Pejuang Prapatan 10

Oleh: Muhidin M Dahlan
Resensi buku Lahirnya Satu Bangsa dan Negara

Revolusi Indonesia pada akhirnya lahir di jalanan bersama pekik kerumunan massa, pidato-pidato yang membakar, dan disertai serangkaian adu bedil. Dan di antara semua itu, kaum muda berada di pusat bandul pergolakan. Hampir setiap babakan penting menuju Indonesia Merdeka, semisal pendirian Boedi Oetomo yang secara umum dipahami sebagai tonggak kebangkitan nasional, sumpah pemuda 1928, penggumpalan aspirasi pendirian politik 1938 di Volksraad, hingga Proklamasi 1945, semuanya dipunggungi kaum intelegensi muda usia.

Ketuban dekrit Proklamasi Kemerdekaan, misalnya, tak akan pecah seandainya tak ada elemen intelegensi muda yang memandunya di mana pada saat yang sama Bung Karno dan Bung Hatta dalam posisi “bingung” hendak melakukan tindakan apa di tengah simpang siur berita kalahnya Jepang dalam Perang Pasifik.

Salah satu kelompok pemuda yang aktif dalam persiapan Proklamasi itu, selain kelompok Menteng 31, Cikini 71, Gang Bluntas, adalah Prapatan 10. Penamaan ini diambil dari nama jalan di mana kelompok ini tinggal. Prapatan 10 sejatinya adalah asrama mahasiswa Ika Daigaku (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba).

Ide perguruan tabib modern ini datang pada Agustus 1942 dibawa Soejono Martosewojo dari Surabaya ke Jakarta guna mencari kerja. Ia bersama Eri Soedewo dan juga mahasiswa Jakarta seperti Koestedjo, Kaligis, Imam Soedjoedi, mendesak Mr Soewandi agar Jepang membuka Perguruan Tinggi Kedokteran.

Setelah disetujui, panitia dibelah dua. Satunya mengurus kurikulum, sementara lainnya mengurus pembentukan asrama untuk pondokan mahasiswa baru yang berdatangan dari luar Jakarta dan luar Jawa. Panitia lalu menunjuk bekas gedung Dienst van Volksgezondheid di Prapatan 10—dekat Pasar Senen pada jalan dua arah Prapatan Kwitang—yang bisa menampung 250 mahasiswa.

Di asrama inilah pembangkangan kepada Jepang dan perumusan konsepsi bentuk negara Indonesia digodok mahasiswa.

Buku yang sebelumnya berjudul Mahasiswa ’45 Prapatan 10: Pengabdiannya I ini lumayan mampu mendeskripsikan secara detail suasana dan gerak dalam asrama itu. Di sana tak hanya tumbuh mahasiswa-mahasiswa garang yang kelak menjadi petinggi-petinggi militer, tapi juga intelektual-intelektual berkelas internasional. Dan uniknya, mereka adalah para juru suntik yang dicambuk zaman untuk turut dalam badai revolusi. Mereka memang banyak berkecimpung di lab-lab kimia atau kamar-kamar bedah, tapi juga aktif bertukar pikir masalah politik dan merumuskan bentuk negara Indonesia, rajin menggelar rapat-rapat pembangkangan di selasar-selasar gelap asrama, dan bahkan para juru suntik belia ini turut mempelopori gerakan mahasiswa memanggul bedil.

Di asrama inilah Soedjatmoko yang kelak menjadi salah satu milestones intelektual Indonesia lahir. Ia menjadi salah satu pemikir yang menonjol di antara rekannya. Dan juga keras kepala. Selain menggalang sikap menolak saikeirei, Soedjatmoko—juga Soedarpo—memandu mogok kuliah massal setelah tentara Kompetai secara brutal melakukan penggundulan kepala mahasiswa di ruang-ruang kelas. Sampai-sampai Bung Karno, Bung Hatta, Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantoro turun tangan menasehati mahasiswa untuk kembali ke kelas. Bung Karno mengingatkan, kalau pemogokan itu diteruskan, akibatnya akan merugikan, bukan saja mahasiswa, tapi nusa dan bangsa.

