Monthly Archives: Desember 2007

Drama Tilang Akhir Tahun

Lulu dan RianKemarin lusa tanggal 29 Des hari sabtu, saya dan kawan kawan mengunjungi seorang teman lama untuk selametan rumah barunya. Namanya Lulu, teman sekantor dulu di Cabinet. Sejak dia jadi pengacara di Lawfirm ternama itu kami pisah kantor.

Terakhir kali kami mengunjunginya waktu dia melahirkan anak pertamanya, Rian. Waktu itu dia masih tinggal di Rawamangun, sekarang sudah pindah ke Mampang dan kami diundang untuk makan makanlah dirumah barunya.

Bersama teman sekantor lainnya Afrie dan Adjie kami berangkat dengan hati riang akan bertemu teman lama dan pasti seru ngobrolnya. Dari rumah Adjie di Kampung Melayu kami meluncur ke Mampang lewat Casablanca. Dari Casablanca tembus ke Rasuna belok kiri lewat jalur lambat menuju arah Gatsu.

Tujuan saya adalah masuk ke jalur cepat. Jalanan cukup lengang karena hari sabtu. Dengan mudah saya dapatkan celah masuk ke jalur cepat dari jalur lambat. Itu adalah celah pertama yang saya temui sejak belok kiri ke Rasuna dari Casablanca.

Kira kira 50 meter didepan rupanya ada beberapa orang polisi berjalan agak ketengah dengan bahasa tubuh yang mengisyaratkan supaya berhenti. Saya masih tenang karena saya pikir mobil lain pasti melakukan pelanggaran hingga distop polisi. Tapi ternyata mobil yang distop adalah mobil kami.

Dengan agak bingung saya berhenti dan membuka kaca jendela, melongokan muka saya sambil bertanya “ada apa pak?”.

“Selamat siang Pak”, kata Pak Polisi sambil memberi hormat. Saya langusng tanya lagi “ada apa?”. Polisi menjelaskan bahwa saya masuk dari jalur lambat ke jalur cepat lewat celah yang salah. Celah itu untuk jalur cepat ke jalur lambat.

Adjie dan Afrie mulai ngeh tapi saya masih penasaran. Saya mikir sejenak dan bilang, “Tapi tidak ada rambu dilarang masuk tuh Pak?”. Polisi menjawab lagi dengan mengatakan bahwa celah itu juga termasuk rambu.

Saya baru ngeh bahwa celah masuk memang biasanya dibikin serong. Jadi kalau celah dari jalur cepat ke lambat dibuat serong kearah jalur lambat begitu juga sebaliknya.

Polisi kemudian menunjukkan contohnya tepat didepan kami yaitu sebuah celah masuk dari jalur lambat ke jalur cepat yang serong ke arah jalur cepat. Polisi bilang “harusnya anda masuk dari sini dan bukan dari sana”, sambil menunjuk ke arah celah kami masuk dibelakang sana.

Terlihat kami tertegun dengan urainya kemudian Polisi melanjutkan, “jadi begini pak, apakah bapak bisa hadir tanggal 15 untuk sidang?”. Kemudian dia melanjutkan, “saya bisa bantu pak asalkan bapak sama sama mengerti”. Afrie dibangku belakang mulai tidak sabar dan bisik bisik ke saya, “udehhh di mau dibayar kasih ajah…”.

Kami diskusi agak panjang, saya masih belum bisa terima dengan tuduhan pelanggaran ini, sebab celah yang kami masuki tadi tidak benar benar serong dan celahnya terlihat agak rusak akibat pembangungan infrastruktur Monorail dan lagi nyata nyata tidak ada rambu larangan masuk.

Kalau memang celah masuk yang serong itu juga bisa jadikan sumber hukum lalu-lintas yang dilanggar maka kenapa dapat saya temui celah masuk yang dilengkapi dengan rambu dilarang masuk? Tidak ada konsistensi aturan rambu lalu lintas.

Kemudian lagi jarak antara celah masuk cepat-lambat (yang kami langgar) dan celah masuk lambat-cepat (tempat Polisi berjaga) hanya berjarak kurang lebih 50 meter tapi kenapa Polisi menjaga di celah masuk lambat-cepat dan bukan di celah masuk cepat-lambat sehingga bisa mencegah mobil yang salah masuk?

Menurut saya ini terkesan seperti jebakan. Polisi sengaja membiarkan celah yang tidak jelas itu untuk menjebak pengendara yang tidak paham dan akhirnya salah masuk. Kalau memang demikian ini bisa digolongkan kejahatan. Bagaimana tidak mereka bertugas lebih dari dua orang tapi semuanya berjaga di celah masuk lambat-cepat untuk mencegat mobil yang salah masuk di celah masuk cepat-lambat.

Kami berdebat agak panjang. Saya mempersoalkan rambu yang tidak jelas tapi Polisi berdalih bahwa itu urusan dinas perhubungan. Baiklah kalau memang begitu. Tapi kalau niat Polisi adalah untuk menertibkan maka salah satu dari mereka seharusnya berjaga di celah yang tidak jelas itu. Yang mereka lakukan adalah semuanya numplek jaga di celah masuk lambat-cepat seolah olah menunggu mobil yang salah masuk dari celah yang tidak jelas itu sebagai mangsa.

Polisi itu bilang kalau memang tidak mau mengerti maka sebaiknya kami hadir pas sidang pengadilan. Saya tidak bisa terima tuduhan pelanggaran karena rambu yang tidak jelas dan berniat mencari keadilan di pengadilan. Tapi teman saya Adjie yang duduk di sebelah menasihati bahwa sidang tilang tidak bisa dijadikan media menegakkan keadilan. Sidang tilang itu hanya ketok palu dan bayar denda.

