Polisi dan DPR Lembaga Terkorup

Todung Mulya LubisTadi malam saya nonton Today’s Dialogue di Metro TV dengan topik “Polri dan DPR lembaga terkorup tahun ini”. Topik tersebut diambil dari survey yang di lakukan oleh TII (Transparency International Indonesia), sebuah lembaga anti korupsi internasional yang melakukan survey di banyak negara termasuk Indonesia.

Dalam dialog yang dipandu oleh Najwa Shihab tersebut dihadirkan 3 orang narasumber yang mewakili masing masing pihak antara lain: Bung Efendi (Fraksi PDI-P) dari lembaga DPR, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto dan Todung Mulya Lubis dari ketua dewan pengurus TII.

Kesempatan pertama diberikan kepada Sisno yang kelihatan sangat gusar dengan hasil survey tersebut. Dengan kumisnya yang mirip kumis jenderalnya Saddam Hussein tersebut Sisno menanggapi secara emosional dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga survey tersebut fitnah, menyesatkan dan meracuni rakyat, seperti tai kucing yang bau kemana mana (padahal itu acara live di TV).

Kesempatan kedua diberikan kepada Efendi yang walaupun ikut mempertanyakan keabsahan hasil survey tersebut namun terlihat lebih tidak emosional. Bung Efendi hanya memberi penjelasan bahwa lembaga yang DPR yang dianggap korup tersebut tidak homogen seperti Polri yang merupakan satu korp kesatuan.

DPR itu terdiri dari berbagai macam unsur dari bermacam partai, fraksi, komisi, panitia dll. Sehingga kalau menyebut DPR harus jelas detil alamatnya supaya tidak terjadi salah paham tentang siapa yang dimaksud.

Kemudian giliran Todung yang menjelaskan bahwa survey itu dilakukan berdasarkan presepsi masyarakat dalam kehidupan kesehariannya. Berkali kali terlihat Sisno menyela pembicaraan Todung. Dengan berapi-api Sisno mencurigai TII sebagai sebuah lembaga yang ditunggangi oleh kepentingan asing untuk memojokkan pemerintah.

Todung membantah dengan mengatakan bahwa lembaga ini independen dan telah beroperasi di banyak negara termasuk Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Kemudian Sisno mempertanyakan siapa saja orang orang yang disurvey tersebut dengan gaya interogasi kepada Todung. Todung menolak menjawab sebab itu akan mengarah kepada intimidasi.

Kalau apa yang disampaikan oleh TII bukan hal tentang kepolisian maka mungkin saya masih bisa skeptis tapi kalau sudah menyangkut soal kepolisian maka sudah menjadi rahasia umum bahwa polisi memang korup dari jajaran tinggi hingga yang terendah. Bahkan warga asing yang melancong ke tanah air pun sudah mengetahui akan hal itu. Tapi Sisno bertingkah seolah olah bawah itu semua tidak benar kemudian sibuk memprotes hasil survey tersebut sambil marah marah.

Kemudian Najwa memperlihatkan video kiriman kameraman amatir yang menshoot seorang polantas menerima duit dari supir bis kota dipinggir jalan. Sisno kemudian memberikan teori bahwa keburukan tersebut memang masih ada tapi kenapa mesti diekspos begini dan kenapa sisi baik polisi tak pernah diekspos oleh media.

Sebuah teori yang menyedihkan. Media tentu akan mengangkat persepsi mayoritas di masyarakat yang masih melihat polisi belum bersih dan belum profesional. Jangankan cerita para sopir angkot atau bus, cukup cerita orang terdekat saja. Saya punya seorang adik yang bekerja dengan menggunakan sepeda motor. Setiap kali pulang kerja selalu saja bawa cerita tentang ulah polisi yang berusaha mencari cari kesalahan untuk bisa korup.

Tapi kenapa kok Sisno itu marahnya bukan main dan mengatakan itu semua tai kucing? Sok suci atau bagaimana? Pernyataan Sisno yang mengatakan informasi hasil survey itu membodohi dan meracuni rakyat adalah suatu sikap yang menurut saya melecehkan kecerdasan masyarakat Indonesia yang sudah punya pengetahuan yang sangat baik dan mendalam tentang praktik korupsi oknum polisi.

Lebih parah dari itu bahkan sempat Sisno membuat penilaian terhadap pribadi Todung. Sisno mengatakan Todung itu manusia macam apa yang cari makan dari membela orang dengan cara yang tidak konsisten yaitu dulu pernah menjadi pengacara pemerintah tapi dilain waktu menjadi pengacara untuk lawan pemerintah.

