Klarifikasi Yusril

Yusril Ihza MahendraKetika heboh pertama Pak Yusril ngeblog, banyak tulisan tentang beliau di berbagai Blog saat itu yang lebih banyak memberitakan tentang fenomena ngeblog itu sendiri. Atau sekedar ucapan selamat.

Kemudian saya membuat sebuah tulisan tentang kiprah beliau semasa menjadi menteri dikabinet beberapa Presiden dari sisi sikap politiknya. Semula ragu apakah tindakan saya ini terlalu jauh atau tidak, sebab kelihatannya teman teman Blogger masih berbunga bunga dengan adanya seorang tokoh yang mau menjadi Blogger meramaikan dunia kita ini.

Saya pikir cepat atau lambat orang orang akan membahas Pak Yusril dari aspek ini. Tidak mungkin orang hanya berharap tulisan tentang Hukum Tata Negara. Karena itu saya putuskan untuk tetap menulis artikel saya itu. Apapun reaksi teman teman saya akan tanggapi dengan baik.

Benar saja tulisan saya tersebut mendapat tanggapan dari Vavai yang ikut kopdar dengan Pak Yusril dengan kesan kurang nyaman dengan tulisan saya (just a feeling).

Berikut kutipan komentar Vavai:

Sebagai blogger, kita semua tentu senang dengan ketertarikan pak Yusril pada blog ya, Den Demang.

Bukan dari sosok pak Yusril sebagai mantan menteri atau selebriti tapi dari sisi share kemampuan intelektual dan hak jawab atas isu-isu yang berkembang yang terkait dengan beliau…

Vavai punya kebenaran dan saya tidak ingin mendebatnya walaupun orang orang yang ingin membahas Pak Yusril dari sisi lain juga punya kebenaran. Saya tunggu reaksi Pak Yusril sendiri. Beberapa saat kemudian Pak Yusril angkat bicara dengan uraian yang seperti biasa rinci dan lengkap.

Saya sebenarnya tidak sedang menantang intelektualitas beliau tapi hanya sekedar ingin tahu bagaimana seorang Yusril menggunakan Blog sebagai media klarifikasi.

Kemudian saya beri pertanyaan sederhana lagi dan beliau menjawab lagi dengan panjang lebar. Bahkan beliau bolak balik ke Blog saya untuk melengkapi komentarnya. Melihat semangat beliau menjawab saya jadi optimis bakal ada satu contoh bagaimana Blog digunakan sebagai media resmi sumber informasi yang valid.

Tapi perjalanan kearah itu tidak mudah dan belum selesai. Pak Yusril pernah terlibat polemik di situs Indonesia Matters dengan beberapa orang anonymous. Sungguh menghabiskan tenaga. Tapi akhirnya memang semua itu harus dilalui. Berbagai masukan teknis diberi oleh teman teman untuk Pak Yusril yang semangat sekali dengan dunia yang baru dikenalnya ini.

Sampai pada titik ini Blog menurut saya masih dipandang sebelah mata oleh jurnalisme mainstream. Mungkin karena content yang belum berbobot. Memang ada optimisme bahwa content akan semakin baik.

Parameter saya untuk bisa dianggap baik adalah bila media mainstream sudah tidak ragu untuk menjadikan Blog sebagai rujukan. Tapi butuh waktu berapa lama kalau harus menunggu blogger biasa bisa tampil seperti itu?

Saya belum pernah lihat media mainstream di Indonesia memuat berita dengan menggunakan Blog sebagai rujukan. Yang pernah saya baca berita tentang Blog adalah fenomena Blogger atau Blogging. Paling banter berita tokoh si anu ngeblog.

Kebanyakan tokoh enggan untuk tampil di Blog apalagi sekelas Pak Yusril. Kalaupun hadir di Blog, mereka hanya menggunakan Blog sebagai media repository pikiran atau tulisan saja. Padahal kalau mau dan tahu cara menggunakannya maka Blog bisa digunakan sebagai alat yang cukup bisa diandalkan.

Pak Yusril telah memposting sebuah artikel dengan judul MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS. Menurut saya artikel itu bisa dijadikan rujukan resmi untuk dikutip oleh media mainstream. Kita baru akan memasuki sebuah era baru dalam dunia Blog. Jika terjadi apa yang saya harapkan maka banyak tokoh akan melihat Blog dengan cara yang berbeda.

Harapan saya adalah dengan tampilnya Pak Yusril berikut klarifikasinya bisa mempercepat proses tumbuhnya kepercayaan masyarakat akan Blog. Juga tentu saja tidak lagi dipandang sebelah mata oleh jurnalisme profesional.

