Isyarat Pak Harto

Gambar dari BBC.co.ukUntuk kesekian kalinya mantan Presiden HM Soeharto masuk rumah sakit lagi. Rumah sakit favoritnya RS Pertamina Pusat (RSPP) dibikin sibuk dengan kedatangan mantan penguasa Orde Baru tersebut.

Masuknya Jenderal Purnawirawan berbintang lima tersebut ke RSPP tepat dua hari setelah acara Today’s Dialogue di MetroTV disiarkan. Acara tersebut menyiarkan sebuah dialog tentang meretas jalan Reformasi salah satu yang dibahas adalah proses peradilan Pak Harto.

Pertanyaan yang mengemuka pada saat dialog itu berlangsung adalah 10 tahun Reformasi tak dapat menuntaskan proses peradilan Pak Harto yang membuat citra penegakan hukum menjadi kurang berhasil.

Melihat kondisi Pak Harto yang sudah sakit sakitan ada yang berpendapat lebih baik Pak Harto dimaafkan saja. Tapi ada yang berpendapat bahwa diteruskannya proses peradilan Pak Harto masih bisa membawa manfaat yaitu menjadi contoh penegakan hukum yang konsekuen.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menjadi nara sumber acara tersebut berpendapat bahwa masalahnya bukan baik atau tidak baik dilanjutkan tapi secara hukum memang orang sakit tak bisa diproses, itu masalahnya.

Gambar dari www.figurpublik.comAmien Rais yang juga menjadi nara sumber memiliki pendapat jalan tengah yaitu proses peradilan tetap digelar tanpa kehadiran beliau (inabsentia?) lalu pengadilan tersebut menunjukan kesalahan beliau kemudian vonis dijatuhnya lalu kemudian diampuni (Grasi?).

Dasar pemikiran dari usulan Amien Rais tersebut adalah kemanusiaan. Pertama tama adalah melihat kondisi kesehatan Pak Harto dan usianya yang sudah sangat tua renta. Kedua melihat bahwa berkuasanya Pak Harto selama 32 tahun akibat dari kesalahan kolektif seluruh bangsa Indonesia yang hanya menjadi yes man dan tidak ada yang berani menyatakan perbedaan pendapat, seperti yang telah dilakukan oleh Amien Rais ketika Pak Harto masih berkuasa.

Sekarang ketika Pak Harto sudah jatuh semua orang ingin menyumpahi dan menghukumnya. Amien Rais menggambarkannya sebagai raksasa yang sudah tua, kalah dan tumbang lalu kemudian bulunya dicabuti beramai-ramai.

Menurut Amien cara yang diusulkannya ini bukan semata mata untuk memaafkan Pak Harto tapi untuk menjaga martabat kita sebagai bangsa, bahwa jangan sampai kita menjadi bangsa yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Sebab nanti bila Pak Harto dipanggil Tuhan atau meninggal dunia maka kesempatan untuk memaafkan melalui proses legal formal akan hilang.

Saya sependapat dengan Amien Rais. Entah bagaimana teknisnya secara hukum tapi intinya adalah pengadilan digelar, divonis lalu pidananya dimaafkan. Mengenai perdata atau harta yang diduga hasil korupsi bisa diusut dan diurus kemudian. Masalah dosa dosanya yang lain biarlah itu urusan Pak Harto dengan Tuhan.

Saya ingin membuat analisis yang agak bebas, saya rasa analisis semacam ini sah sah saja. Berikut analisisnya:

Amien Rais adalah orang yang paling dibenci oleh Pak Harto. Karena Amien yang menggalang opini masyarakat untuk memperbincangkan wacana pengunduran diri Pak Harto semasa ia berkuasa.

Ketika menjelang pemilu 97 Amien melansir analisis -menjadi headline dimedia nasional- bahwa Pak Harto sudah memberi isyarat bahwa ia tak bersedia lagi dicalonkan menjadi Presiden. Analisis ini kontan membuat berang para loyalis Pak Harto. Pak Harto sendiri kemudian dipilih kembali menjadi Presiden.

Analisis Amien Rais bukan tidak akurat tapi memang tujuannya adalah bukan menganalisa isi hati Pak Harto tapi untuk mengajak publik mau dan berani membuka wacana suksesi kepemimpinan nasional. Ini yang membuat Pak Harto sangat dongkol. Pak Harto punya rencana sendiri tentang suksesi dan bukan di drive oleh Amien Rais.

Lalu kenapa Amien tidak digarap Pak Harto seperti halnya lawan lawan politiknya yang lain? Era keterbukaan setelah masuk jaman Reformasi mengungkap informasi bahwa Amien Rais pernah menjadi target untuk dilenyapkan. Tapi kenapa itu urung dilakukan?

Berbicara tentang kritik kepemimpinan Pak Harto dimasa ia masih berkuasa bukan monopoli Amien Rais. Berbagai tokoh pernah melakukannya seperti Ali Sadikin, Hariman Siregar, Sri Bintang Pamungkas, Fadjroel Rachman, dan masih banyak lagi. Mereka semua berakhir dengan nasib yang kurang lebih sama, dikucilkan. Kalau bukan tokoh maka bisa jadi dilenyapkan.

Semua tokoh tersebut memiliki kesamaan yaitu vokal tapi menempatkan diri mereka diluar pagar. Pagar yang saya maksud adalah pagar konsep kekuasaan. Amien menggunakan pendekatan yang tidak dilakukan oleh semua lawan politik Pak Harto sebelumnya.

Menurut Prof Selo Soemardjan, Pak Harto itu orang yang keras dan tidak mau berubah. Semakin ia ditentang maka semakin ia mengeras seperti batu. Lawan lawan sebelumnya menempatkan diri diluar dalam posisi untuk memecah batu tersebut. Adu kekuatan tak terhindarkan dengan cara seperti itu. Siapa yang lebih kuat maka dia yang akan menang.