Saya teringat waktu Yusril Ihza Mahendra pernah ditilang dan waktu sidang Pak Yusril tidak mau menerima putusan bersalah kemudian menuntut agar Polisi yang menilangnya dihadirkan supaya bisa membuktikan bahwa dia memang bersalah melanggar aturan. Begitulah seharusnya proses pengadilan berlangsung. Namanya juga pengadilan harusnya tidak cuma ketok palu. 

Saya ini pengendara yang taat aturan. Jangankan siang siang di jalan protokol. Malam malam hingga dini hari di Jakarta Timurpun saya selalu taat. Saya bukan pengendara yang go with the flow, yang ikut nerobos lampu merah hanya karena pengendara lain menerobos. Saya akan berhenti walaupun diklakson dari mobil-mobil di belakang supaya segera menerobos lampu merah.

Saya tidak lakukan itu karena selain untuk keselamatan juga karena saya tidak akan punya argumen kalau distop polisi. Saya paling sebel lihat motor yang nerobos lampu merah atau jalan berlawanan arah masuk jalur orang lain. Sekarang saya mau ditilang dengan tuduhan melanggar aturan. Sakit hati rasanya.

Saya mau lanjut debat tapi Adjie udah keluarin dompet mau ambil lembaran 50 ribuan tapi Afrie lebih sigap dan mengeluarkan dua lembar 10 ribuan. Pak Polisi yang bernama Rinaldo dengan pangkat Serda (pangkat bengkok satu dipundak namanya apa yah?) itu dengan sigap menerkam duit dari tangan Afrie dan mengembalikan SIM saya dan STNK yang dia tahan. Sementara itu dibelakang kami sudah berderet deret mobil yang distop karena kesalahan yang sama. Tidak kurang dari 4 mobil di belakang kami.

Kami berlalu dari Jalan Rasuna masuk ke Mampang dengan perasaan yang sebelumnya riang gembira ingin bertemu teman lama menjadi BT abis nyumpahin tuh Polisi. Duh pak Polisi, kami tahu gaji Polisi itu kecil tapi jangan begini dong nyari duitnya. Masih banyak penduduk yang bergaji kecil juga. Jangan hanya karena kalian punya wewenang trus digunakan sebagai alat cari duit.

Saya sebel banget dan mikir apa sebaiknya hak tilang Polantas itu dicabut saja. Sebab orang orang sering kali merasa lebih aman dijalan raya tanpa Polantas. Ah tapi itu pikiran yang emosional, nantilah kita pikirkan lagi bagaimana sebaik sistem tilang yang baik.

Kalau sudah begini saya sepakat benar dengan hasil survei Todung Mulya Lubis bersama TII yang mengatakan bahwa Polisi masih jadi lembaga terkorup di Indonesia.

habis makan foto barengUntunglah perasaan BT itu segera sirna begitu kami sampai di rumah Lulu dan melahap santap siang yang dihidangkan tuan rumah. Saya nambah tiga kali sebagai bentuk pelampiasan dongkol saya (halah alasan ajah, bilang ajah laper). Tapi bisa jadi laper karena energi terkuras dengan kejadian tadi. Begitulah akhir tahun 2007 harus ditutup dengan drama tilang dijalan HR Rasuna Said dengan bintang tamu Serda Rinaldo.

Sayang saya tak sempat ambil fotonya karena tak terpikirkan. Mulai sekarang teman teman siapkan camera HP anda bila distop Polisi. Kalau terjadi drama tilang lagi kirim ke saya crita dan fotonya. Saya dengan hati memuatnya disini. Lebih spesifik lagi hati hati masuk jalur cepat dari jalur lambat di JL Rasuna setelah Casablanca kearah Gatsu, bisa jadi mereka masih bercokol disana menunggu mangsa berikutnya dengan menggunakan jebakan yang sama.

Iklan

8 Komentar

Filed under curhat

Gelukkig Nieuwjaar 2008

Banten BaliDalam budaya Jawa dan Bali ucapan selamat tahun baru tidak lazim. Bahkan ucapan selamat secara umumpun tidak lazim. Budaya berselamat selamat baru dikenalkan oleh Belanda untuk kalangan tertentu. Kini sudah banyak bisa kita lihat ucapan selamat dalam bahasa Jawa atau Bali.

Ucapan Sugeng Riyadi lazim didengar dihari raya tapi Sugeng Tahun Baru?? Tidak lazim. (wah ntar Pak Sugeng keseringan noleh kan kasihan) Apalagi di Bali yang masyarakatnya tidak sefeodal di Jawa. Orang Bali lebih suka memperlihatkan raut wajah yang sumringah ketika bertemu untuk menunjukkan ucapan selamat.

Sungguhpun demikian tentu bisa dan boleh mengucapkannya, dalam kesempatan ini saya ingin memberi ucapan tersebut versi saya.

Ring taun barune sane jagi rauh puniki, titiang taler ngaturang manah asapuniki dumadak para semeton sareng sinamian mapi polih karahajengan miwah keslametan saking Ida Sang Hyang Paramakawi.Om Shantih, Shantih, Shantih…

Dungo nyambut dumaten taun anyar; Allahumo pujikowo kumpulno badan sampurno. Sederak sedoyo, kulo ngaturaken sugeng taun anyar, mugi tansah diparingi rejeki, mugi tansah diparingi kasarasan, mugi diparingi dinten ingkang saé, gemah ripah loh jinawi maring sederek sedoyo.

Bagaimana versi anda?

4 Komentar

Filed under budaya

Tewasnya Benazir Bhutto

Benazir BhuttoBenazir Bhutto tewas akibat serangan bom bunuh diri ditembak ditengah tengah kerumunan pendukung kampanye partai politiknya. Benazir merupakan lawan politik utama Presiden Pakistan Pervez Musharraf. Setelah penembakan terjadi ledakan bom. Begitu dahsyatnya bom tersebut hingga menewaskan 20 orang lainnya dilokasi kejadian.

