Perkenalan Dengan Google

Alif dan Ade Rai di Gym gulat SenayanAlif keponakanku usia 6 tahun kelas 1 SD dan baru bisa menulis. Tapi dia lebih lancar mengetik dikomputer daripada menulis pakai tangan. Baru baru ini saya memperkenalkan dia dengan sebuah teknologi baru yang membuat dia betul betul takjub.

Ceritanya dia sedang nginep dirumah. Sore hari karena libur dia mulai bosan. Siang sudah main ikan dan kura kura. Main sepeda sudah sampe keringetan. Mau disuruh mandi masih belum terlalu sore (masih jam 4, biasa mandi jam 5). Main game dikomputer udah dari tadi pagi, sampe bosen. Mau setel VCD Power Ranger gak ada yang baru, males.

Akhirnya dia mulai berulah. Masuk kamarku tanya ini dan itu. Saya sedang browsing di Google. Dia nyender disampingku sambil ikut ikutan mencet keyboard.

Trus aku bilang dengan pelan: “Jangaaannnn….”

Dia jawab: “Emang Om lagi ngapain sih?”

Kujawab singkat: “Kerja”

Dia tanya lagi: “Kerjannya ngapain? gitu doang kerja…”

Kubiarkan saja protesnya. Saya tahu dia minta perhatian dan ini kayanya bakal berlanjut. Kupikir dia bakal reseh pencet pencet keyboard lagi. Tapi rupanya dia memperhatikan monitor dengan seksama. Di monitor ada thumbnail hasil search di Google.

Rupanya dia tertarik sebuah thumbnail gambar motor balap. Trus dia tanya: “kok ada motor disitu?”, mau tak kujawab tapi kasian, gak tega, kalo aku jawab pasti panjang urusannya, bakal banyak pertanyaan susulan. Akhirnya aku memilih untuk total menjelaskan dari awal.

Aku mulai menjawab, “Jadi begini…”.

Dia kelihatan antusias karena aku memulai dengan kata kata yang serius.

Cerita aku mulai, “ini namanya Google, kita bisa cari apa saja dengan Google ini”.

Langung saja aku demonstrasikan.

“Coba kamu ketik apa yang mau kamu lihat!”

Dia kelihatan agak bingung. “Lihat apa yah?”, gumamnya.

“hmm… coba kamu ketik kelinci”, dia jawab, “kan kelinci Aep udah mati? emang bisa kelihatan?”.

“Bukan, maksudnya nanti bakal keluar gambar kelinci tapi bukan kelincimu yang sudah mati itu”, dia langsung ketik kata kelinci, kemudian tekan enter (dia sudah tahu kebiasaan kalau habis isi form field harus tekan enter)

Kemudian munculah beberapa gambar kelinci. Dari wajahnya terlihat senyum riang dan gembira, “hehehehe.. ada gambar kelinci…”, dia bilang begitu sambil nyengir.

Aku tantangin, “mau gambar apa lagi?”

Dia mulai serius dan antusiasnya bertambah. “Coba gambar sapi dan kambing?”, katanya. Saya bilang, “ketik ajah…”. Dia mengetik dengan semangat. Begitu keluar gambarnya, dia takjub lagi.

Kali ini saya langung ketik makanan kesukaannya “sate padang”. Keluar gambar sate padang yang bikin dia teriak, “Mantaaappp… hehe kok bisa ya???”.

“Kamu ketik apa saja nanti bakal keluar gambarnya”, saya yakinkan dia.

Dia menyergah, “hmm…coba ketik ikan.. eh bukan.. ikan lagi berenang di sungai”.

Ku jawab, “duh kok panjang bener? tapi bisa kok coba ajah”.

Setelah mengetik yang agak panjang lalu keluar gambar tapi tidak terlalu spesifik. Ada gambar ikan dan ada gambar sungai, tapi tidak ada gambar ikan berenang disungai yang dia maksud.

Saya sendiri tidak tahu maksudnya yang bagaimana. Saya ingin menjelaskan bahwa kata benda lebih akurat daripada kata kerja, tapi susah neranginnya. Tapi dia tidak kecewa, dia tetap semangat.

