Art Summit Indonesia V 2007

Gagal menghadiri Adeging Praja Mangkunegaran saya lumayan terhibur bisa menghadiri “ART SUMMIT INDONESIA V, 2007: INTERNATIONAL FESTIVAL ON CONTEMPORARY ARTS” yang diikuti oleh berbagai seniman kelas dunia diantaranya dari Jerman, Mesir, Selandia Baru, Korea dll. Dari Indonesia diwakili oleh Made Sidia (Wayang Listrik) dan Butet Kertaredjasa (Monolog Sarimin).

PanggungKebetulan saya berkesempatan menonton Monolog Sarimin oleh Butet Kertaredjasa. Monolog ini membawa pesan tentang hukum. Untuk memainkan segala problematika masyarakat yang bergesekan dengan hukum tokoh tokoh dalam cerita yang ditulis oleh Agus Noor ini menampilkan peran tokoh Sarimin, Polisi, Hakim Agung dan Pengacara.

Sarimin adalah wong cilik dengan profesi tukang topeng monyet keliling (ada gak sih topeng monyet mangkal?). Jadi nama Sarimin sebenarnya adalah nama si monyet piaraannya itu tapi kemudian dia lebih dikenal sebagai Sarimin ketimbang nama aslinya yang menurut pengakuannya adalah Pradjoto (pengamat perbankan yang kebetulan menjadi nara sumber dan ikut menonton, penonton lantas gerrr).

Kisahnya dimulai dengan Sarimin nemu sebuah KTP ditengah jalan. Karena tidak bisa membaca Sarimin kemudian memutuskan untuk menyerahkan KTP tesebut kepada Polisi untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Ternyata pemilik KTP tersebut adalah Hakim Agung. Disinilah dimulai konflik yang menggambarkan berbagai fenomena anomali hukum yang terjadi dimasyarakat hingga jargon pementasan ini adalah “karena benar, maka kamu salah“.

Butet KertaredjasaButet sebagai aktor dalam memerankan tokoh Sarimin, Polisi dan Pengacara berhasil memunculkan karakter masing masing sehingga terasa ada banyak Butet di panggung. Tapi munculnya karakter tokoh belum jaminan pertunjukan menjadi hidup.

Dalam menghidupkan monolog Sarimin ini Butet menggunakan keahliannya dalam melakukan eksplorasi musik dan tari. Untuk hal ini Butet dibantu oleh Djaduk Ferianto dalam efek suara dan musik.

Kolaborasi seni peran, musik dan tari terasa satu jiwa dalam pertunjukan monolog ini. Ketika Butet memerankan Polisi yang digambarkan mirip sosok Buto dalam pewayangan jawa terasa seperti operet.

Sedangkan sebelumnya tokoh Sarimin dimainkan dengan gaya celetukan yang khas, kritik dalam bentuk sindiran satire bertebaran dimana mana, dan disampaikan dalam situasi yang komedi. Penonton tak habis habisnya tertawa, termasuk saya. Salah satunya adalah filsafat tentang munyuk (monyet) yang punya kitab bernama Kitab Jambul Tangkur Munyuk.

Sarimin berkata: “Si munyuk itu sukanya makan pisang. Pohon pisang adalah pohon yang kecil tapi bermanfaat. Tidak seperti pohon beringin yang besar, sulurnya menjurai dimana mana, akarnya merambat luas ke berbagai penjuru membuat pohon yang lain mati”.

Lantas Djaduk menimpali dari tempatnya duduk dengan “tapi beringin lumayan buat berteduh gembel”.

Sarimin kemudian menjawab: “oh bukan cuma gembel yang berteduh di beringin mas, tapi juga buat berteduh kroco, lonte, keple, cecunguk…”, penontonpun jadi gerrr.

Masih banyak lagi sindiran bergaya satire yang dibawakan oleh Butet dengan caranya yang khas kocak mengocok perut. Tapi itu tidak bertahan lama. Begitu masuk ke sesi Polisi keadaan menjadi lebih serius. Suara tawa penonton mulai agak jarang. Saya melihat Butet mencoba lebih mendramatisasi adegan yang sayang tampaknya agak kurang berhasil.

