Visi Kebangsaan Dr AAM Djelantik

Dr AAM DjelantikDr Djelantik yang lebih dikenal sebagai budayawan dan dokter tidak menyurutkan minat dan perhatian masyarakat tentang visi kebangsaannya. Peran apa yang beliau mainkan dimasa perjuangan? Apa pandangan politiknya? Benarkah beliau pernah menerima surat dari Pahlawan Kemerdekaan IG Ngurah Rai? Pertanyaan pertanyaan yang menjadi penting setelah kepergiannya.

Terlebih lagi setelah adanya rencana perubahan nama RSUP Sanglah Denpasar menjadi RSUP Dr Djelantik. Dalam obituariobituari dimedia digital banyak disebut jasa jasa beliau. Seiring dengan dimuatnya tulisan tulisan tersebut juga menuai tanggapan yang mempertanyakan visi kebangsaannya.

Bahkan ada yang secara lugas mengatakan bahwa visi kebangsaan Dr Djelantik sama dengan AA Gde Agung yang secara terang terangan memihak Belanda. Ini sangat mengejutkan. Saya tahu siapa AA Gde Agung dari Soegianto Sastrodiwiryo yang mendapat cerita dari ayahnya yang kebetulan seorang pejuang menceritakan bagaimana para pejuang melempari batu Puri Gianyar karena menolak kemerdekaan RI.

Berikut catatan yang pernah dibuat sekitar tahun 1983.

Catatan Alip Soemioto Sastrodiwiryo

Berikut textnya jika gambar tak terlihat:

Kira-kira dalam bulan oktober 1945 sekembali Mr Puja dari Jakarta menghadiri sidang P.P Kemerdekaan dan diangkat sebagai Gubernur I propinsi Sunda Kecil, atas perintah ketua KNI Bali (Ida Bagus Indra – masih hidup sekarang), Saya berserta I Made Alit diutus keliling Bali menemui para Raja di Bali menyerahkan salinan teks Proklamasi dan perintah Gubernur kepada beliau beliau bersangkutan.

Hanya di Gianyar, kami tidak bersedia diterima oleh AA Gde Agung, sedang di Klungkung penerimaan sangat demonstratif oleh raja Klungkung, dimana kami diharuskan berdiri dilapangan terbuka berjarak kurang lebih 10 meter dengan Raja Klungkung.

Kedudukan sebagai anggota Angkatan Muda Indonesia.

*** 

Sikap para bangsawan diantaranya Dr Djelantik dan AA Gde Agung sangat terkait erat dengan sikap Puri tempat asal mereka. Menurut Prof Geoffrey Robinson keadaan politik di Bali waktu itu sangat kacau dan susah ditebak membuat Puri Puri di Bali terjebak kedalam sikap wait and see.

Berikut kutipan dari makalah Geoffrey Robinson yang berjudul “State, Society and Political Conflict in Bali, 1945-1946”.


The reactions of the Raja to the transfer of civilian authority from the Japanese to Bali’s Republicans on October 8, 1945 had been mixed.

Two Raja, Cokorda Ngurah Gde of Tabanan and Anak Agung Ngurah Ketut of Karangasem, were said to have addressed large gatherings (of roughly 5,000 people) and declared themselves “to be in support of the Government of the Republic of Indonesia.”

It soon became clear, however, that these declarations sprang from a sense of insecurity in the face of Republican mobilization, rather than a strong or principled commitment to the Republic.

 

More clearly opposed to the transfer of authority were the Raja of Klungkung, Dewa Agung Oka Geg (who refused to allow the Republican flag to fly over government offices in his kingdom) and the Raja of Gianyar, Anak Agung Gde Agung.

 

The Raja of Buleleng was regarded as having pro—Republican sympathies, but he apparently took no public position in support of the transfer. He seems to have been concerned to put an end to the more violent actions of the pemuda, and hoped that the establishment of a moderate Republican administration would do this.

In Jembrana the Raja was known to have been a moderate nationalist even before the war, but his stance at this juncture was not clear. There is a good chance that his position was influenced by the opinions of his son Suteja, who was an important pemuda leader.

 

The Raja of Bangli was apparently also sympathetic to the Republic, but chose not to express this in an open or public forum.

 

The Raja of Badung did nothing to interfere with the growth or actions of pemuda organizations in his area, and appeared to welcome the transfer of sovereignty.

 

A good number of Rajas, then, had some sympathy for the Republic, but most took no public position; their approach was to wait and see.

Dari referensi diatas maka jelas Puri Gianyar (dalam hal ini AA Gde Agung) berada pada Sharp Area. AA Gde Agung menyatakan sikapnya dengan jelas yang pro Belanda. Sedangkan Dr Djelantik berasal dari Puri Karangasem yang berada pada Grey Area.

*** 

Banyak yang belum mengenal sosok Dr Djelantik hingga salah mengartikan arti kata “pejuang” sebagai semata mata pejuang kemerdekaan. Djelantik memang tidak termasuk dalam pejuang yang berjuang secara fisik dimasa perjuangan kemerdekaan seperti halnya Ngurah Rai.

Perjuangan dimasa kemerdekaan tidak semata mata dilakukan secara fisik seperti Ngurah Rai dan pasukanya, tapi juga secara diplomasi. Diplomasi hanya efektif dipusat yang dilakukan oleh tokoh tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Di daerah, diplomasi boleh dibilang tidak memiliki pengaruh secara Nasional karena itu yang muncul kepermukaan adalah Ngurah Rai.

Sekarang dimana posisi Djelantik? Djelantik seperti kebanyakan sikap Puri di Bali bersimpati dengan perjuangan namun tidak secara terang terangan memberi dukungan kepada pemuda. Mereka tidak berani bersikap frontal kepada Belanda karena khawatir Puri akan dihancurkan dengan kekuatan militer. Banyak diantara Puri yang bersimpati kepada pejuang lalu memberi dukungan secara sembunyi sembunyi.