Amien Rais adalah orang yang vokal tapi masih berada di dalam pagar sehingga sulit sekali bagi Pak Harto untuk menyikapinya. Amien menjabat sebagai ketua Muhammadiyah dan anggota ICMI sudah merupakan poin tersendiri yang membuat Pak Harto semakin sulit menghadapinya. Muhammadiyah dan ICMI adalah organisasi dalam pagar, bukan organisasi luar pagar seperti PKI yang berada jauh diluar pagar.

Akan jauh lebih mudah bagi Pak Harto bila Amien hanya seorang tokoh biasa tanpa jabatan ketua Muhammadiyah pada waktu itu. Menjadi ketua Muhammadiyah membuat Amien selalu didengar media. Media selalu mengutip pernyataan Amien dengan kalimat “Menurut Amien Rais Ketua Umum PP Muhammadiyah…”.

Tapi itu bukan jaminan selamat dari jerat hukum penguasa Orde Baru. Pendekatan sikap yang elegan juga berperan menyelamatkan Amien dari perlakuan buruk penguasa. Amien lebih suka mengatakan: “Pak Harto telah memberi isyarat untuk mundur…”, daripada mengatakan: “Pak Harto lebih baik mundur saja…” atau ketimbang mengatakan: “Sudah saatnya Pak Harto untuk mundur…”.

Amien tahu betul bagaimana cara memperlakukan seorang penguasa tua yang sangat kuat dan mudah tersinggung itu. Cara halus ternyata lebih efektif dibanding cara keras apalagi kasar yang banyak dipilih oleh lawan politik sebelumnya.

Sekarang setelah kejatuhannya analisis Prof Selo Soemardjan masih relevan. Pak Harto tak mau diseret kepengadilan tapi bukan berarti ia tak mau diadili. Sama dengan Pak Harto tak mau diturunkan tapi bukan berarti dia tak mau turun.

Amien Rais telah membuktikan itu sekali, sekarang untuk yang kedua kalinya saya merasa cara yang sama masih akan efektif. Jaminannya adalah teori Prof Selo Soemardjan sang begawan sosiologi itu yang mengatakan bahwa Pak Harto tak pernah mau berubah, jadi gunakan cara yang sama. Jangan kira gerbang kematian akan membuatnya berubah. Kematian justru akan membuat Pak Harto menang secara pribadi.

Pak Harto sudah tua dan lemah tapi bukan berarti tak berdaya sama sekali. Kadang ia tak perlu berpikir, naluri akan membimbingnya untuk bersikap. Ketika Amien Rais sang musuh besarnya terpilih sebagai ketua MPR, pada hari yang sama Pak Harto diberitakan masuk rumah sakit RSPP akibat serangan stroke yang membuat ia secara hukum tak bisa diproses.

Kini ketika Amien Rais tampil di TV dan melemparkan wacana kepada masyarakat tentang bagaimana menyikapi Pak Harto maka Pak Harto menjawabnya dengan isyarat. Mampukah kita menangkap isyarat itu?

33 Komentar

Filed under politik

33 responses to “Isyarat Pak Harto

  1. mahma mahendra

    analisa yang bagus.tapi isyaratnya apa? saya kok g bisa nangkap? mau mati y? jangan dulu lah. kasian… . kasian rakyat yang menderita gara2 dia. seharusnta semua dokter di indonesia bersatu untuk menyembuhkan dia. ketika sembuh baru di proses. ini analisa saya(analisa brutal).

    sayang saya g liat todays dialogue itu, ada siaran ulangnya ga?

  2. @mahma mahendra:

    hmm.. harus saya jelaskan yah ??
    ok deh, memang itu isyarat yang mengatakan bahwa kini saatnya dia diadili dengan cara tanpa kehadirannya sebab dia tidak akan lama lagi alias akan segera pergi. Sekarang kita dipersilakan bersikap mau membiarkan dia pergi begitu saja yang akan menyisakan stigma atau mari kita menyikapi seperti yang diusulkan Amien Rais.

    Cara lama tak akan efektif, umur seseorang tak sampai akhir jaman. Cepat atau lambat beliau akan pergi (keadaannya sudah semakin memburuk). Kalau dia pergi begitu saja maka secara pribadi dialah pemenangnya, tak pernah divonis bersalah secara hukum.

  3. Alus Setya Pambudhie

    cukup jeli analisanya….
    untuk ngomong hukum jelas saya gak mudeng…
    tapi untuk memberi contoh dah melihatkan suksesi hukum… seorang yang bersalah emang harus diadili… terlepas mo digrasi atau tidak, ada atau tidak hadirnya dia di pengadilan.. itu tergantung aturan maen nya gimana… ditunggu aja dech kejutan tahun 2008….hehehehe

  4. @Alus Setya Pambudhie:

    seorang yang bersalah emang harus diadili…

    Betul sekali…

    Ketua DPR Agung Laksono mengeluarkan pernyataan bahwa sekarang kasus Pak Harto tak usah diungkit ungkit, tunggu sampai beliau sembuh baru kasusnya dibuka lagi.

    Amien Rais dan KONTRAS mengeluarkan pernyataan juga yang menyatakan bahwa kasus Pak Harto tetap harus dilanjutkan.

    Agung jelas loyalis Soeharto, kita semua tahu Pak Harto tak mungkin sembuh, malah semakin memburuk.

    Usulan saya segera gelar pengadilan khusus dan putuskan perkara “bersalah” dan seterusnya sesuai usulan Pak Amien sebelum terlambat.

  5. borsalino

    meminta maaf begitu mudah,
    namun terkadang memberi maaf terasa berat !
    andai, semua kita yg merasa “disakiti” memberi maaf kepada beliau, kira-kira apa ya yg bakal terjadi ?