Namun mahasiswa Prapatan 10 bergeming. Terutama Soedjatmoko dan Soedarpo. Menanggapi dua mahasiswa yang keras kepala ini Bung Karno sempat sewot dan harus menjelaskan panjang lebar kenapa bersikap ko kepada Jepang dan bukan nonko saat menghadapi Belanda. Tak lupa saat hendak pulang, Bung Karno melontarkan pujian kecil kepada kedua mahasiswa Prapatan itu bahwa kelak keduanya menjadi “orang besar”.

Radikalisme mahasiswa itu ternyata sudah lama tercium Jepang. Sewaktu diadakan latihan kemiliteran di Box-laan (sekarang Jalan Prambanan, Menteng), mahasiswa lari kocar-kacir tanpa perintah untuk berteduh dari hujan. Tiga hari setelah peristiwa lari dari barisan itu, belasan aktivis Prapatan ditangkap. Tuduhannya bertambah: turut menyiarkan keluar negeri ulah kejam Jepang menghadapi pemogokan mahasiswa. Separuh boleh melanjutkan kuliah setelah bebas, atau hanya kena skors berhenti kuliah setahun seperti Eri Soedewo. Tapi yang lainnya langsung diusir dari kampus. Termasuk rombongan terakhir ini adalah Soedjatmoko, Soedarpo, dan Koento.

Peristiwa itu begitu memukul Perguruan Tinggi. Namun bukannya mengendurkan radikalisme, malah kian memadatkan dan memupuk kebencian mahasiswa kepada Kompetai. Adalah Dokter Abdulrachman Saleh—kelak gugur dalam kecelakaan pesawat di Lapangan Maguwo Jogjakarta—yang sadar betul “bahaya kuning” itu. Maka secara diam-diam ia menjadi katalisator semangat para pemuda dan mahasiswa agar tetap membina mental dan fisik. Mahasiswa kedokteran menjulukinya “Karbol”. Jika Karbol sebagai bahan kimia digunakan untuk membersihkan benda, maka Abdulrachman Saleh adalah karbol untuk mencuci otak.

Abdurachman Saleh juga yang mengajak mahasiswa suntik itu turun ke kampung-kampung rombeng di Banten Selatan yang menjadi salah cikal program Kuliah Kerja Nyata Universitas. Selain menyebarkan virus nasionalisme, di kampung-kampung itu juga mereka mengajarkan masyarakat untuk hidup sehat dengan persediaan makanan seadanya. Termasuk mencontohkan mengolah bekicot secara sederhana menjadi makanan lezat tanpa bahan kimia.

Namun ada juga yang heboh ketika puluhan ribu romusha dari Bekasi membawa tetanus dan penyakit kejang ke CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo), tempat mahasiswa tingkat lanjut kuliah. Ternyata telah terjadi salah suntik (atau istilah kerennya medical crime=malpraktik) yang menyebabkan beberapa dokter yang sekaligus petinggi Ika Daigaku ditahan hingga beberapa di antaranya meninggal dalam penjara.

Kurir Proklamasi dan Konstitusi

Hanya selang dua pekan setelah PM Koisho 7 September 1944 menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, pentolan-pentolan Prapatan 10 sudah membincangkan bakal bentuk negara, apakah dominion, kerajaan, republik, statenbond, bobdstaat, atau negara kesatuan. Dan mahasiswa ini memilih Negara Kesatuan yang mereka tahu berseberangan dengan pandangan Bung Hatta yang lebih condong pada statenbond.

Maka ketika diadakan ceramah terbuka Bung Hatta ihwal bentuk Negara Indonesia di Deutsches Haus, Gambir Barat (Jl Merdeka Barat sekarang), salah seorang mahasiswa Prapatan 10 mendebatnya sengit dan sinis. Saking dongkolnya sampai-sampai Bung Hatta melontarkan ucapan: “Lebih baik saudara kembali dulu ke bangku sekolah, sudah itu baru debat saya.”