Bentuk dukungan itu bermacam-macam. Raja Buleleng AA Panji Tisna yang oleh Nyoman S Pendit dalam bukunya Bali Berjuang dikecam sebagai bangsawan yang tidak pro pejuang namun oleh Dr AAM Udayana putra beliau pernah memberi kesaksian bahwa AA Panji Tisna membiarkan para pejuang bersembunyi di dalam Puri ketika terdesak oleh kepungan Belanda.

Oleh karena Belanda percaya pada AA Panji Tisna maka pencarian didalam Puri tidak ditekankan dan para pejuang yang bersembunyi didalamnya bisa lolos dari pencarian Belanda. Tentu kesaksian semacam itu hanya bisa diberi oleh orang yang dekat dan mengalami sendiri kejadian tersebut. Sebab aksi dukungan semacam itu harus dilakukan secara diam diam yang konsekuensinya adalah tidak terekspos luas ke masyarakat.

Bentuk dukungan lain adalah dari sumber daya manusia. Pada masa awal perjuangan kasta triwangsa (Brahmana, Satria dan Wesya) bangsawan mengisi 75% personel aktivis kemerdekaan. Padahal populasi triwangsa bangsawan dari keseluruhan rakyat Bali hanyalah 10%. Sisanya 90% berasal dari kasta Jaba non-bangsawan. Walaupun demikian pemimpin perjuangan dalam perjalanan Revolusi kemudian tidak didominasi oleh kaum triwangsa bangsawan karena kaum Jaba non-bangsawan juga banyak mengambil peran kepemimpinan dalam proses perjuangan.

Banyak bangsawan Puri yang secara diam diam pada malam hari turun ke lapangan ikut bergerak dengan pemuda dan pada siang hari kembali ke Puri untuk bermanis manis muka pada Belanda. Orang semacam inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Belanda. Belanda akan mengawasi dengan ketat orang orang yang mereka curigai. Dr Djelantik sendiri pernah mengalami perlakuan semacam ini ketika melakukan safari ke Puri Puri dan penjara.

Selain yang memberi dukungan secara diam diam ada juga yang melakukannya secara terang terangan. Salah satu contohnya adalah kerabat Dr Djelantik dari Puri Karangasem yaitu AA Made Karang yang menjabat sebagai komandan TKR anak buah Ngurah Rai untuk wilayah kerajaan Karangasem.

Kebanyakan dari komandan pasukan Ngurah Rai berasal dari kesatuan Prajoda. Kesatuan Prajoda adalah laskar yang dibentuk oleh Belanda yang pada awalnya untuk kepentingan Belanda yang para komandannya dipilih kebanyakan dari kalangan bangsawan.

Jadi hubungan antara Puri dengan perjuangan pemuda sebenarnya cukup erat dengan segala dinamika pasang surutnya. Namun Puri dituntut sedemikian rupa untuk tidak terlalu terbuka dalam memberi dukungan kalau tidak mau diluluh lantahkan oleh militer Belanda. Karena sikapnya yang tidak terang terangan inilah banyak yang salah memahaminya. Bahkan ada yang menyamaratakan.

***

Dalam hubungan Dr Djelantik saya ingin mengurai beberapa sikapnya yang bisa dijadikan rujukan tentang visi kebangsaannya. Sebagai putra bangsawan Dr Djelantik mendapat segala fasilitas Puri termasuk bersekolah di Belanda. Ini hal yang biasa dan tidak bisa dijadikan alasan bahwa Dr Djelantik pro Belanda. Sebagai pembanding Sultan Hamengkubowono IX juga mengambil kesempatan untuk bersekolah di Belanda. Bung Hatta juga bersekolah di Belanda. Jadi tidak semua tokoh yang sekolah di Belanda berarti pro Belanda.

Dr Djelantik beristrikan Astri Henriette Zwart seorang wanita berdarah Belanda. Pada awalnya Astri adalah seorang yang netral. Terbukti dari beberapa sikapnya yang memberi saran kepada Dr Djelantik tentang bagaimana bersikap netral dan waspada kepada tipu muslihat dan jebakan Belanda.

Pada akhirnya Astri kemudian membuktikan keberpihakanya dan kecintaannya kepada Indonesia dengan menjadi warga negara Indonesia dan tinggal di Indonesia.

Jika Dr Djelantik tidak mencintai bangsanya maka bisa saja beliau memilih untuk tinggal di Belanda selama keadaan di Bali masih belum aman karena beliau telah memiliki pekerjaan yang mapan dan komunitas yang akrab di Belanda. Kenyataannya beliau memilih untuk pulang padahal situasi politik di Bali tahun 48 masih sangat gawat.

Adapun alasan beliau tidak ditempatkan di Bali tapi di Sulawesi adalah ulah dari AA Gde Agung seorang bangsawan pro Belanda yang pada waktu itu memegang posisi politik yang penting. AA Gde Agung menakut-nakuti Dr Djelantik dengan gerakan pemuda yang brutal sementara Ngurah Rai orang yang dikenal Dr Djelantik dan dianggap bisa memberikan perlindungan telah gugur.

Pada waktu itu Belanda mendirikan negara boneka Republik Negara Indonesia Timur dan AA Gde Agung diangkat menjadi pemimpinnya Perdana Menteri. Bali berada ditengah tengah membuatnya terpecah, sebagian besar pemuda ingin ikut RI yang meliputi Indonesia bagian barat (Jawa, Sumatra dan Kalimantan) tapi elit politik seperti AA Gde Agung jelas ingin Bali ikut Republik Negara Indonesia Timur.

Segala propaganda akan diupayakan untuk mewujudkan opini bahwa Republik Indonesia Timur lebih baik dan lebih aman untuk merekrut sebanyak mungkin tokoh kepihaknya. Dr Djelantik kembali bersikap seperti kebanyakan Puri untuk wait and see bukan untuk pro Belanda tapi sekali lagi sebuah sikap yang telah diambilnya sejak masa awal pergolakan seperti yang telah saya jelaskan diatas.

