Fakta Kepulangan Dr AAM Djelantik

Sebelumnya saya ingin menjelaskan bagaimana politik Belanda dalam mencengkeram Indonesia selama lebih dari 350 tahun. Secara singkat bisa saya katakan bahwa Belanda tidak tertarik dengan kebudayaan Indonesia.

Best interest Belanda adalah ekonomi dan perdagangan. Karena itulah Belanda tidak perlu mengubah budaya dan tradisi Indonesia secara struktural. Adapun perubahan yang dilakukan semata mata hanya untuk kepentingan eksploitasi. Selain itu juga perubahan yang dilakukan atas dasar desakan dunia international.

Berbeda dengan Inggris yang selalu melakukan perubahan secara struktural pada negri jajahannya. Inggris mengubah tatanan sosial dan budaya lokal setempat agar bersesuaian dengan budaya Barat. Inggris merubah sistem pendidikan, melarang perbudakan, melarang candu, dan masih banyak lagi perubahan budaya lokal yang dianggap uncivilized. Oleh Belanda semua itu dibiarkan karena tidak ada keuntungan secara ekonomi.

Jika Inggris yang berkuasa di Indonesia maka dapat dipastikan keadaan ekonomi rakyat akan jauh lebih baik. Belanda tidak merasa perlu berbuat itu karenanya rakyat dibiarkan sengsara tapi untuk dapat mengendalikan rakyat Belanda harus “beramah tamah” dengan para bangsawannya tanpa membuat para bangsawan merasa terjajah.

Itulah sebab kenapa Puri Puri di Bali dan Keraton Keraton di Jawa punya hubungan akrab dengan Belanda. Putra putri bangsawan disekolahkan ke Belanda. Termasuk Dr Djelantik yang merupakan dokter Indonesia pertama yang meraih gelar dokternya di Belanda. Termasuk Dr Djelantik yang merupakan salah satu putra Bali pertama yang meraih gelar dokternya di Belanda.

Sungguhpun demikian para bangsawan tak pernah merasa nyaman berada dibawah kekuasaan Belanda. Mereka tidak leluasa memerintah karena harus selalu dicampuri oleh Belanda. Tidak terkecuali Sultan Hamengkubuwono IX, bangsawan yang sangat disegani Belanda karena Sri Sultan berpendidikan Belanda dan punya kekuasaan politik dan militer.

Pada saat Jepang masuk dan Belanda terpaksa mengungsi ke Australia, Belanda berusaha mengajak serta Sultan dengan menakut-nakuti bahwa nanti Sultan akan dibunuh oleh Jepang. Belanda juga memprovokasi dengan mengatakan ketiga Raja Jawa yang lain sudah setuju untuk ikut mengungsi. Tapi Sultan tetap pada pendirian untuk tinggal. Sikap licik Belanda ini juga nanti akan diterapkan pada Raja Karangasem.

Setelah kekalahan Jepang oleh sekutu terjadi kekosongan kekuasaan. Kekosongan kekuasaan memicu ego lama kerajaan kerajaan untuk berkuasa. Tapi mereka tidak cakap lagi berpolitik. Selain daripada itu muncul juga suatu kekuatan baru, gerakan yang bersifat Nasional yang dikenal dengan gerakan Revolusi. Kasultanan Jogjakarta dengan tegas menyatakn diri mendukung Republik. Kasunanan Surakarta seperti kebanyakan Puri di Bali memilih di Grey Area.

Gerakan ini menginginkan suatu pelimpahan kekuasaan yang bersifat Nasional ketimbang kerajaan kerajaan kecil. Gerakan ini memiliki tulang punggung kekuatan yaitu kaum pemuda yang kenal betul politik pecah belah Belanda. Sedangkan Puri tidak memiliki kekuatan apapun.

Pada bulan Maret 1946 setelah Belanda kembali bercokol di Bali. Ratusan pejuang gugur oleh tentara KNIL dan ribuan pemuda dipenjara sebagai tawanan perang.

