Perspektif Wimar

Setelah Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) disahkan oleh DPR muncul banyak pro dan kontra, terutama dikalangan masyarakat yang berkecimpung didunia IT.

Apalagi diperheboh dengan ulah seorang “pakar” mengail diair keruh. Milis yang semula sepi jadi ramai, para Blogger punya topik tulisan baru dan panen komentar. Hingga akhirnya TV pun tidak ketinggalan mengangkat isu ini sebagai pembahasan mereka.

Salah satunya adalah acara anyar Perspektif Wimar berdurasi 30 menit yang ditayangkan di ANTV pada jam 6 pagi.

Gambar dari Perspektif.net

Acara ini tentu saja diasuh oleh Wimar Witoelar, sang pemandu talkshow kawakan yang sudah punya pengalaman 14 kali dibredel oleh pemerintah sejak jaman Orde Baru. Selain Om Wimar acara ini juga memiliki co-host seorang wanita cantik yang juga seleb, untuk kali ini co-host nya adalah Wulan Guritno.

Pada acara ini dihadirkan langsung orang yang paling bertanggung jawab atas hadirnya UUITE, Menteri Komunikasi dan Informasi, Pak Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA sebagai nara sumber.

Isu yang paling santer dari UUITE ini adalah tentang pemblokiran situs porno walaupun sebenarnya UUITE itu lebih banyak mengatur tentang traksaksi elektronik.

Wulan Guritno membuka pembicaraan dengan menyebut topiknya kali ini adalah “Pemblokiran Situs Porno“, yang kemudian Pak Nuh diminta menceritakan tentang perihal pemblokiran tersebut.

Kalau politisi biasanya defensif dengan mencegat diawal tapi Pak Nuh tidak merasa perlu untuk menjelaskan bahwa UUITE itu sebenarnya tidak fokus untuk urusan situs porno semata tapi beliau menanggapi langsung ke masalahnya dengan pertanyaan:

“Salah satu alasanya, tolong carikan Bang Wimar, Mbak Wulan, apakah bisa membangun bangsa ini dengan cara menumbuh kembangkan, mensuburkan pornografi, kasih contoh best pratice nya negara mana?”.

Kemudian Wimar menanggapi:

“Mungkin saya bisa temukan tempatnya disini untuk menjawabnya yah… saya bisa temukan banyak alasan kenapa pornografi jangan dibatasi… eemmmm tapi bukan waktunya sekarang.”

Kemudian Pak Menteri melanjutkan:

“Ok, saya rasa itu salah satu alasannya dan yang kedua ada kerisauan di masyarakat ketika pemerintah dan masyarakat IT sedang menggalakkan penggunaan IT ke desa desa…. padahalah disalah satu falsafah ITnya kan dalam sebuah produk teknologi itu pasti ada plus ada minusnya,…

lha kalau masyarakat itu tidak kita lengkapi dengan proteksi terhadap yang negatif, sangat khawatir kita itu, jangan jangan malahan justru yang negatifnya yang diambil, dari situlah maka hal hal yang menyangkut public domain itu yang kita berikan limitasi.”

Kemudian Wimar menanggapi:

“Dan pemerintah selalu lebih tahu dari siapapun apa yang bagus dan apa yang jelek untuk moralitas publik?”

Pak Menteri menjawab:

“Saya kira tidak dalam posisi itu, jadi kita menempatkan mana yang boleh mana, yang tidak boleh, bukan porsi atau bukan pemerintah sendiri yang menetapkan tetapi bersama sama komunitas masyarakat yang lain, yang memiliki perspektif yang sama bahwa untuk membangun bangsa itu memang ada kaidah kaidah, ada rule rule yang harus diikuti.”

Cukup puas dengan jawaban Pak Menteri kemudian Wimar mengatakan:

“Pak Nuh ini sangat populer yah Wulan yah, karena setiap hari acara ini dibahas di website kami Perspektif.net, sama sekali gak ada pornonya, dari sekian banyak edisi yang paling diantisipasi adalah acara ini karena biasanya orang cuma kasih 11-12 pertanyaan ini sampai 40 lebih…”.

Suasana pun dari semula tegang menjadi cair kembali.

Wimar menceritakan dalam website tersebut banyak pertanyaan bagaimana cara melakukan sensornya. Banyak kekhawatiran bagaimana kalau saya pakai webcam atau foto foto pakai baju renang dst…

Kemudian Wulan menyela dengan pertanyaan yang gak penting hingga Wimar sampai harus menyela lagi untuk menambahkan pertanyaan setelah Wimar menyatakan traumanya kena bredel sejak jaman Soekarno-Soeharto.