Beberapa kritikan atas sikap Dr Djelantik yang dianggap sebagai sikap yang pro Belanda adalah peristiwa di Bali Hotel ketika Dr Djelantik pertama kali memberi sambutan kepada publik untuk rangkaian safarinya. Dr Djelantik memberi sambutan dalam bahasa Belanda yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh orang Belanda.

Keadaan ini memang sungguh memalukan. Menurut pengakuanya, penguasaan bahasa Indonesianya pada saat itu tidak sebaik bahasa Belanda atau bahasa Bali. Saya rasa ini suatu hal yang manusiawi dan tidak dapat dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Dr Djelantik pro Belanda. Pada kesempatan pidato selanjutnya Dr Djelantik telah menggunakan bahasa Indonesia walaupun agak canggung.

Hal hal yang sifatnya tampak dipermukaan akan terlalu dangkal jika digunakan sebagai dasar untuk menilai visi kebangsaan seorang tokoh yang menjalani hidup yang panjang seperti Dr Djelantik. Lihat apa yang diberinya bertahun tahun kemudian lebih bisa dijadikan dasar untuk menilai kebangsaannya. Bahkan ada tokoh yang baru bisa dilihat visi kebangsaannya jauh setelah kematiannya.

***

Saya akan ambil contoh kasus tokoh nasional yang bernama Raden Saleh seorang pelukis Indonesia yang karyanya bertarafnya international. Kalau dilihat gaya hidupnya yang sejak kecil telah diasuh oleh Belanda, disekolahkan oleh Belanda di Eropa. Orang akan dengan mudah mengatakan beliau pro Belanda. Dibanding dengan tokoh perjuangan yang hidup sejaman dengannya yaitu Pangeran Diponegoro yang memberontak kepada Belanda.

Raden Saleh jelas tidak ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro. Tapi apakah hati Raden Saleh tidak bersimpati pada perjuangan Pangeran Diponegoro? Bertahun tahun lamanya dipercaya bahwa Raden Saleh adalah seorang yang pro Belanda karena dimakamnya tertulis “Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda”.

Tapi sejarawan mengungkap fakta bahwa visi kebangsaan Raden Saleh adalah kepada bangsanya Indonesia. Pada saat penangkapan Pangeran Diponegoro dengan cara licik oleh Belanda, Raden Saleh masih berada di Eropa tepatnya di Perancis, kiblat demokrasi Eropa masa itu. Belanda sangat merahasiakan kelicikannya pada dunia International untuk menghindari tekanan Eropa.

Tapi apa yang terjadi di koran koran Eropa adalah pembeberan kebusukan taktik Belanda. Belanda mendapat kecaman Eropa dan sangat gusar dengan kejadian ini tapi tidak habis pikir siapa yang telah berhasil membocorkannya ke media di Eropa. Sejarawan meyakini tidak ada orang lain yang memiliki niat, kemampuan dan kesempatan itu di Eropa selain Raden Saleh.

Diponegoro by J.W. PienemanSatu lagi tindakan Raden Saleh yang baru bisa dimengerti sebagai sebuah pembelaan kepada bangsanya adalah lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro. Sebelumnya sebuah lukisan penangkapan dibuat oleh seorang pelukis belanda J.W. Pieneman dengan penggambaran peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Diponegoro by Raden SalehRaden Saleh tahu lukisan tersebut tidak menggambarkan keadaan yang sesunguhnya lalu membuat lukisannya sendiri tentang penangkapan tersebut dengan penggambaran pengikut Pangeran Diponegoro tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tidak terlihat. Menurut kalender peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya sedang berpuasa dan datang dengan niat baik mau berunding dan bukan berperang.

Diponegoro ditangkap dengan mudah, Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Tidak mudah mengungkap bukti visi kebangsaan Raden Saleh kalau bukan oleh orang yang mengerti benar tentang dunia yang digelutinya. Raden Saleh telah memberi identitas nasional bangsa Indonesia dikancah seni dunia.

Atas apa yang telah dilakukannya penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno.

***

Kalau Raden Saleh baru bisa terungkap visi kebangsaanya setelah beliau wafat maka Dr Djelantik telah memperlihatkannya semasa hidupnya. Ini yang sulit dipahami diawal jika yang terekam oleh ingatan hanyalah sikapnya yang dipermukaan. Kalau tidak oleh orang terdekat maka akan butuh waktu lama dan butuh bukti yang meyakinkan untuk meyakininya.

Ngurah Rai adalah teman dekat Dr Djelantik sejak sekolah di Malang sehingga Ngurah Rai dapat memahami tindakan Dr Djelantik melakukan safari atas prakarsa Belanda. Surat yang dikirim oleh Ngurah Rai kepada Dr Djelantik ketika bersafari di Klungkung sebenarnya hanya untuk menenangkan dan meyakinkan Dr Djelantik bahwa Ngurah Rai dan pasukanya memberi ruang kepadanya untuk melakukannya misinya.

Karena surat tersebut telah dimusnahkan maka kita tidak bisa melihat bukti otentik keberadaannya. Beberapa analisa bisa kita pakai untuk menguji keabsahannya:

  1. Bobot surat; Surat tersebut tidak memiliki muatan politik yang berat seperti halnya Supersemar. Semakin tinggi muatan politiknya semakin besar kemungkinan dipalsukan atau dimanipulasi. Jika Supersemar tidak dipublikasi seperti yang sekarang ini maka Suharto tidak dapat berkuasa tapi jika surat IGN Rai tidak dipublikasi maka tidak ada implikasi politik apapun yang akan menimpa Dr Djelantik.
  2. Integritas penulis; Sepanjang hidup Dr Djelantik dikenal sebagai orang yang punya integritas dan bukan orang yang suka manipulasi.
  3. Waktu publikasi kejadian; Sumber publikasi surat tersebut adalah dari buku “The Birtmark, Memoirs of a Balinese Prince” yang ditulis tahun 1997 jauh setelah kejadian 1946. Maknanya adalah tidak ada tekanan politik apapun untuk mengada-ada keberadaan surat tersebut. Dr Djelantik dalam keadaan bebas merdeka dari ancaman atau tekanan apapun.
  4. Motivasi; Dr Djelantik telah memiliki segalanya lebih dari yang ia butuhkan pada saat mempublikasi surat tersebut melalui bukunya. Nama besar, pengikut, pengakuan masyarakat, keluarga, penghargaan pemerintah, harta yang cukup, semuanya telah ia miliki.

