When Made Meet Astri

Roland dan ayahnya berdebat. Propaganda Jerman yang mengatakan pendudukan Jerman bukan untuk menaklukan Belanda tapi hanya untuk membuka jalan pasukan Jerman menyerbu Inggris, didebat habis habisan oleh Roland.

Tentara Jerman yang tidak terlalu menghiraukan kegiatan sipil dan hanya fokus pada kegiatan mobilisasi militer membuat orang orang tua seperti ayahnya Roland mulai percaya propaganda tersebut.

Mahasiswa kedokteran seperti Roland yang cerdas dan realistis melihat pemboman terhadap Rotterdam beberapa waktu yang lalu telah membuktikan kebohongan NAZI.

Made berusaha menengahi dengan mengatakan orang tua tak usah terlalu didebat, mereka hanya ingin hidup tenang. Tapi kelihatannya Roland telah terbawa emosi dan berpendapat dengan membiarkan pandangan yang seperti itu berarti telah membuat propaganda Jerman semakin dipercaya.

Made tak mau berdebat dengan kakak kelasnya itu. Ibunya Roland kemudian datang menyejukan suasana yang memanas dengan menghidangkan teh dan kue. Roland kemudian mengambil biola dan ayahnya mengangkat Celo untuk memainkan quartet Schurbet dan Beethoven, melupakan perang untuk sesaat.

Waktu berlalu. Invasi ke Inggris tak membawa hasil seperti yang diharapkan Jerman. Di timur: Rusia gagal diduduki dan justru memakan banyak korban prajurit dan peralatan dipihak Jerman. Di selatan: Perancis memang berhasil ditaklukan tapi gagal masuk ke Mesir.

Kasak kusuk perlawanan clandestine mulai muncul. Terutama di kampus kampus. Gestapo (polisi rahasia NAZI) semakin represif. Pengejaran terhadap warga Yahudi semakin gencar. Bahkan sudah masuk ke kampus kampus untuk pemeriksaan.

***

Pada perkuliahan Public Health oleh Prof Charlotte Ruys yang membosankan terdapat jeda istirahat untuk kemudian dilanjutkan pada 2 jam berikutnya. Ketika jeda istirahat tiba tiba Made menyadari kalau ia belum mengambil ration card nya yang baru.

Semula Made ingin mengambilnya setelah 2 jam perkuliahan Prof Charlotte berikutnya namun ia tak mau ketinggalan kuliah Parasitology Prof Swellengrebel yang menyenangkan.

Ditambah hari itu adalah hari Sabtu dimana kantor Rationing akan tutup siang hari maka Made memutuskan untuk pergi mengambil ration card pagi itu juga ke pusat kota Amsterdam.

Bolos satu jam tak apalah pikirnya. Setelah antri beberapa lama Made segera tancap sepedanya kembali ke kampus supaya tidak telat.

Sekitar 300 meter sebelum sampai auditorium Tropical Institute, Made dicegat oleh seseorang yang ia tak tahu namanya tapi kenal wajahnya sebagai kakak kelas.

Kakak kelas itu memberi tahu jangan mendekati ruang auditorium. Walaupun ia mengatakannya dengan santai dan pelan tapi dari wajahnya terlihat ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Dia memberi kode Made untuk mendekat. Setelah cukup depat kemudian orang itu berbisik, “Gestapo telah menangkapi temen teman kita. Mereka mengangkut para mahasiswa ke dalam truk, lihatlah…”.

Terlihat truk menghilang dibalik tikungan dengan bak belakang yang tertutup terpal. Made dengan polos bertanya, “Apa salah mereka?”. “Tak ada, kamu beruntung tak sedang berada disana”, jawabnya.

“Mungkin mereka mencari prof Charlotte Ruys”, katanya lagi. Made teringat, prof Charlotte Ruys pernah terdengar mengorganisir perlawanan terhadap pendudukan Jerman.

Made masih penasaran dan bertanya lagi, “Apa kira kira yang akan mereka lakukan pada teman teman kita?”. Orang itu menjawab, “Tak ada yang tahu, mungkin dipaksa jadi pekerja pabrik di Jerman atau Polandia, saya sangsi mereka akan selamat”.

Perasaan takut mulai menjalar keseluruh tubuh Made sementara mahasiswa lain yang tak tertangkap berkumpul disekitarnya ikut mendengarkan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”, tanya Made dengan gusar. Kakak kelasnya itu menarik nafas panjang lalu berkata, “Untuk sementara tak ada yang bisa dilakukan. Shh… mendekatlah kalian semua, dengar baik baik. Mulai saat ini tak usah kuliah lagi, mungkin juga tak akan ada perkuliahan. Semalam beberapa profesor telah ditangkapi, mungkin hari ini mereka mencari prof Charlotte Ruys. Sekarang tak usah banyak tanya, menghilanglah dari sini secepatnya. Jangan bergerombol, hati hati kalau bicara.”

Made kembali ke tempatnya indekos di selatan Amsterdam dengan gundah gulana, tak memahami situasi dan penuh pertanyaan dikepalanya. Tempat kostnya di rumah seorang janda tua yang sangat baik dan Made tinggal dalam sebuah kamar yang nyaman.

Made memutuskan tak usah makan siang di kantin kampus. Perasaan takut masih menyelimutinya. Ketika hendak keluar makan siang, ibu kost memberinya sepucuk surat. Katanya dari temannya tapi tak menyebut nama dan ciri ciri yang disebut ibu kost tak dapat dikenali Made.