Namun Bung Hatta luluh juga ketika beberapa pentolan aktivis mendatangi kediamannya tengah malam ihwal sikap mayoritas mahasiswa dan pemuda yang menginginkan Negara Kesatuan. “Kalau tidak diambil bentuk negara kesatuan, nanti terulang lagi politik dan taktik devide et impera Belanda,” ujar aktivis Prapatan 10, M Kamal, yang ditunjuk pentolan Menteng 31, Chairul Saleh.

Mahasiswa Prapatan kemudian tak hanya trampil dalam suntik-menyuntik, tapi juga piawai dalam berdiplomasi, membangun kesepahaman dengan pelbagai elemen pemuda lewat sidang-sidang kongres maupun rapat-rapat umum. Sebelum Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) dibentuk, elemen-elemen pemuda sudah melakukan Kongres Pemuda se-Jawa yang menyerukan persiapan diri bagi pelaksanaan Proklamasi. Bersama pemuda Menteng 31, eksponen Prapatan itu melakukan serangkaian rapat gelap dan mencetuskan Gerakan Angkatan Baru Indonesia.

Pada 7 Juni 1945 mahasiswa Ika Daigaku, Yakugaku (Akademi Farmasi), dan Kenkoku Gakuin (Akademi Pemerintahan) menggelar rapat seluruh pemuda pelajar Sekolah menengah Tinggi untuk kemerdekaan Indonesia. Dan atas prakarsa pentolan-pentolan Prapatan rapat itu mengeluarkan tuntutan, selain “Indonesia Merdeka Sekarang Juga”, juga “diadakan latihan militer sempurna bagi pemuda-pelajar.”

Maka mahasiswa juru suntik itu pun memanggul bedil di Daidan I Jagamonyet yang dipimpin Daidancho MR Kasman Singodimedjo. Dan kelak banyak dari mahasiswa ini berpangkat mayor jenderal seperti Eri Soedewo yang juga sekaligus dokter ahli bedah.

Tatkala para pemimpin ragu dalam memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang takluk, dengan caranya sendiri justru mahasiswa dan pemuda-pemuda ini mengambil inisiatif untuk “memaksa” dwitunggal Bung Karno dan Bung Hatta mengambil sikap secepat-cepatnya. Mereka menjadi kurir Proklamasi atau penghubung dengan berkendara Onthel menghubungi setiap pucuk pimpinan yang dicekau was-was oleh suasana tak menentu. Dengan wataknya yang meledak-ledak, eksperimentatif, dan tak banyak pertimbangan, mereka “menyekap” Bung Karno dan Bung Hatta ke luar kota.
Barangkali mereka tak sadar sama sekali bahwa upaya-upaya “nekad” mereka itu telah membangkitkan gairah serupa di Asia dan Afrika dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Buku ini—dan juga buku-buku serupa—adalah album yang merekam bagaimana cara-cara yang dilakukan elemen-elemen di dalamnya tatkala Indonesia berada di tengah jembatan peralihan yang sangat genting.

Sebagaimana diketahui, usai ketegangan jelang Proklamasi dikumandangkan, jam 12.00 siang muncul kekhawatiran yang tak kalah seriusnya, yakni bakal meledaknya friksi dan perpecahan tatkala wakil-wakil PPKI dari Indonesia Timur seperti Dr Ratulangi (Sulawesi), Tadjoedin Noer (Kalimantan), Latuharhary (Maluku), I Ketut Pudja (Bali dan Nusa Tenggara) yang berkumpul di Hotel Des Indes merasa heran dan tak terima dengan beberapa frase dalam konstitusi seperti kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dan Presiden harus Muslim. Mahasiswa-mahasiswa ini juga yang rela menjadi kurir konstitusi yang memediasi perselisihan di luar perdebatan parlemen.

