Teater Koma: Kenapa Leonardo?

Pak Martin (Budi Ros) terlihat duduk dengan pandangan kosong tak memperdulikan dua orang dokter disebelahnya yang sedang berdebat dengan sesekali mencoba berkomunikasi dengan Pak Martin.

Gambar dari Media Indonesia

Pak Martin adalah seorang pasien sebuah lembaga syaraf yang dipimpin oleh seorang Neurolog senior bernama Dr Hopman (Nano Riantiarno).

Tidak seperti pasien lain dalam lembaga syaraf tersebut yang lebih banyak menunjukan gejala neurologis seperti contohnya Pak Miring (Joko Yuwono) yang hanya bisa berdiri tegak ketika memakai kacamata yang diberi bandul di kiri kanan.

Pak Martin adalah pasien spesial karena gejala yang ditunjukannya lebih kepada gejala psikologis ketimbang neurologis. Amnesia total disertai hilangnya perasaan. Jika hanya amnesia maka dia masih bisa merasakan perasaan entah itu tersinggung, suka, benci dan bahkan cinta.

Tapi ini selain hilangnya perasaan juga disertai amnesia ditambah tingkah yang aneh tanpa kehilangan kecerdasan terutama kemampuan memori otaknya. Pak Martin bisa dengan mudah menghafal semua puisi Shakespeare yang hanya diperdengarkan sekali saja.

Suatu gejala yang sangat menarik bagi Dr Da Silva (Cornelia Agatha) seorang psikiater yang sedang mencari obyek penelitian untuk studi PhDnya.

Atas ijin Nyonya Martin (Ratna Riantiarno) Dr Da Silva kemudian menghabiskan banyak biaya untuk mendatangkan berbagai guru les privat untuk mengajari Pak Martin berbagai macam mata pelajaran yang bisa dengan mudah dikuasai oleh Pak Martin.

Walhasil Pak Martin bisa menguasai 29 bahasa asing dan berbagai macam konsep konsep keilmuan. Berbagai macam pertanyaan dari Dr Hopman dijawab dengan mudah oleh Pak Martin dan membuat Dr Da Silva sangat bangga. Tapi ada satu pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Pak Martin. Pertanyaan Dr Hopman itu adalah: “Bagaimana perasaan Pak Martin sekarang ini?”.

Pak Martin ternyata tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanya. Kemudian Dr Hopman mengubah pertanyaanya menjadi lebih mudah. Pertanyaannya adalah: “Pak Martin, 40 derajat celcius bagi Anda terasa dingin, panas atau hangat?”.

Pak Martin hanya menjawab 40 derajat celcius sama dengan 100 derajat farenheit. Dia ternyata tak bisa mengungkapkan perasaan yang sangat sederhana itu. Ini membuat Dr Da Silva sangat gusar dan berjanji kepada Dr Hopman sebagai kepala lembaga syaraf tersebut bahwa usaha yang dia lakukan tinggal sedikit lagi.

Jika berhasil maka seorang manusia baru dengan kemampuan yang sangat luar biasa seperti Leonardo Da Vinci akan tercipta. Dr Hopman menggeleng gelengkan kepalanya tanda tak sependapat dan menurutnya itu tak mungkin terjadi.

Mereka berdebat sengit dan perdebatan itu menurut dramawan senior Ikranagara mengarah kepada dialog filsafat Strukturalis vs Post-Strukturalis yang membahas “human subject, historicism’s progress“.

Kuncinya adalah bagaimana menyentuh sisi terdalam dari perasaan Pak Martin untuk bisa terjadi koherensi antara semua kemampuan otaknya yang cemerlang itu dengan perasaannya.

Berbagai macam keindahan diumpankan pada Pak Martin mulai dari puisi yang indah karya Shakespeare, musik klasik hingga berbagai jenis tari.

