Monthly Archives: April 2009

Kandidat Cawapres SBY

Kemenangan Demokrat pada pemilu 2009 “melambungkan” SBY pada tingkat percaya diri yang luar biasa. Hingga mengeluarkan 5 kriteria bagi siapa yang ingin menjadi cawapresnya. Banyak yang mau tentu saja melihat kemungkinan menang SBY sangat besar. Terutama bila tidak ada perubahan konstelasi politik yang radikal.

Dari kriteria tersebut tersirat bahwa SBY tak menginginkan JK karena ada kriteria tidak boleh ketua umum partai. Banyak tokoh lain yang ramai dipergunjingkan sebagai kandidat cawapres mendampingi SBY. Masing masing oleh pers dan bloggers diulas dengan pandangannya, berikut adalah versi saya.

Akbar Tanjung

AT menjadi sering disebut media pasca “perceraian” Golkar dan PD. Dikatakan AT berpeluang besar sebagai pembawa suara para pemilih Golkar. Berikut dari tulisan Asep Mulyana:

Saya yakin Demokrat tidak menolak Golkar. Mereka hanya menolak aspirasi elit-elit Golkar pro-JK yang ngotot menyandingkan kembali JK dengan SBY. Tentu Demokrat tak akan mengabaikan Golkar. Suara yang besar (14 persen) dan mesin partai yang masih terjaga adalah modal sosial Golkar yang menggiurkan bagi SBY dan Demokrat. Bagaimana mendapatkan semua itu? Tak ada cara lain bagi SBY dan Demokrat kecuali merekrut kader Golkar yang punya akar kuat di Golkar. Siapa lagi kalau bukan Akbar Tanjung!

Memang benar suara Golkar tidak bisa diabaikan tapi AT sekarang ini tidak memiliki pengaruh yang legitimate di dalam tubuh Golkar. Adapun suara suara dalam Golkar yang menjagokan AT hanya karena ingin menawarkan tokoh alternatif kepada SBY setelah JK ditolak. Mereka berpikir SBY sangat berpeluang terpilih dan Golkar sudah terbiasa menjadi bagian dari pemerintah dan enggan menjadi opisisi.

Bagaimana peluang AT sebenarnya. Perlu diingatkan bahwa posisi AT sekarang tidak sama dengan posisi JK dulu. Dulu suara Golkar terpecah dan banyak memilih SBY-JK karena mereka bersimpati pada JK yang memainkan peran “teraniaya” setelah keluar dari konvensi Golkar. AT sekarang tidak memiliki itu. Hal yang teringat ketika orang menyebut nama AT adalah kasus Bulogate.

Berdasarkan 5 kriteria yang diberikan oleh SBY, ada beberapa poin yang membuat saya yakin SBY tak akan memilih AT. Pertama soal kesetiaan. Masih teringat bagaimana AT membuat konvensi yang berujung pada mundurnya JK dan Sultan dalam konvensi tersebut. SBY tak mau mengambil resiko dengan reputasi seperti itu.

Kedua soal chemistry. SBY dan AT tak pernah bekerja dalam satu tim yang solid. Walaupun masih harus dibuktikan apakah mereka bisa cocok atau tidak tapi trauma ketidak cocokan chemistry bersama JK membuat SBY tak mau bertaruh soal chemistry ini.

Satu hal yang mesti diingat, siapa cawapres SBY bukan ditentukan oleh rampimnas Golkar tapi oleh SBY tentunya. Rampimnas Golkar boleh mengusung siapa saja tapi kalau SBY menolak maka itu tidak akan terjadi.

Hidayat Nur Wahid

Setelah PKS memutuskan untuk tidak mengajukan cawapresnya maka selesailah sudah harapan orang orang untuk melihat HNW sebagai cawapres SBY.

Mengenai cawapres, PKS menyerahkan sepenuhnya ke SBY. Mereka tak akan ikut campur. Power sharing antara keduanya akan diwujudkan dalam kabinet, bukan di pucuk pimpinan RI 2.

“PKS menyerahkan sepenuhnya dan tidak ingin mengusik hak Pak SBY sebagai capres untuk memilih siapa cawapresnya. Apalagi Pak SBY sudah punya 5 kriteria,” kata Mahfudz.

