Waspadai Bahaya Laten Orde Baru

Astana Giri BangunSengaja saya posting artikel ini berjarak dengan hari kepergiannya. Sebagai orang yang tidak mengibarkan bendera setengah tiang saya punya cara tersendiri dalam memandang sosok pemimpin Orde Baru ini. Tidak ikut ikutan menghujat sudah cukup buat saya.

Pak Harto tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai pribadi seorang tua renta berusia 86 tahun yang baru saja tutup usia tapi haruslah dipandang sebagai sosok pencipta sistem dan pembawa nilai yang masih berperan penting dalam sendi sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Segala hormat puja dan puji di media cetak maupun elektronik kiranya ditujukan kepada sosok Pak Harto sebagai seorang pribadi yang mengagumkan. Tapi semua itu membawa implikasi yang luas ditengah masyarakat.

Seandainya semua nilai nilai yang pernah beliau tanamkan pada bangsa ini ikut mati bersamanya maka pemberitaan penuh simpati dibanyak media itu tak akan menjadi persoalan.

Presiden SoehartoKini dengan gencarnya simpati dimedia masa mengangkat kembali romantisme masa masa Orde Baru dimana stabilitas nasional terjaga, ekonomi yang baik, pembangunan nasional berkesinambungan dan martabat bangsa dimata asing terpelihara.

Semua itu bisa dengan mudah dikenang oleh rakyat mengingat kondisi rakyat sekarang ini yang sedang didera oleh kesulitan multidimensi, mirip seperti kondisi Pak Harto yang wafat akibat kegagalan fungsi multiorgan.

Lalu apa salahnya? Dimana bahayanya?

Untuk menjawab pertanyaan sederhana diatas saya ingin terlebih dahulu mengulas sekilas apa yang dilakukan oleh Pak Harto dimasa Orde Baru.

***

Sebuah pandangan yang mengatakan bahwa pembangunan nasional hanya bisa dilakukan bila stabilitas nasional terjaga, lahir akibat dari tak tersentuhnya pembangunan dimasa pemerintah Orde Lama.

Revolusi yang menjadi paradigma Orde Lama berkutat lebih banyak pada masalah politik yang membuat stabilitas nasional terganggu. Dimata Pak Harto pembangunan ekonomi haruslah segera dilakukan sebagai prioritas utama.

Stabilitas nasional yang diusahakan Pak Harto ditempuh dalam pengawalan militer dengan menggunakan Dwi Fungsi ABRI sebagai instrumen. Pembangunan menjadi paradigma Orde Baru, tampil sama sekali menggantikan paradigma Orde Lama.

Orde Lama ditutup dengan segel berdarah 500 juta lebih rakyat yang dituduh sebagai anggota PKI, partai terlarang yang dianggap manifestasi Orde Lama. Dengan pandangan baru dan harapan yang menggebu gebu akan kemakmuran, semua orang pada masa itu menggantungkan harapan begitu saja pada Orde Baru.

Hingga peristiwa demi peristiwa yang dimulai sejak peristiwa Malari 1974 beberapa kalangan (termasuk penggagas Orde Baru itu sendiri) mulai menyadari bahwa stabilitas nasional yang dimaksud sebagai prasyarat pembangunan memiliki harga yang sangat mahal yang harus dibayar.

Berbekal stabilitas itu pembangunan digelindingkan dan membawa hasil yang signifikan. Cukup untuk menghibur rakyat yang lapar sejak kemerdekaan diraih tahun 45.

Minyak dan Gas Bumi menjadi tumpuan utama pembiayaan pembangunan. Dengan dalih menambah akselerasi pembangunan, Pertamina dibawah pimpinan Ibnu Sutowo meminjam uang dari lembaga keuangan asing sebesar 10 milyar dollar. Inilah kali pertama Indonesia berhutang luar negeri dalam jumlah besar.

Hutang demi hutang dibuat, tidak hanya negara, sektor swastapun ikut ikutan berhutang dengan menjual potensi ekonomi Indonesia yang kian tumbuh pesat karena pembangunan.

Pembangunan memang berjalan dan berkembang tapi seiring dengan itu hutang juga berkembang. Layaknya sebuah bangunan ekonomi sebuah negara harus memiliki dasar yang kuat. Dasar yang dipakai oleh Pak Harto untuk membangun adalah hutang luar negeri.

