Meretas Jalan Reformasi

Jusuf KallaMemasuki tahun 2008, Mei nanti genap 10 tahun sudah usia Reformasi, tepatnya sejak Mei 1998. Dalam rangka meretas jalannya Reformasi kemarin tanggal 1 dan 2 Januari MetroTV menggelar acara Today’s Dialogue edisi khusus awal tahun. Topiknya adalah “Meretas Jalan Reformasi” dengan nara sumber Amien Rais, Wiranto dan Jusuf Kalla.

Najwa ShihabSeperti biasa Najwa Shihab tampil sebagai host. Selain ketiga orang tersebut sebenarnya diundang juga dua mantan Presiden yaitu Gus Dur dan Megawati namun sayang dimenit menit terakhir mereka membatalkan kesediaannya untuk hadir. Penonton yang hadir di studio juga rata rata tokoh semua seperti anggota DPR, akademisi, tokoh LSM dan mahasiswa.

Masing masing dimintai pendapat tentang 10 tahun jalannya Reformasi dan jawaban JK normatif saja: 4 Presiden dalam 10 tahun reformasi tentu ada yang sudah berhasil dan ada yang masih perlu dicapai lagi.

Amien RaisAmien Rais yang oleh Najwa disebut sebut sebagai lokomotif Reformasi menjawab bahwa Reformasi ini adalah hasil kolektif bangsa dan bukan tanpa hasil. Hasil yang paling signifikan dan nyata-nyata bisa dinikmati sekarang ini adalah kebebasan Pers, kemudian keberhasilan Amandemen UUD45 yang dikomentari sendiri sudah sangat lumayan, dan kemudian keberhasilan otonomi daerah.

Selain keberhasilan, Reformasi juga memiliki ekses negatif. Beberapa ekses negatif yang diungkapkan Amien Rais adalah transfer korupsi dari pusat ke daerah, bahkan lebih jauh semula korupsi yang bersifat indigenous berubah kearah extragenous.

Maksudnya adalah sekarang itu korupsi dilakukan bukan lagi antara pejabat tinggi tapi antara pemerintah dan big corporation asing. Amien Rais menggambarkan hal tersebut dengan tangan asing yang memegang tengkuk pemerintah untuk didikte melakukan sesuai keinginan pemodal asing.

Kemudian ekses negatif yang paling parah adalah money-politic. Amien sendiri mengaku tidak tahu bagaimana cara menghentikan praktik money-politic yang sudah merajalela sampai ke daerah daerah dalam pilkada.

WirantoSetelah Amien Rais kemudian Wiranto diberi kesempatan. Seolah olah tidak mau kalah dengan Amien Rais, Wiranto mengatakan kalau Amien disebut sebagai lokomotif Reformasi maka ABRI dan dirinya adalah yang menetaskan Reformasi.

Wiranto yang suka sekali menggunakan kata “tatkala” ini mengatakan bahwa dalam sebuah negara berkembang tatkala berhadapan dengan masa peralihan (suksesi) tentara sering kali tergoda untuk mengambil alih kekuasaan. Tapi ABRI tatkala itu tidak tergoda sama sekali untuk melakukannya.

Setelah mendengarkan uraian dari ketiga narasumber Najwa mempersilahkan penonton di studio untuk memberi pandangannya baik untuk Reformasi atau kepada ketiga tokoh tersebut.

Kesempatan pertama diberikan kepada Rama Pratama mantan ketua BEM UI yang menjadi tokoh pergerakan mahasiswa tahun 98 dan kini telah menjadi anggota DPR. Rama memberi kesan bahwa Amien Raislah yang paling berkesan dihati para mahasiswa pada waktu itu yang sangat membutuhkan dukungan moral dan Amien Rais selalu hadir di kampus untuk memberikan inspirasi dan dukungannya.

