Monthly Archives: Februari 2008

Maya Estianty

Maya EstiantySiapa yang tak kenal Maya. Bahkan saking terkenalnya banyak juga yang sudah bosan melihat liputan tentang prahara rumah tangganya di TV dan bukan salah Maya tentunya.

Saya bukan mau ikut ikutan gosip tapi ada yang menarik dari semua itu sejak Maya memutuskan untuk ngeblog. Statement Ahmad Dhani sang suami yang mengingatkan kita pada Roy Suryo dan pandangannya tentang para Blogger.

Mereka punya pandangan yang sama:

Roy Suryo:

Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.

Ahmad Dhani:

Orang yang membuat blog di Internet adalah orang yang kurang kerjaan. Orang yang membaca blog di Internet adalah orang-orang bodo!

Lucunya sebagai orang yang memiliki pandangan yang sama harusnya mereka bisa berteman tapi kenyataanya tidak, karena Roy pernah mengomentari foto ciuman diantara Dhani-Mulan yang menurut Dhani tidak benar. Bahkan Dhani pernah bilang di TV kalau ketemu Roy mau disobek sobek mulutnya…

Apapun itu kedua orang ini punya pandangan negatif tentang Blog. Roy sebagai orang yang didaulat media sebagai seorang pakar ternyata menujukan sikap jauh dari seorang akademisi yang dituntut obyektif dalam melihat masalah.

Blog hanya sebuah media, sama saja dengan media yang lain seperti media cetak atau elektronis. Sikap Roy dipicu oleh perpaduan antara keangkuhan dan ketidaktahuan (baca: kebodohan) yang terjadi pada media mailing list.

Para anggota milis yang menjadi seteru Roy itu rata rata adalah Blogger sehingga ketika Roy ditanya tentang Blog kontan sikap Roy adalah negatif. Suatu sikap yang kekanak kanakan.

enough with Roy…

Begitu juga dengan Dhani, sikapnya dipicu karena Maya yang menjadi lawannya di media media karena kasus perceraiannya merasa kehilangan asa menghadapi jurus baru Maya. Walau pada prinsipnya Blog adalah media yang sama dengan media yang lain tapi Blog memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain (Citizen Journalism).

Blog di Indonesia memang sedang booming terutama pasca Pesta Blogger 2007. Kalau sebelumnya banyak blogger dalam negeri yang menggunakan layanan luar negeri seperti WordPress tapi sekarang mulai lahir penyedia layanan Blog berbasis WordPress yang beroperasi di wilayah Indonesia, antara lain: DagDigDug.com dan BlogDetik.com

MaiaMaya adalah pengguna layanan BlogDetik. Selain Maya sudah ada beberapa seleb lain juga ngeblog dan bahkan dengan domain-name nama mereka sendiri seperti Dian Sastro.

Walaupun ada yang berpendapat bahwa Blog para seleb itu membosankan tapi bukan berarti apa yang mereka tulis itu adalah kebohongan seperti kesan dua orang diatas tadi.
Tulisan tulisan Maya yang memang sebagian besar adalah diary tapi tetap banyak diminati pembaca, bisa dilihat dari komentar komentar yang masuk pada tiap postingan rata rata diatas 300 komentar, bahkan pernah mencapai 700 komentar.

Kakak kandung Maya (Astri Merianty) adalah seorang Blogger senior yang sudah mulai ngeblog sejak tahun 2003 dan memiliki pembaca yang tak kurang banyaknya dengan adiknya ini. Niche blognya Astri juga diary, niche diary memang banyak dicibir orang orang sebagai blog yang membosankan tapi beda dengan blognya Astri.

Blog diary milik Astri (Keluarga Nugraha) adalah contoh Blog diary yang bagus dan tidak membosankan. Pembaca setianya selalu sabar menanti postingan selanjutnya. Bahkan ketika Astri cuti ngeblog karena harus melahirkan.

Blog diary adalah niche yang bagus sebenarnya asal ditulis dengan sepenuh hati. Saya rasa Maya juga menulis dengan sepenuh hati. Tulisan yang ditulis dari hati dampaknya sangat dahsyat.