Dr Da Silva berpasangan dengan Pak Martin berdansa berbagai macam dansa seperti Tanggo, Rumba, dan Salsa. Pak Martin memang menjadi mahir berdansa tapi semua itu seperti tak mampu menggugah perasaanya.

Dr Da Silva menjadi sangat jengah dibuatnya tapi apa daya dana sudah menipis dan kelanjutan penelitiannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk menggalang dana akhirnya Dr Da Silva mencari jalan pintas dengan membuka informasi penelitiannya kepada media. Masyarakat menjadi gempar dengan headline lahirnya seorang Leonardo kedua.

Dr Robert yang memiliki dana berlimpah dari para politisi dan penguasa bersedia mendanai proyek Dr Da Silva tersebut dengan syarat menguasai sepenuhnya Pak Martin untuk diexploitasi.

Pak Martin kemudian diambil alih dan apa yang terjadi kemudian adalah Pak Martin tidak hanya diberi guru les privat tapi dilatih untuk menjadi seorang prajurit dengan kemampuan membunuh yang sangat efektif melebihi prajurit profesional yang paling hebat sekalipun.

Jelas sudah proyek Dr Robert tersebut bukan untuk menyembuhkan Pak Martin tapi untuk kepentingan lain yaitu militer. Padahal menurut Dr Da Silva penyembuhan Pak Martin tinggal selangkah lagi yaitu bagaimana membongkar belenggu kejiwaan yang telah menghalangi Pak martin untuk dapat menghayati perasaannya sebagai seorang manusia yang berhati nurani.

Mengetahui kenyataan ini Dr Da Silva sangat menyesal dan berlari kembali ke Dr Hopman yang sejak awal tidak menyetujui tindakan Dr Da Silva. Suatu aksi penyelamatan Pak Martin direncanakan oleh Dr Da Silva tapi Dr Hopman tidak mau ikut bergabung karena tidak setuju dengan metode yang dipilih oleh Dr Da Silva.

Metode yang dipilih oleh Dr Da Silva untuk menggugah sisi terdalam jiwa Pak Martin adalah dengan memberi stimulan pada naluri dasar manusia yang sangat melibatkan perasaan yaitu SEX.

Suatu adegan artistik yang menggambarkan sexual-healing Pak Martin oleh Dr Da Silva yang cantik dan seksi itu ditampilkan diatas panggung membuat penonton menahan nafas.

Lenguhan dan erangan menggema kemudian terjadi sesuatu, dalam nafas yang masih memburu Pak Martin terlihat menggeliat dan berubah ubah emosinya. Silih berganti perasaan datang dan pergi membuat Pak Martin tampil dalam banyak karakter seperti apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Sampai pada karakter pembunuh yang efektif Pak Martin menghabisi nyawa Dr Da Silva yang masih tanpa busana itu dengan tragis. Karakter pembunuh itu tak mau hilang bahkan menggila. Dengan keahlian membunuh luar biasa Pak Martin tak terbendung dan banyak korban tewas.

Dr Robert sebagai seorang ahli beladiri Kendo mencegat Pak Martin dengan samurainya. Terjadilah pertarungan dua orang samurai antara guru dan murid. Pak Martin memang memiliki kemampuan belajar teknik Kendo yang luar biasa hingga Dr Robert sebagai gurunya mampu dibunuhnya dengan tebasan samurai yang artistik.

Ketika berhadapan dengan Dr Hopman proses healing itu mencapai klimaks. Pak Martin sadar dan bertanya dimana dia dan mengenali Dr Hopman. Dr Hopman kemudian melakukan pengujian dengan berbagai macam pertanyaan yang sebelumnya tak bisa dijawab.

Pak Martin telah sembuh, amnesianya hilang dan dia kembali mengenali dirinya dengan semua cerita masa lalunya. Dr Hopman bahagia karena Pak Martin sembuh tapi sedih karena banyak korban tewas. Pak Martin adalah seorang pemilik toko makanan dan bukan seorang pembunuh lagi. Dia tak ingat semua kemampuannya yang diajarkan ketika dia masih amnesia.