Kesan Rama pada Wiranto tidak terlalu banyak karena Wiranto pada waktu itu menjabat sebagai Panglima ABRI yang sulit sekali ditemui mahasiswa, sedangkan kesan Rama pada Jusuf Kalla tidak ada kesan apa apa karena pada waktu itu nama JK belum muncul ke permukaan.

Ketika Denny Indrayana mendapat kesempatan untuk berbicara Denny menyampaikan bahwa Reformasi yang sekarang belum menyentuh inti dan baru hanya menyentuh bagian luar saja. Isi atau inti yang dimaksud Denny dibidang hukum ada 4 diantaranya adalah Istana-Cendana-Senjata-Naga.

Istana melambangkan lembaga tinggi negara jadi tidak hanya lembaga kepresidenan tapi semua lembaga tinggi negara termasuk kejaksaaan dan MA. Cendana jelas maksudnya adalah proses peradilan Pak Harto. Kemudian Senjata yang dimaksud adalah TNI kemudian yang terakhir adalah Pengusaha Naga artinya pengusaha besar yang melakukan kejahatan ekonomi yang merugikan negara ratusan triliun rupiah.

Dalam tanggapan oleh narasumber Amien Rais menambahkan satu lagi dalam 4 unsur denny tersebut yaitu Big-Corporation. JK yang mudah tersinggung itu (sesuai dengan parodinya oleh Jarwo Kwat di acara Republik Mimpi) dengan gusar membantah bahwa di Istana tidak ada korupsi, anda boleh cari itu kalau ketemu imbuhnya sambil memandang tajam ke arah Denny Indrayana.

Kemudian Ali Mochtar Ngabalian anggota DPR berkesempatan berbicara tapi sebelumnya dia sudah meminta kepada Wapres Jusuf Kalla untuk tidak marah dalam menanggapi komentarnya.

Ali Mochtar berpendapatan bahwa pemerintah harus independent dari pengaruh asing. Sebagai contoh malam Natal kemarin pemerintah menggelar penjagaan di gereja gereja dengan sangat ketat yang membuat citra bahwa Indonesia tidak aman.

Apakah ini murni keinginan masyarakat atau pesanan dari pihak asing dengan spesifikasi teroris celana diatas mata kaki, berjanggut dan bersorban, begitu katanya dengan berapi api sambil tangan menunjuk nunjuk kearah JK. Kontan JK yang mudah panas itu terpancing dan terjadilah debat yang tidak bermutu.

Ali Mochtar bahkan mengungkit-ungkit kasus Imam Samudra dan Amrozi, kemudian membuka materi hukum bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa mereka mampu merakit bom sedahsyat Bom Bali.

Najwa juga terpancing dan ikut nimbrung diskusi dengan mengatakan bahwa kasus itu sudah tuntas diputuskan oleh pengadilan dan bahkan permohonan kasasinyapun sudah ditolak oleh MA.

Ali Mocthar menyergah dengan mengatakan mana ada pengadilan yang benar di negeri ini termasuk MA. Najwa nyahut lagi, “jadi cuma DPR yang benar?”, suasana jadi riuh bersahut sahutan hingga kemudian Amien Rais menengahi dengan mengatakan kebijakan memperketat penjagaan malam Natal dia rasa memang keinginan dari masyarakat dan bukan intervensi asing. Padahal Amien tidak punya kompetensi dibidang ini tapi entah kenapa Ali Mochtar jadi kalem.

Wiranto kemudian dimintai tanggapannya oleh Najwa dengan pengantar: “Bagaimana tanggapan Pak Wiranto sebagai mantan Panglima ABRI dan disebut sebut orang sebagai loyalis Pak Harto?”, kelihatan Wiranto kurang suka dengan sebutan loyalis Pak Harto dan menanggapi Najwa dengan mengatakan itu memvonis namanya. Najwa cuma cengar cengir saja.