Ini sebuah tragedi yang menciderai kehidupan politik untuk yang kesekian kalinya di Pakistan bagaimanapun alibinya. Dunia politik memang penuh dengan intrik tapi Pakistan adalah suatu fenomena dengan indikasi kehidupan politik yang primitif. Berkali kali pemimpin Pakistan tewas dengan nuansa konspirasi.

Ayah Benazir adalah mantan Presiden dan mantan Perdana Menteri Pakistan Ali Bhutto yang oleh suksesornya Jenderal Zia Ul Haq di vonis mati dengan cara digantung. Kemudian Zia Ul Haq sendiri tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat militer Hercules setelah melakukan inspeksi pasukan tank.

Banyak teori konsiprasi yang muncul berteori bahwa kecelakaan tersebut adalah rekayasa lawan lawan politiknya. Kini Benazir Bhutto juga tewas dalam ketegangan politik yang sangat tendensius.

Pervez MusarrafSebelum saya membuat perbandingan dengan Indonesia saya ingin melihat dulu geopolitik Pakistan. Pakistan adalah negeri dengan mayoritas penduduk muslim. Sekilas terkesan seperti karakteristik negeri Islam yang akrab dengan kekerasan seperti halnya di Timur Tengah.

Tapi ternyata karakteristik yang serupa dan lebih khas dimiliki oleh India yang mayoritas rakyatnya non-muslim. Keserupaan tersebut meliputi nuansa konspirasi dalam pembunuhan pemimpin politik bahkan untuk seorang Mahatma Gandhi yang dikenal dengan gerakan Ahimsa. Kemudian Indira Gandhi yang tewas ditangan pengawalnya sendiri yang berasal dari suku yang berbeda. Kemudian lagi Rajiv Gandhi yang tewas akibat serangan bom.

Seperti tidak ada jalan lain untuk mengamankan kekuasaan selain membunuh. Kemiripan ini membuat saya lebih cenderung melihat bahwa unsur yang lebih berperan dalam menentukan karakter kehidupan politik Pakistan dan India adalah unsur etnik budaya.

Kita tahu bahwa Indonesia juga penuh dengan intrik kekerasan dalam kehidupan politiknya dan tidak lebih baik dari Pakistan. Belum pernah terjadi di Pakistan korban politik pembantaian rakyat jelata hingga jutaan orang. Sebuah kekerasan tak perlu dicari yang mana yang lebih beradab. Semuanya biadab.

Masing masing memiliki karakter yang kita tidak inginkan untuk tertular oleh yang lainnya. Tapi sebagai orang Indonesia saya berpandangan bahwa apa yang terjadi di Pakistan itu lebih akut dan kronis. Akut karena pembunuhan pemimpin politik sangat mengganggu stabilitas nasional. Kronis karena itu sudah menjadi pola yang memiliki kecenderungan berulang dimasa yang akan datang.

Di Indonesia pembunuhan pemimpin/lawan politik juga banyak terjadi tapi tidak terjadi pada level tertinggi secara vulgar. Jika sekiranya tokoh yang diincar memiliki pengaruh yang luas maka upaya yang dilakukan menjadi lebih tersamar.

Berakhirnya era Orde Baru menjadi pijakan penting atas usaha untuk menetralisir kekerasan politik di Indonesia. Kita patut bersukur apa yang terjadi di Pakistan tidak terjadi di Indonesia.

Nawaz SyarifSaya tidak sedang menilai baik atau buruk. Tapi hanya ingin mereview apa yang telah dilakukan oleh Pak Harto yang telah mewarnai kehidupan politik Indonesia. Sebagai mahasiswa tahun 1998 saya ikut dalam hiruk pikuk reformasi dan melihat sendiri bagaimana kekuatan militer masih sangat solid tapi tidak melakukan kudeta terhadap Presiden seperti yang dilakukan oleh Pervez Musharraf terhadap pendahulunya Nawaz Syarif.

Sebuah bangsa akan membangun strukturnya (sosial, politik dan ekonomi) dari landasan budaya yang mereka miliki. Kekerasan di India dan Pakistan hingga kini sifatnya lebih struktural ketimbang di Indonesia. Ini pernah saya singgung di tulisan saya tentang Ahimsa untuk Indonesia.

Kecelakaan sejarah tahun 65 selalu kita usahakan untuk dihindari agar jangan terulang. Tiap tiap kecelakaan tidak terjadi begitu saja, karena itu usaha untuk menghindar dari kecelakaan berikutnya adalah suatu perbuatan yang realistis dan logis.

Bayangkan bila pada mei 98 Pak Harto tidak mau lengser dan memerintahkan ABRI untuk membantai rakyat maka kecelakaan tahun 65 bisa berulang. Bagaimanapun getirnya tahun 98 kita telah melewatinya dengan cara yang lebih smooth ketimbang sebelumnya.

Lihat suksesi negara negara di benua Afrika hampir selalu melalui kudeta berdarah. Apakah karena mayoritas penduduknya menganut agama tertentu? Saya kembali pada pandangan saya diawal bahwa unsur kebudayaan lebih berperan. (Tapi bukan berarti saya setuju sepenuhnya dengan pemikiran Samuel Huntington)

Untuk Asia Tenggara punya karakter tersendiri. Malaysia mirip dengan Indonesia. Filipina juga begitu, tapi Presiden Habibie tetap dilantik di Gedung Parlemen sedangkan Presiden Filipina Macapagal Aroyo dilantik dipinggir jalan.

Tiap kebudayaan punya karakteristik yang bila dieksplorasi dapat ditemukan celah kelemahan. Celah itu sering dimanfaatkan oleh asing untuk kepentingan mereka. Pakistan memiliki kelemahan pada sistem perpolitikanya hingga berdekade mereka seperti tak bisa keluar dari tragedi pembunuhan pemimpin politik.

