Monthly Archives: November 2007

Malaysia Klaim Reog Ponorogo

Ada tulisan Malaysia diatas ReogSetelah gagal mengklaim lagu Rasa Sayange, Malaysia mencoba mengklaim kesenian yang lain. Adalah kesenian rakyat Jawa Timur: Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia sebagai kesenian mereka.

Kalau kesenian Wayang Kulit yang mereka klaim tidak diubah namanya maka Reog mungkin karena ada embel embel nama daerah Ponorogo maka namanya diubah menjadi Tarian Barongan. Padahal wujud Reog itu bukan naga seperti Barongsai tapi wujud harimau dan burung merak.

Malaysia bingung mencari nama baru sehingga dapat yang mudah saja, Tarian Barongan. Bukan itu saja, kisah dibalik tarian itupun diubah. Mirip seperti mereka mengubah lirik lagu Rasa Sayange. Kalau saja mereka menyertakan informasi dari mana asal tarian tersebut maka tidak akan ada yang protes.

Kuda Kepang, aslinya Kuda LumpingPadahal apa susahnya mencantumkan nama asli dan bangsa pemiliknya. Seperti yang mereka lakukan pada kesenian Kuda Kepang yang kalau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Kuda Lumping. Malaysia mencantumkan nama asal kesenian Kuda Kepang dari Jawa. Kenapa tidak dilakukan pada kesenian yang lain seperti Reog Ponorogo, Wayang Kulit, Batik, Angklung, Rendang dll.

Kalau saja mereka lakukan itu maka konflik kedua negara bisa dihindari. Melihat kasus lagu Rasa Sayange yang akhirnya mereka akui sebagai lagu asal Indonesia maka sebaiknya Malaysia segera mengkonfirmasi semua kesenian asal Indonesia yang mereka kira asli milik mereka. Supaya rakyat kedua negara tidak bersitegang seperti sekarang.

Ayolah Malaysia, daripada harus seperti lagu Rasa Sayange dulu, capek kan…

Sembari menunggu reaksi Malaysia atas protes mari kita ambil kesempatan ini untuk memperdalam pengetahuan kita tentang Reog Ponorogo dalam tulisan terkait:

Iklan

123 Komentar

Filed under budaya

Keluarga Muslim Bali

Silaturahmi Muslim BaliHari minggu kemarin saya menghadiri silaturahmi keluarga muslim Bali se Jabodetabek. Acara ini terakhir kali diadakan tahun 2003 di TMII. Silaturahmi ini punya riwayat panjang sejak tahun 80an.

Pertengahan 80an pengurusnya vakum karena anggota yang menggiatkan acara ini meninggal dunia. Kemudian kepengurusan diketuai oleh Abdullah Baharmus dan beberapa kali acara sempat diadakan walaupun tidak secara rutin.

Berbagai macam kendala membuat silaturahmi ini seperti antara hidup dan mati. Mulai dari kendala komunikasi, database anggota, pendanaan hingga kepergian pengurus ke-Rahmatullah yang begitu tiba tiba mewarnai riwayat silaturahmi warga muslim Bali di perantauan ini.

Saya masih ingat silaturahmi terakhir tahun 2003 di TMII begitu berkesan dan masih lengkap dihadiri anggota yang belum meninggal. Kini 2007 tercatat beberapa anggota telah pergi meninggalkan kita diantaranya tokoh nasional mantan ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) KH Hussein Umar.

Kemudian seksi sibuk Mas Idris yang menjadi motor penggerak kegiatan di waktu waktu sebelumnya, kemudian terakhir masih dalam hitungan hari dan masih dalam rangka kegiatan persiapan acara silaturahmi kemarin, Mas Cuk Sarudin salah seorang panitia, telah wafat secara tiba tiba akibat serangan stroke, sungguh suatu kehilangan yang mendalam.

Ketua paguyuban silatutrahmi muslim bali bpk Abdullah Baharmus memberi sambutan pembukaan dilanjutkan oleh ceramah agama oleh bpk Prof KH Ali Yafie. Acara yang mengambil tempat di Warung Bali Lebak Bulus ini mengagendakan pergantian kepengurusan karena penguruh yang lama telah bertugas hampir 20 tahun. Secara aklamasi dipilih ketua yang baru Mas Sunaryo Sarudin SH (kakak Mas Cuk Sarudin alm).

Banyak hal menarik sebenarnya yang bisa digali dari komunitas muslim Bali ini. Bagaimana kami berinterkasi dengan saudara kami yang Hindu dimasa lalu. Salah satu contohnya adalah ditemukannya Al-Quran tertua di Indonesia oleh Soegianto Sastrodiwiryo yang meyakini bahwa penulisnya adalah seorang muslim Bali. Soegianto sekarang sedang menyusun buku tentang jejak jejak Islam di Bali.

Abdullah Baharmus juga menceritakan bagaimana kelompok muslim Bali pada saat peristiwa Bom Bali turut serta di garda depan membantu evakuasi korban Bom Bali. Kemudian juga bagaimana negara negara Timur Tengah yang sangat terbantukan oleh peran muslim Bali dalam menyalurkan bantuan kepada korban Bom Bali.

Warga muslim Bali sangat mengutuk peristiwa Bom Bali sebagai suatu peristiwa yang merusak sendi sendi kehidupan beragama di Bali yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Dan tentu saja juga merusak industri pariwisata Bali dan Indonesia secara umum.

