Radiasi Kebudayaan

Anda orang Jawa? orang Bali? Batak? Sunda? Bugis? Ambon? Atau tak mau diklasifikan? Kalau begitu sebut saja orang Indonesia? Bagaimana orang Indonesia itu? Jawabannya akan kembali ke awal. Indonesia adalah persenyawaan dari suku suku tadi. Itu sajakah? Tidak juga, Indonesia juga dapat pengaruh dari luar, sebut saja India, Arab, Tiongkok, Eropa, Amerika, Jepang dst.

Atau kalau mau disebut kebudayaanya maka menjadi Hindu, Islam, Barat, dst. Masih bisa dipecah lagi menjadi pengaruh ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme dst. Lalu unsur mana yang paling menonjol dan dominan terhadap yang lainnya.

Clash of CivilizationItu semua menjadi critical sekarang karena kita belum lagi menginjak globalisasi yang sesungguhnya tapi radiasi globalisasi itu sudah dirasakan dan membawa dampak yang mengkhawatirkan.

Tak bisakah kita escape dari semua kebudayaan besar itu untuk mendapatkan sebuah identitas yang murni? Samuel P Huntington bahkan membuat teori “Clash of Civilization“. Sebuah teori yang mengerikan dan membuat banyak pihak menjadi reaksioner.

Teori itu semakin nyata ketika boundary kebudayaan besar semakin dikontraskan oleh masyarakatnya. Lalu dimana posisi kita dalam hal ini. Terlepas dari teori itu kita tetap perlu mengidentifikasi posisi kebudayaan kita untuk dapat bersikap kontsruktif.

Tidak ada kebudayaan yang benar benar murni. Apalagi Indonesia yang majemuk ini. Di Indonesia terjadi perkawinan kebudayaan hingga melahirkan kebudayaan baru yang tak meninggalkan ciri kebudayaan yang lama. Bagaimana komposisinya perlu dilihat bagaimana cara masuknya.

Arnold J ToynbeeBagaimana suatu sistem kebudayaan masuk ke sistem kebudayaan yang lain. Berikut adalah dalil dari sejarawan terkemuka Arnold. J. Toynbee tentang Radiasi Budaya:

Pertama, aspek budaya tak pernah masuk secara keseluruhan melainkan secara partial sesuai dengan lapisan aspeknya. Contohnya kebudayaan Barat bila dipecah akan memiliki lapisan aspek dari yang terluar aspek teknologi, seni, etika dan agama.

Kedua, kekuatan menembus suatu aspek budaya berbanding terbalik dengan nilai budaya. Aspek terluar yakni teknologi memiliki nilai budaya yang paling rendah sedangkan lapisan terdalam yakni agama memiliki nilai budaya paling tinggi.

Teknologi baru akan mudah sekali diterima oleh suatu masyarakat tetapi agama baru akan sulit sekali untuk diterima. Ini karena teknologi sebagai lapisan terluar yang memiliki nilai budaya terendah memiliki nilai kegunaan praktis yang paling tinggi.

Suatu masyarakat ketika menerima sebuah kebudayaan baru akan memilah milah aspek budayanya sehingga mereka dapat menyaring mana nilai terluar dan mana nilai terdalam.

Tiongkok misalnya telah berhubungan dengan kebudayaan Barat sejak abad ke 17 tapi sedikit sekali nilai budaya Barat dari aspek yang lebih dalam dari teknologi yang berhasil masuk. India dan Jepang juga demikian. Mereka menerima teknologi Barat tapi agama tak dibiarkan masuk seperti halnya teknologi.

Ketiga, suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya dari lapisan yang lebih dalam. Masuknya teknologi berupa televisi telah membuka jalan masuknya aspek seni pada masyarakat. Budaya Pop Barat yang berada pada lapisan kedua terluar (seni) masuk melalui teknologi tv dan radio.

Keempat, aspek budaya yang tidak berbahaya pada suatu masyarakat bisa jadi berbahaya pada masyarakat lain yang menerima budaya tersebut. Toynbee memberikan contoh tentang Nasionalisme.

Nasionalisme sebagai sebuah ideologi yang baru berkembang di Eropa abad ke 19 sebagai akibat tumbuhnya negara negara nasional yang berproses sejak abad ke 17, ketika masuk ke Timur, terutama Timur Tengah menjadi sesuatu yang berbahaya karena Nasionalisme telah memecah belah jazirah Arab.

Hingga kini tak bisa bersatunya negara negara Arab menjadi salah satu kunci gagalnya usaha perdamaian dikawasan itu karena adanya split nationalism itu tadi. Nasionalisme yang merupakan evolusi historis di Barat telah menjadi berbahaya ketika masuk ke Timur Tengah.