Todung mudah saja menjawab bahwa penilain Sisno itu tidak fair dan tidak relevan dengan dialog saat itu. Saya bukan mau membela Todung tapi ulah Sisno sama sekali tidak menguntungkan polisi yang ia wakili sebagai Kadiv Humas. Tindakan Sisno kontra produktif dengan usaha kepolisian membangun citra positif Polri dimata masyarakat.

Dengan sikapnya yang seperti itu terkesan Polri tidak mau mengakui adanya praktik korupsi yang masih sangat berakar di personel kepolisian yang bertugas melayani masyarakat. Dengan adanya sikap seperti itu bagaimana lantas mereka terpacu untuk menjaga tingkah nakal para oknum aparat yang sudah menjadi tradisi itu?

Saya bukannya mau apriori kepada polisi. Seperti kata Todung tidak ada yang menafikan bahwa polisi sudah banyak berbuat untuk memperbaiki diri. Tapi toh hasilnya belum berdampak banyak dimata masyarakat. Todung memberi perbandingan dengan lembaga TNI yang nuansa korupsinya jauh berkurang setelah perbaikan diri sekian lama sejak reformasi. Sekali lagi dengan apa yang dilakukan oleh Sisno maka di jajaran bawah kepolisian tidak merasa apa yang mereka perbuat adalah salah karena merasa di bela mati matian oleh Kadiv Humas mereka.

Saya tidak tahu apakah ini sikap resmi institusi kepolisian atau hanya semata mata sikap Kadiv Humas yang kurang cakap berhubungan dengan masyarakat. Akan sulit sekali memberantas korupsi kalau sikap aparatnya masih seperti ini. Saya bisa menebak nebak bahwa sikap Sisno mungkin hasil akumulasi tekanan dari petinggi polisi. Walaupun orang nomor satu di Polri: Jend Pol Sutanto terkesan kalem dan tidak marah marah seperti Sisno.

Mungkin mereka ingin lembaga kepolisian tak usah di soroti dengan cara begitu selama proses perbaikan diri mereka lakukan. Supaya nanti dikemudian hari tiba tiba saja masyarakat langsung melihat polisi yang bersih dan profesional. Kalau memang begitu berarti polisi belum bisa menerima aspek demokrasi dalam bernegara dan berbangsa. Masih bermental priyayi. Serba tertutup, tak mau transparan, apalagi di awasi.

Dalam era reformasi yang mengedepankan aspek demokrasi maka unsur akuntabilitas publik menjadi vital. Marilah Pak Polisi introspeksi diri. Harusnya polisi berterima kasih ada survey yang dilakukan oleh orang yang kredibel dan bisa memberi masukan bahwa kinerja polisi masih buruk dan korup dimata rakyat. Kami ingin dengar apa yang akan anda lakukan tentang hal itu dan bukan mendengar anda marah marah.

Artikel terkait: Polisi Sebar Intel di Kantor Transparansi Internasional Indonesia

20 Komentar

Filed under sosial, televisi

20 responses to “Polisi dan DPR Lembaga Terkorup

  1. kutu kupret

    Lho polisi kan emang harus galak mas dan nakut-nakutin ?? ga jauh beda kan ama preman ??
    (kuessell banget ama yang namanya polisi !!!).

    Oh iya salam kenal mas

  2. Jika Kadiv humas nya saja tidak mampu memberikan kesejukkan bagaimana dg para anggotanya ?????……

  3. Johan Suryantoro

    Melengkapi komen dari kutu kupret, di Indonesia ada kecenderungan bahwa menjadi polisi itu hanya pekerjaan sambilan. Pekerjaan utamanya? Preman, cari-cari kesempatan untuk memeras uang rakyat. Menegakkan hukum dan keadilan? Nanti dulu deh, gak menghasilkan beras sih.

  4. No comment! Udah banyak yang membahas, (dan sepertinya ?) udah jadi rahasia umum. Halah! Kok jadinya comment.. Heheehee…🙂

  5. Sekarang banyak orang tua cari menantu polisi… katanya duitnya banyak… Jadi sisno adiwinoto tidak hanya ditekan atasannya tapi juga mertuanya…

    Salam kenal

  6. Ping-balik: Drama Tilang Akhir Tahun « Budayawan Muda

  7. andi

    menurut saya dituduh lembaga terkorup karena POLISI juga telah banyak memproses kasus Korupsi, Berantas Judi, ILLEGAL LOGING, dan illegal 2 yang lain,bisa juga nuduh…orang 2 yang terlibat tersebut pada patungan buat biayain TII buat ” menghantam ” POLRI, dalam bahasa preman ” biar 1 sama ” gitu. siapa yang gak kenal todung…