Soetrisno Bachir

SB sebagai ketua umum parpol tentu sudah tidak memenuhi kriteria SBY. Adapun disebutnya nama SB sebagai cawapres dari PAN selain Hatta Rajasa menurut hemat saya hanya untuk kesantunan politik melihat SB sebagai ketua umum dan untuk menjaga agar PAN tidak pecah.

Hal lain yang saya lihat SB tidak akan dipilih oleh SBY sebagai cawapres adalah dua kriteria lain yakni loyalitas dan chemistry. Setelah SB didukung oleh Amien Rais sebagai ketua umum PAN kemudian SB mempromosikan dirinya sebagai capres yang menimbulkan friksi di tubuh PAN. Dari sisi chemistry SB belum pernah satu tim kerja bersama SBY. Kelihatannya sulit sekali memenuhi kriteria yang satu ini.

Sri Sultan HB X

Menurut kriteria SBY mungkin Sultan dapat memenuhi hampir semuanya walaupun tidak dengan sangat meyakinkan. Tapi satu hal yang jelas Sultan adalah kader Golkar. Ketegangan antara Demokrat dan Golkar sudah sampai ke akar rumput.

Namun jika SBY tetap memilih cawapres dari Partai Golkar, kemungkinan besar akan menimbulkan gejolak di tingkat daerah. Hal ini disebabkan, beberapa DPD masih terpecah dukungannya untuk berpisah dengan Demokrat atau tidak.

Namun yang paling penting disini adalah apakah Sultan bersedia menjadi cawapres SBY melihat deklarasi Sultan sejak awal adalah capres. Diperparah lagi ada wacana Sultan akan dicapreskan oleh PDIP.

Sri Mulyani

SM memenuhi banyak kriteria SBY. Bukan ketua partai dan memiliki kapabilitas yang kuat dalam bidang ekonomi. Tapi selain kelebihan itu SM juga memiliki kelemahan. SBY prefer cawapres yang memiliki dukungan partai. SM dari PDIP tapi dapat dipastikan tidak akan mendapat endorse dari Megawati jika SM menjadi cawapres SBY.

Satu hal yang kelihatannya juga menjadi ganjalan adalah masalah chemistry. Kita tahu SM seorang yang kuat dalam berprinsip dan keras dalam sikap. Sikap ini pernah menjadi “sandungan” ketika SM pasang badan untuk menentang kebijakan SBY dalam kasus “Membela Bakrie“.

Setelah tahu dirinya dimarahi Presiden SBY, Sri Mulyani berinisiatif untuk menemui Kepala Negara dan sekaligus untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).

Namun, Presiden SBY rupanya tak mau memenuhi permintaan Sri Mulyani, dan bahkan Kepala Negara tunduk dengan keinginan Sri untuk membuka suspensi BUMI ketimbang ia ditinggal salah satu menteri andalannya itu. (Inilah.com)

Suatu sikap tegas dan berani SM, namun secara chemistry ini tidak terlalu bagus sehingga banyak pihak yang menilai SM akan lebih efektif bila berada dalam kabinet saja.

Hatta Rajasa

Dulu ketika terjadi guncangan di dalam tubuh PAN, HR mendapat tuduhan sebagai orang yang berusaha menggembosi PAN dari dalam, tapi Amien Rais mengatakan bahwa membayangkan HR menggembosi PAN dari dalam sama dengan membayangkan matahari terbit dari barat. Suatu citra akan loyalitas yang terus dibawa hingga masuk ke kabinet SBY.

SBY sendiri juga sudah merasakan dan melihat sendiri kepiawaian HR dalam menjaga keutuhan koalisi di tengah dinamika politik. Masih teringat konflik antara SBY dan Amien Rais hingga SBY mengadakan konferensi pers yang geram, disana HR tampil menjadi mediator kedua belah pihak. SBY tentu terkesan dengan peran HR tersebut.

HR menunjukan tingkat chemistry yang terbaik diantara semua kandidat diatas. Berbagai macam posisi menteri telah ditempati oleh HR bersama SBY dan kelihatannya SBY terkesan dengan loyalitas HR. Seolah olah kriteria itu dibuat hanya untuk HR.

