Monthly Archives: Oktober 2007

Tantangan Menkominfo

Menkominfo, diambil Flickrnya Satya WitoelarPidato Pak Menteri terasa agak bertele tele waktu membuka acara pesta blogger membuat blogger disebelah saya mulai menggerutu, “ah pake mbahas namanya mas Enda segala”

…bla bla bla pidato dan sampai pada tantangan yang membuat para blogger tertawa. Pak Menteri memberi tantangan untuk membuat lagu theme song blogger. Ide tantangan itu terasa agak organisatoris akademis klimis (halah opo toh maksute…). Semacam hymne perguruan tinggi gitulah. Maklum mantan rektor.

Waktu ide itu pertama kali disampaikan sebenarnya sudah terasa agak aneh. Banyak blogger yang tertawa tapi gak berani kenceng kenceng (takut gak diresmiin acaranya kali). Seorang yang duduk dibelakang saya bergumam “lagu bakal apaan???”.

Semakin lama semakin terasa aneh. Sewaktu saya baca diblog blog yang memuat liputan pestablogger hampir selalu memuat tantangan Pak Menteri ini. Buat saya lagu sih baik baik saja tapi secara manfaat teknis yang bisa membuat blogger Indonesia lebih terpacu apa yah?

Apa karena kalau tantangannya adalah membuat bandwidth murah atau komputer murah untuk para guru ngeblog maka yang kebagian kerja adalah justru pemerintah juga sedangkan kalau bikin lagu kan pemerintah gak usah ikut ikut.

Tapi gak usah berburuk sangkalah. Kalau memang gak mau terlibat dengan rumitnya masalah bandwidth dan komputer murah kan bisa aja tantangannya adalah membuat Blog Engine asli Indonesia misalnya.

Apa karena pak Menteri ragu bahwa orang Indonesia cuma bisa bikin lagu bagus dan belum mampu bikin Blog Engine yang bagus? Dicoba dulu atuh Pak, apalagi kalau di iming-imingi hadiah.

Jadi kalau pak Menteri sempet baca artikel ini mohon dipertimbangkan perubahan tantangan itu dari membuat lagu menjadi membuat Blog Engine. Saya rasa banyak blogger yang lebih suka melihat keberadaan Blog Engine baru buatan Indonesia daripada lagu baru buatan Indonesia.

Sebelumnya maafkanlah saya, mungkin saya ini Blogger kualat. Sudah dikasih hari Blogger nasional tapi masih mau kritisi Menkominfo.

Iklan

13 Komentar

Filed under tokoh

Ranking 4 Top Artikel WordPress

Screenshoot dari WPBanyak yang baca, artikel Liputan Pesta Blogger 2007 jadi nongkrong di WordPress sebagai artikel ranking 4.

Saya masih bingung apa yang jadi acuan yah?

Sebab ada yang rankingnya tinggi tapi miskin komen, ada yang gak masuk ranking tapi komennya banyak bener sampe 40 an.

Ada blog yang hampir selalu masuk top blogger seperti KafeMotor atau Priandoyo.

Mungkin dilihat dari keragaman pengunjung yah? Sebab saya perhatikan blog yang rame komen tapi jarang masuk ke top blogger itu biasanya komentatornya temen temenya sendiri yang sudah rutin berkunjung, terlihat dari caranya mengomentari artikel yang lebih personal.

Kalau memang benar demikian maka semakin populer, semakin naik ranking, semakin banyak orang yang rutin berkunjung, semakin sedikit keragaman maka semakin turun ranking, walaupun jumlah trafik banyak. Hmm memang sulit untuk tetap terus diatas.

12 Komentar

Filed under curhat

Fariz Rustam Munaf

farizTahunnya sekitar pertengahan 80an. Waktu itu musik Indonesia didominasi oleh lagu lagunya Rinto Harahap, Obbie Mesakh dkk. Anehnya saya kurang tertarik dengan lagu lagu mereka.

Fariz Rustam Munaf hadir menjadi sosok idola saya. Fariz sering gonta ganti band. Bersama teman temanya dia pernah membentuk Jakarta Rythm Section, 7 Bintang, dan masih banyak lagi. Tapi yang menjual tetap sosok Fariz ketimbang nama Bandnya.

Berawal dari kesukaan saya pada Fariz saya mulai mengenal Dian Pramana Putra, Deddy Dhukun, Younky Suwarno, Dorie Kalmas dst. Duet Fariz dan Dian di single Iman dan Godaan sungguh tak terlupakan. Bahkan saya lebih dulu suka Fariz dibanding yang lain seperti Chrisye atau Vina Panduwinata.

