Pendopo Kesenian Roboh

Makna judul diatas bukan konotatif tapi harfiah. Memang bener bener ada pendopo untuk kegiatan seni di Jogja roboh. Berikut beritanya dari rekan Sukarto Karto.

Saya selaku koordinator Balai Kesenian Jawa Cahya Kawedar Berbah Sleman Yogyakarta, memohon pada sahabat, untuk mewartakan, memberikan saran/petuah-petunjuk, dan atau memberikan informasi. Bahwa peristiwa gempa 27 Mei 2006 lalu, mengakibatkan pendopo aktifitas kesenian kami ROBOH TOTAL.

Hingga saat ini ada sebuah lembaga yang sudah membantu kami membangun kembali pendopo tersebut, namun karena dana tak mencapai selesai sebuah pendopo hingga kini pembangunan kami terhenti sejak 28 Oktober 2007 lalu.

Aktifitas kami yang sudah berjalan selama 15 tahun lalu hingga kini:

  • Pengembangan dan pendidikan kesenian jawa pada masyarakat pecinta (termasuk kursus privat karawitan/gamelan, kursus privat dalang).
  • Pendidikan kesenian jawa untuk anak-anak usia SD -hingga SMP, dengan materi latihan karawitan, olah vocal jawa, tari, dan lagu-lagu dolanan anak-anak.
  • Ritual gamelan rutin setiap malam Jumat Legi.

Jenis pementasan :

  • Wayang kulit/wayang orang/wayang golek, Kethoprak, Tarian dan tembang anak-anak, uji pentas kursus ( pentas pamijen).
  • Waktu-waktu pementasan : Hari-2 besar Nasional, tahun Jawa, hari anak-anak, hari besar keagamaan.
  • Seleruh kegiatan akan kami kirim bila sahabat milling list menghendaki termasuk dokumentasi foto-foto.

Kekurangan dana pembanguna Pendopo : kurang lebih sekitar Rp 50.000.000, (bila menginginkan rincian proposal akan kami kirim.)

Demikian :

Balai Kesenian Jawa Cahya Kawedar.

Alamat sekertariat :
Dulkaeni/bahdul , Dsn Berbah, kal. tegaltirto, Kec. Berbah Sleman YOGYAKARTA-55573.

email: dulkaeni [at] ukdw.ac.id/ mbahkarto [at] gmail.com / bahdul [at] yahoo.com.sg

HP: 0813 2819 1987.

Alamat Pusat kegiatan :

Rumah Drs Edi Guntoro.
Dsn Gamelan, Kal. Sendangtirto, Kec, Berbah Kab.Sleman Yogyakarta – 55573.

Demikian himbauan, harapan, dan permohonan dukungan.
Bahdul / Mbah Karto.

Semoga bantuan bisa lebih banyak datang dan pendopo bisa segera berdiri lagi.

Amien

5 Komentar

Filed under budaya

5 responses to “Pendopo Kesenian Roboh

  1. Keterkejutan karena seorang Yusril ngeblog wajar- wajar saja. Itu memang hal baru. Di sisi lain, para blogger Indonesia nampaknya mengidap inferiority complex yang lumayan parah.

    Yusril menceburkan diri ke blog pasti sudah lebih dulu membuat kalkulasi holistik mengenai efektivitas blog buat mengatrol popularitasnya yang sedang merosot. Soal popularitas yang merosot ini adalah pandanganku sendiri dan tentu saja bisa diperdebatkan.

    Yusril mau memanfaatkan blog untuk mengatrol popularitasnya, sambil “investasi citra baik” di kalangan bloger — yang notabene mayoritas kaum muda– kenapa tidak ? Bukankah itu tindakan yang cerdas ?

    Sorry, dari semua argumentasi yang Mas Wibisono paparkan dalam membahas kehadiran Yusril di dunia blog, tak bisa disembunyikan reaksi-reaksi bersifat terkejut, kagum dan campur apriori. Itu sah-sah saja, namanya juga respon atau reaksi. Tapi seorang budayawan muda tak semestinya kagetan begitu.