Menurut saya SBY akan memilih HR sebagai cawapresnya kalau dilihat dari kecocokan kriteria. Sedangkan dilihat dari perhitungan politik HR memiliki kelebihan dibanding SM. HR didukung PAN dan Amien Rais.

Dukungan PAN memang tidak terlalu besar tapi dukungan ini bisa memberi pengaruh pada partai lain seperti PKS dan PPP dan bahkan PKB untuk ikut memberikan berkoalisi mendukung pasangan SBY-Hatta. Kita masih belum melihat siapa lawan SBY-Hatta yang paling potensial. Golkar telah mengusung JK tapi ini belum harga mati karena serentetan loby dari PDIP masih terus dilakukan.

Siapa lawan ideal SBY-Hatta? Tunggu postingan saya selanjutnya…

http://www.facebook.com/pages/Say-Yes-For-SBY-HATTA/69163018278

9 Komentar

Filed under Uncategorized

Catatan Penjurian Speedy Blogging Competition 2008

Menjadi juri lomba blog untuk kesekian kalinya memaksa saya menyaksikan dinamika blogging di Indonesia dari waktu ke waktu. Speedy Blogging Competition 2008 (SBC) adalah lomba blog paling akhir yang saya ikuti sebagai juri.

Berdasarkan beberapa kegiatan lomba blog itu saya coba membuat penggambaran tentang bagaimana kondisi blogosphere saat ini dan apa peran lomba blog sampai sejauh ini.

Kondisi per-blog-an di Indonesia saya bagi menjadi dua, internal dan eksternal. Internal menggambarkan kondisi para blogger itu sendiri, kemudian eksternal adalah kondisi lingkungan yang mempengaruhi kondisi internal.

Pertama untuk kondisi internal. Sebelumnya bersama mas Budi Putra dalam event serupa oleh Telkom juga di Senayan tanggal 23 November 2008. Pada event tersebut sungguh saya mendapati kondisi yang sangat menyedihkan. Pertama, dari puluhan peserta hanya sekitar 20% yang menulis tulisannya sendiri, sisanya copy paste.

Dari sisanya blog yang valid tersebut hanya sebagian kecil yang tulisannya mirip blog, sisanya lebih mirip tugas menulis dari majalah sekolah. Maklum pesertanya anak sekolah. Mas Budi berkomentar lomba blog itu bukan lomba menulis artikel, gaya bahasa blog itu lebih informal, enak dibaca dan inspired, apalagi untuk anak sekolah.

Bisa dipahami karena event tersebut hanya sehari dan kriteria penilaian yang dinilai hanyalah tulisan pada saat lomba. Kesimpulannya kita tidak bisa “memotret” kondisi internal yang sebenarnya melalui sebuah event sehari.

Kita butuh event yang lebih panjang rentang waktunya. SBC adalah sebuah event punya rentang waktu penyelenggaraan yang saya pikir cukup untuk memotret kondisi internal dari sisi waktu. Selain dari sisi waktu ada lagi faktor lain yang perlu diperhatikan, yaitu tema lomba.

Sebelum saya membahas rentang waktu dan tema blogging saya akan perkenalkan dulu event SBC ini. Speedy Blogging Competition 2008 dilaksanakan dari tanggal 22 Nov 2008 sampai dengan 31 Jan 2009 dengan ketentuan para peserta harus memiliki account Speedy dan harus memuat postingannya di mesin blog yang disediakan oleh SBC yaitu di: http://lomba.blog.telkomspeedy.com

Dengan waktu yang cukup lama akan bisa kita lihat konsistensi menulis dari para peserta. SBC ini diikuti oleh 100 blogger. Kurang dari 50% dari 100 blogger tersebut yang menulis lebih dari 5 tulisan selama kurun waktu 3 bulan tersebut. Sedihnya banyak juga yang hanya satu postingan: Hello World.

Kemudian dari sisanya disaring lagi dengan melakukan pengujian orisinalitas konten. Hasilnya adalah hanya 35 blog yang berhasil memenuhi syarat. Hal yang membuat saya sedih adalah banyak diantara blogger itu yang sebenarnya punya kemampuan menulis yang baik tapi lantas harus didiskualifikasi hanya karena ada salah satu postingannya yang copy-paste tanpa menyebut sumbernya.

