Monthly Archives: November 2008

Reportase Pesta Blogger 2008

Parkiran BPPT masih lengang waktu saya tiba dengan bergegas karena takut nanti Fenny teman dari Bali Blogger Community datang lebih dulu dan menunggu saya di gerbang.

Seorang yang wajahnya familiar parkir di sebelah saya. Saya jabat tangannya dan kebetulan saya juga ingin konfirmasi ketidak-hadiran beliau untuk acara penjurian lomba Speedy Blogging Competition di Senayan esok harinya (minggu 24 nov).

Beliau confirm tak bisa hadir karena bentrok dengan acara seminar di UI Depok. Rencananya saya, Mas Budi dan Mas Enda akan menjadi juri lomba blog yang diadakan oleh Telkom Speedy. Jalan sampai di depan gerbang, beliau disambut banyak orang.

Semula saya mengira blogger tahun ini benar benar sudah menghargai penampilan begitu melihat banyak orang berjas rapi ala anggota dewan wara wiri. Tapi rupanya mereka bukan blogger, gak jelas sampai sekarang gak ada yang tahu rombongan berjas itu orang ngapain sebenernya. Mereka seperti laron, datang dan pergi begitu saja.

SMS jawaban dari Fenny bilang kalo dia masih dijalan dari Bandung ke Jakarta. Oke lah saya tunggu karena kami adalah perwakilan dari BBC yang tidak terlalu banyak yang hadir. Lagipula ticket masuk saya dipegang Fenny, mosok saya beli lagi 🙂 Banyak orang bilang menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, tapi tidak untuk kali ini.

Saya menikmati mondar mandir didepan pintu gerbang. Menduga duga siapakah blogger baru datang yang masuk pintu gerbang. Berhasil menyapa dengan akurat blogger yang belum pernah ketemu sebelumnya adalah sebuah kebahagian tersendiri.

Sebaliknya salah sangka dengan telak dalam mengidentifikasi seorang blogger adalah sebuah hal yang memalukan. Dua fenomena ini terjadi silih berganti tak kenal kompromi.

Tante EdRatna berhasil saya kenali, walaupun masih harus ada embel embel nyebut namanya Kunderemp (putra sulung beliau). Beliau heran:

Saat ketemu saya kaget, lha tulisanmu selama ini serius…ternyata Wibi masih muda sekali.

hehehe gak juga Tante, saya lebih tua “sedikit” dibanding Narpen (putra kedua beliau).

Selain Tante EdRatna ada beberapa blogger yang saya kenali dari avatarnya seperti Fenny, Rendy Maulana, Bu Endhoot dan Ady Permadi yang sempet saya salah identifikasi sebagai Pak PYAP di Facebook. Banyak lagi salah tebak yang lain.

Seperti Gundala misalnya… eh bukan, maksud saya Golda misalnya, saya pikir Golda ini seseorang yang bekerja FirstMedia tapi ternyata bukan… memangnya ada berapa Golda di negeri ini yah 🙂

Sesama anggota Bali Blogger tapi tak begitu kenal karena memang anggotanya kami tersebar, mungkin BBC adalah komunitas yang paling tersebar anggotanya.

Pesta tahun lalu ada Nana Nias, tapi tahun ini saya tidak melihat batang hidungnya. Banyak lagi yang tahun lalu hadir tapi tahun ini tak bisa hadir. Gagal menemukan teman blogger yang tahun lalu bertemu, saya coba coba tebak blogger dari avatarnya.

Tercatat sepanjang acara tidak kurang 3 kali saya salah tebak. Malu tapi dengan mudah dilalui karena banyak pilihan “tebakan” yang lain. Selain senang main “tebak-tebakan” saya juga menikmati mendapat temen blogger baru yang senasib dengan saya nunggu di depan gerbang karena tiket masih dibawa oleh temannya yang belum datang.

Antara lain: Billy Koesoemadinata,  Sujarwoyo, Yulyanto dan Achill Gelis dari Bandung Blog Village. Sambil sibuk menyapa tokoh tokoh yang lewat seperti mas Koencoro, mas Budi Putra, pak Cahyana, mas Julian Firdaus, mas Idban Secandri, mbak Shinta, mas Wicaksono, saya mencurigai setiap mobil yang lewat sebagai mobil yang mengangkut Fenny dkk.

Blogger yang lain juga tidak ingin buru buru masuk ke auditorium. Mereka terlihat foto sana sini, pose gila gilaan. Ketawa ketiwi karena lama tak berjumpa. Rupanya mereka sudah kulino satu sama lain. Kadang kadang kamera foto diarahkan ke arah gerbang tempat saya duduk. Terpaksa saya pura pura cool.

Kecurigaan berakhir setelah seseorang yang bertampang sangat Fenny mengangguk mengakui bahwa dirinya adalah Fenny dan tiket diserahkan lalu kami kongkow sebentar di depan gerbang sebelum masuk ke dalam setelah mengambil bingkisan tas pestablogger dengan segala isinya.

Didalam kami kehilangan jejak. Baru terlacak kembali setelah Fenny turun dari balkon untuk naik kepanggung menerima hadiah sebagai perwakilan dari Bali Blogger Community. Saya mau ikut naik tapi notebook sedang digelar dan gak ada yang jagain, biarlah Fenny ajah, dia sudah gede, sudah bisa sendiri.. hehehe

Sebelum penetapan pemenang seperti biasa ritual sambutan sambutan yang membuat pestablogger menjadi terasa agak formal tapi perlu juga.