  6. @borsalino:

    andai, semua kita yg merasa “disakiti” memberi maaf kepada beliau, kira-kira apa ya yg bakal terjadi ?

    Seandainyapun seluruh rakyat Indonesia memberi maafnya maka tetap saja dibutuhkan status formal atas kasusnya.

  7. welgedewelbeh

    Yang jelas hukum harus ditegakkan, hukum tidak pandang bulu, entah mau mati atau sudah mati, dalam keadaan apapun dan situasi apapun, juga bukan karena sebuah harga diri, yang jelas yang salah tetap harus dinyatakan salah, dan yang benar juga harus dibenarkan.

    NB :” Kedua melihat bahwa berkuasanya Pak Harto selama 32 tahun akibat dari kesalahan kolektif seluruh bangsa Indonesia yang hanya menjadi yes man dan tidak ada yang berani menyatakan perbedaan pendapat, seperti yang telah dilakukan oleh Amien Rais ketika Pak Harto masih berkuasa.”

    mulut kurang sependapat dengan pendapat di atas. Menurut mulut tidak bisa serta merta dikatakan demikian, karena pada kenyataannya, banyak sekali orang-orang yang tidak ‘yes man’ dan berani mengambil sikap walaupun nasip mereka sungguh sangat tragis. Hanya saja karena tidak menguasai media sehingga tidak bisa terkenal dan di ketahui oleh banyak orang namun demikian mereka terus berjuang, tanpa lelah meski harus sembunyi, dikejar polisi, rapat ditempat yang gelap sambil tengok kanan kiri waspada. Dan puncak perjuangan dari orang-orang yang tidak terkenal dan tak tercatat dalam catatan apapun itu adalah reformasi tahun 1998. Dimana ribuan para mahasiswa dan mahasiswi kita turun ke jalan. Kalau mau lebih jeli lagi : ingat juga bagaimana sebuah sistem diciptakan untuk membuat rakyat menjadi bodoh, dan terlena. Contohnya: ” penanaman akan rasa bangga karena berhasil mendapat pinjaman dari luar negeri ” dll.

    Bagi Mulut disini telah terjadi penyalah gunaan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat kepada penguasa. Dan jelas disini, pengusalah yang menduduki porsi bersalah paling besar. Sedang rakyat hanyalah kurban dari penyalah gunaan kekuasaan oleh penguasa. So kalau mau jujur, yang salah adalah para penguasa pada waktu itu.

  8. @mulut:

    mulut kurang sependapat dengan pendapat di atas. Menurut mulut tidak bisa serta merta dikatakan demikian, karena pada kenyataannya, banyak sekali orang-orang yang tidak ‘yes man’ dan berani mengambil sikap walaupun nasip mereka sungguh sangat tragis.

    Jika Anda membaca dengan teliti artikel diatas maka sudah dipaparkan berapa banyak elemen bangsa yang sudah menempuh jalan itu (berani vokal dan tidak menjadi yes man). Tapi hasilnya kurang efektif.

    Yang dimaksud oleh Amien Rais dengan kesalahan kolektif menjadi yes man adalah para tokoh yang memiliki akses dan pengaruh kepada Soeharto tapi mereka hanya yes man.

    Mereka itu adalah tentu saja anggota DPR/MPR, para Menteri, tokoh masyarakat dan bahkan media (walaupun tidak semua).

    Untuk kalangan yang kritis dan berani kebanyakan menempuh cara ekstrem yang hasilnya kurang efektif sebab harus berhadapan dengan kekuasaan. Cara yang ditempuh Amien terbukti efektif dengan bergulirnya Reformasi.

    Sekarang cara yang sama bisa kita pakai untuk situasi yang berkenaan dengan Pak Harto.

    Itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan diatas. Jika Anda punya waktu bisa dibaca sekali lagi dengan seksama substansi tulisan saya.

  9. Hmm susah juga ya…apapun kita harus mengakui bahwa pak Harto sangat pandai berstrategi….

  10. welgedewelbeh

    Insyaallah sebelum mulut kasih komen tadi, mulut sudah membaca dengan cukup teliti. Mungkin malah sampeyan yang tidak teliti dalam melongok sejarah ….. hmmh

    “Dasar pemikiran dari usulan Amien Rais tersebut adalah kemanusiaan ……………… Kedua melihat bahwa berkuasanya Pak Harto selama 32 tahun akibat dari kesalahan kolektif seluruh bangsa Indonesia yang hanya menjadi yes man dan tidak ada yang berani menyatakan perbedaan pendapat, seperti yang telah dilakukan oleh Amien Rais ketika Pak Harto masih berkuasa.”

    coba renungkan kalimat anda di atas, kalimat yang juga telah mulut kutip di komen sebelumya itu … kan anda letakkan dalam frame “dasar pemikiran usul Amin Rais” ….. secara bahasa itu akan menimbulkan kerancuan …. apakah itu benar-2 dasar pemikiran Amin Rais atau dasar pemikiran Amin Rais menurut saudara?

    Apalagi ada kalimat yang menyalahkan bangsa Indonesia yang cenderung menjadi “yes men” padahal kalau saudara jeli menyusuri benang sejarah …. maka anda akan tahu apa yang dihadapi rakyat kecil ketika berani melawan pemerintah saat itu ….. secara benda kasar …. ya popor senapan, lars sepatu tentara, atau pentunggan … secara sosial …. cap PKI de el el.

    Menyalahkan bangsa sendiri pada kondisi demikian sungguh amat naif. Apalagi langsung dikontraskan dengan “keberanian” dan “kecerdasan” Amin Rais yang “tepat waktu” … he he he. Kalau ini bukan dasar pemikiran Amin Rais menurut anda … maka kita bisa bayangkan mahluk narsis macam apa Amin Rais itu … he he he

    Kalo menurut mulut …. sebenarnya ini bukanlah isyarat Pak Harto. Tulisan ini adalah isyarat dari Wibisono Sastrodiwiryo bahwa dia ngefans Amien Rais he he he

  11. @edratna:

    Yup, anugrah itu tak pernah hilang.