Hal seperti ini tidak dapat diterima dan harus didiskualifikasi. Sayang sekali. Sebenarnya copy-paste tidak masalah selama kita menyertakan alamat sumber dari tulisan aslinya. Tapi rupanya banyak diantara mereka tidak mengerti akan hal itu.

Dewan Juri SBC

Setelah menilai 35 blog bersama 3 juri yang lain: Riyogarta, Kuncoro Wastuwibowo dan Regina Lenggo, kami mendapat beberapa kesan. Tema yang diusung pada event ini tidak memberikan keleluasan bagi para blogger untuk mengembangkan tulisan.

Bagi para blogger yang jam terbangnya belum banyak akan terjebak pada pendefinisian tema. Sedangkan bagi para blogger yang sudah memiliki jam terbang menulis yang tinggi akan mengeksplorasi tema sehingga tulisannya menjadi terlalu fokus. Tapi memang ada yang tidak sesuai tema dan menurut opini saya pribadi justru blogger ini punya keberanian dalam mengekspresikan kebebasan menulis dalam blog.

Sebab menurut saya tujuan dari diadakan lomba blog adalah untuk merangsang pertumbuhan blogger baru yang handal, bukan untuk ajang promosi produk tertentu. Kalau blogger sudah tidak punya keberanian dalam mengekspresikan tulisannya dalam blog maka tujuannya sudah gagal.

Ditetapkannya tema tertentu yang mungkin kurang fleksibel telah membuat para blogger tidak menulis secara spontan dari keinginannya. Peran tema menurut saya menjadi faktor yang penting dalam memotret kondisi internal.

Kondisi Internal

Melihat event SBC ini dapat saya katakan kondisi para peserta SBC adalah hanya 35% yang benar benar tahu bagaimana menulis blog dan dari 35% itu tidak tersalurkan dengan baik hasrat menulisnya karena mereka harus menyesuaikan blog mereka dengan prasyarat lomba yang ketat.

Banyak diantara mereka yang telah memiliki blog utama dan kemudian memindahkan isi blog mereka ke blog resmi untuk lomba. Maka hasilnya adalah dua blog yang sama persis isinya. Ini bukan tujuan dari lomba. Jadi sebaiknya tidak perlu mensyaratkan lokasi blog tertentu untuk lomba, biarkan mereka menggunakan existing blog mereka masing masing.

Kondisi Eksternal

Ramainya Facebook dan Plurk memang sangat berpengaruh pada semangat menulis para blogger. Lomba diharapkan menggugah kembali semangat menulis itu. Cuma jika salah dalam menentukan tema maka tidak akan memberikan cukup motivasi.

Tema yang diusung sebaiknya yang current affair, jika peserta lombanya adalah peserta umum. Tema yang lebih spesifik bisa dipakai jika peserta lomba di ambil dari komunitas bidang tertentu.

Tema current affair sudah terbukti ampuh dalam meningkatkan gairah blogging. Salah satu contohnya adalah Politikana.com. Portal blog politik ini sangat meriah justru ditengah tengah perkiraan blog akan mati akibat munculnya Facebook. Politikana.com mengusung tema politik yang sekarang memang sedang menjadi current affair.

Peran Lomba Blog

Lomba blog dengan tujuan menjaring penulis penulis baru yang berbakat hendaknya memiliki prasyarat teknis yang tidak terlalu mengikat dan memiliki tema yang menarik, sesuai dengan komunitasnya. Hadiah lomba sesungguhnya tidak memberikan efek terbesar dalam hal mencapai tujuan diadakannya lomba blog.

Ide menempatkan mereka dalam satu domain sebenarnya bukan ide buruk selama servernya nyaman dan sekali lagi temanya jelas dan memotivasi kenapa mereka mau bergabung disitu. Contoh mengelompokkan domain berdasarkan tema adalah pada Asia Blogging Network.

Sangat disayangkan jika dari satu lomba ke lomba yang lain ternyata tidak memiliki sinergi. Lomba blog masih relevan, dengan strategi yang baik suatu saat akan tercipta komunitas yang solid. Baik dari para bloggernya itu sendiri maupun dari para pembaca tulisan tulisan mereka sehingga bisa tercipta jaringan seperti Asia Blogging Network atau Politikana.

3 Komentar

Filed under curhat