Tanggapan Wiranto terhadap Reformasi di TNI ada 14 poin menurutnya diantaranya ditinggalkannya Dwi Fungsi ABRI, keluarnya POLRI dari ABRI, dikembalikannya bisnis yang dikuasai militer ke negara dan akan secara bertahap memperbaiki diri. Najwa menambahkan perbaikan perlu dalam bidang profesionalitas agar tidak terjadi konflik aset properti dengan masyarakat sipil yang sering menimbulkan insiden berdarah.

Usman Hamid dari KONTRAS mengatakan berbagai kasus pelanggaran HAM oleh TNI yang tidak menyentuh para jenderal tapi hanya para pelaksana dilapangan cerminan masih stagnannya reformasi TNI. Wiranto yang dimintai tanggapannya mengatakan bahwa peradilan militer untuk kasus HAM itu sudah digelar dan diputuskan siapa yang bersalah kenapa mesti dikatakan tidak tuntas.

Rachlan Siddik dari Imparsial menyampaikan pikirannya bahwa reformasi TNI perlu langkah yang radikal seperti membiarkan TNI ikut memilih dalam pemilu sebagai reformasi dalam tubuh TNI. Tapi kemudian Wiranto menyergah dengan mengatakan 8 tahun yang lalu MPR memutuskan TNI keluar dari politik praktik dan seluruh wakilnya di DPR ditiadakan tapi kenapa sekarang TNI kembali disuruh suruh masuk ke dalam politik praktis lagi dengan memberi hak pilih.

Rachlan menanggapi lagi dengan mengatakan bahwa TNI diberi hak pilih tapi sekaligus harus tunduk pada aturan sipil dan bukan mahkamah militer.

Terjadi diskusi yang seru sebelum kemudian Amien Rais menengahi dengan mengatakan bahwa betapa riskannya keamanan bila TNI boleh masuk partai lalu kemudian ikut berkampanye. Menurut Amien Rais arah reformasi TNI sudah benar cuma perlu lebih konsekuen dalam pelaksanaannya.

Pada bagian akhir dibahas apa makna Reformasi. Apa dampak Reformasi pada kehidupan demokrasi bangsa Indonesia. Saiful Mujani dari LSI diberi kesempatan untuk berbicara. Saiful berbicara demokrasi dengan mengambil perbandingan dari negara tetangga Singapura dan Malaysia yang secara ekonomi lebih makmur tapi apakah mereka bahagia? Begitu tandas Saiful.

Kemudian Syaiful mengutip pernyataan mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohammad yang mengatakan: “buat apa demokrasi kalau makan tikus”. Syaiful merasa tersinggung dengan ucapan itu. Kemakmuran saja tidak cukup untuk hidup bernegara bangsa. Indonesia pernah makmur secara ekonomi jaman Soeharto, tapi toh tetap teriak karena tidak mendapat kebebasan dalam sendi-sendi kehidupan berdemokrasi. (JK terlihat mengernyitkan dahinya)

Dalam pesta demokrasi tahun 2009 nanti beberapa kandidat telah muncul. Mantan Gubernur DKI Sutiyoso adalah salah satu yang telah dengan terang terangan mendeklarasikan dirinya ikut pertarungan kursi Presiden 2009.

Masing masing narasumber ditanya tentang niat mereka ikut pilpres. Wapres JK malu malu mengatakan iya dan cenderung menghindar. Sementara Amien Rais menjawab dengan mengatakan menunggu sinyal dari langit. Sedangkan Wiranto kelihatan tidak mau frontal dengan menjawab dalam sebuah sistem demokrasi harus ada backup kepemimpinan nasional.

Dalam konteks pemimpin nasional. Fadjroel Rachman yang pernah menjadi korban kekerasan Soeharto memberi pandangannya bahwa Indonesia hanya akan mampu mengatasi masalah korupsi yang terkait dengan masa lalu apabila dipimpin oleh generasi muda yang tak terkait sama sekali oleh problematika generasi tua dimasa lalu.