17 Komentar

Filed under tokoh

17 responses to “Klarifikasi Yusril

  1. huehehehhehe…
    pertamax…!!

  2. Saya belum pernah lihat media mainstream di Indonesia memuat berita dengan menggunakan Blog sebagai rujukan
    .
    Setahu saya, sudah lumayan sering mas. On top of my head – munirtaher.wordpress.com malah pernah satu postingnya diminta untuk di publish di koran Haluan, bukan cuma sekedar jadi rujukan.
    .
    Alhamdulillah. Mudah-mudahan trend ini terus berkembang dengan baik.

  3. Yusril Ihza Mahendra

    Terima kasih Boss atas tulisannya. Gaya saya menulis di Blog mungkin agak beda dengan yang ada selama ini. Saya menulis dengan serius dan sungguh-sungguh. Mungkin terlihat agak filosofis. Tulisannyapun panjang-panjang, karena saya ingin menguraikan sesuatu dengan jelas. Saya kira gaya seperti itu tak menarik minat orang untuk membacanya. Namun rupanya ada juga yang berminat, dan bahkan memberi komentar.

    Terima kasih Boss atas dorongannya agar saya tetap menulis.

  4. ehem..

    **tadi nulis pertamax trus tidur**

    sapapun itu, mo tukang becak kek, mo mantan menteri kek, mo yang blom lulus kek (welah, nyindir sayah sendiri..), mo yang kakek-kakek kek, silahken menggunaken blog atau apapun juga yang disukainya buwat menuangkan isi kepalanya..

    resiko tanggung sendiri..

    **loh??**

    bukan begitu mas wib..??

    **bukaaaann….**

  5. Sebetulnya dari sisi ilmiah, kapan sebuah tulisan layak dijadikan referensi? Mungkin tergantung tulisan itu sendiri, sebagaimana referensi yang bisa diambil dari jurnal ilmiah, dan media-media lain, cepat atau lambat artikel di blog bisa digunakan.

    Kebetulan, saya dapat email dari seorang doktor dibidang psikologi, beliau mengirim email (sebelumnya udah kenal di dunia maya karena sama-sama anggota milis), karena sedang membimbing mahasiswa pasca sarjana. Mahasiswa tadi ngotot ingin pinjam buku yang ditulis dosennya tentang “integritas”. Sang dosen merasa belum pernah menulis masalah tsb, tapi karena penasaran, terus googling…ternyata ada nama dia yang di acknowledge dalam tulisan saya.

    Ceritanya, kami jadi berkiriman email, sms dll. Pertanyaan saya, apa tulisan di blog (termasuk tulisan saya) tadi layak dijadikan bahan referensi? Saya tak tahu, mungkin ada yang bisa menjawab.

  6. Benar saja tulisan saya tersebut mendapat tanggapan dari Vavai yang ikut kopdar dengan Pak Yusril dengan kesan kurang nyaman dengan tulisan saya (just a feeling).

    Mudah-mudahan feelingnya salah ya boss, hehehe… Pada satu pertemuan sewaktu menyiapkan blog Pak Yusril, saya sempat mention pada beliau soal blog den demang ini dan apa kata Pak Yusril ? “Ya, saya sudah membacanya Vai”

    Jadi, jangan khawatir soal kemungkinan saya kurang nyaman. Maafkan kalau kalimat saya mengesankan demikian.

    Sewaktu pak Yusril dalam satu kesempatan mengungkapkan ingin menggunakan blognya sebagai media untuk memberikan penjelasan, tentu saya pribadi menyambut baik karena hal itu bisa menunjukkan kekuatan sebuah media blog. Dalam posisi inilah saya katakan, saya menghormati dan mendukung upaya beliau dalam ngeblog bukan karena sekedar mantan menteri atau mantan ketua umum PBB tempat saya pernah ikutan namun lebih karena kualitas intelektualnya bisa memberikan sumbangsih khazanah artikel di blog.

    Bagaimanapun, saya tidak memandang blog tersebut sebagai “Senjata baru” seperti yang disampaikan melalui judul tulisan,😉

    BTW, saya memperhatikan saran-saran den demang yang disampaikan via comment di blog pak Yusril. Terima kasih untuk saran yang sudah disampaikan.

  7. @sufehmi:

    Setahu saya, sudah lumayan sering mas. On top of my head – munirtaher.wordpress.com malah pernah satu postingnya diminta untuk di publish di koran Haluan, bukan cuma sekedar jadi rujukan.

    Koran Haluan itu Medan yah? apakah permintaan itu datang langsung dari redaksi koran Haluan?

    Saya pernah dimintai keterangan oleh seorang wartawan tentang sebuah tulisan saya, katanya media tempat dia bekerja akan memuat artikel berkenaan dengan topik yang saya muat pada artikel saya tersebut.