Muslim Bali memiliki makna penting bagi kehidupan beragama di Bali dan di Indonesia pada umumnya. Muslim di Bali adalah minoritas tapi kami bisa hidup rukun dan damai bersama saudara kami yang mayoritas Hindu di Bali. Mereka menyebut kami sebagai nyame selam (saudaraku yang islam).

Dalam berbagai sendi kehidupan sosial kami berbagi suka dan duka. Tapi dalam kehidupan beragama kami saling menghargai dan tak pernah mencampur adukan akidah. Kami tak pernah menyebut Tuhan kami sebagai Sang Hyang Allah. Kami tak pernah beribadah menggunakan aksesoris peribadatan umat Hindu.

Warga muslim Bali tidak melakukan dakwah agresif kepada warga Hindu untuk mengislamkan mereka. Kalaupun ada perpindahan agama maka biasanya karena perkawinan.

Dalam jaman perang kemerdekaan kami ikut berperang bersama mereka mengusir penjajah. Dalam makanan umat Hindu menghargai bahwa kami tidak memakan daging babi. Masih banyak kisah mesra yang belum kami ceritakan yang sesungguhnya amat berharga untuk memupuk kerukunan hidup beragama.

Apa sebenarnya muslim Bali itu? Muslim Bali adalah orang Bali yang muslim. Bagaimana bisa mengklaim sebagai orang Bali? Orang Bali pada umumnya juga bukanlah orang Bali asli. Orang Bali asli hanya sedikit dan mendiami daerah tertentu. Orang Bali pada umumnya merasa berasal dari Jawa yang datang ke Bali ratusan tahun yang lampau bersamaan dengan invasi Majapahit ke pulau Bali.

Kemudian gelombang pendatang berkelanjutan. Salah satunya adalah ketika pasukan Mataram jaman Amangkurat ke I menyerbu Jawa Timur (Blambangan). Sebagian pasukan Mataram tersebut ikut ke Bali sebagai tentara bayaran dan menetap di Bali dengan tetap memeluk agama Islam. Oleh Raja Bali mereka diperlakukan istimewa dan diberi tanah lungguh buat desa mereka di Pegayaman.

Gelombang selanjutnya datang sebagai pedagang dan berbagai macam profesi. Jaman penjajahan kolonial banyak pendatang yang berprofesi sebagai guru, termasuk ayahnya Bung Karno(termasuk juga leluhur saya dan leluhur sebagian besar para anggota muslim Bali yang lain).

Pendatang dari Jawa Timur dan Madura banyak berprofesi sebagai penjual dan pembuat masakan khas Jawa Timur seperti sate, rawon dan soto yang sangat mudah ditemui di Singaraja hingga kini. Banyak juga pendatang dari suku Bugis sebagai nelayan dan guru agama (guru ngaji masa kecil saya orang Bugis bernama Pak Samsudin).

Kenapa banyak pendatang? Karena Singaraja adalah kota dagang dan pelabuhan, jaman dulu ada jembatan untuk kapal berlabuh. Saya waktu SMP sering mancing di jembatan itu bersama Paklik saya Sutrisno.

Kampung kampung di Singaraja banyak diberi nama sesuai dengan asal pendatang. Karena itu ada Kampung Bugis, Banjar Jawa, Kampung Sasak, Kampung Arab, Kampung Tinggi (pecinan). Kampung orang tua saya bernama Kampung Mumbul karena ada tempat mata air.

Bahkan saking banyaknya kampung kampung non Bali di tengah kota Singaraja itu hingga ada satu kampung ditengah kampung kampung non Bali yang bernama Banjar Bali. Aneh yah, di Bali ada kampung bernama Banjar Bali. Itulah Singaraja.

Di daerah lain juga kurang lebih sama. Pada waktu silaturahmi kemarin terasa belum diberi porsi cukup untuk saling mengenal antar warga muslim dari daerah lain (Klungkung, Badung, Gianyar, Tabanan, Negara dan Karangasem). Ada 300 orang dan mereka berkelompok sesuai dengan daerah mereka sendiri.

Rapat pemilihan ketua baruSebagian dari mereka dari generasi tua. Yang muda hanya bengong tak kenal siapa siapa lagi. Apalagi jika orang tua mereka telah meninggal. Kemungkinan mereka tidak akan datang lagi pada acara silaturahmi berikutnya.

Karena itu saya berharap dengan kepengurusan yang baru ini akan dapat membuat program acara silaturahmi yang bisa membuat kita saling mengenal lebih dekat lagi. Terutama untuk keluarga muslim Bali yang telah meninggalkan Bali secara fisik tapi dihati mereka masih merasa sebagai muslim Bali.

Pipin dan kedua anaknya Alif dan Rani. Putra Om Hussein Umar: Emil dan keluarganya Echa dan Fouz.Sebagai contoh keluarga KH Hussein Umar beserta istri yang beliau berdua telah wafat namun putra putri beliau masih hadir di acara silaturhami tersebut.

Banyak juga saya lihat generasi muda yang lain yang masih semangat mau hadir. Mungkin karena merasa senasib diperantauan.

Apapun itu kita perlu menjalin silaturahmi lebih erat lagi. Kita ingin seperti eratnya keluarga Minang di perantauan yang sungguh luar biasa.

Saling membantu jika ada kesusahan (biasanya bila ada yang meninggal) dan saling berbagi kebahagian (biasanya bila ada yang menikah). Dalam acara tersebut oleh Sekjen terpilih Ida Bagus Mayure diusulkan untuk memiliki sebuah website untuk forum komunikasi maya.

Saya sangat setuju dan mendukung 100%. Mungkin sebagai langkah awal saya akan buat sebuah Blog untuk melaporkan segala sesuatu tentang kegiatan silaturahmi.