Lebih tegas lagi Fadjroel mengatakan generasi tua tidak usah ikut pilpres. Berikan kesempatan itu pada generasi muda. JK dengan sengit menanggapi bahwa kalau mau demokrasi harus konsekuen. Tidak boleh dalam demokrasi melarang larang suatu golongan untuk ikut berpartispasi, itulah demokrasi. (kali ini JK menjadikan demokrasi jadi prioritas nomor satu).

Anas Urbaningrum kemudian memberikan pandangannya. Mangga masak dipohon lebih baik daripada mangga karbitan katanya. Biarlah pemimpin itu lahir dari proses alamiah sehingga benar benar matang. Entah itu generasi tua atau generasi muda.

Acara Today’s Dialogue Metro TV kali ini cukup seru. Walaupun ketegangan terjadi disana sini tapi tetap santai dan cair oleh canda ringan partisipannya.

Salah satu ketegangan muncul ketika JK mendebat Amien Rais tentang teori Asingisasi Amien Rais. Amien memaparkan beberapa peraturan pemerintah yang memungkin asing menguasai 98% aset negara untuk kepentingan asing. Menurut JK memang ada beberapa sektor yang dibuka tapi ada juga yang diproteksi.

Kemudian Amien bilang dari negara negara di Asia yang membuka proteksi, Indonesia yang paling ugal ugalan. Ini membuat wajah JK merah padam. Kemudian Amien melanjutkan dengan mengatakan masih ada satu setengah tahun lagi untuk memperbaiki kebijakan itu, jika itu tidak dilakukan maka AWAS. Amien mengatakan itu dengan mimik wajah serius dan pandangan yang tajam ke arah JK.

Suasana jadi hening sejenak dan saya pikir JK akan meledak tapi ternyata apa yang terjadi. JK berusaha tersenyum dan suasana menjadi riuh sekali dan Najwa nyeletuk “itu bukan ancaman seperti waktu mau melengserkan Gus Dur kan Pak Amien?”.

Amien menjawab tapi saya tidak dengar jawabannya karena suasana riuh sekali oleh suara penonton di studio. JK mengulurkan tangan untuk bersalaman dan Amien Rais menyalaminya dengan mimik wajah yang tetap serius.

Sungguhpun demikian mereka masih bisa bercanda dan membuat penonton tertawa. Mula mula adalah Wiranto yang berasal dari partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) berkali kali dalam tanggapannya menyebut “hati nurani”, membuat Najwa nyeletuk dan bilang pak Wiranto kampanye terselubung nih.

JK kemudian merespon dengan mengatakan bagaimanapun juga pakai hati nurani tapi harus tetap berkarya. JK yang dari partai Golongan Karya sambil tersenyum mengucapkan itu. Najwapun merespon dengan mengatakan supaya adil Pak Amien dari PAN mau ikut ngomong? Amien lalu menjawab dengan mengatakan boleh saja pakai hati nurani dan berkarya tapi tetap harus mengemban amanat rakyat. Seluruh penonton tertawa dibuatnya.

Mungkin ada beberapa detil dalam acara itu yang terlewatkan dalam tulisan saya. Lebih kurangnya harap maklum. Kesan saya tidak ada hal yang benar benar baru dalam diskusinya tapi lumayan sebagai prolog tahun 2008. Mari kita tunggu epilognya setahun lagi, semoga tidak membahas hal yang sama. Najwa, you’re the best host of the year.

25 Komentar

Filed under politik, televisi

25 responses to “Meretas Jalan Reformasi

  1. Ping-balik: Isyarat Pak Harto « Budayawan Muda

  2. Alus Setya Pambudhie

    ulasan yang menarik…. dengan bahasa yang enak dicerna… terima kasih mas wibi, keep in post. salam hangat di musim dingin.

