Obrolan Ringan di Cafe Chatterbox

Cafe Chatter BoxJika dua orang sahabat lama tak bersua pastilah kangen ingin bertemu. Apalagi persahabatan itu sudah dijalin sejak dari generasi orang tua mereka.

Antara keluarga Ibu Gedong Bagoes Oka dan keluarga Dr AAM Djelantik telah terjalin persahabatan yang kental hingga anak anak mereka. Konon katanya dulu hampir saja Ibu Gedong dijodohkan dengan Dr AAM Djelantik.

Mula mula pertemuan pada Blog saya dibeberapa postingan lalu kontak beberapa kali melalui email kemudian Benky Bagoes Oka (putra pertama Ibu Gedong) dan Bulantrisna Djelantik (putra pertama Dr AAM Djelantik) meminta saya untuk mengatur sebuah pertemuan.

Saya dengan senang hati melakukannya. Untuk lebih meramaikan saya juga undang beberapa orang kenalan mereka tapi ternyata yang bisa hadir hanya Ikranagara (beserta istri: Kay Ikra)

Cafe Chatterbox Sogo Plaza Senayan dipilih jadi tempat pertemuan karena berada ditengah dan dekat dari mana mana. Mereka semua adalah angkatan ayah saya dan memang sebenarnya ayah yang lebih berkepentingan dengan acara temu kangen ini.

Karena ayah juga menjadi salah seorang anggota SBS (Society for Balinese Studies) yang didirikan salah satunya oleh Dr AAM Djelantik beserta tokoh tokoh yang antara lain Prof Adrian Vickers, Prof Hildred Geertz, Prof Ngurah Bagus dkk. Tapi sayang ayah tak bisa hadir karena masih tugas di Laut Cina Selatan.

Wibi, Ikra, Bulan, BenkyTante Bulan cerita dulu pernah satu Box dengan Om Benky ketika masih bayi. Tapi kemudian Om Benky meluruskan cerita itu bahwa tak mungkin dia satu mungkin Box dengan Bulan karena beda usia mereka 5 tahun. Jadi foto berdua satu box tersebut pastilah dengan Om Rudi (adik Om Benky). “I’m too big for the baby box“, kata Om Benky sambil tertawa.

Pembicaraan dimulai pada isu hangat seputar penamaan RS Sanglah dan beberapa postingan tentang Dr AAM Djelantik di Blog saya. Tante Bulan menegaskan bahwa ayahnya dan keluarganya tak pernah minta untuk dihargai, “Ayah kami hanya memberi yang ia miliki” kata Tante Bulan. Kenapa ada pihak yang takut sekali nama Dr Djelantik dijadikan nama RS Sanglah.

Menanggapi komentator anonymous di Blog saya yang menyerang Dr Djelantik secara pribadi, Tante Bulan hanya tertawa dan mengatakan, “Saya dituduh tidak menjaga Budaya karena kurang feodal? Ayah selalu mendidik anak anaknya untuk menjadi egaliter dan perhatian pada rakyat kecil.”

Kemudian Tante Bulan menceritakan bagaimana Dr Djelantik berani mengangkat anak dari kalangan Jaba (non-bangsawan) lengkap dengan nama Djelantik dibelakangnya. Hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya oleh para bangsawan Puri Karangasem.

Kemudian pembicaraan pindah ke topik yang lain karena topik penamaan RS Sanglah itu tidak menarik. Topik yang paling seru adalah tentang film terbaru Mas Garin Nugroho yang berjudul “Di Bawah Pohon“. Film tersebut berlokasi di Bali dan kebetulan Om Ikra dan Tante Bulan terlibat disana sebagai artis.