Jika kebanyakan orang mengenal lagunya Fariz yang fenomenal adalah Sakura atau Barcelona maka untuk saya single yang paling berkesan adalah Jumpa Kedua. Single ini bertanggung jawab menggiring minat saya akan musik ke arah yang lebih baik.

Dalam single itu saya temukan kolaborasi musik etnik kolintang dengan harmonisasi yang sampai sekarang rasanya belum ada yang bisa mencipta kolaborasi yang lebih harmonis dari itu. Skillnya dalam bermusik memberi pengaruh kuat pada musisi yang lain, bahkan pada musisi yang dianggap Dewa Gitar seperti Eet Sjahranie.

Memasuki era 90an nama Fariz mulai tenggelam. Saya kangen sekali dengan karya karya barunya. Diakhir 90an dia tampil dengan keadaan fisik yang kurang sehat membuat saya sedih.

Tadi pagi saya baca dia tertangkap polisi karena kepemilikan 1,5 linting ganja. Duh hancur rasa hatiku melihat idola masa remajaku terperosok kedalam lembah narkoba jahanam.

Doaku, semua ini telah terjadi semoga mas Fariz kuat dan menjadikan ini sebagai langkah awal untuk berubah dan suatu hari nanti bisa Jumpa Kedua dengan Kurnia dan Pesona yang pernah mampir dimasa yang lalu.

31 Komentar

Filed under curhat, musik, tokoh

Liputan Pesta Blogger 2007

Jakarta hari sabtu macet lebih parah diberbagai tempat. Khawatir datang telat ke Pesta Blogger membuat saya terpaksa mengumpat mantan gubernur Sutiyoso untuk yang kesekian kalinya. Maaf Pak Sutiyoso, tapi sulit sekali mengubah kebiasaan buruk yang sudah berlangsung selama 10 tahun. Makanya jadi gubernur jangan lama lama.

Sejak memasuki bunderan HI saya sudah melihat berbagai gerombolan orang yang gerak geriknya mencurigakan. Mereka tidak terlihat seperti orang orang yang biasa keluyuran di bunderan HI. Sinar matanya beda, sumringah dan terlihat berjalan terburu buru seperti pasangan pengantin baru yang akan menyerbu kamar pengantin.

(unknown), Abah Oryza,(unknown), Anggun, KaiTou, Tika, Lutfi

Masuk ke parkiran gedung Grand Indonesia yang lengang. Kecurigaan saya terbukti waktu sampai di depan lift terlihat kembali gerombolan orang orang sumringah sedang menunggu lift. Begitu pintu lift terbuka mereka langsung meloncat masuk sambil tertawa tawa girang.

Bersama Luthfi dan TikaSebelum pintu lift menutup ada seorang yang rasanya pernah saya lihat di TV ingin ikut masuk ke lift. Seorang wanita berkerudung yang belakangan baru saya ingat dia adalah Isyana, contributor Asia Blogging Network untuk segmen cerpen dan teenlit. Salah seorang di dalam lift memanggilnya dan kelihatannya mereka saling kenal. Orang yang memanggil itu ternyata Tika Banget, komandan blogger Jogja. Perkenalan kami berlangsung sambil jalan hingga ke meja registrasi. Kami berfoto bersama Luthfi.

Enda NasutionSaya ngobrol sebentar dengan Isyana sebelum ketemu dengan Mas Enda yang tampangnya mengingatkan saya pada Dhani Ahmad pentolan Dewa19 itu. Tidak sempat ngobrol banyak dengan Mas Enda karena kelihatan dia sibuk sekali manggut manggut, menyambut dan menyalami setiap orang yang masuk termasuk saya.

Saya berjalan ketengah sambil memperhatikan suasana dan para blogger yang saling berkenalan satu sama lain dengan ekspresi yang kurang lebih sama; “ohhh blog anuu, oohh blog yang ituuu, ohh aalaahhhh, loh kok beda sama fotonya di gravatar, dsb…”.

Mbak Shinta (Bubu), Om Wimar, Pak Cahyana (dirjen telematika)Dibagian tengah saya lihat Om Wimar Witoelar lagi duduk dan banyak orang bergantian minta foto. Saya ikut ambil bagian. Kalau lihat Om Wimar ini saya ingat seorang temen lama, Surya Witoelar, sama gendutnya 🙂

Sebelum masuk ke auditorium saya bertemu dengan seorang teman dari milis PHPUG yang juga blogger, Indra Coto. Sebenarnya saya juga berharap bertemu dengan Riyogarta tapi rupanya dia tidak sempat datang. Banyak lagi blogger blogger lain yang ingin saya temui seperti Fatih Syuhud, Herman Saksono, Andreas Harsono, Radityo Djajoeri, tapi kalaupun mereka hadir maka saya akan kesulitan mengenalinya karena memang belum pernah bertemu.