Bagi warga muslim Bali yang belum bergabung silahkan bergabung denga komen di Blog ini.

36 Komentar

Filed under islam, sosial

Art Summit Indonesia V 2007

Gagal menghadiri Adeging Praja Mangkunegaran saya lumayan terhibur bisa menghadiri “ART SUMMIT INDONESIA V, 2007: INTERNATIONAL FESTIVAL ON CONTEMPORARY ARTS” yang diikuti oleh berbagai seniman kelas dunia diantaranya dari Jerman, Mesir, Selandia Baru, Korea dll. Dari Indonesia diwakili oleh Made Sidia (Wayang Listrik) dan Butet Kertaredjasa (Monolog Sarimin).

PanggungKebetulan saya berkesempatan menonton Monolog Sarimin oleh Butet Kertaredjasa. Monolog ini membawa pesan tentang hukum. Untuk memainkan segala problematika masyarakat yang bergesekan dengan hukum tokoh tokoh dalam cerita yang ditulis oleh Agus Noor ini menampilkan peran tokoh Sarimin, Polisi, Hakim Agung dan Pengacara.

Sarimin adalah wong cilik dengan profesi tukang topeng monyet keliling (ada gak sih topeng monyet mangkal?). Jadi nama Sarimin sebenarnya adalah nama si monyet piaraannya itu tapi kemudian dia lebih dikenal sebagai Sarimin ketimbang nama aslinya yang menurut pengakuannya adalah Pradjoto (pengamat perbankan yang kebetulan menjadi nara sumber dan ikut menonton, penonton lantas gerrr).

Kisahnya dimulai dengan Sarimin nemu sebuah KTP ditengah jalan. Karena tidak bisa membaca Sarimin kemudian memutuskan untuk menyerahkan KTP tesebut kepada Polisi untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Ternyata pemilik KTP tersebut adalah Hakim Agung. Disinilah dimulai konflik yang menggambarkan berbagai fenomena anomali hukum yang terjadi dimasyarakat hingga jargon pementasan ini adalah “karena benar, maka kamu salah“.

Butet KertaredjasaButet sebagai aktor dalam memerankan tokoh Sarimin, Polisi dan Pengacara berhasil memunculkan karakter masing masing sehingga terasa ada banyak Butet di panggung. Tapi munculnya karakter tokoh belum jaminan pertunjukan menjadi hidup.

Dalam menghidupkan monolog Sarimin ini Butet menggunakan keahliannya dalam melakukan eksplorasi musik dan tari. Untuk hal ini Butet dibantu oleh Djaduk Ferianto dalam efek suara dan musik.

Kolaborasi seni peran, musik dan tari terasa satu jiwa dalam pertunjukan monolog ini. Ketika Butet memerankan Polisi yang digambarkan mirip sosok Buto dalam pewayangan jawa terasa seperti operet.

Sedangkan sebelumnya tokoh Sarimin dimainkan dengan gaya celetukan yang khas, kritik dalam bentuk sindiran satire bertebaran dimana mana, dan disampaikan dalam situasi yang komedi. Penonton tak habis habisnya tertawa, termasuk saya. Salah satunya adalah filsafat tentang munyuk (monyet) yang punya kitab bernama Kitab Jambul Tangkur Munyuk.

Sarimin berkata: “Si munyuk itu sukanya makan pisang. Pohon pisang adalah pohon yang kecil tapi bermanfaat. Tidak seperti pohon beringin yang besar, sulurnya menjurai dimana mana, akarnya merambat luas ke berbagai penjuru membuat pohon yang lain mati”.

Lantas Djaduk menimpali dari tempatnya duduk dengan “tapi beringin lumayan buat berteduh gembel”.

Sarimin kemudian menjawab: “oh bukan cuma gembel yang berteduh di beringin mas, tapi juga buat berteduh kroco, lonte, keple, cecunguk…”, penontonpun jadi gerrr.

Masih banyak lagi sindiran bergaya satire yang dibawakan oleh Butet dengan caranya yang khas kocak mengocok perut. Tapi itu tidak bertahan lama. Begitu masuk ke sesi Polisi keadaan menjadi lebih serius. Suara tawa penonton mulai agak jarang. Saya melihat Butet mencoba lebih mendramatisasi adegan yang sayang tampaknya agak kurang berhasil.

Peralihan dari Sarimin ke Polisi memang cukup mulus tapi entahlah apakah karena naskahnya yang kurang persiapan dalam menggiring emosi penonton atau karena Butet yang kurang prima dalam menghidupkan suasana dramatis.

Satu satunya adegan yang lumayan dramatis adalah ketika Polisi mengangkat tangan dan berkata “Atas nama hukum anda kami tahan”, padahal sebelumnya sudah terjadi negosiasi yang gagal karena Sarimin tidak punya uang sepeserpun untuk diberi kepada Polisi.

Saya pikir Butet mampu tampil untuk nuansa apapun dalam peran. Soalnya saya pernah lihat penampilan Butet yang bagus sekali di pementasan Jangan Menangis Indonesia (JMI) bersama Putu Wijaya.

Dalam JMI Butet memerankan beberapa tokoh diantaranya Bung Karno dan PSK. PSK diperankan dengan kocak dan seperti biasa berhasil dengan baik. Dalam memerankan Bung Karno yang serius Butet tampil luar biasa. Saya seperti melihat Bung Karno.

Belakang panggungDengan aktor yang sama bisa tampil berbeda tentu ada penyebabnya. Saya kira penyebabnya mungkin dalam naskah dan sekaligus skenarionya.