    Saya tentu tidak berharap nama saya akan dimuat sebagai narasumber, tapi saya cuma berangan angan kapan itu bisa terjadi.

    Kapan media berani mengutip dengan mengatakan “…menurut si anu di Blognya… bla bla”, atau untuk lebih tepatnya kapan content Blog kita bisa sekredibel itu.

    Kalau untuk diminta postinganya untuk dimuat utuh di media, mungkin agak beda yah. Bukan itu yang saya maksud.

    @Yusril Ihza Mahendra:

    Ok Boss. Satu tips dari saya: pada saat posting komentar, pada field website, Anda bisa masukan URL yusril.ihzamahendra.com.

    Jadi nanti nama Anda akan tampil dengan link tersebut, tidak polos seperti sekarang. Itu bagus untuk meningkatkan trafik sekaligus menjaring pembaca ke Blog Anda.

    Perhatikan para komentator di artikel ini. Semua menyertakan link pada namanya kecuali Anda.

    @Vavai:

    hahaha.. iya memang kalau soal feeling saya sering salah, terutama feeling soal cewek.. (halah ngelantur… :-p )

    Bagaimanapun, saya tidak memandang blog tersebut sebagai “Senjata baru” seperti yang disampaikan melalui judul tulisan,

    Mungkin disinilah bedanya dan sah sah saja, secara kita belum menemukan persepsi yang sama tentang makna “senjata”.

    terimakasih Vai, atas pengertiannya.

    @edratna:

    Ceritanya, kami jadi berkiriman email, sms dll. Pertanyaan saya, apa tulisan di blog (termasuk tulisan saya) tadi layak dijadikan bahan referensi? Saya tak tahu, mungkin ada yang bisa menjawab.

    Kalau menurut hemat saya materi yang ada pada Blog anda dari sisi pembaca Blog sudah bukan sumber primer. Karena bukan ditulis oleh narasumbernya sendiri.

    Tapi kalau tulisan yang anda tulis sendiri tentu bisa. Sekarang tinggal sekredibel apakah anda dimata komunitas akademi kalau tulisan anda mau dijadikan rujukan akademis.

    Kalau anda dosen yang cukup dikenal mungkin bisa, apalagi kalau anda seorang guru besar pasti bisa.

    Pada Pak Yusril yang terjadi adalah beliau seorang guru besar sebuah Universitas terpandang. Blognya sudah dikonfirmasi benar milik Pak Yusril. Maka pastilah media / mahasiswa tak akan ragu untuk menjadikan tulisannya sebagai rujukan.

    Nah sekarang yang menggelitik saya: bisakah seorang Blogger biasa karena reputasinya dalam menulis lantas dijadikan rujukan. Kemungkinan besar sulit tanpa ada pengakuan secara offline untuk validasi kredibilitasnya.

  8. Kapan media berani mengutip dengan mengatakan “…menurut si anu di Blognya… bla bla”, atau untuk lebih tepatnya kapan content Blog kita bisa sekredibel itu.

    Kalau untuk diminta postinganya untuk dimuat utuh di media, mungkin agak beda yah. Bukan itu yang saya maksud.

    Mm.. kalau tidak dianggap kredibel, saya kira tidak akan sampai dimuat seperti ini.
    Di halaman ini juga bisa dibaca komentar-komentar yang ada, penulis blog tersebut sudah dijadikan rujukan bahkan oleh warga negara asing.

    Iseng coba search sebentar, dapat beberapa kutipan sbb :

    Pak Kwarta, guru yang arsitek

    “Dalam blog-nya, Mutoha menyatakan…”

    Kualitas Bangunan Buruk Penyebab Banyak Korban Gempa

    Banyak dari mereka yang telah mengenalnya secara virtual

    Mungkin yang terbaru, kemarin ini blog saya baru dikutip + wawancara oleh koran Tempo.

    Dengan konvergensi & kolaborasi antara kedua media, maka kita jadi bisa menikmati content yang makin beragam, berkualitas, dan bermanfaat.

  9. @sufehmi:

    Mas Sufehmi terimakasih atas informasinya tentang para blogger yang contentnya udah dijadikan rujukan oleh media.

    Kelihatannya memang kredibilitas tidak harus dibangun secara offline. Saya gembira mendapati fenomena ini. Saya ingin lebih jauh lagi mengetahui bagaimana kredibilitas content blog dibangun dalam hubungannya dengan reputasi pribadi secara offline.

    Republika merujuk Mas Rovicky dengan “Seorang anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia…”

    Bagaimana Mas Rovicky dikenal oleh Republika?