IkranagaraTopik seru karena Om Ikra punya banyak sekali cerita tentang film itu. Cerita tentang bagaimana sebenarnya dia takut darah dan pada saat syuting dia sedang mengelus elus ayam yang baik dan ternyata ayam itu harus disembelih dihadapannya, peristiwa itu membuat Om Ikra pucat pasi dan kru disekitarnya mengira Om Ikra kerangsukan setan…🙂

Kebetulan pada syuting itu terjadi kerasukan massal. Banyak kru dan pemain figuran yang mengelapar gelepar karena kerasukan mahluk halus di lokasi syuting. Tante terpingkal pingkal menceritakan bagaimana Om Ikra berakting sebagai orang mati yang jatuh terjengkang dengan kaki keatas seperti serangga…

Kemudian kami membicarakan Mas Garin yang dalam membuat film selalu berhasil menggabung berbagai macam aspek seni dan bahkan dokumentasi. Saya masih ingat dulu bagaimana Mas Garin membentak bentak seorang aktris junior hingga si aktris itu menangis tersedu-sedu.

Saya pikir sadis juga yah kalo jadi sutradara harus membentak pemain, tapi rupanya itu hanya teknik untuk dapat membuat si aktris menangis secara alamiah… halah… Si aktris yang mengira dimarahi beneran oleh Mas Garin tak kunjung reda tangisnya hingga scene “menangis” berakhir.

Nadia SaphiraDalam film terbarunya ini Mas Garin menggamit Nadia Saphira sebagai pemain wanita dan Om Ikra sebagai pemain pria. Om Ikra tak ada masalah dengan perannya tapi Nadia kelihatannya sudah bolak balik baca naskah tapi belum bisa menampilkan karakter seperti yang diminta, akhirnya Mas Garin memberi keleluasaan pada Nadia untuk menampilkan karaternya sendiri dan jadilah Nadia berakting.

Berakting secara alamiah menjadi kunci dari bagusnya film film Mas Garin. Karena itu pula ketika dalam film Mas Garin itu ada peran seorang penari Legong maka Tante Bulan yang dipilih untuk memerankan karakter yang tidak beda dengan dirinya sendiri yaitu seorang penari yang juga seorang dokter.

LegongBulantrisna Djelantik adalah seorang penari Legong senior yang berkiprah sejak jaman Presiden Soekarno, bahkan dalam berbagai kesempatan studinya diluar negeri Tante Bulan selalu menari sebagai upaya memperkenalkan seni budaya Indonesia.

Tante Bulan adalah murid dari maestro tari klasik Bali seperti Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog. Salah satu pementasan akbarnya adalah pementasan The Amazing Bedaya-Legong dengan lakon Calonarang.

Makanan sudah ludes, obrolan masih belum selesai, topik ngalor ngidul, sebagian besar tentang Bali. Keluhan tentang bagaimana budaya kekerasan di Bali yang akhir akhir ini semakin menjadi jadi.

Juga tentang pembukaan Djelantik Room di museum ARMA secara permanen yang memamerkan 15 lukisan Dr Djelantik secara bergantian dari total 60 lukisannya. Menurut Tante Bulan sebenarnya lebih tepat dikatakan corner daripada room, tapi apalah artinya istilah.

Sampai akhirnya Tante Bulan harus pamit karena jadwal pesawat sudah dekat. Diakhir pembicaraan Om Benky selalu sigap untuk membayar. Dia tak pernah memberi kesempatan pada yang lain untuk melakukannya… hehe

Gamelan of PeliatanSebelum bubar Tante Bulan sempat memberi cinderamata buat saya sebuah CD Gamelan Peliatan. Peliatan adalah sebuah nama desa di Bali yang sangat terkenal dengan kelompok seni tabuh dan tari.

Obrolan ringan yang terjadi tanggal 13 Januari 2008 di Cafe Chatter Box Senayan ini terasa beda apalagi saya mendapat oleh oleh yang sangat berharga, sebuah CD Audio yang isinya 9 rekaman gamelan yang direkam tahun 1954. Tahun itu merupakan kali pertama gamelan Bali dipentaskan di luar negeri dan direkam.

Sepanjang perjalanan pulang yang macet saya dengar berulang ulang dan terasa atmosfir Bali mengingatkan saya pada masa kanak kanak, sungguh indah.