Pemberi sambutan antara lain Ndoro Kakung, Pak Cahyana dan Pak Kusmayanto Kadiman (Menristek). Sambutan Pak Kusmayanto  yang ditulis oleh mas John Herf:

Kusmayanto Kadiman, Menristek RI mengatakan mereka (blogger dari luar negeri) pasti akan berbahasa Indonesia. Suka atau tidak para blogger asing akan belajar.

Suhu blogger, Ndoro Kakung dan Enda Nasution menjadi legenda yang menguasai A sampai Z blog, yang membikin goblog. Kusmayanto Kadiman menambahkan, “Tragedi kartun Nabi Muhammad dapat diselesaikan oleh Enda Nasution dengan baik, yang mengirim surat kepada wordpress untuk menarik tulisan dari blog.”

Pak Kusmayanto memberi sedikit narasi tentang asal muasal istilah Blog. Sedikit nyeleneh beliau bilang bahwa sebenarnya istilah belog di Bali telah lama digunakan jadi kalau mau tahu siapa sebenarnya inventor istilah blog ya orang orang Bali… 🙂 bisa ajah Pak Menteri.

Setelah usai sambutan sambutan kemudian oleh Joana, host pestablogger yang “gersang” itu acara penyerahan hadiah dibuka. Bali Blogger Community  dinobatkan sebagai The Most Promising Community. Sungguh sedih melihat kenyataan sedikit sekali wakil dari BBC yang hadir.

Terus terang saya ngiri melihat teman teman dari komunitas lain seperti Cah Andong yang sedari awal acara riuh rendah dengan jeritan histeris diatas balkon sana. Mereka benar benar banyak dan ngumpul.

Tapi kemudian saya menghidur diri bahwa komunitas blogger tak mesti akrab secara fisik, walaupun kriteria penilaian sebagai The Most Promising Community adalah seringnya melakukan kegiatan sosial bersama secara fisik tapi kenyataan bahwa sesungguhnya tidak semua anggota BBC pernah bertemu dan akrab secara fisik tapi toh bisa membina sebuah komunitas dengan kegiatan yang insyallah bermanfaat bagi masyarakat.

Komunitas Cah Andong di Balkon yang seru…

Banyak diantara anggota kami yang tidak tinggal di Bali lagi tapi tetap bisa mengikuti perkembangan kegiatan karena kami punya milis yang merupakan urat nadi komunikasi. Ketika wawancara dengan wartawan dari Inilah.com, Fenny telp saya untuk naik ke balkon.

Dalam wawancara dengan mas Augusta dari Inilah.com saya berkesempatan menjelaskan bahwa kenapa BBC bisa punya banyak kegiatan offline buat masyarakat. Salah satunya adalah karena pulau Bali itu relatif kecil sehingga memudahkan untuk bisa berkumpul bagi para blogger. Bahkan menurut Fenny acara acara kopdar lebih sering berhasil jika diadakan secara dadakan tanpa direncanakan.

Hal lain yang mungkin membuat BBC menjadi unik adalah karena kami lebih menggunakan milis untuk berkomunikasi. Kebanyakan komunitas biasanya akan terjebak pada pertemanan yang menjadi akrab secara personal.

Walhasil blogpun menjadi ajang komunikasi yang personal juga. Maka tak heran bila banyak kita jumpai blog-blog yang memiliki ikatan komunitas akan menuai komentar-komentar pada postingan-postingannya yang sifatnya personal.

Pada komunitas BBC hal itu lebih sedikit terjadi, BBC lebih aktif dimilis untuk komunikasi semacam itu. Ketua BBC bapak Anton Muhajir akan bisa menjelaskan hal ini dengan lebih baik saya rasa.

Setelah wawancara usai lalu kami turun makan dan bertemu dengan anggota BBC yang Dian Aryanti, Yoskebe dan Brokencode. Di arena makan saya bertemu dengan banyak blogger yang sudah saya kenal sebelumnya seperti Riyogarta, Kang Tutur, Eko Juniarto dan Priyadi.

Saya nyangkut dari satu blogger ke blogger yang lain sampai tas bingkisan pestablogger saya ketinggalan, padahal disitu ada titipan baju kaos pestablogger dari dua temen blogger dikampus (Irwan Suprayitno dan Anto Junanto) yang tak bisa hadir.

Waduh lumayan nih, 65 rb kali 2 terancam hilang begitu saja. Dalam rangka mencari tas yang hilang tersebut saya ngider, dan tentu saja sambil mencari-cari tas tak lupa juga untuk melihat-lihat yang bening bening di berbagai stand yang ada.

Tapi untung, rupanya Dian dan Fenny sempat mengamankan tas tersebut setelah dikonfirmasi oleh Bang Yoskebe.

Tiba sesi breakout, kami BBC sepakat untuk ikut sesinya Pak Nukman Lutfie tentang membangun personal brand melalui blog.

Menurut Pak Nukman sebuah blog tidak banyak membantu membangun personal brand kita kalau pengunjung dan pembaca blog kita hanya sekitar temen temen kita saja.

Komentarnya juga seperi chating saja. Blog yang banyak membantu membangun personal brand kita adalah blog yang selalu dihadiri oleh orang orang baru yang antusias pada tulisan kita dan kemudian mengingat brand kita.

Beliau memberi ilustrasi betapa sebuah brand yang berhasil itu sangat powerfull. Kita tak perlu menulis nama kita pada nametag karena orang orang sudah bisa mengenali tanpa harus membaca. Berbagai kesempatan akan datang dengan sendirinya karena brand kita yang kuat.