Surat itu berbunyi, “Jangan tidur di rumah malam ini. Hancurkan surat ini segera!”

Setelah membakar surat itu Made duduk terduduk dikamarnya. Pikirannya melayang, memikirkan hubungannya antara kejadian tadi pagi di kampus dan nasihat kakak kelasnya. Tapi kenapa dirinya, dan bagaimana mereka tahu alamatnya.

Made kemudian pergi ke UNICA house. Dalam perjalanan yang terlintas dalam pikiran Made pastilah sudah ada yang mengorganisir dari para mahasiswa sehingga mereka tahu semua data tentang mahasiswa. Mungkin juga ada hubungannya dengan daftar mahasiswa yang menolak menandatangani “Declaration of Loyalty” kepada Jerman.

Di UNICA house Made bertemu mahasiswa mahasiswa yang lain yang juga mendapat surat yang serupa. Oleh tukang bersih bersih di UNICA house yang biasa dipanggil Mevrouwtje, Made ditawari tempat menginap.

Made tidur diruang tamu Mevrouwtje. Keesokan harinya Made ingin balik ke kost untuk ambil barang-baranganya. Mevrouwtje khawatir dan menyarankan tak usah ke kost, berbahaya katanya.

Made nekat balik ke kost dan janji tak akan lama. Setelah sampai di kost betapa kagetnya dia melihat kamarnya sudah diacak-acak. Ibu kost yang sudah tua renta itu menangis ketakutan dan mengatakan semalam ada orang mencari mahasiswa mahasiswa yang kost.

Made berpikir apa yang salah. Ia tak pernah ikut kegiatan terlarang atau perlawanan terhadap Jerman. Apakah karena namanya yang aneh bagi orang Eropa sehingga namanya masuk daftar orang yang dicari Gestapo.

***

Made segera kembali rumah Mevrouwtje dan mendapati adik kelasnya Was. Ia membawa seseorang bernama Henk yang akan bersembunyi ke pedalaman karena Henk seorang Yahudi.

Merasa senasib Made ikut. Dalam perjalanan di kereta api tiba tiba ada dua orang berseragam duduk didepan mereka bertiga dan kedua orang tersebut mirip agen Gestapo.

Si Henk yang Yahudi itu pucat pasi tapi tertutup koran karena ia pura pura baca koran. Made berusaha santai tapi tak berani melihat ke arah dua orang itu. Sepuluh menit hingga pemberhentian berikutnya terasa sangat lama. Menjelang tiba di pemberhentian berikutnya tanpa menunggu kereta benar benar berhenti mereka bertiga segera loncat turun dari kereta.

Made ke desa Oud Bussem untuk bersembunyi di rumah teman lamanya Tamme sedangkan Was dan Henk melanjutkan perjalanan menuju ke persembunyiannya di tempat antah berantah yang tak seorangpun tahu.

Beberapa lama di Oud Bussem Made pindah tempat persembunyian ke Boeschoten, tempat yang lebih tidak terpencil agar ia bisa sambil belajar. Dalam perjalanan dari desa Oud Bussem ke desa Boeschoten melalui jalan setapak memang aman dari tentara Jerman tapi tidak dari banteng liar yang sempat mengejarnya hingga Made jumpalitan dari sepeda ontelnya.

***

Beberapa lama di Boeschoten dan Made sangat menikmati harinya karena dianggap keluarga sendiri orang keluarga Van der Walls, pemilik rumah tempatnya bersembunyi.

Pada suatu pagi Made menerima surat dari Hans Rhodius. Made sempat heran dari mana Hans tahu tempat persembunyiannya. Hans adalah seorang pengacara terkenal yang sempat mengunjungi Bali dan Jawa sebelum perang.

Jatuh cinta dengan keindahan Bali, dimana Hans terpesona oleh lukisan pelukis Jerman, Walter Spies. Sekembalinya ke Amsterdam, Hans mengorganisir pertemuan budaya dan mengundang mahasiswa Indonesia di Amsterdam untuk menjadi pembicara atau untuk tampil.

Hans diberitahu bahwa ada mahasiswa Bali yang kuliah di Amsterdam. Made dikenalkan ke Hans dan pernah tampil sekali sebagai pembicara tentang budaya Bali pada acara malam budaya di kastil Hans yang mewah. Hubungan yang sangat berkesan. Setelah perang mereka lepas kontak.

Karena itu Made sangat kaget menerima surat Hans. Isi surat itu lebih mengagetkan lagi, “Made, saya telah mencari tempat yang lebih baik untukmu. Sebuah tempat yang bisa buat bekerja sekaligus melanjutkan studi. Pergilah ke Rumah Sakit Umum di Almelo. Temui temanku Dr Rethmeyer disana, dia sudah kuberi tahu tentang dirimu. Hancurkan surat ini setelah membaca”.

Sepeda ontel kembali menghantarnya ke Almelo. Satu hari perjalan tak membuatnya lelah. Di pinggiran kota Almelo suasana perang mulai terasa. Serdadu Jerman berbaris di jalanan sambil menyanyikan lagu lagu mars.

Sore menjelang malam Made sampai di RSU Almelo. Rupanya Dr Rethmeyer sudah pulang. Oleh perawat di RS, Made disuruh datang kerumahnya saja. Dr Rethmeyer segera mengenali Made ketika melihatnya celingukan di depan rumah. Made diminta kembali lagi ke RS besok pagi saja. Dr Rethmeyer janji besok akan memperkenalkannya dengan direktur Rumah Sakit yang akan menjadi penyelianya.

