Drama Tilang Akhir Tahun

Lulu dan RianKemarin lusa tanggal 29 Des hari sabtu, saya dan kawan kawan mengunjungi seorang teman lama untuk selametan rumah barunya. Namanya Lulu, teman sekantor dulu di Cabinet. Sejak dia jadi pengacara di Lawfirm ternama itu kami pisah kantor.

Terakhir kali kami mengunjunginya waktu dia melahirkan anak pertamanya, Rian. Waktu itu dia masih tinggal di Rawamangun, sekarang sudah pindah ke Mampang dan kami diundang untuk makan makanlah dirumah barunya.

Bersama teman sekantor lainnya Afrie dan Adjie kami berangkat dengan hati riang akan bertemu teman lama dan pasti seru ngobrolnya. Dari rumah Adjie di Kampung Melayu kami meluncur ke Mampang lewat Casablanca. Dari Casablanca tembus ke Rasuna belok kiri lewat jalur lambat menuju arah Gatsu.

Tujuan saya adalah masuk ke jalur cepat. Jalanan cukup lengang karena hari sabtu. Dengan mudah saya dapatkan celah masuk ke jalur cepat dari jalur lambat. Itu adalah celah pertama yang saya temui sejak belok kiri ke Rasuna dari Casablanca.

Kira kira 50 meter didepan rupanya ada beberapa orang polisi berjalan agak ketengah dengan bahasa tubuh yang mengisyaratkan supaya berhenti. Saya masih tenang karena saya pikir mobil lain pasti melakukan pelanggaran hingga distop polisi. Tapi ternyata mobil yang distop adalah mobil kami.

Dengan agak bingung saya berhenti dan membuka kaca jendela, melongokan muka saya sambil bertanya “ada apa pak?”.

“Selamat siang Pak”, kata Pak Polisi sambil memberi hormat. Saya langusng tanya lagi “ada apa?”. Polisi menjelaskan bahwa saya masuk dari jalur lambat ke jalur cepat lewat celah yang salah. Celah itu untuk jalur cepat ke jalur lambat.

Adjie dan Afrie mulai ngeh tapi saya masih penasaran. Saya mikir sejenak dan bilang, “Tapi tidak ada rambu dilarang masuk tuh Pak?”. Polisi menjawab lagi dengan mengatakan bahwa celah itu juga termasuk rambu.

Saya baru ngeh bahwa celah masuk memang biasanya dibikin serong. Jadi kalau celah dari jalur cepat ke lambat dibuat serong kearah jalur lambat begitu juga sebaliknya.

Polisi kemudian menunjukkan contohnya tepat didepan kami yaitu sebuah celah masuk dari jalur lambat ke jalur cepat yang serong ke arah jalur cepat. Polisi bilang “harusnya anda masuk dari sini dan bukan dari sana”, sambil menunjuk ke arah celah kami masuk dibelakang sana.

Terlihat kami tertegun dengan urainya kemudian Polisi melanjutkan, “jadi begini pak, apakah bapak bisa hadir tanggal 15 untuk sidang?”. Kemudian dia melanjutkan, “saya bisa bantu pak asalkan bapak sama sama mengerti”. Afrie dibangku belakang mulai tidak sabar dan bisik bisik ke saya, “udehhh di mau dibayar kasih ajah…”.

Kami diskusi agak panjang, saya masih belum bisa terima dengan tuduhan pelanggaran ini, sebab celah yang kami masuki tadi tidak benar benar serong dan celahnya terlihat agak rusak akibat pembangungan infrastruktur Monorail dan lagi nyata nyata tidak ada rambu larangan masuk.

Kalau memang celah masuk yang serong itu juga bisa jadikan sumber hukum lalu-lintas yang dilanggar maka kenapa dapat saya temui celah masuk yang dilengkapi dengan rambu dilarang masuk? Tidak ada konsistensi aturan rambu lalu lintas.

Kemudian lagi jarak antara celah masuk cepat-lambat (yang kami langgar) dan celah masuk lambat-cepat (tempat Polisi berjaga) hanya berjarak kurang lebih 50 meter tapi kenapa Polisi menjaga di celah masuk lambat-cepat dan bukan di celah masuk cepat-lambat sehingga bisa mencegah mobil yang salah masuk?

Menurut saya ini terkesan seperti jebakan. Polisi sengaja membiarkan celah yang tidak jelas itu untuk menjebak pengendara yang tidak paham dan akhirnya salah masuk. Kalau memang demikian ini bisa digolongkan kejahatan. Bagaimana tidak mereka bertugas lebih dari dua orang tapi semuanya berjaga di celah masuk lambat-cepat untuk mencegat mobil yang salah masuk di celah masuk cepat-lambat.

