Monthly Archives: Maret 2008

Ujian Tengah Semester

Waktu berlalu tanpa terasa, banyak postingan di draft belum rampung, sementara tugas kuliah menjelang tenggat. Tiba tiba UTS sudah didepan mata, bahan yang harus dikuasai tenyata lebih banyak yang dari diperkirakan. Minggu minggu yang sibuk. Doakan yah biar UTSnya berhasil baik.

4 Komentar

Filed under curhat

Radiasi Kebudayaan

Anda orang Jawa? orang Bali? Batak? Sunda? Bugis? Ambon? Atau tak mau diklasifikan? Kalau begitu sebut saja orang Indonesia? Bagaimana orang Indonesia itu? Jawabannya akan kembali ke awal. Indonesia adalah persenyawaan dari suku suku tadi. Itu sajakah? Tidak juga, Indonesia juga dapat pengaruh dari luar, sebut saja India, Arab, Tiongkok, Eropa, Amerika, Jepang dst.

Atau kalau mau disebut kebudayaanya maka menjadi Hindu, Islam, Barat, dst. Masih bisa dipecah lagi menjadi pengaruh ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme dst. Lalu unsur mana yang paling menonjol dan dominan terhadap yang lainnya.

Clash of CivilizationItu semua menjadi critical sekarang karena kita belum lagi menginjak globalisasi yang sesungguhnya tapi radiasi globalisasi itu sudah dirasakan dan membawa dampak yang mengkhawatirkan.

Tak bisakah kita escape dari semua kebudayaan besar itu untuk mendapatkan sebuah identitas yang murni? Samuel P Huntington bahkan membuat teori “Clash of Civilization“. Sebuah teori yang mengerikan dan membuat banyak pihak menjadi reaksioner.

Teori itu semakin nyata ketika boundary kebudayaan besar semakin dikontraskan oleh masyarakatnya. Lalu dimana posisi kita dalam hal ini. Terlepas dari teori itu kita tetap perlu mengidentifikasi posisi kebudayaan kita untuk dapat bersikap kontsruktif.

Tidak ada kebudayaan yang benar benar murni. Apalagi Indonesia yang majemuk ini. Di Indonesia terjadi perkawinan kebudayaan hingga melahirkan kebudayaan baru yang tak meninggalkan ciri kebudayaan yang lama. Bagaimana komposisinya perlu dilihat bagaimana cara masuknya.

Arnold J ToynbeeBagaimana suatu sistem kebudayaan masuk ke sistem kebudayaan yang lain. Berikut adalah dalil dari sejarawan terkemuka Arnold. J. Toynbee tentang Radiasi Budaya:

Pertama, aspek budaya tak pernah masuk secara keseluruhan melainkan secara partial sesuai dengan lapisan aspeknya. Contohnya kebudayaan Barat bila dipecah akan memiliki lapisan aspek dari yang terluar aspek teknologi, seni, etika dan agama.

Kedua, kekuatan menembus suatu aspek budaya berbanding terbalik dengan nilai budaya. Aspek terluar yakni teknologi memiliki nilai budaya yang paling rendah sedangkan lapisan terdalam yakni agama memiliki nilai budaya paling tinggi.

Teknologi baru akan mudah sekali diterima oleh suatu masyarakat tetapi agama baru akan sulit sekali untuk diterima. Ini karena teknologi sebagai lapisan terluar yang memiliki nilai budaya terendah memiliki nilai kegunaan praktis yang paling tinggi.

Suatu masyarakat ketika menerima sebuah kebudayaan baru akan memilah milah aspek budayanya sehingga mereka dapat menyaring mana nilai terluar dan mana nilai terdalam.

Tiongkok misalnya telah berhubungan dengan kebudayaan Barat sejak abad ke 17 tapi sedikit sekali nilai budaya Barat dari aspek yang lebih dalam dari teknologi yang berhasil masuk. India dan Jepang juga demikian. Mereka menerima teknologi Barat tapi agama tak dibiarkan masuk seperti halnya teknologi.