Ali Bhutto ayahanda Benazir BhuttoAli Bhutto adalah pemimpin nasional Pakistan yang memprakarsai senjata nuklir hingga membuat Amerika Serikat (AS) gusar. Henry Kissinger pernah melontarkan ancaman kepada Ali Bhutto dengan mengatakan jika Ali Bhutto tidak menghentikan program nuklirnya maka ia akan membayar mahal.

Zia Ul HaqTerbukti kemudian rezim militer pimpinan Jenderal Zia Ul Haq menangkap dan mengadili Ali Bhutto dalam sebuah peradilan yang kontroversial. Keputusan pengadilan tersebut akhirnya menjatuhkan vonis hukuman mati dengan cara digantung pada Ali Bhutto. Zia kemudian menjadi pemimpin Pakistan atas sponsor AS hingga tewas dalam kecelakaan pesawat.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz Syarif melanjutkan program nuklir Pakistan hingga berhasil melakukan test senjata nuklir pertamanya yang membuat India bergidik dan AS kembali gusar.

Pemimpin rezim militer Jendral Pervez Musarraf melakukan kudeta atas Nawaz Syarif. Bantuan militer oleh AS kepada militer Pakistan mengindikasikan keterlibatan CIA dalam operasi kudeta Musarraf terhadap Nawaz.

Sekarang ketika Benazir yang putri dari Ali Bhutto pemrakarsa nuklir Pakistan mengancam kedudukan Musarraf (baca: pemimpin yang bisa dikendalikan AS) sebuah kecelakaan terjadi lagi dengan pola yang sama. Sulit bagi kita untuk menafikan peran CIA dalam operasi pembunuhan kali ini.

Di Indonesia Bung Karno digulingkan oleh Pak Harto dengan bantuan CIA. Bahkan ada beberapa pihak yang meyakini bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan lahan. Suatu hal yang niscaya dalam dunia politik. (cukup sekali saja terjadi suksesi dengan konspirasi seperti ini)

Bisa diamati bahwa aktor dalam sebuah kecelakaan politik kebanyakan datang dari golongan militer. (karena itu sampai sekarang saya masih kurang sreg dengan pemimpin dari kalangan militer). Sementara pihak asing (baca: Barat terutama AS) tahu betul dan terus mempelajari kelemahan yang ada pada kita.

Sekarang apakah kita harus mengulang semua kecelakaan itu seperti halnya Pakistan? Bagaimana unsur dalam kebudayaan kita bekerja sebagai sistem yang dapat mencegah pengulangan sejarah? Butuh telaah lebih jauh untuk menjawabnya.

Sebuah observasi saja bahwa tahun 98 Pak Harto tidak memerintahkan pembantaian kembali seperti tahun 65. Kemudian CIA tidak bisa menggunakan cara klasik (baca: insiden politik seperti pembunuhan para pemimpin Pakistan) untuk menggulingkan Pak Harto tapi dengan cara krisis moneter. Indikasi bahwa Indonesia tidak dapat diperlakukan sama tiap masa. Memang butuh waktu yang sangat lama tapi pasti, itulah karakteristiknya.

Asing akan selalu mengintai kelemahan kita. Iran sedang dalam ujian berat menghadapi situasi yang mirip Pakistan ketika dipimpin Ali Bhutto. Namun kelihatannya bangsa Iran memiliki karakterisktik yang berbeda dengan Pakistan. Kita bukan Pakistan bukan juga Iran tapi apakah karakteristik kita mudah ditembus? Peran pemimpin menjadi sangat penting, mari kita pilih yang terbaik 2009 dan tentu saja tegakkan supremasi sipil.

9 Komentar

Filed under budaya, politik

Kenangan untuk Ibuku

Seorang teman baru saja kehilangan Ibundanya tercinta lalu menulis sebuah tulisan untuk mengenangnya. Tulisannya tidak berusaha untuk dibuat dramatis apalagi puitis tapi entah kenapa, tulisan yang ditulis secara spontan dari dalam hati yang paling dalam selalu saja menggetarkan jiwa. Membuat sadar betapa sayang kita pada orang tua tapi betapa sedikit yang telah kita persembahkan buat mereka. Berikut tulisannya dari milis Art Culture Indonesia.

Oleh Hudan Hidayat.

Hingga hari ini aku masih belum percaya ibu telah meninggal. Keluargaku memang belum pernah kehilangan. Kini aku begitu merindukan ibu. Menyesal belum sempat membuat ibu bahagia.

Kehilangan itu membuatku begitu hampa. Segalanya seolah menjadi tak berjiwa. Aku seakan tak mendengar bunyi apa pun, saat pulang ke rumah dan mengepak barang yang akan kubawa. Anak-anak dan istriku sudah siap dengan bawaan mereka. Tapi aku seolah kehilangan pijakan. Kedua kakiku rasanya melayang. Aku seolah meluncur ke dalam lubang yang tak bisa kuhentikan.

Semua kenangan masa kecilku kuingat kembali. Waktu muda dan saat aku masih kecil, ibu begitu cantik. Lembut meski keras dalam sikap. Aku bangga punya ibu seperti ibuku. Waktu ayah miskin aku membantu ibu jualan beras di Pasar Enam Belas.

Aku juga sering menagih orang yang kredit dengan ibuku. Semua tugas itu hanya aku yang melakukannya. Entah mengapa ibu tidak pernah menyuruh kakak atau adik-adikku. Tapi justru itu yang membuat aku dekat dengan ibu.

Waktu ibu sakit aku kasihan sekali. Aku ingin membantunya tapi tidak bisa: sakitnya ibu sudah parah. Aku tidak pernah acuh pada ibu. Memang kuakui aku tumbuh dengan pikiranku sendiri dan sibuk dengan diriku sendiri.

