Surat Untuk Kepala Sekolah

Surat saya kepada kepala sekolah tempat ponakan saya Alif bersekolah.

Alif

Asalamualaikum Wr Wb

Yth Pak Fadli,

Kepala Sekolah SDIT Teratai Putih Global.

Saya adalah paman dari salah seorang siswa Bapak di kelas 1A bernama Alif Ardezir Zidane. Karena Alif sudah tidak memiliki Ayah lagi maka saya dengan ini mewakili Ayahnya atas ijin Ibunya (Gunapria Kirana) ingin melaporkan sesuatu tentang sebuah peristiwa yang menurut hemat saya menuntut perhatian dari pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan.

Pada tanggal 4 februari hari senin Ibunya Alif, menerima telephone dari Alif. Alif dengan suara galau menceritakan kejadian bahwa ia tadi disekolah dipalak oleh kakak kelasnya. Duit 5000 rupiah yang sedianya akan dia belanjakan untuk jajan selama satu minggu dirampas oleh kakak kelasnya itu.

Kata Alif menceritakan kejadian itu, “Kasih gak lo, kalo gak gua tabok!”.

Sebelumnya duit diberi perhari 1000 rupiah tapi kali ini Ibunya ingin lihat apakah Alif bisa atur uang sendiri dengan duit 5000 untuk satu minggu.

Dengan ini saya ingin membuka wacana kepada pihak sekolah untuk betul betul memperhatikan masalah ini. Apa yang terjadi adalah mudigah premanisme. Si kakak kelas merasa berhak atas duit milik orang lain yang dipilih dari temannya yang lebih kecil alias lemah.

Alif bisa melakukan hal yang sama pada siswa yang lebih kecil dikemudian hari bila ia sudah menjadi kakak kelas. Ini gejala kemerosotan moral dan saya tidak mau kemerosotan ini terjadi pada Alif atau siswa manapun di sekolah kita ini.

Semula saya ingin kasus Alif diselidiki untuk mengetahui siapa si tukang palak itu. Tapi kemudian saya berpikir ini bukan sekedar masalah Alif. Sebab Alif pernah cerita dia menyaksikan temannya dipalak kakak kelasnya.

Jadi apa yang terjadi sepertinya secara keseluruhan dan saya khawatir secara diam diam sudah menjadi tradisi yang luput dari pantauan pihak sekolah. Besar harapan saya pihak sekolah mulai memperhatikan masalah ini dan pada saatnya mampu mengendalikan fenomena ini.

Mungkin pertama tama perlu diteliti berapa parah tingkat kemerosotan itu. Bisa dengan cara angket atau questionair yang diaplikasikan ke seluruh siswa. Semoga bisa terungkap estimasi berapa persen siswa yang sudah pernah dipalak, memalak, melihat temanya dipalak dsb.

Kalau sudah diketahui tingkatnya kemudian saya yakin pihak sekolah akan memiliki kebijaksanaan yang tepat untuk menanggulangi hal ini. Apakah secara berkala diarahkan untuk tidak boleh melakukan praktik pemalakan, bila perlu disertai sangsi sebagai bagian dari pendidikan.

Tentu para guru sebagai pendidik sudah punya metodologi yang tepat untuk melakukan semua itu. Kami yakin label SDIT perlu dan penting dipertahankan untuk menjaga citra baik SDIT yang Islami, membentuk insan insan muslim yang takwa, beriman, cerdas dan berperilaku mulia dimasa yang akan datang.

Dengan rendah hati kami menanti tanggapan Pak Fadli.

Wasalamualaikum Wr Wb

Hormat saya

Wibisono Sastrodiwiryo

22 Komentar

Filed under curhat

22 responses to “Surat Untuk Kepala Sekolah

  1. devari

    wah gila..premanisme udah tumbuh sejak the very beginning…
    *masih ga percaya*

  2. Sepertinya masalah ini sudah meracuni dunia pendidikan kita sejak lama dulu…saya masih ingat ketika SD peristiwa palak memalak sudah terjadi di sekolah dan memang mengawatirkan. Terus seperti apa balasan dari Pak kepala sekolah?