Ketiga, suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya dari lapisan yang lebih dalam. Masuknya teknologi berupa televisi telah membuka jalan masuknya aspek seni pada masyarakat. Budaya Pop Barat yang berada pada lapisan kedua terluar (seni) masuk melalui teknologi tv dan radio.

Keempat, aspek budaya yang tidak berbahaya pada suatu masyarakat bisa jadi berbahaya pada masyarakat lain yang menerima budaya tersebut. Toynbee memberikan contoh tentang Nasionalisme.

Nasionalisme sebagai sebuah ideologi yang baru berkembang di Eropa abad ke 19 sebagai akibat tumbuhnya negara negara nasional yang berproses sejak abad ke 17, ketika masuk ke Timur, terutama Timur Tengah menjadi sesuatu yang berbahaya karena Nasionalisme telah memecah belah jazirah Arab.

Hingga kini tak bisa bersatunya negara negara Arab menjadi salah satu kunci gagalnya usaha perdamaian dikawasan itu karena adanya split nationalism itu tadi. Nasionalisme yang merupakan evolusi historis di Barat telah menjadi berbahaya ketika masuk ke Timur Tengah.

Saya sedang memikirkan dalil ke empat ini mungkinkah berlaku sebaliknya? Suatu budaya yang berbahaya pada suatu sistem kebudyaan menjadi tidak berbahaya ketika di masuk sistem kebudayaan yang lain.

Seperti contoh budaya Skinhead di Inggris yang dianggap berbahaya ketika masuk ke masyarakat kita menjadi sesuatu yang sifatnya fashion. Dari dalil ke dua Toynbee, Skinhead di negara asalnya berada dalam lapisan aspek budaya etika tapi ketika masuk ke Indonesia yang diterima hanyalah lapisan aspek budaya seni. Artinya ada proses saringan oleh masyarakat yang menerimanya.

Tapi harus diwaspadai tentang dalil ke ketiga Toynbee yakni masuknya suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya yang lebih dalam.

Banyak lagi kasus radiasi budaya yang perlu kita waspadai terutama menjelang era globalisasi karena globalisasi memberi jalan tol yang sangat lebar bagi masuknya aspek budaya asing. Bila kita tidak memiliki perangkat yang memadai untuk mengantisipasi maka yang terjadi adalah terdesaknya suatu budaya yang lebih lemah atas yang lebih kuat (creolization).

Tapi bila kita mampu menyaring dengan baik maka yang terjadi adalah perkawinan budaya yang cantik sekali (hibridization). Tapi ada lagi yang lebih menakutkan yaitu bila kita berusaha keluar dari penindasan oleh budaya asing tapi gagal melakukan perkawinan budaya maka yang terjadi adalah penajaman boundary dengan ciri pencarian identitas yang salah kaprah (crystallization). Kalau sudah begini maka clash of civilization tak terhindarkan lagi.

3 Komentar

Filed under budaya

Kontemplasi Kebudayaan

SultanSri Sultan HB X dalam bukunya “Merajut Kembali Ke Indonesiaan Kita” meminjam istilah Max Lane ngatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang belum selesai (Unfinished Nation).

Dalam bukunya itu Sultan mengemukakan pendapatnya yang sejalan dengan pandangan antropolog terkemuka Clifford Geertz yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat sulit dilukiskan anatominya karena begitu kompleksnya kebudayaan Indonesia yang bersenyawa menjadi satu.

Menurut Sri Sultan, masyarakat Indonesia masa kini, sesungguhnya bukan lagi konstruksi pluralisme tradisional suku, agama, atau ras, tetapi konstruksi neo-pluralisme. Artinya, struktur kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil atau neo-tribal. Dengan demikian peta pluralisme menjadi demikian kompleks. sehingga membawa kepentingan yang menjadi semakin terfragmentasi.

Saya belum membaca buku Sri Sultan tersebut tapi dari poin poin yang dikemukakan kelihatannya buku itu lebih banyak membahas tentang konsep antisipasi dari keadaan yang sedang terjadi sekarang. Keadaan masyarakat kita sekarang memang persis seperti yang diuraikan oleh referensi yang digunakan oleh Sri Sultan antara lain Max Lane, Clifford Geertz dan Benedict Anderson.