Kekuatan paling besar dalam monolog Sarimin menurut hemat saya adalah kolaborasi musikal dan gerak tari teatrikalnya yang tidak meninggal ciri seni tradisional jogjanya.

Selamat untuk Mas Butet saya beri dibelakang panggung. Rencananya saya ingin wawacara sedikit tapi melihat sudah banyak wartawan yang mengerubungi maka saya putuskan untuk berfoto saja.

4 Komentar

Filed under budaya, teater

Bila Oportunis Diangkat Pahlawan

Bung TomoSeolah olah tak kunjung henti bangsa ini mendapat cobaan berat. Cita cita besar reformasi rupanya mendapat ujian yang tak kalah sengitnya dibanding perjuangan merebut kemerdekaan berikut dengan gerakan revolusinya itu.

Kenangan heroik masa lalu senantiasa menjadi penyemangat reformasi yang kini babak belur didera berbagai macam problematika mulai dari korupsi, pilkada, aliran sesat, konflik SARA, bencana alam yang silih berganti, hingga pencurian khazanah budaya.

Ditengah tengah semua gempuran itu bangsa ini harus tetap menjaga stamina. Seandainya generasi kita tak mampu menuntaskan semua cita cita reformasi maka strateginya adalah mempersiapkan anak anak kita sebagai penerusnya.

Apa yang harus kita beri pada anak anak kita adalah hal hal yang bisa memotivasi dan membangkitkan semangat perjuangan mereka. Karena itu pengetahuan akan sejarah merupakan faktor penting. Karena didalam sejarah kita bisa melihat kisah para pahlawan yang bisa dijadikan simbol.

Sosok pahlawan adalah simbol perekat yang sangat efektif. Sebut saja Panglima Besar Soedirman, Pangeran Dipenogoro, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja, Patih Jelantik, dan masih banyak lagi. Bung Karno sering sekali menceritakan kisah kepahlawanan dalam pidatonya untuk membakar patriotisme.

Disisi lain ada pengkhianat yang kisah pengkhianatannya merupakan arah sebaliknya dari kisah kepahlawanan. Posisi yang berseberangan tersebut membuat para pengkhianat dan para pahlawan tampil kontras selama segala informasi tentang sebuah pengkhianatan tercatat dengan akurat dalam rekaman sejarah. Tapi ada juga yang namanya oportunis yang berjalan mondar mandir dikedua sisi itu.

Disinilah pentingnya telaah sejarah atas sebuah kepahlawanan atau kepengkhianatan. Dengan minimnya pengetahuan dan telaah sejarah bisa dimungkinkan seorang pengkhianat diangkat menjadi pahlawan. Kalau ini sampai terjadi sungguh sebuah ironi. Semua penghargaan kepada para pahlawan seakan tidak memiliki makna lagi.

Karena itu prosedur dan kriteria untuk menentukan apakah seorang tokoh layak menjadi pahlawan nasional sangatlah ketat. Menurut pengalaman Soegianto Sastrodiwiryo yang pernah terlibat dalam memperjuangkan pengangkatan Patih Jelantik sebagai pahlawan nasional melalui buku yang ditulisnya “Perang Jagaraga 1846-1849”, paling tidak dibutuhkan beberapa kriteria antara lain:

  1. Perjuangannya dan pengabdiannya diatas rata rata (luar biasa hebat) dalam melawan kekuatan penjajah (dalam hal ini kolonialis Belanda)
  2. Tidak pernah menyerah dalam perjuangannya, kalau terdesak lebih memilih untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. (dalam hal kasus Pangeran Diponegoro beliau ditipu lalu ditangkap oleh jenderal de Kock, bukan menyerah. Patih Jelantik gugur seperti halnya Ngurah Rai setelah terkepung disemua penjuru tempatnya bertahan).
  3. Tidak pernah melakukan penghianatan kepada negara.
  4. Perlawanan dilakukan secara aktif, entah bergerilya atau perang terbuka.

Jika kriteria yang ketat diatas ditambah lagi dengan berbagai macam prosedur pengajuan dari tingkat daerah sampai pusat maka seseorang yang telah lulus diberi gelar pahlawan nasional seharusnya sudah valid.

Menyambut hari Pahlawan 10 November 2007 Presiden SBY mengangkat 4 pahlawan baru yaitu: Mayjen TNI (pur) Prof Dr Moestopo, pejuang dari Jawa Timur; dan Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi, pejuang asal Jawa Tengah. Seorang pahlawan nasional baru lainnya adalah Dr Ide Anak Agung Gde Agung.

Keputusan Presiden yang sedang turun popularitasnya ini kontan menuai beberapa kritikan dari berbagai kalangan masyarakat. Diantaranya dari masyarakat Minang yang berharap tokoh minang seperti Moh Natsir bisa diangkat menjadi pahlawan nasional.

Dari masyarakat Jawa Barat berharap tokoh Mr Sjafrudin Prawiranegara yang dianggap layak sebagai pahlawan nasionalpun mengalami nasib yang sama dengan tokoh M Natsir.

Dari masyarakat Jawa Timur merasa heran dan tidak habis pikir Bung Tomo sebagai tokoh utama dalam perang 10 November di Surabaya hingga membuat tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan justru tidak diangkat sebagai pahlawan tahun ini.

AA Gde AgungKemudian yang terasa benar benar naif adalah diangkatnya AA Gde Agung sebagai pahlawan nasional. Kalau M Natsir dan Mr Sjafrudin Prawiranegara yang kemungkinan dianggap terlibat dalam pemberontakan PRRI dalam kurun 1957-1961 tidak bisa lolos maka mengapa AA Gde Agung yang jelas jelas memihak Belanda dalam perang kemerdekaan kurun waktu 1945-1949 bisa lolos?