Bung Hatta berhasil diyakinkan setelah utusan-utusan Indonesia Timur itu mengadakan pertemuan di asrama mahasiswa Prapatan 10. Pada akhirnya sebelum rapat dimulai 18 Agustus, Bung Hatta meminta Mr T Moh Hasan, utusan dari Sumatera, meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo supaya “7 kata” dalam Preambule itu diganti. Ki Bagus ternyata bisa diyakinkan Mr Hasan hingga kemudian UUD disahkan.

Buku ini memang berpotensi membesar-besarkan peran mahasiswa yang mangkal di asrama Prapatan 10. Tapi sejarah juga seperti perspektif mata burung; tergantung dari posisi mana mata melihat. Maka sungguh sayang buku ini dinafikan lantaran menyumbang banyak, terutama sekali memperkenalkan kontur-kontur detail di seputar jelang dan sesudah kemerdekaan, atau paling tidak suasana revolusi sedasawarsa (1940-1945) dari sebuah profesi, yakni para juru suntik yang ternyata sangat mahir, jeli, dan cerdas berpolitik, juga kuat memanggul bedil di medan pertempuran.

About these ads

13 Komentar

Filed under politik, tokoh

13 responses to “Pejuang Prapatan 10

  1. saraswati

    Wibisono S dan penulis Muhidin M Dahlan komentar perbaikan saya letakkan di http://www.balebengong.net

  2. @saraswati,

    Ibu Saraswati, link Ibu tidak mengarah langsung ke komentar yang Ibu tulis. Coba kalau orang klik link diatas maka tidak akan langung terlihat.

    Kalaupun mereka berhasil menemukan maka besar kemungkinan tidak paham karena artikel yang dikomentari tidak utuh ada disana.

    Sebaiknya langsung diposting disini karena ada relevansinya. Pembaca blog biasanya kurang suka komentar yang OOT (out of topic) jadi harap sebisa mungkin perhatikan relevansi antara komentar dan artikel.

    Ibu Saraswati, saya sebenarnya sedang ingin menulis peran Prof Ngurah tapi saya kekurangan bahan, akan baik sekali kalau ada yang suply.

  3. Pejuang Bali

    Di buku tsb: Alumni Prapatan 10 umumnya mengingat Ngoerah sbg mahasiswa pendiam yg tiba2x ngotot menolak penggundulan di bawah todongan senjata tentara Jepang.

    Dari daftar mahasiswa yg tertera di belakang buku tsb: sebagian besar memiliki karir yg cemerlang paska kemerdekaan.
    Sepertinya, pada saat yg bersamaan: Mahar Mardjono (Rektor UI), Eri Sudewo (Rektor Unair) dan Ngoerah (Rektor Udayana).

    Tentunya Ibu Saraswati yg lebih tahu detil dari Prof Ngoerah.

    PB

  4. @Pejuang Bali,

    Terima kasih atas masukannya. Saya sudah usaha untuk mencari buku itu tapi tidak berhasil. Mas Muhidinpun belum berhasil saya kontak.

