Sumpah Pemuda Bukan Sumpah Palapa

Seberapa “berbahaya”-kah Sri Sultan HB X bagi lawan lawan politiknya? Mereka akan melihat bagaimana masyarakat merespon Sultan. Tapi yang jelas ada orang yang panik dengan jelas jelas melarang Sultan mencalonkan diri sebagai capres.

Sampai sampai Amien Rais sebagai salah satu caprespun menanggapi orang itu dengan mengatakan:

Kalau boleh memberikan saran, sebagai teman, saya harap Pak Yudhoyono jangan sampai mengalami situasi panik atau malah terkena paranoid. Biarkanlah capres-capres itu maju. Yang laki-laki, perempuan, yang muda, yang di luar Jawa atau pun yang di Jawa. Biarkan rakyat yang mengatur.

Ini menarik. Apa yang membuat Sultan menjadi diperhitungkan adalah melihat apa yang ditawarkan. Sultan menawarkan wacana perubahan dengan membangun nation building. Jargon Sultan adalah “Apa Bisa Tahan?“. Menjawab keingintahuan masyarakat SCTV dalam progam acara Barometer menampilkan Sri Sultan HB X sebagai narasumber dengan teleconference dari Jogja.

Dalam dialog itu dipandu oleh host Rosianna Silalahi dan dua orang panelis masing masing sejarawan Anhar Gonggong dan pengamat politik Rocky Gerung. Pada sesi sesi awal kedua narasumber ini banyak mempertanyakan masalah kalkulasi politik yang dilakukan oleh Sultan hingga berani maju sebagai capres.

Anhar menganggap deklarasi Sultan terlalu cepat karena masih belum terlihat dukungan yang signifikan dari partai politik. Idealnya menurut Anhar masih 3 atau 4 bulan lagi. Lalu Sultan menjawab bahwa justru belum terlihat dukungan karena belum ada kejelasan sikap dari dirinya apakah bersedia atau tidak maju sebagai capres. Jadi menurut Sultan pilihan waktunya sudah tepat.

Kemudian ketika dipertanyakan partai yang mendukungnya adalah partai gurem, Sultan menjawab bahwa partai partai besar pun belum dengan eksplisit menentukan capresnya. Hanya partai Demokrat dan PDI-P yang secara resmi telah menetapkan capresnya sehingga masih ada kemungkinan buat dirinya untuk meraih dukungan partai partai politik yang belum menentukan capresnya.

Menanggapi pertanyaan bahwa kenyataan Sultan adalah seorang Raja Jawa, Sultan menjawab:

Betul tapi saya juga harus mengajari rakyat Jogjakarta bahwa kita tunduk pada demokrasi, tidak perlu ada kekhawatiran kalau saya jadi Presiden ada sebagain rakyat yang takut saya dikritisi, itu adalah konsekuensi dari demokrasi.

Saya sebagai Gubernur pun dikritisi masyarakat, jadi Presiden juga demikian, itu konsekuensi demokrasi. Tidak ada pemimpin yang dikritisi lantas menurunkan derajatanya, pilihan menjadi pemimpin, konsekuensi harus terjadi.

Dari sekian pertanyaan yang paling menarik adalah ketika Rocky Gerung menanyakan sikap Sultan akan komitmennya pada Pluralitas dan Bhineka Tunggal Ika mengingat Sultan mendeklarasikan kesiapannya maju sebagai capres di Pisowanan Agung tepat pada tanggal 28 Oktober.

Menyoal pluralitas yang menurut Rocky Gerung adalah nilai jual Sultan, Rocky mengajukan pertanyaan:

Kita tahu bahwa sumpah pemuda itu hanya tiga. Mengaku bertanah air satu, mengaku berbangsa satu dan menjunjung bahasa yang satu. Bayangkan misalkan kalau 80 tahun yang lalu ditambahkan satu lagi yaitu mengupayakan agama yang satu, maka ancaman intoleransi akan menjadi sangat berbahaya.

Saya melihat justru akhir akhir ini ada semacam kecemasan bahwa Sumpah Pemuda itu akan dibikin plus, dengan upaya untuk memperlihatkan bahwa ada hegemoni didalam urusan agama mayoritas.

Dan konlifk itu kita saksikan di Jogja, di Bali, dan itu bisa menjadi hambatan yang sungguh luar biasa buat anda karna jumlah kekacauan akan meningkat dan kualitas puting beliung akan dimulai di Jogja karena anda akan diuji disitu, dan ujian itu yang akan menentukan apakah anda sanggup meneduhkan puting beliung itu dalam skala nasional, saya ingin anda memberi semacam ketegasan dalam soal soal semacam tadi.

Kemudian Sultan menjawab:

Saya punya pendapat begini bapak. Bangsa kita sudah dari awal mengatakan yang berbeda itu menaytakan diri satu, jadi yang berbeda beda itu adlah kekuatan bukan kelemahan dan kita sanggup untuk menjadi suatu bangsa.

Jadi jangan ada yang bicara dibumi republik ini orang mengatakan mayoritas dan minoritas. Karena begitu ada mayoritas akan timbul dominasi, sedangkan yangbesar dan yang kecil punya kontribusi sama, untuk memberi kontibusi pada bangsa ini.