Dari empat poin diatas maka saya memiliki keyakinan bahwa keberadaan surat tersebut adalah otentik. Tidak ada motivasi yang masuk akal secara politik/ekonomi/sosial untuk mengarang kisah tentang kejadian tahun 46 yang dipublikasi tahun 97 dimana beliau  dikenal secara luas oleh masyarakat.

***

Kemudian setelah Belanda pergi dari Indonesia barulah Dr Djelantik pulang ke Bali dan sepenuhnya mengabdikan diri untuk masyarakat dalam bidang kedokteran. Banyak yang beliau lakukan dalam bidang kedokteran yang terlalu panjang untuk dibeberkan disini semua.

Salah satu diantaranya adalah menjadi pendiri ikut mendirikan fakultas kedokteran Universitas Udayana atas perintah Bung Karno. Pada waktu itu Dr Djelantik menjabat sebagai direktur RSUP Sanglah memfasilitasi beberapa ruang untuk kegiatan fakultas yang baru berdiri. Fakultas kedokteran ini kemudian digabung dengan fakultas sastra cabang Universitas Airlangga yang sudah lebih dulu berdiri di Denpasar. Penggabungan beberapa fakultas itu lantas menjadi Universitas Udayana.

Hal hal seputar kedokteran inilah yang menjadi polemik oleh beberapa pihak dan berubah kearah penilaian visi kebangsaannya. Menurut saya apakah beliau termasuk salah satu pendiri RSUP Sanglah atau bukan itu tidak mengubah visi kebangsaanya. Beliau tetap seorang yang cinta Indonesia yang rendah hati dan tak pernah menuntut untuk ditinggikan posisinya.

Kecintaanya terhadapnya seni dan budaya menghantar beliau menjadi aktivis budaya yang memberi banyak sumbangan kepada dunia budaya. Semua itu dilakukan tidak dengan mudah tapi dengan penuh perjuangan.

Karena itu menurut pandangan saya Dr Djelantik adalah seorang pejuang dalam arti yang lebih luas. Kata pejuang punya banyak dimensi, bisa pejuang kemerdekaan, pejuang kemanusiaan, pejuang perdamaian dan bisa juga pejuang kebudayaan.

Semoga tulisan saya bisa lebih mengungkap siapa Dr Djelantik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada diawal tulisan.

Saya terbuka atas semua masukan tentang tulisan diatas dengan syarat menggunakan identitas yang valid (bukan inisial).

Tulisan terkait:

17 Komentar

Filed under budaya, sejarah, tokoh

17 responses to “Visi Kebangsaan Dr AAM Djelantik

  1. Biyang Bulantrisna

    SALUT
    Budayawan muda,
    alangkah salutnya saya atas tulisan Anda yang terakhir ini.. analisa yang mendalam, faktual dan netral.. tanpa ada agenda politik atau pembentukan “tim sukses” tertentu.. Ulasan grey area maupun ulasan Raden Saleh sangatlah relevan dan menarik, yang membuat kita berpikir lebih dalam mengenai perjuangan.

    Saya mau menambahkan sedikit fakta mengenai ayah sebagai berikut:
    Selama delapan tahun beliau bekerja sebagai Direktur / Kepala Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah (dari tahun 1960-1968), memperluas pembangunan gedung dan memperlengkapinya dengan berbagai bagian spesialisasi, poliklinik, dan pendidikan tenaga paramedis. Jabatan ini dirangkap pula dengan jabatannya sepagai Inspektur Kesehatan seluruh DTI Bali. Saya sangat ingat betapa sibuknya beliau dengan pekerjaan, belum lagi praktek pribadinya di sore hari hingga malam . Itupun beliau masih menyempatkan mengantar jemput untuk kegiatan saya menari di desa, pura atau istana setelah selesai praktek.

    Perlu diketahui bahwa ayah memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah dinas disebelah RS Lepra (Balun, Denpasar), dimana kami anak2 dengan bebas bertemu dan bermain badminton dan dengan para pasiennya. Ia ingin menjunjukkan pada masyarakat bahwa tidaklah tabu untuk bergaul dengan pasien lepra yang telah mendapat pengobatan.

    Pada tahun 1960 Ia dibantu ibu (Astri) meletakkan dasar untuk program Keluarga Berencana di Bali dengan pembentukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Cabang Bali yang mulanya adalah swadaya masyarakat tapi kemudian hari menjadi program pemerintah.

    Pada tahun 1963, melakukan Penanggulangan Bencana Alam dalam Komando Operasi Gunung Agung. Menyelenggarakan Pos palang Merah disekitar Gunung Agung dan organisasi kesehatan pada kamp kamp pengungsi. Saya masih ingat betapa tiba-tiba di rumah ibuku dan beberapa penjahit yang sibuk menjahit pakaian dengan mesin2 jahitnya untuk pengungsi, karena banyaknya pihak yang menyumbangkan tekstil. Ayah memotivasi dan melengkapi transmigran pertama korban bencana Gunung Agung dari Bali ke Dumoga, Bolaang Mongondow, Sulut dengan team pembasmian Malaria dan alat semprot dan obat-obatan sehingga transmigrasi ini terbilang sukses.