Makhluk manis lagi sms, mas Budi lagi berdiri pake baju panitiaKetika sedang duduk didekat Digital Beat Storenya Pak Budi Rahardjo sambil cuci mata scanning makhluk manis yang berseliweran saya nemu salah satunya sedang duduk gelisah. Kelihatanya dia sedang menunggu seseorang. Saya putar otak cari pickup line yang jitu.

Hmm.. terpikirkan “ikut pesta blogger mbak?” tapi kelihatannya dia bukan blogger karena tidak pakai tag id pestablogger. mas Budi lagi duduk termenung memikirkan pickup lineDuh.. apa dong? terpikir lagi “jadi mau nonton film apa??” .. hah sok akrab banget… Sebelum saya berhasil menemukan pickup line dia udah keburu kabur. Bukan takdirku.

Kepergian si makhluk manis itu menyisakan ruang kosong di depan saya. Sebuah sosok yang kelihatannya pernah saya lihat di TV dan Blog mengisi ruang kosong itu. Bareng mas Budi PutraOh tidak salah lagi dia itu Mas Budi Putra, CEO Asia Blogging Network sedang duduk termenung entah menunggu seseorang atau juga sedang mencari inspirasi pickup line untuk cewek yang duduk disebelahnya. Sebelum dia berhasil menemukan pickup line itu saya langsung “todong” minta foto.

Belum sempat kami ngobrol terlihat dibelakang para blogger sudah berhamburan masuk auditorium yang dingin dan gelap itu. Didalam berbagai sambutan dilakukan oleh host, Enda dan menkominfo M.Nuh. Terasa antusiasme para blogger membahana kepenjuru auditorium ketika Enda berteriak Hidup Blogger Indonesia, Hidup Blogger Indonesia, Hidup Blogger Indonesia.

Ada beberapa poin yang disampaikan dari berbagai sambutan itu. Bahwa tanggal 27 oktober oleh menkominfo telah ditetapkan menjadi hari Blogger nasional. Bahwa ini kali pertama pertemuan blogger berskala nasional yang mengusung tema Suara Baru Indonesia.

Saya tidak terlalu hirau dengan segala macam sambutan dan ucapan terimakasih itu karena sibuk berkenalan dan ngobrol dengan para blogger disekitar tempat saya duduk. Tidak disangka bertemu seorang blogger duduk disebelah yang pernah kasih komen ke Blog saya, ini kejutan buat saya, namanya Anggun. Rasanya seperti ketemu teman lama tapi sebenarnya belum pernah bertemu. Aneh ya? itulah dunia Blog.

Setelah sambutan selesai ada acara dialog, Wimar Witoelar sebagai moderator dan beberapa tokoh Blogger sebagai narasumber. Topiknya adalah: apa sih Suara Baru Indonesia itu. Tidak ada jawaban yang benar benar baru. Semua sudah pernah saya dengar. Bahwa suara Blogger itu bisa menjadi sumber informasi yang mencerdaskan bangsa tapi bisa juga membodohkan bangsa. Pada sisi inilah Budi Putra menekankan pentinganya konten atau isi dari Blog.

Pada sesi tanya jawab ada blogger dari Poso yang diberi kesempatan untuk memberi salam kepada semua blogger. Terlihat betapa gumbiranya blogger Poso itu bisa datang ke pesta blogger ini. Sambutannya terasa sangat heroik dan meledak ledak hingga tiap kali dia selesai bicara disambut oleh tepuk tangan riuh para Blogger yang lain. Ia menceritakan perjuangannya untuk bisa datang ke Jakarta dengan biaya urunan dari kawan kawan sesama blogger di Poso.

Karena sudah cukup lama ia berbicara Om Wimar memberi tanda untuk selesai. Tahu bahwa waktunya sudah habis blogger Poso ini buru buru menambahkan kalimat penutup yang cukup mengharukan; “uang yang kami kumpulkan untuk datang kesini sangat pas-pasan hingga sekarang kami sudah tidak punya uang lagi untuk pulang”, konon katanya sponsor XL berbaik hati menanggung biaya kepulangan blogger pejuang itu kembali ke Poso.

