Persaingan Puri, Tahta dan Perlawanan

Membaca komentar di situs AnakUI.com tentang dimuatnya surat pembaca majalah Tempo minggu ini edisi 26 nov – 2 okt 2007, saya segera membeli majalah tersebut. Buka halaman enam dan terdapat disitu tanggapan putra dari Anak Agung Gde Agung.

Isi tanggapannya adalah sanggahan tentang artikel Tempo edisi minggu sebelumnya 19-25 nov 2007 dengan judul “Ada Pahlawan di Jalur Tol” yang pernah saya singgung pada tulisan saya sebelumnya dengan judul “Bila Oportunis diangkat Pahlawan“.

Menurut beliau artikel tersebut memojokkan ayahnya sebagai pahlawan nasional. Sebagian besar isi artikel tersebut merupakan tuduhan dan fitnah tanpa landasan. Ada dua hal penting yang diuraikan oleh beliau pada surat pembaca itu.

Pertama soal peran Anak Agung Gde Agung dalam BFO dan kedudukan NIT. Kedua soal fakta tentang Anak Agung Gde Agung dulu pernah berkhianat. Untuk yang pertama akan dibahas lebih lanjut dan untuk yang kedua akan saya bahas di artikel ini.

Berikut kutipan sebagian surat pembaca tersebut yang berkenaan dengan bantahan penghianatan Anak Agung Gde Agung:

Mengenai tuduhan terhadap Ide di Bali, itu adalah fitnah belaka karena tidak pernah dipermasalahkan sewaktu beliau masih hidup.

Perlu diingat juga bahwa waktu itu revolusi bergejolak di Bali, selain juga ada percoabaan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh berbagai unsur terhadap kerajaan Gianyar.

Unsur unsur tersebut memperalat kelompok kelompok pemuda dan menebar berbagai kebohongan. Ide dua kali diculik dan akan dibunuh mereka.

Hal ini bisa dikonfirmasikan dengan berbagai pihak di Bali, antara lain I Gusti Bagus Saputra SH, salah satu pejuang kemerdekaan di Bali.

Dr Ide Anak Agung Gde Agung dianugrahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI setelah melalui berlapis lapis penyaringan oleh para pakar paling terkemuka dan berbagai lembaga negara berdasarkan fakta-fakta nyata. Rasanya perlu kita hormati upaya itu.

Untuk menanggapi bantahan tersebut saya ingin memberi landasan terlebih dahulu yang sebagian berdasarkan buku “The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali” karya Prof Geoffrey Robinson, kemudian mengungkap fakta tentang situasi sejarah pada kurun waktu 45-46 sebelum saya beri analisis tentang penghianatan Anak Agung Gde Agung.

Landasan

Kehidupan sosial ekonomi dan politik di Bali tak bisa dipisahkan dari keberadaan dan peran Puri. Puri adalah pusat pemerintahan kerajaan kerajaan di Bali yang berjumlah delapan kerajaan antara lain:

  • Bagian Timur Bali (Klungkung, Gianyar, Bangli dan Karangasem)
  • Bagian Tengah Bali (Buleleng, Badung, Mengwi dan Tabanan)
  • Bagian Barat Bali (Jembrana)

Masing masing kerajaan memiliki beberapa buah Puri yang biasanya memiliki hubungan keluarga satu sama lain. Diantara Puri Puri dalam sebuah kerajaan terdapat umumnya satu buah Puri sebagai pemegang tahta kerajaan.

Puri Gianyar 

Status Puri pemegang tahta dari waktu ke waktu bisa berpindah dari satu Puri ke Puri yang lain. Atau terjadi pembagian wewenang politik penting ke beberapa Puri. Perpindahan tahta dan atau wewenang tersebut berkaitan erat dengan campur tangan Belanda.

Belanda merasa perlu mendukung Puri yang memiliki kebijakan yang menguntungkan kepentingannya dan tentu saja untuk aplikasi politik pecah belah. Sering kali dukungan Belanda pada sebuah Puri akan membuat Puri yang lain merasa iri dan bersekutu dengan Puri non-pemegang (penantang) tahta yang lain untuk menggalang kekuatan politik.

Peran pengakuan dan dukungan Belanda sangat penting sehingga sulit sekali bagi Puri penantang tahta untuk dapat merebut tahta kerajaan jika tak mendapat restu Belanda. Begitu juga pada jaman Jepang.

Perubahan besar terjadi ketika Jepang pergi dari Bali karena kalah Perang Dunia II dan Bali memasuki Era Revolusi. Pada jaman revolusi terjadi banyak pergolakan diantara Puri dalam satu kerajaan bahkan antar kerajaan.

Hilangnya pengendali kekuasaan asing membuat Puri non-pemegang tahta lebih leluasa menggunakan kekuatannya untuk merebut tahta dari Puri pemegang tahta.

Apakah dengan begitu lantas bisa dibuat kesimpulan bahwa Puri pemegang tahta selalu bersikap loyalis kepada Belanda?

Ternyata tidak selalu demikian, ada faktor faktor lain yang mempengaruhi sikap Puri yang meliputi aspek politik, sosial dan ekonomi.

Daerah daerah di Bali dapat dibagi berdasarkan kemakmurannya. Sering dipakai istilah daerah “plus” untuk wilayah kerajaan yang makmur (wilayah tengah) dan istilah “minus” untuk wilayah kerajaan yang miskin (wilayah timur). Parameter yang dipakai adalah produksi dan ketersediaan bahan pangan berupa beras untuk konsumsi lokal penduduk.

Konsekuensi dari keadaan ini adalah rakyat dari daerah plus memiliki kemandirian dalam perekonomian lebih baik daripada rakyat dari daerah minus.

Ini membuat dinamika sosial rakyat dari daerah plus lebih dinamis. Banyak kelompok kelompok sosial tercipta dan beraktifitas seperti pencak silat, sekehe gong, wirausahawan dll.

Pendidikan rakyat kecil di daerah plus rata rata lebih tinggi dibanding rakyat di daerah minus. Semua itu membentuk struktur sosial sedemikian hingga membuat Puri dari daerah plus memiliki peran politik yang lebih lemah ketimbang Puri dari daerah minus.

Hal yang sebaliknya terjadi pada daerah minus. Pendidikan rakyat yang relatif lebih rendah, dinamika sosial yang lebih statis, kemandirian ekonomi rakyat yang lebih lemah membuat Puri memiliki peran politik yang lebih kuat ketimbang Puri dari daerah plus.

Ini menjelaskan mengapa rakyat kerajaan di daerah minus lebih feodal ketimbang rakyat kerajaan dari daerah plus. Rakyat untuk kerajaan di daerah minus lebih patuh dan setia pada Rajanya. Apa kata Raja mereka pasti nurut.