Apapun konsep yang ditawarkan menurut hemat saya akan lebih relevan bila disertai dengan identifikasi anatomi object yang ingin dianalisa. Istilah istilah neo-pluralisme, neo-tribal yang dipakai oleh Sultan adalah konsep yang butuh elaborasi lebih lanjut yang berhubungan dengan konteks.

Saya berharap bisa mendapatkan sebuah pandangan yang bisa mencerahkan seperti Kuntowijoyo yang menguraikan tentang fenomena anarkis yang diidentifikasi oleh sementara orang sebagai radikalisme agama, padahal menurut Kuntowijoyo  apa yang terjadi sebenarnya adalah bukan radikalisme agama tapi radikalisme agraris. Kuntowijoyo menjelaskan teori radikalisme agraris dengan baik sekali.

Bila uraian semacam itu tidak ada maka mungkin Sultan hanya ingin mengklasifikasikan berdasarkan observasi. Apakah klasifikasi seperti Clifford Geertz yang mengelompokkan masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok yaitu priyayi, santri dan abangan?

Saya belum tahu, belum baca. Sebuah klasifikasi seperti itu akan membuat kita memiliki kerangka dalam berpikir dan memudahkan pemahaman. Buku ini jadi menarik karena bila pikiran Sultan itu bisa menjelaskan anatomi permasalahan budaya maka barulah relevan membicarakan konsep antisipasinya. Sebagai contoh kutipan berikut:

Politik identitas dalam format identitas suku, daerah dan agama, kata Sultan, mudah menguat, yang bisa dilihat misalnya, dalam istilah “putra daerah”. Bahkan tuntutan pemekaran daerah pun sering dipicu oleh menguatnya politik identitas.

Tapi tak diuraikan analisa tentang kenapa politik identitas mudah menguat, apa penyebab kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil, dst. Sekali lagi saya belum membaca buku itu dan berharap bisa mendapatkannya dalam waktu dekat.

Apapun itu buku ini telah mengilhami kita untuk melakukan kontemplasi lebih dalam tentang budaya. Adalah luar biasa mendapati seorang tokoh budaya seperti Sultan memiliki cara pandang tersendiri yang accountable.

Saya berharap bisa mendapat gambaran tentang anatomi kebudayaan Indonesia sekaligus konsep antisipasinya dari buku Sultan tersebut mengingat globalisasi semakin “mengancam” dan kita perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin.

3 Komentar

Filed under budaya

Merajut Kembali Ke Indonesiaan Kita

Sumber: Humas UGM

Kalau dulu mempersandingkan kata “bangsa” dan “negara” belum bisa terbayangkan bagaimana wujudnya. Namun, saat ini, dengan begitu mudahnya orang mengucapkan ungkapan “demi kehidupan berbangsa dan bernegara” seakan tiada soal diantara keduanya.

Bila menukik ke dalam sejarah, maka akan terasa bahwa “bangsa” dan “kebangsaan”, baik dalam dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan “negara”, ternyata terkandung banyak masalah. bahkan sekarang, begitu banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari induknya, menjadi propinsi atau kabupaten baru, dan banyaknya permasalahan bangsa yang tak kunjung ada solusinya, terasakan bahwa keIndonesiaan kita memang perlu dirajut kembali.

SultanDemikian pernyataan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X saat peluncuran bukunya “Merajut Kembali KeIndonesiaan Kita”, Sabtu (15/3) di Auditorium Pascasarjana UGM.

Menurut Sri Sultan, masyarakat Indonesia masa kini, sesungguhnya bukan lagi konstruksi pluralisme tradisional suku, agama, atau ras, tetapi konstruksi neo-pluralisme. Artinya, struktur kemajemukan masyarakat saat ini tidak lagi bersifat massa, tetapi makin spesifik, terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil atau neo-tribal. Dengan demikian peta pluralisme menjadi demikian kompleks. sehingga membawa kepentingan yang menjadi semakin terfragmentasi.