Sebelumnya saya menyempatkan diri memperkenalkan diri pada Pak Nukman. Namun karena personal brand saya belum begitu kuat maka Pak Nukman perlu mengeryitkan dahi untuk mengingat ngingat siapa saya.

Well… saya harus bangun brand saya dengan sungguh sungguh agar dikemudian hari Pak Nukmanlah yang datang pada saya… hehehe

Selesai sesi breakout, tiba sesi snack. Ternyata snacknya jauh lebih nikmat ketimbang makan siang tadi. Entah kenapa saya lebih suka makan snacknya. Sudah agak sore dan kelihatnnya para peserta sudah banyak yang lelah.

Panitia berkali kali mengingatkan agar tidak langsung pulang karena ada sesi doorprize yang layak untuk ditunggu. Mulai dari Ipod, PC HP, hingga Notebook.

Karena lelah tidak heran banyak yang tertidur, tidak terkecuali teman saya Fenny. Duh kasihan bener liat dia tidur. Karena tidak tega akhirnya saya foto dia 🙂

Rupanya Fenny tidak sendiri banyak saya lihat yang tertidur dan jadi obyek foto temen temennya.

Tidak hanya para blogger, para wartawan juga dan kru panitia juga banyak yang tertidur. Bahkan lebih dari sekedar obyek foto tapi dikerjain 🙂

Menunggu doorprize memang melelahkan. Diperparah lagi dengan si Joana centil itu membaca nomor undian dengan cara terbata bata, sangat menjatuhkan mental 🙂

Ada seorang blogger yang menang dua kali, sungguh beruntung blogger ini. Sungguhpun demikian para blogger tak beranjak.

Entah hadiah itu sangat diharapkan atau memang masih ingin kumpul. Walaupun harus berbaring karena lelah dan nomor tak kunjung dipanggil.

Sesi pembagian hadiah diselingi dengan sesi semacam rangkuman sesi breakout. Pertama adalah sesi “Mari Jadi Blogger yang Kreatif” yang dilaporkan oleh salah satu perserta. Saya tidak ikut sesi itu tapi sekilas ada yang aneh.

Apakah karena yang menyampaikan kurang cermat sehingga terjadi mispersepsi tentang menjadi blogger yang kreatif. Disampaikan bahwa postingan yang kreatif seperti judulnya… “mau cari foto bejat *****?”.

Saya sering liat judul judul yang semacam itu di top-posting-hari-ini di WordPress. Tapi itu cuma judulnya saja dan isinya tidak benar benar menceritakan judulnya.

Lagipula apakah itu yang dimaksud kreatif dalam sesi itu, saya tidak tahu, yang jelas reaksi dari para blogger pada saat itu adalah teriakan… huuuuuuuu

Sesi jeda ini benar benar membuat para blogger tambah lelah, banyak yang merebahkan diri dan banyak juga yang saya lihat sudah pulang. Untunglah ada Maylaffayza yang tampil menghibur kita semua dengan penampilannya yang luar biasa. Para blogger menjadi segar kembali.

Terakhir adalah sesi foto foto bersama antar para komunitas. Terutama komunitas yang seru dan rame, mereka naik ke atas panggung dan berfoto bersama.

Kelelahan sejak pagi seakan hilang ditelan keceriaan. Masih banyak sebenarnya kejadian menarik di pestablogger ini yang tidak terceritakan seperti foto kontes, ada live band dan berbagai stand dari sponsor.

Silahkan kunjungi repository ceriat cerita pestblogger dari perspektif yang berbeda di situs pestablogger.com.

Tulisan saya ini sebatas yang saya ingat dan apabila ada yang terlupakan, tidak akurat atau tidak berkenan saya mohon maaf.

Semua foto foto pada postingan ini diambil dari flickr dengan tag pb2008 yang saya ambil dari situs pestablogger.cybergl.co.id.

Saya tidak sempat meminta ijin satu persatu untuk para pemilik foto tersebut. Bagi para pemilik foto foto tersebut silahkan ngaku saja lewat komentar 🙂

Semoga tahun depan blogger tambah banyak dan tambah berkualitas sebagai agen perubahan bangsa.

Iklan

38 Komentar

Filed under sosial

Makna Status Pahlawan

Dalam moment hari pahlawan tahun ini pemerintah menggangkat Bung Tomo dan Pak Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Apa makna pengangkatan Bung Tomo sebagai pahlawan bagi masyarakat? Saya rasa tidak terlalu besar. Sebagian masyarakat malah heran, bukannya Bung Tomo memang sudah pahlawan?

Untuk sebuah pertempuran dahsyat selama 21 hari yang memakan korban hingga 15 ribu jiwa yang sebagian besar adalah rakyat dan terjadi secara frontal dan bukan gerilya, menunjukan keberanian dan tekad rakyat Soerabaja untuk mempertahankan kemerdekaan, maka tokoh sentral dalam kejadian tersebut telah terbingkai dihati rakyat sebagai Pahlawan sejati.

Inggris terpaksa harus menerima kecaman keras dari dunia International. Kehilangan besar dan malu buat Inggris yang selama perang dunia kedua tak pernah kehilangan seorang jendralpun, kini harus kehilangan dua orang Jendralnya.

Sejak awal dan sampai kapanpun Bung Tomo telah berstatus pahlawan di hati rakyat.