***

Senang sudah bertemu Dr Rethmeyer, kini Made tinggal mencari tempat menginap. Hari mulai gelap, Made segera melihat lihat di sepanjang jalan jika ada papan reklame rumah kost yang ada kamar kosongnya.

Ada sebuah toko dipinggir jalan yang ada papan reklamenya. Made ingin coba, siapa tahu bisa buat tempat kost seterusnya kalau cocok.

Setelah pintu diketuk beberapa kali lalu pintu terbuka dan tampak tiga orang berpakaian seragam dengan tulisan N.S.B (Dutch Nazi). Hal yang paling dihindari untuk ditemui.

Terdengar suara, “Kamu mau apa?”.

Made benar benar kaget dan grogi tapi cepat improvisasi dengan menjawab, “Oh maaf, apakah ini rumah Tuan Boon?”.

Pertanyaan yang berisiko karena bisa saja itu memang benar rumahnya Tuan Boon.

Mereka menjawab, “Tidak, kamu salah alamat”.

Lega rasanya dan langsung saja Made menancap sepedanya ngebut meninggalkan rumah itu. Made tiba di RS yang sudah tutup dan hanya bertemu satpam penjaga pintu gerbang. Oleh pak satpam Made ditunjukan tempat kost terdekat dari RS, yaitu tempat keluarga Vermeulens.

Setiba didepan rumah keluarga Vermeulens, Made mengetok pintu rumah tua itu. Terlihat dari jendela ada orang yang mengintip. Seorang gadis dengan wajah pucat. Gadis itu menghilang cepat. Terdengar langkah kaki di balik pintu. Kemudian terlihat wajah orang tua memperhatikannya dengan curiga dari balik jendela.

Khawatir jendela itu ditutup lagi, Made segera bicara, “Saya mau cari tempat kost”. Tiba tiba wajah orang tua itu menjadi ramah, membuka pintu dan mempersilakan Made masuk ke rumah.

Di dalam rumah Made bertemu lagi gadis tadi yang sekarang memandangnya dengan takjub. Made memberi senyum yang lebar tapi tak dibalasnya. Rupanya Made adalah orang berkulit sawo matang dan berambut hitam pertama yang dilihat gadis itu.

Orang tua itu adalah Pak Vermeulens dan gadis itu adalah putrinya yang bernama Tille. Setelah masuk ke kamar dan meletakkan barang-barangnya, Made turun kembali ke bawah untuk makan malam bersama keluarga besar Vermeulens.

“Kau pasti mahasiswa dari jauh. Siapa namamu tadi nak?”, tanya Pak Vermeulens dengan ramah. Made memperkenalkan dirinya dan bercerita panjang lebar tentang Bali yang didengarkan dengan sangat antusias oleh keluarga Vermeulens.

Made merasa nyaman dengan keluarga yang sederhana ini dan akan menjadi tempat tinggalnya selama 8 bulan. Bersama keluarga Vermeulens adalah masa masa paling indah sepanjang Made menyelesaikan studinya di Holland. Di sini pula kelak ia akan mengalami hal tak terduga yang akan merubah total jalan hidupnya.

***

Dr Pannekoek, kepala Rumah Sakit Umum Almelo yang juga seorang internis melakukan test pada Made berdasarkan ujian terakhir yang telah diikuti oleh Made di kampus.

“Okelah, kamu cocok di bagian laboratorium”, kata Dr Pannekoek. Kemudian sambil berjalan menuju laboratorium untuk diperkenalkan pada suster kepala lab, Dr Pannekoek mengatakan, “Kelemahan banyak dokter muda adalah kurang pengalaman di lab, atau sebaliknya terlalu antusias pada hasil lab, sehingga mereka sering kali melakukan test lab yang tidak perlu terhadap pasien.”

Sampai di lab, Made diperkenalkan dengan suster kepala lab yang namanya adalah “Dokter”. Aneh memang tapi “Dokter” adalah nama fam sehingga suster tersebut di panggil suster Dokter.

Suster Dokter kemudian memperkenal semua kru dan peralatan di lab. Sejak saat itu Made tenggelam dalam kesibukan laboratorium yang sangat dinikmatinya.

Made sangat tekun di lab, segala yang diajarkan suster Dokter dapat dikuasainya dengan cepat. Ini membuat Dr Pannekoek benar benar senang mendapat seorang asisten yang cekatan dan cerdas. Made kemudian dipercaya untuk terlibat dalam beberapa proyek penelitian medis Dr Pannekoek dengan jabatan Medical Analyst dan mendapat gaji bulanan. Sementara suasana tinggal bersama keluarga Vermeulens juga sangat hangat dan menyenangkan.

***

Pada suatu pagi ketika Made hendak berangkat ke RS, Pak Vermeulens meminta bantuan untuk nitip sesuatu pada Made.

“Made, saya boleh nitip gak?”, tanya Pak Vermeulens.

“Oh boleh Pak…”, balas Made, “…dengan senang hati”.

“Ini untuk teman kami suster Astri, dia sedang sakit demam, sudah tiga hari dia dirawat”, lanjut Pak Vermeulens.

Pak Vermeulens menyerahkan sebuah toples yang berisi semacam manisan.

“Apa ini Pak, kalo boleh tahu?”, tanya Made.

“Ini cuma manisan cherry yang dibuat istriku”, jawab Pak Vermeulens.