Tapi beliau melakukannya dengan baik sekali. Teratur dan terencana. Banyak hal yang bisa diraih diberbagai bidang dengan keteraturan ini. Pendidikan, kesehatan, pangan, ketenteraman, prestasi olahraga di berbagai event (SEA Games & Asian Games), keluarga berencana, kedaulatan wilayah dan bahkan wibawa bangsa dimata asing.

Hanya saja konsep kekuasaan Jawa yang beliau terapkan dalam pemerintahan tidak memungkinkan kalangan yang berada diluar lingkaran-dalam untuk bisa mengembangkan diri.

Konsep kekuasaan ini harus dimengerti oleh pihak pihak yang ingin berkembang. Pemahaman atas konsep ini akhirnya ditransfer ke masyarakat luas yang oleh karena berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama maka telah diadopsi dari hanya sekedar pemahaman konsep menjadi nilai nilai.

Nilai bahwa kritik itu tak sopan dan tak perlu, nilai bahwa nepotisme itu lumrah, nilai bahwa kolusi itu cerdas, nilai bahwa korupsi itu wajar dan menyenangkan, nilai bahwa kekerasan itu adalah solusi.

Semua nilai nilai itu mengiringi pembangunan dan dicerna sebagai hasil dari nilai nilai itu. Kalau tidak mengamalkan nilai nilai itu maka pembangunan tak akan berhasil. Saking pentingnya nilai nilai itu maka dipertontonkan dalam bentuk simbol simbol seperti Pendopo Gubernuran atau Kabupaten, masjid berkubah Joglo, dan masih banyak lagi. Terjadi imitasi konsep kekuasaan hingga ke daerah daerah. Singkatnya Jawanisasi.

Nilai nilai ini menjadi seolah olah kekal karena telah diadopsi sebagai budaya. Dalam banyak proyek pemerintah kalau tak menyetor uang pada pejabat maka jangan harap tender dimenangkan. Bahkan dalam perusahaan swasta, budaya itu juga berkembang.

Untuk bisa kebagian jatah pembangunan maka harus mengikuti budaya yang berlaku. Itulah harga yang harus dibayar untuk pembangunan versi Pak Harto.

***

Menanggapi soal hutang luar negeri yang menggunung itu Pak Harto melontarkan teori bahwa hasil pembangunan berupa BUMN BUMN bila dijual akan mampu melunasi semua hutang hutang luar negeri Indonesia.

Segala macam peringatan akan rapuhnya fondasi ekonomi yang dibangun Pak Harto dianggap angin lalu. Bahkan oleh ulah cecunguk cecunguk yang hanya mau mencari keuntungan pribadi dengan segala status dan reputasinya memberi pembenaran atas segala keputusan dan kebijakan Pak Harto.

Dalam iklim ekonomi seperti ini konglomerasi tak terbendung. Terutama oleh kalangan terdekat yaitu kroni dan keluarganya. Konglomerasi sebagai manifestasi Orde Baru dianggap hal wajar dan sehat sehat saja.

Sampai akhirnya krisis moneter melanda akhir tahun 97. Badai krisis ini dengan mudah merobohkan pilar perekonomian dan mengubah krisis moneter menjadi krisis ekonomi.

Nilai hutang luar negeri membengkak, menyusul anjloknya harga jual BUMN BUMN yang teorinya cukup untuk membayar hutang. Krisis ekonomi terus berlanjut menjadi krisis sosial, politik dan hingga kini krisis nilai budaya.

Krisis ini melanda tidak hanya Indonesia tapi semua negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi mereka beragam dan tidak sedikit pula yang mengalami ambruknya perekonomian seperti Malaysia, Thailand dan Filipina.

Mereka mati matian bangkit dari krisis seperti halnya Indonesia. Presiden Indonesia naik dan turun silih berganti tak menunjukan hasil yang benar benar menggembirakan. Tanya kenapa?

Kini negara negara tetangga tersebut sudah keluar jauh jauh hari dari krisis tapi Indonesia nampaknya masih terus berkubang didalamnya bahkan ada gejala semakin terperosok. Tanya kenapa?

Menurut Agus Pambagio seorang pengamat ekonomi publik gejala ini bisa dilihat dari naiknya harga sembako sejak awal tahun dengan kenaikan yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Ditengah tengah kekhawatiran akan semakin terperosoknya ekonomi rakyat ini Pak Harto pergi meninggalkan nilai nilai yang dulu disemainya dan kini terus hidup subur. Nilai nilai inilah yang paling bertanggung jawab dengan ketidak mampuan bangsa Indonesia bangkit dari krisis. Terjawab sudah kenapa.