Beda dengan Pak Natsir. Kecuali orang Sumatra Barat mungkin mengenal Pak Natsir hanya dari pelajaran sejarah yang tidak akurat. Nama Pak Natsir juga banyak dikenal dikalangan Ummat Islam karena peran beliau sebagai pendiri Dewan Dakwah Islamiyah dan tentu saja sebagai tokoh Masyumi.

Peran beliau dalam sejarah Indonesia sangat erat dengan pandangan ke-Islamannya. Kemudian menjadi landasan pandangan pada perjuangan Islam Indonesia kedepan. Beliau pernah dituduh melakukan pemberontakan dengan terlibat pada pergerakan PRRI.

Menurut Yusril Ihza Mahendra keterlibatan beliau sebenarnya sebagai protes pada Kabinet Djuanda yang dianggap inkonstitusional tapi stigmatisasi sejarah telah menghalangi masyarakat untuk mengetahui sosok Natsir yang sebenarnya.

Beberapa kalangan menilai Natsir ingin mendirikan negara Islam padahal komitmen Natsir pada Pancasila sudah terbukti sejak Mosi Integral yang menyatukan negara negara boneka buatan Belanda menjadi NKRI. Beliau bukan oportunis yang pada saat itu bisa saja membelot dan mendirikan negara sendiri. Mosi Integral merupakan capaian gemilang seorang politisi-negarawan yang akhirnya mengantarnya menjadi Perdana Menteri Indonesia.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah- daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

Sumber: Wikipedia

Jaman itu Natsir telah berani kritis pada pemerintahan, sesuatu yang baru akan lumrah terjadi sekarang di era reformasi. Namun akibat yang mesti ditanggung juga tidak kecil, sebuah stigmatisasi sejarah yang membuat para siswa di sekolah mengenal PRRI sebagai gerakan pemberontakan yang mesti ditumpas dengan angkatan bersenjata.

Pak Natsir sangat prihatian melihat negara yang semakin bergerak ke arah kiri dan prihatin pula akan munculnya kediktatoran di bawah Presiden Soekarno. Keprihatinan itu makin bertambah ketika Presiden Soekarno membentuk Kabinet Darurat Ekstra Parlementer di bawah pimpinan Ir. Djuanda. Beliau melihat semua ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap konstitusi dan demokrasi. Sementara di daerah-daerah terus-menerus terjadi berbagai pergolakan yang berpotensi pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada awal Pebruari 1958, Pak Natsir memutuskan untuk bergabung dengan tokoh-tokoh di daerah yang menentang pemerintah pusat yang mereka yakini bersifat inkonstitusional itu. Dari pertemuan Sungai Dareh lahirlah ultimatum untuk membubarkan pemerintah Djuanda dan membentuk pemerintahan baru yang dipimpin Mohammad Hatta.

Kalau lima kali dua puluh empat jam ultimatum tidak dipenuhi, maka mereka akan menempuh jalan sendiri dan tidak mengakui keberadaan dan keabsahan pemerintah pusat. Inilah awal lahirnya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Tengah, sebagai pemerintahan tandingan. Pak Natsir ingin agar persoalan ketidaksahan pemerintah pusat itu segera diakhiri, dan dengan begitu setiap saat mereka dengan sukarela akan mengakhiri keberadaan PRRI.

Sumber: Yusril Ihza Mahendra

PRRI adalah sebuah gerakan koreksi atas tidak seimbangnya pembangunan di Pusat dan di Daerah. Semangat dari gerakan koreksi ini menjadi inspirasi untuk mencari solusi atas ketimpangan pembangunan Pusat-Daerah yang kini dikenal dengan istilah Otonomi Daerah. Sebuah perjuangan yang visioner untuk NKRI.

Makna status Pahlawan Nasional bagi Pak Natsir adalah pelurusan atas sebuah stigma sejarah yang telah terjadi puluhan tahun. Kini Pak Natsir telah menempati tempatnya yang seharusnya.

Tidak demikian dengan tokoh yang lain yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional tahun lalu (2007). Beliau adalah Anak Agung Gde Agung yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya dalam hal diplomasi dari negara boneka Belanda menuju Republik Indonesia Serikat (RIS)

Beliau adalah salah satu Perdana Menteri negara boneka Negara Indonesia Timur (NIT) yang mendukung RIS dan masuk Irian Barat ke RI. Dari perannya inilah mungkin pemerintah mempertimbangkannya masuk sebagai Pahlawan Nasional.

Padahal apa yang terjadi sebelumya pada tahun 45-46 adalah sebuah pengkhianatan yang tak mungkin bisa dilupakan oleh rakyat Bali.

Betapa tidak, AA Gde Agung adalah seorang Raja dari Puri Gianyar Bali yang pada masa perjuangan secara tegas dan frontal berpihak kepada Belanda. Puri Gianyar memiliki sebuah kesatuan tempur lokal yang bernama PPN (Pemuda Pembela Negara).

PPN ini bersekutu dengan NICA dan bergerak secara aktif langsung di bawah komando AA Gde Agung menjadi pelopor serdadu NICA dalam menggempur gerakan para pejuang.

Setelah mendapat bantuan senjata lengkap dari NICA, PPN menggempur gerakan organisasi pemuda PRI (Pemuda Republik Indonesia). Dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern PPN berhasil mematahkan perlawanan PRI dan menangkap pimpinan PRI; Wayan Dipta, kemudian membunuhnya dengan cara yang keji.

Menurut kesaksian seorang pejuang Nyoman S Pendit yang ditulisnya dalam buku Bali Berjuang hal 145: PPN menangkap Wayan Dipta lalu mengkuliti kepalanya dan anggota badannya diiris-iris sebelum kemudian ditembak mati. Suatu perlakuan keji yang sangat menyakitkan hati para pejuang.