Made berangkat ke RS. Semula Made ingin menitipkannya pada salah seorang suster untuk diserahkan pada suster Astri tapi setibanya di RS para suster sedang sibuk semua dan suster kepala meminta Made untuk menyerahkannya sendiri ke ruang rawat inap tempat suster Astri dirawat.

“Jalan terus dilorong ini, ketemu tangga naik sampe mentok, disana tempatnya”, begitu suster kepala menjelaskan lokasinya. Made naik sampai ke lantai 4, ngos-ngosan sampai didepan pintu masuk ruang kamar.

Di depan pintu kamar ada tulisan, “Do Not Disturb“, membuat Made ragu untuk mengetok pintu. Tapi tak mungkin ia tinggalkan toples itu dibawah pintu begitu saja. Akhirnya Made memutuskan untuk mengetok pintu dengan pelan.

Terdengar suara lemah dari dalam menjawab, ” Yah..? “.

Made membuka pintu dan masuk. Terlihat seorang suster yang sedang sakit duduk di atas ranjang rawat inap. Wajahnya pucat tampak tak sehat. Matanya yang tajam memandang ke arah Made dengan pandangan heran.

Made yang masih ngos-ngosan entah kenapa menjadi salah tingkah dan lupa memperkenalkan diri. Toples yang ia bawa pun tidak diserahkan tapi cuma diletakkan di meja pasien yang sudah penuh dengan makanan.

Made seperti linglung tak tahu harus bersikap apa. Maklum, walaupun pucat karena sedang sakit suster itu cantik. Sementara mata suster tak beranjak memperhatikan tingkah Made.

Karena sudah kepalang basah bertingkah aneh, Made lantas berimprovisasi, pura pura menjadi asisten dokter yang akan memeriksa pasien. Ia lupa kalau pasiennya adalah seorang perawat RS itu juga.

“Jadi bagaimana keadaanmu sekarang? sudah mendingan?”, tanya Made sambil berlagak jadi asisten dokter yang bertugas memeriksa pasien.

Suster Astri tidak menjawab dan wajahnya yang cantik tampak bertambah heran. Made sadar sepenuhnya bahwa ia sudah jadi orang aneh di depan suster Astri. Saking malunya Made lantas ngeloyor tanpa pamit .

Sepanjang hari itu Made terdiam dan tak habis pikir kenapa dia bisa bertingkah aneh seperti itu. Sejak saat itu Made selalu terbayang bayang wajah suster Astri nan ayu rupawan. Tak mau hilang dari pikirannya dan membuat Made menjadi pendiam dan menenggelamkan diri pada kesibukan bekerja.

Suster Dokter memperhatikan perubahan sikap itu dan mencoba mengajaknya ngobrol beberapa kali. Made melayaninya seperlunya lalu lanjut bekerja dengan tekun. Suster Dokter akhirnya tahu dari suster kepala bahwa Made pernah bertemu suster Astri di bangsal lantai 4 untuk mengantar manisan cherry.

Akhirnya suatu pagi suster Dokter sambil bercanda mengatakan, “Aha.. aku tahu sekarang, kau naksir suster Astri yah…?”.

Made kaget setengah mati, “Ah kata siapa? masa sih?”.

Made jadi tambah tidak karuan, mau jenguk lagi, malu, grogi, takut, was-was, tidak PD, segala macam perasaan aneh muncul campur aduk jadi satu.

Setelah suster Astri sembuh, ia ambil cuti beberapa hari untuk pulang ke rumah. Made tak pernah bicara lagi padanya. Tapi pada saat keberangkatan Astri pulang, Made memaksakan diri untuk bilang, “Kirimi aku kartu pos yah?”.

Tentu saja tak ada kartu pos yang Made terima dari Astri. Kenyataan ini membuat Made tak ingin bertemu lagi dengan Astri. Bahkan tak ingin memikirkannya. Astri jarang main ke rumah keluarga Vermeulens. Kalau Astri sedang berkunjung ke rumah Pak Vermeulens maka Made menjadi sangat kikuk, tak tahu harus bersikap apa.

Tak ingin bertemu tapi selalu bertemu jika Astri berkunjung ke keluarga Vermeulens. Made tak tahu apa yang ada di hati Astri. Apakah ia punya perasaan yang sama atau menganggapnya orang asing yang aneh.

Jika Astri berkunjung, Made coba untuk ngobrol tapi lidahnya kelu. Dan ketika Made telah berhasil mengatasi rasa malu dan groginya Made berubah menjadi overacting dan terlalu semangat membahas masalah kedokteran.

Made sangat ingin tahu apa kesan Astri pada dirinya. Tapi Astri semakin jarang datang ke rumah Vermeulens. Ini membuat Made seperti orang gila. Made hanya butuh sedikit kepastian apakah Astri suka pada dirinya atau tidak.

Tak mendapat kepastian yang ia butuhkan, Made mencoba untuk melupakan Astri dengan mencoba mendekati gadis gadis lain di lingkungan kerjanya. Made pernah dekat dengan seorang gadis asisten lab RS Katolik yang punya sebuah perahu layar. Tiap Sabtu mereka naik perahu layar di Twente Rhine Canal. Made jadi lebih sering mengunjungi rumah Dr Rethmeyer dan Dr Pannekoek. Semua itu atas usaha untuk melupakan obsesinya pada Astri.

Semua usaha itu sia sia. Malam hari susah tidur, mimpi buruk, siang hari menghayal, kurang tidur, membuat Made tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Siksaan ini berlangsung selama tiga bulan.