    Kemudian Mas Wibisono bilang, media mainstream masih memandang sebelah mata blog. Kalau ya, kenapa ? Buat apa merisaukan itu ?

    Ini sekadar sharing aja. Menurutku blog adalah fajar baru yang sedang menyingsing di cakrawala dunia komunikasi. Ciri-cirinya sejalan dengan watak budaya kontemporer yang dominan di dunia komputer dan handphone, yaitu serba personalize. Nah itulah blog, pola komunikasi yang bersifat personal, independen dan real time jika perlu.

    Apakah mungkin mengharapkan surat kabar atau televisi berlaku seperti blog ? Mungkin, tapi mereka tidak mau atau takut kehilangan pelanggan, karena mereka menganggap fenomena blog dewasa ini bisa saja mengulangi fenomena palsu dekade 80-an, ketika website digadang-gadang bakal menggusur dan mengubur media cetak konvensional. Nyatanya mati satu per satu.

    Menariknya, blog adalah anak cucu yang tumbuh dari kuburan website tahun 80-an itu. Eksistensinya memang masih diliputi ketidakpastian, terutama karena ketergantungannya pada fasilitas gratis yang disediakan wordpress, blogspot, multiply, dll. Namun kehadirannya sudah berhasil membawa fenomena baru yang dahsyat. yaitu pola komunikasi personal yang aku sebutkan tadi.

    Lihat, semua koran di seluruh dunia, sekarang rame-rame bikin website, bahkan memberi kesempatan pengunjung mengintip dapur pembuatan berita, lewat chatting dengan crew readaksi. New York Times sangat intens menggarap ini. Artinya apa ? Media mainstream sadar, kalau mereka tidak mampu memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari kehadiran blog, mereka akan mati.

    Dengan uraian panjang lebar ini, sesungguhnya aku cuma mau bilang : kehadiran Yusril hanya sebuah sensasi, karena dia politisi dan pernah menteri. Dari aspek dunia blog sendiri, Bang Yusril cuma seorang pemula seperti aku.

    Santai aja Mas. Wait and see.

    Nuwun sewu, hatur nuhun, mauliate.
    Tabik.
    Horas.

  2. @tobadreams:

    Salam kenal mas Raja Huta🙂
    Mungkin Anda salah posting komentar yah? mungkin maksudnya ke artikel Klarifikasi Yusril.

    Tapi saya mengerti maksudnya.

    Yusril menceburkan diri ke blog pasti sudah lebih dulu membuat kalkulasi holistik mengenai efektivitas blog buat mengatrol popularitasnya yang sedang merosot. Soal popularitas yang merosot ini adalah pandanganku sendiri dan tentu saja bisa diperdebatkan.

    Kalau Anda mengikuti prosesnya maka bisa disaksikan bahwa Pak Yusril ngeblog bukan karena sudah merencanakan dan memperhitungkan tapi merupakan kelanjutan dari diskusi spontan tentang Cheng Ho yang akhirnya berlanjut ke isu isu lain yang mengarah pada penciptaan blognya sendiri.

    Sorry, dari semua argumentasi yang Mas Wibisono paparkan dalam membahas kehadiran Yusril di dunia blog, tak bisa disembunyikan reaksi-reaksi bersifat terkejut, kagum dan campur apriori. Itu sah-sah saja, namanya juga respon atau reaksi. Tapi seorang budayawan muda tak semestinya kagetan begitu.

    hmm.. ini soal mengkespresikan apa yang saya rasa. tentu saya tidak usah mengikuti pakem orang lain tentang bagaimana seharusnya seseorang mengekspresikan apa yang dia rasa🙂
    seperti yang anda bilang, sah sah saja.

    anyway saya mengaku kaget dan gembira karena dari sekian banyak tokoh yang saya temui kebanyakan belum mau dan belum bisa melihat blog sebagai media baru.

    Mereka masih takut dan tidak nyaman dengan media baru (baca: perubahan). Karena itu saya gembira mendapati Pak Yusril yang berani terjun ke dunia Blog.