Perbedaan ini mewarnai pola persaingan Puri untuk merebut tahta. Persaingan perebutan tahta berimplikasi pada pola perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan pada Belanda bisa dalam bentuk berbasis-puri atau dalam bentuk berbasis-kelompok-sosial.

Pada daerah plus (Tabanan, Buleleng dan Badung) basis perlawanan lebih luas karena kelompok sosial lebih banyak dan Puri Puri (baik pemegang tahta maupun penantang) karena tidak memiliki banyak ketergantungan pada Belanda lebih banyak memihak Republik.

Dengan banyaknya basis perlawanan di daerah plus baik dari Puri atau kelompok sosial membuat perlawanan jadi lebih ulet dan susah dipatahkan. Kekuatan perlawanan itu didukung oleh makmurnya petani yang bisa dijadikan sumber logistik untuk kebutuhan perlawanan.

Sebaliknya untuk daerah minus (Bangli, Karangasem, Klungkung dan Gianyar) karena kelompok sosial lebih sedikit dan petani yang miskin maka perlawanan praktis lebih banyak berbasis pada Puri (kebanyakan puri penantang tahta). Apa kata Puri rakyat nurut berdasarkan pada kesetiaan pada Puri entah itu pro Republik atau pro Belanda.

Perlu diberi catatan disini bahwa status politik Puri pemegang tahta atau penantang tahta tidak sepenuhnya bisa menjelaskan sikap politik para Puri tersebut. Selalu ada anomali dari konsep pola yang dijelaskan diatas. Kelihatannya dasar preferensi anggota keluarga yang terkemuka dalam suatu Puri juga berpengaruh besar dalam menentukan sikap politik yang diambil Puri.

Selain aspek yang diuraikan diatas ada juga pola lain yang berperan. Tingkat pendidikan para Raja dan elit bangsawan yang lebih terpelajar akan cenderung pro Republik. Menurut Prof Geoffrey Robinson perkecualian untuk Raja Gianyar (Anak Agung Gde Agung) yang sangat terpelajar tapi bersikap pro Belanda.

***

Puri pemegang tahta di daerah minus memiliki ketergantungan yang (lebih) besar pada Belanda (ketimbang Puri daerah plus) untuk mempertahankan terus status tahta dari para Puri penantang yang selalu mengincar tahta tapi juga selalu gagal merebutnya karena Puri pemegang tahta mendapat dukungan berupa logistik dan militer dari Belanda.

Lemahnya Puri Puri penantang di daerah minus membuat Puri pemegang tahta menjadi leluasa menegakkan kontrol politik dan hegemoni idelogis yang telak. Contohnya adalah Puri pemegang tahta Gianyar dan Klungkung.

Ini menjelaskan mengapa kebanyakan Puri pemegang tahta di daerah minus berpihak pada Belanda sementara kebanyakan Puri penantang tahta di daerah minus berpihak pada Republik. Contohnya adalah Puri Puri penantang tahta di Gianyar (Puri Ubud, Mas, Peliatan, Pejeng dan Sukawati).

Sebaliknya pada daerah plus. Jangankan Puri pemegang tahta, Puri penantangpun bisa memiliki kekayaan dan kekuatan yang berarti untuk digunakan sebagai basis perlawanan. Contohnya adalah Puri Pemecutan di Badung, Puri Sukasada di Buleleng dan Puri Kaleran di Tabanan.

Selain Puri penantang, Puri pemegang tahta di daerah plus juga tercatat sebagai basis perlawanan. Contohnya adalah Puri Satria-Denpasar dan Puri Jembrana.

Belum lagi basis perlawanan dari kelompok-sosial. Pada daerah plus, kelompok sosial memberi perlawanan yang lebih meluas dan ulet karena didukung logistik yang lebih banyak dibanding daerah minus.

Kerajaan Gianyar berada di bagian timur yang merupakan daerah minus. Puri pemegang tahta adalah Puri Gianyar dimana rajanya adalah Anak Agung Gde Agung, sedangkan Puri penantang tahta adalah Puri Ubud, Mas, Peliatan, Pejeng dan Sukawati.

Seperti uraian diatas, karena tidak ada Puri penantang yang signifikan maka Puri Gianyar tampil sebagai penguasa yang kuat secara politik dan ideologi. Puri Puri penantangpun bersatu untuk melawan Puri Gianyar sebagai pemegang tahta. Persatuan Puri penantang mendapat simpati dari kelompok-sosial karena kesamaan ideologi penentang Belanda.

Bagi kelompok-sosial adalah mudah bersatu untuk menselaraskan perlawanan. Kolompok kelompok itu kemudian membentuk organisasi perlawanan yang lebih luas dan tidak terpaku pada wilayah kerajaannya. Contoh organisasi tersebut seperti AMI, PRI dan Pesindo.

Tapi tidak demikian untuk perlawanan berbasis-puri. Mereka rentan terhadap faksionisme. Perpecahan sering terjadi karena persaingan perebutan tahta.

Setelah kita punya gambaran tentang situasi sosio-politik waktu itu, maka bisa kiranya saya mulai menceritakan apa yang terjadi pada AA Gde Agung sebagai Raja Puri Gianyar pemegang tahta kerajaan Gianyar yang pro Belanda berdasarkan beberapa buku antara lain terutama buku “The Dark Side…” dan “Bali Berjuang” karya Nyoman S Pendit dan beberapa catatan pejuang yang pernah saya baca.

Fakta

Setelah proklamasi agustus 45, baru maret 46 Belanda kembali masuk ke Bali bersama KNIL. Ada jeda waktu 6 bulan dimana terjadi mobilisasi politik dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Masa revolusi menjadi saat yang tepat bagi Puri Puri (terutama Puri penantang tahta) untuk memobilisasi kekuatan politik.

Sekembalinya Mr Puja (Gubernur pertama Bali) dari Jakarta, gerakan pemuda terutama di daerah tengah begitu bersemangat mensosialisasikan proklamasi Indonesia.

Untuk Puri Puri di daerah tengah khususnya yang pro Republik tidak menjadi masalah, bahkan untuk Puri yang tidak terlalu jelas haluan politiknya bisa bereaksi dengan cara lebih tenang ketimbang Puri di daerah timur yang merupakan daerah minus seperti yang diuraikan diatas.

Raja di Puri Puri daerah timur lebih berpengaruh secara politik, mereka lebih disegani dan dipatuhi rakyatnya. Gerombolan pemuda sering dianggap sebagai kelompok begundal yang tidak simpatik oleh kalangan Puri di daerah timur. Mereka kerap berteriak teriak “Merdeka… Merdeka…” didepan pintu gerbang Puri.