    1969 – 1079, bertugas untuk Malaria Eradication di Iraq Selatan, Somalia dan Afghanistan dan melakukan berbagai penelitian lapangan, al:
    Aerial spraying dengan pesawat terbang dengan Dichlorvos (DDVP) untuk menanggulangi wabah malaria akibat bencana alam banjir serta memonitor efektifitas spraying tersebut dengan cara entomologis dan klinis parasitologis, Pilot project pembasmian malaria dengan insektisida baru: OMS-33 (carbamate) di daerah Fao Iraq, dan evaluasi dampaknya, evaluasi penyemprotan Malathion di Iraq bagian tengah, memonitor keracunan petugas penyemprot Carbamate dengan pengukuran kadar Cholinesterase darah, meneliti efek fumigant dari Carbamate yang disemprot dalam rumah, penggunaan larvivorous fish dalam pemberantasan penyakit malaria, menemukan 16 jenis larvivorous fish, al: Notobranchius yang memiliki kekhasan bahwa telornya tahan kekeringan dan menetas setelah turun hujan; mengembangkan ikan jenis Tilapia, meneliti ketahanannya dan efektifitasnya dalam program Pemberantasan Malaria; membantu pemerintah Somalia dalam pelaksanaan sanitasi, nutrisi dan pemberantasan malaria dalam kamp – kamp puluhan ribu pengungsi; membantu Pemerintah Afghanistan dalam Malaria Control Programme, meneliti efektifitas Gambusia fish sebagai agen anti larva dalam Malaria Control, perbandingan beberapa insektisida residual dalam efektifitasnya terhadap vector malaria, penelitian Lapangan tentang Fansidar sebagai pengobatan mass prophylaxis dalam wilayah yang hiper-endemis, meliputi 12 Desa, mencari teknologi yang tepat untuk menanggulangi malaria dengan slow-release insecticide, memakai potongan plastic yang di-impregnasi, membuat perencanaan terintegrasi pemberantasan malaria kedalam General Health Services, khususnya dalam Rural Health Centre . Jadi mungkin inilah istilah untuk a”malarialogist” yaitu prevensi dan penanggulangan penyakit malaria dengan bekerja secara langsung dalam bidang kesehatan masyarakat, yang meliputi: penelitian lapangan, planning, implementasi dan monitoring dan feed backnya.

    1982-1983, sebagai Konsultan UNICEF emimpin tin evaluasi untuk Udayana Community Health Programme (UCHP), yang meliputi: latar belakang sejarah, analisa kurikulum, evaluasi kritis implementasinya dan berbagai elemen yang terkandung dalam program ini. Ini yang kemudian diadopsi pemerintah dalam pendirian Puskesmas yang kita kenal sekarang di segala pelosok nusantara.

    1980 – 1999, setelah kembali ke Bali dan mendapat pensiun dari WHO, menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar, dengan mata pelajaran Malarialogi di Bagian Kesehatan Masyarakat

    Ternyata selama masa hidupnya, ada juga penghargaan yang telah diterimanya, antaranya yang berhasil kami temukan adalah:

    24 April 1971 Menerima Tanda Djasa PALANG MERAH INDONESIA, dalam rangka 25 tahun berdirinya Palang merah Indonesia yang dittd Ketua Umum Prof.dr. Satrio

    September 1987: menerima Penghargaan Alma Nugraha 25 tahun Universitas Udayana atas jasa2nya sebagai pemrakarsa, pendiri, pembina, pengembang, pengabdi, serta dalam mengangkat nama Universitas Udayana

    17 September 1989: bersama Prof Dr J Sulianti, mendapat Tanda Penghargaan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), atas jasanya untuk mengembangkan dan membina Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Profesi kesehatan Masyarakat di Indonesia

    Maret, 1991: mendapatkan Penghargaan Seni ”Dharma Kusuma” dari Gubernur Kepala Dareah Tingkat I Bali

    April, 1992: menerima Penghargaan Ciwa Nataraja STSI Denpasar, berkenaan dengan jasa jasa dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni

    Juli 1993: menerima Penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas prestasinya sebagai pembina Seni Tari

    1995: menerima Penghargaan sebagai Anggota Kelompok Ahli Bidang Pembangunan Pemerintah Propinsi daerah Tingkat I Bali, tahun 1990 sampai dengan tahun 1995 dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali

    Agustus 2003: sebagai Seniman, Mantan Kadinkes Prop. Bali, Mantan Kepala RS Sanglah, dan mantan Dekan Fak. Kedokteran Universitas Udayana, mendapatkan Piagam Tanda Kehormatan ”Satyalancana Kebudayaan” sebagai penghargaan atas prestasinya dalam menulis berbagai makalah bidang seni budaya, mendirikan Society For Balinese Studies yang mendorong pemerintah daerah, mendirikan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Daerah Bali dari PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Ibu Megawati Soekarnoputri

    Desember 2004: Mendapatkan Penghargaan International ” Quest for Global Healing” dari dalam rangka Global Healing Conference di Ubud

    Juli 2006:Menerima Tanda Kehormatan ” BINTANG BUDAYA PARAMA DHARMA” sebagai pendidik, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dan mantan Kepala Kesehatan Propinsi Bali, dan penghargaan atas jasa-jasanya memajukan dan membina kebudayaan Nasional, dari PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono

    Ini sama sekali bukan untuk menepuk dada, selama hidup beliau sendiri tak pernah mementingkan ada atau tidaknya penghargaan, namun hanya untuk melengkapi apa yang dapat anda baca dalam referensi yang lainnya.
    Salam budaya, BB

  2. @Biyang Bulantrisna,

    Terima kasih telah memberi komentar pada Blog saya. Masukan yang bagus dan lengkap sekali. Salam Budaya.