    Lihat, semua koran di seluruh dunia, sekarang rame-rame bikin website, ….

    …Artinya apa ? Media mainstream sadar, kalau mereka tidak mampu memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari kehadiran blog, mereka akan mati.

    Kalau koran & TV bikin website mungkin sudah dari dulu yah, mungkin maksudnya sekarang koran rame rame bikin Blog dan saya sepakat media mainstream harus menyikapi Blog.

    Nah itulah blog, pola komunikasi yang bersifat personal, independen dan real time jika perlu.

    Kalau dibilang personal tidak selalu sebab sekarang lingkungan korporat juga mulai ngeblog yang contentnya tidak personal, termasuk Blog koran koran itu.

    Kemudian Mas Wibisono bilang, media mainstream masih memandang sebelah mata blog. Kalau ya, kenapa ? Buat apa merisaukan itu ?

    Saya tidak merisaukan media mainstreamnya tapi adalah content Blog yang rata rata belum sebaik media mainstream dari sisi penyampaian, kalau dari sisi isi, Blog justru memiliki kelebihannya karena independen dan tidak disensor.

    Dengan uraian panjang lebar ini, sesungguhnya aku cuma mau bilang : kehadiran Yusril hanya sebuah sensasi, karena dia politisi dan pernah menteri. Dari aspek dunia blog sendiri, Bang Yusril cuma seorang pemula seperti aku.

    Karena cuma sensasi jadi tidak memiliki makna yang sesungguhnya? Dari postingan terakhir Pak Yusril saya rasa bukan sekadar sensasi tapi sungguh sungguh berniat melakukan klarifikasi walaupun memang dunia Blog jadi heboh.

    Keterkejutan karena seorang Yusril ngeblog wajar- wajar saja. Itu memang hal baru. Di sisi lain, para blogger Indonesia nampaknya mengidap inferiority complex yang lumayan parah.

    Sebagai sebuah opini sah sah saja. Anda yang mengaku pemula di dunia Blog mungkin tidak tahu bahwa heboh itu biasa, heboh Yusril tidak seheboh yang anda kira, masih banyak heboh lain juga muncul dan kami menikmatinya🙂

    peace ah…

  3. @Mas Wibisono Sastrodiwiryo

    Salam kenal juga mas. Aku harap kita bisa sharing untuk seterusnya.

    Terima kasih komen aku sudah ditampilkan dan langsung ditanggapi. Mas menjawab dengan lugas dan tangkas. Salut.

    OK. Sebagian besar sudah jelas dari tanggapan Mas Wibisono, tapi ada sedikit yang perlu aku perjelas :

    Mas bilang begini :

    Kalau Anda mengikuti prosesnya maka bisa disaksikan bahwa Pak Yusril ngeblog bukan karena sudah merencanakan dan memperhitungkan tapi merupakan kelanjutan dari diskusi spontan tentang Cheng Ho yang akhirnya berlanjut ke isu isu lain yang mengarah pada penciptaan blognya sendiri.

    Tanggapanku : memang benar aku tidak mengikuti prosesnya, tapi tetap saja hanya Bang Yusril yang tepat dan berhak untuk menyanggah opiniku, bahwa dia tentu telah melakukan kalkulasi holistik sebelum menceburkan diri ke blog.

    Kemudian pada bagian yang ini saya sependapat dan memang itulah yang kukatakan di komenku, justru mas yang kurang cermat :

    Saya tidak merisaukan media mainstreamnya tapi adalah content Blog yang rata rata belum sebaik media mainstream dari sisi penyampaian, kalau dari sisi isi, Blog justru memiliki kelebihannya karena independen dan tidak disensor.

    Oh ya, Mas Wibisono, benar bahwa media massa punya website itu sudah cerita lama. Yang kumaksud adalah blog. Thanks untuk koreksinya.