Saya sedang memikirkan dalil ke empat ini mungkinkah berlaku sebaliknya? Suatu budaya yang berbahaya pada suatu sistem kebudyaan menjadi tidak berbahaya ketika di masuk sistem kebudayaan yang lain.

Seperti contoh budaya Skinhead di Inggris yang dianggap berbahaya ketika masuk ke masyarakat kita menjadi sesuatu yang sifatnya fashion. Dari dalil ke dua Toynbee, Skinhead di negara asalnya berada dalam lapisan aspek budaya etika tapi ketika masuk ke Indonesia yang diterima hanyalah lapisan aspek budaya seni. Artinya ada proses saringan oleh masyarakat yang menerimanya.

Tapi harus diwaspadai tentang dalil ke ketiga Toynbee yakni masuknya suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya yang lebih dalam.

Banyak lagi kasus radiasi budaya yang perlu kita waspadai terutama menjelang era globalisasi karena globalisasi memberi jalan tol yang sangat lebar bagi masuknya aspek budaya asing. Bila kita tidak memiliki perangkat yang memadai untuk mengantisipasi maka yang terjadi adalah terdesaknya suatu budaya yang lebih lemah atas yang lebih kuat (creolization).

Tapi bila kita mampu menyaring dengan baik maka yang terjadi adalah perkawinan budaya yang cantik sekali (hibridization). Tapi ada lagi yang lebih menakutkan yaitu bila kita berusaha keluar dari penindasan oleh budaya asing tapi gagal melakukan perkawinan budaya maka yang terjadi adalah penajaman boundary dengan ciri pencarian identitas yang salah kaprah (crystallization). Kalau sudah begini maka clash of civilization tak terhindarkan lagi.

3 Komentar

Filed under budaya

3 responses to “Radiasi Kebudayaan

  1. tulisannya mantap sekali

    sejauh apakah clash itu terjadi di indonesia yang katanya beraneka ragam itu?

    sebab banyak fundamentalis yang sekarang berusaha masuk juga ke bingkai budaya yang lebih luas….

  2. @mikebm:

    Kalau teori clash dari Huntington antara kebudayaan besar antara lain Barat, China, Islam, Hindu dan Jepang.

    Menurut teori Huntington kita bisa terseret masuk ke salah kebudayaan besar itu dan clash kebudayaan besar yang lain. Mungkin proyeksi Huntington adalah Islam dan Barat.

    sejauh apakah clash itu terjadi di indonesia yang katanya beraneka ragam itu?

    Sejauh mana bisa dilihat dari cirinya yaitu pencarian identitas dan dalam usahanya terjadi conflict conflict.

    sebab banyak fundamentalis yang sekarang berusaha masuk juga ke bingkai budaya yang lebih luas….

    Pengertian lebih luas itu ada dalam dua bentuk, meluas dengan bersenyawa atau meluas dengan mengkristal dalam artian menekan/menindas budaya yang lain.

    Orang orang yang mengikuti paham Huntington akan percaya bahwa suatu kebudayaan besar pasti akan menindas kebudayaan lain.

    Film Fitna di Belanda adalah salah satu gejala teori Huntington. Sebuah clash of civilization akan berdampak sangat buruk bagi beradaban manusia, karena itu banyak yang mengecam film itu, termasuk pemerintah Belanda dan concern supaya umat Islam tidak terprovokasi.

    Sekarang kita sebagai bangsa sedang diuji daya tahan kebudayaannya, apakah bisa blur atau malah mengkristal.

  3. bentrokan budaya atau peradaban itu sebenarnya sudah sejak adanya masyarakat manusia yang ragam macam, meskipun seumat manusia adanya.
    bentrokan itu terjadi di seantero dunia, dari zaman ke zaman.

    saya ambillah sekedar contoh kongkret dan gamblang: budaya dan kebudayaan bali itu adalah bukti dari adanya bentrokan, adanya serangkaian bentrokan.

    akan halnya soal murni kemurnian budaya atau kebudayaan, saya cenderung pada opini: tidak adanya kemurnian yang benar benar murni. sekalipun bisa dan ada saja yang mengklaim atau berupaya untuk kemurnian itu.

    dalam kaitan ini, saya jadi teringat akan ujarkata seorang budayawan sekaligus penyair palestina darwich, bahwasanya peradaban ummat manusia itu satu — yang diperkaya dari zaman ke zaman.

    (a. kohar ibrahim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s