“Keberagaman justru cenderung menyempit, mengkristal dalam kelompok, dan dimaknai sebatas prinsip, bahwa orang lain tidaklah lebih baik dari kelompoknya sendiri. Pendapat ini mempertegas pendapat Clifford Geertz tentang sulitnya melukiskan anatomi Indonesia, karena begitu kompleks dan serba multinya unsur yang bersenyawa,” ucapnya.

Sementara, rajutan historis dan ideologis dari pluralisme tidak tumbuh dengan baik, sehingga keIndonesiaan yang terbentuk pun belum sepenuhnya utuh. Meminjam istilah Max Lane, Indonesia adalah bangsa yang belum selesai.

“Atau, jika merujuk Benedict Anderson, bangsa Indonesia adalah sesuatu yang baru terbayang, imagined. Akibatnya, seperti yang tampil saat ini, bangsa Indonesia terkotak-kotak sehingga identitas keIndonesiaannya pun rapuh,” ungkap Sultan.

Politik identitas dalam format identitas suku, daerah dan agama, kata Sultan, mudah menguat, yang bisa dilihat misalnya, dalam istilah “putra daerah”. Bahkan tuntutan pemekaran daerah pun sering dipicu oleh menguatnya politik identitas.

“Jika hal tersebut tidak berhasil didayagunakan menjadi modal sosial, maka kemajemukan bangsa bukan saja tidak akan memberikan kontribusi apapun bagi pembentukan keIndonesiaan, tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi stabilitas dan eksistensi Republik,” jelas Sultan.

SultanUntuk itu, kata Sultan, agar hal tersebut tidak terjadi, dan sebaliknya, agar keragaman bangsa dapat memberikan kontribusi signifikan bagi konsolidasi keIndonesiaan, maka mimpi bersama tentang keIndonesiaan harus diciptakan. “Karena, menurut Daniel Dhakidae, tidak pernah bisa dikatakan suatu bangsa itu ‘lahir’, namun ‘hadir’ dalam sebuah proses ‘formasi’ sebagai suatu ‘histrical being”, tandasnya.

Acara peluncuran diprakarsai oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM dan dibuka oleh Rektor Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D. Sebagai tanda launching, sejumlah tamu undangan mendapat buku secara langsung dari Sri Sultan HB X, diantaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan Dr. Meutia Hatta dan Rektor UGM. Bahkan beberapa tamu berkesempatan memberikan narasi dan pembahasan terhadap buku itu, Garin Nugroho, Surya Paloh, Prof Komarudin Hidayat, Prof Sutaryo, Maria Ulfah, Fransiscus Welirang serta Mira Lesmana.

8 Komentar

Filed under budaya

This is Love DMust Akira

Dmust AkiraSuka dengar Radio GEN 98,7 FM? Ada program “Salah Sambung” yang bikin heboh itu. Tapi selain itu salah satu lagu yang sering diputar adalah “This is Love” dari Dmust feat Akira.

Bukan, bukan nama Band tapi penyanyi Solo dengan nama asli Dimas Putra Prasetyo yang dalam album Beat Boxx menampilkan penanyi Jepang Akira Yoshitani.

Musik Band memang lebih luas digemari tapi kalau musik penyanyi Solo? Kalau Solo wanita masih lumayan banyak tapi ini Solo pria? Gak banyak kan (yang muda khususnya), sebut saja Marcel, Glen, Tompi, Bibus, Abdul, Delon, Mike, Elo, siapa lagi… yang bagus sedikit tapi kalo yang abal abal mah banyak kali yah.

Terlepas dari itu semua Dimas dengan single “This is Love” kelihatannya menjelang masuk dalam jajaran atas. Berikut liriknya:

Bila hariku kulewati dengan kamu
Selalu bisa membuatku
Tersenyum kasihku diriku bahagia
Buatku bisa lupakan semua beban yang ada di diriku
Sejenak kumerasa berada di surga

Melihat senyummu
Menyentuh dirimu
Mencium bibirmu
Memeluk dirimu

Semuanya karena ku sayang pada dirimu
Sepertinya ku ingin terbang bersamamu sekarang