Kalau Bung Tomo tidak bisa lolos karena belum sempat diseminarkan didaerah untuk mengetahui apakah ada pihak pihak yang berkeberatan dengan diangkatnya beliau menjadi pahlawan nasional maka mengapa AA Gde Agung yang sudah jelas banyak pihak akan berkeberatan terutama dari tokoh tokoh pejuang di Bali masih bisa lolos?

Kalau untuk Bung Tomo tidak pernah dilakukan seminar mungkin karena ketokohan beliau sudah tidak ada lagi yang meragukannya sehingga rakyat Jawa Timur tidak merasa perlu menggelar seminar segala untuk mencari tahu apakah ada pihak yang berkeberatan atau tidak. Sebagai icon perang 10 November rasanya tidak ada yang akan keberatan beliau diangkat sebagai pahlawan nasional.

Kembali ke AA Gde Agung. Saya tidak mengerti pertimbangan pemerintah ini. Jika belum ada diantara kita yang mengacungkan tangan tanda keberatan dengan diangkatnya AA Gde Agung sebagai pahlawan nasional maka dengan ini saya menyatakan keberatan saya.

Betapa tidak, AA Gde Agung adalah seorang Raja dari Puri Gianyar Bali yang pada masa perjuangan secara tegas dan frontal berpihak kepada Belanda. Puri Gianyar memiliki sebuah kesatuan tempur lokal yang bernama PPN (Pemuda Pembela Negara).

PPN ini bersekutu dengan NICA dan bergerak secara aktif langsung di bawah komando AA Gde Agung menjadi pelopor serdadu NICA dalam menggempur gerakan para pejuang.

Setelah mendapat bantuan senjata lengkap dari NICA, PPN menggempur gerakan organisasi pemuda PRI (Pemuda Republik Indonesia). Dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern PPN berhasil mematahkan perlawanan PRI dan menangkap pimpinan PRI; Wayan Dipta, kemudian membunuhnya dengan cara yang keji.

Menurut kesaksian seorang pejuang Nyoman S Pendit yang ditulisnya dalam buku Bali Berjuang hal 145: PPN menangkap Wayan Dipta lalu mengkuliti kepalanya dan anggota badannya diiris-iris sebelum kemudian ditembak mati. Suatu perlakuan keji yang sangat menyakitkan hati para pejuang.

Tindakan AA Gde Agung dengan PPN nya itu membuat situasi psikologis Puri Puri yang lain menjadi ragu akan kekuatan pemuda. Keadaan ini membuat pimpinan perjuangan Letkol Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya harus bekerja lebih keras untuk melobi Puri Puri. Simpati Puri ini sangat penting sebab Puri memiliki pengaruh besar terhadap rakyatnya. AA Gde Agung sangat lihai memainkan sentimen rivalitas lama diantara Puri untuk memecah belah persatuan.

Teknik pecah belah Belanda sudah dikuasai betul oleh AA Gde Agung. AA Gde Agung adalah ujung tombak Belanda untuk melancarkan politik pecah belah terhadap Negara Kesatuan RI. Konsep negara boneka yang diusung oleh Belanda yang bertujuan memecah belah persatuan didukung penuh AA Gde Agung.

Sebuah tusukan yang sangat tajam bagi perjuangan pemuda ketika sebuah negara boneka Negara Indonesia Timur (NIT) dibentuk oleh Belanda dengan Tjokorda Gde Raka Sukawati (ayahanda AA Gde Agung) sebagai Presidennya. Kemudian AA Gde Agung diangkat sebagai Perdana Menteri NIT. Adalah H.J. van Mook yang menjadi konseptor pembentukan NIT yang merupakan manifestasi dari politik pecah belah Belanda.

Wilayah NIT meliputi Indonesia bagian timur tanpa menyertakan Irian Barat. Belanda masih ingin memecah lagi Indonesia bagian timur dengan tidak menyertakan Irian Barat kedalam NIT. Design ini merupakan strategi pecah belah yang sangat dipahami oleh AA Gde Agung.

AA Gde Agung adalah seorang diplomat yang cerdas. Punya naluri politik yang tajam. Tahu kemana harus berpihak dan bagaimana bersikap ketika kekuatan sudah mulai bergeser. Ketika masa perjuangan fisik dimana kekuatan Belanda lebih dominan beliau memilih untuk memihak Belanda dengan segala keahliannya sebagai diplomat dan politisi.

Namun kemudian ketika Belanda mulai melemah dan kehilangan pamor di dunia international karena melanggar perjanjian Linggarjati dan Renville dengan melakukan agresi militer pertama dan agresi militer kedua maka AA Gde Agung mulai berpaling kepada Republik.

Hasil dari Konferensi Meja Bundar di Den Haag adalah dibentuknya Republik Indonesia Serikat dimana anggotanya adalah negara negara boneka bentukan Belanda termasuk NIT. Melihat pergesaran ini menjelang penyerahan kedaulatan dari NIT kepada RIS, AA Gde Agung berpidato mendukung masuknya Irian Barat ke dalam wilayah RIS. Ini adalah manuver brilian menarik simpati kaum Republikan.

Pada masa masa selanjutnya ketika kekuatan dan dukungan rakyat maupun dunia international terhadap Republik Indonesia semakin besar maka semakin mantap pula AA Gde Agung berpaling dan memihak RI. Kecerdasan dan keahlian beliau dalam diplomasi membuatnya dipercaya oleh Bung Karno untuk menjabat Menteri Luar Negeri terutama untuk diplomasi soal Irian Barat.