  3. saraswati

    Sdr Wibisono S
    Ada koreksi disini
    Salah satu diantaranya adalah menjadi pendiri fakultas kedokteran Universitas Udayana atas perintah Bung Karno. Pada waktu itu Dr Djelantik menjabat sebagai direktur RSUP Sanglah memfasilitasi beberapa ruang untuk kegiatan fakultas yang baru berdiri. Fakultas kedokteran ini kemudian digabung dengan fakultas sastra cabang Universitas Airlangga yang sudah lebih dulu berdiri di Denpasar. Penggabungan beberapa fakultas itu lantas menjadi Universitas Udayana.

    Coba bedakan
    • Yang dimaksud dengan formatur adalah : …
    • Yangt dimaksud dengan pendiri adalah : …
    • Yang dimaksud dengan ketua adalah : …
    Diskusi saya lakukan di http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah biar tahu siapa yang mendirikan Fak. Kedokteran UNUD

    Saraswati

  4. @saraswati,

    Kenapa tidak langsung saja diberi masukan disini supaya tidak kehilangan jejak diskusinya.

    Jadi tolong diberi masukan kembali tentang:

    • Yang dimaksud dengan formatur adalah : …
    • Yangt dimaksud dengan pendiri adalah : …
    • Yang dimaksud dengan ketua adalah : …

    Itu semua soal detail prosedural pendirian organisasi jadi saya rasa Ibu Saraswati pasti lebih tahu definisi itu semua.

    Diskusi saya lakukan di http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah biar tahu siapa yang mendirikan Fak. Kedokteran UNUD

    Ini agak tidak lazim Bu, dimana artikelnya ditulis disitulah dibahas materinya. Soalnya nanti pembaca kehilangan jejak diskusi.

  5. @saraswati,

    Saya sudah baca masukan di blog balebengong tapi mohon maaf saya tidak bisa menanggapinya disana karena itu bukan blog saya, saya tidak berkewajiban menggapi apapun diblog orang lain, lagipula tidak ada relevansi dengan artikelnya. Saya hanya bertanggung jawab pada blog saya.

    Saya tidak bisa tanggapi disini karena pembaca blog saya tidak bisa melihat masukkan yang Ibu berikan. Adapun yang Ibu beri adalah tugas, kan saya bukan mahasiswa Ibu🙂

    Jangan beri saya tugas, beri saya masukan jadi bisa jadi bahan pertimbangan. Percayalah kalau memang ada masukan yang berharga pasti saya pertimbangkan. Jadi lain waktu bila ada masukan langsung saja dipost disini, tidak usah kucing kucingan sebab nanti pembaca Blog saya jadi bingung😉

  6. Ping-balik: Budayawan Muda

  7. Tulisan yang bagus, kualitas tulisan yang jarang ditemukan di blog -blog Indonesia, tulisan-tulisan yang lain juga enak di baca. blog nya juga excellent, keep up the good work.

  8. saraswati

    Sdr Wibisono S
    Saya terbiasa memberi tahu seseorang dengan cara tidak langsung tetapi membuka wawasannya dengan memintanya untuk membaca. Selanjutnya kalau yang bersangkutan tidak menemukannya, nah baru saya beritahu. Demikian pula yang saya sampaikan terdahulu agar bisa dibedakan antara formatur, pendiri dan yang mengetuai suatu organisasi. Dengan demikian anda akan teliti dalam memakai kata “pendiri”.
    • Yang dimaksud dengan formatur adalah : yg membentuk suatu badan/panitia
    • Yang dimaksud dengan pendiri adalah : orang yang mendirikan
    • Yang dimaksud dengan ketua adalah : setelah berdiri suatu organisasi kemudian dicari/ dibayar/ditunjuk seseorang untuk menjalankannya
    Dalam biografi Prof.dr.IGNG Ngoerah http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah/ tercantum sebagai :
    • Wakil Ketua Badan Perguruan Tinggi untuk Pendirian Universitas Udayana (tahun 1961) (Ketua : Ir. IB. Oka dari Dinas PU Bali).
    • Ketua Panitia Persiapan Pendirian Universitas Udayana termasuk Ketua Panitia Persiapan FK/Fakultas Kedokteran dengan SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 4, 1962 (15 Januari 1962) (Prof.dr.IGNG Ngoerah:Sebuah Biografi Pendidikan hal 99, 110).
    Jadi ada koreksi dalam tulisan anda
    Salah satu diantaranya adalah menjadi “”pendiri”” fakultas kedokteran Universitas Udayana atas perintah Bung Karno. Pada waktu itu Dr Djelantik menjabat sebagai direktur RSUP Sanglah memfasilitasi beberapa ruang untuk kegiatan fakultas yang baru berdiri. Fakultas kedokteran ini kemudian digabung dengan fakultas sastra cabang Universitas Airlangga yang sudah lebih dulu berdiri di Denpasar. Penggabungan beberapa fakultas itu lantas menjadi Universitas Udayana.
    Semoga anda mengerti.
    saraswati

  9. Kurnia Setiawan

    Mengikuti tulisan diatas ada dua hal yg perlu saya garis bawahi.
    – Kecintaan terhadap seni dan budaya menghantar beliau menjadi aktivis budaya.
    – Menurut pandangan saya (penulis) beliau adalah pejuang dalam arti luas. Kata pejuang bisa pejuang kemerdekaan, pejuang kemanusiaan, pejuang perdamaian dan bisa pejuang kebudayaan.
    Bila disimak kalimat diatas beliau masuk pejuang yg mana ?
    Bila dikatakan pejuang kemerdekaan, beliau berada diwilayah abu2 dan baru kembali dari negeri belanda setelah Indonesia merdeka dan aman.
    Bila dikatakan pejuang kemanusiaan/kesehatan, memang ada kontribusi beliau. Tapi seberapa besar, karena masih ada dokter2 yg lebih awal bertugas di Bali walaupun pada waktu itu situasi di Bali belum kondusif. Semua dokter bisa dikatakan pejuang kesehatan.
    Bila dikatakan pejuang perdamaian saya kurang mengerti peran beliau.
    Bila dikatakan pejuang/aktivis kebudayaan, maka saya juga perlu bertanya. Pejuang/aktivis kebudayaan menurut hemat saya adalah orang yg berjuang untuk mempertahankan seni dan budaya setempat (dalam hal ini budaya dan adat Bali). Pembakaran Mayat (di Bali disebut Ngaben) merupakan budaya yg perlu dipertahankan dan juga merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Bali. Untuk diluar daerah bali mungkin dapat dimodernisasi. Bagaimana bila seorang tokoh yg bisa menjadi panutan melakukan modernisasi thd jenasah orang dekatnya sendiri (melakukan kremasi di krematorium) Bila tokoh spt itu kita ikuti maka filosofi bebanjaran di Bali akan punah dan bila tokoh spt itu kita jadikan panutan, pariwisata bali akan punah.