Oleh Pak Menteri yang sudah meninggalkan ruangan, Om Wimar ditasbihkan sebagai blogger yang paling senior alis paling tua. Tapi belakangan ada blogger yang berusia 76 tahun. Om Wimar spontan; “Tolong sampaikan ke Pak Menteri”… para blogger gerr…

Makan bareng AnggunSaya sudah lapar dan berharap acara dialog cepat selesai. Begitu acara dialog ditutup saya dan Anggun segera menyerbu tempat makan. Kami mengambil tempat persis didepan panggung. Sambil membantai sepiring nasi saya berusaha mencari blogger yang saya kenal. Karena belum pernah bertemu sebelumnya maka saya hanya mengandalkan tag name yang dikalungkan di leher tiap tiap blogger.

Lebih nyaman memperhatikan tag name blogger berjenis kelamin pria. Soalnya kalau blogger wanita takut nanti mereka salah persepsi. Akhirnya nemu satu yang namanya Abah Oryza, hasil dari memperhatikan tag name. PriyadiAbah Oryza ini tidak percaya sambil kucek kucek mata waktu saya tunjukan yang mana yang namanya Priyadi. Kok masih muda yah katanya. Mungkin Abah belum pernah lihat fotonya.

Kalau blogger top seperti Priyadi tentu saya pernah lihat fotonya di Flickr jadi tidak kesulitan mengenalinya. Tapi ada blogger yang bisa dikenali dari gravatarnya di MyBlogLog. Salah satunya adalah Yan Arief Purwanto, contributor Asia Blogging Network untuk segmen pemrograman web.

Yan Arief PurwantoSaya nemu dia lagi celingak celinguk mencari blogger yang dia kenal tapi kelihatannya tidak ada satupun disekitarnya. Melihat dari jauh rasanya kok saya kenal nih, langsung saja saya panggil dan memang bener dia. Kami ngobrol sebentar dan berfoto. Mas Yan ini blogger yang programmer dan SysAdmin. Dari perkenalan singkat terkesan agak canggung tapi wajarlah untuk seorang yang belum pernah bertemu.

Didepan panggung saya nemu mas Andry S Huzain. Andry S HuzainSebenarnya saya pengin ngobrol banyak sama mas Andry soal Ruby dan Web 2.0 (kok bukan mbahas blog?) tapi didepan panggung sangat bising. Waktu memperkenalkan diri saja mas Andry harus konsentrasi dengernya, akhirnya saya putuskan untuk berfoto saja. Rupanya mas Andry ini giginya berwarna coklat, sama dengan saya.

Didepan meja prasmanan saya nemu Ndoro Kakung lagi memilih dan memilah cemilan. Ndoro KakungWaktu memperkenalkan diri Ndoro tidak mengenali nama saya tapi waktu lihat URL Blog saya dia baru ngeh. Rupanya blogger lebih familiar dengan URL ketimbang nama. Sama seperti SysAdmin yang lebih familiar dengan IP number ketimbang domain name, ciri ciri geek nih.

Mungkin karena Ndoro seorang jurnalis dia tampil lebih komunikatif. Kami ngobrol ngalor ngidul soal blogging. Dari situ saya memutuskan untuk ikut breakout session yang dipandu oleh Ndoro kakung dan mBilung nDobos dengan tema current issue.

RovickyPada perjalan ke breakout session di lounge atas saya bertemu dengan pakde Rovicky. Sempat berfoto dan ngobrol sebentar. Pakde Rovicky ini khusus datang dari tempatnya bekerja di Malaysia untuk meramaikan pesta blogger. Pada sesi tanya jawab beliau juga sempet memberi pertanyaan kepada Enda yang kurang lebih sbb:

Pada kesempatan ini saya ingin melihat Enda sebagai tokoh pemimpin Blogger. Saya ingin tahu mas Enda sebagai pemimpin kami, strategi apa yang akan dipakai untuk memajukan Blogger Indonesia kedepan?

Saya rasa ini suatu pertanyaan yang serius khususnya buat Enda. Jawaban Enda panjang lebar hingga susah saya ingat. Nanti kalau ingat saya posting komen.

Blogger BocahPada breakout session Ndoro Kakung dan Mbilung tampil lucu sesuai dengan tulisan mereka di Blog yang kocak tapi nyentil itu. Ditampilkan juga blogger bocah, Iyo dan ada lagi putranya Mbilung yang cerdas (saya lupa namanya). Tapi saya kurang puas dengan breakout sessionnya karena waktunya yang sangat singkat. Ada Kang Tutur dan Ibu Evy (Senyum Itu Sehat), kemudian ada Mbok Venus, Anggun, Tika Banget dan Nana Nias.

