidak tujuan saya datang ke festival jazz ini adalah justru untuk tahu lebih banyak tentang Jazz yang Jazz, bukan POP yang Jazzy. Rata rata pengunjung lebih memenuhi panggung yang Jazzy ketimbang yang Jazz. What the hell. Dari pada pusing dengan semua itu saya nikmati saja “pemandangan” yang ada.

Sheila Madjid jadi pilihan terakhir sebelum pulang. Hall penuh, dibuka dengan Warna Warna, penonton yang semula lesehan jadi berdiri semua. Sheila sempat tanya “who grew up with my music here…”, spontan saya angkat tangan loncat loncat diikuti banya penonton yang lain. Tapi kemudian Sheila lanjut sambil terkekeh: “you must be arround 34 or above.. yeah…”. Banyak yang lantas menurunkan tangannya termasuk saya… hehehe…

Sheila: “i will make you feel young with 80’s age song”. Menikmati lagu lagu Sheila dengan irama Jazz mengisi kekosongan, apparently she was right about it. Setelah single yang tunggu tunggu “Aku Cinta Padamu” selesai saya cabut…

Sekarang mau kesana lagi, kali ini bawa kamera… ciao…

1 Komentar

Filed under musik