Perlakuan keji Dhani pada Maya didepan media hanyalah akan menjadi bahan bakar bagi tulisan tulisan Maya di Blognya. Semakin Dhani blingsatan dengan berbagai statement dan aksinya semakin tulisan Maya ditunggu pembacanya. So go a head Dhani.. beri Maya trafic blog yang buanyak… hehehe

Buat Astri, keep on blogging pal…

Iklan

33 Komentar

Filed under tokoh

Indonesian Blog Of The Year 2007 versi Marisa Duma

Tahun 2007 sudah berlalu dan saya sudah sibuk dengan kegiatan perkuliahan tanpa sempat membuat postingan tentang resolusi 2008 ataupun kaleidoskop 2007. Blogging ditahun 2007 cukup ramai dan dilegitimasi dengan event Pesta Blogger 2007.Selama tahun 2007 ada beberapa topik yang seru dan sangat banyak Blog-Blog baru yang juga bagus bagus. Memang rata rata Blog Indonesia masih berkisah tentang diary tapi banyak juga yang sudah lebih fokus pada topik tertentu dan bagus bagus juga.

Fatih Syuhud membuat Blogger of the year versinya sendiri dan tentu dengan segala reputasinya sebagai Blogger senior Blog-Blog yang ia pilih punya bobot yang baik. Fatih bahkan memilih Blog of the week yang menjadi syarat untuk bisa dipilih menjadi Blog of the year versi Fatih Syuhud.

Tidak banyak yang menyediakan waktu untuk menulis tentang topik Blogging itu sendiri. Pekerjaan yang dilakukan oleh Fatih sangat bermanfaat untuk bisa memberi evaluasi pada kualitas Blog Indonesia.

Marisa DumaMarisa Duma, seorang wanita jurnalis yang tulisannya banyak dikutip dan dimuat diberbagai milis juga membuat daftar dari Blog-Blog yang dianggap layak masuk predikat baik untuk tahun 2007. Walaupun usianya masih sangat muda tapi wawasannya sudah sangat dewasa. Seorang Blogger tak dilihat dari usianya tapi dari tulisan pada Blognya.

Dari halaman about bisa kita lihat betapa banyak orang yang takjub dan tidak menyangka bahwa Marisa masih sangat muda tapi memiliki kemampuan menulis yang baik sekali. Berikut adalah kutipan tentang Marisa Duma dari halaman About.

My name is Marisa Duma, also known as ichaduma or ms. id. I am an Indonesian, born 9th October 1982 and presently living in Jakarta. I study psychology, communications, journalism, and the media, graduated as a certified ad kid, and I’ve had around 5 years of professional experience in various fields.

Currently I am focusing my career in feature writing, columns, or alternatively in web design for side jobs. My journalism genre is creative non-fiction, essays, features, and a bit gonzo (!).

My writings are mainly commentary analysis –in short, yes, an extended form of opinion that will bore you to death. My research subjects thus far are Journalism and Media, Web 2.0 and Blogging, Design and Advertising, Society and Pop Culture; conclusively on humanism.

Therefore, my articles are most likely to bound two or three aspects in one article. This also explains the ribbon image as the website’s logo; it tied things together.

Marisa membuat daftar Blog-Blog terbaik untuk tahun 2007 menurut versi dia dan cukup menarik. Berikut adalah daftar Blog yang masuk dalam daftarnya:

  1. International Blog of the Year: The Cool Hunter
  2. Indonesian Blog of the Year: Budayawan Muda
  3. Event of the Year: Armin van Buuren Universal Religion 3
  4. Celebrity Wear of the Year: Wimar Witoelar’s Crocs
  5. Cyber Entity of the Year: Achmad Sudarsono
  6. Hotspot Cafe of the Year: Anomali Coffee
  7. Protest of the Year: Save Cookie Monster Petition
  8. TV Show of the Year: Republik Mimpi
  9. Person of the Year: Jerry van den Brink
  10. Fact of the Year: Results Graph on the Seven Roman Virtues

Bisa dilihat satu persatu Blog pilihan Marisa diatas dan salah satunya gak pergi kemana mana.

Marisa, thank you for your kind recognition and honor, keep on Blogging… 🙂

16 Komentar

Filed under sosial

Surat Untuk Kepala Sekolah

Surat saya kepada kepala sekolah tempat ponakan saya Alif bersekolah.

Alif

Asalamualaikum Wr Wb

Yth Pak Fadli,

Kepala Sekolah SDIT Teratai Putih Global.