Dari semua kisah diatas saya tidak melihat kisah kepahlawanan nasional. Kisah yang terlihat hanyalah kisah sukses seorang oportunis yang brilian. Sangat disayangkan bila pemerintah tidak bisa melihat akan hal itu.

Kemarin saya nonton sebuah acara dialog di TVRI dengan nara sumber Parni Hardi dan Rais Abin seorang veteran pejuang 45 dengan mengambil tema hari pahlawan. Dalam dialog tersebut dibahas tentang betapa pentingnya sebuah bangsa mengetahui sejarah untuk mengenal para pahlawan.

Pengenalan terhadap sejarah terlebih lebih harus dikuasai oleh para pemimpinnya ujar Rais Abin. Seorang negarawan adalah seorang yang mengetahui sejarah dengan baik tukasnya lebih lanjut. Parni Hardi terlihat gusar dan segera menyergah untuk mengklarifikasi bahwa yang dimaksud Rais Abin adalah Presiden sebagai sosok pemimpin negarawan.

Keputusan Presiden SBY mengangkat AA Gde Agung sebagai pahlawan nasional mencerminkan kegamangan SBY dalam melihat sejarah. Apakah mungkin karena SBY sedang sibuk memikirkan citranya yang sedang merosot hingga tak sempat lagi mengurusi dengan cermat akan hal ini?

Diakhir acara dialog TVRI itu tampil Putu Wijaya membawakan sebuah monolog singkat tentang pahlawan sejati. Diakhir monolog Putu berkomentar bahwa jangan salahkan generasi muda yang bisa keliru dalam melihat sejarah karena mereka akan selau mencari informasi tentang sejarah dari berbagai pihak. Adalah kewajiban kita untuk menampilkan sejarah bangsa dengan cermat dan lengkap.

Semoga tulisan saya diatas bisa memberi informasi yang lebih lengkap tentang kiprah pahlawan, pengkhianat atau oportunis. Sehingga bisa menghindari ironi dimana seorang oportunis nasional diangkat menjadi pahlawan nasional.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa jasa para pahlawannya. Sungguh sebuah tragedi kalau musuh utama para pahlawan tersebut diangkat menjadi pahlawan juga. Siapapun tak akan rela melihat Ngurah Rai disejajarkan dengan AA Gde Agung yang merupakan musuh besarnya. Belum lagi arwah para pejuang yang lain seperti Wayan Dipta yang dibunuh PPN pimpinan AA Gde Agung akan menjerit melihat AA Gde Agung diangkat menjadi pahlawan nasional.

Siapapun anda jika mendengar jeritan para pahlawan sejati dari alam sana maka silahkan bergabung dalam petisi online yang saya buat untuk menentang diangkatnya AA Gde Agung menjadi pahlawan nasional. Jangan takut, semangat Ngurah Rai dan pasukannya bersama kita.
Kata Bung Tomo:
…rawe-rawe rantas malang-malang tuntas…

Petisi Online: http://www.petitiononline.com/gdeagung/petition.html

47 Komentar

Filed under sejarah

Busway Harus Tetap Jalan

jalur busway sepi sementara jalur kendaraan pribadi macetBelakangan banyak berita tentang jalanan Jakarta yang lebih macet gara gara pembangunan jalur busway. Bahkan ada yang mau menempuh jalur hukum untuk mempertimbangkan pemberlakuan busway. Pembangunan infrastruktur memang selalu bikin belepotan.

Busway sendiri sebenarnya idenya adalah memberi alternatif transportasi massal bagi warga Jakarta. Dari sisi konsep baik baik saja. Namun implementasinya dilapangan membuat sebagian masyarakat kecewa. Terutama masyarakat pengguna kendaraan pribadi.

Pengguna kendaraan pribadi inilah yang diharapkan mau berpindah ke busway karena kemacetan lalu lintas di Jakarta disebabkan oleh tidak seimbangnya pertumbuhan kendaraan pribadi dibanding fasilitas jalan.

Proporsi kendaraan pribadi dan kendaraan umumpun tidak seimbang yakni 98% untuk pengguna kendaraan pribadi. Padahal jumlah penumpang yang diangkut kendaraan pribadi cuma 49,7%, sisanya diangkut kendaraan umum.

Melihat kondisi ini maka harus ada langkah terobosan yang berani untuk solusinya. Dari sekian ide angkutan massal mulai dari subway, monorail hingga busway, saya rasa busway adalah ide yang paling mungkin diterapkan untuk sekarang.

Dengan diambilnya sebagian jalur kendaraan pribadi untuk jalur busway maka pasti jalur kendaraan pribadi akan lebih sempit dan ini menimbulkan komplain seperti sekarang ini. Makin macetnya Jakarta adalah konsekuensi logis akan hal itu.

Sekarang pengguna busway dari kendaraan pribadi hanya 13,3% (mobil 5,8% dan motor 7,5%). Sisanya adalah dari pengguna kendaraan umumnya lainnya sepeti mikrolet, metromini, patas AC dll. Kenapa angkanya masih kecil? idealnya semakin banyak pengguna kendaraan pribadi pindah ke busway maka kemacetan akan semakin berkurang.

Banyak kekurangan busway yang menjadikannya tidak menarik bagi pengguna kendaraan pribadi, diantaranya: jumlah bus yang kurang yang berakibat keterlambatan jadwal, banyak persimpangan, dan penggunaan badan jalan secara bersamaan.