Dia coba berbagai benda kesukaannya seperti “Power Ranger, sepeda, es krim dll”, sambil tertawa tawa dia terus mencoba seperti dapat mainan baru. Saya yang sedang bekerjapun ikut menikmati kesenangannya. Kemudian mengetikan sebuah kata aneh: “tai otok”.

Tapi pas mengetik kata itu dia sudah tidak kuasa menahan tawa. Pas di klik ternyata tidak ada gambar tai. Sambil tertawa dia tanya, “kok gak ada gambarnya?”, saya jawab “kalo yang jorok jorok dia gak mau…”, “oh gitu yah”, sergahnya.

“eh coba coba… hmm hihihihi.. coba itu.. hihihi… hahahaha”

Dia pun mblungker ke tempat tidurku sambil tertawa terbahak bahak…

“Apa…, mau masukin kata apa?”, tanyaku?

Dia tak kuasa menjawab, setiap kali mau ngomong pasti jadi ngakak.

Ibuku sampe melongok ke kamar dan tanya apa sih yang ditertawai si Alif.

Aku ikut tertawa tanpa tahu apa yang dia tertawakan, entahlah.. lucu itu menular tanpa sebab. Setelah agak tenang dia bisa menjawab sambil bisik bisik, “choba thithit bisa gak…?”, karena kurang jelas aku tanya lagi, “apa?”, kali ini lebih jelas, “coba cari gambar titit… hihihihi”, aku kontan bilang, “Hushhhh… gak boleh…”, dia pun tumbang lagi ketempat tidur sambil guling guling ngakak, “wakakakakakakak……”

Setelah itu dia diseret keluar oleh neneknya dalam keadaan tertawa untuk dimandikan. Selama mandi dia cerita pada neneknya punya mainan baru yang namanya Google, bisa buat cari apa saja yang kita mau, sakti sekali katanya.

Setelah mandi dia masuk kamarku lagi dan minta main Google lagi. Aku bilang ntar ajah Om masih kerja. Dia merengek terus, aku bilang Google capek dia mau istirahat dulu. Aku matikan notebook dan kita keluar bersama anter ibuku (neneknya Alif) ke Indomaret buat beli sesuatu. Selama perjalan yang dibahas Alif tidak lain: Google.com

22 Komentar

Filed under curhat

22 responses to “Perkenalan Dengan Google

  1. untung belom minta yang lebih dari t*t*t… hahahahaha

  2. Kelakuannya sama dengan ponakan saya di rumah , he..he..he..

  3. @anggun: dia tahunya cuma itu, kalo om anggun mah udah tahu yang lain yak… ? hehe

    @landy: anak anak semua sama kali ya.

  4. pasti omnya yg ngajarin kata t*t*t.🙂

  5. Gak sama, aq baru kenal internet SMA, jadi gak sempat pas anak2 mainan google

  6. Gak sama, aq baru kenal internet SMA, jadi gak sempat pas anak2 mainan google

  7. @yanuar: enggak kok, bener dia sendiri yang punya ide.

  8. hwekekekekekekek
    *nguakak aku baca ceritanya* 😆 😆
    tapi nggak baek lho……….!
    masih kecil…….seumuran dia rasa penasaran mesti tinggi buangeds…
    hati2 ntar pas mas nggak ada dia malah buka ayumi hamazaki lagi nude gimana? khan repot…….. 😆

  9. mahma mahendra

    untung diajarin cuma google. coba diajarin browsing yang lain.hehehe… . bercanda om.

  10. @abee: wah saya sendiri gak tahu ayumi itu siapa, yang penting kalo untuk anak anak pengawasan, jangan biarkan dia main sendiri. jangankan main internet, nonton TV pun jangan dibiarin sendiri.

    @mahma mahendra: ntar kalo dah ngerti diajarin programing bikin web

  11. anak-anak zaman sekarang sama semua yach, keinginan tahunya lebih besar dari anak zaman dahulu. Dilarang sekali ga mempan. Tapi hati-hati sama pencarian di searching, misalnya Naruto itu ada Naruto xxx. Pas di searching yang gambar, semuanya tampak. Jadi kalau anak-anak memang kita harus duduk bareng sama mereka.