Saya adalah paman dari salah seorang siswa Bapak di kelas 1A bernama Alif Ardezir Zidane. Karena Alif sudah tidak memiliki Ayah lagi maka saya dengan ini mewakili Ayahnya atas ijin Ibunya (Gunapria Kirana) ingin melaporkan sesuatu tentang sebuah peristiwa yang menurut hemat saya menuntut perhatian dari pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan.

Pada tanggal 4 februari hari senin Ibunya Alif, menerima telephone dari Alif. Alif dengan suara galau menceritakan kejadian bahwa ia tadi disekolah dipalak oleh kakak kelasnya. Duit 5000 rupiah yang sedianya akan dia belanjakan untuk jajan selama satu minggu dirampas oleh kakak kelasnya itu.

Kata Alif menceritakan kejadian itu, “Kasih gak lo, kalo gak gua tabok!”.

Sebelumnya duit diberi perhari 1000 rupiah tapi kali ini Ibunya ingin lihat apakah Alif bisa atur uang sendiri dengan duit 5000 untuk satu minggu.

Dengan ini saya ingin membuka wacana kepada pihak sekolah untuk betul betul memperhatikan masalah ini. Apa yang terjadi adalah mudigah premanisme. Si kakak kelas merasa berhak atas duit milik orang lain yang dipilih dari temannya yang lebih kecil alias lemah.

Alif bisa melakukan hal yang sama pada siswa yang lebih kecil dikemudian hari bila ia sudah menjadi kakak kelas. Ini gejala kemerosotan moral dan saya tidak mau kemerosotan ini terjadi pada Alif atau siswa manapun di sekolah kita ini.

Semula saya ingin kasus Alif diselidiki untuk mengetahui siapa si tukang palak itu. Tapi kemudian saya berpikir ini bukan sekedar masalah Alif. Sebab Alif pernah cerita dia menyaksikan temannya dipalak kakak kelasnya.

Jadi apa yang terjadi sepertinya secara keseluruhan dan saya khawatir secara diam diam sudah menjadi tradisi yang luput dari pantauan pihak sekolah. Besar harapan saya pihak sekolah mulai memperhatikan masalah ini dan pada saatnya mampu mengendalikan fenomena ini.

Mungkin pertama tama perlu diteliti berapa parah tingkat kemerosotan itu. Bisa dengan cara angket atau questionair yang diaplikasikan ke seluruh siswa. Semoga bisa terungkap estimasi berapa persen siswa yang sudah pernah dipalak, memalak, melihat temanya dipalak dsb.

Kalau sudah diketahui tingkatnya kemudian saya yakin pihak sekolah akan memiliki kebijaksanaan yang tepat untuk menanggulangi hal ini. Apakah secara berkala diarahkan untuk tidak boleh melakukan praktik pemalakan, bila perlu disertai sangsi sebagai bagian dari pendidikan.

Tentu para guru sebagai pendidik sudah punya metodologi yang tepat untuk melakukan semua itu. Kami yakin label SDIT perlu dan penting dipertahankan untuk menjaga citra baik SDIT yang Islami, membentuk insan insan muslim yang takwa, beriman, cerdas dan berperilaku mulia dimasa yang akan datang.

Dengan rendah hati kami menanti tanggapan Pak Fadli.

Wasalamualaikum Wr Wb

Hormat saya

Wibisono Sastrodiwiryo

22 Komentar

Filed under curhat

Kekayaan Keluarga Soeharto

Pengantar:Keluarga Soeharto telah memenangkan gugatan atas majalah TIME dengan vonis majalah TIME harus membayar satu triliun rupiah kepada keluarga Soeharto. Berikut bagi yang belum pernah baca laporan majalah TIME tersebut.