Jika busway tepat waktu saja maka itu sudah lebih dari cukup buat pengguna kendaraan pribadi untuk pindah. Mereka tidak terlalu neko neko saya rasa. Karena itu pemda DKI harus segera membenahi penyelenggaraan busway sesegera mungkin. Langkah paling konkret adalah segera menambah jumlah armada.

Bagi pengguna kendaraan pribadi yang marah marah dan meminta busway ditiadakan saya rasa mereka hanya melihat dari sisi kepentingan mereka saja alias egois. Tambah macet itu pasti, ada busway atau tidak. Tapi kalau tidak ada busway maka tidak ada alternatif dimasa yang akan datang.

Banyak pengguna kendaraan pribadi yang mengatakan bersedia pindah ke busway asal layanannya sudah benar benar baik. Untuk sekarang memang masih belum baik, pembangunan infrastrukturnya saja masih belum selesai dan sudah menimbulkan efeknya yaitu bertambah macetnya Jakarta.

Saya teringat kisah Bung Karno yang memberi nasihat kepada seorang dokter untuk segera mendirikan sebuah Universitas karena kebutuhan tenaga dokter yang mendesak tanpa harus menunggu segalanya siap terlebih dahulu.

Keadaan yang benar benar siap tidak akan pernah tercapai. Sambil jalan sambil dibenahi, tapi Pemda DKI juga harus menunjukkan kesungguhannya sementara rakyat Jakarta sudah dipaksa untuk bersabar sambil menanggung semua kerugian.

13 Komentar

Filed under sosial

Adeging Praja Mangkunegaran

Sebuah acara yang sangat ingin kukunjungi tapi harus tertahan dan belum pasti bisa karena harus menunggu turunnya SPK kerjaan dari klien… duh

Besok mau tak tanyain lagi kapan sih turunnya tuh SPK, kalo minggu ini bisa turun insyallah berangkat ke Solo. Ini acara sekali seumur hidup, 250 tahun berdirinya Puro Mangkunegaran.

Gambar dari mangkunegaran.org 

Theme : ONCE IN A LIFE TIME EVENT
Venue : Mangkunegaran Court, Surakarta
Date : Sunday, November 11, 2007, 07.00 pm
Programs :

  • Mangkunegaran Court’s Cosmopolitan dinner
  • Amari Orchestra
  • Collosal Perfomance Dance of THE RISE OF MANGKUNEGARAN COURT (ADEGING PRAJA MANGKUNEGARAN) : (250-300 dancers, elephants, horses, etc)
  • Rising Candle to the Sky of Mangkunegaran Court

Dress Code
Male:
Batik / any kind of Indonesian traditional’s clothes / country origin’s clothes

Female:
Kebaya / any kind of Indonesian traditional’s clothes / country origin’s clothes

Transportation:
Local Transportation to Mangkunegaran Court by Andong (horse and cart)

4 Komentar

Filed under budaya, curhat

Senjata Baru Yusril: Blog

Yusril Ihza MahendraYusril Ihza Mahendra mantan menteri diberbagai kabinet pemerintahan Indonesia ini sekarang memiliki Blog. Pakar ilmu Hukum Tata Negara yang masih gagah ini memutuskan untuk ngeblog setelah menjadi pengangguran alias dipecat jadi menteri pada kabinet SBY.

Harun Al Rasyid, foto dari MetroTvNews.comTidak banyak tokoh akademis yang memiliki kecakapan dalam bidang politik. Contohnya adalah Prof Harun Al Rasyid yang tone suaranya selalu mirip orang bertengkar itu. Pak Harun sebagai pakarpun dalam debat debat di TV masih belum bisa benar benar mengatasi Prof Yusril dalam hal akademis apalagi dalam hal manuver politik.

Pak Yusril ini punya naluri politik yang jitu, terbukti dari karir politiknya yang meroket dari hanya staff ahli sekertariat negara di kabinet terakhir Orde Baru kemudian jadi Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Kabinet Persatuan Nasional Tahun 1999-2001 (jaman Presiden Gusdur), kemudian menjadi Menteri Kehakiman dan HAM Kabinet Gotong Royong Tahun 2001-2004 (jaman Presiden Megawati), dan terakhir menjabat sebagai menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu 2004-8 Mei 2007 (jaman Presiden SBY).

Semua itu dia raih tidak dalam posisi politik mayoritas mutlak. Ciri manuvernya adalah masuk sebagai teman tapi keluar sebagai bukan teman. Saya rasa semua politisi harus selalu mulai masuk sebagai teman, kalau tidak maka tentu tidak akan diangkat jadi menteri. Kalau sudah masuk maka konsekuensinya adalah jadi teman sampai akhir.

Pada sebuah pergantian kekuasaan biasanya yang menang adalah selalu musuh yang kalah. Maka teman teman si kalah tentu tidak akan direkrut jadi menteri. Mantan penguasa periode yang lalu umumnya berada dikelompok si kalah ini.

Jadi kalau sudah pernah jadi menteri di kabinet si kalah maka tidak akan jadi menteri lagi di kabinet si pemenang. Kecuali jika dia seorang teknokrat-murni yang tak tergantikan. Jaman reformasi sekarang ini sudah tidak ada lagi orang model begini, yang ada adalah teknokrat-politisi.

Maka untuk menjadi menteri diberbagai kabinet secara berturut turut adalah sangat sulit. Apa yang ditunjukan oleh Pak Yusril adalah suatu manuver politik yang sangat brilian.

