Monthly Archives: Agustus 2009

Klaim Tari Pendet: Inferioritas Malaysia

Beberapa postingan dalam blog saya boleh dibilang “abadi”. Artinya tidak pernah surut pembaca (dilihat dari trafic stat) dan komentar, selalu saja ada yang memberikan komentar. Diantaranya adalah Fenomena Kangen Band dan Prisa The Cute Devil.

Selain kategori musik, yang juga termasuk “abadi” adalah postingan tentang Malaysia. Biasanya postingan tentang Malaysia kembali ramai dicari dan dikomentari pada saat situasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Sekarang ini terjadi lagi.

Media gencar memberitakan perihal tari Pendet Bali yang diklaim oleh Malaysia. Seperti biasa berita ini mengundang reaksi yang keras dari masyarakat Indonesia. Saya sendiri juga merasa geram untuk yang kesekian kalinya setelah Angklung, Reog Ponorogo, Wayang Kulit dan banyak lagi yang lain yang tidak sempat saya tulis di blog.

Wayang dan Keris sudah menjadi World Heritage yang diakui dari Indonesia tapi toh tetap saja tidak menyurutkan aksi Malaysia. Bahkan sekarang Tari Pedet yang sudah sangat terkenal berasal dari Bali itu pun digasaknya. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan geleng geleng kepala.

Sebelum saya ikut komentar keras seperti pada postingan saya sebelumnya tentang Malaysia, saya ingin lebih jernih kali ini. Melihat tingkah pemerintah Malaysia yang bebal menurut saya sudah tidak masuk akal. Apakah mereka terlalu bodoh mengklaim tari Pendet yang sudah terkenal dari Bali sebagai budaya mereka? Pasti ada penjelasanya.

Radhar Panda Dahana

Sebagai pembanding saya ingin tahu bagaimana reaksi sementara sebagian budayawan tentang hal ini maka saya coba kutip Republika, Rabu (19/8), yang memuat pendapat dari Radhar Panca Dahana tentang klaim Malaysia atas tari Pendet Bali.

Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. “Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli,” ujarnya.

Untuk dapat menjadi jernih marilah kita kesampingkan terlebih dahulu kemarahan terhadap Malaysia. Mas Radhar memposisikan kita sebagai bangsa yang terluka dan malu. Saya tidak ingin berada dalam posisi itu dalam melihat masalah ini. Saya ingin berada diluar untuk dapat melihat dari perspektif yang berbeda, bukan dari perspektif orang yang marah. Apakah benar ini sebuah kecolongan? Apakah kita perlu merasa terluka dan malu?

“Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,” katanya.

Mencoba memahami kutipan dari Republika itu: dikatakan Malaysia pintar menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan sementara kita tidak, kita lebih perduli pada olahraga dan program lainnya. Lantas kita yang seharusnya lebih menghargai kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil.

Apakah itu yang disebut dengan menghargai kebudayaan? Jika kita sudah menggunakan kebudayaan untuk mencari keuntungan komersil maka itu sudah disebut menghargai kebudayaan? Bukankah selama ini itu yang sudah dan sedang terjadi di Bali, bahkan perkembangannya sudah mengarah ke arah komersialisasi kebudayaan yang mulai eksesif dan dikhawatirkan oleh banyak pihak akan merubah Bali sama sekali. Sebut saja pembangunan properti untuk keperluan pariwisata yang kurang mengindahkan aspek harmonisasi landscape kebudayaan setempat.

Kalau yang dimaksud dengan menghargai kebudayaan adalah menggunakannya untuk kepentingan komersil terutama pariwisata seperti yang dilakukan Malaysia maka menurut hemat saya, kita bukannya tidak menghargai, bahkan kita sudah “terlalu” menghargai.

Menurut saya menghargai sesuatu adalah pertama tama dengan pengakuan, penggunaan manfaatnya dan pelestariannya. Pengakuan akan menjadi identitas dan bila diterjemahkan dalam bahasa teknis adalah dengan pendataan dan peresmian yang minim dilakukan pada bangsa kita. Penggunaan manfaat seperti pariwisata untuk manfaat ekonomi, kesenian untuk manfaat hiburan, teknologi untuk manfaat kesejahteraan dan bahkan kebudayaan bisa digunakan untuk manfaat politik.