  12. @mulut:

    coba renungkan kalimat anda di atas, kalimat yang juga telah mulut kutip di komen sebelumya itu … kan anda letakkan dalam frame “dasar pemikiran usul Amin Rais” ….. secara bahasa itu akan menimbulkan kerancuan …. apakah itu benar-2 dasar pemikiran Amin Rais atau dasar pemikiran Amin Rais menurut saudara?

    Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Amien Rais bukan hal baru, sudah sering itu ia ucapkan. Dari pertanyaan anda kelihatan anda kurang perhatian.

    Bagi yang nonton Today’s Dialogue di Metro TV bisa menyaksikan uraian Amien Rais tersebut. Itu bukan interpretasi saya tapi otentik ucapan Amien Rais.

    Apalagi ada kalimat yang menyalahkan bangsa Indonesia yang cenderung menjadi “yes men” padahal kalau saudara jeli menyusuri benang sejarah …. maka anda akan tahu apa yang dihadapi rakyat kecil ketika berani melawan pemerintah saat itu ….. secara benda kasar …. ya popor senapan, lars sepatu tentara, atau pentunggan … secara sosial …. cap PKI de el el.

    Sebagai bagian dari rakyat kecil tentu saya sadari akan hal itu dan seperti yang saya jelaskan diatas:

    Yang dimaksud oleh Amien Rais dengan kesalahan kolektif menjadi yes man adalah para tokoh yang memiliki akses dan pengaruh kepada Soeharto tapi mereka hanya diam saja.

    Amien Rais menurut Nurcholis Madjid memang gaya bahasanya hiperbola jadi banyak kalangan yang salah terima, termasuk anda mungkin.

    Apalagi membaca postingan anda yang berjudul “PKS, Muhhamadiyah, FPI, NU, Jamaah Islamiyah,salafi,hizbutahrir,wahabi aliran tersesat“.

    Tidak heran anda tidak memahami jalan pikiran Amien Rais.

    Kalo menurut mulut …. sebenarnya ini bukanlah isyarat Pak Harto. Tulisan ini adalah isyarat dari Wibisono Sastrodiwiryo bahwa dia ngefans Amien Rais he he he

    Oh silahkan saja, masing masing punya hak beropini, tidak dilarang. Pembaca blog saya bisa menilai kredibilitas komentar apalagi komentar yang datang dari orang yang tidak memiliki identitas.

    Mungkin malah sampeyan yang tidak teliti dalam melongok sejarah ….. hmmh

    Kelihatannya anda sangat memahami sejarah. Tapi sayang pemahaman anda tak kunjung bisa dipertanggung jawabkan karena simply tidak ada identitas subyek yang menjadi elemen penting dalam berdiskusi.

    Ada hal yang kontradiktif ketika saya baca disclaimer anda.

    Disclaimer mulut:
    Dibuatnya blog ini dilandasi oleh niat tulus dan baik. Tidak ada niatan untuk menyebar fitnah, menjelek-jelekkan siapaun atau pihak manapun apalagi untuk menyakiti saudara-daudara mulut setanah air.

    Niat baik tanpa identitas? Bagaimana mempertanggung jawabkannya? Tapi itu urusan anda. Sebagus apapun pikiran dan gagasan anda tak bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi kalau tercium aroma dislike pada Amien Rais atau siapapun. Anda bisa menyembunyikan identitas tapi tidak intensi.

  13. Ping-balik: Meretas Jalan Reformasi « Budayawan Muda

  14. Ping-balik: Tentang Soeharto « kang tutur’s weblog

  15. Terlepas dari apa yang menimpanya sekarang dan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu, bagi saya Soeharto adalah orang yang tetap mempunyai kharisma kuat. Meski umur dan penyakit menggerogoti ‘kegagahannya’.

  16. welgedewelbeh

    Begini lho bro …. sebelumnya mulut minta maaf kalau komen mulut yang lalu membuatmu tak berkenan. Mulut berharap perbincangan ini dapat menjadi contoh dialektika bermutu yang bisa mencerahkan pemahaman kita semua … anak-anak bangsa Indonesia.

    Soal tulisan anda yang mulut kutip, dan mulut ragukan apakah itu interpretasi anda sendiri atau orisinal dikutip dari pernyataan Amin Rais coba dilihat lagi deh. Meskipun anda telah berusaha meyakinkan kami — para pembaca blog anda — bahwa itu adalah otentik ucapan Amin Rais, tapi sampai detik ini mulut masih nggak yakin kalau orang sekaliber beliau akan luput kata sejauh itu. (baca lagi secara lengkap paragraf yang mulut kutip di komen ke dua mulut untuk posting ini).

    Mulut nggak percaya kalau Amin Rais sampai ngomong bahwa hal itu adalah “kesalahan kolektif seluruh bangsa Indonesia” (di sini disebutkan seluruh — bukan hanya tokoh yang punya pengaruh pada pak Harto) ataupun lanjutan kalimatnya ….. “yang hanya menjadi yes man dan tidak ada yang berani menyatakan perbedaan pendapat, seperti yang telah dilakukan oleh Amien Rais ketika Pak Harto masih berkuasa.” Masak Amin Rais memuji dirinya sendiri begitu ?.

    Mengenai mengikuti pemberitaan media masa nasional akhir-2 ini, mulut memang nggak bisa intens mengikuti soalnya sedang berada jauh dari tanah air. Sekali lagi mulut hanya memberi komentar paragraph tersebut berdasarkan tulisan saudara.