  3. Baru hari ini surat itu diberikan, saya masih menunggu balasannya.

  4. *sabar menunggu sambungan dari ceritanya*

  5. Alus Setya Pambudhie

    wah… dah belajar malak dari kecil rupanya… masa sekolah yang ngajarin.. apa dari tontonan film2 mereka…?

  6. Ya, kayaknya gaya preman anak sekolah tersebut diadopsinya dari film maupun sinetron di tv atau bisa saja karena dulunya pernah dipalak dan sekarang saatnya untuk balas dendam.
    Hal ini mesti diperhatikan tidak hanya oleh guru tapi juga para orangtua…

  7. hari ini udah dibalas belom wib?
    penasaran gue. surat lo diplomatis banget..hihi

  8. Belum dibalas, tapi kemarin gw denger dari adik gw kalo Alif sama gurunya diantar ke semua kelas untuk mengenali siapa yang malak dia. Gak ketemu rupanya. Rupanya walikelasnya kaget bener dan gak percaya ada yang malak di sekolah dia.

    Tapi kata supir jemputan Alif, tukang palak itu biasanya kelas gede antara kelas 5 atau kelas 6 dan itu memang terjadi. Rupanya laporan gw itu bikin mereka ngeh kalo ada fenomena pemalakan.

    Sekarang masih nunggu nih surat balasan dari kepala sekolahnya.

  9. Mas Wibi dengan Ibunya Alif itu hubungan famili apa ,adiknya ibu apa atau apa ya ?
    Gimana kalau Alif itu diajarin beladiri ya,silat atau apa,biar berani melawan kalau diganggu anak yang lain.

  10. @Panji:

    Ibunya Alif itu adik saya. Beladiri teknis tidak efektif untuk melindungi anak anak dari komunitas yang global (semua kelas), malah bisa berbahaya. Beladiri teknis mungkin sedikit membantu untuk komunitas yang sama (dalam satu kelas).

    Akan lebih efektif beladiri secara sistemik yang diprovide oleh sekolah. Sekarang tinggal bagaimana membangun sistem di sekolah.

  11. Fadeli S

    Buat mas Wibi
    paman ananda Alif 1A

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Terimakasih atas surat yang mas Wibi sampaikan baik langsung atau melalui bloger ini, dan maaf baru sekarang dibalas karena baru hari kami membacanya. Surat yg mas Wibi sampaikan menjadi bahan evaluasi kami di sekolah untuk lebih waspada terhadap fenomena tersebut.

    Secara lgs begitu surat sampai disklh, kami meng-instruksikan kepada guru BP dan wali kelas segera menindaklanjutinya dan mengantisipasi agar kejadian tsb tidak terulang kembali. dalam hal ini kami juga berharap kerjasama yg baik dengan orangtuamurid. kami memberi waktu 2 minggu dan segera melaporkan kepada sekolah.

    secara system, kami sering menyampaikan kepada anak2 agar selalu berbuat baik kepada adik dan kakak kelas, saling menghormati dan saling menyayangi. dan hal ini kami ulang-ulang setiap apel senin atau oleh walikelasnya. agar patuh kpd tatatertib sekolah. kami juga menyampaikan bahwa anak2 dilarang KERAS berkelahi dan melakukan pemalakan. bahkan kepada kakak kelasnya kami LARANG sekedar minta makanan atau uang kepada adik kelasnya. pelanggaran atas hal ini kami sampaikan kepada kelas besar (karena mereka sudah paham),terkategori kesalahan besar dan dapat dikeluarkan dari sekolah jika sudah pada taraf membahayakan.

    Dan kepada orang tua/wali dari ananda Alif, kiranya dapat datang ke sklh untuk komunikasi lebih lanjut dan bersilaturahmi serta memberi masukan2 kepada sekolah. kami juga sangat berterimakasih atas semua masukan demi perbaikan dan kebaikan semuanya. kami yakin dengan kerjasama dan komunikasi orang tua dan sekolah akan mampu untuk memfilter pengaruh negatif dari luar.