Saya mendengarkan enak lagu angin mamri dari ujung pandang, saya juga mendengarkan lagu yang enak sing sing so maupun lagu lagu yang lai dari propinsi yang lain, dari etnik yang lain. Itu adlah kontirbusi untuk bangsa ini, kenapa harus ada dominasi, kita bukan sumpah palapa tapi sumpah pemuda, kenapa saya di jogja membuka seminar memukul pake gong, kenapa di Papua juga diharuskan pake gong, kenapa tidak pakai Tifa, itu adalah dominasi saya tidak akan pernah sepakat dengan itu.

Jawaban itu menarik perhatian Anhar Gonggong yang kemudian memberikan pertanyaan:

Sultan mengatakan sumpah pemuda bukan sumpah palapa, tapi dalam perkembangan sejarah kita setelah merdeka justru ke-Indonesian kita itu mau dibangun dengan sumpah palapa, bagaimana pendapat anda?

Kemudian Sultan menjawab:

Jaman Suharto menganut sentralistik, tidak dimungkinkan orang lain berbicara lain dan dilakukan Jawanisasi, apa bedanya dengan sumpah palapa? Hanya caranya dulu Mojopahit menaklukan etnis lain kalau kini pendekatannya Jawanisasi, bentuk adalah sama, itu tidak boleh terjadi, karena kita sudah sepakat dari yang berbeda beda itu menyatakan diri satu sebagai bangsa.

Kemudian Anhar memotong dengan pertanyaan lanjutan:

Maaf saya potong, strategi apa yang akan anda gunakan untuk memotong itu dalam arti kata saya mengamati semau birokrasi kita, semua lingkungan pemerintahan kita, adalah masih berpegang pada pemahaman sumpah palapa daripada sumpah pemuda dalam pengertian realitasnya.

Sultan menjawab:

Saya tidak yakin kalau mereka yang ada di Sumatra, Kalimantan sampai Papua menerima apa yang dikatakan sumpah palapa. Saya rasa itu tidak akan pernah terjadi. Itu mungkin hanya persepsi orang Jawa yang ingin mendominasi

Mendengar jawaban Sultan Rossi dan Panelis terlihat lega. Kemudian dialog berlanjutr ke hal hal lain seperti bagaimana dengan isu mendompkleng popularitas orang tua. Sultan menjawab bahwa tidak mungkin menghapus sosok orang tuanya tapi mereka lahir diera dan jaman yang berbeda sehingga memiliki tantang yang berbeda pula.

Kemudian Rocky Gerung melanjutkan dengan mempertanyakan kenapa Sultan jarang bicara soal masalah feminisme, yang banyak bicara soal itu adalah istri Sultan, GKR Hemas. Sultan hanya menjawab singkat bahwa tentu antara suami istri ada koordinasi, jadi tidak berjalan sendiri sendiri.

Jawaban Sultan itu disambut derai tawa Rossi…

Diakhir dialog Rossi meminta kesimpulan dari para panelis tentang kekuatan dan kelemahan Sultan sebagai capres 2009.

Jawaban dari masing masing panelis:

Anhar Gonggong:

  • Kekuatan: merakyat, tidak mudah menjadi merakyat
  • Kelemahan: bila rakyatnya (Jogja) tidak menginginkannya jadi Presiden menjadi maka selesailah dia

Rocky Gerung:

  • Kelemahan: publik masih menganggap Sultan masih bergaya lokal
  • Kekuatan: setia pada ide ide pluralisme

Menurut saya, rakyat sudah bosan dan tidak percaya lagi berbagai macam tokoh yang sudah pernah naik ke panggung politik nasional. Rata rata mengalami sindrom kekuasaan yakni lupa dengan janji ketika telah berkuasa.

Kekuatan Sultan menurut saya adalah akseptablitasnya yang cukup luas, komitmen pada pluralitas dan tentu saja Integritas. Banyak golongan yang sebelumnya berseberangan dalam masalah masalah kebangsaan dan kebhinekaan tapi mereka dapat menerima sosok Sultan.

Teorinya tentang sumpah pemuda bukan sumpah palapa sangat memberi arti pada komitmen kebhinekaan tanpa hegemoni dan dominasi. Masalah in masih krusial sekarang ini. Kecenderungan promordial masih kuat di masyarakat kita. Sosok Sultan saya rasa bisa menenteramkan.

Sekarang tinggal bagaimana memilih cawapres yang akan menhandle masalah ekonomi. Menkeu Sri Mulyani mungkin bisa dipasangkan tapi Sri Mulyani tak punya basis partai. Nilai jualnya adalah beliau ekonom yang tangguh dan seorang wanita. Tapi itu masalah kalkulasi politik yang bisa dicarikan solusi potitiknya. Ada yang mau usulkan cawapres buat Sultan?

2 Komentar

Filed under politik

2 responses to “Sumpah Pemuda Bukan Sumpah Palapa

  1. Saiya aja cawapresnya kang…😀

    Report yang lengkap Om.

  2. Bagaimana Solusinya.. kita harus tetap sabar dan semangat untuk menjunjung tinggi negeri ini..
    Salam kenal dari pendatang baru di dunia blogging….!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s