    Bagi mulut, Amin Rais adalah salah satu orang besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Memiliki jasa yang juga tidak sedikit bagi bangsa ini. Hanya saja, kalau beliau mau dimajukan sebagai bapak reformasi, lokomotif reformasi, atau orang yang paling berjasa meretas reformasi sejak dari awalnya maka mulut sangat keberatan.

    Soalnya mulut tahu sendiri bahwa tapak-tapak kecil menuju penggulingan Suharto 1998 dirintis jauh-jauh hari sebelumnya di kampus-kampus besar negeri ini mulai dari ujung timur negeri ini sampai ke ujung baratnya, termasuk juga di ITS Surabaya tempat mulut dulu menimba ilmu.

    Dimulai dari penanaman sikap kritis, (terima kasih atas inspirasi dari kang Jalal, Gusdur, Cak Nur, wimar, Budiman S de el el termasuk juga Amin Rais), keberanian menyampaikan kebenaran dan keadilan dan seterusnya yang mengintensif sejak pertengahan 1996 dan lebih intensif lagi sejak awal 1997. Dimana rapat-rapat rahasia yang rentan diendus intel sering digelar mencoba untuk menyamakan persepsi, dan mengkongkretkan langkah perjuangan reformasi. Beberapa rekan mulut adalah korban popor senapan seperti yang mulut ceritakan sebelumnya.

    Jadi jangan terlalu berpatokan pada apa yang disampaikan media mainstream saja. Terlalu banyak fakta yang tidak dicover oleh media ….. lagian media juga tidak bebas kepentinggan. Terutama kepentingan kapital yang merupakan selingkuhan abadi kekuasaan.

    Kalaupun saudara merasakan ada dislike mulut pada Amin Rais, mulut tegaskan intensinya disini bukanlah urusan like and dislike. Akan tetapi fakta historis perjalanan reformasi itu sendiri. Bagi mulut obyektifitas itu sangat penting dan selalu ingin mulut gunakan dalam beropini dan berargumen. Janganlah apa yang namanya like and dislike itu … menutup mata kita dari kebenaran.

    Penggunaan posting pertanyaan mulut sebagai dalih untuk menuduh mulut tidak obyektif terhadap Amin Rais (“tidak memahami jalan pikiran Amien Rais” dalam bahasa saudara) sungguh merupakan tindakan yang “kejam” he he he. Padahal intensinya adalah mengajak semua orang untuk bisa berempati dan tidak mudah menyesatkan golongan lain. (kalau baca posting tersebut — tidak sekedar judulnya saja — pasti memahami hal ini), kecuali bagi mereka yang belum paham.

    Mengenai non-identity subject yang mulut pilih dalam ngeblog, sebenarnya sudah cukup jelas di disclaimer yang mulut buat. Akan tetapi kalau anda meragukan hal demikian sebagai pilihan yang tidak bertanggung jawab, maka perlu mulut jelaskan lebih jauh di sini.

    Menulis tanpa identitas, bukanlah hal baru di dunia ini. Dunia sastra kita pun pernah mengalami fase dimana para penulisnya adalah anonim. Pilihan ini tidak membuat mereka dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan beberapa diantaranya adalah karya sastra yang luar biasa dan mendapat apresiasi yang tinggi.

    Bahkan kalau saudara ikut mengalir bersama zaman, dan aware dengan aliran jaman tersebut. Maka dunia intelektualisme bentuk baru tidaklah harus beridentitas. Ya … dunia maya Internet memaksa kita untuk memaknai ulang makna eksistensi manusia dan identitas kemanusiaan. dalam bahasa pak Ribut Wiyoto (coba lihat ke URL ini : http://lallement.com/discus/messages/3/5.html?1190790746 ) “internet dapat mewujudkan gagasan kebudayaan post-Filosofi”.

    Lebih Jauh lagi, dengan adanya internet, beliau mengatakan “telah terjadi perubahan konsepsi kemanusiaan” itu sendiri. Kasarannya “di internet, tidak ada yang tahu kalau Anda berwujud anjing” he he he. bener nggak?. Kalau kita mau jujur siapa yang bisa jamin kebenaran identitas seseorang di Internet?. Terlalu banyak kasus blog yang menggunakan identitas yang seakan-akan benar, dilengkapi dengan foto, dan nomor telepon de el el segala padahal itu palsu. Siapa yang tahu kalau mulut ini ternyata Amin Rais atau kang Jalal atau bahkan SBY he he he.

    Pertanggung jawaban secara intelektual di internet itu tercermin dari apa yang disampaikan dan kemauan untuk berkomunikasi. Sejauh anda bisa dihubungi, memiliki email address, tidak menutup komen dan berkata dengan bertanggung jawab maka itulah inti sikap bertanggung jawab secara intelektual di internet. Lebih jauh lagi secara moral … pertanggung jawaban itu sejatinya kepada Tuhannya sendiri-sendiri.

    Cara berfikir tentang tanggung jawab intelektualitas yang sekan wajib beridentitas mirip dengan bangsa barat, dimana sekarang mulut sedang menimba ilmu. Di dunia barat dibiasakan bersikap kritis, sayangnya sikap kritis itu salah satunya dimaknai sebagai “lihatlah siapa yang berbicara”. Jika ada seseorang membaca sebuah jurnal, maka initial assessment dari jurnal tersebut adalah siapa penulis jurnal itu, jurnal apa yang memuat, berapa banyak jurnal lain yang dia hasilkan, dari lembaga mana penulis itu berasal. Semua yang disebutkan mulut di atas digunakan sebagai judgment awal penentu layak tidaknya sebuah jurnal untuk dilihat lebih lanjut.

    Sikap kritis begitu juga boleh-boleh saja, akan tetapi kalau digunakan sebagai satu-satunya dasar judgment … maka kita akan rugi sendiri. Ibaratnya … bagaimana jika ada mutiara di dalam lumpur dasar laut yang kotor. Sikap kritis demikian hendaknya membantu kita melihat sebuah opini atau karya intelektual secara lebih komprehensif itu saja.