Mungkin ibu berpikir aku seolah tidak perduli. Padahal dalam hati aku selalu sayang ibu. Selalu mengingatnya. Kini ibu sudah tiada. Sudah benar-benar hilang dari keluarganya.

Lain sekali rasanya kematian itu. Sore itu kami mengaji di makam ibuku. Ada bentangan daun dan kembang. Juga bunga yang ditabur di makam. Sejam yang lalu aku ikut turun ke liang itu, membaringkan tubuh ibu.

Meletakkan wajahnya ke dalam lubang yang tepinya digali lagi, membentuk kedalaman sendiri. Lubang yang miring. Entah mengapa saat itu aku teringat sebuah kisah: lubang dalam lubang, yang tadinya aku belum begitu mengerti maknanya.

Tapi menghadapi lubang kubur ibu, serta lubang yang digali lagi dalam lubang kubur ibu, aku jadi benar-benar mengerti kisah itu: lubang cahaya. Ya, kurasakan lubang ibu adalah lubang cahaya.

Tempat dimana seorang perempuan yang baik budi semasa hidupnya terkubur di sana. Wajahnya terbenam dalam lubang itu, masuk ke dalam liang yang aku sendiri ikut menggali dan menanam tanah penyangga tubuhnya. Aku juga membukakan tali-tali yang mengikat kepala ibu, tubuh dan kaki ibu. Kubuka ikatan-ikatan tali itu. Seolah membuka ikatan

masa lalu, di mana aku terbenam dalamnya. Sejenak melintas saat aku menghentak-hentakkan kaki, maju mundur meminta uang pada ibu di jalan. Ibu marah dengan sayang. Wajahnya merajuk lalu tersenyum. Diraihnya tubuhku dan diciumnya kepala dan mukaku. Anakku sayang, anakku sayang, kata ibu.

Hanya itulah yang keluar dari mulut ibu. Ia memandangi anaknya. Seolah Tuhan memandangi dunia. Duh, perempuan yang baik hati, kini kau telah pergi. Telah benar-benar meninggalkan kami.

Kini aku hanya memiliki seorang ayah. Aku harap ayahku selalu sehat dan kuat. Tidak sakit-sakitan seperti ibu. Aku sayang sekali dengan ayahku. Ayahlah yang mendidikku dalam banyak hal.

Caranya mendidikku luar biasa: aku dibiarkannya melakukan apa saja yang aku suka: tidak pernah melarang. Dulu aku memimpikan ayahku dua kali: ayah begitu marah padaku, dan meninggal dalam mimpiku.

Aku begitu sedih sampai terbangun. Tercekam dengan mimpiku. Masih tersisa wajah ayah yang marah. Aku tidak begitu mengerti apa yang membuat ayah sangat marah. Tetapi lelaki tegas dan gagah itu memandangku dengan raut membesi.

Jiwaku menggigil melihatnya. Ayah, apa salahku sampai kau marah begitu? Ini anakmu, yang sangat sedih karena bermimpi ayah telah mati. Tapi ayah tetap diam. Wajahnya sukar dilukiskan: terpaku di tempatnya, matanya seakan mengeluarkan api. Membakar tubuh dan jiwaku. Membuat aku putus-asa, sedih dan berduka. Ada apa Ayah? Mengapa kau demikian marah padaku?

Apakah salah anakmu ini?

Entah mengapa aku mengenang mimpi itu, saat adik perempuanku menelpon, mengabarkan ayah sakit di Tanjung Balai Asahan. Dalam telpon adikku menangis. Suaranya terbata-bata. Ayah sakit keras. Dibawa naik kapal dari India.

Hanya ditemani seorang kawannya. Aku terdiam. Segera kuingat kelompok jemaah kawan-kawan ayah yang kuantar ke bandara. Terngiang-ngiang kata-kata ayahku. Ayah akan empat bulan di luar negeri, berkeliling dari masjid ke masjid di malaysia, India, dan kalau mungkin, Banglades.

Hidup berdasarkan pemberian orang. Makan dan tidur di masjid. Kami tamu di sana. Setelah tiga hari sang tuan rumah boleh tidak menganggap tamu lagi. Artinya sang tamu harus pergi. Akan mencari masjid lain. Begitulah akan terjadi selama empat bulan. Ayah dan kawan-kawannya akan melalukan syiar agama dari masjid ke masjid di sana.

Suara adikku terdengar lagi. Adek sudah menuju bandara. Kita bertemu di bandara dan berangkat dengan pesawat pertama.

Aku merasa dia sudah mengendalikan diri. Agak tenang. Tetapi justru aku yang mulai tidak tenang. Penuh tekanan saat aku berusaha mengatakan sesuatu padanya. Seolah segala suka-duka keluargaku masuk ke dalam tekanan itu.

Segera kukabarkan keluargaku yang lain. Kutelpon kakakku. Dia termenung mendengar kabar dariku. Bertanya. Lalu diam. Aku menyadarkannya kembali. Sebaiknya kita berangkat bersama.

Ada pesawat garuda pukul 14 siang ini. Aku menelpon lagi. Ayah sakit kritis, Jen. Beriap-siaplah. Kami yang di Jakarta akan berangkat segera ke medan. Kalian yang dari luar kota sebaiknya berkumpul di Jakarta. Setidaknya menunggu kabar dari kami.

Seperti aku pertama kali mendengar kabar sakitnya ayah, adikku pun diam tak berkata-kata. Aku hanya mendengar nada kosong dalam telpon. Lalu suaranya yang sangat pelan. Aku berangkat hari ini juga. Jalan darat ke Jakarta.