  5. saraswati

    Sdr Wibisono S
    Ibu Saraswati, link Ibu tidak mengarah langsung ke komentar yang Ibu tulis. Coba kalau orang klik link diatas maka tidak akan langung terlihat.
    • Ya surfing lah. Gelombang kan mengarahkannya. Nikmat kan jadi ketagihan asal jangan memabukan.
    Kalaupun mereka berhasil menemukan maka besar kemungkinan tidak paham karena artikel yang dikomentari tidak utuh ada disana. Sebaiknya langsung diposting disini karena ada relevansinya. Pembaca blog biasanya kurang suka komentar yang OOT (out of topic) jadi harap sebisa mungkin perhatikan relevansi antara komentar dan artikel.
    • Saya ingin pembaca tahu yang dibicarakan merupakan orang yang berada di topic tulisan dan diskusi saya. Lihat http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah
    • bapak dr Soegianto sastrodiwiryo juga memberikan apresiasinya. Terimakasih. Dapat dilihat http://www.zoegian.wordpress.com/
    • Yang sama saya ulangi ditambahkan dgn Buku Lahirnya Satu Bangsa Dan Negara halaman 24
    • Mahasiswa’45 Prapatan-10: Pengabdianmu –halaman 27
    Ibu Saraswati, saya sebenarnya sedang ingin menulis peran Prof Ngurah tapi saya kekurangan bahan, akan baik sekali kalau ada yang suply.
    Silahkan baca buku ”Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gede Ngoerah, sebuah Biografi Pendidikan” (1998) yang ditulis oleh Tim Peneliti Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana. Di Gramedia Denpasar ada. Sebagian di http://www.id.wikipedia.org/wiki/I_Goesti_Ngoerah_Gde_Ngoerah
    sebagian http://www.unud.ac.id dan di http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah Memang sangat penting bila membuat tulisan harus mempunyai referensi baik pustaka maupun narasumber

    saraswati

  6. @saraswati,

    Bu, kalau mau ambil quotation bisa pakai tag
    <blockquote> …text yang akan diquote… </blockquote>

    Jadi lebih teratur kelihatannya.

    Saya ingin pembaca tahu yang dibicarakan merupakan orang yang berada di topic tulisan dan diskusi saya.

    Kelihatannya Ibu sudah perlu untuk punya Blog sendiri agar Ibu bisa punya ruang diskusi sendiri, tapi selama itu belum tercapai bisa pakai cara berikut: beri saja linknya jadi orang tahu kemana harus melihat. Misalnya begini.

    “Ini adalah masukan untuk artikel diatas sehubungan dengan profil bapak <a href=”http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah” >Prof Ngurah </a >. Beirkut masukannya bla bla…”

    Jadi pembaca akan tahu siapa yang dimaksud dengan mengklik kata Prof Ngurah yang sudah diberi link ke URL diatas.

    Intinya link, tagnya sbb:
    <a href=”URL link” > text </a >

    Di Gramedia Denpasar ada

    Wah saya di Jakarta Bu…
    kalau yang di Wiki itu hanya data profil, saya butuh yang lebih lengkap seperti buku Lahirnya…

  7. saraswati

    Saya terbiasa memberi tahu seseorang dengan cara tidak langsung tetapi membuka wawasannya dengan memintanya untuk membaca. Bukan hanya dalam kapasitas sebagai mahasiswa. Selanjutnya kalau yang bersangkutan tidak menemukannya, nah baru saya beritahu. Harusnya yang memberi jawaban adalah sdr Muhidin M Dahlan karena sdr wibisono tak punya bukunya.
    Dalam buku Lahirnya Satu Bangsa Dan Negara halaman 24 dan juga buku Mahasiswa’45 Prapatan-10: Pengabdianmu –halaman 27
    Sebelum tulisan di bawah ini …………….
    Selain menggalang sikap menolak saikeirei, Soedjatmoko—juga Soedarpo—……………………………………………… Bung Karno mengingatkan, kalau pemogokan itu diteruskan, akibatnya akan merugikan, bukan saja mahasiswa, tapi nusa dan bangsa. —-
    Perlu diketahui bahwa terdapat text :
    Ketika para asisten Jepang memerintahkan 3 orang serdadu Jepang agar memulai acara penggundulan , timbullah pertengkaran antara seorang mahasiswa yang bernama I Gusti Ngurah yang duduk di bangku belakang dekat pintu samping dengan seorang opsir Jepang. Mungkin karena ganasnya, opsir Jepang itu mencabut pistol yang kemudian diarahkan kepada I Gusti Gde ngurah. Untunglah opsir itu masih dapat mengendalikan dirinya sehingga jiwa Ngurah dapat terhindar dari maut. Ngurah mendapat hadiah tamparan di mukanya. Ngurah ini orangnya kurus, biasanya pendiam dan tenang-tenang saja. Agaknya pada waktu itu justru ia memberontak tidak sudi digundul, tidak mau dihina …………………….. dst. Persoalan tidak berhenti sampai disitu saja, tetapi bahkan mempunyai rentetan yang berkepanjangan. Suasana menjadi lebih tegang karena pada keesokan harinya, yaitu hari senin, para mahasiswa melakukan mogok kuliah.
    Ngurah dalam cerita di atas adalah Prof.dr.IGNG Ngoerah http://www.balebengong.net/2007/10/20/profil-prof-dr-i-goesti-ngoerah-gde-ngoerah/