Kala itu serangan terhadap konvoi Belanda terjadi dimana mana.
Gerakan pemuda dari masing masing wilayah dipimpin oleh:
Badung, I Gusti Putu Wisnu; Buleleng, Dewa Made Swedja; Jembrana, I Gusti Bagus Kajun; Bangli, Anak Agung Anom Muditha; Gianyar, I Dewa Gde Anom Asta; Tabanan, I Gusti Wayan Debes; Karangasem, Anak Agung Made Karang. Sedangkan komandannya adalah I Gusti Ngurah Rai.

Ngurah Rai dan Djelantik

Ngurah Rai dalam lingkaran merah, Djelantik dalam lingkaran biru. Foto tahun 1931 di Malang

Ngurah Rai adalah teman Dr Djelantik semasa sekolah di Malang, mereka berteman hingga dewasa. Belanda mengetahui hubungan dekat mereka dan tidak tinggal diam. Belanda kemudian menakut-nakuti Raja Karangasem untuk memanggil putranya yang sedang kuliah di Belanda untuk segera pulang dengan alasan Puri dalam keadaan bahaya. Sebuah surat panggilan pulang atas nama Raja Karangasem dikirim untuk memanggil pulang Dr Djelantik.

Pada saat itu Dr Djelantik baru saja menikahi seorang wanita Belanda bernama Astri Henriette Zwart dan tidak ingin meninggalkannya sendiri. Belanda menawarkan opsi untuk perjalanan pulang-pergi selama kurang lebih 6 mingguan.

Dr Djelantik mencurigai kebaikan Belanda yang memang tidak menyembunyikan maksudnya. Mereka meminta bantuan Dr Djelantik untuk bisa membujuk Ngurah Rai menghentikan perlawanannya. Bahasa halusnya kami tidak ingin membunuh mereka. Karena diantara para pemuda kami yakin banyak yang cerdas dan akan berguna untuk pengembangan bangsamu. Karena itu kami ingin perdamaian. Begitu bujuk Belanda kepada Dr Djelantik.

Dr Djelantik mengatakan bahwa dia tidak punya pengaruh apa apa terhadap para pemuda. Belanda menyanggah dan meyakinkan bahwa Puri Karangasem masih dihormati oleh rakyat dan tidak mendapat penolakan pemuda secara frontal seperti halnya Puri Gianyar.

Atas saran Astri, Dr Djelantik mengajukan syarat untuk diberi kebebasan berbicara selama misi di Bali. Syarat disetujui dan Dr Djelantik beserta Astri berangkat ke Bali.

Setibanya di Bali Dr Djelantik dijadwalkan oleh Belanda untuk melakukan safari ke puri puri dan penjara penjara untuk bisa memotivasi para bangsawan dan pejuang yang tertangkap agar mau kembali kepada kondisi semula yaitu dibawah pemerintahan Belanda.

Walaupun safari itu atas prakarsa Belanda tapi isinya tidak bisa didikte oleh Belanda, Dr Djelantik memanfaatkannya untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya (aspirasi) dari rakyat.

Wawancara dengan para tokoh masyarakat di pelosok desa tidak terlalu mengungkap banyak fakta. Keadaan yang gawat membuat mereka cenderung tutup mulut. Kebanyakan dari mereka hanya mau hidup tenang dan damai. Tapi wawancara dengan pejuang yang tertangkap di penjara mengungkapkan bahwa para pejuang di hutan hutan sangat menderita hidupnya. Selalu kekurangan pangan, terserang malaria dan berbagai penyakit berbahaya lain. Selalu dikejar, ditembaki dan diburu tentara Belanda.

Dari kenyataan ini menurut pengakuan Dr Djelantik muncul simpati atas perjuangan para pemuda. Astripun demikian karena pada dasarnya Astri adalah seorang Belanda yang netral, yang selalu mengingatkan suaminya untuk bersikap netral seperti halnya kebijakan kebanyakan Puri untuk wait and see. Astri juga yang memberi ide pada Dr Djelantik untuk mengganti bendera Belanda dengan bendera warna pelangi pada perayaan Gala Lunch di Puri Karangasem.