9 Komentar

Filed under budaya

9 responses to “Obrolan Ringan di Cafe Chatterbox

  1. ABG

    :)). Tiap orang/kelompok memiliki sudut pandang yg berbeda. Once again, she didn’t tell you the truth about what’s currently going on. Sebaiknya beliau lebih terbuka agar kami sebagai pembaca (orang Bali) yang sangat jauh dari tanah kelahiran kami dapat lebih memahami keadaan yg sebenarnya. Kl yg sekarang sj nggak terbuka, bagaimana dgn sejarah yg dulu2x?

    Saya melihat memang dari dulu tulisan anda: bashing AAGA atau admiring dr Dj (sounds like propaganda he3x). Hal yg positif: konsistensi.

    Personally, saya suka style beliau & keluarganya. Tapi masih banyak keraguan akan prosentase kebenaran yg mereka sampaikan.

    Karena anda dekat dgn kel. Ibu Gedong, sebaiknya dibuatkan sebuah tulisan untuk beliau. Saya mengharapkan dapat memperoleh biography beliau. Dapatkah anda memberikan rujukan bukunya (apabila ada). Ada beberapa tulisan yg saya temui di Internet (wikipedia, dsb.), namun saya rasa masih kurang.
    Saya kagum akan beliau, karena beliau itu ibaratnya RA Kartini masyarakat Bali, dan beliau selalu menyatakan kebenaran.
    Selain itu: cerita ttg AAGA dan dr Dj & keluarganya rasanya sudah makin membosankan (kayak tokoh di ujung Barat Bali yg terus-menerus pasang (bayar?) berita di koran lokal untuk jadi Cagub).

    Salam

  2. Libra(rian)

    Ouch, rupanya Pak Anonym (AGB, PB, dll. ) punya keplokan kasur khusus yang dibawa ngumpet dibawah tempat tidur sambil pasang antena/radar terus ke Blog ini. Siap siaga untuk setiap saat nama Dr. Dj…… disebut, langsung anda melompat, plok, plok, plok. Aduh mbok ya jangan Pak, stress nanti.

  3. @Libra(rian):

    Blog saya ini jadi favorite mereka rupanya… hahaha…

    Kontradiktif, kalau mereka bosan simply jangan dibaca apalagi komentar, tapi buktinya nongol nongol lagi🙂 capek deh….

  4. @ABG:

    Once again, she didn’t tell you the truth about what’s currently going on. Sebaiknya beliau lebih terbuka agar kami sebagai pembaca (orang Bali) yang sangat jauh dari tanah kelahiran kami dapat lebih memahami keadaan yg sebenarnya. Kl yg sekarang sj nggak terbuka, bagaimana dgn sejarah yg dulu2x?

    Once again? Oh dulu pernah waktu anda masih pakai nama PB yah? hahaha keceplosan ente…

    Yah itulah enaknya kalo anonymous, terdesak tinggal ganti nama.

    Jadi begini Mas, jika anda memang merasa ada sesuatu yang tidak diungkapkan oleh Bulantrisna dan anda mengetahui apa itu, kenapa tidak anda sendiri yang mengungkapnya.

    Disini juga gak papa, saya tetap terbuka pada berbagai macam informasi dan menjunjung tinggi yang namanya integritas.

    Cuma masalahnya kok saya gak yakin anda punya fakta tentang hal itu, jangan jangan itu cuma perasaan tidak suka pada sosok Dr Djelantik.

    Sebab saya melihat dari pihak Bulantrisna sudah menyampaikan niat yang tulus untuk mau meluruskan segala sesuatunya tentang Dr Djelantik.

    Niat tersebut disampaikan dua kali, pertama di Blog BaliWWW. Berikut kutipannya:

    Semoga ini dapat meluruskan cerita masa lalu ayah dan semoga sekali waktu dapat bertemu muka langsung untuk diskusi lebih lanjut, salam suksema, Dr dr Bulantrisna Djelantik, SpTHT.

    Kedua di Boleh Blog saya tentang UNUD, berikut kutipannya:

    Boleh kita bertemu dengan keluarganya untuk membuktikan.

    Ini saya nilai sebagai suatu sikap yang tulus untuk mencari kebenaran. Undangan itu disampaikannya walau Bulantrisna tidak mengetahui jatidiri orang orang yang mengecamnya.