    Ok thanks mas Wibi, sukses selalu, kami tunggu masukan selanjutnya. oh ya..kami disekolah Insya Allah sudah mengembangkan hotspot/internet pada lab komp sekarang dan dikembangkan kpd anak2. mas Wibi kami tunggu usulan programnya

    Wassalam
    Fadeli Supriyadi
    SDIT TP Global Bekasi

  12. @Fadeli Supriyadi:

    Dear Pak Fadeli yang baik.

    Pada saat posting surat diatas tidak terpikirkan Pak Fadeli sendiri juga blogwalking dan menemukan tulisan saya ini.

    Saya berterima kasih dengan tanggapan dari pihak sekolah terutama wali kelas Alif, Bu Yayah yang sudah bersedia mengantar Alif ke kelas kelas lain untuk mencari siapa yang malak.

    Suatu sikap empaty yang membuat kami merasa nyaman dan aman menitipkan Alif di sekolah SDIT Teratai Putih.

    Dengan demikian akan merubah sama sekali cara pandang anak anak yang akan merasa ada perlindungan dari sekolah sehingga lain waktu begitu ada terjadi ketidak sewenangan dari kakak kelasnya mereka tidak sungkan dan berani melaporkan kejadian itu pada sekolah

    Kemarin kami sekeluarga sempat menyalahkan Alif karena tidak segera lapor kepada Bu Yayah. Rupanya Alif masih ragu dan sungkan. Sekarang Alif sudah punya kepercayaan diri bahwa bila dia melapor maka sekolah akan merespon dengan sikap empaty.

    Saya mohon maaf belum bisa hadir segera memenuhi undangan Pak Fadeli ke sekolah karena kesibukan kerja.

    Saya senang sekali kalau di sekolah SDIT nanti bisa ada Internet sehingga kita bisa berkomunikasi lebih efisien dan interaktif. Pertemuan kita di Blog ini sungguh luar biasa bagi saya, sebelumnya saya kira anda tidak beredar di Blogosphere :-p

    Pak Fadeli sekali lagi terimakasih atas tanggapannya, anda seorang kepala sekolah yang trengginas. Nanti kalau ketemu kita bisa ngobrol banyak tentang program pendidikan yang ada disekolah SDIT.

  13. panji2008

    Wahh…Salut buat Pak Fadeli kepala sekolah SDIT yang ternyata merespons juga masalah 2 yang di alami anak didiknya seperti yang dialami si Alif.
    Saya juga bisa merasakan beratnya momong anak didik yang sekian banyak itu,tentu saja ada yang nakal ,ada yang suka berantem, pendiam dan ada yang suka malak segala dan berbagai karakter dan perilaku anak yang macam macam.Untuk itu diperlukan kesabaran dan kebijaksanaan yang kuat dalam mendidik,agar yang dididik mempunyai perilaku yang mulia.
    Semua itu bisa diselesaikan melalui komunikasi yang baik dengan penuh kesadaran dan rasa kekeluargaan diantara kita semua.
    Salam

  14. wah boleh nih keala sekolahnya..cara menanggapinya pun oke…bukan tipikal ORBA yang selalu bilang, ngga ada tuh di sekolah kami..
    salut buat kepala sekolah dan mas wibinya..
    ngga ada emosi..kalau saya sih langsung saya cari di anaknya…cuma pas baca postingan mas wibi, bener juga, yang salah bukan anaknya tapi sistemnya..

  15. Assalamualaikum War. Wab.
    Paman ananda Alif 1A & Pak Fadeli Supriyadi

    Saya Nelly, Mamanya M Awang Akbar Kelas 3C, dan M Alffatah Yahyah Kelas 1D,
    Mungkin agak terlambat saya memberikan tanggapan tentang masalah ini, karna kejadiannya beberapa bulan yang lalu.