Pertanyaan Wimar:

“Apakah Undang Undangnya akan didomplengi oleh pembatasan terhadap kebebasan?”

Kemudian Pak Menteri menjawab:

“Saya kira kalau konteksnya UUITE itu sama sekali bukan untuk hal seperti itu, ITE itu falsafahnya sekarang kita itu tidak bisa lepas dari transaksi transaksi yang sifatnya elektronik base, tapi disatu sisi kita belum punya payung hukum untuk melindungi masyarakat sendiri yang melakukan transaksi elektronik base itu”.

Kemudian ada telephone masuk dari Budi Rahardjo, pakar network security dari ITB. Pak Budi diminta pendapatnya tentang isu ini. Beliau lantas mengemukakan kekhawatirannya dengan sensorship seperti ini. Salah satu kebanggaan Pak Budi dengan Internet kita adalah sejak jaman Orde Baru kita tidak ada sensorship. Langkah pemerintah dalam melakukan sensor ini menurut Pak Budi adalah langkah kemunduran.

Kemudian Pak Budi berpendapat:

“Kalau kita mau membuat Internet lebih sehat harusnya kita lebih banyak membuat konten yang positif sehingga konten yang negatif ini akan menjadi minoritas justru”.

Pak Budi lantas menekankan bahwa seharus pemerintah fokus pada pengembangan kreatifitas masyarakat dalam membuat konten.

Pak Nuh kemudian menjawab Pak Budi dengan mengatakan bahwa yang ditutup itu yang sudah sangat jelas mudharatnya, justru pemerintah tidak ingin masyarakat dalam mengembangkan kreatifitasnya itu justru dicemari oleh kreatifitas kreatifitas yang bisa menimbulkan efek negatif.

Pak Nuh kemudian menekankan untuk tidak usah khawatir pemerintah akan menyentuh masalah kreatifitas di bidang politik dan kritik. Itu semuanya bebas kata Pak Nuh, dan hanya mengecualikan satu saja yakni Pornografi.

Bahkan Pak Nuh menambahkan bahwa jalur private tak disentuh, misalnya lewat email tapi yang dibatasi adalah jalur publik situs web. Menanggapi pertanyaan Wulan yang mempertanyakan kenapa media lain masih bisa longgar sedangkan di ranah maya jadi lebih ketat, Pak Nuh menjawab sasarannya sebenarnya adalah untuk minimazing konten porno karena tak bisa sekaligus.

Sasaran yang ingin ditembak ada tiga layer. Pertama pemerintah ingin menumbuh kembangkan kesadaran kolektif bagaimana masyarakat memanfaatkan teknologi IT dalam koridor yang baik.

Belum sempat lanjut ke layer kedua Wimar mengajukan pertanyaan:

“Orang yang membagi ini sangat porno, ini sedang sedang, dan ini ringan, jadi gimana mencapai kesepakatan itu, Pak Nuh ikut lihat semua situs situs itu?”

Mendengar pertanyaan itu Wulan langsung teriak, “Seru dong yah….“.

Semua tertawa dan suasana cair lagi.

Pak Nuh mengatakan sangat jelas sebuah situs porno sejak halaman awal. Sebelum menjelaskan lebih lanjut Wulan mengajukan pertanyaan:

“Mewakili pertanyaan teman teman selebku.. cieeehhh… akhir akhir ini kan…”

Terus terang saya sangat sulit meng-quote perkataan Wulan sebab tidak tertata dengan baik kalimatnya jadi saya kutip menurut saya saja bahwa Wulan menghawatirkan bagaimana kalau teman teman selebnya berfoto foto dipantai pakai bikini kemudian foto itu diambil orang trus dipublish ke media cetak.

Pak Nuh lantas menjawab hukum tidak membedakan seleb atau bukan, kemudian Pak Nuh menjelaskan dalam UUITE memberikan perlindungan terhadap hak hak pribadi.

Sebenarnya saya ingin memberi opini terakhir tapi saya tidak tahan untuk beropini sekarang. Wulan ini dari pertanyaannya seperti tidak paham dengan isu yang sedang dibahas. Waktu yang cuma sedikit jadi terbuang hanya untuk memahami maksud yang ingin dia sampaikan.