Sebuah SMS masuk ke dalam telponku. Aku membukanya sambil mengemudi. Aku tak mau melihat pengirimnya lagi. Pasti kabar tentang ayah. Mobilku tertahan di lampu merah di bawah jembatan fly over Kebayaron Lama. Aku membaca SMS itu, saat wajah seorang lelaki yang muncul tiba-tiba dari kaca kanan mobilku. Aku masih sempat membaca kalimat pertama.

Assalamualaikum. Nama saya Abdullah. Jemaah Majelis Tabligh dari Aceh…

Aku menyimak lelaki itu. Kehadirannya yang begitu mendadak membuatku kaget. Aku melihat tonjolan-tonjolan daging di sekujur tubuhnya. Kulit lelaki tua itu keriput dan menghitam. Penyakit kulit membuat tubuhnya rusak dan nampak mengerikan.

Lidahnya terjulur di antara mulutnya yang lebar, membuatku merasa seolah lelaki itu bukan manusia. Tetapi ia adalah manusia. Hanya kehidupan telah mengalahkannya.

Lelaki itu tidak menunjukkan isyarat apa pun. Diam dan mematung di balik kaca mobilku. Matahari menusuknya. Tonjolan-tonjolan daging di tubuhnya melepuh dan mengeluarkan minyak. Ia nampak putus asa dengan keadaannya.

Sorot matanya kosong tak menunjukkan keinginan. Seolah kehadirannya di tengah jalan itu hanya mekanis, dari sebuah pekerjaan rutin untuk meneruskan hidup. Aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Sikapnya yang memilukan itu membuatku tak sampai hati.

Bagaimana menolong lelaki ini? Aku mulai menggenggam uang seratus ribu, sambil memikirkan lelaki itu. Aku kira lelaki seusianya sudah tidak pantas lagi di jalan raya. Tapi toh lelaki ini tetap di jalan raya. Kemanakah keluarganya, pikirku. Aku jadi teringat ayahku. Siapakah yang menolong ayah waktu sakit di luar negeri? Pasti berat sekali, ayah membawa tubuhnya sendiri.

Aku sangat menyesal, karena lampu hijau membuat aku harus meninggalkannya. Aku belum sempat memberikan uang seratus ribu itu. Mestinya aku tadi tidak sibuk berpikir. Tetapi aku telah berpikir dan uang itu tetap di tanganku.

Benarkah ini nomor Bapak Hudan, putera dari Bapak Jemat. Semoga benar. Saya sudah mengontak nomor-nomor di HP ayah kalian. Seseorang yang saya kontak menyebutkan antara lain nama Bapak…

Jadi seseorang di Tanjung Balai telah menolong ayahku. Dengan mengontak segala nomor yang ada di telpon seluler ayah.

Bapak Jemat sakit keras. Ayah kalian terbaring di klinik sederhana di Tanjung Balai. Segeralah ke sana sebelum semuanya terlambat.

Kalimat-kalimat akhir SMS itu bergaung dalam jiwaku. SMS itu mengingatkanku berita kematian ibu. Pagi itu aku sudah berada di mobil dengan istriku, menuju kantor. SMS itu masuk, hanya gabungan kata-kata, yang kalau kita hilangkan bagian-bagiannya tak memiliki arti apapun.

Hari-hariku sering disibukkan dengan memenggal-memenggalnya. Mengujinya apakah artinya masih dalam maknanya. Sering aku menghadapi gabungan kata “kematian” dalam kesepian kamar kerjaku di waktu malam. Saat istri dan anak-anaku sudah tertidur, aku naik ke atas dan masuk ke kamar kerjaku.

Disanalah aku. Menguji kata atau kalimat yang kusukai untuk diriku. Kematian tidak menakutkan. Tidak lebih dari ujung sebuah perjalanan, di mana kita berhenti di suatu tempat. Perjalanan itulah kehidupan. Perhentian itulah kematian.

Begitulah kalimat yang terbentang di meja kerjaku. Kalimat yang kusukai. Lalu aku memenggal-menggalnya. Kupisahkan kata-kata itu dan aku kini hanya menghadapi sebuah penggalan kata kematian, perhentian, dan kehidupan. Gabungan huruf yang masih bermakna.

Lalu kupenggal lagi. Kuhilangkan lagi sampai dia menjadi huruf-huruf mati dan huruf-hidup. Terbentang di mejaku sesuatu yang tidak bermakna sama sekali. K, p, k, huruf dari sebuah awal yang bisa apa saja. Yang jelas sudah tidak menunjuk lagi fakta tentang kehidupan yang berhenti. Huruf atau kata yang terpenggal ini dimana menakutkannya? Tidak ada. Kita bisa santai menghadapinya. Kita bisa bermain-main dengannya. Mengisinya sesuka hati.

Tapi pagi itu, aku diharu-biru oleh gabungan kata-kata itu. Seakan kata-kata yang kupenggal itu seolah marah, seolah-olah dia mahluk bernyawa dimana penggalan yang kulakukan seakan telah membunuhnya. Menghisap darahnya sehingga ia menggelepar tak berdaya. Dan kini semua kata-kata yang sering kupenggal itu bangkit menunjukkan dirinya.

Menghantam tepat di pusat kesadaran jiwaku. Membuatku luluh-lantak. Begitulah kudengar berita kematian ibu melalui SMS itu. Aku seolah bermimpi. Seakan tak percaya kalimat-kalimat dalam SMS itu. Ibu kita telah tiada. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Bengkulu…

Aku meledak dalam tangis yang mencengkam. Aku sudah berusaha menahannya tapi tangis itu seolah mahluk bernyawa yang tak bisa kuhentikan. Aku memutar mobilku sambil menangis. Istriku menyabarkanku tapi tak lama kemudian dia pun ikut menangis. Anakku yang baru berusia 3 tahun mungkin menangkap dengan batinnya.