Raja tidak suka karena tindakan itu dianggap tidak sopan dan menantang otoritas Puri. Kemudian didepan kantor kerajaan Klungkung serombongan pemuda menurunkan bendera Jepang dan menaikkan bendera Merah Putih. Raja Klungkung (Dewa Agung Oka Geg) tidak mengenali bendera Merah Putih sebagai bendera Republik.

Kejadian itu membuat Raja Klungkung salah paham. Raja mengira bahwa serombongan pemuda tadi bertindak atas perintah Raja Badung yang akan menyerang Klungkung. Bagi seorang Raja Klungkung kejadian ini adalah suatu penghinaan. Dapat dipahami karena tindakan penggantian bendera tersebut dilakukan secara spontan tanpa permisi.

Kesalahpahaman itu membuat Raja Klungkung memiliki persepsi yang keliru tentang bendera Merah Putih. Persepsi yang keliru ini menimbulkan kecurigaan yang berakibat Raja menjadi reaksioner (kontra revolusi).

Dalam alam pikiran Raja Klungkung menganggap bahwa bendera Merah Putih adalah lambang hegemoni kerajaan Jawa dibawah Soekarno-Hatta yang seandainya menang akan meng-Islamkan seluruh Bali dan menjadikan Bali sebagai negara jajahan.

***

Tanpa didasari oleh pemahaman yang benar tentang situasi pada saat itu, Raja Klungkung membuat reaksi yang mengakibatkan kesalahpahaman menyebar ke kerajaan lain di daerah timur seperti Gianyar dan Karangasem.

Raja Raja yang reaksioner itu menjadi defensif selain karena mereka menentang Republik juga karena mereka adalah pemegang tahta, sementara Puri penantang tahta berafiliasi dengan para pemuda.

Pada tanggal 20 September Raja Gianyar (AA Gde Agung) bahkan diculik oleh kelompok pemuda disekitar tegalalang (antara Denpasar dan Gianyar). Penculikan tersebut diprakarsai oleh Puri Ubud dan Puri Peliatan (puri penantang tahta).

Kejadian itu dimata rakyat Gianyar yang patuh dan setia pada Rajanya lebih menimbulkan kesan gerakan pemuda adalah gerakan untuk merebut tahta. Pimpinan perjuangan Gusti Ngurah Rai tahu betul psikologi itu dan sudah merasakan betapa sulitnya meyakinkan rakyat bahwa yang diperangi oleh pemuda bukanlah Raja mereka tapi penjajah Belanda yang waktu itu belum masuk kembali ke Bali.

Menurut pengakuan AA Gde Agung sendiri hasil wawancara 18 mei 1987 oleh Prof Geoffrey, bahwa tindakan “terorisme” para pemuda dengan menculik dirinya itulah yang membuat ia bersikap menolak gerakan perlawanan.

Atas perintah Gusti Ngurah Rai dan dilaksanakan oleh Made Widjakusuma, AA Gde Agung dibebaskan. Usaha penculikan kedua dilakukan di Batubulan, namun AA Gde Agung berhasil meloloskan diri. Keadaan ini membuat situasi menjadi genting dan perlu diambil tindakan segera supaya tidak meluas dan bisa menenteramkan hati rakyat.

Kemudian para pimpinan perjuangan Gusti Ngurah Rai, Gusti Ngurah Wisnu, Made Widjakusuma dkk membhasa masalah ini secara khusus untuk dicarikan jalan keluar.

Akhirnya setelah segala pertimbangan dilakukan dalam hal politik, psikologis dan budaya maka diputuskan untuk melakukan pendekatan secara baik baik, sopan, resmi dan bermartabat kepada Raja Raja yang salah paham tersebut sekaligus kepada rakyatnya yang setia.

Beberapa pendekatan dilakukan diantaranya dengan mengutus kurir untuk mengantar surat salinan teks proklamasi kemerdekaan RI kepada seluruh Raja Raja di Bali. Tindakan ini untuk menghormati kedudukan Raja di mata rakyat.

Organisasi pemuda AMI (Angkatan Muda Indonesia) kemudian mengutus dua orang pemuda (Alip Soemioto S dan I Made Alit) untuk mewartakan proklamasi secara resmi kepada seluruh Raja Raja di Bali agar tidak terjadi kesalahpahaman atas tindakan spontan para pemuda.

AMI (Angkatan Muda Indonesia) dibentuk di Denpasar tanggal 31 agustus 1945, dipimpin oleh Gusti Ngurah Sindhu. Untuk wilayah Buleleng AMI dipimpin oleh Tjokorda Oka Sudarsana. AMI kemudian melebur menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan dipimpin oleh Made Widjakusuma (Pak Joko).

Raja Gianyar, AA Gde Agung (mungkin karena sudah pernah diculik) tidak mau sama sekali menerima kedua pemuda utusan tersebut. Padahal pemuda yang dipilih sebagai utusan bukan dari pemuda Gianyar yang dicurigai sebagai pelaku penculikan. Sedangkan di Puri Klungkung, Raja Klungkung masih mau menerima tapi dengan tindakan penuh kecurigaan. Dua pemuda utusan tadi harus berdiri ditengah alun alun untuk menyampaikan salinan teks proklamasi yang dibawanya.

***

Kemudian untuk mengambil simpati rakyat dikirimkanlah bahan pangan berupa beras bergerobak-gerobak yang diambil dari daerah tengah yang plus untuk dikirim ke daerah timur yang minus.

Bantuan bahan pangan tersebut sangatlah berarti bagi rakyat daerah timur yang miskin dan hanya mampu makan nasi jagung. Dengan demikian diharapkan sikap para Raja yang reaksioner bisa berubah dan rakyat bisa mengerti tujuan dan arti perjuangan para pemuda.

Namun segala usaha tersebut kelihatannya tidak membawa hasil yang diharapkan. Bahkan keadaan semakin kacau. Dengan meningkatnya mobilisasi pemuda di daerah tengah, Raja Klungkung kemudian membentuk pasukan yang diberi nama Badan Keamanan Negara (BKN) dengan tujuan mengamankan Puri Klungkung (personel hampir 5000 orang). Hal yang sama dilakukan oleh Raja Gianyar (AA Gde Agung) membentuk Pasukan Pembela Negara (PPN) dengan tujuan yang serupa.

PPN ini bergerak sangat militan memburu para pejuang (terutama PRI di Gianyar) yang dianggap sebagai kepanjangan tangan dari Puri penantang tahta kerajaan Gianyar.