Maafkanlah diriku
Bila nanti diriku berbuat salah padamu maafkanlah aku
Jangan kau lepaskan genggaman tangan kita
Ku tak ingin kau jauh sepertinya ku ingin mengejarmu
Bila kau pergi
Mengejarmu mencarimu mencintaimu sampai akhir hidupku
Ku sayang dirimu
Wanna stay here with you ’till the day and nite
’till the morning comes

Cinta ku padamu sangat tulus dariku di bumi
(Ku takut kehilangan dirimu sungguh tak ingin sungguh tak ingin)

Yari narudo ooku no hito dori no naka de
Itsumo kimi wo sagasu hayaku mitsukenai to
Okashikuna asa kara betto ni iu kotowaru dake de
Jyowake miru wo sugoku azayakari utsushisa
Tsukuri ni hayagawari

Kimi wa boku no naka ni aru awake mono ni
Hana wo sagaseta sekai jyu de
Tada hitori no unmei no hito dayo
Jibun demo wakannai kurai
Doushite kimi wo konna ni suki nan darou

Cinta ku padamu sangat tulus dariku di bumi
(Ku takut kehilangan dirimu sungguh tak ingin sungguh tak ingin)
Cinta ku padamu sangat tulus dariku di bumi
(Kimi o uchi nai ta kara sungguh tak ingin hagarenai)
Cinta ku padamu sangat tulus dariku di bumi
(Kimi o uchi nai agata sungguh tak ingin hagarenai)
Cinta ku padamu sangat tulus dariku di bumi

Memang ada lirik dalam bahasa Jepang dan Inggris, diferensiasi yang berani, terutama bahasa Jepang yang masih jarang dimusik kita. Bahasa Jepangnya bikin lagu ini unik.

Tapi bagian yang paling saya suka adalah pas dibagian, “ciiiintaku padaaamu…. sangat tulus…“, nada dibagian ini sangat gampang nyangkut, lalu karena sudah nyangkut seterusnya jadi enak didengar.

Maju terus musik Indonesia…

13 Komentar

Filed under musik

KPK Tumpuan Harapan Baru

WahyuningratMas Wahyu, salah seorang kru acara MetroTV Todays Dialogue memberi informasi bahwa Todays Dialogue sekarang tampil dengan format baru. Saya penasaran format baru itu seperti apa. Tanggal 4 kemarin saya terlewatkan nonton karena ada kuliah. Kali ini sempat kebagian buntutnya ajah. Topiknya kali ini adalah: “Kasus Suap Jaksa BLBI“.

Rupanya format baru yang dimaksud adalah mengacu pada format yang dipakai pada saat Todays Dialogue edisi khusus akhir tahun dengan host Najwa Shihab yang topiknya “Meretas Jalan Reformasi“.

Meutia HafidzKali ini hostnya Meutia Hafidz. Waktu edisi khusus akhir tahun itu ada penonton, ada sesi pandangan dari tokoh yang duduk dibangku penonton kemudian ada sesi tanya jawab dari penonton yang kebanyakan dihadiri oleh mahasiswa. Improvement yang baik sekali melihat animo masyarakat pada Todays Dialogue edisi khusus akhir tahun kemarin.

Pada sesi pandangan dari tokoh yang duduk di bangku penonton salah satunya ada Abdul Malik, Sekjen Transparancy International Indonesia (TII) yang mengaku pernah dimarahin oleh salah satu nara sumber: Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR Gayus Lumbuun, karena TII membuat survey yang hasilnya menempatkan lembaga DPR sebagai lembaga terkorup tahun lalu.

Sempat juga ditayangkan cuplikan Todays Dialogue episode yang topiknya “Polisi dan DPR Lembaga Terkorup“. Dalam cuplikan itu ditayangkan ngototnya Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto waktu mendebat Todung Mulya Lubis.

Menarik uraian dari Denny Indrayana (Ketua Pukat Korupsi UGM) sebagai nara sumber yang mengatakan bahwa peringkat korupsi Lembaga Peradilan dari tahun ke tahun berdasarkan survey TII meningkat terus hingga sekarang jadi peringkat atas.