***

DemonstrasiReformasi mampu menurunkan Pak Harto, tapi nilai nilai yang sudah menjadi budaya itu tetap hidup. Ketika masih berkuasa Pak Harto sebagai the-god-father Orde Baru memiliki kontrol atas nilai nilai itu. Tapi begitu beliau lengser maka kendali itu tak ada lagi.

Indikasinya adalah kasus korupsi semakin terang terangan, kekerasan merajalela, mafia peradilan bahkan sampai pada tingkat Mahmakah Agung. Jaman Pak Harto memang ada korupsi tapi tak separah ini. Jaman Pak Harto memang ada kolusi tapi tak sampai tingkat lembaga tinggi negara.

Semua praktik nilai nilai Orde Baru jaman Pak Harto ditingkat lembaga tinggi negara selalu dalam kendali dan skenario Pak Harto. Kini itu tak terkendali lagi. Merebak ke segala tingkat dan aspek kehidupan bangsa Indonesia.

Betapapun Reformasi menanggulanginya dengan berbagai penataan ulang tata negara tapi tetap sulit sekali mengatasi praktik atas nilai nilai Orde Baru itu.

Nilai nilai itu tetap hidup dan menjadi bahaya laten. Bagaikan bakteri yang membuat koloni pada seonggok daging busuk. Terus tumbuh dengan subur justru ketika induk semangnya semakin membusuk.

Semua orang mengutuk Orde Baru dan Pak Harto tapi nilai nilainya tetap dipakai. Bahkan oleh pengusung utamanya yakni Golkar ikut nimbrung mengutuk nilai itu dengan membawa citra baru yaitu “Golkar dengan Paradigma Baru”.

Tapi apa yang pertontonkan belakangan ini oleh para petinggi Golkar memperlihatkan bahwa nilai itu masih diusung. Pak Harto ingin dimaafkan begitu saja tanpa peradilan.

Sekarang bahaya laten itu semakin nyata dikomunikasikan lewat media elektronik dengan pemberitaan pemakaman Pak Harto dengan mengangkat romantisme jaman Pak Harto secara berlebihan.

Seolah olah ingin mengatakan bahwa keadaan morat marit sekarang akibat gerakan Reformasi dan Orde Baru tidak bertanggung jawab atas semua keruwetannya. Terbukti dari hasil wawancara di televisi yang mengangkat kesan masyarakat betapa keadaan dulu lebih baik dari sekarang dan kalau bisa balik lagi keadaan seperti dulu.

Bisa saja kita mengiyakan kesan itu sebagai kerinduan akan keadaan ekonomi semata yang sebenarnya semu karena dibangun diatas hutang. Tapi kesan kesan seperti ini sangat penting dalam komunikasi politik.

Efendi Gazali seorang pakar ilmu komunikasi politik mengatakan bahwa fenomena ini bisa dijadikan momentum bagi kekuatan politik tertentu untuk menggiring opini dan akhirnya dukungan.

Walaupun Prof Kacung Marijan seorang pakar ilmu politik meragukan akan hal itu tapi perkembangannya menghawatirkan karena kesan kesan romantisme Pak Harto seperti itu terus saja ditampilkan ke publik lewat berbagai acara di televisi bahkan sampai acara infotainment yang menjadi tontonan favorit ibu ibu.

Hentikan semua itu karena itu berbahaya. Membuai rakyat yang susah, lapar dan amnesia dengan romantisme semu masa lalu. Pembangunan berbasis hutang terbukti rapuh dan nilai nilai Orde Baru adalah bahaya laten karena menjerumuskan bangsa pada budaya nista KKN.

Tiap tiap pemimpin punya sistemnya sendiri sendiri. Sistem Orde Baru hanya berlaku pada jaman Pak Harto. Dan ia telah menyelesaikan tugas sejarahnya selama 32 tahun berkuasa. Kini tinggalkan semua nilai, sistem dan budaya itu.

Kita perlu stamina ekonomi yang kuat untuk mengarungi badai yang akan datang sebentar lagi. Badai krisis ekonomi dunia yang sudah mulai dirasakan oleh Amerika Serikat. Banyak pengamat ekonomi melihat indikasi akan hal itu dari menurunnya secara drastis pendapatan restoran cepat saji Mac Donald yang sangat digemari di AS.