  12. hehe..
    aq jg ada pengalaman yg agak ‘saru’
    pas dia minta liat gambar balon
    aku ketik balon di google
    eh taunya yg muncul gambar balon yg laen
    wahhh bukannya seru malah jadi ‘saru’ tuh

    hati-hati ya

  13. Betul. Anak-anak harus selalu didampingi. Tadi aja saya search gambar kacamata, yang nongol gambar yang bikin Alif ketawa…

  14. Libra(rian)

    Dunia anak-anak jaman sekarang memang unik. Seakan-akan dari lahir nggak takut sama tombol keyboard, cepat sekali nangkap caranya pakai komputer dan main komputer games. Giliran bikin P.R. untuk sekolah, cari informasi untuk referensi juga maunya yang secepat-cepatnya yaitu dari Internet. Ini saya alami dengan anak-anak saya sendiri, dengan murid saya di taman kanak-kanak, dan dengan murid di perpustakaan. Di taman kanak-kanak, murid sudah menggambar di computer. Di sekolah, belajar mengeja dan kali-kalian pakai elektronik gadgets, matematik pakai kalkulator yang canggih. Dan si mama maupun si guru terpaksa tergopoh-gopoh mengejar belajar teknologi komputer, supaya bisa membimbing/mengajar dan nggak ketinggalan jaman.

    Dengan adanya revolusi informasi besar-besaran sekarang ini, anak-anak memang perlu sekali bimbingan agar dapat mencari data secara efisien dan mampu menyaring, menganalisa dan mengambil kesimpulan yang relefan dari informasi bertubi-tubi yang didapatkannya di Internet misalnya di Google. Karena banyak yang nggak akurat, lebih-lebih di Wikipedia. Jadi mereka dari kecil sudah harus dididik mempertanggung jawabkan info yang dipakainya dengan mengkuote dari mana info itu didapat. Meskipun hidup mereka boleh dikatakan lebih gampang dari hidup kita jaman dulu (dulu saya cari informasi harus ngumpulin clippings, pinjam buku dll), anak-anak sekarang malah mempunyai tugas yang lebih berat dan kompleks dibandingan kita dulu.

    Kebetulan saya pernah bekerja di suatu perpustakaan anak-anak, dimana memang ada banyak sekali buku, tetapi juga banyak komputer, yang data-base Internetnya sudah disaring, dengan links yang diformat sedemikian rupa sehingga kalau anak-anak “search” dapat info yang sesuai dengan usianya. Kebanyakan anak-anak kalau ke perpustakaan langsung aja ke komputer. Sebagai librarian, saya dan teman kerja sangat bertugas untuk mengajar mereka mencari informasi dari buku dengan mencari titel buku yang relefan dari OPAC/on line catalog), lalu dicatat: sambil belajar menulis/mengeja, lalu bagaimana caranya mencari dan mendapatkan buku itu dari rak buku. Kebanyakan anak-anak lemah sekali dalam apalan alphabet, padahal untuk mencari buku dari rak, apal alphabet itu yang paling penting, “A” sebelum “B”, lalu kalau nyari “Z” silakan diujung sana. Memang ini untuk mereka memakan waktu, tapi penting juga mereka mengerti dan bersabar dengan yang yang istilahnya “proses”: mencari, mendapatkan, membaca, membandingkan, menganalisa, mengkritik dan mengambil kesimpulan. Jadi harus menyediakan waktu untuk berpikir dan mencernakan. Bagus kalau fasih dan senang membaca. Biasanya maunya yang cepet-cepet saja, instant results dari Internet. Memang banyak pengalaman lucu dengan anak canggih komputer. Pernah anak saya kehilangan sesuatu dikamar, saya tanya: “Sudah dicari betul-betul belum?” Jawabnya “Sudah, seluruh kamar saya scan , nggak ketemu”. Mama: “Kalau gitu, musti rajin beres-beres dong biar nggak sering kehilangan” Anak: ”Kamar udah saya beresin, Ma, malah sudah saya reformat susunan perabotnya”. Lucu tapi pingin saya cubit juga.