Tapi seluruh penggunaan manfaat itu tidak boleh merusak pelestarian kebudayaan itu sendiri. Jadi kebudayaan juga harus dilestarikan, dijaga orisinalitasnya, dirawat eksistensinya di masyarakat, diberikan ruang untuk hidup. Ketiga aspek penghargaan ini saling terkait satu sama lain. Mereka bisa terdapat dalam sebuah sikap. Jika digunakan maka bisa terjadi sekaligus pelestarian. Tapi bisa juga hanya salah satu saja dari aspek diatas, misalnya hanya memanfaatkan saja tanpa mau melestrasikan, atau hanya mengakui saja tanpa mau menggunakan manfaatnya. Untuk dapat disebut menghargai menurut hemat saya harus mengandung tiga aspek diatas.

Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. “Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita,” tandasnya.

Apa yang dikutip Republika diatas adalah suatu bentuk usaha penggunaan manfaat sebagai upaya pengakuan dan pelestarian yang diharapkan mampu mencegah kita dari “kecolongan” lagi. Tapi harapan itu kelihatannya masih sumir. Kenapa demikian? Untuk tahu jawabannya kita mesti pahami duduk persoalannya.

Pertama perlu dipahami apa yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia. Malaysia menggunakan kebudayaan Indonesia untuk mengambil manfaat ekonomi pariwisata. Kemudian masyarakat Indonesia lebih menyuarakan keberatannya atas pengakuan. Ini dua hal yang berbeda. Penggunaan manfaat tidak otomatis menjadi pengakuan jika tidak disertai suatu pernyataan resmi seperti mengusahakan hak paten misalnya. Pernahkah kita dengar pernyataan resmi dari pemerintah Malaysia tentang klaim Tari Pendet ini?

Kata klaim pada tari Pendet sejauh ini saya lihat hanya ada di media, entahlah untuk tujuan apa media melakukan itu tapi masyarakat menjadi percaya bahwa Malaysia melakukan klaim. Lantas mulai muncul suara yang mengatakan semua ini akibat kita yang kurang menghargai kebudayaan kita sendiri.

Lantas kalau kita sudah menghargai kebudayaan kita maka apakah Malaysia tidak akan melakukan itu lagi? Saya skeptis. Saya kira Malaysia hanya mau dan bisa menggunakan manfaatnya, saya kira juga mereka tidak akan mampu melestarikan apalagi mengakuinya. Untuk melestarikan itu berat, kebudayaan itu harus hidup dalam epistimologi masyarakatnya. Ketika kebudayaan itu lestari dalam sebuah masyarakat maka akan memperoleh pengakuan.

Sekarang siapa yang mau percaya tari Pendet yang sarat dengan ornamen Bali itu adalah kebudayaan Malaysia? Hanya orang bodoh yang akan percaya.

Lalu kenapa Malaysia jalan terus? Seperti yang saya katakan diatas, Malaysia bukan mau mengklaim, karena memang tidak bisa, tapi hanya mampu menggunakan manfaatnya. Kalau sudah begini saya rasa kita tidak perlu merasa kecolongan. Pakailah sesukamu. Tapi kita perlu jengah, kita yang melestarikan tapi orang lain yang mengambil manfaat. Sebenarnya tidak keberatan juga, cuma karena Malaysia ini tengil jadi banyak yang marah. Kenapa tengil?

Menjadi menarik melihat kenapa Malaysia begitu. Semua ini akibat dari konsep Malaysia is a Truly Asia. Malaysia terdiri dari mayoritas tiga bangsa antara lain bangsa Melayu, bangsa Cina dan bangsa India. Jadi tidak ada bangsa Malaysia. Mereka merasa, atau pemerintahnya merasa bahwa Malaysia adalah miniatur dari berbagai bangsa bangsa di Asia karena itu berhak menyandang “gelar” Truly Asia. Dalam usahanya mewujudkan Truly Asia mereka mengumpulkan produk kebudayaan dari berbagai bangsa bangsa di Asia ini sebagai mosaik.

Jadi sebaik apapun kita mampu menghargai dengan melestarikan kebudayaan kita sendiri, itu tidak akan menghentikan usaha Malaysia dalam “mencuri” kebudayaan Indonesia. Mereka sedang membangun identitas berdasarkan konsep Truly Asia. Apakah ini konsep yang brilian? Saya rasa ini konsep yang kontra produktif buat Malaysia. Alih alih mendapat pengakuan tapi justru menuai kontroversi yang bermuara pada citra negatif.