Sektor Asset dan Tunai yang Diperoleh Keluarga Selama 30 Tahun Lebih

  • Minyak dan gas $ 17.000.000.000
  • Kehutanan dan perkebunan $ 10.000.000.000
  • Bunga deposito $ 9.000.000.000
  • Petrokimia $ 6.500.000.000
  • Pertambangan $ 5.800.000.000
  • Perbankan dan jasa keuangan $ 5.000.000.000
  • Properti di Indonesia $ 4.000.000.000
  • Import pangan $ 3.600.000.000
  • TV, Radio, Penerbitan $ 2.800.000.000
  • Telekomunikasi $ 2.500.000.000
  • Hotel dan turisme $ 2.200.000.000
  • Jalan tol $ 1.500.000.000
  • Perusahaan penerbangan dan jasa angkasa $ 1.000.000.000
  • Produksi dan distribusi tembakau $ 1.000.000.000
  • Kendaraan $ 460.000.000
  • Penghasil daya $ 450.000.000
  • Manufaktur $ 350.000.000
  • Properti di luar negeri $ 80.000.000

T O T A L $ 73.240.000.000
KEKAYAAN SAAT INI $ 15.000.000.000
Sumber: TIME, konsultasi dengan lima ahli independen

Laporan Majalah TIME – 24 Mei 1999 Mengenai Harta Kekayaan Keluarga Soeharto

Penyelidikan TIME ke dalam kekayaan keluarga Suharto dan anak-anaknya menemukan harta jarahan sebesar $ 15 milyar dalam bentuk uang tunai, properti, barang-barang seni, perhiasan dan pesawat-pesawat jet pribadi

Oleh: JOHN COLMEY dan DAVID LIEBHOLD Jakarta

PERUSAHAAN KELUARGA

Presiden SoehartoKetika tiba masa akhir Suharto, presiden Indonesia terlama, ia hanya nampak pasif. Sementara para mahasiwa dan massa rakyat yang marah turun ke jalan-jalan, dan disambut dengan tembakan dan gas air mata; jendral berbintang lima itu mundur ke belakang sambil mencoba menata segala sesuatunya dengan baik.

Ketika ia akhirnya turun tahun lalu, ia hanya berdiri menyingkir ke sebelah, sementara B.J Habibie mulai diambil sumpahnya. Setelah itu Suharto jarang kedengaran lagi.

Tetapi nyatanya Suharto jauh lebih sibuk dari yang disadari oleh banyak orang. Sesaat setelah Soeharto jatuh dari kekuasaan, telah tercium adanya usaha-usaha untuk menyelamatkan harta pribadinya.

Di bulan Juli 1998, serangkaian laporan mengindikasikan bahwa uang dalam jumlah luar biasa yang berhubungan dengan Indonesia telah dipindahkan dari sebuah Bank di Switzerland ke Bank lain di Austria, yang dipertimbangkan sebagai tempat berlindung yang lebih aman untuk deposito-deposito rahasia.

Pemindahan tersebut memperoleh perhatian dari kementerian keuangan Amerika, yang mengikutinya secara seksama, dan menggerakkan penyelidikan-penyelidikan diplomatik di Wina.

Sekarang, sebagai bagian dari penelitian empat bulan yang meliputi 11 negara, TIME telah menemukan bahwa $ 9 milyar dari uang Soeharto dipindahkan dari Switzerland ke sebuah account Bank di Austria. Nilai yang tidak jelek untuk seseorang yang gaji kepresidenannya sebesar $ 1.764 per bulan.

Baca lebih lanjut

26 Komentar

Filed under tokoh

Waspadai Bahaya Laten Orde Baru

Astana Giri BangunSengaja saya posting artikel ini berjarak dengan hari kepergiannya. Sebagai orang yang tidak mengibarkan bendera setengah tiang saya punya cara tersendiri dalam memandang sosok pemimpin Orde Baru ini. Tidak ikut ikutan menghujat sudah cukup buat saya.

Pak Harto tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai pribadi seorang tua renta berusia 86 tahun yang baru saja tutup usia tapi haruslah dipandang sebagai sosok pencipta sistem dan pembawa nilai yang masih berperan penting dalam sendi sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Segala hormat puja dan puji di media cetak maupun elektronik kiranya ditujukan kepada sosok Pak Harto sebagai seorang pribadi yang mengagumkan. Tapi semua itu membawa implikasi yang luas ditengah masyarakat.

Seandainya semua nilai nilai yang pernah beliau tanamkan pada bangsa ini ikut mati bersamanya maka pemberitaan penuh simpati dibanyak media itu tak akan menjadi persoalan.

Presiden SoehartoKini dengan gencarnya simpati dimedia masa mengangkat kembali romantisme masa masa Orde Baru dimana stabilitas nasional terjaga, ekonomi yang baik, pembangunan nasional berkesinambungan dan martabat bangsa dimata asing terpelihara.

