Kontemplasi Kebudayaan

SultanSri Sultan HB X dalam bukunya “Merajut Kembali Ke Indonesiaan Kita” meminjam istilah Max Lane ngatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang belum selesai (Unfinished Nation).

Dalam bukunya itu Sultan mengemukakan pendapatnya yang sejalan dengan pandangan antropolog terkemuka Clifford Geertz yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat sulit dilukiskan anatominya karena begitu kompleksnya kebudayaan Indonesia yang bersenyawa menjadi satu.

Menurut Sri Sultan, masyarakat Indonesia masa kini, sesungguhnya bukan lagi konstruksi pluralisme tradisional suku, agama, atau ras, tetapi konstruksi neo-pluralisme. Artinya, struktur kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil atau neo-tribal. Dengan demikian peta pluralisme menjadi demikian kompleks. sehingga membawa kepentingan yang menjadi semakin terfragmentasi.

Saya belum membaca buku Sri Sultan tersebut tapi dari poin poin yang dikemukakan kelihatannya buku itu lebih banyak membahas tentang konsep antisipasi dari keadaan yang sedang terjadi sekarang. Keadaan masyarakat kita sekarang memang persis seperti yang diuraikan oleh referensi yang digunakan oleh Sri Sultan antara lain Max Lane, Clifford Geertz dan Benedict Anderson.

Apapun konsep yang ditawarkan menurut hemat saya akan lebih relevan bila disertai dengan identifikasi anatomi object yang ingin dianalisa. Istilah istilah neo-pluralisme, neo-tribal yang dipakai oleh Sultan adalah konsep yang butuh elaborasi lebih lanjut yang berhubungan dengan konteks.

Saya berharap bisa mendapatkan sebuah pandangan yang bisa mencerahkan seperti Kuntowijoyo yang menguraikan tentang fenomena anarkis yang diidentifikasi oleh sementara orang sebagai radikalisme agama, padahal menurut Kuntowijoyo  apa yang terjadi sebenarnya adalah bukan radikalisme agama tapi radikalisme agraris. Kuntowijoyo menjelaskan teori radikalisme agraris dengan baik sekali.

Bila uraian semacam itu tidak ada maka mungkin Sultan hanya ingin mengklasifikasikan berdasarkan observasi. Apakah klasifikasi seperti Clifford Geertz yang mengelompokkan masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok yaitu priyayi, santri dan abangan?

Saya belum tahu, belum baca. Sebuah klasifikasi seperti itu akan membuat kita memiliki kerangka dalam berpikir dan memudahkan pemahaman. Buku ini jadi menarik karena bila pikiran Sultan itu bisa menjelaskan anatomi permasalahan budaya maka barulah relevan membicarakan konsep antisipasinya. Sebagai contoh kutipan berikut:

Politik identitas dalam format identitas suku, daerah dan agama, kata Sultan, mudah menguat, yang bisa dilihat misalnya, dalam istilah “putra daerah”. Bahkan tuntutan pemekaran daerah pun sering dipicu oleh menguatnya politik identitas.

Tapi tak diuraikan analisa tentang kenapa politik identitas mudah menguat, apa penyebab kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil, dst. Sekali lagi saya belum membaca buku itu dan berharap bisa mendapatkannya dalam waktu dekat.

Apapun itu buku ini telah mengilhami kita untuk melakukan kontemplasi lebih dalam tentang budaya. Adalah luar biasa mendapati seorang tokoh budaya seperti Sultan memiliki cara pandang tersendiri yang accountable.

Saya berharap bisa mendapat gambaran tentang anatomi kebudayaan Indonesia sekaligus konsep antisipasinya dari buku Sultan tersebut mengingat globalisasi semakin “mengancam” dan kita perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin.

3 Komentar

Filed under budaya

3 responses to “Kontemplasi Kebudayaan

  1. analisa yang dalam, sebelum lahirnya sebuah teori…rumit juga yah??

  2. Sebuah teori bisa rumit bisa juga sederhana🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s