  10. @saraswati,

    Saya terbiasa memberi tahu seseorang dengan cara tidak langsung tetapi membuka wawasannya dengan memintanya untuk membaca. Selanjutnya kalau yang bersangkutan tidak menemukannya, nah baru saya beritahu.

    Aduh ini lagi diposting, tadi sudah dipost diartikel saya yang lain, masa saya mesti jawab lagi.

    Sebenarnya saya sudah melakukan koreksi atas kata “pendiri”, kalau anda baca lagi bisa terlihat. Tapi saya tidak merasa perlu mengistimewakan anda untuk diberi tahu karena pembaca Blog saya bukan hanya anda seorang.

    @Kurnia Setiawan,

    Bila disimak kalimat diatas beliau masuk pejuang yg mana?

    Makna pejuang dalam arti yang lebih luas:

    Tiap tiap orang hakekatnya adalah pejuang, paling tidak untuk dirinya sendiri. Pejuang untuk keluarganya, untuk lingkungannya, untuk komunitasnya dan untuk bangsanya.

    Jadi sekecil apapun jasa seseorang maka sesunguhnya dia adalah pejuang (dalam arti yang lebih luas). Jangan berpikiran pejuang hanya untuk orang yang punya jasa segede bagong.

    Dr Djelantik telah melalui hidup yang panjang dan banyak yang dia telah beri, yang tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain.

    Pembakaran Mayat (di Bali disebut Ngaben) merupakan budaya yg perlu dipertahankan dan juga merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Bali.

    Jadi mau melestarikan budaya karena pariwisata?
    hmm… ini yang sering dikeluhkan oleh Dr Djelantik karena pementasan beberapa tarian sakral sudah tidak pada tempatnya hanya karena untuk industri pariwisata.

    Bagaimana bila seorang tokoh yg bisa menjadi panutan melakukan modernisasi thd jenasah orang dekatnya sendiri (melakukan kremasi di krematorium).

    Ini tergantung dari kebijakan Parishada Hindu Dharma sebagai lembaga yang berwenang menentukan apakah suatu peribadatan itu sesuai atau tidak.

    Mirip seperti MUI sebagai lembaga yang berhak menentukan halal dan haram pada pemeluk agama Islam.

  11. Kurnia Setiawan

    he. he. he…. anda tidak percayakan. Sayapun juga tidak percaya pada tulisan saya. Begitu juga saya tidak percaya akan kebenaran isi tulisan anda, karena hanya menyadur tulisan yg kebenarannya diragukan. Teliti dulu sebelum mempublikasikan tulisan. Masih banyak saksi-saksi hidup yg dapat ditanya.
    tokoh yg anda maksud bukanlah tokoh budaya diJakarta ataupun di Belanda. Tokoh yg anda tulis adalah tokoh kebudayaan Bali di Bali. Pendapatan daerah terbesar di Bali diperoleh dari industri pariwisata beserta industri penunjangnya. Sehingga sangat diperlukan usaha2 mengajegkan budaya dan adat istiadat bali.
    saya sepakat untuk mengsakralkan tempat maupun tarian yg bersifat sakral. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilihat ataupun ditonton.
    tetapi bila melaksanakan upacara ngaben di Bali dengan keremasi dikerematorium perlu dipertanyakan, apa yg bersangkutan ikut mebanjar atau tidak. Ingat anda berbicara tokoh di Bali (bukan di Jkt, di Belanda atau dilain tempat diluar bali), tentu sangat erat hubungannya dengan bebanjaran yg berasas Selunglung Sabayantaka berdasarkan UUD 45 & Pancasila serta Tri Hita Karana sesuai dengan Tatwa tentang buana agung.
    Ngaben sendiri ada tingkatannya dari utama, madia dan nista, serta tidak lepas dari desa, kala,patra. Melakukan keremasi dikerematorim yg letaknya diluar wewengkon desa pekeraman masuk tingkatan yg mana ?
    Kalau kita sudah berani mentokohkan seseorang, maka orang tersebut patut menjadi penutan. Apa tokoh seperti ini yg akan dipanuti. mau dibawa kemana Bali ini ?

  12. @Kurnia Setiawan,

    Begitu juga saya tidak percaya akan kebenaran isi tulisan anda, karena hanya menyadur tulisan yg kebenarannya diragukan.

    Saya gak pernah maksa anda untuk percaya. Begitu juga dengan para pembaca lain. Tapi anda juga tidak bisa memaksa orang lain untuk percaya maupun tidak percaya. Mau percaya yo monggo, tidak percaya juga boleh.

    Pendapatan daerah terbesar di Bali diperoleh dari industri pariwisata beserta industri penunjangnya. Sehingga sangat diperlukan usaha2 mengajegkan budaya dan adat istiadat bali.

    Oh ini namanya budaya untuk pariwisata. Ini berbahaya menggerus nilai budaya, sebab sudah banyak bukti nilai tradisi yang dilacurkan hanya untuk pariwisata. Seharusnya adalah pariwisata untuk budaya.

    saya sepakat untuk mengsakralkan tempat maupun tarian yg bersifat sakral. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilihat ataupun ditonton.