Semua itu bisa dengan mudah dikenang oleh rakyat mengingat kondisi rakyat sekarang ini yang sedang didera oleh kesulitan multidimensi, mirip seperti kondisi Pak Harto yang wafat akibat kegagalan fungsi multiorgan.

Lalu apa salahnya? Dimana bahayanya?

Untuk menjawab pertanyaan sederhana diatas saya ingin terlebih dahulu mengulas sekilas apa yang dilakukan oleh Pak Harto dimasa Orde Baru.

***

Sebuah pandangan yang mengatakan bahwa pembangunan nasional hanya bisa dilakukan bila stabilitas nasional terjaga, lahir akibat dari tak tersentuhnya pembangunan dimasa pemerintah Orde Lama.

Revolusi yang menjadi paradigma Orde Lama berkutat lebih banyak pada masalah politik yang membuat stabilitas nasional terganggu. Dimata Pak Harto pembangunan ekonomi haruslah segera dilakukan sebagai prioritas utama.

Stabilitas nasional yang diusahakan Pak Harto ditempuh dalam pengawalan militer dengan menggunakan Dwi Fungsi ABRI sebagai instrumen. Pembangunan menjadi paradigma Orde Baru, tampil sama sekali menggantikan paradigma Orde Lama.

Orde Lama ditutup dengan segel berdarah 500 juta lebih rakyat yang dituduh sebagai anggota PKI, partai terlarang yang dianggap manifestasi Orde Lama. Dengan pandangan baru dan harapan yang menggebu gebu akan kemakmuran, semua orang pada masa itu menggantungkan harapan begitu saja pada Orde Baru.

Hingga peristiwa demi peristiwa yang dimulai sejak peristiwa Malari 1974 beberapa kalangan (termasuk penggagas Orde Baru itu sendiri) mulai menyadari bahwa stabilitas nasional yang dimaksud sebagai prasyarat pembangunan memiliki harga yang sangat mahal yang harus dibayar.

Berbekal stabilitas itu pembangunan digelindingkan dan membawa hasil yang signifikan. Cukup untuk menghibur rakyat yang lapar sejak kemerdekaan diraih tahun 45.

Minyak dan Gas Bumi menjadi tumpuan utama pembiayaan pembangunan. Dengan dalih menambah akselerasi pembangunan, Pertamina dibawah pimpinan Ibnu Sutowo meminjam uang dari lembaga keuangan asing sebesar 10 milyar dollar. Inilah kali pertama Indonesia berhutang luar negeri dalam jumlah besar.

Hutang demi hutang dibuat, tidak hanya negara, sektor swastapun ikut ikutan berhutang dengan menjual potensi ekonomi Indonesia yang kian tumbuh pesat karena pembangunan.

Pembangunan memang berjalan dan berkembang tapi seiring dengan itu hutang juga berkembang. Layaknya sebuah bangunan ekonomi sebuah negara harus memiliki dasar yang kuat. Dasar yang dipakai oleh Pak Harto untuk membangun adalah hutang luar negeri.

Tapi beliau melakukannya dengan baik sekali. Teratur dan terencana. Banyak hal yang bisa diraih diberbagai bidang dengan keteraturan ini. Pendidikan, kesehatan, pangan, ketenteraman, prestasi olahraga di berbagai event (SEA Games & Asian Games), keluarga berencana, kedaulatan wilayah dan bahkan wibawa bangsa dimata asing.

Hanya saja konsep kekuasaan Jawa yang beliau terapkan dalam pemerintahan tidak memungkinkan kalangan yang berada diluar lingkaran-dalam untuk bisa mengembangkan diri.

Konsep kekuasaan ini harus dimengerti oleh pihak pihak yang ingin berkembang. Pemahaman atas konsep ini akhirnya ditransfer ke masyarakat luas yang oleh karena berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama maka telah diadopsi dari hanya sekedar pemahaman konsep menjadi nilai nilai.

Nilai bahwa kritik itu tak sopan dan tak perlu, nilai bahwa nepotisme itu lumrah, nilai bahwa kolusi itu cerdas, nilai bahwa korupsi itu wajar dan menyenangkan, nilai bahwa kekerasan itu adalah solusi.