  8. sujarwo tejo

    sekarang lihat sendiri dan teliti,apakah kesejahteraan polisi sudah terpenuhi.apakah cukup.coba TII untuk teliti dan susuri kehidupan anggota polisi,jangan hanya bisa mencari2 kejelekan.coba tanpa polisi apakah mampu masyarakat hidup dalam rasa tidak aman.fikir tugas polri sangat berat.tidak semua polisi korupsi,mungkin saja TII hanya survei kepada orang2 yang kena kasus.itu hanya oknum.ingat …

  9. sujarwo tejo

    ya sudahlah tidak semua polisi itu korupsi,coba hasil survey todung mulya lubis dan TII jangan memakai nama polisi saja,coba pakai kata oknum,lebih tidak menjelekkan institusi negara.apa sih kehebatan pak todung.coba teliti kerja anggota polisi yang sesungguhnya.apakah jalanan bapak menuju kantor berjalan lancar tanpa ada petugas yang berbaju coklat itu.coba di survey lagi jangan hanya mencari2 kesalahan polisi,survey juga keberhasilan nya.

  10. @sujarwo tejo:

    Betul mas Tejo, keluarga polisi memang belum sejahtera seperti banyak rakyat kita yang lain. Tapi tentunya itu tak bisa jadi pembenaran.

    Kemudian tentu masih banyak polisi yang baik (terutama yang fresh graduate) tapi kalau polisi yang baik ini terjun ke komunitas polisi yang korup maka bisa jadi mereka tertular korup juga.

    mungkin saja TII hanya survei kepada orang2 yang kena kasus.

    Ini prasangka, saya sendiri mengalami tingkah polisi yang korup itu. Mudah saja kok mengambil sample orang dijalan dan tanya kesan mereka tentang polisi.

  11. amrozi

    coba kita bayangkan negara ini tanpa kehadiran POLISI sembraut, berantakan g jelas lah
    ada polisi aja masih berani gimana kalo g ada polisi coba kita bayangkan!!!!
    gaji polisi malaysia kira2 10 kali gaji polisi indonesia (buat perbandingan)
    sejahterakan dulu polisi nya
    baru kemudian omongin macem2….!!!!
    saya bukan berpihak ke polisi
    tapi mari kita melihat sesuatu dari sisi yg lebih luas bukan hanya sisi2 sempitnya saja

  12. Darunawan Tandang

    Bener…Nggak boleh jadi pembenaran
    well..disisi lain kita appreciate dan bangga ma polisi.
    pembongkaran pabrik narkoba, terorisme dan lain sebagainya…thumbs up !
    tapi harus diliat pula kenyataan skeptisme masyarakat thd polisi. Dari awal udah salah…
    mo jadi polisi aja harus bayar sekian puluh juta, lantas kemana aja sih uang itu.masuk akal nggak sih? trus gaji polisi katanya gak seberapa makanya mereka berpola pikir kudu balikin modal.Ada pula yang niatan dari awal emang nyadar harus bayar sekian karena setelah jadi polisi nyalah gunain wewenang, bakal banyak obyekannya. ini nyata, beneran ada.Mata rantai ini harus diputus…
    mungkin harus diubah cara pandangnya, yang beginian (survey segala macem itu) jangan diliat sebagai hal yang menyudutkan, tapi karena kita ikut memiliki, berharap polisi sebagai institusi yang mengayomi – melindungi masyarakat, jadikan ini sebagai motivasi untuk membenahi. baik kinerja institusi maupun upaya penyejahteraan anggota.

  13. pyX

    ya……ada juga sih polisi yang baik.(walaupun memang banyak jg yang korup)
    tapi akan lebih sopan Mungkin Klo Pke Oknum….he…3x

    sadarlah wahai manusia………
    matinya cuma bawa tanah 2×1 m, kain secukupnya….
    sadarlah wahai………….

  14. The Alchemist

    Waaaaaahhh… Slamat yah kepada pihak KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA yg mendapatkan predikat LEMBAGA TERKORUP di negeri yg kita cintai ini.. Saya tidak menyangka bahwa orang yang seharusnya memberantas para KORUPTOR ternyata seorang KORUPTOR… (Waaahhh koruptor makan koruptor donk..)
    Yaaa skali lagi slamat deh.. Smoga amal dan perbuatan ANDA (APARAT KEPOLISIAN) dapat diterima di sisi TUHAN YME.. Amin..
    HIDUP KEPOLISIAN RI.. HIDUP KORUPSI!!!!!!
    MERDEKAAAA!!! (kapan kita bisa ‘MERDEKA’ yah??? ) -_-!!!!!????