    Saya masih punya mesin tik jaman bahula, yang pakai pita, terus kalau sudah sampai diujung kertas, ada bunyi bel “Ping!”, terus harus didorong dengan telunjuk tangan kanan, kembali keawal kertas/baris kemudian yang berbunyi “jegleg”. Pernah saya perlihatkan kepada murid, (generasi lahir akhir tahun 90-an) wah mereka terpesona sekali. Komentarnya: “Wah printing-nya instant, nggak usah pilih dan click “print” di menu!  Belum lagi komentar lain teman anak baru baru in.i (yang padahal sudah berumur 23 tahun): ada yang memberi kami tape recorder bahula (reel to reel), dengan pita/gulungan tape/rekaman jaman dulu (sebelum cassette). Si pemuda bugar waktu melihat gulungan pita tape besar itu lalu bertanya lugu: “Wah ini diskette format apa ya?”

    Kamera saya masih yang pake film. Saya pakai di kelas taman-kanak-kanak, lalu setelah mereka berpose, dan “click” selalu ada yang nanya “Lihat dong, tante” (karena mereka terbiasa dengan digital). Saya bilang nggak ada screennya, ya mereka nggak ngerti! Tante ini kuno sekali!

    Meskipun memang alat-alat canggih ada gunanya, memakainya juga sebaiknya jangan asal pakai tanpa berpikir. Pernah di toko souvenir di Bali saya membeli oleh-oleh; saya bilang, “Beli sepuluh unit ya Pak”. Harganya satu unit Rp.9000. Nah si Bapak langsung aja meraih kalkulator: 9000 x 10 = 90.000. Saya nggak tahan, sehingga komentar, “Bapak, sebenarnya, kalau kalian 10 itu, nggak perlu pakai kalkulator, tambah saja angka nol dibelakang; dan kalau kalian seratus, tambah nolnya dua”. Si Bapak dengan senyumnya yang super manis dan lugu, menjawab: “Oh iya, Bu tapi saya pakai kalkulator supaya betul-betul yakin bahwa hasilnya benar”. Nah….lebih percaya mesin atau diri sendiri? Atau mungkin isi-mengisi, biar takut disalahin boss kalau nyetor duit kurang kali.

    Kadang-kadang saya sayangkan masa kecil anak sekarang (lebih-lebih yang tinggal di kota-kota metropolitan misalnya Jakarta) begitu berbeda dengan dulu. Saya yang masih jaman belajar berhitung di SD pakai lidi yang diikat sepuluh-sepuluhan, main kelereng atau karet gelang dipekarangan, main layangan yang bikin sendiri (benangnya pake digelasin biar menang kalau berlomba, lalu benang dikeringkan dengan diputar-putar sekeliling serumpun pohon pisang,). Main masak-masakan pake api bener, yang dimasak tahu nggak apa: bekicot dan ikan kecil yang ada titik perak dikepalanya, yang ditangkap sendiri di sawah! Saya bersyukur dan sangat berterimakasih pernah mengalami yang demikian bahagianya. Nggak pake sandal seharian, main sepeda-sepedaan naik turun bukit dibawah pohon bambu sampai senja. Makin kencang turun bukit naik sepeda, makin asyik, terus sampai diujung bawah bukit, harus banting stir express, karena ada sungai! Herannya orang tua nggak pernah marahin kalau main sampai di yang istilah Balinya masuk ke bet-bet. Memang dulu keadaan masih sangat aman dan kami banyak temen, jadi selalu segudang yang main. Jaman sekarang anak-anak agak terisolasi, lebih-lebih kalau tinggal di apartemen urban, mainnya sama komputer atau nonton TV atau DVD. (Videotape mah kuno!). Ada yang masih tahu nggak ya yang namanya main “bikel”. Saya ingin sekali menulis buku anak-anak mengenai mainan anak Indonesia tempo dulu supaya kebudayaan ini nggak terlupakan tapi saya lupa-lupa ingat judul dan peraturan-peraturan permainan tersebut. Dilain pihak mungkin sudah ada yang menulis buku dan mengumpulkan data permainan anak. Kalau ada yang tahu adanya buku tersebut, mohon saya diberitahu judulnya dan siapa pengarangnya, saya ingin beli satu buat kenang-kenangan. Dan kalau ada yang ingat mainan masa kecil asyik, saya tunggu postingnya disini!

  15. @auliahazza:

    wah bahaya juga ya idola anak anak yang dipakai juga oleh orang dewasa, tinggal kasih xxx saja. saya juga pernah lihat tuh Snow White and the Seven Dwarfs tapi isinya porn, wah bahaya sekali.