Di dalam negeri sendiri kenaikan harga sembako yang tak terprediksi oleh para pengamat ekonomi menurut saya mengerikan, mengingat sebentar lagi akan ada pemilu yang sangat berkepentingan dengan politisasi keadaan. Bahkan menurut ekonom Faisal Basri, untuk pertama kali dalam sejarah APBN yang baru diumumkan satu bulan oleh pemerintah sudah akan direvisi.

Rakyat didesa desa yang tidak menyadari bahwa kesulitan sekarang ini adalah akibat dari akumulasi praktik nilai nilai Orde Baru akan dengan mudah dikelabui dengan mendramatisasi kesulitan hidup dan mengiming-ngimingi kemakmuran jaman Pak Harto. Janji janji manis akan diumbar dengan menggunakan simbol simbol Pak Harto dan ajakan kembali ke sistem Pak Harto.

Hentikan.. sekali lagi hentikan pemberitaan romantisme semu itu…

10 Komentar

Filed under politik

10 responses to “Waspadai Bahaya Laten Orde Baru

  1. Bagi saya, penyebab utama kita masih belum bisa keluar dari krisis adalah karena penerapan demokrasi yang prematur yang malahan kontra produktif. Sehabis dilanda krisis, Malaysia, Thailand, Vietnam, atau Singapura tidak serta-merta menjelma menjadi negara demokrasi sejati. Mereka lebih memilih untuk memperbaiki apa yang salah dalam penyelenggaraan ekonomi negara, ketimbang sibuk mengutak-katik sistem ketata-negaraan.

    Lihatlah Malaysia, dimana para mahasiswa disana sempat tertular “demam” demokrasi dari negara tentangganya. Tapi alih-alih mengikuti keinginan para “reformis”, pemerintah Malaysia tetap melanjutkan politik tangan besi mereka. Sekarang nyatalah, pererkonomian siapa yang melesat, dan siapa yang meleset.

    Sistem yang dibangun Suharto memang rapuh, namun bukannya harus diruntuhkan sama sekali. Saya setuju bahwa borok Orba adalah pada pembangunan yang berbasis hutang luar negeri, ditambah KKN yang merajalela. Tapi untuk membangun negeri ini, kita sebenarnya masih memerlukan seorang diktator. Belum waktunya kita menjadi negara demokrasi.

  2. @dhani:

    Tapi untuk membangun negeri ini, kita sebenarnya masih memerlukan seorang diktator. Belum waktunya kita menjadi negara demokrasi.

    Tak cukupkah pelajaran dari tragedi tahun 65 bahwa kediktatoran itu berbahaya? Mungkin maksud anda seorang diktator yang baik dan berhati mulia?

    Tak ada yang bisa mengontrol seorang diktator. Semula baik tapi kemudian bisa berubah jadi jahat setelah meraih kekuasaan dan tak mau turun.

    Disitulah perlu demokrasi untuk mengganti kekuasaan secara konstitutional.

    Sehabis dilanda krisis, Malaysia, Thailand, Vietnam, atau Singapura tidak serta-merta menjelma menjadi negara demokrasi sejati.

    Tentu saja tidak, karena usaha keluar dari krisis adalah bukan usaha untuk menjadi negara demokrasi.

    Mereka bisa keluar dari krisis justru karena rakyatnya mudah diatur apalagi Singapura. Beda dengan Indonesia yang sangat luas, besar dan rakyatnya sangat multietnik.

    Jadi tak bisa diatur semudah rakyat negara tetangga itu. Soeharto pernah mencobanya dan terbukti gagal. Kita sudah melewati fase itu dan tak perlu diulangi lagi.

    Satu satunya yang bisa diandalkan untuk mengakomodasi semua keragaman dan perbedaan sebuah negara besar seperti Indonesia hanyalah demokrasi.

    Negara besar dan plural seperti Amerika bisa hebat karena mengandalkan sistem demokrasi.

    Saat ini, hanya demokrasi yang kita miliki dan kita banggakan. Kita tak bisa bangga dengan ekonomi kita, tak bisa bangga dengan pemerintahan kita.

    Jadi Mas Dhani, jangan tinggalkan demokrasi.

    Anda satu visi dengan Wapres Jusuf Kalla.