    Kalau boleh berpendapat…. ngomong soal reformasi, tahun 1998, aku gak tau apa itu reformasi, dan apa itu politik. Yang aku tahu ribuan orang kakak kelas pada duduk di atap Gedung DPR, karena hanya itu yang aku tahu dari apa yang nampak di layar teve yang aku tonton setiap pagi sebelum berangkat sekolah dulu. Dan sepertinya sampai sekarang pun aku belum tahu benar apa itu reformasi serta politik.

    Namun dari yang aku lihat serta rasakan, untuk bangsa sekaliber negeri kita, (baik itu luas geografis dan kronisnya), aku melihat ada tiga aspek rangkaian atau sasaran tembak reformasi. Politik, Ekonomi, dan Hukum.

    Dari tiga itu sepertinya hanya politik yang bisa dibilang cukup berhasil meski kita sama-sama tahu masih banyak kekurangan. Namun dibanding dua yang lainnya kita sudah banyak “memanen” dari segi politik, dimana ada kebebasan pers, otonomi daerah, dan lainnya. Namun untuk yang dua yaitu ekonomi jelas kita masih harus menelan ludah jika kita ingat dibalik tembok resepsi pernikahan famili kita masih banyak dari mereka yang masih menahan lapar.
    Hukumpun demikian, ia amat sangat tidak tersentuh, bagaikan pisau kata orang bijak… tajam kebawah tumpul keatas.

  3. wah ulasannya sepanjang dialognya. terus ngeblog pasng sing belog…
    ulasannya terus konsisten ya. mantap

  4. Hasil reformasi yang paling nyata adalah otonomi daerah, kebebasan pers, dan kebebasan berbicara. sayang, 3 ikon reformasi ini telah berkembang jauh menjadi sebuah digresi. banyak penyimpangan dan reduksi akibat karakter para petualang yang cenderung ingin memuaskan kebuasan hatinya sendiri. *halah sok tahu nih* otoda, misalnya, banyak melahirkan adipati2 baru yang perannya jauh melebihi rajanya. utk kebebasan pers ok, meski ada juga kelompok tertentu yang gampang menghakimi pers, sedangkan kebebasan berbicara cenderung berubah menjadi adu otot. mereka yang tidak sependapat dianggap sebagai lawan yang harus disingkirkan. semoga saja tahun 2008 menjadi awal yang baik utk kembali merajut pilar2 demokrasi yang nyarus runtuh. suksesi 2009 semoga saja menghasilkan pemimpin yang jujur, punya wisdom, dan bersih dari konlik dan kepentingan. *halah*

  5. najwa shihab

    Dear Mas Wibisono,
    Terima kasih atas ulasan dan komentarnya. Lengkap dan sangat detail. Ada bbrp bagian dialog yang alurnya tertukar, tapi esensi talk show-nya tidak berubah kok. Again, really appreciated it…:) itu siaran terakhir saya sebelum cuti panjang setahun ini, jadi senang sekali bisa di-review dan diapresiasi oleh teman2.

    salam,

    najwa

  6. @najwa shihab:

    What a suprise to have you here.
    Terimakasih atas koreksinya🙂

    itu siaran terakhir saya sebelum cuti panjang setahun ini, jadi senang sekali bisa di-review dan diapresiasi oleh teman2.

    Wah berarti bakal lama gak lihat Najwa di Metro Tv dong? Trus siapa yang jadi pengganti Najwa di Today’s Dialogue? Itu acara favorite saya.

    Salam buat ayahanda Pak Quraish, saya fans berat beliau.🙂

  7. @Alus Setya Pambudhie:

    salam hangat juga buat anda🙂
    Reformasi politik memang telah membuat kita memiliki demokrasi yang lebih ketimbang negara tetangga. Tapi ekonomi masih banyak yang miskin, indikasi belum berhasilnya reformasi ekonomi. Hukum juga begitu, semoga tahun ini banyak kemajuan yah…

    @luhde:

    makasih lude nggih… salam buat suami tercinta Bli Anton dan buat Bani tentunya.