    @khema:

    extra hati hati pilih keyword mbak

    @Ratna:

    Hi Rat, loh anakmu Alif juga toh namanya, sama dengan ponakanku dan ponakananya si Mulia.

  16. @Libra(rian):

    Wah terima kasih Tante Lib atas sharing pengalamannya didunia pendidikan.

    Di sekolah, belajar mengeja dan kali-kalian pakai elektronik gadgets, matematik pakai kalkulator yang canggih.

    Sukurlah sekarang disekolah Alif juga diajarkan metode berhitung dengan menggunakan cempoa. Jadi bisa terhindar dari ketergantuangan pada mesin hitung elektronik. Sebab konon katanya kalau sudah mahir menggunakan cempoa maka alat tersebut bisa dibayangkan saja.

    Karena banyak yang nggak akurat, lebih-lebih di Wikipedia.

    Betul Tante, Wiki itu ditulis oleh semua orang jadi suka suka yang nulis. Tapi kalau untuk referensi yang sifatnya umum masih bolehlah dan hanya sebagai bahan pembanding.

    Pernah anak saya kehilangan sesuatu dikamar, saya tanya: “Sudah dicari betul-betul belum?” Jawabnya “Sudah, seluruh kamar saya scan , nggak ketemu”. Mama: “Kalau gitu, musti rajin beres-beres dong biar nggak sering kehilangan” Anak: ”Kamar udah saya beresin, Ma, malah sudah saya reformat susunan perabotnya”. Lucu tapi pingin saya cubit juga.

    ha ha ha… untung anak Tante gak bilang begini: sudah saya search di Google tapi gak ketemu… hehe. Soalnya joke begitu sering kita pakai dikalangan anak IT. Misalnya ada yang laper dan ngajakin makan, temennya yang belum laper santai aja njawab: laper? nasgor.com, gadogado.com.. dst…

    Komentarnya: “Wah printing-nya instant, nggak usah pilih dan click “print” di menu!

    Adik saya yang bontot (27 tahun) baru pindah kerja ke sebuah BUMN yang masih pakai printer dot matrix dan dia mengeluh karena berisiknya minta ampun, rupanya yang dia tahu cuma printer inkjet yang gak berisik itu.

    Kamera saya masih yang pake film. Saya pakai di kelas taman-kanak-kanak, lalu setelah mereka berpose, dan “click” selalu ada yang nanya “Lihat dong, tante” (karena mereka terbiasa dengan digital). Saya bilang nggak ada screennya, ya mereka nggak ngerti! Tante ini kuno sekali!

    hahahaha.. emang begitu anak anak selalu mau minta lihat preview di camera kita. Si Alif juga begitu, saya paling sebel kalau dia minta lihat perview begitu. Malah dia tahunya setiap HP itu pasti ada kameranya padahal kan tidak selalu, jadi dia pernah minta foto sama kerabat yang HPnya tak berkamera, saya jadi malu. (kenapa juga saya harus malu yah? ah tapi itu perasaan gak bisa diterangkan)

    Si Bapak dengan senyumnya yang super manis dan lugu, menjawab: “Oh iya, Bu tapi saya pakai kalkulator supaya betul-betul yakin bahwa hasilnya benar”.

    Wah si bapak ini mah kebangetan… gak lulus SD kali yah? Tapi mungkin karena manja. Adik saya yang bonton juga begitu, manja.

    Jadi pernah kami sekeluarga mau keluar rumah, semua sudah naik ke mobil tapi ada barang yang ketinggalan, nah karena dia duduk dipinggir dia ditugasi mengambil barang yang tertinggal tersebut, tapi sampe di dalam rumah dia telp ke HP ibu untuk tanya posisi barang itu. Padahal apa susahnya jalan sebentar keluar untuk melongok dan tanya… manjaaaa…

    Saya bersyukur dan sangat berterimakasih pernah mengalami yang demikian bahagianya.

    Wah saya juga masih mengalami kurang lebih yang Tante alami senangnya bermain di alam semasa kecil. Bermain di alaam itu sangat menyenangkan. Ponakan saya sebenarnya sangat antusia diajak main ke alam seperti ke pantai Anyer atau taman tapi waktu untuk itu terasa kurang karena aksesnya juga sulit (jauh) dan butuh waktu. Walhasil anak anak sekarang hanya bisa senang kalau diajak main ke Mall, padahal kalau mereka diajak main ke alam juga senang sekali tapi jarang dapet kesempatan itu.