Beliau punya skill administrasi yang unggul yaitu pakar Hukum Tata Negara. Kemudian beliau punya partai politik (PBB) yang bisa menjadi advokatnya di parlemen. Tapi itu saja tidak cukup. Perlu manuver politik yang canggih yang bisa menzigzag kaidah klasik tentang posisi menteri di kabinet.

Kalau kita lihat manuver beliau secara outline apa yang dilakukan oleh Pak Yusril adalah masuk sebagai teman pemenang tapi tidak perlu jadi teman sampai akhir. Menjelang akhir perlu perubahan arah. Kemana arahnya?

Biasanya suatu pemerintahan menuai banyak harapan, sokongan dan dukungan dari publik bahkan dari lawan politik di masa masa awal pemerintahan. Tapi akan menuai banyak kritikan dan kecaman ditengah jalan dan apalagi diakhir masa pemerintahan, terutama dari lawan lawan politik.

Padahal para lawan lawan politik tersebut adalah para kandidat pemenang diperiode berikutnya. Maka perlu suatu investasi politik untuk menjadi teman lawan politik pemerintah (baca: calon pemenang periode berikutnya).

Tentu ada tekniknya supaya tidak terkesan pengkhianat atau oportunis. Salah satu tekniknya adalah memainkan peran sosok teraniaya. Manuver sosok teraniaya ini sangat ampuh. Sudah terbukti waktu SBY melompat pagar kabinet Megawati yang membuat Taufik Kemas menjadi geram dan memicu politisi lain untuk mencaci SBY maka serta merta simpati publik mengalir deras dan dimanfaatkan dengan baik hingga menghantar SBY ke kursi Presiden.

Pada Pak Yusril tidak sedramatis itu. Manuver peran sosok teraniaya terlihat waktu semua orang mengecam Gusdur untuk lengser. Untuk protes dengan cara mundur sebagai menteri saja kurang bisa memberi dramatisasi. Maka cara Pak Yusril adalah tetap ikut menuntut Gusdur mundur seperti layaknya lawan politiknya tapi tidak mau mundur sebagai menteri.

Gusdur jadi rikuh, mau dipecat nanti akan menimbulkan efek sosok teraniaya yang sangat bermanfaat bagi Pak Yusril. Tapi kalau dibiarkan akan merecoki rapat kabinet yang dihadiri Pak Yusril. Dimohon supaya mengundurkan diri Pak Yusril tetep tidak mau. Akhirnyakan Pak Yusril diberhentikan tapi Pak Yusril tidak mau dibilang diberhentikan, maunya dibilang dipecat. Ini untuk memperkuat kesan teraniaya. Inilah investasi politik.

Selain dari itu banyak lagi investasi politik Pak Yusril diantaranya pernah maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden di parlemen, waktu itu yang jadi presiden akhirnya Gusdur. Investasi penting lain adalah berperan penting pada pengunduran diri Pak Harto sebagai konseptor surat pengunduran diri Pak Harto.

Investasi konseptor surat pengunduran diri Pak Harto ini penting untuk bisa masuk ke kabinet Gusdur. Kemudian investasi dipecat dari kabinet Gusdur penting untuk bisa masuk ke kabinet Megawati. Apakah investasi politik itu saja sudah cukup? Belum juga, karena masih dibutuhkan naluri yang tajam untuk mengendus SBY yang bakal keluar sebagai pemenang dipilpres yang lalu.

Keadaan terakhir memang agak beda. Mungkinkah Pak Yusril terpeleset dengan KPK masa kepemimpinan Taufiequrachman Ruki? SBY tidak mau serampangan, tidak mau menjadikan Pak Yusril sebagai pendekar liar yang berbahaya di kemudian hari. Walaupun sekarang dia sudah bebas dan mulai mengelus elus sebuah Blog.

Rika Kato istri Pak YusrilSekarang kalau dilihat pola permainan politik “masuk sebagai teman dan keluar sebagai bukan teman” maka Pak Yusril sekarang sedang dalam manuver yang kita tunggu saja bagaimana beliau melakukan finishing touch 2009.

Sesunguhnya Pak Yusril ini adalah idola saya. Cemerlang didunia akademis. Beliau mengidolakan Pak Natsir yang juga idola saya. Beliau bermain “cantik” dipanggung politik hingga bisa menjabat menteri hingga tiga kali dalam atmosfer politik yang sangat dinamis. Beliau beristrikan seorang Rika Kato yang cantik (halah… gak penting juga). Dari semua itu yang paling penting adalah beliau selalu punya jawaban logis atas suatu permasalahan. Sekarang beliau seorang blogger. Ah seandainya dulu waktu masalah AFIS dan Bank Paribas London Pak Yusril sudah punya Blog maka lain ceritanya.

Bagaimana Blog berperan dalam menunjang karir politik Pak Yusril? Mari kita duduk manis dan menonton sang maestro bermain. Kalau tidak mau melihat dari sisi politik maka mari kita anggap Blog Pak Yusril sebagai Blog seorang akademisi, saya rasa Pak Yusril lebih setuju dengan yang terakhir.

Tapi kalau dianggap Blog seorang Yusril saja juga tidak apa apa kan? Melihat bagaimana Pak Yusril sudah menggunakan komentar di Blognya Vavai dan Priyadi untuk melakukan klarifikasi beberapa isu maka sesungguhnya Blog sudah berperan sebagai media penerangan (duh kaya pemerintah ajah). Sekarang Pak Yusril gak perlu risau kalau ada wartawan yang salah kutip.

Sebelumnya mohon maaf dengan analisa saya yang cablak, itu cuma gaya bahasa, peace ah…

30 Komentar

Filed under politik, tokoh