Peralihan dari Sarimin ke Polisi memang cukup mulus tapi entahlah apakah karena naskahnya yang kurang persiapan dalam menggiring emosi penonton atau karena Butet yang kurang prima dalam menghidupkan suasana dramatis.

Satu satunya adegan yang lumayan dramatis adalah ketika Polisi mengangkat tangan dan berkata “Atas nama hukum anda kami tahan”, padahal sebelumnya sudah terjadi negosiasi yang gagal karena Sarimin tidak punya uang sepeserpun untuk diberi kepada Polisi.

Saya pikir Butet mampu tampil untuk nuansa apapun dalam peran. Soalnya saya pernah lihat penampilan Butet yang bagus sekali di pementasan Jangan Menangis Indonesia (JMI) bersama Putu Wijaya.

Dalam JMI Butet memerankan beberapa tokoh diantaranya Bung Karno dan PSK. PSK diperankan dengan kocak dan seperti biasa berhasil dengan baik. Dalam memerankan Bung Karno yang serius Butet tampil luar biasa. Saya seperti melihat Bung Karno.

Belakang panggungDengan aktor yang sama bisa tampil berbeda tentu ada penyebabnya. Saya kira penyebabnya mungkin dalam naskah dan sekaligus skenarionya.

Kekuatan paling besar dalam monolog Sarimin menurut hemat saya adalah kolaborasi musikal dan gerak tari teatrikalnya yang tidak meninggal ciri seni tradisional jogjanya.

Selamat untuk Mas Butet saya beri dibelakang panggung. Rencananya saya ingin wawacara sedikit tapi melihat sudah banyak wartawan yang mengerubungi maka saya putuskan untuk berfoto saja.

4 Komentar

Filed under budaya, teater

4 responses to “Art Summit Indonesia V 2007

  1. Membaca komentarmu tentang pementasan Sarimin, ada beberapa hal yang menarik. Tulisanmu berbeda dengan laporan dari ayahmu tentang pendapatmu pada pementasan tersebut. Ini menjelaskan beberapa hal.

    1. Ada kemungkinan komentar yang kamu sampaikan secara lisan kepada ayahmu, mengalami distorsi/editing/pengemasan ketika diuraikan sebagai sebuah tulisan. Itu memang wajar.

    Karena sebuah tulisan akan dibaca oleh banyak orang dan dilepas tanpa pengawalan lagi oleh penulisnya dan kadang akan berjalan sendiri (tidak sebagaimana tulisan di dalam blog yang selalu akan berada dalam asuhanmu, sebab komentar orang segera bisa kamu jawab langsung. Sebagai tulisan lepas, tulisan itu harus mebnjawab sendiri pertanyaan pembaca) sehingga memang diperlukan taktik dan strategi yakni perhitungan sedemikian rupa yang secara langusng sudah akan menjawab semua kemungkinan pertranyaan yang datang dari pembaca.

    Sebuah tulisan yang baik, langusng akan menjawab sendiri apa pun pertanyaan pembaca. Pembaca tenbtu saja ada yang pintar dan ada yang kurang. Tulisan yang baik akan menjawab, setidak-tidaknya akan menjelaskan dirinya semakin dibaca. Jadi menulis, tidak hanya berarti mengungkapkan apa yang ingin dikatakamn, tretapi sekaligus sudha menjawab setiap pertanyakan yang kamu andaikan akan datang.

    Seorang penulis bagaikan peajurit dan sekaligus jendral, ia tidak hanya tahu apa yang harus dikatakan, tetapi ia juga harus tahu apa yang mungkin ditanyakan orang. Dengan cara begitu ada maka formulasi penting sekali.

    Tulisan harus hadir dengan berbagai senjata dan tameng yang tak terlihat. tetapi kalau kurang cermat memang akan terasa mengganggu dan ini han ya bisa diselesaikan dengan latihan. Kalau terlalu banyak, maka tulisan juga menjadi flat, datar saja, hanya karena mau selamat.

    Tulisanmu nampak flat, kalau dibandingkan dengan apa yang disampaikan ayahmu kepadaku di telepon. Karena opinimu tidak keluar. Opini tidak akan mengurangi, tetapi justru menambah bobot tuloisan, kalau diformulasi dengan baik dan tajam.