Kami berdebat agak panjang. Saya mempersoalkan rambu yang tidak jelas tapi Polisi berdalih bahwa itu urusan dinas perhubungan. Baiklah kalau memang begitu. Tapi kalau niat Polisi adalah untuk menertibkan maka salah satu dari mereka seharusnya berjaga di celah yang tidak jelas itu. Yang mereka lakukan adalah semuanya numplek jaga di celah masuk lambat-cepat seolah olah menunggu mobil yang salah masuk dari celah yang tidak jelas itu sebagai mangsa.

Polisi itu bilang kalau memang tidak mau mengerti maka sebaiknya kami hadir pas sidang pengadilan. Saya tidak bisa terima tuduhan pelanggaran karena rambu yang tidak jelas dan berniat mencari keadilan di pengadilan. Tapi teman saya Adjie yang duduk di sebelah menasihati bahwa sidang tilang tidak bisa dijadikan media menegakkan keadilan. Sidang tilang itu hanya ketok palu dan bayar denda.

Saya teringat waktu Yusril Ihza Mahendra pernah ditilang dan waktu sidang Pak Yusril tidak mau menerima putusan bersalah kemudian menuntut agar Polisi yang menilangnya dihadirkan supaya bisa membuktikan bahwa dia memang bersalah melanggar aturan. Begitulah seharusnya proses pengadilan berlangsung. Namanya juga pengadilan harusnya tidak cuma ketok palu. 

Saya ini pengendara yang taat aturan. Jangankan siang siang di jalan protokol. Malam malam hingga dini hari di Jakarta Timurpun saya selalu taat. Saya bukan pengendara yang go with the flow, yang ikut nerobos lampu merah hanya karena pengendara lain menerobos. Saya akan berhenti walaupun diklakson dari mobil-mobil di belakang supaya segera menerobos lampu merah.

Saya tidak lakukan itu karena selain untuk keselamatan juga karena saya tidak akan punya argumen kalau distop polisi. Saya paling sebel lihat motor yang nerobos lampu merah atau jalan berlawanan arah masuk jalur orang lain. Sekarang saya mau ditilang dengan tuduhan melanggar aturan. Sakit hati rasanya.

Saya mau lanjut debat tapi Adjie udah keluarin dompet mau ambil lembaran 50 ribuan tapi Afrie lebih sigap dan mengeluarkan dua lembar 10 ribuan. Pak Polisi yang bernama Rinaldo dengan pangkat Serda (pangkat bengkok satu dipundak namanya apa yah?) itu dengan sigap menerkam duit dari tangan Afrie dan mengembalikan SIM saya dan STNK yang dia tahan. Sementara itu dibelakang kami sudah berderet deret mobil yang distop karena kesalahan yang sama. Tidak kurang dari 4 mobil di belakang kami.

Kami berlalu dari Jalan Rasuna masuk ke Mampang dengan perasaan yang sebelumnya riang gembira ingin bertemu teman lama menjadi BT abis nyumpahin tuh Polisi. Duh pak Polisi, kami tahu gaji Polisi itu kecil tapi jangan begini dong nyari duitnya. Masih banyak penduduk yang bergaji kecil juga. Jangan hanya karena kalian punya wewenang trus digunakan sebagai alat cari duit.

Saya sebel banget dan mikir apa sebaiknya hak tilang Polantas itu dicabut saja. Sebab orang orang sering kali merasa lebih aman dijalan raya tanpa Polantas. Ah tapi itu pikiran yang emosional, nantilah kita pikirkan lagi bagaimana sebaik sistem tilang yang baik.

Kalau sudah begini saya sepakat benar dengan hasil survei Todung Mulya Lubis bersama TII yang mengatakan bahwa Polisi masih jadi lembaga terkorup di Indonesia.

habis makan foto barengUntunglah perasaan BT itu segera sirna begitu kami sampai di rumah Lulu dan melahap santap siang yang dihidangkan tuan rumah. Saya nambah tiga kali sebagai bentuk pelampiasan dongkol saya (halah alasan ajah, bilang ajah laper). Tapi bisa jadi laper karena energi terkuras dengan kejadian tadi. Begitulah akhir tahun 2007 harus ditutup dengan drama tilang dijalan HR Rasuna Said dengan bintang tamu Serda Rinaldo.