Ketika pamit dan akan berjalan pulang tiba tiba Pak Martin mendengar sesuatu ditelingannya. Oh rupanya itu suara telephone dan bergegas mengangkat telephone. “Halo…”, katanya. Kemudian dia berkata lagi, “Oh Pak Presiden… jadi mau pesan makanan dari toko saya?.. tentu… boleh boleh…”. Melihat kejadian itu Dr Hopman hanya menggeleng sambil memegang keningnya yang tertunduk.

Ya benar… Pak Martin kumat, dia gila lagi…

Oleh perawat (Herlina S) kemudian Pak Martin digiring masuk kembali ke lembaga syaraf itu dan tetap menjadi penghuni setia dalam pengawasan Dr Hopman.

***

Menurut Bung Ikra drama ini mengusung filsafat Post-Modernism yang dibingkai dengan tragic-comedy. Menurut saya drama ini menghibur dan mencerahkan.

Budi Ros pemeran Pak MartinSaya sempat bertemu dengan Budi Ros (pemeran Pak Martin) dibelakang panggung usai pertunjukan dan Mas Budi menyampaikan bahwa penulis naskahnya Evald Flisar sendiri sempat ikut hadir pada sebuah diskusi tentang pementasan ini dan baru kembali tanggal 19 kemarin.

Salut untuk Budi Ros yang berakting sungguh gemilang malam itu. Setelah sekian lama Nano Riantiarno tampil hanya sebagai sutradara kali ini Nano sebagai aktor memerankan Dr Hopman dengan penuh karakter dari dalam.

Cornelia Agatha berfoto bersama fans dibelakang panggungWalaupun Cornelia Agatha memerankan Dr Da Silva dengan baik tapi saya penasaran bagaimana jika Dr Da Silva diperankan oleh Ratna Riantiarno. Tapi mungkin cast karakter dari Dr Da Silva adalah psikiater muda yang ambisius dan cantik (tentu saja Ratna Riantiarno juga cantik)

Drama ini sudah dipentaskan diberbagai negara termasuk kali ini di Indonesia. Dari berbagai pementasan itu Evald lebih menyukai dua pementasan diantara yang lainnya yaitu yang di London dan yang di Indonesia. “Suatu kebanggaan buat kita bangsa Indonesia”, ujar Mas Budi.

Malam ini tanggal 25 Januari adalah pementasan malam terakhir sejak tanggal 11 Januari di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Mulai jam 19:30 dengan harga tiket 30, 50, 75 dan 100 ribu rupiah. Rugi kalau anda melewatkan pertunjukkan drama teater kali ini.

Drama Teater ini dipentaskan oleh Teater Koma dalam rangka ulang tahunnya yang ke 31. Pementasan kali ini adalah pementasan yang ke 112.

“KENAPA LEONARDO?”
Karya EVALD FLISAR
Alih Bahasa RANGGA RIANTIARNO
Sutradara N. RIANTIARNO

Informasi pemesanan tiket:

  1. Jl. Cempaka Raya No. 15 Bintaro ? Jakarta Selatan 12330
    Telp 021 735 0460
    Telp/Fax 021 735 9540
  2. Jl. Setiabudi Barat No. 4 Jakarta Selatan
    Telp 021 525 1066
    Telp/Fax 522 4058 ; 529 63603
  3. Tiket Box Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki

Didukung oleh :
BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, SARI MADJID, DUDUNG HADI, OHAN ADIPUTRA, DORIAS PRIBADI, EKO PARTITUR, TUTI HARTATI,JOKO YUWONO, HENGKY GUNAWAN, ADRI PRASETYO, HERLINA SYARIFUDIN,YULIUS, RANGGA, YOGI, SENA SUKARYA, SUNTEA, INA KAKA, L.YOGA.