Made Widjakusuma sebagai pimpinan PRI pernah tertangkap oleh PPN. Namun kemudian pimpinan perjuangan Gusti Ngurah Rai membentuk satuan khusus untuk membebaskannya. Operasi pembebasan berhasil namun PPN menjadi semakin ganas.

Setelah masuknya NICA maret 46, PPN mendapat bantuan senjata dan operasi pemburuan pemuda semakin gencar. Salah satu komandan PRI Wayan Dipta tertangkap, kemudian disiksa dan dibunuh.

Kemudian yang paling menghebohkan adalah peristiwa pembunuhan seorang anggota punggawa Puri Peliatan (puri penantang tahta). Hubungan kedua Puri semakin renggang dan berlanjut hingga masa setelah revolusi.

Untuk normalisasi hubungan dengan Puri Peliatan maka tahun 48 dilakukan pernikahan politik antara Raja baru Gianyar (Anak Agung Gde Oka) dengan putri (Cokorda Istri Sri Mas) mantan punggawa Puri Peliatan yang dieksekusi oleh PPN di penjara tahun 46 itu.

Untuk wilayah Gianyar PPN dengan personal ribuan tentara dan persenjataan lengkap dan canggih praktis tak tertandingi. Selama tiga tahun pertama revolusi PPN telah berhasil menangkap dan mengeksekusi banyak tokoh penting pemuda di Gianyar.

AA Gde Agung bertanggung jawab telah memberi perintah langsung atas penggempuran kantong kantong perlawanan di Gianyar. PPN menjadi eksekutor yang sangat menyeramkan dimata pejuang. Ciri khas oprasinya adalah penyiksaan yang keji sebelum dieksekusi dibawah bendera merah-putih-biru.

Begitu militannya PPN hingga militer Belanda sejauh urusan di Gianyar tak perlu repot repot mengotori tangannya dengan darah para pejuang kemerdekaan. Semua sudah dilakukan dengan baik sekali oleh PPN hanya dengan memberi dukungan senjata dan logistik.

Tiga tahun kiprah AA Gde Agung bersama PPN di Gianyar pada masa awal revolusi telah mengabadikan ingatan dan kesan para pejuang tentang keberingasan dan kekejamannya.

Analisis

Setelah melihat fakta diatas sebenarnya tak perlu lagi memberi analisis. Tapi untuk lebih lengkapnya maka saya akan memberi sedikit analisis sbb:

Puri Gianyar berada di daerah minus. Pada daerah minus yang lebih feodal penguasaan hak atas tanah oleh Raja lebih luas dibanding daerah plus yang lebih banyak dikuasai rakyat. Perbandingan hak bagi-hasil pertanian juga lebih banyak dibanding didaerah plus.

Semua itu sangat memotivasi para Raja untuk tetap berkuasa. Bagi AA Gde Agung mempertahankan status pemegang tahta kerajaan Gianyar telah menjadi haluan utama pandangan politiknya.

Sebab dengan menjadikan Puri Gianyar sebagai pemegang tahta maka segala kedaulatan sosio-politik-ekonomi-kultural bisa diraih atas tanah dan hasil bumi dan juga atas rakyat yang sangat setia dan patuh. Kemudian yang tidak kalah penting juga atas prestise diantara Puri dari kerajaan lain.

Hak untuk memerintah secara turun temurun hanya akan bisa dijamin bila Bali tetap diperintah dalam sistem zelfbestuur dibawah pengawalan Hindia-Belanda.

Kecerdasan dan pendidikan yang tinggi dari AA Gde Agung membuat ia bisa membaca situasi dengan sangat cermat. AA Gde Agung merupakan satu satunya tokoh terpelajar di kalangan Raja Bali yang tidak memihak Republik. Raja lain yang terpelajar memiliki kecenderungan memihak Republik. Raja yang tidak terlalu terpelajar akan mengalami kesulitan memahami situasi politik dan bisa terjebak untuk memihak Belanda.

Contohnya adalah Raja Klungkung karena keterbatasan wawasan politiknya punya pandangan keliru tentang gerakan pemuda, sementara AA Gde Agung yang pernah kuliah di Batavia sudah lebih tahu dan mengerti tentang situasi politik yang sedang dihadapi.

Contoh lain adalah kerajaan Karangasem yang sempat ikut-ikutan membentuk laskar militar bernama Anti Indonesia Merdeka (AIM) tapi akhirnya oleh Rajanya sendiri menyatakan dukungannya kepada Republik dengan menggelar pertemuan akbar 5000 orang.

Tapi kemudian terlihat bahwa motivasi Raja Karangasem lebih banyak karena merasa terancam oleh gerakan para pemuda sehingga bereaksi mendukung Republik. Tidak seperti Puri Satria-Denpasar yang sejak 1906 telah menunjukan penolakannya pada Belanda. Lebih lebih setelah status tahta dipindah oleh Belanda ke Puri Pemecutan tahun 46.

Maknanya adalah visi para Raja penentang Republik tersebut masih visi lokal. Bereaksi atas ancaman yang sifatnya lokal. Tidak seperti AA Gde Agung yang dengan jelas sejak awal menentang Republik.

Mengganasnya AA Gde Agung dengan PPNnya bertujuan pertama untuk menumpas ancaman atas tahta Puri Gianyar (Republik dianggap ancaman), kedua untuk memupuk wibawa dan ketiga untuk memastikan semua tokoh tokoh terpelajar Bali mengikuti haluan politiknya.

***

Analisis atas tanggapan putera AA Gde Agung di surat pembaca majalah Tempo adalah sbb:

Mengenai tuduhan terhadap Ide di Bali, itu adalah fitnah belaka karena tidak pernah dipermasalahkan sewaktu beliau masih hidup.

Untuk komunitas di luar Bali mungkin itu hal yang mudah untuk dipropagandakan tapi untuk komunitas di Bali tentulah sudah sangat dikenal kiprahnya dan tak akan terlupakan. Tulisan saya diatas adalah untuk membuka mata tentang kiprah beliau 3 tahun pertama revolusi kepada komunitas di luar Bali.

Perlu diingat juga bahwa waktu itu revolusi bergejolak di Bali, selain juga ada percobaan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh berbagai unsur terhadap kerajaan Gianyar.

Sudah saya jelaskan diatas bagaimana dinamika Puri berjalan.

Unsur unsur tersebut memperalat kelompok kelompok pemuda dan menebar berbagai kebohongan. Ide dua kali diculik dan akan dibunuh mereka.

Saya dapat memahami alasan kenapa AA Gde Agung menentang Republik. Tapi itu tidak mengubah fakta tentang kekejaman PPN terhadap pejuang.

Hal ini bisa dikonfirmasikan dengan berbagai pihak di Bali, antara lain I Gusti Bagus Saputra SH, salah satu pejuang kemerdekaan di Bali.

