Monthly Archives: Februari 2009

Republik BBM Format Baru RCTI

Si Ajo tidak biasanya menelepon saya, biasanya dia penganut aliran SMS, segenting apapun masalahnya. Tapi kali ini lain, oh rupanya kami dapat kesempatan nonton Republik BBM format baru tayang perdana di RCTI.

Dengan girang kami berangkat ke RCTI menemui harapan bertemu sejumlah tokoh tokohnya seperti Effendi Gazali, Butet Kertarajasa, Kelik Pelipur Lara dan tentu saja artis artis pendukung dan bintang tamu yang untuk kali ini membuat temen saya Ikrar menjadi bersemangat.

Bintang tamunya antara lain Meutya Hafid (Golkar), Wanda Hamidah (PAN), Angelina Sondakh (PD) dan Astrid Kumentas (PDIP).

Kami tidak terlalu perduli topiknya apa, tapi yang penting masuk TV…. 🙂

Katanya kali ini BBM itu singkatan dari Benar Benar Membangun. Kalau dulu kita masih ingat BBM pernah singkatan dari “Benar Benar Mabok”, kemudian juga pernah “Baru Bisa Mimpi”.

Format baru kali ini bisa dilihat pada foto layoutnya, Effendy Gazali duduk ditengah seperti seorang direktur sedangkan para tamu diberikan sofa tamu. Ada dua co-host Denny Padhyangan Project dan Deswita Maharani.

Sebelum mereka memanggil para bintang tamu dimunculkan dilayar beberapa poster caleg yang tidak biasanya dan menarik perhatian seperti misalnya poster Caleg Superman dan Caleg Papanya Cintya Lamusu, penonton langsung geerrrrr….

Tapi Deswita sempat nyentil sedikit, dia bilang jangan pilih Caleg Superman (Egy Massadiah), wah wah.. ini black campaign nih… Mas Egy yang orang teater semoga gak marah yah.

Bintang tamu yang pertama dipanggil adalah Angelina Sondakh dan pertanyaan yang diajukan apalagi kalau bukan soal statement orang nomor 2 di Partai Demokrat (Ahmad Mubarok) yang memperkirakan Golkar hanya meraih dukungan 2,5 persen saja. Tentu ini dianggap sebagai pelecehan terhadap partai Golkar.

Begitu duduk Angie langsung diminta berbicara soal ini (lagi). Angie kemudian menjawab bahwa masalah 2,5 persen ini sudah diberitakan diberbagai media nasional selama seminggu lebih jadi tak usah dibesar-besarkan.

Effendy Gazali menanggapi dengan guyon spontan mengatakan, okelah masalah 2,5 persen itu tak perlu kita besar-besarkan, jadi cukup 2,5 persen saja…. penonton geeerrrr lagi…

Kemudian bintang tamu kedua yang dihadirkan adalah Meutya Hafid yang bukan kebetulan dari Golkar. Menanggapi isu pelecehan itu Meutya dengan manisnya mengatakan didepan Angie, enggak lohh… kita enggak sekecil itu lohh…. membuat Angie yang biru jadi merah padam….

Menyusul sesi yang cukup emosional itu tiba saatnya sesi menyapa konstituen dengan bahasa daerah dapil masing masing. Terjadi hal yang lucu karena masing masing caleg bukan berasal dari daerah dapil yang mencalokannya.

Angie yang orang Manado harus berbahasa Jawa karena dapilnya di Jawa Tengah, sedangkan Meutya yang orang Sunda harus berbahasa Batak karena dapilnya di Sumatra Utara.

Angie terlihat sangat berhati hati karena tahu bahasa Jawa bertingkat tingkat, ada yang halus ada yang kasar. Menanggapi ucapan permisi Angie, Butet yang orang Jogja lantas nyeletuk spontan, “wis.. ra popo, njepla’o…

Penonton yang mengerti bahasa Jawa langsung meledak tawanya…

Ketimbang berbahasa Jawa yang rumit, Angie memilih menyanyi lagu Jawa saja.