Pada sebuah safari di Klungkung Dr Djelantik mendapat sepucuk surat oleh orang yang loncat dari sepeda ontel lalu menghilang dikeramain jalan. Surat tersebut dalam bahasa Indonesia (tulisan di buku dalam bhs Inggris, daripada salah terjemahan saya sadur dari bahasa Inggrisnya saja):


“My dear friend,
I fully approve of what you are doing.
Please carry on with your mission.
I will not follow your steps, because I have vowed that I will continue our armed struggle until my last drop of blood!
Let us fight together, each in his own way.
We remain brothers.
Destroy this peace of paper,
Ng Rai.“

Dari surat tersebut Dr Djelantik merasa yakin bahwa Ngurah Rai dan pejuang yang lain percaya atas dirinya dan memang selama safari itu mereka tidak pernah dihadang oleh para gerilyawan. Peristiwa itu terjadi dalam tahun 1946 sekitar bulan oktober.

Selesai melakukan safari Dr Djelantik kembali ke Belanda meneruskan kuliahnya. Belanda sangat kecewa dengan hasil kerja Dr Djelantik. Apa yang diharapkan Belanda tidak tercapai. Secara politis Belanda mau Dr Djelantik mengutuk gerakan perjuangan dan mengajak pemuda kembali ke system lama. Tapi Belanda tidak dapat memaksa karena terikat dengan syarat yang diajukan Dr Djelantik.

Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 20 November 1946, Ngurah Rai berserta 95 anggota pasukannya gugur dalam pertempuran di desa Marga. Sejak keberangkatannya ke Belanda Dr Djelantik kehilangan minatnya dibidang politik. Minat utamanya kala itu yang tersisa hanyalah mengabdikan diri dibidang kedokteran yang dikuasainya.

Pada tahun 1948 ketika kuliah Dr Djelantik sudah rampung tapi situasi di Indonesia masih berkecamuk perang gerilya Dr Djelantik memutuskan untuk pulang. Pulang untuk mengabdikan diri sebagai dokter dan memilih Bali sebagai tujuannya.

Pada waktu itu Perdana Menteri Indonesia Timur bentukan Belanda dijabat oleh AA Gde Agung, seorang bangsawan dari Puri Gianyar yang merupakan teman sekolah Dr Djelantik. AA Gde Agung adalah bangsawan yang pro Belanda sehingga beliau mewarisi cara cara Belanda dalam melakukan propaganda menakuti-nakuti.

Situasi yang masih berkecamuk ditambah dengan telah gugurnya Ngurah Rai sebagai teman dari sisi pejuang membuat propaganda AA Gde Agung terhadap Dr Djelantik menjadi efektif.

Dr Djelantik yang sudah kehilangan minat politik itu bukanlah Sri Sultan yang tak gentar dengan gertakan dan ancaman. Dr Djelantik hanyalah seorang dokter yang ingin mengabdikan kedokterannya pada masyarakat tentu tidak memilih resiko yang bisa membahayakan misi pengabdianya.

Sebuah penugasan di Sulawesi untuk memberantas wabah malaria akhirnya diterimanya. Ini hanyalah fakta. Saya belum lagi memberikan pandangan tentang hal ini. Pandangan saya akan dimuat pada artikel selanjutnya.

Siapapun yang ingin memberi komentar harap menggunakan nama asli dan email yang valid.

6 Komentar

Filed under budaya, tokoh

6 responses to “Fakta Kepulangan Dr AAM Djelantik

  1. P B

    As written:”Termasuk Dr Djelantik yang merupakan dokter Indonesia pertama yang meraih gelar dokternya di Belanda”

    Apakah yg dimaksud dokter keturunan Bali pertama yg meraih gelar dokter di Belanda?
    Kalau dokter Indonesia pertama, saya masih ragu, sebab Saleh Mangundiningrat saja sudah memperoleh gelar Doktor (S3) ilmu kedokteran di Universitas Amsterdam di tahun 1929. (Bukankah ini strata dokter yg lebih tinggi dari Belanda saat dr Djelantik baru berumur 10 tahun?) Dokter umumnya (Indisch Arts) sih dari Stovia tahun 1916.
    Sumber: “Prof Dr dr Moh Saleh Mangundiningrat: Potret Cendekiawan Jawa. Jakarta: Gramedia, 2006”
    Mungkinkah ada informasi priyayi Indonesia lainnya yg juga bersekolah dokter di Belanda?