Sayang saya tak sempat ambil fotonya karena tak terpikirkan. Mulai sekarang teman teman siapkan camera HP anda bila distop Polisi. Kalau terjadi drama tilang lagi kirim ke saya crita dan fotonya. Saya dengan hati memuatnya disini. Lebih spesifik lagi hati hati masuk jalur cepat dari jalur lambat di JL Rasuna setelah Casablanca kearah Gatsu, bisa jadi mereka masih bercokol disana menunggu mangsa berikutnya dengan menggunakan jebakan yang sama.

8 Komentar

Filed under curhat

8 responses to “Drama Tilang Akhir Tahun

  1. Libra(rian)

    Memang kalau terjadi seperti ini, ngeselin banget.
    Pernah terjadi pada suamiku di Bali beberapa tahun yang lalu (kena prit sebab “kesalahan” yang kurang jelas, SIM dll. mau diambil, untung aja saya berhasil dalam perdebatan bahwa suami saya nggak salah, dan seandainya kalau menurut Bapak Polisi dia salah sedikiiiiit aja khan nggak sengaja, yah mohon dimaafkan dll. dan kalau perlu bayar denda, kami bersedia ke kantor polisi membayarnya tapi minta kwitansi — mungkin si Pak Polisi ngalah karena penumpang/sang istri ngotot banget pakai bahasa Bali, dikira wisatawan kali, ha ha—).
    Sepertinya lingkaran setan, selama ada yang bersedia bayar untuk mempersingkat urusan, kesempatan pungli akan tetap dipakai polisi, dan selama masih ada pungli (karena memang gaji polisi kecil sekali dan repotnya kalau SIM diambil dll.) selalu akan ada yang bersedia mengorbankan beberapa puluh ribu rupiah demi “berdamai”.
    Semoga pengalaman anda tidak terlalu mengecilkan hati, dan “Selamat Tahun Baru 2008”.

  2. ballack

    udah jamak bin buanyak cerita serupa, yang perlu dipikirkan mungkin bagaimana bisa nyari keadilan kalau kita ditilang dengan sewenang2
    apa perlu dibentuk Solidaritas Insan Korban Aksi Penilangan oleh Polisi yang Sewenang-wenang (disingkat: SInK APPeS)…

  3. saya setuju bro ballack… kayaknya sudah saatnya bagi korban tilang yang dilakukan dg sewenang-wenang untuk mendapatkan keadilan…

  4. polisi polisi apa sih mau mu??!??

  5. Kalau merasa benar, seharusnya minta disidang aja…biar kalau niat polisi kurang baik, dia bisa gigit jari, karena kalau didenda tilang dan dibayar resmi, kan dana masuknya ke kas pemerintah.

  6. @Libra(rian):

    Iya memang seperti lingkaran setan. Selama ada yang mau bayar selama itu juga polisi pungli.

    Penyebab korban mau bayar karena repot harus urus sidang tilang dan ambil SIM. Sekarang gimana caranya penyebabnya itu dihilangkan. Ruwet, perlu kerjasama banyak pihak, sementara itu belum tercapai mending kita ajah yang extra hati hati nyetir ya Tante.😉

    @ballack:

    hahaha singkatannya lucu… sing apes artinya yang sial dlm bhs jawa… bisa ajah…🙂

    @mirws:

    Sama setuju bro… cuma pasti ditentang habis habisan ama polisi.

    @n1ghtfly3r:

    cari duit kali yah…

    @edratna:

    iya Tante betul, terutama kalau emang tujuannya menghindari praktek pungli. Cuma yah itu dia, mereka cukup ngerjain kita hanya dengan sedikit ulah, padahal kita yang harus ke sidang urus bayar denda segala macem.

    Sementara kita merasa benar tapi kok mesti harus ngaku salah, bayar denda dan repot urus sana sini waktu terbuang… pfhh tidak adil dan capek…

    Susah ya jadi korban kesewenang wenangan. Secara perlahan rasa sebel itu bisa terakumulasi dan suatu saat bisa meledak, ngeri juga bayanginnya.

    Pernah gak Tante denger kisah kalau perusahaan leasing tak mau kasih fasilitas leasing pada polisi? itu mungkin salah satu ekses dari praktik pungli oknum polisi.

  7. alah mas..pulisi mah emang gitu kan..apalagi pulisi daerah pantura..wuih,ganas..sabar ajalah..

  8. @stey:

    nggih mas, kulo sampun sabar, nek ra sabar wis tak kepruk pulisine… hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s