Dia mengucapkan kata-kata dengan wajah anak yang tak mengerti. Ada apa Papa. Mana penjahatnya. Mari kita tembak penjahatnya. Istriku mengelus-ngelus kepala anakku. Dia belum tahu permaianan orang dewasa dengan tangisnya. Tangis yang menyimpan riwayat kesalahan dan dendam. Tangis dari sebuah kehidupan yang tiba-tiba terputus.

Hudan Hidayat,
23 Desember 2007

2 Komentar

Filed under curhat

Selamat Hari Raya

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Natal bagi umat yang merayakannya. Mohon Maaf Lahir dan Batin, Merry Christmas Everyone.

1 Komentar

Filed under Uncategorized

Pengaruh Dalam Bermusik

Ari LassoAri Lasso feat Bunga Citra Lestari dengan single Aku dan Dirimu sedang naik daun. Radio radio gencar memutarnya. Sejak pertama kali dengar saya sudah merasa ini nada gak asing buat saya. Kebiasaan saya kalo dengar nada yang tak asing selalu mencari asal nada tersebut. Setelah dengar untuk yang kedua kalinya saya baru sadar ternyata reff lagu itu mirip reff singlenya Aerosmith yang berjudul Crazy.

Berikut lirik Aku dan Dirimu:

Tiba saat nya kita saling bicara
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yg menggebu
Tentang cinta yang tak terungkap

Sudah terlalu lama kita berdua
Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
Memenuhi mimpi mimpi malam kita

Reff:

Duhai cintaku sayangku lepaskanlah
Perasaanmu rindumu sluruh cintamu
Dan kini hanya ada aku dan dirimu

Sesaat di keabadian

Jika sang waktu bisa kita hentikan
Dan sgala mimpi mimpi jadi kenyataan
Meleburkan semua batas
Antara kau dan aku…. kita

back to Reff

Bunga Citra LestariSaya gak tahu siapa pencipta lagu Aku dan Dirimu tapi kemungkinan besar dia sangat terpengaruh lagu Aerosmith yang judulnya Crazy itu. Kemiripan terutama dibagian reff Aku dan Dirimu: “Duhai cintaku sayangku… ” dengan reffnya Crazy: “I go crazy, crazy, baby…”

Berikut lirik Crazy oleh Aerosmith:

Come ‘ere baby

You know you drive me up the wall
The way you make good for all the nasty tricks you pull
Seems like we’re makin’ up more than we’re makin’ love
And it always seems you’ve got something on your mind
Other than me
Girl, you gotta change your crazy ways – you hear me

Say you’re leavin’ on the seven thirty train
And that you’re heading out to Hollywood
Girl, you’ve been givin’ me that line so many times
It kinda gets that feelin’ bad looks good

That kinda lovin’ turns a man to a slave
That kinda lovin’ sends a man right to his grave

I go crazy, crazy, baby, I go crazy
You turn it on – then you’re gone
Yeah you drive me crazy, crazy, crazy for you baby
What can I do, honey
I feel like the color blue

You’re packin’ up your stuff and tryin’ to tell me
That it’s time to go
But I know you ain’t wearin’ nothin’ underneath that
overcoat and that it’s all a show

That kinda lovin’ makes me wanna pull down the shade, yeah
That kinda lovin’ yeah, now I’m never gonna be the same

I go crazy, crazy, baby, I go crazy
You turn it on – then you’re gone
Yeah you drive me crazy, crazy, crazy for you baby
What can I do, honey
I feel like the color blue

I’m losing my mind
Girl, ’cause I’m goin’ crazy

I need your love, honey, yeah
I need your love

I go crazy, crazy, baby, I go crazy
You turn it on – then you’re gone
Yeah you drive me crazy, crazy, crazy for you baby
What can I do, honey
I feel like the color blue

Waktu mendendangkan lagu Aku dan Dirimu ini saya selalu terpeleset ke lagu Crazy, kenapa yah..?? Mungkin karena sudah  mengenal lagu Crazy lebih dulu. Ini sama waktu saya dengar single Andra and the Backbone yang judulnya Sempurna, intro gitarnya mirip lagunya Kansas yang judulnya Dust In The Wind yang dirilis tahun 1977.

Kalo kemiripan intro bisa lebih banyak lagi ditemukan seperti singlenya Dewa19 yang judulnya Larut, intronya mirip Hysterianya Def Leppard. Ngomong soal Dewa19 kita tahu Dhani banyak terpengaruh oleh musiknya Toto, Queen, Led Zeppelin, The Beatles dll.

Sehingga banyak musiknya yang jadi agak bernuansa dan mirip dibeberapa bagian seperti intro single Kosong mirip dengan Jealousy nya Queen. Pangeran Cinta, beat drumnya mirip dengan beat drum Imigrant Song nya Led Zeppelin.

Terpengaruh dan menjadi mirip sih sah sah saja tapi terlalu banyak mirip juga akan mengurangi orisinalitas. Lebih baik mirip diintro seperti lagu lagunya Dewa19 daripada mirip di reff, sebab sebagian besar lagu meletakkan jiwanya pada bagian reff.

Coba deh click satu satu link diatas dan bandingkan kemiripannya…

7 Komentar

Filed under musik

In Memoriam Prof Dr A Sartono Kartodirdjo

Oleh: M Nursam *

Sudah sejak setahun terakhir kondisi kesehatan Prof Dr Aloysius Sartono Kartodirdjo kian menurun. Akhirnya, pada Jumat, 7 Desember 2007, pukul 00.45 WIB, guru utama sejarawan Indonesia itu mengembuskan napas terakhir. Bangsa Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya.

Sepanjang usianya yang hampir 87 tahun, Prof Sartono tidak saja memberi contoh di wilayah publik sebagai guru utama sejarawan Indonesia, tetapi juga memberi teladan dan inspirasi dari sosok pribadinya: Memilih hidup asketis.