    Ttg surat Ngurah Rai: apakah kontroversi surat ini akan jadi mirip dengan hilangnya Supersemar?

    PB
    Name and email address as stated

  2. @PB (Pejuang Bali?),

    Anda menggunakan inisial, apakah anda Ngr Bagus Wirawardhana? Kalau yah, gak papa masukan saja namanya, saya senang pendapat anda yang kritis.

    Soal dokter pertama, informasi itu saya dapat dari seorang teman tapi sejak informasi dari anda maka saya perlu kejelasan lebih lanjut dengan mengkonfrontirnya kepada teman saya tersebut.

    Untuk sementara text itu akan saya coret supaya tidak menimbul mispersepsi.

    Tentang surat dari Ngurah Rai.
    Yang tahu tentang kebenaran surat tersebut hanyalah Tuhan, Ngurah Rai, Dr Djelantik, Astri dan si Kurir pembawa surat. Kalau memang bukti otentik yang anda minta untuk sementara tidak bisa dihadirkan. Mari kita lihat apa kosekuensi dari otentisitas surat tersebut.

    Apakah sedemikian besar seperti halnya Super Semar. Pada Super Semar konsekuensinya adalah pelimpahan kekuasaan dari Bung Karno ke Soeharto sedangkan pada surat Ngurah Rai kepada Dr Djelantik tidak memiliki konsekuensi politik apapun. Itu hanyalah surat dari seorang sahabat.

    Semakin besar implikasi politiknya maka semakin besar pula kemungkinan untuk dipalsukan. Kalau saya melihat bobot surat tersebut dan integritas Dr Djelantik sebagai penulis maka saya memiliki keyakinan bahwa surat itu memang benar benar ada. Dr Djelantik menulis semua kisahnya hidupnya secara tulus dan jujur, yang jelek maupun yang bagus ditulis semua sepanjang ingatanya.

    Tapi jika anda memiliki keyakinan berbeda juga tidak apa apa itu hak anda.

    Keep on reading, Terima kasih.

  3. P B

    Tulisan dan respons yg bagus. Keep on writing. Mudah2xan, masukan2x saya dapat menyempurnakan tulisan anda. Sayapun belajar dari tulisan anda. Misalnya: dalam mengingatkan saya akan Saleh Mangundiningrat.

    Saya bukan yg anda maksud.

    Tidak ada salahnya berbeda pendapat. Mungkin perbedaan2x pendapat ini akan memunculkan banyak lagi doktor2x di bidang ilmu sosial khususnya ilmu sejarah.

    Saya tetap akan bertanya, to fullfil my curiosities.
    Saya sangat sangat strict dengan referensi. Makanya selalu berhati2x dalam membaca artikel2x yg sifatnya self-citation atau self-proclaimed.

    Salam,
    PB
    Name and email as stated

  4. Ping-balik: Visi Kebangsaan Dr AAM Djelantik « Budayawan Muda

  5. @PB,

    Saya bukan yg anda maksud.

    Oh kalau begitu saya bisa anggap anda orang asing yang tidak ramah dengan segala konsekuensinya.

    Saya tetap akan bertanya, to fullfil my curiosities.

    Anda berharap saya percaya itu? Bagi saya tidak ada bedanya apakah curiosities atau punya agenda politis tertentu, cuma sejak anda tidak mengungkap jatidiri jangan berharap terlalu banyak.

    Saya sangat sangat strict dengan referensi.

    well well well… anda seperti seorang dosen yang sedang menunjukan otoritas kepada mahasiswanya… baiklah bapak dosen, jadi kapan tugasnya boleh dikumpul?

    Siapapun anda selama masih santun dan bermanfaat boleh saja mampir dan komen tapi jangan berharap hospitality.

    Terimakasih

  6. Ping-balik: Obrolan Ringan di Cafe Chatterbox « Budayawan Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s