    Apakah Mas Rovicky sudah dikenal sebagai anggota Ikatan Ahli terlebih dahulu atau dikenal sebagai blogger terlebih dahulu?

    Terus untuk Pak Munir Taher (salut saya pada beliau, lahir thn 31, mungkin beliau blogger tertua yah?), melihat usianya, jangan jangan Pak Munir ini sudah dikenal luas (tokoh masyarakat) oleh media sehingga sering dijadikan rujukan?

    Untuk Enda Nasution saya rasa mungkin harus diberi pengecualian. Beliau itu kan bapak Blogger jadi orang media kalau menyangkut per Blog an mesti merujuk Enda.

    Yang mungkin mendekati fenomena yang saya maksud adalah Mas Mutoha dan Pak Kwarta.

    Beliau berdua kelihatannya dirujuk karena tulisan dalam Blog mereka.

    Untuk mas Sufehmi sendiri punya reputasi di dunia opensource. Mungkin mirip Pak Budi Rahardjo. Jadi sudah punya reputasi dan blog menjadi media penyelancar saja.

    Saya ingin lihat blogger yang membangun reputasinya didunia media dari ngeblog.

    Mungkin tidak ada yang murni bisa begitu yah, sebab ketika tulisan dalam blog kita menarik perhatian maka mereka akan mencari tahu tentang reputasi dan mempertanyakan kredibilitas.

    Katakanlah Mas Rovicky dikenal dari Blognya, tapi apakah dia bakal dijadikan narasumber kalau bukan ahli geologi?

    Yang ingin saya lihat media jangan hapus identitas blogger ketika mengutip seorang blogger. Aneh gak sih keinginan saya?

  10. Yang Munir Taher itu setahu saya orang biasa. Baru “melejit” setelah beliau punya blog. “Success story” yang cukup menarik🙂 apalagi ketika kita menilik umur beliau.

    Untuk mas Sufehmi sendiri punya reputasi di dunia opensource.

    Mm.. kalau ini kok rasanya sih menurut saya belum. Bisa mas buktikan sendiri dengan melihat aktivitas saya di komunitas opensource Indonesia – saya kira saya baru mulai aktif sekitar tahun 2006, karena saya baru pindah dari Inggris tahun 2005.

    Nah, kebetulan saya doyan menulis berbagai hal seputar opensource di blog saya. Jadilah yunior ini dikira pakar🙂 padahal sih, masih banyak sekali yang jauh lebih ahli di bidang teknis daripada saya. Honestly.

    Saya ingin lihat blogger yang membangun reputasinya didunia media dari ngeblog.

    Silahkan bisa baca posting saya yang satu ini :
    Blogging to your success.

    Moga bisa menjadi masukan yang bermanfaat.

    Yang ingin saya lihat media jangan hapus identitas blogger ketika mengutip seorang blogger. Aneh gak sih keinginan saya?

    Sama sekali tidak. Cuma, kalau saat ini masih belum, saya pikir tidak apa. Karena kadang masih ada yang menganggap bahwa blog (new media) & media konvensional adalah sesuatu yang saling bertolak belakang, tidak bisa berjalan beriringan.

    Idealnya, blog & media konvensional bisa saling melengkapi. Mungkin masih perlu waktu beberapa lama lagi sebelum bisa terwujud di Indonesia.

    Sementara itu, ya, mari kita nge blog saja dulu…. 🙂

  11. Oops, ada tag di komentar saya sebelumnya yang tidak tertutup dengan rapi karena salah ketik.
    Mohon maaf & bantuannya untuk meng editnya.

    Terimakasih.

  12. @sufehmi:
    “Blogging to your success.”, tulisan yang menginspirasikan. Saya juga berharap akan lebih banyak lagi kisah sukses blogger dalam menulis.

    Perkenalan yang menyenangkan🙂

  13. Ray

    enak yah kalo baca postingan / komentar orang pintar, rasanya semuanya jadi jelas🙂
    thanks Bung Yusril, Mas Wibs n Om Sufehmi

  14. Blogging juga merupakan hak setiap orang, bukan?Terutama jika dilakukan untuk saling memberi ‘nilai’ tambah bagi sesama manusia. Satu sama lain bisa berbagi manfaat. Jika bisa begitu, maka blogging bukan sekedar kesenangan belaka, melainkan, sebenaranya juga memberi ‘nilai’ pada diri sendiri.

  15. Jadi itu beneran blog-nya Yusril?
    Karena terbiasa melihat penggunaan nama orang tenar untuk web, blog, atau friendster (dan sejenisnya) yang ternyata palsu belaka, jadi kurang yakin itu merupakan blognya Yusril😐

  16. Ping-balik: Media Kutip Blog « Budayawan Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s