    Secara idealita, bangsa sebenarnya memiliki cara pandang yang lebih mulia akan obyektifitas intelektual. Telah sering diajarkan pada kita untuk melihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan. Itulah sebenarnya yang menjadi landasan filosofi blog mulut. Mendidik diri sendiri untuk menerima kebenaran secara apa adanya, yang bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja. Mulut kira tidak ada yang kontradiktif dalam disclaimer kami dan perilaku kami di blogospher.

    Terakhir, soal niat baik tanpa identitas. Jika saudara seorang muslim, bukankah hal demikian malah dianjurkan?. Ingat nggak ungkapan berikut : “kalau bisa tangan kirimu tidak tahu ketika tangan kananmu bersedekah”.

    Semoga diskkusi ini membawa manfaat bagi mulut, saudara Wibisono Sastrodiwiryo serta seluruh anak bangsa Indonesia.

    Jayalah Indonesiaku, Jayalah Bangsaku.

  17. npherryanto

    Senang menemukan tempat untuk berpikir dan berbicara merdeka.

    Saya sependapat dg bung mulut bahwa bung wibisono agak terobses dg amin rais. Tapi itu sih sah aja. Seperti saya juga punya tokoh yg saya kagumi. Wajar kalo saya juga mengedepankan pemikiran dari tokoh yg saya kagumi.

    Bagi saya Amin Rais adalah seorang cerdas, jujur tapi terlalu ambisius, kadang kekanak-kanakan dan arogan. Walau gaya bicaranya melembut tapi tetap tegas dan tidak dapat menyembunyikan kekerasan hatinya. Namanya juga manusia kan pasti punya kekurangan.

    Dulu saya sempat berharap pada kuartet Gusdur, Amin, Mega dan Sri Sultan. Walau semua punya kekurangan tapi jika dapat bersatu saya yakin dapat membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa ini. Tapi kemudian harapan saya buyar seketika.

    Kembali ke Soal peradilan Soeharto, saya juga setuju kalau Pak tua diberikan grasi. Tapi setelah menjalani proses persidangan dan mengembalikan harta rampokannya.

    Yang jadi masalah pasti semua kroninya akan pasang barikade agar perdilan itu tidak terjadi. karena mereka semua juga akan terseret arus deras menuju penjara.

    Tapi mungkinkah peradilan itu terjadi? Kayaknya sangat sulit bung. Sebab negara ini masih dikuasai oleh orang-orang orba. Dari Presiden, ketua MA, pimpinan DPR, Polisi, tentara sampai ketua RT.

    Sulit bagi saya untuk tidak bersikap apatis.

    http://opiniherry.blogspot.com/

  18. @Ratna:

    Pak Harto memang masih kharismatik bagi banyak orang.

    @npherryanto:

    Tapi mungkinkah peradilan itu terjadi? Kayaknya sangat sulit bung. Sebab negara ini masih dikuasai oleh orang-orang orba. Dari Presiden, ketua MA, pimpinan DPR, Polisi, tentara sampai ketua RT.

    Dulu waktu Reformasi juga mereka begitu. Tapi kita bisakan? Jangan patah semangat, apalagi apatis, tapi dengan berkomentar di Blog juga sebenarnya sudah menjadi bentuk perhatian loh, jadi anda tidak apatis sebenarnya.

    Thx for the comment🙂

    @mulut:

    Mulut nggak percaya kalau Amin Rais sampai ngomong bahwa hal itu adalah “kesalahan kolektif seluruh bangsa Indonesia” (di sini disebutkan seluruh — bukan hanya tokoh yang punya pengaruh pada pak Harto)

    Oh itu problem anda karena memang begitu faktanya. “Kesalahan kolektif” sebenarnya wacana lama yang sudah bergulir sejak 1997. Dalam berbagai media Amien Rais muncul dengan wacana itu.

    Tahun 1997:
    http://www.tempointeraktif.com/ang/min/02/39/nas2.htm

    Tahun 1999:
    http://www.mail-archive.com/siarlist@minipostgresql.org/msg00236.html

    Tahun 2000:
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0004/20/nasional/amie06.htm

    Tahun 2006:
    http://www.eramuslim.com/berita/nas/6518155921-amien-rais-sby-perlu-lakukan-tiga-langkah-tuntaskan-kasus-soeharto.htm?prev

    Tahun 2008:
    http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/05/time/142859/idnews/875218/idkanal/10

    Wacana “Kesalahan kolektif” tampil dalam berbagai text, entah itu “kesalahan 1000 orang MPR”, “kesalahan semua pihak”, atau “kesalahan kolektif bangsa” tapi konteksnya tetap “kesalahan kolektif”.

    Dan kebetulan text yang tampil di Today’s Dialogue MetroTV kemarin adalah seperti yang anda baca di Blog ini.

    BTW: Apa yang anda permasalahkan sebenarnya bukan substansi. Kelihatannya anda bermasalah dengan pemahaman.

    ataupun lanjutan kalimatnya ….. “yang hanya menjadi yes man dan tidak ada yang berani menyatakan perbedaan pendapat, seperti yang telah dilakukan oleh Amien Rais ketika Pak Harto masih berkuasa.” Masak Amin Rais memuji dirinya sendiri begitu ?.

    Nah, betul kan… anda tidak memahami kalimat sederhana diatas. Kalimat diatas tidak dalam quote jadi bukan kutipan langsung. Kecuali kalau dalam tanda kutip yang artinya kutipan langsung. Kelihatannya anda mulai out of focus.

    Bagi mulut, Amin Rais adalah salah satu orang besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Memiliki jasa yang juga tidak sedikit bagi bangsa ini. Hanya saja, kalau beliau mau dimajukan sebagai bapak reformasi, lokomotif reformasi, atau orang yang paling berjasa meretas reformasi sejak dari awalnya maka mulut sangat keberatan.

