Si Ganteng Lagi Jaim

Si GantengSaya teringat waktu pilpres yang lalu. Disebuah majalah wanita terkemuka dimuat beberapa pendapat ringan tentang siapa capres yang bakal dipilih dan apa alasannya.

Banyak Ibu rumah tangga yang juga wanita karir ciri khas pembaca majalah tersebut menentukan pilihannya pada SBY dengan alasan karena dia ganteng. Kalau kegantengan bisa menyelesaikan masalah negara kenapa gak pilih Nicholas Saputra aja sekalian yah?

Sekarang SBY sedang turun popularitasnya. Mungkin dia teringat cara yang dulu dia pakai cukup efektif sehingga memutuskan untuk mengulanginya. Sebuah album musik diluncurkan. Berkunjung ke daerah sambil bawa gitar genjrang genjreng nyanyi dihadapan rakyat yang lagi gundah.

Katanya sih ini sebagai momentum untuk mencanangkan gerakan anti pembajakan hak cipta. Saya kira masalah pembajakan butuh lebih dari hanya sekedar momentum, lagipula siapa sih mau mbajak albumnya SBY?

Kenapa juga tanggal peluncuran album bersamaan dengan hari sumpah pemuda? Berita di media tentang peluncuran album itupun mengalahkan berita tentang peringatan hari sumpah pemuda, hebat euy…

Bukannya memperbaiki image dengan cara menginformasikan hasil kerja yang dicapai tapi malah dengan cara yang terkesan mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi. Tidak tahu cara menginformasikan prestasi atau memang tidak ada yang bisa diinformasikan?

18 Komentar

Filed under politik

18 responses to “Si Ganteng Lagi Jaim

  1. kamu..sutiyoso dicela, sby dicela..mau pilih siapa sih pemilu nanti?mas enda ya?hahaha

  2. @mulia, yang jelas bukan kedua orang itu😉 bukan siapapun yang udah pernah dikasih kesempatan berkuasa tapi gak becus.

  3. tidak tahu cara menginformasikan prestasi atau memang tidak ada yang bisa diinformasikan?

    errr … retorika kan?

  4. @nananias,

    errr … retorika kan?

    Kok sukanya menelanjangi orang???
    kamu juga suka kan retorika

    eerrr saatnya berpikir bahwa sepertinya kita tidak melihat masalah yang sebenarnya?

    hehehe

  5. hehe, mungkin taun ini dia gak mood

  6. underestimated yah?
    yah kita mestinya juga seimbang dalam menilai kepemimpinan SBY.

  7. @GRaK,

    underestimated yah?

    Tepatnya mengkritik cara SBY menaikan popularitasnya. Kalau underestimate itu meremehkan kemampuan SBY, kan saya sama sekali gak meremehkan🙂

    yah kita mestinya juga seimbang dalam menilai kepemimpinan SBY.

    Betul, cuman penilaian baru akan valid kalau semua poin yang jelek dan yang bagus sudah kita telaah, masalahnya SBY tidak mampu menginformasikan keberhasilannya dengan baik walhasil hanya kejelekannya yang muncul.

    Makanya saya tanyakan diatas: Tidak tahu cara menginformasikan prestasi atau memang tidak ada yang bisa diinformasikan?

    @nananias,
    Jadi Na, itu bukan retorika loh…😉 tapi pertanyaan beneran.

  8. iya kamu bilang gak becus wib..dia gak jelek2 amat tau. paling ok setelah jatuhnya orde baru. dulu presidenku megawati aku ke luar negri malu bukan main. sekarang aku lumayan bisa ngomong y bagus2 gt.

  9. heee??? masa udah klik say it katanya ditemukan komentar yang sama. manaa..ini omongan ku
    ——————–
    iya kamu bilang gak becus wib..dia gak jelek2 amat tau. paling ok setelah jatuhnya orde baru. dulu presidenku megawati aku ke luar negri malu bukan main. sekarang aku lumayan bisa ngomong y bagus2 gt.

  10. @mulia,

    heee??? masa udah klik say it katanya ditemukan komentar yang sama. manaa..ini omongan ku

    Biasanya kalo begitu masuk ke akismet, jangan sensi atuh ih. Tuh yang pertama dah muncul juga.

    iya kamu bilang gak becus wib..dia gak jelek2 amat tau. paling ok setelah jatuhnya orde baru. dulu presidenku megawati aku ke luar negri malu bukan main. sekarang aku lumayan bisa ngomong y bagus2 gt.

    Jelek amat sih engga tapi tidak cukup bagus untuk dipertahankan. Kalau untuk kepentingan Mulia supaya merasa tidak malu sebagai warga Indonesia di luar negeri mungkin sudah cukup, tapi bagi kepentingan kami disini masih sangat jauh dari cukup.