***

Hingga suatu hari pada hari ulang tahunnya, Astri dan suster Dokter datang membawa karangan bunga dan menyanyikan lagu “Happy Birthday“.

Made punya firasat, “inilah akhir dari segalanya…”, tapi segala apa itu Made tak tahu.

Ada event sepeda tandem dan Astri bertanya apakah Made bisa menjadi pasangnya naik sepeda tandem. Tapi sepeda tandem harus di pinjam dari desa Ootmarsum yang tidak terlalu jauh dari Almelo.

Perjalanan menuju desa Ootmarsum sungguh sangat indah pemandangannya. Pagi yang dingin terasa hangat, sinar mentari pagi menerpa pucuk pohon Oak diatas bukit dan langit yang biru dihiasi awan berbaris baris. Tapi tak seindah perasaan hati Made yang berbunga bunga.

Astri lebih menikmati pemandangan ketimbang Made yang menemaninya. Made lebih menikmati wajah Astri ketimbang pemandangan alam disekitarnya.

Sepanjang perjalanan Made selalu berpikir, “punyakah dia perasaan suka seperti aku? sedikit saja tak apalah”. Tiba di Ootmarsum mereka sempat mengunjungi museum arkeologi. Diskusi tentang spesimen langka koleksi museum. Mereka melepas lelah rebahan di rumput dengan kepala keatas hingga yang tampak hanya langit biru dibingkai untaian helai rumput yang tertiup angin.

Dalam perjalanan pulang ke Almelo ditemani langit ungu, “Romance” karya Beethoven menyanyi-nyanyi di kepala Made. Hari demi hari, pertemuan demi pertemuan, hiking dan bersepeda.

Ketika cinta bergelora, Made merasa mampu melakukan apapun. Cinta memompa vitalitas baru dalam hidupnya. Dalam suasana seperti ini Made teringat akan cintanya pada tanah asalnya, pulau Bali.

Hingga suatu hari dipuncak bukit Holter Hill, ketika menikmati pemandangan di bawah bukit.

Astri akhirnya bertanya, “Jadi apa rencanamu tentang kita?”

Made menjawab dengan cepat, “tidak ada…”, dengan cepat pula ia sadar bahwa ia telah berbohong.

Jelas Made punya rencana, tapi apa rencana itu tidak jelas.

Made belum benar benar memikirkan dampak sosial yang harus ia hadapi ketika bersama Astri. Walaupun ia belum mendapat kepastian tentang perasaan Astri kepada dirinya tapi Made merasa yakin dan mampu untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin akan dihadapi.

***

Tiba saatnya Astri harus melanjutkan sekolah kebidanan ke Rotterdam selama 2 tahun. Sebuah sekolah yang sangat ketat dengan jadwal.

Sore hari sebelum keberangkatan Astri ke Rotterdam, mereka menaiki bukit untuk menyaksikan matahari ditelan bumi. Tertawan kedamaian yang dalam ditengah berkecamuknya perang dunia ke II.

Hari telah dipeluk malam ketika untuk pertama kalinya Astri dan Made mengakui cinta telah bersemi dihati mereka. Kenyataan bahwa mereka akan berpisah dan mungkin tak bisa saling bertemu selama dua tahun menyesakkan dada.

Made sadar tengah berada di persimpangan jalan. Ia bisa mengatakan pada Astri bahwa kisah kita telah usai dan menganggap semua ini adalah sebuah kenangan indah yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Astripun mengatakan bahwa ia menerima segala keputusan yang akan diambil oleh Made.

Astri memiliki karir, pendidikan, usia muda, paras yang cantik dan kesempatan untuk memulai pengalaman baru di tempat yang baru bersama yang lain.

Tapi Astri sempat berujar bahwa ia tak akan bersama yang lain. Pengalaman indah bersama Made akan selalu menghiasi hatinya. Sementara Made masih memikirkan, apakah Astri bisa tahan mendampingi dirinya menghadapi ribuan tantangan asing dari dunia timur.

Menyaksikan kereta yang ditumpangi Astri menghilang menuju Rotterdam membuat Made bergetar seperti kehilangan nyawa. Lama Made dan Pak Vermeulens berdiri memandang ke arah kereta yang menghilang itu seolah olah kereta itu akan kembali lagi.

Kesedihan mendalam membuatnya muram dan Pak Vermeulens menghiburnya dengan mengatakan, “kalian masih bisa bertemu dua minggu sekali ketika kamu off”.

Perkataan Pak Vermeulens justru membangkitkan emosi Made. Disekanya air mata yang keluar sambil menghambur ke kamar menghayati perasaanya. Dalam hati Made semakin yakin, “Astri… hanya Astri seorang… iya.. Astrilah orangnya.. yang akan mampu mendampingi hidupku yang berat ini untuk selamanya”.

***

Rindu tak tertahankan membuat Made nekat ke Rotterdam pada saat off pertama sejak ditinggal Astri. Sesampainya di RS Rotterdam Made bertemu dengan satpam penjaga pintu gerbang yang simpatik.

Asrama suster tak menerima tamu pria tapi satpam itu kelihatannya baik dan bersedia membantu. Made janji tak akan datang dua kali karena satpam sudah berkali kali mengingatkan bahwa tamu pria dilarang masuk.

Ketika Made menanyakan nama suster Astri, pak satpam langsung tahu, “oh tahu… siswa baru sekolah kebidanan yang imut-imut itu kan?”, kata pak satpam.