Pengkhianatan beliau tersebut menjadi faktor penting penolakan rakyat Bali atas diangkatnya AA Gde Agung sebagai Pahlawan Nasional. Makna status Pahlawan Nasional pada AA Gde Agung adalah penghinaan atas perjuangan I Gusti Ngurah Rai, rakyat Bali dan seluruh pejuang kemerdekaan pada umumnya.

Pelurusan sejarah akan selalu menemukan jalannya…

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

1 Komentar

Filed under sejarah

Sumpah Pemuda Bukan Sumpah Palapa

Seberapa “berbahaya”-kah Sri Sultan HB X bagi lawan lawan politiknya? Mereka akan melihat bagaimana masyarakat merespon Sultan. Tapi yang jelas ada orang yang panik dengan jelas jelas melarang Sultan mencalonkan diri sebagai capres.

Sampai sampai Amien Rais sebagai salah satu caprespun menanggapi orang itu dengan mengatakan:

Kalau boleh memberikan saran, sebagai teman, saya harap Pak Yudhoyono jangan sampai mengalami situasi panik atau malah terkena paranoid. Biarkanlah capres-capres itu maju. Yang laki-laki, perempuan, yang muda, yang di luar Jawa atau pun yang di Jawa. Biarkan rakyat yang mengatur.

Ini menarik. Apa yang membuat Sultan menjadi diperhitungkan adalah melihat apa yang ditawarkan. Sultan menawarkan wacana perubahan dengan membangun nation building. Jargon Sultan adalah “Apa Bisa Tahan?“. Menjawab keingintahuan masyarakat SCTV dalam progam acara Barometer menampilkan Sri Sultan HB X sebagai narasumber dengan teleconference dari Jogja.

Dalam dialog itu dipandu oleh host Rosianna Silalahi dan dua orang panelis masing masing sejarawan Anhar Gonggong dan pengamat politik Rocky Gerung. Pada sesi sesi awal kedua narasumber ini banyak mempertanyakan masalah kalkulasi politik yang dilakukan oleh Sultan hingga berani maju sebagai capres.

Anhar menganggap deklarasi Sultan terlalu cepat karena masih belum terlihat dukungan yang signifikan dari partai politik. Idealnya menurut Anhar masih 3 atau 4 bulan lagi. Lalu Sultan menjawab bahwa justru belum terlihat dukungan karena belum ada kejelasan sikap dari dirinya apakah bersedia atau tidak maju sebagai capres. Jadi menurut Sultan pilihan waktunya sudah tepat.

Kemudian ketika dipertanyakan partai yang mendukungnya adalah partai gurem, Sultan menjawab bahwa partai partai besar pun belum dengan eksplisit menentukan capresnya. Hanya partai Demokrat dan PDI-P yang secara resmi telah menetapkan capresnya sehingga masih ada kemungkinan buat dirinya untuk meraih dukungan partai partai politik yang belum menentukan capresnya.

Menanggapi pertanyaan bahwa kenyataan Sultan adalah seorang Raja Jawa, Sultan menjawab:

Betul tapi saya juga harus mengajari rakyat Jogjakarta bahwa kita tunduk pada demokrasi, tidak perlu ada kekhawatiran kalau saya jadi Presiden ada sebagain rakyat yang takut saya dikritisi, itu adalah konsekuensi dari demokrasi.

Saya sebagai Gubernur pun dikritisi masyarakat, jadi Presiden juga demikian, itu konsekuensi demokrasi. Tidak ada pemimpin yang dikritisi lantas menurunkan derajatanya, pilihan menjadi pemimpin, konsekuensi harus terjadi.

Dari sekian pertanyaan yang paling menarik adalah ketika Rocky Gerung menanyakan sikap Sultan akan komitmennya pada Pluralitas dan Bhineka Tunggal Ika mengingat Sultan mendeklarasikan kesiapannya maju sebagai capres di Pisowanan Agung tepat pada tanggal 28 Oktober.

Menyoal pluralitas yang menurut Rocky Gerung adalah nilai jual Sultan, Rocky mengajukan pertanyaan:

Kita tahu bahwa sumpah pemuda itu hanya tiga. Mengaku bertanah air satu, mengaku berbangsa satu dan menjunjung bahasa yang satu. Bayangkan misalkan kalau 80 tahun yang lalu ditambahkan satu lagi yaitu mengupayakan agama yang satu, maka ancaman intoleransi akan menjadi sangat berbahaya.

Saya melihat justru akhir akhir ini ada semacam kecemasan bahwa Sumpah Pemuda itu akan dibikin plus, dengan upaya untuk memperlihatkan bahwa ada hegemoni didalam urusan agama mayoritas.

Dan konlifk itu kita saksikan di Jogja, di Bali, dan itu bisa menjadi hambatan yang sungguh luar biasa buat anda karna jumlah kekacauan akan meningkat dan kualitas puting beliung akan dimulai di Jogja karena anda akan diuji disitu, dan ujian itu yang akan menentukan apakah anda sanggup meneduhkan puting beliung itu dalam skala nasional, saya ingin anda memberi semacam ketegasan dalam soal soal semacam tadi.

Kemudian Sultan menjawab:

Saya punya pendapat begini bapak. Bangsa kita sudah dari awal mengatakan yang berbeda itu menaytakan diri satu, jadi yang berbeda beda itu adlah kekuatan bukan kelemahan dan kita sanggup untuk menjadi suatu bangsa.