Ndoro Kakung dan Mbilung NdobosTidak ada yang benar benar dikupas pada kesempatan itu karena memang waktunya terbatas. Tapi yang jelas semua bahagia bisa ketemu. Bahkan Kang Tutur terlihat agak over acting pake cubit dagunya Iyo segala, tapi itulah kegembiraan pesta kami. Semua bergembira, tawa tiada henti. Sedih rasanya harus segera dihentikan untuk masuk kembali ke auditorium yang gelap dan dingin itu lagi. Kapan lagi yah bisa begini?

Begitu kembali ke auditorium acaranya adalah bagi bagi hadiah yang kurang menarik buat saya. Saya lebih menikmati sosialisasi bersama blogger yang belum pernah bertemu. Tapi ada yang menarik dari bagi bagi hadiah ini. Pada saat Enda dinobatkan sebagai pemenang dan berhak meraih hadiah sebuah notebook maka Enda dengan bijak memforward notebook tersebut kepada pemenang kedua yang nama Blognya Media-Bajingan apaaa gituuu (lupa). Enda Nasution, kau memang bapak blogger yang baik.

Maylaffaiza dan Nila TanzilSatu-satunya hiburan pada sesi ini hanyalah ketika Maylaffaiza ditampilkan dilayar dengan pakaiannya yang seksi itu mengundang blogger untuk cuit-cuiiiit. Para sponsor disebut satu persatu. Ketika giliran sponsor Microsoft disebut para blogger teriak huuuuuu, ditambah lagi ada yang teriak Linuuxx… para blogger jadi geerrr. Kameramanpun iseng shoot blogger yang lagi blogging di tengah tengah acara pake notebook Apple. Sadar dia sedang dishoot dan tampil dilayar, si blogger ini mulai bertingkah aneh aneh. Semakin sore keadaan semakin tak terkendali.

Rupanya jadwal acara hanya sampai jam 3 sore, jadi karena sudah lewat jam 3 AC auditorium dimatikan. Saya justru seneng supaya tidak terlalu dingin. Begitu acara selesai banyak blogger mengambil kesempatan untuk kopdar dengan komunitasnya yang sudah saling kenal sebelumnya seperti id-gmail, angkringan, cahandong, angin-mamiri dll. Mereka sudah tampak akrab karena memang sudah sering kopdar sebelumnya. Banyak juga yang langsung pulang karena ada acara lain.

Terima kasih saya ucapkan kepada panitia yang telah susah payah mewujudkan acara ini. Pesta kali ini begitu berarti dan bersejarah. Bahkan ada yang menilai momen ini sebagai sebuah moment penting kebangkitan Suara Baru Indonesia mirip seperti momen sumpah pemuda 28 oktober yang peringatannya jatuh keesokan harinya.

Saya dengan bangga berada pada moment ini bersama 482 blogger yang lain. Sekarang tinggal bagaimana memberi makna pertemuan ini hingga berperan penting dikemudian hari seperti halnya moment bersejarah Soempah Pemoeda. Ini adalah tugas kita bersama Blogger Indonesia.

Sekian liputan saya tentang pesta blogger 2007, pasti ada yang lupa saya sebut disini, untuk itu lebih kurangnya saya minta maaf.

59 Komentar

Filed under budaya, curhat, sejarah

Prisa The Cute Devil

Setahu saya Prisa itu gitaris band heavymetal. Dulu dia lebih sering main bersama Zala yang personelnya cewek semua. Sekarang dia tercatat sebagai gitaris DeadSquad mendampingi Stevie Item yang juga gitaris Andra and The Backbone. Musiknya DeadSquad jelas heavymetal abis.

Prisa dan Tepi di studioBagi yang pernah denger Prisa main bakal gak percaya kalo dia tuh bener bener bisa main gitar kaya gitu. Permainan gitar Prisa bisa bikin gitaris yang lebih menekankan penampilan rambut gondrong lengkap dengan tindik dan tato jadi minder, introspeksi diri dan akhirnya tobat (berhenti minum trus lebih giat latihan).

Cover majalah Gitar plusDalam hal gitar menggitar ini Prisa yang pernah tampil dengan gitaris idola saya Eet Syahranie, terpilih sebagai gitaris pertama di Indonesia yang dikontrak oleh Jackson Guitars (produsen gitar dunia ternama) untuk menggunakan produknya (Jackson DKMG Arch Top). Selain itu Prisa juga pernah dikontrak Sheila On 7 untuk menjadi additional gitaris. Menjadi cover berbagai majalah gitar dan bahkan oleh portal Gitaris.com ia dijuluki Miss Gitaris.com

Feminin PrisaPenampilannya feminin, kecuali kalau ada tuntutan aksi panggung. Rambut gak dibikin harajuku, spike atat dicat, seperti layaknya anak band rock yang masih muda. Gak takut pake rok, bahkan untuk tampil diatas panggung. Kalau pakai rok selalu pakai celana dalem (ya iyalah…)

Kebanyakan untuk musisi belasan tahun khususnya metal sering terobsesi dengan kegagahan dan kegarangan aliran musik metal. Mereka sebisa mungkin mencari legitimasi bahwa metal adalah aliran darahnya. Baru bisa niru prelude gitar Slash di single Sweet Child o Mine saja sudah mau mati bangga rasanya. Gue sah jadi anak kandung metal… lu anak tiri metal.