Tentu mereka akan memberi kesaksian yang membenarkan tentang penculikan tersebut karena kejadian tersebut memang aktual terjadi. Tapi tentu tidak berhenti sampai disitu sebab yang penting adalah alasan penculikan seperti yang saya ceritakan diatas dan yang lebih penting lagi adalah tindakan yang dilakukan AA Gde Agung setelah penculikan (membentuk PPN).

Dr Ide Anak Agung Gde Agung dianugrahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI setelah melalui berlapis lapis penyaringan oleh para pakar paling terkemuka dan berbagai lembaga negara berdasarkan fakta-fakta nyata. Rasanya perlu kita hormati upaya itu.

Ini sama dengan menganggap rakyat adalah bodoh dan tidak perlu tahu detil pertimbangan panitia yang dipenuhi oleh cendikiawan terhormat itu. Untuk analisis yang lebih tajam tentang hal ini bisa baca tulisan Soegianto Sastrodiwiryo.

Kesimpulan

Situasi politik pada saat itu memang sangat dinamis dan tak ada yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Berbagai faktor dari berbagai aspek sangat berperan. Masing masing telah mengambil jalannya sesuai dengan preferensinya. Ada yang pragmatis dan ada juga yang idealis.

AA Gde Agung telah memilih jalannya begitu juga Gusti Ngurah Rai. Realitas bahwa mereka berdua menjadi musuh besar selama masa perjuangan adalah konsekuensi dari pilihan masing masing.

Gusti Ngurah Rai telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional, sekarang AA Gde Agung yang memilih untuk berseberangan dengan Gusti Ngurah Rai juga ditempatkan dalam bingkai yang sama.

Suatu keputusan yang sulit diterima akal sehat.

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

Usulan

Saya mengusulkan untuk diadakan semacam seminar untuk membahas masalah ini. Seminar tersebut bukan untuk memojokan DepSejarah UI atau BPPP atau siapapun tapi demi pelurusan sejarah. Perlu diundang orang orang yang berkepentingan sebagai wakil seperti pihak Puri Gianyar, Dep Sejarah UI, BPPP, warga Bali pejuang 45.

Bila perlu seminar dilakukan di Bali, tapi tidak harus. Akan sangat baik kalau seminar dilakukan oleh Dep Sejarah UI sendiri sebagai bentuk tanggung jawab moral pada publik atas dukungannya pada keputusan pemerintah tersebut.

Bagi siapapun yang hendak berkomentar maka saya mewajibkan untuk menggunakan identitas yang asli untuk menghormati subyek subyek yang dibahas pada tulisan saya sekaligus untuk bisa mempertanggung-jawabkan isi komentarnya.

About these ads

21 Komentar

Filed under sejarah

21 responses to “Persaingan Puri, Tahta dan Perlawanan

  1. Ray

    haduh panjang sekaleeee……
    Ya usulan itu bagus sekali, sebaiknya memang diadakan peninjauan ulang dan atau diseminarkan kembali untuk memperjelas latar belakang dan sejarah AAGA, supaya tidak terjadi pro kontra yang akhirnya malah akan memperpecah bangsa sendiri.

  2. sepakat, bli. biar pahlawan tidak hanya tergantung pada kemauan penguasa. repot jg kalo sampe ngangkat pengkhianat utk jd pahlawan. payah!

  3. nice post, i have posted your articel on myblog

  4. @Ray:

    Saya sedang menunggu reaksi Dep Sejarah UI, kalo mereka cuek maka saya akan coba mendekati Legiun veteran.

    @antonemus:

    Menurut salah seorang putera Ibu Gedong: Quo Vadis DPRD Bali, mereka yang seharusnya paling aktif dalam mengurusi nilai nilai tapi malah gak muncul.

    Apa karena sudah lebih sibuk mengurusi proyek proyek dan uang sehingga tak menganggap persoalan ini penting. Mereka akan dimintai pertanggung jawaban oleh rakyat mengenai hal ini.

    @gofer: monggo mas :-)

  5. adek

    Mas Wibi, maap nanya yang lain, tentang blog… sampean buat link (-yang tinggal klik itu-) ke artikel lain itu piye caranya sama dalam blog mu kok bisa ada tulisan didal kotak itu… caranya bagaimana mohon pencerahannya biar pinter.

  6. @adek:

    untuk bikin link harus punya URL (alamat situs web yang akan dituju)

    setelah itu pilih kata/kalimat yang mau dipasangi link, cara pasanganya sbb:

    <a href=”URL”> kalimat yang dilink </a>

    untuk bikin kotak/quotation (tidak selalu kotak, sebab tergantung design style templatenya) pakai cara sbb:

    <blockquote>
    paragraf yang ingin dikotakin
    </blockquote>

    demikian semoga bermanfaat

  7. tanakung

    mas wibisono,
    saya baru pertama baca tulisannya mas. saya sebagai putra bali asli aja tidak tau detail. saya jadi malu, benar2 malu. terima kasih atas tulisannya, ada sudut pandang yg baru saya peroleh.

  8. @tanakung:

    Saya cukup senang bila tulisan saya bisa memberi informasi yang bermanfaat, tulisan seperti diatas tak mungkin dimuat di media mainstream, karena terlalu sensitif.

  9. narwastu

    peminpin yang baik adalah peminpin yang bisa melindungi rakyatnya dalam situasi apapun, bukankah itu yang dilakukan oleh ide anak agung saat itu ? bahkan sampai sekarang kan?
    bukti di masyarakat membuktikan,kalau sampai detik ini puri agung gianyar masih memiliki rakyat yang rela mati demi membela rajanya, kalau ide orang yang tidak baik mana mungkin dengan sampai detik ini ada orang yang rela berkorban jiwa raga hanya untk orang lain. saya harapkan orang2 jangan hanya bisa menjelek2kan saja, karena saya yakin ide melakukan hal itu dengan pertimbangan yang matang, yang semata2 untk melindungi rakyat. kalo gembar gembor pro belanda anti belanda, kenyataannya sekarang yang paling banyak mendapatkan pemasukan dari turis belanda dan negara2 yang anda anggap sekutunya( as,inggris dll) SIAPA? dari puri gianyar ato dari pihak lawan? yang saya tahu ide dari puri gianyar sampai detik ini masih berkutat dengan petani penjual canang, nelayan dan semua golongan rakyat kecil. anda boleh menyangkalnya tapi anda harus menerima kenyataan ini. seseorang dinilai dari tingkah lakunya, ide di puri gianyar memang hidup dengan kesederhanaan, karena beliau mencintai rakyatne dan memahami kondisi rakyat yang tidak semuanya mampu. kalo sampai sekarang ide seperti itu, didapat dari siapa?ya jelas dari leluhurnya turun temurun,secara otomatis kehidupan ide sudah begitu dari dulu(sabar, mencintai rakyat,mengesampingkan ego pribadi).kesimpulannya, ide di puri adalah orang2 yang selalu mementingkan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi, jauh dari ambisi pribadi, dan orang orang yang pantas dijadikan panutan.
    HIDUP GIANYAR
    JIWA RAGAKU HANYA UNTUK GIANYAR !!!!!