Menyusul tertangkapnya Jaksa Urip karena kasus suap, KPK yang diwakili oleh Haryono sebagai nara sumber mendapat banyak pujian. Tapi menurut Denny KPK juga berperan dalam naiknya peringkat korupsi peradilan karena KPK baru fokus pada kasus korupsi peradilan tahun ini sedangkan pada tahun tahun sebelum korupsi peradilan belum disentuh oleh KPK.

Rupanya KPK menjadi tumpuan penegakan hukum sekarang ini. Lembaga lembaga lain sepertinya tak bisa diharapkan lagi. Terbukti waktu Meutia memberi questionair sederhana dengan pertanyaan kepada penonton siapa yang masih optimis pada penegakan hukum di Indonesia. Terlihat yang angkat tangan hanya 20% saja.

Pada sesi tanya jawab salah seorang teman mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia melontarkan pertanyaan: “Apa usaha Kejaksaan Agung untuk memulihkan kepercayaan masyarakat atas penegakan hukum dan atas institusi Kejaksaan Agung sendiri”.

Narasumber BD Nainggolan sebagai Kapuspenkum Kejagung tidak menjawab substansi pertanyaan dan malah menjawab dengan hal hal lain yang tidak ada hubungannya, sampai akhirnya Meutia merasa perlu untuk memotong dan mengulang pertanyaannya, kemudian BD Nainggolan menjawab lagi tapi saya tetap tidak mengerti jawabannya 😦

Satu hal yang saya suka dari Todays Dialogue adalah adanya sesi tak resmi, sesi “berantem”. Kali ini ketika Denny Indrayana menekankan bahwa KPK sebagai lembaga yang menjadi tumpuan harapan penegakan hukum perlu fokus selain pada korupsi peradilan, perlu juga lebih fokus pada korupsi lembaga politik seperti DPR.

Sebagai orang DPR, Gayus masih kalem, tapi begitu Denny menyinggung soal KPK juga harus menyelidiki kebijakan pemerintah yang juga sarat dengan resiko korupsi seperti keputusan pemerintah pada masa Presiden Megawati tentang dana BLBI 600 triliun maka Gayus yang berasal dari partai PDI-P itu seperti naik pitam dan segera menyerang Denny dengan mengatakan di dunia pendidikan juga ada korupsi kok katanya sambil menunjuk Denny. Denny yang seorang akademisi cuma tersenyum simpul mendengarnya.

Kalaupun ada, gak sampe 600 triliun kalee, masa mau dibarter sih? Jadi karena sama sama ada korupsi lantas diam diam saja gituh? wah logika kolusi, sikap mental yang defensif.

KPK sudah mulai unjuk kinerja tapi jangan buru buru senang, masih banyak sekali yang perlu diusut oleh KPK dan apakah ketua KPK Antasari Azhar punya nyali untuk itu? Selain nyali tentu juga skill tentang bisnis proses dari praktek korupsi. Terkuatnya kasus suap Jaksa Urip mungkin juga karena Antasari sebagai mantan Jaksa Agung tahu betul seluk beluk praktik suap di Kejaksaan Agung.

KPK maju terus, berantas korupsi negeri, kita sudah muak dengan pencurian uang rakyat…

3 Komentar

Filed under televisi

Duduk Perkara BLBI

Sumber: Suara Pembaca Detik *

Namanya Bantuan Likuiditas Bank Indonesia disingkat BLBI. Berarti sumbernya adalah Bank Indonesia.

Dana BLBI diberikan kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas atau bahkan bersaldo debet agar tetap dapat beroperasi. Kebijakan BLBI yang berupa kebijakan pemberian fasilitas Surat Berharga Pasar Uang Khusus (SBPUK) dikeluarkan pada akhir Desember 1997 agar bank-bank tetap bertahan dan beroperasi karena efek negatif penutupan 16 bank pada November 1997.

Bank Indonesia menyalurkan BLBI ke bank-bank dalam bentuk saldo debet, fasilitas saldo debet, fasilitas diskonto I, fasilitas diskonto II, fasilitas SBPUK, new fasilitas diskonto, fasilitas dana talangan valas, dan fasilitas dana talangan rupiah.