    Sekedar berbagi cerita :
    Anak kami, Muhammad Alfattah Yahya, yang baru duduk di kls 1 SD, adalah anak yang baik, penurut, santun, sholat paling rajin dan sayang sekali sama mamanya, suatu hari di stampel sebagai “PEMALAK” di kelasnya, bahkan kejadiannya sampai 2 kali. saya yang sedang bekerja mendapat telepon dari Ibu Hikmah (wali kelas Alffatah)benar-benar shock, karna tidak percaya anak saya sangat maniez koq bisa jadi “liar” begini ?
    saya berkonsultasi dengan psikologi :
    hasilnya adalah :
    1. Ananda Alfattah merasa ada power hanya ketika berada di sekolah saja (karna dirumah kakaknya Awang lebih dominan dalam hal apapun), jadi sebenarnya anak kami bukan anak yang sudah rusak moralnya karena uang sehingga jadi “PEMALAK”, hanya saja dia ingin menunjukkan kehebatannya. “ni, aku juga bisa kayak kakak ku!”……. jadi adalah tugas kami orangtuanya memberikan media yang positif.
    2. Tidak adanya komitment antara sekolah dan para orang tua, yaitu :
    pada saat orang tua di-briefing, kami sebagai orang tua mendapat penjelasan bahwa tidak boleh memberikan uang jajan, jadi hanya uang untuk infaq & tabungan saja. makanan kecil dibekali dari rumah, makan siang ada catering di sekolah.

    kami mematuhi komitment tsb. ternyata orang tua murid yang lain memberikan uang jajan. dan inilah MASLAH-nya.

    Ketika ananda Alfattah saya tanya ;
    saya : “untuk apa uangnya sayang ?”,
    alfattah menjawab “untuk beli kripik yang rasanya pedes-pedes?”, “berapa harganya sayang?, “Gopek Ma…..”
    “Gimana Alfa minta uang ama Sasa, sayang ?”,
    “Sasa kalau Sasa gak kasih alfa uang, Sasa gak boleh naik mobil jemputan….”
    Ya Allah anak ku…….

    Hari itu juga saya temui orang tua “Sasa”, dan meminta maaf & memberikan Penjelasan kepada Ibunda Sasa…

    dari kejadian anak saya, saya sangat tidak setuju kalau “kenakalan kecil” anak-anak kita ini terlalu dibesar-besarkan sampai dibilang “PEMALAK !, PREMAN SEKOLAH!” kita sama-sama sudah taukan?, bahwa pemikiran anak-anak ini tidak sejauh & sejahat yang kita fikirkan… serta faktor yang membuat anak jadi salah adalah orang-orang dewasa (dalam kasus anak saya ketidak konsekwenan sekolah dalam melarang adanya uang jajan),

    Paman-nya Alif, saya insyaAllah tahu persis tentang SD teratai putih, untuk kelas 1A yang dibawah naungan Ibu Yayah asal Paman-nya Alif mau berkomunikasi dengan Ibu Yayah, semuanya tidak ada yang perlu Bapak khawatirkan & tidak perlu sampai ter-expose seperti ini.

    Untuk Bapak Fadli, saya mohon ditinjau kembali untuk peraturan sekolah, yaitu sbb :
    1. Masalah Uang jajan, kalau memang anak-anak kita diperbolehkan diberi uang jajan, mohon agar dihimbau kepada orang tua untuk memberikan dalam jumlah yang sama, berapa jumlah yang pantas (agar tidak terlalu senjang), karna kesenjangan ini yang memicu anak untuk meminta uang kepada anak-anak.
    2. kalau memang uang jajan ini tidak bisa dihindarkan, tolong awasi jajanan apa saja yang boleh dijual disekolah, baik kebersihannya ataupu kandungan dari makanan2 yang dijual tsb.
    (Maaf saya melihat beberapa kali ada penjual Teh Sisri di Terput yang jelas2 mengandung bahan berbahaya untuk anak2).
    3. Tolong pisahkan kantin SMA dengan SD.

    Demikian cerita dari saya, Paman-nya Alif & Bapak Fadly, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati Bapak.