Jadi jangan ada yang bicara dibumi republik ini orang mengatakan mayoritas dan minoritas. Karena begitu ada mayoritas akan timbul dominasi, sedangkan yangbesar dan yang kecil punya kontribusi sama, untuk memberi kontibusi pada bangsa ini.

Saya mendengarkan enak lagu angin mamri dari ujung pandang, saya juga mendengarkan lagu yang enak sing sing so maupun lagu lagu yang lai dari propinsi yang lain, dari etnik yang lain. Itu adlah kontirbusi untuk bangsa ini, kenapa harus ada dominasi, kita bukan sumpah palapa tapi sumpah pemuda, kenapa saya di jogja membuka seminar memukul pake gong, kenapa di Papua juga diharuskan pake gong, kenapa tidak pakai Tifa, itu adalah dominasi saya tidak akan pernah sepakat dengan itu.

Jawaban itu menarik perhatian Anhar Gonggong yang kemudian memberikan pertanyaan:

Sultan mengatakan sumpah pemuda bukan sumpah palapa, tapi dalam perkembangan sejarah kita setelah merdeka justru ke-Indonesian kita itu mau dibangun dengan sumpah palapa, bagaimana pendapat anda?

Kemudian Sultan menjawab:

Jaman Suharto menganut sentralistik, tidak dimungkinkan orang lain berbicara lain dan dilakukan Jawanisasi, apa bedanya dengan sumpah palapa? Hanya caranya dulu Mojopahit menaklukan etnis lain kalau kini pendekatannya Jawanisasi, bentuk adalah sama, itu tidak boleh terjadi, karena kita sudah sepakat dari yang berbeda beda itu menyatakan diri satu sebagai bangsa.

Kemudian Anhar memotong dengan pertanyaan lanjutan:

Maaf saya potong, strategi apa yang akan anda gunakan untuk memotong itu dalam arti kata saya mengamati semau birokrasi kita, semua lingkungan pemerintahan kita, adalah masih berpegang pada pemahaman sumpah palapa daripada sumpah pemuda dalam pengertian realitasnya.

Sultan menjawab:

Saya tidak yakin kalau mereka yang ada di Sumatra, Kalimantan sampai Papua menerima apa yang dikatakan sumpah palapa. Saya rasa itu tidak akan pernah terjadi. Itu mungkin hanya persepsi orang Jawa yang ingin mendominasi

Mendengar jawaban Sultan Rossi dan Panelis terlihat lega. Kemudian dialog berlanjutr ke hal hal lain seperti bagaimana dengan isu mendompkleng popularitas orang tua. Sultan menjawab bahwa tidak mungkin menghapus sosok orang tuanya tapi mereka lahir diera dan jaman yang berbeda sehingga memiliki tantang yang berbeda pula.

Kemudian Rocky Gerung melanjutkan dengan mempertanyakan kenapa Sultan jarang bicara soal masalah feminisme, yang banyak bicara soal itu adalah istri Sultan, GKR Hemas. Sultan hanya menjawab singkat bahwa tentu antara suami istri ada koordinasi, jadi tidak berjalan sendiri sendiri.

Jawaban Sultan itu disambut derai tawa Rossi…

Diakhir dialog Rossi meminta kesimpulan dari para panelis tentang kekuatan dan kelemahan Sultan sebagai capres 2009.

Jawaban dari masing masing panelis:

Anhar Gonggong:

  • Kekuatan: merakyat, tidak mudah menjadi merakyat
  • Kelemahan: bila rakyatnya (Jogja) tidak menginginkannya jadi Presiden menjadi maka selesailah dia

Rocky Gerung:

  • Kelemahan: publik masih menganggap Sultan masih bergaya lokal
  • Kekuatan: setia pada ide ide pluralisme

Menurut saya, rakyat sudah bosan dan tidak percaya lagi berbagai macam tokoh yang sudah pernah naik ke panggung politik nasional. Rata rata mengalami sindrom kekuasaan yakni lupa dengan janji ketika telah berkuasa.

Kekuatan Sultan menurut saya adalah akseptablitasnya yang cukup luas, komitmen pada pluralitas dan tentu saja Integritas. Banyak golongan yang sebelumnya berseberangan dalam masalah masalah kebangsaan dan kebhinekaan tapi mereka dapat menerima sosok Sultan.

Teorinya tentang sumpah pemuda bukan sumpah palapa sangat memberi arti pada komitmen kebhinekaan tanpa hegemoni dan dominasi. Masalah in masih krusial sekarang ini. Kecenderungan promordial masih kuat di masyarakat kita. Sosok Sultan saya rasa bisa menenteramkan.

Sekarang tinggal bagaimana memilih cawapres yang akan menhandle masalah ekonomi. Menkeu Sri Mulyani mungkin bisa dipasangkan tapi Sri Mulyani tak punya basis partai. Nilai jualnya adalah beliau ekonom yang tangguh dan seorang wanita. Tapi itu masalah kalkulasi politik yang bisa dicarikan solusi potitiknya. Ada yang mau usulkan cawapres buat Sultan?

2 Komentar

Filed under politik

Keistimewaan Jogjakarta

Dalam Pisowanan Agung kemarin (28 Oktober 2008, tepat hari Sumpah Pemuda ke 80) Sri Sultan Hamengku Buwono X mendeklarasikan kesediaan dan kesiapannya maju sebagai capres 2009. Ini mengundang beragam reaksi baik dari masyarakat maupun lawan lawan politiknya.