    Yang berikut inipun sebenarnya tidak prinsipil, tapi tetap penting :

    Kalau dibilang personal tidak selalu sebab sekarang lingkungan korporat juga mulai ngeblog yang contentnya tidak personal, termasuk Blog koran koran itu.

    Coba mas cermati komen aku, disitu aku katakan “…pola komunikasi personal” bukan ? Jadi yang pokok bukan apa contentnya, tapi bagaimana dikomunikasikannya.

    Yang terakhir, mas mengatakan :

    Anda yang mengaku pemula di dunia Blog mungkin tidak tahu bahwa heboh itu biasa, heboh Yusril tidak seheboh yang anda kira, masih banyak heboh lain juga muncul dan kami menikmatinya

    Aku memang pemula di dunia blog. Terima kasih sudah memberi tahu kalau heboh itu biasa di dunia blog. Hanya aku jadi bertanya-tanya mengenai kalimat,”…dan kami menikmatinya.” Kami ?

    Terimakasih mas. Mudah-mudahan tukar pikiran ini ada manfaatnya. Horas.

  4. @tobadreams:

    Coba mas cermati komen aku, disitu aku katakan “…pola komunikasi personal” bukan ? Jadi yang pokok bukan apa contentnya, tapi bagaimana dikomunikasikannya.

    Oh ok, saya mengerti maksudnya.

    Aku memang pemula di dunia blog. Terima kasih sudah memberi tahu kalau heboh itu biasa di dunia blog. Hanya aku jadi bertanya-tanya mengenai kalimat,”…dan kami menikmatinya.” Kami ?

    Kata “kami” itu lahir mengikuti logika pengutuban yang Anda buat. Pada statement Anda :

    Di sisi lain, para blogger Indonesia nampaknya mengidap inferiority complex yang lumayan parah.

    Tersirat anda tidak termasuk dalam blogger yang mengalami inferiority complex tersebut. Jadi kalau saya katakan “kita” maka Anda juga termasuk, nanti sampeyan gak terima kan saya yang salah🙂

    Jadi terpaksa saya gunakan kata “kami”, hanya untuk membedakan. Kecuali kalau Anda pernah mengatakan “termasuk saya”, maka itu bisa saya gunakan kata “kita”.

    Untuk mengeneralisir blogger Indonesia mungkin tidak sederhana yah, sebab dari yang ikut membahas Yusril hanya sedikit sekali walaupun itu dedengkotnya seperti Priyadi, Ndorokakung, Vavai, Firdaus dll.

    Dan mereka tidak bisa mewakili satu nama blogger Indonesia. Terungkap waktu pengalaman pesta Blogger kemarin yang tajuknya adalah gathering nasional yang dihadiri oleh berbagai komunitas blogger dari berbagai kota di Indonesia tapi tetap saja ada pihak pihak yang merasa tidak terwakili dan mempertanyakan bobot nasional tersebut.

    Jadi kalau mengatakan blogger Indonesia sesungguhnya majemuk dari berbagai aspek.

    Kehebohan Yusril hanya dialami oleh sebagian kecil, terhitung pada saat yang sama ada kehebohan lain seperti soal Sarah yang “ngambek” karena dituduh copypaste content bloger lain. Ada juga kehebohan wartawan yang diseret ke pengadilan karena menulis dikolom koran.

    Semua terjadi pada saat yang bersamaan dengan heboh Yusril, tinggal pilih mau menikmati yang mana?😉

    Oh ya satu lagi, tidak perlu mengklasifikasikan diri pemula, kata pemula hanya valid untuk indikasi kemampuan teknis blogging. Untuk soal wawasan dan kemampuan menulis: kalau seorang mantan wartawan yang dikenal dengan reputasi jurnalis-nasionalis-idealis maka Anda sama sekali bukan golongan pemula.

    Blognya TobaDreams bagus.. saya suka🙂

  5. @Mas Wibisono Sastrodiwiryo

    Aku anggap penjelasanmu sudah menjawab pertanyaanku yang paling pokok. Senang berkenalan denganmu, karena kau sportif dan santun. Terima kasih kawan. Horas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s