    Siapa yang perduli? anda bukan siapa siapa. Itulah lemahnya tak beridentitas.

    Soalnya mulut tahu sendiri bahwa tapak-tapak kecil menuju penggulingan Suharto 1998 dirintis jauh-jauh hari sebelumnya di kampus-kampus besar negeri ini mulai dari ujung timur negeri ini sampai ke ujung baratnya, termasuk juga di ITS Surabaya tempat mulut dulu menimba ilmu.

    Siapa yang percaya? bagaimana memvalidasi anda lulusan ITS dan sekarang sedang studi diluar negeri? Anda bisa saja ngaku ngaku dari ITB, ITS, UGM dst… bagaimana memvalidasi? itulah kelemahan tak beridentitas.

    Padahal intensinya adalah mengajak semua orang untuk bisa berempati dan tidak mudah menyesatkan golongan lain…

    …dalam bahasa pak Ribut Wiyoto

    Anda merujuk pada seseorang dengan identitas Pak Ribut Wiyoto. Pak Ribut Wiyoto berhasil mengajak anda berempati. Sekarang anda ingin mengajak semua orang berempati tapi tanpa identitas.

    Jadi begini bung. Semua orang yang kredible adalah beridentitas. Tanpa identitas tak ada kredibilitas. Bahkan orang yang beridentitaspun masih harus membangun kredibilitasnya dengan susah payah.

    Orang akan berempati, pertama tama yang dilihat adalah kredibilitasnya. Apa itu kredibilitas? baca deh:
    http://afatih.wordpress.com/2005/05/02/apa-itu-kredibilitas/

    Menulis tanpa identitas, bukanlah hal baru di dunia ini. Dunia sastra kita pun pernah mengalami fase dimana para penulisnya adalah anonim. Pilihan ini tidak membuat mereka dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan beberapa diantaranya adalah karya sastra yang luar biasa dan mendapat apresiasi yang tinggi.

    Kata siapa itu tidak dikatakan tidak bertanggung jawab? Yang sebenarnya terjadi adalah penyair yang memiliki nama samaran tapi mereka punya identitas bukan tidak punya. Kalau saya tanya karya sastra siapa yang mendapat apresiasi tinggi tersebut maka jawabannya anda harus menyebut identitas.

    Telah sering diajarkan pada kita untuk melihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan. Itulah sebenarnya yang menjadi landasan filosofi blog mulut.

    Boleh saja tapi bukan berarti menghilangkan identitas. Anda mengambil pendekatan yang keliru dan sah saja kalau orang mengira anda bermaksud lain. Tidak berani bertanggung jawab alias pengecut. Berikut saya tunjukan lagi kekeliruan pendekatan anda.

    Terakhir, soal niat baik tanpa identitas. Jika saudara seorang muslim, bukankah hal demikian malah dianjurkan?. Ingat nggak ungkapan berikut : “kalau bisa tangan kirimu tidak tahu ketika tangan kananmu bersedekah”.

    Makna tangan disitu adalah merujuk pada perbuatan dan bukan identitas siapa dirimu. Jika kamu memberi sedekah maka jangan sampai orang lain mengetahui perbuatanmu itu. Tapi siapa dirimu tentu harus diketahui. Kalau dalam dunia nyata cukup menampakan wajah dan senyum saat bersedekah.

    Orang bisa curiga bila anda bersedekah dengan menutup seluruh wajah dengan topeng. Itu juga hanya dalam konteks sedekah yang artinya sudah jelas perbuatan baik. Tapi dalam berdiskusi niat baik masih harus divalidasi.

    Kelihatannya anda suka mengutip nilai nilai dalam Islam seperti kutipan diatas. Tahukah anda Hadist Nabi dianggap kredible dilihat dari siapa yang menuturkannya. Kalau yang bertutur tidak beridentitas jangankan Hadist, berita biasa saja akan dianggap Hoax.

    BTW: Saya males membahas masalah anda ini, membuat postingan saya jadi tidak fokus. Anda tidak sedang berhadapan dengan saya tapi dengan norma masyarakat. Kemanapun anda pergi anda akan terbentur dengan masalah ini.

    …sebelumnya mulut minta maaf kalau komen mulut yang lalu membuatmu tak berkenan.

    Permohonan maaf andapun sulit saya tanggapi karena siapa yang harus saya maafkan? anda bukan siapa siapa. Anda sudah terjebak dengan filosofi anda sendiri. Permohonan maaf menuntut identitas, nurani anda membutuhkannya tapi terhalang oleh konsep pikir anda. Itu yang saya sebut kontradiktif.

    Anda bermasalah dan jangan bawa masalah anda kesini sebab ini bukan forumnya (OOT), kecuali nanti dilain waktu saya posting topik yang sesuai untuk itu.

    So, be somebody…

  19. kupasannya menarik,saya ga pernah kepikiran sampai disitu ttg drama berjudul SOEHARTO VS AMIEN RAIS,karena saya g doyan segala hal berbau politik,tapi ini keren..nice post!

  20. Ping-balik: Ternyata niat baik saja (dianggap) tidak cukup « Welgedewelbeh

  21. welgedewelbeh
    Well, karena saudara sudah malas membahas diskusi kita ini, mulutpun merasa tiada guna meneruskannya (di sini). Btw, mulut mengangkat masalah hidden identity ini di blog mulut. Semoga menjadi pelajaran berharga buat kita semua.

  22. Kepada Pemilik Blog,

    Siapa yang perduli? anda bukan siapa siapa. Itulah lemahnya tak beridentitas.

    Kalau bisa, jangan ad-hominem. Mengejek masalah pribadi itu seperti ketika anda tidak punya pistol untuk melawan.