    Untuk itu bisa baca artikel berikut:
    VP Jusuf Kalla: Democracy is Second Priority

  3. panjiasmara

    Mas Wibi,salam kenal dari saya.( kota Malang )
    Saya senang sekali dengan tulisan dan ulasan anda yang tajam,dalam dan berani, Salut dah.
    Selamat berjuang mas,(dengan tulisan 2 anda yang tentunya dapat menggugah jiwa)
    Mudah mudahan Indonesia bisa keluar dari kemelut krisis yang melanda.mudah mudahan kelak anak cucu kita yang bisa merasakan kebangkitan bangsa Indonesia yang sesungguhnya.
    Salam.

  4. Seorang Boss-ku selalu menunggu “the right man on the right place” — sampai menyitir suatu hadist segala. Aku nggak setuju. Aku nggak percaya manusia. Tapi aku bisa percaya pada sistem. Manusia jelek akan tertahan oleh sistem yang baik. Dan sebaliknya manusia baik bisa tergelincir tanpa dikawal sistem yang baik.
    Demokrasi? OK. Tapi carilah demokrasi yang memungkinkan masyarakat tumbuh dengan cerdas, bukan yang membiarkan kebodohan terus menerus berkuasa.
    Kediktatoran? Sorry. Hanya orang bodoh yang mau percaya diktator. Pun kalau sang diktator membawa nama nasion, agama, kebaikan.

  5. Saya hampir2 tidak pernah berkunjung ke site/blog politik. Kaget juga karena ternyata saya satu visi dg JK🙂. Btw, saya malahan setuju dg komentar Jake Charles di link yg anda berikan itu:

    Even in the United States, the so-called fledgling democracy , is not so democratic.

    The states are ruled with different rules, and regulations.

    I’d rather be proud of a country that is politically, socially, and mentally stable, than a country whose very foundation of democracy is unstable, and unguided.

  6. Biarkan Suharto berlalu, Anjing menggonggong terus.
    Ini judul lukisan yang rencana akan saya buat.

    Waktu berkuasa, tidak ada yang berani bersuara. berisik sedikit, digiring dengan alasan subversi. apa lagi kalau berteriak, penjara menanti. Setiap suara tidak ubahnya gonggongan, dan dengkingan anjing.
    Saat ini ketika si tua ini sudah pulang ke tanah, banyak orang yang ingin bungkam, tak mau lagi menggeram, karena ingat pernah dikasih paha ayam hasil utangan. jangan pernah berhenti bersuara, Biarkan Suharto berlalu, Anjing menggonggong terus!

    Salam kenal Wib, itukah panggilanmu?

  7. @panjiasmara:

    Terimakasih mas Panji di Malang, mari kita bikin Indonesia lebih baik, paling tidak melalui Blog.

    @Koen:

    Setuju mas Kuncoro. Yang bikin saya sedih dan khawatir, banyak orang yang sebenarnya tidak bodoh tapi mau dibodohi. Mas Koen terimakasih sudah menyertakan Blog saya pada Amigos😉

    @dhani:

    Perlu dicatat bahwa demokrasi bukan satu satunya jalan dan faktor menuju kemakmuran.

    Ada banyak cara, dan salah satu cara termudah adalah dengan mengorbankan demokrasi seperti halnya Siangpura dan Malaysia yang menurut istilah Jake Charles sebagai demokrasi terpimpin.

    Seandainya anda tahu pengakuan dari banyak warga Singapura yang dalam hati mereka bercita cita suatu saat nanti mereka akan pindah keluar Singapura.

    Mereka tertekan karena kemakmuran tidak mampu memberi kebebasan mengekspresikan keinginan non-material seperti keadilan dan kebebasan.

    Masing masing kemakmuran dan demokrasi dibutuhkan dalam negara bangsa. Apalagi negara besar seperti Indonesia.

    Sekarang pertanyaannya mungkin demokrasi macam apa. Mungkin anda sependapat dengan Jake Charles : That’s what we need, a guide in our democracy.

    Kita dulu sudah pernah mencoba demokrasi terpimpin jaman Bung Karno tapi hasilnya lihat sendiri, unsur terpimpin lebih menonjol daripada unsur demokrasinya.

    Kita sudah melewati semua fase itu dan jangan balik lagi, kan jadi langkah mundur😉

    Anda mungkin perlu baca artikel dari Indra J Piliang di Tempo:
    Kalau Bukan Demokrasi, Apa?

    @alfred pontolondo:

    Yup benar mas, panggilan saya Wibi. Wah kalo sudah jadi lukisannya boleh saya lihat yah? Salam kenal juga.