Pencitraan Truly Asia itu sendiri hanya dipermukaan yang bersifat artificial. Sementara di dalam Malaysia sendiri tidak pernah terjadi pembauran kebudayaan antara tiga bangsa besar tadi. Konsep Truly Asia muncul sebagai akibat dari sindrom inferioritas yang dalam beberapa kasus dapat menjadi sebaliknya.

Saya ingin ambil contoh dalam sejarah. Alexander The Great adalah pahlawan bangsa Yunani yang diakui oleh dunia. Kekaisaranya membentang dari Eropa hingga Asia. Melalui Alexander kebudayaan Yunani memberi pengaruh yang kuat pada berbagai kebudayaan besar dunia.

Tapi tahukah bahwa Alexander mengalami kompleks inferioritas dalam dirinya? Kala itu orang Yunani yang dianggap sebenar benarnya adalah orang Athena. Sementara Alexander bukan orang Athena tapi orang Macedonia yang lahir dan besar di kota kecil bernama Pella di pinggiran Yunani.

Selama masa kecil dan remajanya Alexander terobsesi untuk menjadi orang Yunani yang sebenar benarnya dengan membaca buku buku karya penulis Athena (Illiad karya Homerus), berguru pada cendikiawan Athena (Aristoteles) dan bermimpi menjadi pahlawan Athena (Achilles).

Rasa bangga yang tak terkira ketika Alexander membebaskan Athena dari tekanan Sparta membuat inferioritasnya berbalik menjadi superioritas untuk menaklukan Eropa mulai Persia hingga Asia barat (India). Pembuktian bahwa dirinya mewarisi kebudayaan Yunani yang Agung.

Psikologi inferioritas yang kurang lebih mirip terjadi pada pemerintah Malaysia. Ingin menjadi lebih besar dari kebudayaan Indonesia dengan menggunakan label Truly Asia. Untuk menjadi besar butuh figur besar seperti Alexander pada bangsa Yunani, atau figur seperti Bung Karno pada bangsa Indonesia. Malaysia tak memiliki itu dan Truly Asia hanya akan menjadi label. Kasihan. Kalau mereka bijak dan berjiwa besar, Truly Asia tak usah dilanjutkan tapi diubah, seperti apa? Bukan urusan saya.

Kita tak perlu malu, terluka atau merasa kecolongan. Sedekahkan saja. Namun demikian penghargaan pada kebudayaan kita harus tetap ditingkatkan, terutama pada pelestarian. Hidupkan kesenian, perdalam budi pekerti, kuasai teknologi dan kita akan hidup dalam kebudayaan yang luhur.

Update 24 Agustus 2009

Sudah selesai, mereka menyesal katanya, setelah ngeles bilang itu kerjaan swasta.

Kata mas KuncoroSo, let’s simply forgive it and forget it. See you next theft, neighbour 🙂

120 Komentar

Filed under budaya

#merdeka

25 Komentar

Filed under Uncategorized

Public Enemies

Adegan awal dari film ini memperlihatkan barisan berseragam tahanan yang mengingatkan saya pada seragam gerombolan Si Berat di komik Donal Bebek. Belang belang hitam putih. Berbagai resensi film ini menceritakan tentang kisah perampok legendaris John Dillinger yang menjadi musuh nomor satu di Amerika Serikat pada tahun 30an.

Public Enemies The Movie

John Dillinger
Ini film diangkat dari kisah nyata. Profil John Dillinger ini memang luar biasa. Masa itu adalah masa krisis ekonomi berkepanjangan di AS. Headline di koran koran terkemuka didominasi oleh berita kebangkrutan, pengangguran kian bertambah dan kejahatan semakin merajalela. Pemerintah kian dituntut segera mengembalikan keadaan.

Johnny Depp as Dillinger

Pada situasi seperti itulah muncul seorang penjahat perampok bank yang pada awalnya menjadi headline karena aksinya membobol penjara untuk membebaskan teman teman gangnya. Aksi perampokan yang mereka lakukan dikemas dengan sedemikian rupa hingga mereka mendapat simpati publik.

Johnny Depp in action

Masyarakat yang tertekan oleh situasi ekonomi yang buruk butuh seorang “pahlawan”. Dillinger kerap menjadi headline berita karena merampok bank dengan pesan bahwa mereka tidak merampok uang nasabah tapi merampok uang bank… apa bedanya? Tapi itulah waktu itu. Masyarakat terpesona dan menganggap Dillinger sebagai Robin Hood. Dillinger dikenal dengan julukan The Jackrabbit karena aksinya dalam merampok bank yang loncat dari satu meja teller/kasir ke meja lainnya pada saat merampok.