Menjelang tahun 2009 tensi politik semakin tinggi, sensitifitas yang tinggi membuat manuver para politisi menjadi rentan masalah. Terutama bila manuver itu dilakukan oleh tokoh yang dianggap “berbahaya” oleh lawan politiknya.

Masih ingat dulu waktu Amien Rais mengkritisi SBY lantas SBY marah dan membuat tanggapan dalam konferensi PERS, dalam pidatonya itu (Koran Tempo, 26 Mei 2007) menghitung ada 13 kali SBY menyebut nama Amien Rais dengan wajah geram.

Kemudian sekarang JK yang disomasi oleh Wiranto karena dianggap melakukan black campaign terhadap dirinya dengan menyebut ada penumpang gelap dalam konvensi capres Partai Golkar 2004.

Sikap Sri Sultan ini seperti respon atas komentar SBY yang mengatakan jika Sultan ingin jadi Raja sekaligus maka Gubernur maka itu hanya ada dalam ketoprak. Muncul juga istilah agar sistem Monarkhi Absolut di Yogyakarta segera bisa diakhiri dan berganti Monarkhi Konstitusional.

Ini mengundang reaksi yang keras dari masyarakat Jogja karena menganggap SBY tidak memahami sejarah Jogja. Bagi rakyat Jogja demokrasi yang sesungguhnya bukan pada prosedur melainkan pada substansi yakni kehendak rakyat. Ini adalah keinginan rakyat Jogja itu sendiri yang oleh Budayawan Cak Nur dilukiskan dalam narasi:

Wahai Indonesia…

DIY bukan propinsi kerdil yang dengan tolol ingin merebut dirinya untuk dimasukkan ke dalam keranjang yang bernama keistimewaan.

DIY bukan daerah jumud dengan penduduk yang berpikiran beku sehingga ingin menegakkan feodalisme dan kebanggaan kosong dari masa silam.

DIY bukan wilayah yang dihuni oleh warganegara yang butahuruf sehingga tidak memiliki pemahaman dan apresiasi terhadap apa yang disebut demokrasi.

DIY juga tidak punya nafsu untuk memamerkan peran warga terbaiknya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang pada momentum paling awal turut mendukuni lahirnya jabang bayi yang bernama Indonesia Raya.

Di rumah beliau yang bernama Ngayogyakarta Hadiningrat, yang saat itu juga beliau lebur, beliau relakan untuk menjadi bagian dari suatu keindahan baru yang bernama Republik Indonesia.

Bahkan rumah dan tanah beliau itu secara cuma-cuma beliau ikhlaskan untuk menjadi Ibukota Republik Indonesia, tanpa pernah menagih apapun sampai hari ini.

Keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat bukanlah tagihan kepada Republik Indonesia agar Negara baru itu mengakuinya, sebab Ngayogyakarta Hadiningrat sudah lahir jauh sebelumnya, sudah ada, sudah hidup, bahkan turut menghidupi suatu proses perjuangan yang kemudian melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ngayogyakarta Hadiningrat adalah istimewa, bukan minta diistimewakan.

Dalam sejarahnya Indonesia telah melakukan “perkawinan” dengan Keraton Ngajogjakarta Hadiningrat dengan Rajanya pada waktu itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Jogjakarta awalnya adalah bukan bagian dari Republik Indonesia. Jogja bergabung dengan RI setelah Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengirim surat kepada Bung Karno yang isinya menyatakan bahwa Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bagian dari Republik Indonesia, berbentuk kerajaan dan berhubungan secara langsung dengan Pemerintah pusat serta bertanggung jawab terhadap Presiden RI.

Inilah yang dimaksud dengan status Istimewa. Walaupun Jogjakarta integral dalam RI, tapi memiliki sistem pemerintahan sendiri, yaitu kerajaan dengan Sultan sebagai pemimpinnya. Kemudian Bung Karno juga membalasnya dengan piagam kedudukan Jogjakarta:

Kami Presiden Republik Indonesia menetapkan :

Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang kaping IX ing Ngayogyakarta Hadiningrat,pada kedudukannya dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kanjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran,tenaga,jiwa dan raga untuk keselamatan daerah Yogyakarta sebagai bagian Republik Indonesia.

Jakarta 19 Agustus 1945
Presiden Republik Indonesia

Adanya piagam seperti ini menjamin keberlangsungan sistem ini di kemudian hari. Walaupun Sri Sultan HB IX tak pernah meminta piagam tersebut karena sosok Sri Sultan IX yang ikhlas dalam perjuangan.

Bisa kita ingat bagaimana Sri Sultan HB IX bersedia menjadikan Jogjakarta sebagai Ibu Kota Indonesia tahun 46, belum lagi peran Sri Sultan HB IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Sultan juga menghibahkan sebagian tanahnya untuk dibangun sebagai kampus UGM.

Itu semua membuat para pemimpin Indonesia pada waktu sangat menghormati Sultan Jogja sebagai aset bangsa dengan wilayah yang istimewa. Bung Karno pernah meminjam legitimasi Keraton Jogja dengan dilantiknya Bung Karno didalam keraton. Bahkan Pak Harto juga pernah meminjam legitimasi Sultan dengan menjadikan beliau sebagai wapres pertama.

Namun demikian SBY masih belum bisa mengambil keputusan tegas tentang RUU Keistimewaan DIY. Status Sultan masih digantung dengan diperpanjangnya masa jabatan Gubernur selama 3 tahun untuk memberi waktu penyelesaian RUUKDIY tersebut.