  15. kupret berkutu

    pernah nich ada cerita kisah nyata
    konon ada seorang polisi mau melamar anak gadis. eeee malah ditolak , boleh asal dia mau berhenti jadi polisi.

    sikap yang agak sentimental kayak gitu tidak mungkin akan terjadi kalo bukan teramatbuanyaksekalinya oknum polisi yang korup.

    kalo cuma satu dua sih maklum lah orang kita2 kadang juga masih melakukan kesalahan (berbau korup).

  16. ANDIKA WIJAYA, S.H.

    SAYA PIKIR GAYA BICARA BOS SISNO YANG MELEDAK-LEDAK DALAM MENANGGAPI SURVEI TII (PIMPINAN T. MULYA LUBIS) BUKANLAH SIKAP YANG BIJAKSANA. SEHARUSNYA POLISI LEBIH BIJAK DALAM MENERIMA KRITIK. MARI AMBIL YANG BAIK DAN TINGGALKAN YANG BUSUK. MASALAH APAKAH TII DITUNGGANGI OLEH PIHAK-PIHAK TERTENTU ATAU TIDAK, HAL ITU BUKAN MASALAH YANG PATUT DIPERDEBATKAN. HAL TERPENTING YANG HARUS DILAKUKAN POLISI DAN JUGA DPR ADALAH MEMBUKTIKAN KEPADA RAKYAT BAHWA MEREKA BEBAS DARI KORUPSI, SUAP, PUNGLI, DLL YANG SANGAT BUSUK DAN MERUGIKAN RAKYAT. JANGAN HANYA BISA MEMBANTAH TUDUHAN LEWAT MULUT, TAPI BANTAHLAH JUGA SEGALA TUDUHAN DENGAN PIKIRAN DAN PERBUATAN. MARILAH BERSAMA-SAMA KITA BUKTIKAN BAHWA KORPS (KELOMPOK) MAUPUN INDIVIDU DI INDONESIA BEBAS KORUPSI, SUAP, PUNGLI, DLL. HAL YANG DAPAT KITA PETIK DARI DIALOK YANG YANG DITAYANGKAN METRO TV SECARA LIVE TERSEBUT BAGI SAYA BAHWA : NEGARA KITA BUTUH BANYAK WHISTLE BLOWER (PENIUP PELUIT) YANG MAU MEMBUKA DAN BERTERUS TERANG MENGENAI SEGALA KEBUSUKAN PEJABAT YANG KORUP KE HADAPAN PUBLIK YANG KARENANYA PARA PELAKU KORUPSI, SUAP, DLL TERSEBUT BISA DIPERIKSA DAN DIADILI OLEH PENGADILAN YANG BERWENANG BERDASARKAN ASAS KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM YANG SESUAI DENGAN TUJUAN PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI NEGARA KITA.

  17. Sudah saatnya polisi hijrah ke jalan yang benar, gak usah membela diri tapi harus ada aksi nyata semisal apakah buat sim, stnk, dan bpkb sesuai pnbp dan tdk ada pungutan tambahan, ayo pak pol harus bisa jadi contoh lembaga yang bersih jgn racuni anak istri anggota dengan penghasilan yang tidak baik..

  18. T. Hendra

    menurut hemat saya lebih baik kita mencari jalan terbaik dan bukan hanya mencari keselamatan pribadi, pa sisno saya yakin kok kalau bapak bicara benar akan lebih berarti daripada menutupi yang hanya akan menurunkan nilai bapak saja dimata kami semua, akui memang polisi masih kotor dan mengarah kepada perbaikan dan akui pula memang masih banyak pelanggaran, gak perlu pula keluar kalimat kasar, ingat bapak kan jendral yang harus jadi tauladan .. pernyataan pembenaran yang mengarahan kepada perbaikan sangat berarti bagi kami .. lha wong dari hati kami sendiri sebenarnya sudah bosan dengan uang haram .. tapi harus bagimana kalu diatas memberi contoh yang tidak benar selalu …

  19. POlRi…..lawhong dalam perekrutan untuk jadi polisi az nyogok,gmana mw bagus aparatnya,,,,orang yang sukarela dan memiliki rasa nasionalis tulus demi bangsa n negara yang ingin jadi polisi spt saya gak diterima dgn alasan jurusan sekolah gak match, alias suruh nyogok..kita org ga mampu cman modal ketulusan n keikhlsan dlam bkerja gi2t jari doank

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s