Dinamika Menulis

Wini AnggraeniSaya dapat message dari Wini, seorang temen di Friendster. Dia tanya tentang blogging, berikut pertanyaanya:

Pasalnya gini. Aku punya blog, tp jarang bgt kuupdate. Padahal, akses internetku setiap hari. Menulis itu bagian dr profesiku. Tapi kok, sering bingung klo mo mostingin seseuatu.

Padahal saya sendiri juga tidak benar benar terbebas dari masalah itu. Ada berbagai macam cara untuk mencari ide, yang paling mudah yah current issue. Tapi ada yang lebih mudah, paling tidak ini menurut saya. Tulislah apa saja yang kita ingat. Asal terlintas dikepala, tulis dan tidak harus current issue.

Ini soal kebiasaan, kalau kita sudah terlatih untuk menulis maka apapun bisa kita tulis. Dulu saya sering hadapi masalah punya bahan yang menarik sekali untuk ditulis tapi kesulitan nulisnya karena tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi menulis tiap hari itu melatih naluri untuk bisa memulai dari mana.

Ada baiknya diselang seling antara tulisan yang berat dan yang ringan jadi pembaca tidak capek. Tapi ingat masalah tidak akan ada habisnya. Kalau misalnya kita sudah tidak terlalu bermasalah dengan cara memulai menulis nanti bakal ada masalah dengan teknik menulis, kalau sudah tidak ada masalah dengan teknik menulis nanti bakal ada masalah dengan interaktifitas, penempatan diri sebagai penulis yang berjarak dengan isi tulisan kita, pencitraan diri dimata pembaca dsb dsb…

itulah dinamika menulis…

9 Komentar

Filed under curhat

9 responses to “Dinamika Menulis

  1. just write it down, don’t think😀

  2. write first..
    and then think..
    klo saya sih ya tulis2 aja soal apa yang ada di kepala
    ^________^

  3. halo wibisono!
    awalnya sempat kaget mampir ke blog ini, ternyata ada foto wini sekaligus bercerita tentang dia.

    saya kenal dengan wini ketika ada acara di sebuah hotel berbintang di bilangan kuningan, jakarta selatan. waktu itu kira-kira awal bulan maret 2007. saat sebagian kota jakarta masih teredam banjir besar.

    wini yang saya kenal ketika itu orangnya supel, ramah, pengetahuannya cukup luas. maklum saja, ia wartawan sebuah majalah ekonomi yang cukup populer di Indonesia.

    sudah lama saya tidak bertemu dengannya lagi. barangkali, hari itulah saya pertama kali berkenalan, dan ngobrol banyak hal. entah kapan saya bisa bertemu dengannya lagi. saya kangen ngobrol dengannya lagi. lah..kok jadi curhat di sini? hehe…:)

  4. @eriek: waspadai perasaanmu, jangan jangan naksir… hehe

  5. Wibi, enak aja naksir Wini. tapi, sebenarnya boleh juga sih naksir. hehe….*clingak-clinguk Wini baca komentarku gak ya?🙂

  6. Wibi,
    makasih. saya sudah buat link blog wini. aku buat link kamu juga ya. makasih lagi.

    oh ya, Malaysia sekarang semakin sewenang-wenang ya mengklaim budaya asli milik Indonesia. sayangnya, Malaysia ngga punya argumen yang jelas tentang klaim Reog Ponorogo itu milik Malaysia. Pantas saja sebagian orang Indonesia menamai mereka “Malingsia”.🙂

  7. Perkenalkan, kami dari IACI. Reog ponorogo dan eksperesi budaya indonesia lainnya harus kita lindungi mas erik, mas wibi dan mbak wini.
    silahkan kunjungi http://www.budaya-indonesia.org, sebagai sebuah usaha menuju perpustakaan digital (terbuka) budaya nusantara. Perlindungan budaya sebaiknya diawali dengan dokumentasi budaya, penyiapan perangkat hukum dll.
    salam budaya!

  8. @deni:

    Terima kasih banyak mas Deni atas komentarnya dan salut atas usahanya melakuakan dokumentasi dan pendataan khazanah budaya kita. Itu memang kita butuhkan.

    Salam budaya

    @eriek:

    monggo mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s