Wimar lantas ingin menyudahi pembicaraan dan mengajukan pertanyaan kepada Pak Nuh untuk menjelaskan kepada penonton yang masih bingung tentang UUITE. Pak Nuh lantas menjawab bahwa UUITE untuk mengatur transaksi elektronik dan bukan UU pornografi.

Kemudian Pak Nuh menjelaskan secara singkat apa itu UUITE dan dilanjutkan dengan sesi baca SMS. Dalam sesi baca SMS ini Pak Nuh kembali melanjutkan penjelasannya tentang sasaran tiga layer tadi diatas.

Layer pertama adalah grassroot dimana pelaku seonsor adalah diri kita sendir. Kedua adalah di layer limited network, disetiap kantor, sekolah. Belum sempat dibahas layer ketiga sudah ada pertanyaan tentang hukuman yang diancamkan pada pelanggar.

Pak Nuh menjelaskan bahwa hukuman bukan untuk menakut nakuti tapi untuk menumbuhkan kesadaran. Penjelasan Pak Nuh tentang ancaman hukuman kurang bisa memuaskan Wimar dan Wulan dan kelihatannya juga para pentonon. Pak Nuh juga mengingatkan UU bisa direview dan tak usah terlalu khawatir karena semua fraksi di DPR menyetujuinya… Kemudian waktunya habis, acara selesai.

Sekian reportase, mungkin ada yang kurang silahkan komentar, opini saya akan saya tulis dalam postingan selanjutnya.

Bacaan terkait: UUITE Bukan Sekedar Pornografi

16 Komentar

Filed under televisi

16 responses to “Perspektif Wimar

  1. bagus juga hasil reportasenya, seperti nonton aja, tks

  2. mantepp siarannya… jadi serasa liat siaran ulang

  3. edy

    poin UU bisa direview itu yg mestinya jadi pemikiran utama

  4. saya cukup menangkap maksud dari pak nuh dari dialog2 ini.

  5. Bri

    salah satu usaha pemerintah yg patut dihargai.. jangan dianggap negatif terus dong..

  6. wah luar biasa gamblang ini reportasenya… serasa nonton langsung!

    saya tetap dukung pak nuh!

  7. bagus tuh aku jugqa dukunfg deh kalo boleh kalo engga boleh juga engga apa

  8. XYZ

    Reportase yg bagus.
    Ditunggu opininya, plus analisa poin2x dari UU ITE.

    Regards

  9. mahma mahendra

    seperti biasa, lugas dan gamblang.hehehe… . tapi saya masi belom ngerti juga maksud dari tidak sekedar pornograi. trus apa aja yang diatur?

  10. Ping-balik: UUITE Tidak Sekedar Pornografi « Wib’s Web World

  11. @mahma mahendra:

    Mahma, komentarmu tak jadikan judul postinganku di Blogku yang lain, semoga bisa menjawab pertanyaamu.

  12. GuM

    kok wulan sih? mbok ya dicari yang lebih cerdas😦

  13. Ping-balik: Pentingnya Pengendalian Situs Porno « Budayawan Muda

  14. magda

    heran ya.. kok setiap ada issue menentang pornografi, kayaknya selalu keras ya reaksinya? istilah yang dipilih wimar (dari yang saya baca di reportase ini) ‘didomplengi’, kedengerannya belum-belum seperti menuduh. seolah apa yang sedang dibuat itu sesuatu yang buruk. apa ga terbalik tu? kenapa syi pada sensi banget. belum-belum udah ngambek duluan.. tenang…tenang…coba bilang baik-baik.. apa ada kepentingan yang terganggu kalo pornografi dibatasi? thx ya wibi.. sori.. telat ni bacanya

  15. Bonar

    @magda:
    anda bilang:

    heran ya.. kok setiap ada issue menentang pornografi, kayaknya selalu keras ya reaksinya?

    sederhananya, karena kesepakatan mengenai apa-apa yang dianggap porno itu tergantung pada budaya setempat, zaman dan religi serta standar masing-masing orang.

    Saya mendapatkan pencerahan mengenai itu dari cerita tentang betis ken dedes, ironinya adalah, zaman itu betis itu porno, sedangkan payudara tidak.

    Pemaksaan penyeragaman persepsi, terhadap hal yang begitu beragam, secara inheren adalah zalim terhadap kelompok yang berbeda pendapat.

    just my two cents…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s