    Ini terdengar seperti silat lidah para pelaku industri pariwisata.

    Ingat anda berbicara tokoh di Bali (bukan di Jkt, di Belanda atau dilain tempat diluar bali), tentu sangat erat hubungannya dengan bebanjaran yg berasas Selunglung Sabayantaka berdasarkan UUD 45 & Pancasila serta Tri Hita Karana sesuai dengan Tatwa tentang buana agung.

    Pertama tama anda tidak menjelaskan apa yang dilakukan oleh Dr Djelantik yang anda anggap tidak sesuai denan pelestarian nilai budaya. Jangan samar samar nanti pembaca bingung.

    Soal konsep Tri Hita Karana, tidak ada masalah. Tri Hita Karana adalah konsep keseimbangan dalam Hindu. Sukerta tata pawongan, sukerta tata palemahan, sukerta tata pagaman, artinya keseimbangan antara hubungan manusia, lingkungan dan Tuhan.

    (Supaya pembaca awam ngerti dan tidak dibodohi dengan keterangan yang samar samar)

    Tri Hita Karana diejawantahkan dalam konteks Desa Kala Patra (situasi tertentu menyangkut tempat, waktu dan kondisi).

    Jadi tata cara ngaben di Jakarta tentu akan beda dengan di Bali, karena konteks tempat. Jika ngaben jaman dulu akan beda dengan jaman sekarang dalam konteks waktu. Begitu juga dalam konteks kondisi yang melingkupi teknologi.

    Ngaben sendiri ada tingkatannya dari utama, madia dan nista, serta tidak lepas dari desa, kala,patra. Melakukan keremasi dikerematorim yg letaknya diluar wewengkon desa pekeraman masuk tingkatan yg mana ?

    Dalam soal kasus Dr Djelantik harus dijelaskan kondisi sesungguhnya seperti apa? hanya yang tahu kejadian itu yang bisa menjelaskan kondisinya. Kita tidak bisa menghakimi suatu kejadian tanpa tahu situasi dan kondisi yang akurat tentang kejadian itu.

    Kalaupun sudah dijelaskan dengan baik maka yang berwenang memutuskan salah atau benar bukan kita tapi para sulinggih Parisadha.

    Anda boleh saja punya pandangan tentang hal ini tapi anda bukan yang berwenang memutuskan. Lagi pula kalau pemahaman anda tentang budaya pariwisata saja sudah keliru bagaimana mau menilai yang lebih dalam tentang agama?

    Jadi begini Bung Kurnia, soal Dr Djelantik, beliau adalah tokoh yang juga manusia biasa. Bisa berbuat baik dan juga bisa keliru. Dari sekian panjang masa hidupnya orang banyak melihat kebaikannya dan anda hanya melihat keburukannya yang juga masih sumir.

    Dari situ saya ragukan perhatian anda pada pelestarian budaya. Anda hanya ingin mencari keburukan lalu mengeksploitasinya untuk kepentingan politis tertentu.

    Mudah terlihat kok, artikel saya tentang visi kebangsaan, tapi anda mempersoalkan hal lain (ngaben) yang tidak ada kaitan langsung dengan artikel.

  13. kang, aku ambil artikelnya buat di balebengong ya. skalian artikel2 lain yg relevan dengan bali atau denpasar.

    thx.

  14. @sidarta,
    Terimakasih Bli Sidarta

    @anton,
    Monggo mas Anton

  15. kurnia setiawan

    Sdr Wibisono
    Diawal tulisan anda, anda menggambarkan sosok seorang budayawan. Maka tidak salah kalau saya menanyakan sosok yg bagaimana dikatakan sosok budayawan.
    Pengetahuan anda tentang budaya mungkin cukup dalam. Layaknya anda sedang berenang, tapi anda menggunakan pelampung. Anda hanya melihat air permukaan yg jernih dan itu yg anda ceritakan dalam artikel anda. Anda tidak mau melepas pelampung anda untuk melihat kotoran atau lumpur yg ada didasar, padahal anda ahli berenang.
    Anda takut tenggelam bila berenang tanpa pelampung. Jadi anda tetap menggunakan pelampung agar tetap aman. Tidak peduli dengan sampah/lumpur dibawah, yg penting anda bercerita bahwa tempat anda berenang itu bersih.
    He he he, selamat berdongeng yg manis

  16. @kurnia setiawan,

    Diawal tulisan anda, anda menggambarkan sosok seorang budayawan. Maka tidak salah kalau saya menanyakan sosok yg bagaimana dikatakan sosok budayawan.

    Banyak tulisantulisan yang memuat kiprah kebudayawanan beliau, artikel saya menekankan visi kebangsaannya.

    Sebenarnya sih bisa saja saya bahas tentang Walter Spies Festival, Tirtagangga Festival, Society for Balinese Study dan masih banyak lagi tapi yah percuma saja, ciri orang yang ada maksud tersembunyi adalah tidak fokus pada isu tertentu, gagal disatu isu, loncat ke isu yang lain.

    Pengetahuan anda tentang budaya mungkin cukup dalam. Layaknya anda sedang berenang, tapi anda….

    …Tidak peduli dengan sampah/lumpur dibawah, yg penting anda bercerita bahwa tempat anda berenang itu bersih.

    Ini tipikal orang yang kehabisan argumentasi dan tidak mau lagi berdiskusi karena tidak ada lagi isu yang bisa disoroti, saya tidak perlu tanggapi itu kecuali dengan cara yang sama.

    Sebenarnya saya berada dibawah permukaan, tapi anda melihat dari atas permukaan. Efek deviasi cahaya menyebabkan anda salah membidik posisi saya.

    He he he, selamat berdongeng yg manis

    Terima kasih untuk tidak nyampah di Blog saya. Tidak usah komen lagi saya sudah tahu mindset anda.

  17. Ping-balik: Obrolan Ringan di Cafe Chatterbox « Budayawan Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s