Dengan berjalan berjingkat-jingkat mereka masuk menuju asrama lewat jalan belakang melalui semacam labirin lalu tembus ke sebuah koridor dimana terdapat beberapa siswi sedang mengobrol.

Obrolan terhenti ketika melihat pak satpam dan seorang laki-laki yang masuk ke asrama. Pak satpam lalu memberitahu ke siswi itu untuk memanggil suster Astri. Para siswi itu berlari keatas dengan girang dan heboh memanggil Astri untuk turun.

Astri sangat senang melihat Made datang. Walaupun pertemuan sangat singkat tapi rasanya sangat membesarkan hati. Astri lalu mengatakan lain kali kalau mau datang sebaiknya disinkronkan waktunya dengan off sekolah kebidanan sehingga ia bisa membawa Made ke rumah orangtuanya di Wassenaar.

***

Empat minggu kemudian Made mendapati dirinya telah duduk diruang tamu Pak Piet, ayah Astri di Wassenaar. Orang tua Astri telah bercerai waktu Astri berumur 7 tahun, semua anak anak ikut sang Ibu. Untuk menghidupi keluarga Astri bekerja disebuah toko buku hingga usiannya cukup dewasa untuk bekerja sebagai suster. Namun Astri tetap dekat dengan ayahnya walaupun ayahnya menikah lagi dan punya anak lagi yang masih kecil kecil.

Made penasaran sejauh mana Astri telah cerita tentang dirinya pada ayahnya. Made merasa ayah Astri pasti memandang dirinya dengan penilaian penilaian khusus calon menantu. Tapi kekakuan suasana cepat cair dengan selera humor Pak Piet dan obrolan yang seru. Weekend yang menyenangkan dirumah Pak Piet.

Made tidur diatas kasur tenda untuk camping di sebuah kamar kayu sebelah belakang rumah. Keesokan harinya, pagi pagi Astri datang dengan menggunakan kimono dan membawa secangkir kopi.

Astri membungkuk untuk memberi sebuah ciuman selayaknya selamat pagi. Pada saat membungkuk itu, kimono bagian atas Astri terlepas dan terlihatlah pemandangan indah yang ada didalam kimono Astri oleh Made.

Begitu indahnya… hingga Made tak kuasa menahan tangannya untuk diam. Astripun merah merona di pagi hari yang senyap itu. Made mencicipi indahnya surga dunia.

***

Pada Sabtu berikutnya, mereka janjian untuk bertemu di Hertogenbosch. Dari sana mereka menuju sebuah obyek wisata di desa kecil bernama Oisterwijk. Tempat yang sangat ideal untuk hiking.

Selayaknya orang pacaran mereka jalan jalan sesuka hati, tak memperhatikan arah dan waktu, hingga hari mulai gelap. Mereka baru sadar ketika ingin kembali. Tapi hati mereka lagi senang, tak terlalu khawatir dengan situasi dan justru menikmati petualangannya.

Hingga mereka dikejutkan oleh suara keras, “WERDA“. Mereka terdiam, serius mendengarkan suara apa dan siapa itu. Kemudian terdengar lagi, “WERDA“, diikuti oleh derap kaki teratur sejumlah orang, mirip seperti serdadu yang tengah berbaris.

Mereka mendekati sumber suara dengan mengendap-endap. Terlihat tentara Jerman sedang patroli hilir mudik. Rupanya dekat situ terdapat pos penjagaan perbatasan.

Made mulai panik tapi Astri tetap tenang. Ketenangan Astri menentramkan Made. Mereka menjauh perlahan lahan dan memutuskan untuk menunggu hingga besok pagi untuk mencari jalan pulang.

Tak berani menyalakan api unggun dan untuk mengusir dingin mereka saling berpelukan. Dalam suasana yang gelap, dingin, sunyi dan menegangkan tapi perasaan romantis menghalau semuanya.

Fajar menyingsing, mereka mengandalkan naluri pramuka dalam menemukan jalan pulang. Berkat bantuan sepasang kakek nenek yang rumahnya tak jauh dari perbatasan mereka bisa menemukan stasiun kereta api terdekat menuju pulang. Ikatan diantara mereka semakin kuat.

***

Akhir 1943, fakultas kedokteran Universitas Amsterdam telah menyelesaikan persiapan sidang untuk sarjana kedokteran. Tapi karena kampus ditutup untuk beberapa lama maka dikhawatirkan jika tak ada mahasiswa yang siap maka akan terjadi gap pada angkatan kelulusan.

Untuk itu dipilih secara hati hati mahasiswa yang akan mengikuti persiapan sidang. Dr Pannekoek memberitahu bahwa Made adalah salah satu mahasiswa yang dipilih untuk ikut serta perkuliahan lanjut.

Kembali ke Amsterdam dan terbukti ternyata semua pengalaman sebagai asisten Dr Pannekoek di lab RS Almelo sangat membantu Made dalam memahami teori perkualiahan. Lulus ujian demi ujian hingga akhirnya Made lulus sebagai sarjana kedokteran (belum dokter) dan ditugaskan di kota Nijmegen pada sebuah RS Katolik.

Beberapa minggu kemudian Roland juga lulus juga dan menyusulnya ke Nijmegen. Mereka tinggal sekamar dirumah keluarga Jansen. Masa masa bersemangat di Nijmegen bersama Roland tidak terlalu lama sebab perang semakin brutal.

Tentara sekutu berusaha mengusir tentara Jerman keluar Nijmegen. Tentara jerman kocar-kacir dan meninggalkan teman temen mereka yang terluka.