Semua nilai nilai itu mengiringi pembangunan dan dicerna sebagai hasil dari nilai nilai itu. Kalau tidak mengamalkan nilai nilai itu maka pembangunan tak akan berhasil. Saking pentingnya nilai nilai itu maka dipertontonkan dalam bentuk simbol simbol seperti Pendopo Gubernuran atau Kabupaten, masjid berkubah Joglo, dan masih banyak lagi. Terjadi imitasi konsep kekuasaan hingga ke daerah daerah. Singkatnya Jawanisasi.

Nilai nilai ini menjadi seolah olah kekal karena telah diadopsi sebagai budaya. Dalam banyak proyek pemerintah kalau tak menyetor uang pada pejabat maka jangan harap tender dimenangkan. Bahkan dalam perusahaan swasta, budaya itu juga berkembang.

Untuk bisa kebagian jatah pembangunan maka harus mengikuti budaya yang berlaku. Itulah harga yang harus dibayar untuk pembangunan versi Pak Harto.

***

Menanggapi soal hutang luar negeri yang menggunung itu Pak Harto melontarkan teori bahwa hasil pembangunan berupa BUMN BUMN bila dijual akan mampu melunasi semua hutang hutang luar negeri Indonesia.

Segala macam peringatan akan rapuhnya fondasi ekonomi yang dibangun Pak Harto dianggap angin lalu. Bahkan oleh ulah cecunguk cecunguk yang hanya mau mencari keuntungan pribadi dengan segala status dan reputasinya memberi pembenaran atas segala keputusan dan kebijakan Pak Harto.

Dalam iklim ekonomi seperti ini konglomerasi tak terbendung. Terutama oleh kalangan terdekat yaitu kroni dan keluarganya. Konglomerasi sebagai manifestasi Orde Baru dianggap hal wajar dan sehat sehat saja.

Sampai akhirnya krisis moneter melanda akhir tahun 97. Badai krisis ini dengan mudah merobohkan pilar perekonomian dan mengubah krisis moneter menjadi krisis ekonomi.

Nilai hutang luar negeri membengkak, menyusul anjloknya harga jual BUMN BUMN yang teorinya cukup untuk membayar hutang. Krisis ekonomi terus berlanjut menjadi krisis sosial, politik dan hingga kini krisis nilai budaya.

Krisis ini melanda tidak hanya Indonesia tapi semua negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi mereka beragam dan tidak sedikit pula yang mengalami ambruknya perekonomian seperti Malaysia, Thailand dan Filipina.

Mereka mati matian bangkit dari krisis seperti halnya Indonesia. Presiden Indonesia naik dan turun silih berganti tak menunjukan hasil yang benar benar menggembirakan. Tanya kenapa?

Kini negara negara tetangga tersebut sudah keluar jauh jauh hari dari krisis tapi Indonesia nampaknya masih terus berkubang didalamnya bahkan ada gejala semakin terperosok. Tanya kenapa?

Menurut Agus Pambagio seorang pengamat ekonomi publik gejala ini bisa dilihat dari naiknya harga sembako sejak awal tahun dengan kenaikan yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Ditengah tengah kekhawatiran akan semakin terperosoknya ekonomi rakyat ini Pak Harto pergi meninggalkan nilai nilai yang dulu disemainya dan kini terus hidup subur. Nilai nilai inilah yang paling bertanggung jawab dengan ketidak mampuan bangsa Indonesia bangkit dari krisis. Terjawab sudah kenapa.

***

DemonstrasiReformasi mampu menurunkan Pak Harto, tapi nilai nilai yang sudah menjadi budaya itu tetap hidup. Ketika masih berkuasa Pak Harto sebagai the-god-father Orde Baru memiliki kontrol atas nilai nilai itu. Tapi begitu beliau lengser maka kendali itu tak ada lagi.

Indikasinya adalah kasus korupsi semakin terang terangan, kekerasan merajalela, mafia peradilan bahkan sampai pada tingkat Mahmakah Agung. Jaman Pak Harto memang ada korupsi tapi tak separah ini. Jaman Pak Harto memang ada kolusi tapi tak sampai tingkat lembaga tinggi negara.

Semua praktik nilai nilai Orde Baru jaman Pak Harto ditingkat lembaga tinggi negara selalu dalam kendali dan skenario Pak Harto. Kini itu tak terkendali lagi. Merebak ke segala tingkat dan aspek kehidupan bangsa Indonesia.