  10. @narwastu:

    peminpin yang baik adalah peminpin yang bisa melindungi rakyatnya dalam situasi apapun, bukankah itu yang dilakukan oleh ide anak agung saat itu ? bahkan sampai sekarang kan?
    bukti di masyarakat membuktikan,kalau sampai detik ini puri agung gianyar masih memiliki rakyat yang rela mati demi membela rajanya, kalau ide orang yang tidak baik mana mungkin dengan sampai detik ini ada orang yang rela berkorban jiwa raga hanya untk orang lain.

    “Rakyat” yang anda gambarkan diatas adalah rakyat Gianyar, sedangkan rakyat yang terlibat dalam perang kemerdekaan tidak hanya rakyat Gianyar tapi rakyat Bali bahkan rakyat seluruh Indonesia.

    Jika klaim anda diatas seperti itu maka jelas cara pandangan tentang kebangsaan jadi berbeda. Ngurah Rai memandang perjuangan sebagai suatu kesadaran yang bersifat nasional.

    Adanya pandangan yang masih bersifat lokal membuat kita mudah dipecah oleh musuh.

    IAAGA bersekutu dengan Belanda memerangi perjuangan rakyat Bali dijaman perjuangan fisik 45-49. Ini fakta tak terbantahkan, jadi bukan menjelek jelekan. Kalau anda baca seksama artikel saya diatas maka tidak ada usaha menjelek jelekan.

    Saya tetap hormat pada beliau sebagai orang yang telah berjasa dalam diplomasi luar negeri Indonesia di era federasi, beliau adalah diplomat yang ulung. Sebagai orang yang tahu betul jalan pikiran Belanda, IAAGA memotong manuver diplomasi Belanda dengan cerdas untuk kepentingan Indonesia.

    kalo gembar gembor pro belanda anti belanda, kenyataannya sekarang yang paling banyak mendapatkan pemasukan dari turis belanda dan negara2 yang anda anggap sekutunya( as,inggris dll) SIAPA?

    Tentu paradigmanya berbeda.
    Pada masa revolusi paradigmanya adalah kita harus mengusir mereka yang berniat menduduki kita secara fisik. Tapi sekarang paradigmanya adalah industri pariwisata, kan beda sekali. Please dong…. ah, masa harus dijelaskan begitu sih?

    dari puri gianyar ato dari pihak lawan?

    Siapa yang anda maksud pihak lawan sampai sekarang? Saya kadang merasa kasihan pada beberapa pihak yang masih menyimpan semangat feodalistik persaingan Puri. Ternyata persaingan itu sampai sekarang masih kental.. sayang sekali.

    HIDUP GIANYAR
    JIWA RAGAKU HANYA UNTUK GIANYAR !!!!!

    Saya salut dengan nasionalisme lokal anda tapi saya ingatkan bahwa banyak pejuang kemerdekaan Gianyar yang dibantai oleh PPN, mereka juga orang Gianyar sama seperti anda.

    Saya tidak sedang mendiskreditkan IAAGA apalagi rakyat Gianyar. Saya justru ingin melihat IAAGA ditempatkan pada posisi yang patut untuk dapat membentuk tatanan sosial yang seimbang di Bali.

    • Sedikit Mengingat sejarah masa lalu tempat kelahiran saya Denpasar, Runtuhnya kerajaan Badung dan Denpasar adalah akibat serangan belanda yang di bantu oleh gianyar.

      HIDUP NKRI
      JIWA RAGAKU HANYA UNTUK NKRI (BUKAN NEGARA sunda kecil (nit : negara indonesia timur) )

  11. ABG

    He3x… si Wibi ini sok tahu juga baru baca satu buku tulisan bule terus nyimpulkan sendiri.
    Walau saya mendukung kajian ulang pemberian gelar pahlawan nasional IAAGA, tapi banyak hal yg menurut saya aneh di analisa tulisan ini. Yg pro-Belanda jadi keliatan pro-Republik atau pura2x tidak tahu, dan demikian pula sebaliknya. Yang selalu tetap dijaga oleh penulis hanya IAAGA selalu terlihat jelek he3.

    Ibarat kata, penulis ini sudah kayak kuda yg ditutup pinggir matanya, supaya melihat lurus saja. Kalau dibaca tulisan di blog-nya, hanya itu2x saja tanpa ada sudut pandang yg lain. Ya, namanya juga blog: bebas aja nulisnya dan komentar juga bebas aja deh.

    Yah lumayan lah untuk bacaan guyonan sebelum tidur.

    ABG

  12. Yg pro-Belanda jadi keliatan pro-Republik atau pura2x tidak tahu, dan demikian pula sebaliknya.

    Bisa dijelaskan Puri mana yang anda maksud?
    Data data yang ditampilkan bukan karangan saya tapi berdasarkan catatan.

    Yang selalu tetap dijaga oleh penulis hanya IAAGA selalu terlihat jelek he3.

    Mungkin maksud anda adalah stetement:

    AA Gde Agung merupakan satu satunya tokoh terpelajar di kalangan Raja Bali yang tidak memihak Republik.

    Itu bukan dari saya tapi dari Buku Sisi Gelap Pulau Dewata hal 161.

    He3x… si Wibi ini sok tahu juga baru baca satu buku tulisan bule terus nyimpulkan sendiri.

    Tulisan saya diatas berdasar beberapa buku jadi bukan satu buku saja, dan kesimpulan saya tidak ada yang menjelek jelekan, yang menurut anda jelek jelek semua ada pada fakta yang diambil dari buku.

    Ibarat kata, penulis ini sudah kayak kuda yg ditutup pinggir matanya, supaya melihat lurus saja. Kalau dibaca tulisan di blog-nya, hanya itu2x saja tanpa ada sudut pandang yg lain. Ya, namanya juga blog: bebas aja nulisnya dan komentar juga bebas aja deh.

    Boleh saja beropini, itu hak pembaca :-)
    Pembaca yang lain juga memberi kesan mereka.

    Yah lumayan lah untuk bacaan guyonan sebelum tidur.

    Terima kasih, selamat tidur.