  8. Mr.Nunusaku

    RAJA KOROPSI DAN BAPAK PAHLAWAN NASIONAL PEMBANTAIAN TELAH BERADA DALAM PENGADILAN NERAKA KARENA DOSA BAPAK PEMBANTAIAN INI TERHADAP BANGSANYA.

    PENGADILAN DI AKHIRAT TELAH DIPIMPIN
    OLEH JENDARAL YANI, UNTUNG DAN LATIEF
    JAKSA AGUNGNYA ADALAH ‘MUNIR’ DARI AKTIVITAS HAM. DIDAMPINGI OLEH BUNG KARNO SEBAGAI PENASEHAT HUKUM.

    KEPUTUSAN PERSIDANGAN TERSEBUT DENGAN TUDUHAN TERHADAP HAJI MUHAMMAD SOEHARTO DALAM KEJAHATANNYA SELAMA 32 TAHUN:

    1. TELAH MEMBANTAI 3 JUTA RAKYAT JAWA YANG TIDAK MENGERTI PERSOALAN POLITIK.
    DAN SOEHARTO TELAH MENUNGGANI ORMAS ISLAM UNTUK MEM BANTAI BANGSA.

    2. PEMBANTAIAN DI ACEH, TIMUR LESTE DAN
    PAPUA DAN MALUKU.

    3. DAN PEMBANTAIAN 7 JEDRAL ABRI DI LOBANG BAUAYA….SAKSI TERSEBUAT ADALAH
    LENTJENDRAL UNTUNG .

    4. SELAMA 32 TAHUN SOEHARTO DAN PARTAI GOLAR TELAH TANAMKAN KEBOHONGAN DAN PENIPUAN BAGI GENERASI PENERUS BANGSA.

    5. TELAH MERAMPOK HARTA RAKYAT UNTUK
    KEPENTINGAN KELUARGA CENDANA
    SAMPAI KETUJU TURUNAN WONG JOWO.

    6. PEMBOHONGAN SURAT ‘SUPERSEMAR’ UTK
    MENJATUHKAN BUNG KARNO SETELAH ITU
    BUNG KARNO DIBUNUH SECARA LICIK
    OLEH SOEHARTO.

    7. SELAMA DALAM KEKUASANNYA BERSAMA
    KORONINYA TELAH MENIPU BANGSANYA,
    DENGAN PENCULIKAN DAN PEMBUNAHAN
    SIAPA YANG BERANI MENENTANG
    SOEHARTO DAN GOLKAR, PASTI BERAKIBAT
    LIANG KUBUR MENANTI KOPASSUS
    TUGAS PEMBUNUHAN ATAS PERINTAH
    JENDRAL BESAR SOEHARTO.

    Inilah dosa haji Muhammad Soeharto yang dikenal oleh bangsa Indonesia jendral besar,
    jendaral tikdaktor pembantaian untuk bangsanya.

    itulah dosa-dosa soeharto dalam pengadilan akhirat, dengan keputusan segera masuk kepintu
    negara menurut pengadilan akhirat TIDAK SAMA DENGAN PENGADILAN SANDIWARA RI JAWA JAKARTA.

  9. Hari gini ngebahas keburukan orang lain, capek dech.

    mending sekarang mikirin bagaimana saudara-saudara kita yang hidup miskin dipelosok itu bisa lebih baik hidupnya.

  10. @putra pamungkas:

    Tulisan saya diatas sebenarnya bukan untuk membahas kejelekan orang lain tapi lebih ditujukan pada sistem.

    Apa yang dikomentari oleh Mr.Nunusaku memang agak berlebihan dan sedikit menyimpang karena lebih banyak menyerang pribadi dan bahkan kearah sara.

    mending sekarang mikirin bagaimana saudara-saudara kita yang hidup miskin dipelosok itu bisa lebih baik hidupnya.

    Kita selalu mencari jalan untuk itu, bahkan reformasi adlah suatu manifestias untuk menuju kesana tapi kenapa tidak kunjung efektif karena ada hambatan yakni bobroknya nilai moralitas akibat Orde Baru yang menitik beratkan membangun fisik ekonomi.

    Jadi perlu dicari akar permasalahan sebab kalau tidak kita akan menjadi seperti penebang pohon yang gigih tapi menggunakan kampak yang tumpul. Perbaikan nilai mengasah kampak untuk menjadi tajam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s