Tentara Jerman yang terluka dimasukan ke RS untuk diberi perawatan. RS tak boleh menolak dan harus menerima semua pasien tanpa terkecuali entah itu tentara sekutu maupun Jerman.

Pernah suatu kali ada tentara Jerman yang butuh transfusi darah karena luka lukanya. Made mendapat tugas untuk melakukannya.

Dengan wajah tegang tentara Jerman itu bertanya, “Apa itu? mau kau apa aku?”.

Made menjawab, “Tenang, ini sekantong darah, bagus untukmu.”.

Tiba tiba tentara Jerman itu berteriak, “Oh.. darah? jangan jangan, aku tak mau, bisa saja itu darah Yahudi, aku lebih baik mati daripada tercemar darah Yahudi.”

Made tak habis, bagaimana mungkin orang Eropa percaya takhyul seperti itu.

Kemudian tiba giliran tentara Amerika yang dirawat. Ketika tiba waktu besuk, teman teman tentara Amerika yang juga tentara itu datang menjenguk dengan membawa rokok dan minuman. Mereka merokok di dalam ruang perawatan hingga asapnya kemana mana sambil bercanda tertawa tawa seperti orang berpesta.

***

Musim semi 1945, tentara Jerman berhasil dihalau keluar. Kehidupan berangsur normal kembali. Komunikasi dengan Rotterdam telah pulih. Surat surat Astri datang dengan lancar dan sebentar lagi ia akan ujian akhir kebidanan.

Universitas dibuka kembali, seluruh mahasiswa yang sebelumnya sembunyi kini keluar dari persembunyiannya untuk melanjutkan studinya. Made telah diangkat menjadi co-as di Amsterdam. Astripun kerja paruh waktu sebagai bidan di Amsterdam selatan dan memungkinkan bertemu dengan Made lebih sering.

Made benar benar berusaha menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin karena ada Astri yang telah menunggu dan situasi telah membaik seiring perginya Jerman.

Made berlajar dengan tekun untuk ikut ujian akhir. Pada suatu kuliah yang penting sang profesor baru saja memulai kuliah, Made datang telat dan berjingkat masuk ruangan agar tak menarik perhatian. Namun dosen memergokinya dan memintanya maju kedepan.

Made mulai tegang. Para mahasiswapun memperhatikan dengen seksama. Semula dosen akan mempraktikan teknik memeriksa pasien yang terbaring di depan kelas. Tapi kemudian dosen meminta Made untuk melakukanya.

“Kapan ujian akhirmu”, tanya dosen.
“Bulan depan pak”, jawab Made.
“Periksalah, pasien ini sakit apa.”, lanjut pak dosen profesor itu.

Made memeriksa pasien itu lalu melaporkan hasilnya kepada dosen dengan suara keras agar didengar oleh seluruh mahasiswa.

“Selamat, anda telah lulus, tak usah ikut ujian lagi.”, sambut pak dosen.

Made tak percaya tapi tepuk tangan riuh para mahasiswa meyakinkannya bahwa apa yang ia dengar itu nyata.

Made gembira luar biasa dan mengabarkan berita gembira itu pada Astri. Dua minggu kemudian mereka melaporkan jadwal pernikahan mereka ke kantor catatan sipil pada tanggal 31 Mei 1946.

Malam hari setelah mencatatkan diri pada kantor catatan sipil mereka berdua merayakannya dengan menonton pagelaran musik “Figaro’s Hochzeit“, karya Mozart di Opera House.

***

Made dan Astri tak memiliki cukup uang untuk membeli gaun pernikahan. Astri kemudian dengan jarum dan benang merombak pakaian pengantin milik ibunya yang wafat ketika perang masih berkecamuk. Gaun itu sudah berumur 30 tahun tapi terbuat dari bahan yang bagus. Astri merombaknya menjadi gaun yang cocok dan serasi untuk mereka berdua.

Untuk urusan rias pengantin dilakukan oleh keluarga Roland, khususnya ibunya Roland. Kemudian resepsi makan siang disiapkan oleh Tamme dari Oud-Bussum, tempatnya bersembuyi semasa perang.

Dalam perjalan menuju rumah pengantin, Made menyempatkan diri singgah ke toko bunga untuk membeli bunga aster. Sesampainya dirumah pengantin, Astri mengambil setangkai bunga itu lalu menyematkannya di rambut seperti layaknya gadis Bali. Astri tampak sangat istimewa.

Kejutan lain, teman teman Made dari UNICA menyiapkan kereta kuda dengan empat ekor kuda penariknya yang gagah. Perjalanan berkeliling kota Amsterdam dengan kereta kuda dan mendapat sambutan senyum dan lambaian tangan dari setiap orang yang melihatnya adalah suatu pengalaman bagai mimpi.

Enam minggu bulan madu dipulau Vlieland adalah akhir dari prosesi pernikahan Made dan Astri. Suatu akhir yang merupakan awal dari seribu tantangan kedepan yang akan dihadapi oleh Made dan Astri dikemudian hari. Malam ini adalah peringatan kisah mereka berdua.

18 Komentar

Filed under sastra, sejarah

18 responses to “When Made Meet Astri

  1. Jed

    panjang bangets tapi menariks juga.

  2. @Jed:

    Itu udah di ringkas ringkas, based on true story.

  3. jaya

    Senang membaca dan bisa nambah wawasan pengetahuan

  4. uh … romantis nih… tapi akhirnya gimana? lagian ini kisah nyata siapa?