    Wasalam,
    Mama Awang & Alfa

    • dear Ibu Nelly,

      dari kejadian anak saya, saya sangat tidak setuju kalau “kenakalan kecil” anak-anak kita ini terlalu dibesar-besarkan sampai dibilang “PEMALAK !, PREMAN SEKOLAH!” kita sama-sama sudah taukan?, bahwa pemikiran anak-anak ini tidak sejauh & sejahat yang kita fikirkan…

      esensinya saya setuju bu, melihat kasus putra ibu bahwa sang adik hanya ingi meniru sang kakak, masalahnya pada kasus putra ibu, ibu tahu benar duduk persoalannya

      sedangkan pada kasus alif tidak diketahui siapa orangnya, jadi tak bisa disimpulkan dengan cara yang sama, seandainya siapa yang “memalak” alif tersebut dapat kita temui dan kita tanya motifasi baru kita bisa ambil kesimpulan yang sama

      Paman-nya Alif, saya insyaAllah tahu persis tentang SD teratai putih, untuk kelas 1A yang dibawah naungan Ibu Yayah asal Paman-nya Alif mau berkomunikasi dengan Ibu Yayah, semuanya tidak ada yang perlu Bapak khawatirkan & tidak perlu sampai ter-expose seperti ini.

      masuknya komentar terakhir dari alumni SDIT membuktikan publikasi kasus alif ini ada gunanya, ada anak yang mengaku alumnus SDIT dan memberi kesaksiannya yang sama sekali berbeda dengan dugaan kita sebelumnya dan kembali membenarkan kekhawatiran saya bahwa ada perilaku yang perlu diwaspadai mengarah ke arah pemaksaan dengan kekerasan

  16. ifan naufaldy

    assalamualaikum berhubungan saya alumni sdit teratai putih tahun kemarin sebenarnya saya tahu bahwa yang memalak itu teman kelas saya walaupun dia di bilangin kaya gitu dia malah ngelunjak dia hanya berani kepada anak2 di bawah kelas 4 waktu alif di palak saya melihat kejadian itu saya udah bilang ” parah banget kamu anak orang kamu palak2 emang kamu gak di kasih uang jajan sama ortu kamu” dia sih jawab ” bodo emang gua pikirin sebenernya gua di kasih tapi cuma dikit 15000 ” jadi faktor permasalahannya itu karena dia tidak di kasih oleh orang tuanya trus dia sering memalaki anak anak yang lemah/ di bawah umur dia

    • dear dik ifan yang berani,

      terima kasih atas tanggapannya memberi kesaksian disini, ini perlu kita benahi bersama supaya SDIT kita tercinta bisa menjadi sekolah yang lebih baik

      saya merasa bersukur masih ada anak seperti dik ifan yang tahu mana yang benar dan mana yang salah kemudian berani mengamalkannya, apa yang dik ifan lakukan dengan memperingatkan si pemalak itu sudah benar

      tentu dik ifan masih ingat siapa orangnya kan? saya akan laporkan hal ini pak Fadeli untuk ditindak lanjuti, kita tidak ingin menuntut apa apa cuma berempati saja pada si anak yang suka memalak itu supaya bisa berubah dengan cara memberitahukan orang tuanya, sebab tentunya sekarang dia sudah SMP dan bukan tidak mungkin akan jadi pemalak lagi di SMP nya, dan tentunya kepada pihak sekolah untuk lebih baik lagi mengawasi anak didiknya

  17. Mas Win….aku kaget-kaget juga baca postingmu ini…gila ya anak-anak sekarang..memang orang tua dan guru perlu lebih waspada…karena semua yang terjadi saat ini akan berpengaruh juga ke depannya nanti… semoga Alif tidak meniru kejadian yang dia alami…ini jadi yang terakhir, dan sekolah-sekolah lain juga memantau murid-muridnya lebih baik lagi…:)

    • kalo alif sih aku yakin dia gak akan malak anak kecil , dia dikeluarga paling besar dan punya banyak adik, dia tahu gimana memperlakukan adik adik yang lebih kecil, harus protektif dan kasih sayang, seperti akulah, cucu tertua eyang sastro…🙂

      cuma si anak yang malak ituloh, kasian kalo dia nanti udah gede punya mentalitias tukang palak…

  18. ya udah yang penting kita semua ikhlasin saja….. aku juga pernah di palak oleh orang itu…. kita berdoa agar dia mau insaf saja….. amien

  19. iyus

    Tahun ini saya akan menyekolahkan anak saya di terput. Ini masukan yang bagus untuk saya, bagaimana saya harus mendidik/menjaga anak saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s