    Ketajaman itu tidak berarti harus menyerang, tapi kamu dapat mengemukakan sesuatu yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang lain.

    Karena itulah trulisanmu perlu dibaca orang. Kalau tidak, untuk apa ditulis?

    2. Ada kemungkinan ketika menyampaikan pendapatmu, interpretasi ayahmu sudah ikut serta. Cara mengatakannya juga mengemas pendapat itu menjadi lebih terarah dan keluar uratnya, sehingga menarik.

    3. Seperti dalam silat, latihan dan jam terbang dalam menulis penting sekali. Apa yang harus dikatakan, apa yang tidak perlu dikatrakan, apa yang kita dorong supaya pembaca sendiri mengatakannya.

    Kapan kita muncul dan kapan kita menghilang. Kapan kita bicara dan kapan kita berikan pembaca untuk bicara, itu adalah teknik pengemasan. Jangan dikira kalau kita menulis, hanya kita yang bicara, tidak. Makin banyak orang ikut menulis ketika kita menulis, akan semakin luas wilayah jelajah tulisanmu.

    Dan semakin banmyak point yang kamu kumpulkan untuk membuktikan kenapa orang tidak boleh mel;ewatkan tulisanmu, akan
    menyebabkan tulisanmu semakin UNIK, ORISINAL dan OTENTIK.

    4. Walhasil, menulis itu bukan hanya menulis, tetapi berpikir dan bertempur. Itulah yang dinikmati dan kemudian membuat orang merasa perlu membaca tulisan. Itu sebabnya saya mengatakan menulis itu sulit. tetapi percayalah kesulitan itu menyenangkan.

    PW

  2. Om Putu,

    Pendapat saya yang sebenarnya adalah memang belum sepenuhnya tertuang dalam tulisan itu. Melihat pengalaman menulis dimasa lalu tentang
    pembantaian PKI dan berbagai isu penting yang sensitif maka saya sedang menjajagi teknik menyampaikan pesan dengan lebih baik tidak vulgar seperti yang lalu.

    Saya masih perlu banyak latihan untuk teknik itu. Perlu konsentrasi ekstra. Terimakasih atas tanggapannya Om.

  3. Satu hal lagi, mungkin soal kecil, tapi penting.
    Dalam menulis, usia dan jabatan tidak penting. Dengan memulai menulis pakai sebutan Oom dan Tante, secara bahwa sadar sebenarnya itu merugikan diri sendiri, karena seperti minta dimaafkan karena usia masih muda.

    Ajip Rosidi (tahun depan 70 tahun), Rendra sudah menulis ketika usia belasan tahun (di bawah 19). Da berhasil mendudukkan dirinya di level nasional berhadapan dengan Chairil Anwar dan Pramudya.

    Kata Remaja dalam FESTIVAl TEATER REMAJA selama puluhan tahun dipakai, tetapi akhirnya dihilangkan, karena kata itu membuat lulusan festival meskipun usianya sekarang sudah 40 bahkan 50-an tetap merasa dirinya remaja dan hasil-hasilnya juga remaja.

    Kata remaja yang berarti segar, baru, bernas, spontan, memang baguis. Tapi banyak orang mencuri perlindungan dan merasa kata remaja itu melindungi mereka dari kritik, ya karena masih remaja boleh dimaafkan dong kalau sedikit teledor, kurang matang dsbnya.

    Saya kira itu juga sebabnya Teater Kampus tidak pernah mencuat, karena mereka merasa kata kampus melimndungi mereka – boleh hasilntya kurang, kan masih mahasiswa.

    Padahal kampus di Iowa dan Berkely (USA) misalnya, teater kampusnya memberikan pembaruan dan menjadi pelopor pencapaian teater.

    Kamu berhadapan dengan ayahmu dan saya tidak usah merasa diri lebih muda. Hanya dengan menghilangkan batas itu, akan terjadi diskusi yang efektif.

    pw

  4. saya Faulina dari Program anak di Trans7. Saya tertarik tentang artikel wayang listrik Pak Made Sidia. Bisakah saya meminta info nomor kontak beliau agar dapat berbincang lebih lanjut? Mohon infonya via email saya di atas. Terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s