Bagi yang memang berbakat beruntung bisa berbangga bangga tapi bagi yang kurang terpaksa melarikan diri ke berbagai aksesoris metal diantaranya rambut gondrong, celana ketat (sampe kesrimpet *iji nya), minuman keras, free sex dan akhirnya drugs. Usia muda tak lagi valid dijadikan alasan keterjerumusan. Prisa baru 19 tahun tapi berprestasi dan baik baik saja.

Saya dulu anak kost waktu kuliah di Depok tepatnya di Prawita, Margonda Raya (sekarang udah jadi mall) yang anak anaknya banyak yang ngeband. Punya seorang teman yang namanya Bayu, terobsesi abis jadi anak metal. Tampangnya metal tulen. Skill minim kalo gak bisa dibilang nol. Bersumpah metal adalah jalan hidupnya. Tapi bikin demo gak jadi jadi, udah gitu suka ngerecokin temen buat bantuin bikin demonya itu.

Banyak Bayu Bayu yang lain dan mereka inilah sebenarnya yang termasuk golongan berisiko tinggi jadi anak tiri metal. Apakah karena mereka kurang berbakat atau kurang kerja keras latihan. Saya tidak tahu. Tapi yang jelas ada orang orang orang yang lebih mudah mempelajari sesuatu dibanding yang lain.

Prisa adalah contohnya, berikut pengakuan Prisa tentang bagaimana awal mula dia belajar gitar. Hasil wawancara Gitaris.com

Jadi ini berawal dari kisah… jaman dulu gue maen piano.. serius banget… tiba2 gue ketemu temen… gue di asrama dulu tinggalnya… dia maen piano juga… terus kita saingan… ternyata… alhasil guru piano tu lebih sayang ama gue..katanya gue lebih cepet nangkep… terus dia bete kan… dia ngambil gitar.. dia pindah maen gitar… suatu hari dia bawa gitar ke kamarnya gitu … otomatis gue penasaran kan… gue pinjem gitarnya.. eh dia marah… direbut gitarnya terus ngomong “eh jangan pegang barang orang… jangan ikut2an gue deh” akhirnya dengan penuh dendam gue beli gitar juga terus gue belajar gitar buat ngalahin dia.. 😀 gitu doang si awalnya…

Adalagi teman kost saya yang namanya Aditya, anak Kuningan tapi ngaku Cirebon. Jago maen keybord dan gitar. Segala macam soundtrack serial TV dia bisa, salah satu favoritnya serial Mac Gyver. Si Aditya ini tidak merasa perlu tampil metal seperti halnya Bayu. Tapi fanatik abis sama grup heavymetal Manowar. Bagi dia tidak ada band heavymetal yang lebih baik dari Manowar.

Suatu waktu teman teman ngobrol di warung Indomie mbahas musiknya Van Halen. Eh dia bilang begini: “Van Halen itu satu tingkat dibawah Manowar”. Bodo amat mau berapa tingkat kita kan mau bahas musiknya. Saking fanatiknya sama Manowar akhirnya temen temen sering panggil dia Munawar (tapi kalo lagi gak ada dia, kalo didepan dia bilang begitu dia suka cemberut trus ngambek).

Keterbukaan pandangan dan pikiran atas aliran musik justru akan membuat seorang musisi menjadi kaya akan referensi. Kalau dilihat dari sisi ini sebenarnya Aditya walaupun punya skill tapi masih tergolong anak tiri metal. Boleh jadi anak metal atau jazz atau apalah tapi kan gak harus alergi dengan genre musik lain yang sebenarnya bisa bikin permainan jadi lebih kaya dan indah.