    @Sawali Tuhusetya:

    Doa yang sama saya panjatkan Pak Sawali🙂

  8. jujur wae,tadinya pengen komen tapi berhubung stingan anda panjang dan saya blm menguasai betul ilmu fast reading dan ditambah ini ttg politik yg perlu bgt dibaca sungguh2,plus saya dah ngantuk,ga jadi komen deh..sorri bro..will be back here tomorrow for leaving track..

  9. @stey:

    take your time sis…😉 met bobo

  10. wow… postingan bermutu banget.. dari dialog yang bermutu pula.
    semoga para pemimpin2 negara itu tidak hanya pandai berucap tapi juga bertindak.

    wow najwa shihab merespon… hebat.. hebat…
    sip🙂

  11. rupanya anda juga jenis manusia super jenis ke tiga (kata Ibuku, red)..
    berpikir politis dan startegis..
    yup sy juga kebetulan melihat acara itu Bung,
    didobrak dengan komentar “silakan bapak2 didepan sebagai generasi magribi mundur dan digantikan dengan yang muda”, luar biasa Bung, nanti kita lanjutin lagi..
    huaaah,..blogwalking subuh nih..
    salam kenal
    *salaman*

  12. tidak lupa: pencet ctrl+D (bukmak, red)

  13. @aRuL:

    thx ya Rul…

    @fauzansigma:

    rupanya anda juga jenis manusia super jenis ke tiga (kata Ibuku, red)..
    berpikir politis dan startegis..

    Sebenarnya saya kurang begitu paham maksudnya, tapi waktu saya baca Blog anda saya baru mengerti bahwa anda seorang Blogger yang sangat puitis… saya suka..🙂

  14. Erwin Juanda

    wah, blog nya mas Wibi ini makin ramai aja, sampai2 pembawa acara sendiri yang merespon, mantap !
    saya juga salah satu orang yg seneng nonton acara tersebut apalagi pembawa acaranya si manis Najwa Shihab, pertanyaan yang dibawanya kritis, pinter, dan penuh kata pancingan kapada nara sumber yg harus was2 menjawabnya.
    cuma kadang saya kurang seneng jawaban dr nara sumber belum selesai sudah di potong pertanyaan lain oleh najwa (kok jadi ngeritik najawa)
    sorry temanya jadi melenceng..
    buat mas WIBI posting nya ok banget apalgi buat yang belum nonton acara tersebut,,,
    di tunggu posting yang lainnya..

  15. Saya sempat mendengarkan tetapi tidak selesai. Makasih postingannya.

  16. Ping-balik: Komentar Najwa Shihab « Budayawan Muda

  17. mahma mahendra

    wah serasa ngelihat today dialog yang saya lewatkan. dan dikomentari najwa shihab.kerenn pakk….

    keep ur good posting

  18. Johan Suryantoro

    Saya tidak sempat menonton tayangannya, dan terima kasih Anda sudah mengulasnya di postingan ini. Saya setuju dengan kekhawatiran Amien Rais pada ekses negatif yang sangat serius dari keberhasilan reformasi, money politic. Banyak yang bilang itu telah melahirkan raja-raja kecil di hampir setiap daerah. Anda tentu tahu berapa banyak dana yang harus mereka keluarkan saat musim kampanye. Mudah-mudahan jadi tidak berfikir seperti pedagang, kembalikan modal dulu, baru cari untung. Sekalian saya ucapkan untuk semua, Selamat Tahun Baru 1429 Hijriah, semoga semua orang di negeri ini semakin paham bahwa negara adalah proyek bersama. Bukan perorangan atau kelompok.

  19. wah ini dialognya saya sempat nonton dan berlangsung seru!