  5. Biang Bulan

    Akhirnya.. mereka tetap romantis sampai akir hayat,kini keduanya telah almarhum dan kebetulan mereka orang tuaku. Beberapa hari yang lalu kami anak2nya melaksanakan acara Malam Kenangan bagi mereka di Taman Ujung dengan berbagai acara. Membaca tulisan terjemahan Budayawan Muda dengan begitu tepat dan menggetarkan hati, seakan cerita lama jadi baru lagi.. suksema..

  6. ABG

    Muncul lagi Mas dgn story yg ginian. Saya mengerti kok isinya. Lagi dapat orderan dari biyang ya. Selamat dan semoga sukses.
    Ceritakan ke saya nanti, di mana mereka saat revolusi kemerdekaan RI.

    Cheers🙂

  7. @jaya:

    enjoy..🙂

    @sahatmrt:

    Perkawinan mereka pernah dirayakan hingga perkawinan emas 50 tahun. Made adalah seorang budayawan yang dokter, atau sebaliknya. Sebagai dokter beliau ditunjuk Bung Karno untuk mendirikan sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal fakultas kedokteran Udayana. Juga pernah bekerja untuk PBB untuk memberantas wabah malaria diberbagai negara berkembang.

    @Biang Bulan:

    Terima kasih atas komentarnya Biang..🙂

  8. @ABG:

    Nah loo… muncul lagi dia….

    Muncul lagi Mas dgn story yg ginian.

    story yang ginian?
    tidak suka kisah romance?

    Bapak bapak, ibu ibu, perkenalkan seorang Budayawan Muda Watch. Selalu mengintip Blog saya untuk memeriksa apakah tulisan saya memenuhi selera dia atau tidak.

    Saya mengerti kok isinya.

    Kebanyakan pembaca blog akan pergi mencari Blog lain yang memenuhi seleranya untuk dibaca, tapi kalo yang ini rupanya cinta banget sama Blog saya sekaligus benci mati sama tokoh Made yang ada di tulisan saya diatas…

    Lagi dapat orderan dari biyang ya

    ha ha ha ha ha… orang ini mengira kita para blogger menulis karena dibayar… hahahaha
    maaf saya bukan Bali Post.

    Selamat dan semoga sukses.

    Ah.. masa sih..?
    kalo gitu gak usah datang lagi yah.. awas loh kalo datang lagi, nanti saya ketawain lagi…🙂

    Kalo di Blog ini paling banter cuma diketawain, kalo di di Blog lain yang beginian sudah dihapus.

    Ceritakan ke saya nanti, di mana mereka saat revolusi kemerdekaan RI.

    Ke anda? anda siapa? tidak mau menujukan identitas tapi mau dihargai?

    Lagi pula pura pura lupa kalo dulu pernah diskusi soal ini.

    Cheers

    Ok, good bye… make your own blog and comment your self.

    Mohon maaf bagi para pembaca yang agak bingung dengan diskusi diatas. Panjang ceritanya… nanti saya buatkan satu tulisan yang khusus membahas soal komentar yang model begini.

  9. bismo (bandung)

    @wibi : bagus sekali tulisannya, juga blog nya. salut.

    @abg : hahaha, kasian banget usaha anda menjadi tertawaan banyak orang (semakin anda melawak akan semakin banyak yang ketawa tapi lama kelamaan jadi kasian juga sama anda karena ga lucu lagi)… ide bagus tuh ada blog yang khusus menjelaskan sosok looser beginian. ditunggu lho…

  10. Alus Setya Pambudhie

    wah, mas wibi… menarik nih ceritanya. ga nyangka beliau punya cerita romantis. thanks buat postingannya.

    sukses selalu:)

  11. @bismo:

    terima kasih atas komentarnya mas Bismo

    @Alus Setya Pambudhie:

    kemana ajah mas.. lama gak muncul🙂

  12. wah, saya telat bacanya. kalo tau lbh awal pasti tak ambil buat balebengong.net. atau msh boleh mas?🙂

  13. @anton:

    Monggo kerso mas Anton
    Tiada kata terlambat🙂

  14. Stanley David

    based on true story … ?
    true storyx sopo ya … ?
    anyway, nggak semua “True Love Story” yang berakhir happy ending kayak gitu.
    Sometimes, love means releasing and losing.

    hehehehhe, udah lama nggak baca kisah yang kayak gituan. siapa yang karang tuh .. ?

  15. @Stanley David:

    anyway, nggak semua “True Love Story” yang berakhir happy ending kayak gitu.

    Khusus kisahnya yang ini berakhir seperti itu. Bagi David yang pencari cinta sejati (love at the first sight) mungkin kisah diatas terasa insipiratif yah? semoga (dapet pasangan dari pandangan pertama).. hehehe

  16. nd1

    Deskripsi yg mengalun cantik, sy jd asyik membayangkan setting tiap sisinya..kl mas wib buat filmnya, kira2 sama nggak ya dgn yg di bayangan sy?

  17. hi Wibisono,

    membaca cerita Made bertemu Astri…cuma satu kata…gile bener niatnya pak Made jadi Dokter dan kisah jatuh cintanya. Ini cerita beneran..? Kalo iya…gileee bener…jauh bow…naik sepeda dari satu desa ke kota seperti yg pak Made ceritakan.

    btw…kalo ini cerita beneran …darimana asalnya? dan apa bisa dicari bukunya di toko buku…

  18. ini cerita seruu bennerr😀

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s