    Hanya pendapat saya pribadi. Komentar lainnya saya nggak mau melebur kedalam artikel ini.

  23. @Mihael “D.B.” Ellinsworth:

    Kalau bisa, jangan ad-hominem. Mengejek masalah pribadi itu seperti ketika anda tidak punya pistol untuk melawan.

    Pribadi siapa? sebuah “mulut” tak punya pribadi yang dimaksud. Kalau misalnya Mihael adalah sebuah nama samaran saya masih bisa hargai karena anda memberi personifikasi untuk lawan diskusi anda. Tapi sebuah mulut? No my friend, saya tak melakukan ad-hominem.

    Baiklah, saya akan buat postingan untuk hal ini. Sudah capek berurusan dengan orang orang semacam ini.

    Mungkin diskusi identitas ini tak dilanjutkan disini karena OOT. Capek capek bikin postingan saya berharap ada diskusi tentang peradilan Pak Harto tapi karena ulahnya yang tak bertanggung jawab merusak ruang diskusi, masih bagus tak di banned.

  24. wah panas panas panas (gigi mode on😀 )

    Klo saya sih soal suharto itu lebih setuju statement Pak Hidayat Nurwahid, Ketika beliau ditanya apakah suharto layak dimaapkan, beliau malah balik tanya, dimaapkan soal apa? dalam hal apa?? khan belum jelas, maka supaya jelas lanjutkanlah proses hukumnya, setelah ada hasilnya baru ambil sikap mo ngapain..

    (wawancara televisi klo ndak salah🙂 )

  25. @mulut:

    Btw, mulut mengangkat masalah hidden identity ini di blog mulut.

    Ya sebaik begitunya, sebab disini forum untuk mbahas peradilan Pak Harto dan bukan mbahas identitasmu. Semoga berhasil diskusimu. Ini ada sekedar bahan renungan:
    http://fatihsyuhud.com/2007/08/29/scientific-and-credible-blogger/
    http://fatihsyuhud.com/2007/08/29/anonymity-and-credibility/

    @sstkr:

    Persis, jadi intinya peradilan dulu, setelah itu baru boleh mbahas maaf-maafan.

  26. tadi pas konsultasi, profesor ku tanya:
    “Mulia, mantan orang besar negara mu lagi sakit yah. saya liat di berita udah beberapa hari. dia pemimpin yang mengerikan kan, dia yang kejam dan jahat itu kan?”

    saya jawab:
    “ya well..bu, karena 32 tahun berkuasa jadi udah punya rezim sendiri. banyakan kejahatannya korupsi bu. tapi orang indonesia sangat mudah jatuh hati. jadi sekarang se indonesia lagi pada mendoakan beliau”

    prof saya bilang lagi:
    “Haaah?? masa, mendoakan? kok bisa?”

    saya bilang
    “iya bu, emang gitu orang indonesia. mudah jatuh hati, kasihan, memaafkan”

    kata beliau
    “ooo..”

    gitu wib, cuma mau cerita aja sih. maap ya panjang.

  27. Ping-balik: Watak Asli Keluarga Cendana « BLOGIE

  28. @mulia:

    Mungkin lebih pas dibilang sebagian rakyat Indonesia. Tapi saya ngerti sih nuansa emosi Lia waktu ucapin itu. Semacam protes khas Indonesia yang halus tapi kena, mungkin prof mu gak bisa nangkep itu yah? Am I right?

  29. hehe..iya kali ya. yang jelas aku kaget sih pas dia bilang “horrible..cruel president”..trus reflek aja jawabnya gt. aku gak mau sok nutupi keburukan bangsa tapi gak mau ikutan ngejelek2in juga sih kalo udah ketahuan jelek begitu. huehehe.

  30. Memang benar ada kesalahan kolektif – seperti yang disampaikan oleh Pak Amin Rais sendiri. Akan tetapi dalam negara hukum memang harus ada kepastian hukum yang hanya bisa dilahirkan dari keputusan pengadilan, dan bukan sekedar pemberian maaf.

    http://bisaku.wordpress.com/2008/01/15/kejahatan-kolektif-1000-anggota-mpr/

    * maaf promosi dikit🙂 *

  31. @mulia:

    Sebagai individu kita mudah saja bersikap tapi sebagai bangsa agak sulit, akan sangat teras kalau kita diluar negeri seperti mulia, kita dituntut bersikap sebagai wakil bangsa.

    @bisaku:

    Hari ini Pak Harto berpulang. Ternyata isyarat yang sudah dia berikan tak direspon dengan semestinya oleh bangsa ini, kita jadi kehilangan kesempatan untuk memberi maaf secara legal formal.

    BTW soal wacana “kesalahan kolektif”, bagi siapa saja yang mengikuti jalannya reformasi pasti tahu wacana itu, yang aneh kalau ada yang ngaku mengikuti proses reformasi tapi tak tahu wacana itu… hehe :-p

  32. Memang sayang sekali gak sampai diadili. Jadi ga ada putusan ttg kesalahannya.
    Jangan lupa bung, putusan salah atas Suharto juga penting untuk dapat menyeret kroni-kroninya.
    Selain itu anak cucu kita juga mesti dapat jawaban yang pasti, salah atau tidak???

  33. budi

    ngga sepantesnya amien rais di hormati…
    orang paling plinplan di indonesia senengnya jadi provokator
    berita kemarin, amien minta pemerintah lebih ngotot, soal buy back indosat, sibuk nyalahin pemerintah sekarang
    padahal indosat di jual seharga 5 trilyun, pas amien rais jadi ketua MPR Republik Indonesia…
    nah kenapa dulu ngga teriak sekenceng sekarang ini… apalagi dulu punya jabatan penting…
    mau cari muka buat pilpres..? orang juga pada nanyain kenapa jaman dulu dia diem aja waktu indosat di jual…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s