Pada prinsipnya dana BLBI hanya boleh digunakan untuk membayar dana nasabah agar kepercayaan masyarakat terhadap bank pulih kembali. Ironisnya, Dana Moneter Internasional (IMF) disebut-sebut berada di belakang blunder ini. Pemerintah melalui Dewan Moneter kemudian menggodoknya, dengan BI sebagai pelaksana.

Menurut pakar perbankan, Eko B Supriyanto, jumlah BLBI yang diberikan kepada bank-bank yang dinilai bisa selamat dari kesulitan likuiditas akibat tekanan krisis (posisi 29 Januari 1999) sebesar Rp 144,536 triliun kepada 48 bank.

Perinciannya: 5 bank take-over (BTO) Rp 57,639 triliun, 10 bank beku operasi (BBO) Rp 57,687 triliun, 18 bank beku kegiatan usaha (BBKU) Rp 17,320 triliun, dan 15 bank dalam likuidasi (BDL) Rp 11,888 triliun. Jadi jumlah BLBI bukan Rp 650 triliun atau Rp 600 triliun seperti ditulis di media massa belakangan ini. Angka

Rp 650 triliun itu bukan kerugian, melainkan biaya krisis yang persisnya Rp 647 triliun yang terdiri atas Rp 144,536 triliun (BLBI), obligasi rekap (Rp 448,814 triliun), dan obligasi penjaminan (Rp53,780 triliun). Jumlah itu yang sudah dikembalikan oleh BPPN sebesar Rp 188,884 triliun dan Rp 18,805 triliun, yang diserahkan ke Perusahaan Pengelola Aset dan tidak termasuk penjualan saham bank-bank BUMN.

Presiden MegawatiPenanganan kasus BLBI memasuki babak baru, ketika pada 2002 lalu, Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluarkan kebijakan Release and Discharge, yang intinya memberikan jaminan perlindungan terhadap tuntutan pidana kepada mereka yang telah dinyatakan melunasi utang dengan pemberian Surat Keterangan Lunas (SKL). Walaupun kenyataannya hasil penjualan lelang jauh di bawah nilai utangnya kepada negara.

Di masa pemerintahan SBY sekarang, Jaksa Agung telah menyiapkan 35 jaksa yang diklaim terbaik, untuk mencari celah baru dan menuntut para obligor. Langkah ini dapat diartikan bahwa pemerintah serius menyelesaikan kasus BLBI.

Apalagi, isu BLBI kerap lebih kental aroma politiknya daripada hukum, sehingga SBY harus berhitung ulang jika hanya bermain-main dengan kasus ini. Sebab, menjelang 2009, isu ini akan menjadi santapan empuk lawan politik SBY guna kepentingan masing-masing.

Kita juga patut curiga, apakah interpelasi BLBI DPR baru-baru ini terkait skenario kepentingan 2009? Jika ya, maka sekali lagi rakyat harus kecewa, karena apa yang terjadi di lembaga yang mewakili rakyat ternyata tak memiliki kaitan dengan kepentingan masyarakat. Bagi DPR sendiri, hak interpelasi sejatinya cukup sakral, dan harus dijadikan senjata pamungkas.

Namanya saja senjata pamungkas, maka ia hanya akan dikeluarkan jika kondisi sangat-sangat mendesak. Bukan seperti yang kita lihat di DPR selama ini, di mana senjata pamungkas interpelasi terlalu mudah dipakai tanpa memikirkan hasilnya. Makanya tak heran jika publik terlihat apatis terhadap sidang interpelasi DPR, karena hasilnya tak akan berbeda jauh dengan sidang-sidang reguler.

Ke depannya kita mengharapkan, DPR harus mampu melepaskan jubah kepentingan politiknya masing-masing dalam menyelesaikan kasus ini. Sehingga publik tak lagi disuguhi dagelan politik, melainkan perdebatan cerdas dan berisi demi membela kepentingan publik. Bukan kepentingan partai dan kelompok tiap jelang pemilu.

* Penulis: Alex Sudarwanto
Jl Kenanga 6 No 32 RT 005 RW XVI Bogor
alex_sudarwanto [at] yahoo.co.id

1 Komentar

Filed under ekonomi