    Dalam kesempatan ini saya juga menyampaikan bela sungkawa karena Bapak Soedarpo (prapatan-10) telah berpulang beberapa hari yang lalu. Somoga jasa2nya mendapat penghargaan dari penerusnya dan amal baktinya diterima Tuhan Yang MasaEsa. Istirahatlah yang tenang pejuang.
    saraswati

  8. @saraswati,

    Saya terbiasa memberi tahu seseorang dengan cara tidak langsung tetapi membuka wawasannya dengan memintanya untuk membaca. Bukan hanya dalam kapasitas sebagai mahasiswa. Selanjutnya kalau yang bersangkutan tidak menemukannya, nah baru saya beritahu

    Anda memposisikan diri sebagai orang yang dibutuhkan. Padahal disini yang lebih berkepentingan adalah anda, bukan saya.

    Harusnya yang memberi jawaban adalah sdr Muhidin M Dahlan karena sdr wibisono tak punya bukunya.

    Sederhana saja jawabannya. Karena ini bukan blognya Muhidin M Dahlan. Lagipula Muhidin hanya menulis resensi buku, ngapain juga dia dikasih kasih tugas menggapi komentar anda?

    Lagipula informasi yang anda beri itu bukan koreksi tapi hanya sekedar tambahan. Kenapa tidak anda buat sendiri resensi buku itu versi anda?

    Dalam buku Lahirnya Satu Bangsa Dan Negara halaman 24 dan juga buku Mahasiswa’45 Prapatan-10: Pengabdianmu –halaman 27…

    …para mahasiswa melakukan mogok kuliah.

    Masukan yang bagus sekali, kenapa tidak sejak awal anda post?

    Soedarpo (prapatan-10) telah berpulang beberapa hari yang lalu

    Saya turut berduka cita dan semoga semua amal ibadahnya diterima Tuhan YME

  9. wakakakakakk..
    *gelar tiker, nonton tarik urat..*

  10. @-tikabanget-,
    hehehe yah maklum, karena beliau hanya baca blog untuk sesaat.

  11. saraswati

    Karena anda memberi kesan bahwa anda ingin tahu tentang buku prapatan 10 dan tidak punya bukunya maka dirasa perlu menambahkan pada tulisan yang ada. Tapi kasihan sekali kalau penulisnya nggak diberikan mengomentari atas komentar yang masuk. minimal mengomentari bahwa cerita itu benar atau tidak.

  12. @saraswati,

    Karena anda memberi kesan bahwa anda ingin tahu tentang buku prapatan 10 dan tidak punya bukunya maka dirasa perlu menambahkan pada tulisan yang ada.

    Boleh boleh saja dan saya terima, cuma kenapa mesti kucing kucingan?

    Tapi kasihan sekali kalau penulisnya nggak diberikan mengomentari atas komentar yang masuk. minimal mengomentari bahwa cerita itu benar atau tidak.

    Hah? siapa yang melarang? Saya kan bilang
    belum bisa contact
    .

    Kalo anda mau hubungi saja sendiri ke Blog Muhidin
    di http://suplemenibuku.blogspot.com/

    Tapi itu bukan Blog pribadi dia, itu Blog komunitas, harap anda behave disana kalau tidak mau dibanned.

  13. sandireja

    mas punya, data2 orang buta di wawancara perihal Prapatan 10 ga???
    di tunggu mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s