Bahkan ada yang saking fanatiknya bilang dia terlahir sebagai anak metal. Prisa memang gitaris heavymetal tapi simak pengakuannya:

ee sebenernya.. aliran musik apa aja si suka… cuma metal itu.. gak tau yah.. suka banget… awalnya juga gak tiba2 dari kecil suka metal siy.. suka metalnya itu juga proses.. pertama dengerinnya alternative dulu… baru naek lagi grunge.. apa gitu… baru lama2 metal… gak tiba2 dari lahir suka metal gitu…. itu aja siy…

The Cute DevilHmmm.. jujur, rendah hati dan apa adanya. Ini juga salah satu faktor yang berperan penting dalam kesuksesan karir seorang musisi. Mungkin benar seorang bintang itu dilahirkan dan bukan disekolahkan. Prisa memutuskan untuk berhenti menempuh studi akademis dan konsentrasi memupuk bakat bermusik dan meniti karir di industri musik.

Prisa gak main main soal memupuk bakat bermusik itu. Mahir main gitar tidak membuatnya kehilangan minat untuk mencoba yang lain. Menjadi vokalis siapa takut. Pernah dengar single “Kau Curi Lagi”?. Video klipnya sekarang lagi sering diputar di TV.Single itu milik J-Rocks featuring Prisa. Karena single ini, J-Rocks jadi sering tampil di TV pada acara acara musik. Berikut liriknya.

Kau Curi Lagi

Di jejak langkahku
ku mau kau tak ada
Di warna hidupku yang lama tenggelam
bersama cintamu

Kuyakin tanpamu ku dapat lalui
kuharap ini kan slamanya
Kini kau datang dengan sejuta cinta abadi
rasuki diriku

Kau curi lagi
hu..u..u..u..

Kau genggam lagi
hu..u..u..u..

Kau tawan lagi hatiku yang tlah terbiasa tanpa dirimu
Kau jerat diriku

Kau yang pernah singgah
di hati yang terdalam
Kau adalah kesalahan yang membuatku
Cintai dirimu

Kau curi lagi
hu..u..u..u..

Kau genggam lagi
hu..u..u..u..

Kau tawan lagi hatiku yang tlah terbiasa tanpa dirimu
Kau jerat diriku

[solo]

Kau curi lagi
hu..u..u..u..

Kau genggam lagi
hu..u..u..u..

Kau tawan lagi hatiku yang tlah terbiasa tanpa dirimu
Kau jerat diriku

Kau curi lagi
hu..u..u..u..

Kau genggam lagi
hu..u..u..u..

Kau tawan lagi hatiku yang tlah terbiasa tanpa dirimu
Kau jerat diriku

Kau curi lagi
hu..u..u..u..

Kau genggam lagi
hu..u..u..u..

Kau tawan lagi hatiku yang tlah terbiasa tanpa dirimu
Kau jerat diriku

Masih kurang dengan itu, Prisa yang bernama lengkap Prisa Adinda Arini Rianzi akan merilis album solonya dalam waktu dekat. Bukan, bukan album heavymetal tapi pop, kenapa begitu tanya sendiri sama orangnya…

83 Komentar

Filed under musik

Sekilas Universitas Udayana Bali

Sumber : Forum-Rektor.Org

Bali, nama ini mungkin secara langsung akan menghadirkan benak di setiap kita akan salah satu daerah di Indonesia dengan keindahan alam serta kebudayaan yang telah dikenal dunia. Menjadi suatu hal yang menarik bila kita mengetahui bahwa Universitas Udayana sebagai universitas tertua di daerah Provinsi Bali, embrio-nya adalah Fakultas Sastra Udayana yang merupakan cabang dari Universitas Airlangga Surabaya. 

Apakah ini menunjukkan bahwa di Bali cabang ilmu yang pertama kali berkembang adalah ilmu yang berkaitan dengan budaya (baca: sastra) sesuai peran budaya dalam kehidupan masyarakat Bali? Artikel ini tidak mencoba secara langsung menjawab pertanyaan tersebut, namun untuk menceritakan secara singkat sejarah serta profil Universitas Udayana, Bali.

A. Profil Universitas Udayana

Universitas Udayana secara sah berdiri pada tanggal 17 Agustus 1962 dan merupakan perguruan tinggi tertua di daerah propinsi Bali. Tetapi sebelumnya, sejak tanggal 29 September 1958 di Bali sudah berdiri sebuah fakultas yang bernama Fakultas Sastra Udayana sebagai cabang dari Universitas Airlangga Surabaya. 

Fakultas Sastra Udayana yang merupakan embrio dari Universitas Udayana secara resmi diakui sebagai bagian Universitas Airlangga sejak 1 Januari 1959. Peresmian Fakultas Sastra Udayana mempunyai arti yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan Universitas Udayana.
Pada awal tahun 1960-an masyarakat Bali mengidam-idamkan adanya sebuah Perguruan Tinggi di daerah ini. Untuk mewujudkan keinginan masyarakat tersebut maka pada tanggal 12 Mei 1961 diadakanlah pertemuan di antara tokoh-tokoh pendidikan, para pejabat daerah dan pemuka masyarakat. Pertemuan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Purbatjaraka yang dibantu oleh seorang sekretaris yaitu Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. 