Skenografi ONNY K.
Cahaya ISKANDAR K. LOEDIN
Busana SAMUEL WATTIMENA
Rias & rambut SENA SUKARYA
Akustik TOTOM KODRAT
Grafis SAUT IRIANTO MANIK
Konsultan Gerak LINDA KARIM
Manajer Panggung TINTON PRIANGGORO
Pimpinan Produksi RATNA RIANTIARNO

***

Nano, Ikra dan BapakSaya menonton drama ini bersama ayah saya yang kebetulan seorang dokter yang pernah memimpin sebuah Rumah Sakit Jiwa, RSJ Bina Atma Denpasar. Ayah bercerita tentang bagaimana dulu ketika ia masih mahasiswa berkunjung ke RSUD Wangaya Denpasar Bali untuk ujian Neurologi yang di test oleh sesepuh Dokter Spesialis Saraf & Jiwa (Neuropsikiatri) Prof Dr Gusti Ngurah Gde Ngurah.

Menurut ayah dalam ilmu kedokteran Pak Martin menunjukan gejala Schizophrenia yang banyak ditemui di RS Wangaya. Ayah memahami ilmu neurologi dan psikiatri berkat bimbingan Prof Ngurah.

Telah ribuan dokter ahli syaraf yang dicetak oleh tangan dingin Prof Ngurah sebagai pendidik. Profil akademik Prof Ngurah mirip seperti Dr Hopman digabung sekaligus dengan Dr Da Silva. Prof Ngurah adalah seorang Neurolog dan juga sekaligus Psikiater, suatu expertise yang jarang dimiliki oleh seorang dokter apalagi sekarang ini.

Tidak heran Prof Ngurah pernah menjabat direktur RS Wangaya (1959-1968) dan bahkan dikemudian hari menjadi Rektor Univ Udayana. Rumah Sakit Wangaya adalah rumah sakit pertama di Denpasar. Hingga kini RS Wangaya telah berkembang dan menjadi rumah sakit yang maju.

Prof Ngurah tercatat sebagai ketua dan anggota Perhimpunan Neurologi Psikiatri Neuro Chirurgi Indonesia Cabang Bali, Ketua dan anggota Ikatan Dokter Ahli Saraf Indonesia Cabang Bali, sebagai Penasihat Pengurus Pusat IDASI, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Bali, anggota WFN (World Federation of Neurology).

Sebelum ke Bali, Prof Ngurah bekerja di Bagian Neurologi- Psikiatri FK UI Jakarta (1949-1952). Prof Dr Ngurah pernah menciptakan alat sederhana ECT (Electro Convulsive Therapy) untuk penyembuhan pasien gangguan jiwa (1966).

Alat tersebut kini tersimpan di Museum Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Atas jasa-jasanya tersebut, Universitas Udayana di bawah Rektor Prof. Dr. dr. W. Wita, Sp.PD. memberikan Udayana Award pada 29 September 2004 saat Dies Natalis ke-42 Unud.

Bagi saya yang anak seorang dokter memandang sekilas dunia kedokteran sepertinya membosankan dan tidak menarik. Tidak ada tantangan kreatifitas sebab semua harus sesuai textbook, kalau tidak sesuai textbook maka dokter bisa dituntut melakukan malpraktek. Karena itu saya tidak memilih studi kedokteran.

Tapi kalau kita melihat profil Prof Ngurah diatas maka dunia kedokteran sungguh suatu pekerjaan yang pernuh tantangan berkreatifitas hingga sampai pada tingkat filsafat seperti yang ditunjukan oleh drama teater “Kenapa Leonardo?”.

Hmm.. Saya jadi tertarik punya istri dokter.. eh.. bukan maksud saya.. mempelajari dunia kedokteran. Tapi tetap saya memilih untuk tidak jadi dokter sebab saya yang suka ngoprek ini kalau jadi dokter Neurolog dan Psikiater maka kemungkinan besar saya akan seperti Dr Da Silva, bahkan lebih parah seperti Dr Frankenstein.