    Dilain pihak anda yang merasa memiliki informasi tapi tidak mau berbagi malah terus saja melempar api dengan memberi komentar negative tanpa dasar.

    Saya melihat memang dari dulu tulisan anda: bashing AAGA atau admiring dr Dj (sounds like propaganda he3x). Hal yg positif: konsistensi.

    Saya sudah menulis berdasarkan fakta yang ada, sedangkan anda yang ceritanya punya fakta tapi tidak mau mengungkapkanya.

    Kalau sudah begini siapa yang melakukan propaganda. Saya yakin anda atau siapapun yang beranonym itu tidak ada akan berani memenuhi undangan Bulantrisna karena mengungkap jatidiri saja tidak berani.

    Personally, saya suka style beliau & keluarganya. Tapi masih banyak keraguan akan prosentase kebenaran yg mereka sampaikan.

    Boleh saja, saya juga bukan orang yang percaya begitu saja, tapi kan bisa dilihat siapa yang tulus dan siapa yang tidak.

    Karena anda dekat dgn kel. Ibu Gedong, sebaiknya dibuatkan sebuah tulisan untuk beliau. Saya mengharapkan dapat memperoleh biography beliau. Dapatkah anda memberikan rujukan bukunya (apabila ada). Ada beberapa tulisan yg saya temui di Internet (wikipedia, dsb.), namun saya rasa masih kurang.

    Salah seorag putra beliau (Rudy Bagoes Oka) sedang mempersiapkan sebuah buku tentang Ibu Gedong, tunggu saja tanggal terbitnya.

    Selain itu: cerita ttg AAGA dan dr Dj & keluarganya rasanya sudah makin membosankan (kayak tokoh di ujung Barat Bali yg terus-menerus pasang (bayar?) berita di koran lokal untuk jadi Cagub).

    Itu hak anda, mengkutip tulisan Priyadi di Blognya tentang orang yang tidak suka pada topik tulisan ketimbang contentnya. Berikut kutipan dari Priyadi.

    ha. kalau komentarnya mengkritisi isi tulisan atau pendapat saya sih gak ada masalah. misalnya saya tulis 1+1=3, terus ada yang bilang “itu salah, harusnya 1+1=2″. itu sih no problem. yang masalah itu kalau inti kritiknya itu “topik yang kamu tulis gak sesuai dengan selera saya”, kalo gitu what the hell are you doing here in the first place? silakan saja cari blog lain yang sesuai dengan selera ente

    Anda bisa menyembunyikan identitas tapi tak bisa menyembunyikan intensi.

  5. Masalah intern Bali ya?

    Huih.. (mencium bau kontroversi)

  6. aha, kopdar orang2 bali di jakarta. kapan2 undang aku dong.🙂

    apa kabar mas wib? lama gak kontak..

  7. @Marisa:

    Banyak yang belum paham konstalasinya yah? OK lah nanti saya bikin rangkumanya biar ngeh duduk perkaranya.

    @Anton:

    Kapan Anton ada rencana ke Jakarta? kabar kabari yah🙂

  8. Kayanbudi

    Jika saya baca komentar AGB atau PB terhadap Dr Djelantik (termasuk Ibu Bulantrisna), saya juga ikut bingung meskipun berusaha untuk maklum karena hak setiap orang utk mengeluarkan pendapat.Kalaupun pendapat AGB/PB saya anggap benar (tanpa cek/ricek) maka hal yang dilakukan kel Dr Djelantik adalah wajar karena setiap orang memiliki standar ego masing-masing termasuk saya dan AGB/PB.
    Solusinya adalah lebih baik AGB/PB langsung menyampaikan unek-uneknya (bisa e-mail,surat anonim, atau lainnya) dengan data pendukung yang lengkap kepada keluarga Dr Djelantik yang sudah bersedia mengadakan pertemuan dengan AGB/PB supaya tidak dinilai asbun

  9. Disini juga gak papa, saya tetap terbuka pada berbagai macam informasi dan menjunjung tinggi yang namanya integritas. gue suka blog ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s