    Kita jaman kecil dulu mendapatkan semua itu bak putra-putri Raja, jadi sebenarnya semuanya itu adalah kemewahan yang dulu mungkin tak kita sadari, sekarang untuk bisa begitu mahal sekali dan menjadi barang mewah.

    Ada yang masih tahu nggak ya yang namanya main “bikel”. Saya ingin sekali menulis buku anak-anak mengenai mainan anak Indonesia tempo dulu supaya kebudayaan ini nggak terlupakan tapi saya lupa-lupa ingat judul dan peraturan-peraturan permainan tersebut

    Saya gak main bikel karena itu mainan anak perempuan. tapi saya masih ingat, sebuah bola karet dengan beberapa anak buah terbuat dari logam kuningan kecil kecil yang nanti dibolak balik sesuai ritme pantulan bola karet tadi.

    Nanti saya tanya sama adik saya yang cewek (mamanya Alif) tentang permainan itu dan akan saya tulis aturan mainnya.

    Memang ada baiknya semua kekayaan budaya kita kita tulis supaya tidak diklaim sama tetangga kita yang ramah itu😉 Sekarang permainan congklak sudah diklaim sebagai permainan mereka padahal congklak adalah permainan kita.

    Tante, ngomong soal bekel, saya jadi sadar bahwa permainan itu sudah jarang dimainkan anak anak perempuan sekarang. Adiknya Alif, Rani namanya tak tahu apa itu bekel. Sangat memprihatinkan padahal permainan bekel menurut para ahli sangat bagus untuk melatih koordinasi motorik anak anak. Lebih bagus daripada computer game.

    Saya suka protes pada mamanya Alif jika membelikan VCD Power Ranger setiap kali Alif merengek untuk dibelikan. Video itu diputar berkali kali tanpa bosan, sampai hafal adegan demi adegan, apa gunanya semua itu?

    Ini ada sebuah artikel tentang permainan modern yang bermasalah:
    http://www.indomedia.com/intisari/1998/januari/mainan.htm

  17. Libra(rian)

    Ha! Ternyata di Google ada:

    “Congklak” (nama lainnya “Mancala”) ternyata mainan “internasional”, terutama dipakai di Afrika dan Asia. Asal usulnya diduga dari Afrika (Ethiopia).

    “Bekel” ternyata masuk Indonesia dari Belanda (Bikkelen) tapi asalnya dari Yunani jaman dahulu kala dimana orang menebarkan segenggam kotoran kambing (Ha!) untuk meramal nasib. Ternyata dukun Yunani meramal masa depan dengan cara melihat bagaimana jatuhnya biji kotoran itu di tanah.

    Google, I love you!
    xxxxx

  18. Libra(rian)

    N.B.: Trims lho atas tanggapan terhadap komentar saya sebelumnya.

    “Jadi pernah kami sekeluarga mau keluar rumah, semua sudah naik ke mobil tapi ada barang yang ketinggalan, nah karena dia duduk dipinggir dia ditugasi mengambil barang yang tertinggal tersebut, tapi sampe di dalam rumah dia telp ke HP ibu untuk tanya posisi barang itu. Padahal apa susahnya jalan sebentar keluar untuk melongok dan tanya… manjaaaa…”

    HP itu memang sudah bagian integral dari hidup muda-mudi. Anak saya juga demikian; waktu sekolah khan sudah bertemu teman seharian, sebenarnya bisa bercerita atau nanya sesuatu secara langsung, tapi dari halaman, gang, kelas yang satu ke yang lain, tilpun-tilpunan atau SMS pake HP. Terus sampai dirumah langsung nilpun teman sekolah lagi, nanya “What’s up?”. Ternyata banyak sekali yang terjadi di waktu antara pulang sekolah dan sampai dirumah (setengah jam), jadi harus segera berbagi berita. Lebih-lebih SMS, saya takjub sekali pembantu-pun sekarang pagi-pagi sudah ada SMS masuk di HPnya (pacaran)! Praktis juga dan dia bisa ngetik SMS cepat sekali sambil cuci piring.