Tuhan telah memilihkan saya yang terbaik, jadi programer saja🙂

12 Komentar

Filed under teater

12 responses to “Teater Koma: Kenapa Leonardo?

  1. Mas Budayawan, Teater Koma memang yahud tuh!

    Salam kenal!

  2. @Roy Thaniago:

    udah nonton belum?
    malam ini terakhir loh..
    nonton yah! seru deh aktingnya Cornelia

    salam🙂

  3. Hi , udah nonton kemarin Jumat sama temen2 sekantor .. saya awam banget dgn teater , satu satunya ilmu teater saya adalah saat membaca komik Diva dan Topeng kaca hehe .. 2 jam pertama , saya benar2 dibuat gila🙂 beberapa teman saya menganggap 2 jam pertama membosankan tapi buat saya , scene2 tersebut mengajak saya untuk memahami kegilaan dan aktifitas lembaga kejiwaan ^_^ .. totalitas pemain terlebih pemain Rebeca dan Martin betul2 bisa membuat penonton ter-engah2 hehe .. salute buat Teater Koma .. ayok kapan2 nonton bareng ^_^

  4. Hi Tere,

    Kejemuan tergantung dari konsep penonton tentang teater, kalau bagi penonton yang memiliki konsep teater adalah hiburan maka peluang bosan akan lebih besar.

    Nonton bareng? boleh, kabar kabari yah kalo ada yang bagus, atau sering berkungjung kesini siapa tahu ada yang baru🙂

  5. Mas, sinopsis ‘kenapa leonardo’nya bagus sekali. Saya taruh di link foto2 saya ya…
    Menurut saya, dalam pementasan ini Teather Koma mengambil resiko untuk keluar dari format kabaret yang penuh kelucuan(dimana setelah runtuhnya orba terkadang jadi tidak relevan) dan kembali ke format drama… dimana mereka memang sangat piawai…

    tabik

  6. @Puguh Imanto:

    Monggo mas, saya sudah liat foto fotonya, bagus bagus🙂

  7. Ping-balik: Recent Links Tagged With "neurolog" - JabberTags

  8. Ping-balik: Shutter Island « Budayawan Muda

  9. Mas Wibisono, Salam kenal..

    Saya tahu Anda dari blog, waktu saya cari-cari siapa yang suka nonton teater KOMA…

    Boleh minta tolong ya..
    Saya lagi meneliti tentang pemasaran teater buat disertasi saya..
    Yang jadi pertanyaan:
    Kenapa Mas suka nonton teater KOMA? Kalo punya 5 alasan akan lebih baik..
    Apa yang bikin Mas nonton berkali-kali sama teater KOmA?

    Itu saja dulu deh..

    Makasih bantuannya..

    Salam,

    Bram

  10. chiela

    saya sudah mencoba mementaskan drama ini dalam naskah naskah inggris…
    drama yang penuh teka teki

  11. Agung

    Salam kenal.
    Malam ini saya menonton kembali (melalui DVD) Kenapa Leonardo.
    Pementesan Kenapa Leonardo itu menjadi titik awal bagi saya pribadi untuk terjun dalam dunia anak-anak berkebutuhan khusus atau anak-anak spesial.
    Alhasil setelah menyaksikan pertunjukkan itu (2 tahun an silam), sebuah sekolah bagi anak berkebutuhan khusus sudah berdiri.

    Banyak adegan dalam Kenapa Leonardo yang hingga kini sering saya jumpai pada murid-murid kami.
    Seperti menirukan perkataan (membeo), mengulang-ulang perkataan, penciuman yang tajam, hingga pemikiran yang luar biasa yang tidak banyak dimiliki orang pada umumnya.

    Salah satu orang tua murid, malah punya joke yang sama seperti saya, kalau mereka ini seperti X-Men, anak-anak yang (justru) punya talenta dan karakteristik khusus. Jadi wajarsaja dalam naskah muncul istilah Projek XXX.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s