Bisa jadi lambatnya pengesahan RUU tersebut diwarnai oleh kalkulasi politik tertentu. Mengingat Sultan adalah sosok yang “berbahaya” diranah politik. Dari komentar SBY yang terkesan sinis dengan mengatakan jabatan Gubernur sekaligus Sultan adalah mirip ketoprak itu mencerminkan kegundahan.

Gubernur tanpa pemilihan adalah tidak demokratis menurut SBY. Menurut Sultan menuruti kehendak rakyat adalah demokrasi. Rakyat Jogja berkehendak Sultan sebagai Gubernur. Lalu kalau memang itu kehendak rakyat kenapa tidak diikuti saja pilkada, toh juga akan menang kalau memang itu kehendak rakyat jogja.

Disini terjadi perbedaan pemahaman demokrasi. Sultan sebagai Raja harus memiliki kekuatan politik yang legitimate untuk memerintah. Itu adalah konsep dasar yang dipahami rakyat Jogja sebagai warga sebuah kerajaan.

Tidak sulit untuk mewujudkannya sekarang karena HB X masih sangat diendorse oleh rakyat Jogja. Tapi kenapa rakyat Jogja mau agar keistimewaan itu mencakup jaminan Sultan Jogja adalah Gubernur. Ini karena nature dari keinginan untuk men-survive-kan konsep tersebut dimasa depan.

Mirip seperti spesies yang dilengkapi dengan kemampuan bereproduksi untuk menyelamatkan spesiesnya dari kepunahan. Sultan sebagai kepala pemerintahan adalah identitas Jogjakarta dari 1755 hingga sekarang. Rakyat Jogja tak mau kepunahan “spesies”-nya dalam bentuk apapun.

Bisa dipahami karena telah menjadi trauma selama berabad abad di kerajaan Mataram dan sempalannya. Ketika Mataram terbelah menjadi Surakarta dan Jogjakarta, ada seorang Pangeran yang tak mau berdamai dengan Belanda. Dengan kelicikan Belanda berhasil membujuk dua Raja Hamengkubuwono I dan Pakubuwono III untuk ikut memerangi Pangeran tersebut.

Tapi sang Pangeran yang dijuliki Pangeran Sambernyowo ini terus melawan hingga gerilya kehutan hutan. Daripada memilih perang terus menerus yang menghabiskan banyak biaya maka Belanda diam diam memprakarsai perdamaian dengan Pangeran Pemberontak tersebut melalui dua Raja senior PB III dan HB I. Dua raja tersebut melakukan pendekatan kekeluargaan agar sang Pangeran berhenti memberontak.

Perdamaian terjadi tapi sang Pangeran tak mau kekuatan militernya dilucuti. Belanda mengijinkan dan sebuah keraton junior didirikan dengan nama Puro Mangkunegaran, dengan Adipatinya Mangkunegoro I, setingkat dua Raja yang lain dengan wilayah kekuasaan sendiri dan angkatan terbesar diantara dua kerajaan sebelumnya.

Namun apa yang terjadi setelah Mangkunegoro I wafat. Wilayahnya dikurangi oleh Belanda, angkatan perangnya dilucuti, kekuasaan politiknya dipreteli. Itu juga yang terjadi pada kerajaan lainnya, setelah para Rajanya wafat dan diganti oleh penerusnya.

Apa yang dilakukan oleh para Raja dan rakyatnya itu hanyalah menyimpannya dalam hati dan sebagai pelampiasan mereka hanya berkesenian. Generasi demi generasi selalu saja terjadi pemangkasan pada sendi sendi kehidupan masyarakat Mataram terutama aspek sosial-politik.

Kekuatan militer keraton sudah selesai pasca kemerdekaan, kekuasaan politik tinggal Jogja saja. Kini gejala yang sama muncul kembali, reflek sosial yang muncul bisa terlihat akarnya kebelakang. Wacana yang dipakai sekarang adalah demokratisasi, betapapun usaha dari Sultan HB IX dan HB X untuk menunjukan bahwa bentuk monarkhi Jogja bisa hidup berdampingan dan selaras dengan demokrasi seperti tak berpengaruh.

Memang yang menjadi pertanyaan besar adalah jika monarkhi Absolut tidak menjadi masalah sekarang tapi berpotensi bermasalah dikemudian hari. Jika itu terjadi maka monarkhi Jogja akan mencari jalan keluarnya karena paradigma yang sudah disabdakan oleh Sultan HB IX maupun HB X adalah kekuasaan untuk rakyat.

Bisa saja diambil model seperti jaman Belanda dulu. Sultan kepala daerah tapi kepala pemerintah diberikan kepada Patih Danuredjo. Dahulu Patih ini berketurunan, jadi ada Danuredjo I, II dan seterusnya dan merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah Belanda.

Semenjak Patih Danuredjo terakhir wafat jaman HB IX tahun pra kemerdekaan, HB IX tak mengangkat Patih baru karena memang tak menginginkan jabatan Patih itu ada, sebab Patih harus disetujui oleh Belanda dan akan memonitor dan menjalankan pemerintahan sehari hari.

Model yang sama bisa kita pakai untuk permasalahan kali ini. Patih sekarang bisa diangkat kembali bukan oleh pemerintah tapi oleh rakyat dalam Pilkada. Sultan bisa mengusulkan dan menyetujui. Bagaimana matangnya tentu perlu pemikiran yang dalam untuk keistimewaan Jogja dan pluralitas Indonesia.

5 Komentar

Filed under politik