Selesai lagu giliran Meutya yang menyapa konstituenya dengan bahasa Batak, saya kira Bahasa Batak beneran tapi ternyata dialeknya doang. Alasan Meutya karena dia baru menikah 2 minggu dengan orang Medan jadi belum menguasai Bahasa Batak, sebelum mulai Effendy sempet nyeletuk, “dua minggu tapi berasa dua tahun…”, Bung Effendy saya mau tanya: maksuuddd loooo…..????

Kemudian giliran Caleg berikutnya Wanda Hamidah dan Astrid Kumentas. Tidak ada isu panas antara dua partai caleg ini, jadinya hanya perkenalan apa yang akan diperjuangkan di parlemen jika terpilih. Bisa dilihat sendiri di videonya.

Wanda sudah cukup banyak dikenal sebagai orang asli Betawi, berbahasa Betawipun bukan soal baginya. Sedangkan Astrid yang orang asli Manado menyapa dengan bahasa semi Manado semi Indonesia dan entah apakah itu gaya Manado atau bukan, terasa agak cepat bicaranya, mungkin mau mengejar batas waktu 1 menit.

Menyoal isu panas antara Golkar dan Demokrat sebenarnya hanya soal waktu. Bara itu merambat ke atas secara pelan tapi pasti. Sebelumnya banyak selentingan dari para kadernya tentang hubungan partai mereka, terutama isu seputar capres.

Belum surut riak di partai Golkar tentang siapa yang akan diusung sebagai capres. Banyak suara di Golkar yang menginginkan Golkar punya capres sendiri seperti Fadel Muhammad yang mengatakan Golkar bukan partai kecil yang cukup puas dengan posisi Wapres saja.

Sementara ada juga yang menyuarakan bahwa posisi R1 tak begitu penting selama kebijakan R1 sejalan denga Golkar, ini seolah mengatakan selama ini walaupun posisi JK hanya Wapres tapi dialah yang mengendalikan kebijakan Negara.

Salah satu kader Golkar yang mengatakan hal ini adalah Nurul Arifin namun tidak terlalu menuai tanggapan dari petinggi kedua partai. Reaksi baru terlihat setelah Syafii Maarif mengeluarkan pernyataan bahwa JK is The Real President.

JK merasa perlu menanggapi bahwa dirinya hanya Wapres. SBY diam saja tapi kubu Demokrat diam diam meradang, terakumulasi hinga akhirnya pecah oleh Ahmad Mubarak dengan statement berujung pelecehan.

Setelah insiden 2,5 persen ini mulai terlihat manuver manuver yang lebih menjurus. SBY yang hanya menjabat sebagai ketua dewan pembina Demokrat melakukan konferensi pers yang selayaknya menjadi tugas ketua umumnya.

Sedangkan Surya Paloh ketua dewan penasihat Golkar memberikan pernyataannya yang terasa melebihi porsinya sebagai ketua dewan penasihat. Golkar kuat tanpa SBY-JK katanya dan mengecam elit-elit politik Golkar yang gencar menyuarakan lanjutkan pasangan SBY-JK.

Hingga saat ini Golkar belum punya capres dan ini sangat merisaukan kader kader Golkar. SBY sangat berhati hati melangkah mengingat partainya yang kelihatannya saja besar melalui survey survey.

Hal yang paling merisaukan adalah ketidak pastian kekuatan lawan. Megawati dengan PDIP sudah “aman” karena dapat memberikan kepastian untuk maju. Tapi Golkar seperti tahun 2004 menjadi bola api yang liar.

Kalau begini terus tokoh tokoh Golkar seperti Sultan kansnya akan semakin besar karena telah menyatakan diri siap maju sebagai capres dan JK akan semakin ditinggalkan karena keraguannya sendiri.