John Dillinger

Ini tentu sangat meresahkan pemerintah AS pada waktu itu. Apalagi berkali kali pemerintah AS di permalukan oleh keberhasilan Dillinger yang berkali kali ditangkap tapi berkali kali pula dapat meloloskan diri dan melanjutkan aksi perampokkan bank yang total jumlahnya mencapai puluhan bank di seluruh AS.

Dillinger juga menciptakan trend dan modus baru dalam perampokan bank. Dillinger adalah perampok yang lari dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk merampok sehingga menyulitkan polisi negara bagian yang memburunya karena pada waktu itu koordinasi antar polisi negara bagian belum menemukan mekanismenya untuk menangkap penjahat lintas batas negara bagian.

Kalau anda nonton film ini maka akan terlihat bagaimana polisi jaman dulu di AS itu lugu, culun dan cupu. Dillinger dengan mudah mengelabui mereka semua dan ketika tertangkappun masih bisa mengejek melalui media yang kesempatan wawancaranya bagaikan konferensi pers dan diijinkan sendiri oleh polisi.

Federal Bureau of Investigation (FBI)
Sebelum bernama FBI badan ini bernama Bureau of Investigation dan hanya terdiri dari tim kecil detektif. John Edgar Hoover sang direktur yang setelah keberhasilannya menangkap Dillinger lantas mengubah nama Bureau of Investigation menjadi Federal Bureau of Investigation karena peran dan kekuasaannya diperluas untuk menangani kejahatan lintas negara bagian.

Johnny Depp and Marion Cotillard

Berawal dari pengalamannya memburu, menangkap dan membunuh perampok sekelas Dillinger, FBI berkembang menjadi sebuah badan dengan kemampuan intelijen yang canggih dan ilmiah. FBI memiliki database sidik jari paling lengkap dan berbagai data profil para penjahat.

Marion Cotillard

Marion Cotillard

Penonton film ini biasanya lebih terpesona pada aksi sang perampok legendaris, apalagi ada bumbu kisah cinta antara Dillinger dan Billie Frechette yang cantik (diperankan oleh Marion Cotillard). Kalau nonton (lagi) film ini maka sebenarnya bisa disimak dari sisi sejarah bagaimana FBI dimasa masa awal dan membandingkannya dengan FBI sekarang yang sudah sangat canggih dan menjadi andalan AS dalam memerangi kejahatan dan melindungi warganya.

Kalau belum nonton, bagaimana akhir kisah Dillinger dan FBI? Apakah Dillinger mati tertembak seperti Dr Azhari atau tertangkap dan dihukum mati? Lebih baik nonton filmnya…

Noordin M Top dan Densus 88

Malam ini di Twitter yang sedang terseok karena serangan DDoS saya masih sempat membaca tweet Pak Nukman tentang baku tembak antara Densus 88 dan gerombolan teroris yang diduga diantaranya terdapat Noordin M Top, penjahat teroris yang sangat diburu itu.

Densus 88 sebelumnya telah menembak mati Dr Azahari rekan Noordin M Top yang lolos. Malam ini sedang terjadi pengepungan, sudah 4 orang tertangkap tapi identitas Noordin M Top belum di konfirmasi Densus 88.

Akankah Densus 88 dapat berkembang menjadi seperti FBI? Besar harapan kita tentunya tidak saja Densus 88 ini bisa menangkap Noordin M Top kelak tapi juga bisa berkembang menjadi sebuah badan yang punya kemampuan seperti FBI.

Apa yang dibutuhkan Densus 88 untuk bisa seperti itu? Sebagai perbandingan FBI punya pemimpin seperti John Edgar Hoover yang boleh dikatakan memimpin FBI seumur hidupnya sejak 1935 hingga 1972. Hoover memimpin FBI hingga 6 masa jabatan Presiden AS. Setelah Hoover meninggal masa jabatan direktur FBI dibatasi hingga maksimal 10 tahun saja. Mungkin Densus 88 tidak harus begitu tapi leadership menjadi isu penting. Semoga Densus 88 bisa menangkap Noordin M Top malam ini dan menjadi tonggak awal keberhasilan yang lebih besar dikemudian hari… seperti FBI.

7 Komentar

Filed under sinema