    “ha ha ha… untung anak Tante gak bilang begini: sudah saya search di Google tapi gak ketemu… hehe. Soalnya joke begitu sering kita pakai dikalangan anak IT. Misalnya ada yang laper dan ngajakin makan, temennya yang belum laper santai aja njawab: laper? nasgor.com, gadogado.com.. dst…”

    Di Google ada gado-gado.com (51). Siapa tahu salah satunya restoran bisa pesen on-line dan diantar ke tempat kerja! (Seperti Pizza).

    “Tante, ngomong soal bekel, saya jadi sadar bahwa permainan itu sudah jarang dimainkan anak anak perempuan sekarang. Adiknya Alif, Rani namanya tak tahu apa itu bekel. Sangat memprihatinkan padahal permainan bekel menurut para ahli sangat bagus untuk melatih koordinasi motorik anak anak. Lebih bagus daripada computer game. Saya suka protes pada mamanya Alif jika membelikan VCD Power Ranger setiap kali Alif merengek untuk dibelikan. Video itu diputar berkali kali tanpa bosan, sampai hafal adegan demi adegan, apa gunanya semua itu?”

    Makasih dan salam perkenalan buat Alif, Rani dan mamanya. Memang kita nggak bisa paksakan anak-anak sekarang mainnya sama seperti kita dulu. Kita hanya bisa memberikan pilihan yang “balanced”, misalnya yang hi-tech boleh, yang sedikit alami juga disodorkan. Alif khan pernah punya kelinci? Bagus juga khan?
    Saya nggak apal Power Ranger akan tetapi kalau kuatir akan gunanya bisa aja anak-anak diajak berdiskusi mengenai yang terjadi di film itu, bahwa sebenarnya khan adegan belaka dll. Di TK saya ada satu anak laki (4 tahun), wah saking terpengaruh film action perang-perangan/perkelahian, dia itu nggak bisa main biasa-biasa seperti anak lainnya: penggaris otomatis jadi pedang, pensil jadi pistol laser, di TK, seharian dia lompat kanan lompat kiri, teriak “serbuuuu”. Hyper sekali. Konsentrasi hanya bisa 2 menit. Akhirnya ketahuan ternyata dia punya kakak (12 tahun) yang selalu nonton film action dan main komputer games. Adiknya ini sebenarnya masih terlalu muda untuk sering ikut melihat yang demikian sehingga pengaruhnya ekstrim sekali.

    Dan iya: “Google, I love you, tapi cintaku bukan cinta buta ya Google”.

  19. @Libra(rian):

    Iya bekel memang dari Belanda namanya Bikkelen. Kalau Congklak dari Ethiophia saya kurang tahu, hebat juga ya Ethiophia.

    Di Google ada gado-gado.com (51). Siapa tahu salah satunya restoran bisa pesen on-line dan diantar ke tempat kerja! (Seperti Pizza).

    Kalo gak salah di Indonesia udah pernah ada yang kasih layanan begitu tapi sekarang masih online gak yah, bukan berbasis brand restoran tapi layanan terpisah jadi bisa pesen makanan di restoran mana saja sekitar kuningan dan sudirman Jakarta, trus pesanan dianter bayar ondelivery.

    …penggaris otomatis jadi pedang, pensil jadi pistol laser, di TK, seharian dia lompat kanan lompat kiri, teriak “serbuuuu”. Hyper sekali.

    Wah si Alif juga begitu tuh, Om Om nya sampe kewalahan ngelayani.

    Dan iya: “Google, I love you, tapi cintaku bukan cinta buta ya Google”.

    Ada satu lagi Tante, layanan Google juga tapi bisa menghasilkan uang, namanya Google Adsense, ini fasilitas google untuk pasang iklan di Blog kita, sayang WordPress gak boleh Adsense, kalau boleh saya udah pasang kali.

  20. Wah .. kalo anak saya si Fatih, hobinya minta diliatin ‘trek tengki’, ‘trek gandeng’, ‘bes’, dan ‘mobil wid da dii’ (depan rumah ada sopir angkot namanya Widadi, angkotnya biasa dibawa pulang).

  21. Libra(rian)

    Google Earth juga menakjubkan. Ketik alamat, kota, negara, terlihatlah bangunan/rumah itu. (foto satelit).

  22. Thx Goog, bukan Thx God! Hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s