Selepas acara kami pulang dengan riang gembira dan Ikrar yang wajahnya tampil di TV tak henti hentinya menerima telephone dan sms dari sanak family di Padang dan Pekan Baru yang mengenalinya di TV.  Jadi seleb dadakan nih Krar… hehehe

Bersama Dek Pendi

Bersama Dek Pendi

Iklan

10 Komentar

Filed under televisi

Defiance

Sebenernya saya masih seneng duduk di Cafe Mister Bean tapi si Ajo sudah beli tiketnya, terpaksa deh buru buru naik ke Studio 21 Citos…

Empat tiket untuk film Defiance, dibintangi oleh Daniel Craig.

Three Jewish brothers (Craig, Schreiber and Bell) escape from Nazi-occupied Poland into the Belarussian forest, where they join Russian resistance fighters and endeavor to build a village in order to protect themselves and others in danger.

Filmnya lumayan bagus, fitur standard film hollywood masuk pada film ini. Mulai dari plot, konflik, ketegangan dan humornya khas hollywood.

Cuma yang menarik ada sedikit perbedaan dibanding film film yang bertema perang dunia ke dua. Biasanya film tentang Yahudi cerita utama tak akan lepas dari Holocaust, seperti  film Schlinder List karya Spielberg.

Sudah menjadi kesan umum bahwa Yahudi jaman perang dunia ke dua tak ikut berperang, mereka pasif dan “sibuk” menjadi korban.

Dalam film ini kelihatannya ada beberapa hal yang ingin diangkat. Sangat jelas terlihat ketika Tuvia Bielski berniat bergabung dengan pasukan Rusia dan saat berhadapan dengan Kamerad Rusia yang memiliki anggapan bahwa Yahudi tak berperang, meragukan kemampuan berjuang keluarga Bielski. Tuvia kemudian menjawab dengan mengatakan bahwa mereka adalah Yahudi yang berperang.

Jadi ada “spesies” lain dalam masyarakat Yahudi.

Kesan itu juga muncul ketika Zus Bielski sang adik yang enggan berjuang membela orang orang Yahudi yang ikut lari ke hutan menemui mereka.

Zus beranggapan mereka itu masyarakat Yahudi Borjuis, kita Yahudi gembel bukan siapa siapa di mata mereka, kita hanya berharga ketika mereka lemah dan butuh bantuan dari gempuran serdadu Jerman yang memeranginya.

Konflik terjadi seputar masalah itu, sampai Tuvia harus menembak mati salah seorang anak buahnya yang mendominasi makanan karena merasa sebagai pejuang harus mendapat jatah makanan lebih banyak dibanding yang lain, yang tidak ikut berperang.

Dramatisasi mencapai puncaknya pada adegan pertempuran terakhir dimana Zus yang berbeda pandangan dengan Tuvia dan lebih memilih bergabung dengan tentara Rusia kembali pada kakaknya ketika rombongan anak-anak dan orang tua yang dipimpin oleh Tuvia terdesak tentara Jerman dan dengan gagah berani, cerdas dan strategis,  Zus tampil mengganyang habis tentara Jerman yang mengepung rombongan.

Menarik melihat bagaimana mereka survive dalam hutan dan perang dengan perbedaan pandangan dan status sosial yang mencolok. Zus sangat marah dan dendam pada Jerman sedangkan Tuvia lebih menghargai hidup. Bagi Tuvia menyelamatkan 1 orang tua lebih bermakna dibanding membunuh 10 tentara Nazi.

Film ini diangkat dari kisah nyata melalui sebuah buku. Digarap dengan apik membuat spirit heroik, simpati, romantis dan terharu bisa ditimbulkan bila anda menonton film ini. Bahkan ada penonton yang tepuk tangan ketika Zus berhasil menang bertempur.

Sebuah spirit yang sejatinya dan selayaknya dialamatkan pada bangsa Palestina yang kini menempati posisi keluarga Bielski dan rombongannya pada film itu. Ironisnya posisi tentara Jerman yang sangat bengis, kejam dan tak berperi kemanusiaan dalam film itu sekarang diperankan oleh Israel, negeri kaum Zionist.

Adakah Yahudi dari “spesies” yang berbeda akan muncul dan berperan seperti pada film itu? entahlah…

Chico… thx for the movie, dinner and parkir 🙂

3 Komentar

Filed under sinema