  20. Josdy D

    Saat kesehatan Mantan Presiden RI Suharto mulai menurun alias sakit bahkan mengundang beberapa petinggi dan mantan petinggi kawasan asia tenggara ikut menjenguk sepeti Sultan Hasana Bolkia, Mahatir Muhamad, Lew Kwan Yew berati dibalik itu Suharto masih dikenang dan masi ada jasa baiknya, baik tidaknya suharto tentunya tergantung klitya yang menilai masing-masing tanpa tendensi atau kepentingan alias netral, mengulas tentang berhasil tidaknya reformasi saya tidak setuju dengan wawancara Amin Rais pada acara “Tutoday dialog” Metro TV, kelihatannya amin rais ibaratnya burung yang kehilangan sayap begitu juga saat diwawancara TV pada tayangan tentang komentar kesehatan Suharto saat ini dan tindakan apa yang harus diambil Amin Rais ibaratnya berdiri tanpa pijakan dan kembali menjilat ludah yang sudah dia keluarkan ibaratnya parodi Blangkon dan tidak konsisten dengan komitmennya, carut marutnya republik ini akibat ulah dari tokoh Amin Rais, bukan cuma itu saat mencalonkan dirinya sebagain wapres, bagaimana sang amin kampanyenya disuatu daerah dengan langsung turun kesawa menanam padi dengan petani dan mengayuh becak dengan alasan keberpihakan kepada rakyat kecil namun hasilnya nol besar karena tidak sesuai dengan apa yang didalam hati pak amin cuma untuk politik keberpihakan terhadap rakyat kecil katanya politisi yang gamang..?????????

  21. Buat Mas Erwin Juanda, Ibu Ratna Hardjito, Mahma Mahendra dan Nicoustic .

    Terimkasih atas komentar dan apresiasinya, saya senang bila tulisan saya bisa bermanfaat.

  22. @Josdy D:

    kelihatannya amin rais ibaratnya burung yang kehilangan sayap begitu juga saat diwawancara TV pada tayangan tentang komentar kesehatan Suharto saat ini dan tindakan apa yang harus diambil Amin Rais ibaratnya berdiri tanpa pijakan dan kembali menjilat ludah yang sudah dia keluarkan ibaratnya parodi Blangkon dan tidak konsisten dengan komitmennya,

    Alangkah baiknya bila Mas Josdy menyertakan komitmen Amien Rais yang mana yang dianggap tidak konsisten

    carut marutnya republik ini akibat ulah dari tokoh Amin Rais

    Sebuah tuduhan macam ini juga dialami oleh Soeharto dan tentunya masing masing tuduhan memiliki dasar dan bukti bukti. Saya yakin Mas Josdy juga memilikinya.

    bukan cuma itu saat mencalonkan dirinya sebagain wapres,

    Mungkin maksud Mas Josdy capres bukan wapres.

    namun hasilnya nol besar karena tidak sesuai dengan apa yang didalam hati pak amin cuma untuk politik keberpihakan terhadap rakyat kecil katanya politisi yang gamang..?????????

    Yang dimaksud dengan hasil kan setelah diberi kesempatan memimpin, karena Amien belum sempat diberi kesempatan untuk itu maka tidak ada hasil yang dapat dilihat kecuali Mas Josdy punya pengertian lain tentang hasil yang dimaksud.

    @Johan Suryantoro:

    Iya Mas Johan, saya rasa Amien Rais cukup jujur mengakui adanya ekses negatif dari reformasi yang bergulir. Kebanyakan orang lebih senang mengangkat keberhasilannya saja dan menyembunyikan sisi negatifnya.

    Kaum loyalis Pak Harto contohnya tak pernah mau mengatakan ekses negatif dari pembangunan Orde Baru telah membunuh aspek demokrasi bangsa. Kaum loyalis lebih senang mengangkat keberhasilan ekonomi jaman Pak Harto saja ketimbang ekses negatif yang tidak kalah besarnya itu.

  23. Ping-balik: KPK Tumpuan Harapan Baru « Budayawan Muda

  24. Ping-balik: Presenter Berita Televisi « Budayawan Muda

  25. ilham iskandar

    Aku kutip dikit ya..
    jangan takut bang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s