Betapapun Reformasi menanggulanginya dengan berbagai penataan ulang tata negara tapi tetap sulit sekali mengatasi praktik atas nilai nilai Orde Baru itu.

Nilai nilai itu tetap hidup dan menjadi bahaya laten. Bagaikan bakteri yang membuat koloni pada seonggok daging busuk. Terus tumbuh dengan subur justru ketika induk semangnya semakin membusuk.

Semua orang mengutuk Orde Baru dan Pak Harto tapi nilai nilainya tetap dipakai. Bahkan oleh pengusung utamanya yakni Golkar ikut nimbrung mengutuk nilai itu dengan membawa citra baru yaitu “Golkar dengan Paradigma Baru”.

Tapi apa yang pertontonkan belakangan ini oleh para petinggi Golkar memperlihatkan bahwa nilai itu masih diusung. Pak Harto ingin dimaafkan begitu saja tanpa peradilan.

Sekarang bahaya laten itu semakin nyata dikomunikasikan lewat media elektronik dengan pemberitaan pemakaman Pak Harto dengan mengangkat romantisme jaman Pak Harto secara berlebihan.

Seolah olah ingin mengatakan bahwa keadaan morat marit sekarang akibat gerakan Reformasi dan Orde Baru tidak bertanggung jawab atas semua keruwetannya. Terbukti dari hasil wawancara di televisi yang mengangkat kesan masyarakat betapa keadaan dulu lebih baik dari sekarang dan kalau bisa balik lagi keadaan seperti dulu.

Bisa saja kita mengiyakan kesan itu sebagai kerinduan akan keadaan ekonomi semata yang sebenarnya semu karena dibangun diatas hutang. Tapi kesan kesan seperti ini sangat penting dalam komunikasi politik.

Efendi Gazali seorang pakar ilmu komunikasi politik mengatakan bahwa fenomena ini bisa dijadikan momentum bagi kekuatan politik tertentu untuk menggiring opini dan akhirnya dukungan.

Walaupun Prof Kacung Marijan seorang pakar ilmu politik meragukan akan hal itu tapi perkembangannya menghawatirkan karena kesan kesan romantisme Pak Harto seperti itu terus saja ditampilkan ke publik lewat berbagai acara di televisi bahkan sampai acara infotainment yang menjadi tontonan favorit ibu ibu.

Hentikan semua itu karena itu berbahaya. Membuai rakyat yang susah, lapar dan amnesia dengan romantisme semu masa lalu. Pembangunan berbasis hutang terbukti rapuh dan nilai nilai Orde Baru adalah bahaya laten karena menjerumuskan bangsa pada budaya nista KKN.

Tiap tiap pemimpin punya sistemnya sendiri sendiri. Sistem Orde Baru hanya berlaku pada jaman Pak Harto. Dan ia telah menyelesaikan tugas sejarahnya selama 32 tahun berkuasa. Kini tinggalkan semua nilai, sistem dan budaya itu.

Kita perlu stamina ekonomi yang kuat untuk mengarungi badai yang akan datang sebentar lagi. Badai krisis ekonomi dunia yang sudah mulai dirasakan oleh Amerika Serikat. Banyak pengamat ekonomi melihat indikasi akan hal itu dari menurunnya secara drastis pendapatan restoran cepat saji Mac Donald yang sangat digemari di AS.

Di dalam negeri sendiri kenaikan harga sembako yang tak terprediksi oleh para pengamat ekonomi menurut saya mengerikan, mengingat sebentar lagi akan ada pemilu yang sangat berkepentingan dengan politisasi keadaan. Bahkan menurut ekonom Faisal Basri, untuk pertama kali dalam sejarah APBN yang baru diumumkan satu bulan oleh pemerintah sudah akan direvisi.

Rakyat didesa desa yang tidak menyadari bahwa kesulitan sekarang ini adalah akibat dari akumulasi praktik nilai nilai Orde Baru akan dengan mudah dikelabui dengan mendramatisasi kesulitan hidup dan mengiming-ngimingi kemakmuran jaman Pak Harto. Janji janji manis akan diumbar dengan menggunakan simbol simbol Pak Harto dan ajakan kembali ke sistem Pak Harto.

Hentikan.. sekali lagi hentikan pemberitaan romantisme semu itu…

10 Komentar

Filed under politik