  13. yang ngaku budayawanmuda itu yang itu? haha mandi aja jarang gimana mau jadi budayawan mas? saya yang hidup di bali mas, saya yang tau sepak terjang orang orang,mana yang ngaku paling budayawan, mana yang suka jor2an dan mana peminpin yang selalu memihak rakyat tanpa pernah meminta publikasi. yang jelas rakyat tau, kalopun dimedia berbeda itu kan tergantung uang dan promosi. bali dibangun dengan kesederhanaan,seni tanpa pamrih dan pengabdian, so….rajaa kami tetaplah raja yang utama, sudah terbukti.hidup gianyar.

    • Saya juga lahir, hidup di Bali, tapi maaf saya bukanlah orang serba tahu tentang Bali.
      Tapi saya malu baca komen anda atas blog ini.
      hidup gianyar ?! miris saya membacanya, malang sekali para pejuang NKRI yang berasal dari Gianyar, Mereka di bantai secara bengis dan keji oleh antek – antek (“aaga”, raja gianyar).
      Raja kami ?! percaya diri sekali anda mengatasnamakan rakyat gianyar !

      Hidup NKRI

  14. @wastu:

    yang ngaku budayawanmuda itu yang itu? haha mandi aja jarang gimana mau jadi budayawan mas?

    Selamat… anda sudah melakukan ad-hominem, sebuah ciri umum seorang yang kehabisan argumentasi.

    saya yang hidup di bali mas,…

    …so….rajaa kami tetaplah raja yang utama, sudah terbukti.hidup gianyar.

    Sebenarnya lebih tepat dikatakan anda hidup di Gianyar, itupun hanya di Puri sebab anda tak berhak mengatas nama rakyat Gianyar apalagi rakyat Bali.

    Anda mengklaim tahu peta sosial-politik Bali? dari pandangan seorang nasionalis atau dari pandangan seorang yang hidup bagai katak dalam tempurung?

    No wonder anda sangat loyalis AA Gde Agung, pembaca saya bisa melihat dengan jelas satu bukti nyata visi seorang yang loyalis AA Gde Agung.

  15. Satria G.

    Sdr. Wibi, saya warga Indonesia kelahiran Gianyar saya krama bali (asli) rasanya saya berhakmengatas namakan orang gianyar yang menjunjung tinggi sesuhunan kami Ide Anak Agung,dengan atau tanpa gelar pahlawan ….kami rasa opini anda (lebih tepat hujatan) terhadap raja kami agak tidak sopan dan salah alamat,sebagai warga negara anda berhak punya argumen apapun apalagi jika anda punya bukti otentik dan dapat dipertanggung jawabkan…..kenapa anda tidak protes ke presiden saja untuk keberatan ini rasanya akan lebih ada hasilnya dan tidak menyinggung perasaan kami panjak Gianyar…….Berbeda dengan anda meskipun anda lahir di Bali dan merasa sbg orang Bali, bagi krama bali anda adalah “nyama selam” yang kami hormati sebagai “krama tamyu”walaupun anda mengerti bahkan pakar sekalipun budaya Bali dapat saya pastikan anda “tidak tahu adat” Bali. Sdr.Wibi hubungan panjak dengan sesuhunan bagi krama Bali adalah hubungan sehidup-semati…menghina rajanya—berarti menghina panjaknya.
    Sdr.Wibi,kalau anda menghormati alm.sesuhunan kami dan tidak ada sentimen pribadi atau motif lainnya,alangkah santun dan berbudayanya kalau anda berhenti menghujat dan menghina- anda selalu mengatakan tidak punya motif lain selain pemurnian pahlawan itu sendiri(dalam hal ini saya sangsi dengan motivasi anda)
    Memang Negeri kita carut marut,tapi generasi muda spt kita tentu bersedia memulai langkah yang berbudaya untuk menyalurkan aspirasi melalui saluran yang benar(DPR?)- anda budayawan,bukan? anda mesti sabar……
    Ketahuilah Sdr.Wibi…. tidak pernah sekalipun saya mendengar keluarga Puri Gianyar mengusulkan Sesuhunan kami agar mendapat gelar Pahlawan( memang gelar bisa diminta?) karena orang bali punya falsafah”Depang Anake Ngadanin”
    Sdr Wibi,nyama selam-krama tamyu-yang saya hormati sekali lagi saya mohon berhentilah menghina sesuhunan kami— salurkan aspirasi anda pada jalur yang benar siapa tahu perintah RI mengabulkan tuntutan anda—dan apabila itu benar2 terjadi kami tidak akan sakit hati karena percaya pasti hal itu sudah melalui kajian yang benar karena kami krama bali percaya pemerintah adalah “guru wisesa”—— guru yang bijaksana

    • Rupanya anda panjak yang sangat loyalis dengan susuhunan anda, raja anda.
      Miris saya membaca komen anda pada blog ini.
      Susuhunan saya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
      dan hubungan saya tidak sehidup semati dengan raja saya, Raja saya sudah gugur dalam puputan Badung. Dimana Belanda di bantu kerajaan Gianyar dalam mempersiapkan bivak – bivak dan membawakan peralatan perang serdadu belanda.

      HIDUP NKRI

  16. @Satria G:

    Sdr. Wibi, saya warga Indonesia kelahiran Gianyar kami rasa opini anda (lebih tepat hujatan) terhadap raja kami agak tidak sopan dan salah alamat,sebagai warga negara anda berhak punya argumen apapun apalagi jika anda punya bukti otentik dan dapat dipertanggung jawabkan…..kenapa anda tidak protes ke presiden saja untuk keberatan ini rasanya akan lebih ada hasilnya dan tidak menyinggung perasaan kami panjak Gianyar

    Seandainya saya penasihat Presiden maka hal itu bisa dengan mudah saya lakukan, tapi saya hanya orang biasa, sama seperti anda yang tidak memiliki akses ke Presiden, bahkan Gubernurpun tidak leluasa bisa dapat akses ke Presiden.

    Media inilah cara yang bisa saya lakukan untuk menyuarakan aspirasi.

    Sdr.Wibi hubungan panjak dengan sesuhunan bagi krama Bali adalah hubungan sehidup-semati…menghina rajanya—berarti menghina panjaknya.

    Saya sangat paham dan setuju akan hal itu, problem ini juga yang dihadapi oleh Ngurah Rai karena rakyat Gianyar pada waktu itu mengira bahwa para pemuda berusaha memerangi Raja mereka, terutama rakyat dari golongan tua.