Generasi awal

Sartono merupakan wakil pertama generasi baru sejarawan Indonesia yang menerapkan metode penelitian modern pada lapangan studi sejarah. Puluhan buku dan ratusan artikel telah lahir dari tangannya.

Kariernya sebagai sejarawan bermula ketika pada tahun 1950, ia memilih melanjutkan studi di Jurusan Sejarah UI dan menyelesaikannya enam tahun kemudian, 1956. Sepuluh tahun kemudian, 1966, ia mendapat gelar doktor di Universitas Amsterdam dengan disertasi, “The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia”. Disertasi ini menjadi batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia.

Menurutnya, penulisan disertasinya didorong oleh hasrat melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosentris.

Dengan menggunakan social scientific approach, Sartono memberikan cahaya terang dalam perkembangan dan arah historiografi Indonesiasentris. Petani atau orang-orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi nonfaktor, dalam karya Sartono menjadi aktor sejarah.

Berbuah sekali lalu mati

Pada ulang tahunnya yang ke-80, tahun 2001, Sartono masih menerbitkan buku berjudul Indonesian Historiography. Apa yang ingin diperlihatkan Sartono adalah usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kerja seorang ilmuwan adalah kerja tiada henti.

Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan siapa pun, khususnya kepada murid-muridnya, bahwa ilmuwan “jangan seperti pohon pisang, yang hanya berbuah sekali kemudian mati.”

Menurut Sartono, apa yang dihasilkan adalah buah dari asketisme yang dihayatinya secara terus-menerus; ketekunan, ketelitian, ketuntasan, serta kesempurnaan teknis.

Ia menjalani apa yang dalam Wedatama disebut mesu budi. Bau kertas arsip atau buku kuno akan merangsang semangatnya untuk bergulat tanpa henti. Baginya, identitas seorang profesional memuat secara inheren suatu keahlian, keterampilan, pengetahuan teknis, otonom, dan memiliki integritas tinggi.

Sikap asketis

Dalam berbagai kesempatan, Sartono selalu mengingatkan bahwa sikap asketis menjadi esensi dari keahlian seorang profesional. Sebagai sejarawan generasi pertama, Sartono telah menghasilkan banyak murid yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Murid-muridnya itulah yang menjadi benang penyambung ide dan gagasan Sartono.

Di tingkat global, jaringannya tidak diragukan lagi. Berbagai penghargaan dari berbagai universitas dan lembaga internasional telah didapatkannya.

Salah seorang koleganya, Joseph Fischer, dari University of California, mengatakan, “Bagi saya, Pak Sartono merupakan kombinasi dari tokoh Arjuna, Gatotkaca, dan Semar. Arjuna karena kehalusan sikapnya. Gatotkaca karena kejujurannya, dan Semar karena kearifannya. Pak Sartono benar-benar seorang cendekiawan profesional dan seorang guru yang baik.”

Budaya abangan

Sartono dilahirkan pada tengah malam di Wonogiri, 15 Februari 1921, dari pasangan Tjitrosarojo dan Sutiya sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara kandung. Sebagai manusia Jawa, Sartono dibesarkan dalam ruang sosial budaya abangan. Ruang inilah yang paling awal membentuk pandangan dunianya.

Melalui dunia pendidikan formal yang dijalaninya—HIS, MULO, HIK—ia menyerap nilai budaya Barat. Di HIK Muntilan, selain menyerap budaya Barat secara lebih intensif, Sartono juga menyerap nilai-nilai dan ajaran Kristiani.

Selama di HIK, nilai Kristiani semakin membentuk kepribadian Sartono karena ia mendapat pendidikan khusus sebagai (calon) bruder. Meski akhirnya memilih karier sebagai guru, nilai-nilai yang diajarkan selama di HIK tetap menjadi pemandu dalam perjalanan hidupnya.

Endapan pengalaman Sartono yang demikian beragam dan multidimensi menjadi batu-batu dalam perjalanan hidupnya, baik sebagai sejarawan maupun sebagai manusia biasa. Endapan itu dihimpun dari nilai: Jawa, Barat, dan Kristiani.

Ketetapan hati

Sebagai manusia biasa, ia pernah mengalami berbagai keraguan dan kebimbangan dalam hidupnya, baik saat merintis karier maupun mempertahankan integritasnya sebagai sejarawan.

Dalam kondisi demikian, menurut Sartono, dibutuhkan ketetapan hati berdasarkan keyakinan bahwa “setiap usaha membawa pahalanya sendiri”.

Pada titik-titik kisar seperti itu, peran istrinya, Sri Kadaryati, yang dinikahinya 60 tahun silam, memiliki peran besar.

Bagi Sartono, dalam pembangunan bangsa, sejarawan memberi sumbangan dalam merekonstruksi sejarah nasional sebagai lambang identitas nasional. Fungsionalisasi pelajaran sejarah dapat merevitalisasi nasionalisme pada generasi muda sehingga dapat dijiwai lagi etos nasionalismenya.

Dengan demikian, generasi baru dengan spirit baru dapat menghadapi tantangan masa depan dengan menengok ke belakang sesuai semboyan bahwa melupakan sejarah berarti menutup pintu bagi masa depan.

Hidup dan karya Prof A Sartono Kartodirdjo telah diabdikan untuk “membuka pintu bagi masa depan”. Untuk Sang Teladan: Selamat jalan ke pangkuan-Nya dengan damai!

* M Nursam Alumnus Ilmu Sejarah UGM; Penulis Buku Biografi Sartono Kartodirdjo yang sedang dalam Proses Penerbitan, Tinggal di Yogyakarta. Tulisan dimabil dari Kompas 8 des 2007.

2 Komentar

Filed under tokoh