    Terhitung semenjak dinaikannya harga BBM rakyat miskin makin banyak (terakhir 40 juta) tapi jumlah orang kaya justru makin banyak (naik 16,2 persen pada 2006, menjadi 20 ribu orang.), ini indikasi lemahnya kebijakan SBY yang memihak rakyat kecil.

    kalo mau angka ini dari ndoro kakung:

    Pertumbuhan jumlah orang kaya di Asia-Pasifik [Merrill Lynch dan Capgemini 2007]:

    1. Singapura, jumlah orang kaya 67.000 orang [naik 21,2%]
    2. India, 100.000 orang [naik 20,5%]
    3. Indonesia, 20.000 orang [naik 16,2%]
    4. Rusia 119.000 orang [naik 15,5%]
    5. Uni Emirat Arab, 68.000 orang [naik 15,4%]
    6. Korea Selatan, 99.000 orang [naik 14,1%]
    7. Hong Kong, 87.000 orang [naik 12,2%]
    8. Australia, 161.000 orang [naik 10,3%]
    9. Cina, 345.000 orang [naik 7,8%]
    10. Jepang, 1.477.000 orang [naik 5,1%]

    Sebernernya sih boleh dan baik ajah naik jumlah orang kaya tapi indikasi kemakmuran juga harus dilihat dari jumlah rakyat miskin.

    Kalau saya sih lebih memilih jumlah rakyat miskin berkurang, karena kalau rakyat miskin berkurang maka kemungkinana besar jumlah kelas menengah akan bertambah.

    Dimana mana yang menjadi ujung tombak pelaku ekonomi adalah kelas menengah dan bukan kelas atas (orang kaya) ataupun kelas bawah (orang miskin).

    Saya sebenernya gak apriori dengan SBY, dia juga punya prestasi, salah satunya yang paling baik adalah soal Aceh. Tapi bangsa kita butuh lebih dari itu, terutama rakyat miskin.

    jadi begicuuuu Mul kenapa ogut males liat SBY nyanyi..,
    Saya bukan satu satunya orang yang males liat doi nyanyi loh, banyak juga yang lain.
    peace…ah

  11. lodegen

    halow handai taulan saudaraku di dunia niskala,

    soal artikel ini, menurutku SBY itu belum memaksimalkan semua kapasitas untuk ppencitraan dirinya. APalagi si first lady, yang bisanya mbonceng aje.

    Padahal SBY ni yang paling komplit bisa dieksploitasi (untuk kebaikan umat, ya, macam oprah itu lah)

    oya, salam kenal bli sastro. ngomong soal nicholas saputra, dikau agak mirip juga. hehe..

    aku memilihmu sajalah kalau nyalon presiden..

  12. @lodegen:

    oya, salam kenal bli sastro. ngomong soal nicholas saputra, dikau agak mirip juga. hehe..

    huahahahaha…. jeg baud sajan Luh De Suriyani niki nggih.

  13. weks gue baru liat balesan lo.
    ya wib..prestasi itu kan gak serta merta. prestasi 5 tahun pertama segitu dulu. 5 tahun selanjutnya kalo kamu kasih kesempatan lagi insyAAllah lebih baik. kalo kamu pilih yang baru dia musti belajar lagi dari awal. atau kalo nggak mua juga, pilih sutiyoso ajah. mau ya?

    hahaha

  14. Ping-balik: Bila Oportunis Diangkat Pahlawan « Budayawan Muda

  15. @mulia: wahai Mulia yang cantik tapi lugu.. hehe🙂

    prestasi 5 tahun pertama segitu dulu. 5 tahun selanjutnya kalo kamu kasih kesempatan lagi insyAAllah lebih baik.

    Jadi begini Lia, jadi presiden itu bukan seperti ketua kelas. Taruhannya besar sekali yaitu nasib bangsa yang tidak hanya selama 5 tahun. Sebab jika salah urus dalam satu periode maka dampaknya bisa panjang sekali kebelakang.

    Kalau sudah salah maka secepatnya harus diganti, contohnya GusDur. Tapi kalau salah tetep mau dikasih kesempatan maka efek kerusakannya sangat luar biasa. Contohnya Pak Harto. Budaya KKN sulit sekali dibasmi sekarang, karena Pak Harto dibiarkan berkuasa selama 32 tahun.

    kalo kamu pilih yang baru dia musti belajar lagi dari awal. atau kalo nggak mua juga, pilih sutiyoso ajah. mau ya?

    Lia… menjadi presiden bukanlah kemampuan skill yang harus dipelajari seperti seorang teknokrat, tapi kemauan politik. Tidak ada satupun orang yang berpengalaman jadi presiden ketika diangkat.

    Bahkan jabatan presiden harus dibatasi hingga maximal 2 kali saja.

    Soal Sutiyoso.. ogah ah…

    Lia ini cinta banget yah sama SBY…🙂 naksir ama anaknya kali yah… halahh halah… peace ah

  16. halah…ngritik orang melulu…mending kalo sendirinya MAMPU jika memegang jabatan tersebut. mendingan introspeksi, lalu lihat keberhasilan2 yg berhasil dicapai seeorang…supaya jangan BURUK SANGKA melulu.

  17. @sigh, tapi bukan karen:

    Itulah masalahnya, SBY tidak pandai menginformasikan keberhasilnnya, walhasil orang jadi lebih mudah melihat ketidakberhasilannya.

    Untuk soal kemampuan, masing masing telah mengambil perannya sesuai dengan keahliannya(atau paling tidak yang dia anggap mampu). Yang jadi Presiden monggo, yang jadi parlemen monggo, yang jadi media juga monggo. Gak bisa kita bagi bagi peran seenaknya saja.

    Soal buruk sangka, tergantung dari cara memandang, menuduh orang lain berburuk sangka juga bisa digolongkan buruk sangka bukan🙂

  18. Kiki Ahmadi

    hmm

    pemilu kali ini..

    milih Onno W Purbo aja deh..

    : )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s