    Tapi rakyat dari golongan muda bisa memahami dan akhirnya bergabung dengan pasukan para pemuda. (cobalah baca seksama lagi)

    Rupanya kesalah pahaman ini terjadi lagi sekarang, saya tidak bermaksud menghujat Raja Anda tapi pengangkatan Pahlawan Nasional itulah yang menyinggung perasaan sebagian besar rakyat Bali. Bahkan protes komponen rakyat yang keberatan itu diakomodasi oleh Gubernur.

    Hal ini pernah saya sampaikan pada Blognya Prof Adrian Vickers, bahwa pengangkatan itu tak sepatutnya dilakukan sebab itu akan memecah belah persatuan rakyat Bali. Akan timbul polemik yang merusak tatanan nilai nilai.

    Sdr.Wibi,kalau anda menghormati alm.sesuhunan kami dan tidak ada sentimen pribadi atau motif lainnya,alangkah santun dan berbudayanya kalau anda berhenti menghujat dan menghina- anda selalu mengatakan tidak punya motif lain selain pemurnian pahlawan itu sendiri(dalam hal ini saya sangsi dengan motivasi anda)

    Saya selalu memisahkan antara fakta dan opini. Saya tidak menghina atau menghujat, coba anda rujuk kalimat mana pada tulisan saya yang anda anggap sebagai menghujat?

    Saya juga punya keluarga orang Gianyar, Om Ngakan tinggal Batubulan dekat Sukawati tepatnya, jadi saya tidak punya kepentingan menyudutkan orang Gianyar, Gianyar merupakan icon seni Bali.

    Anda jangan mengaburkan nilai itu dengan permasalahan yang sedang kita hadapi, seolah apa yang terjadi pada AAGA adalah merupakan satu kesatuan dengan Gianyar. Wayan Dipta dan Legiun veteran juga orang Gianyar.

    Memang Negeri kita carut marut,tapi generasi muda spt kita tentu bersedia memulai langkah yang berbudaya untuk menyalurkan aspirasi melalui saluran yang benar(DPR?)- anda budayawan,bukan? anda mesti sabar……

    Apakah cara saya menurut anda tidak patut? Bagian yang mana? Kalau saluran resmi lihat sendiri DPRD kita bagaimana? Bahkan medianya sendiri juga seperti enggan menggangkat masalah ini karena harus berbayar. Saya sudah cukup sabar untuk hanya menulis saja di Blog.

    Ketahuilah Sdr.Wibi…. tidak pernah sekalipun saya mendengar keluarga Puri Gianyar mengusulkan Sesuhunan kami agar mendapat gelar Pahlawan( memang gelar bisa diminta?) karena orang bali punya falsafah”Depang Anake Ngadanin”

    Anda tidak mendengar bukan berarti tidak ada. Untuk bisa diusulkan sebagai pahlawan nasional prosedurnya adalah harus ada surat permohonan dari pihak keluarga.

    Ini terungkap waktu wawancara Sultan HB X di acara MetroTV Kick Andy. Waktu itu pihak keluarga Sultan HB IX diminta untuk mengajukan surat permohonan tapi akhirnya Sultan HB X tidak melakukannya karena mereka tidak pernah minta ayah mereka dijadikan pahlawan.

    Jadi jelas ada rekomendasi dari pihak keluarga dan prosedur yang benar adalah harus ada seminar dulu di daerah untuk mengetahui ada keberatan atau tidak dari masyarakat.

    Seminar tentang AAGA tidak diadakan karena pasti mendapat protes dari masyarakat khususnya Legiun veteran. Tapi rekomendasi tetap ada dan proses jalan terus. Itu yang saya sesalkan.

    Sdr Wibi,nyama selam-krama tamyu-yang saya hormati sekali lagi saya mohon berhentilah menghina sesuhunan kami— salurkan aspirasi anda pada jalur yang benar siapa tahu perintah RI mengabulkan tuntutan anda—dan apabila itu benar2 terjadi kami tidak akan sakit hati karena percaya pasti hal itu sudah melalui kajian yang benar karena kami krama bali percaya pemerintah adalah “guru wisesa”—— guru yang bijaksana

    Selama anda tidak bisa membuktikan dimana saya melakuakan penghinaan maka tidak perlu saya tanggapi.

    Pemerintah tidak seindah dan sebijak guru wisesa, mereka juga manusia yang perlu di awasi sebagai pejabat publik. Bukankah gerakan reformasi juga lahir akibat tidak wisesanya pemerintah.

  17. wayan serongga

    setidaknya ,, meskipun anda membuat blog ini dari berbagai catatan… alasan asli dari beliau IDA DUAGOENG ,,, tentu tidak anda dapatkan,,, mengenai kenapa beliau melahkukan hal itu pada masa itu,, sehingga beberapa kalangan menanggapinya dengan negativ sehingga dibuatlah catatan kelam yang tak pernah melihat sisi lain dibalik keputusan IDA ANAKE AGOENG ,, ha,,ha,, again seperti kuda yang ditutupi sebelah matanya,, catatan tersebut menurut saya bisa diperdebatkan di forum terbuka,, meskipun sang catat sudah wafat dsb,, dan dari sanalah muncul beberapa masyarakat yang mungkin menurut saya dampak dari kesalahpahaman publik terhadap IDA ANAK’E AGOENG… usul saya buat mas bro, bisa dicari beberapa hal2 or pokok2 penting lain history tersebut dari masyarakat yang masih mengingatnya ,,antara lain para tetua2 Gianyar yang tau jelas dengan hal tersebut… tidak hanya dari beberapa sumber yang belum tentu benar menurut saya ,,, tentunya membuat kontra di kalangan masyarakat ,, padahal ada sumber2 lain yang menyebutkan alasan dibalik dinamika politik pada masa itu..

  18. Saya adalah orang bali yang cinta Indonesia. Kebetulan saya suka sejarah. Banyak kisah dan cerita tentang “aaga” yang saya dengar dari para tetua saya. Dimanakah saya bisa menemukan Buku tentang “aaga” ?

    Jika ada Bukunya, sebaiknya di adakan bedah buku mengundang para saksi sejarah yang hidup.

    “aaga” yang saya tau dari para tetua adalah tokoh feodal gianyar yang hanya peduli dengan tahtanya, anti Republik dan dalang dari kekejaman yang dilakukan pada pejuang Republik.

    Saya butuh referensi baru dan bukti yang sah dan meyakinkan jika “aaga” memang patut di beri gelar pahlawan nasional. (padahal dia anti Republik, logikanya di mana? ).

    Menurut saya harus dan wajib di kaji lagi, agar tak jadi polemik, apapun kajian itu bisa di rekomendasikan pada yang terkait.

    Saya lebih menyegani Bung Karno dan I Gusti Ngurah Rai dari pada “aaga” ( JASMERAH, jangan sekali sekali melupakan sejarah ( Bung Karno) )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s