Dalam pertemuan tersebut dibahas langkah-langkah yang perlu diambil dalam rangka persiapan pendirian perguruan tinggi di Bali. Pada pertemuan tersebut juga disepakati untuk membentuk sebuah formatur yang diketuai oleh dr. Anak Agung Made Jelantik, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Bali dengan anggota delapan orang.

Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama formatur ini sudah dapat membentuk sebuah badan yang diberi nama Badan Perguruan Tinggi Daerah Bali yang diketuai oleh Ir. Ida Bagus Oka, (Koordinator Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara), Wakil Ketua Dr. I Gusti Ngurah Gede Ngurah dan dibantu oleh dua orang sekretaris yaitu Prof. Dr. Ida Bagus Mantra dan Drh. G. N. Teken Temadja, dilengkapi oleh Pelindung, Pengawas, Penasehat, Bandahara dan beberapa orang anggota. 

Badan Perguruan Tinggi Daerah Bali ini berhasil membentuk Panitia Persiapan Universitas Udayana Bali yang kemudian disyahkan dengan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 4 tahun 1962, tanggal 15 Januari 1962. Adapun susunan personalia Panitia Persiapan Pendirian Universitas Udayana adalah sebagai berikut:

Penasehat  : Kol. Supardi, Panglima Kodam XVI Udayana
Ketua  : Anak Agung Bagus Sutedja, Gubernur Kepala Daerah Bali
Ketua I  : Letkol. Suroso, Komandan Korem Bali
Ketua II  : Drs. R. Siswadji, Kepala Komisaris Daerah Bali
Ketua III  : Mr. Poerwanto, Jaksa Tinggi Daerah Bali
Sekretaris  : Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Pj. Ketua Fakultas Sastra Udayana
Anggota  : dr. Anak Agung Made Jelantik
   Drh. I Made Geria
   I Made Mendra
   I Nyoman Tirta
   I Gusti Bagus Sugriwa
   Ny. Gedong Bagus Oka
   Tjilik
   I Ketut Mandra

Panitia persiapan ini kemudian menjajagi hal-hal yang berhubungan dengan pendirian Universitas Udayana. Salah satu syarat yang ditetapkan oleh departemen PTIP untuk pendirian universitas pada waktu itu adalah harus memiliki empat fakultas, yang terdiri dari dua fakultas eksakta dan dua fakultas non eksakta. Berdasarkan potensi dan kemampuan yang ada serta kebutuhan masyarakat Bali dan Nusa Tenggara pada saat itu maka Panitia Persiapan merencanakan membuka empat fakultas yaitu:

  1. Fakultas Sastra
  2. Fakultas Kedokteran
  3. Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan
  4. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Berkedudukan di Bali kecuali Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan berkedudukan di Singaraja. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan No. 104/1962 tanggal 9 Agustus 1962, Universitas Udayana secara sah berdiri sejak tanggal 17 Agustus 1962.

Tetapi oleh karena hari lahir Universitas Udayana jatuh bersamaan dengan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia maka perayaan Hari Ulang Tahun Universitas Udayana dialihkan menjadi tanggal 29 September dengan mengambil tanggal peresmian Fakultas Sastra yang telah berdiri sejak tahun 1958.

Pada tahun 1964 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dipisahkan dari Universitas Udayana dan dijadikan IKIP Malang cabang Singaraja, sehingga sejak itu Universitas Udayana masih memiliki tiga fakultas saja. Kemudian selaras dengan perkembangan Universitas Udayana maka secara berturut-turut didirikan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1964), Fakultas Teknik (1965) dan pada tahun 1967 didirikan Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi tetapi pada saat itu hanya diijinkan melaksanakan pendidikan dan pengajaran sampai pada tingkat Sarjana Muda. Baru kemudian sejak tahun 1976 Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi diijinkan melaksanakan pendidikan dan pengajaran sampai tingkat Sarjana.
Pada tahun 1968 IKIP Cabang Singaraja diintegrasikan kembali ke dalam Universitas Udayana dan dijadikan dua Fakultas yaitu Fakultas Keguruan dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Dengan demikian sejak tahun 1968 Universitas Udayana memiliki 9 Fakultas yaitu:

  1. Fakultas Sastra
  2. Fakultas Kedokteran
  3. Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan
  4. Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat
  5. Fakultas Teknik
  6. Fakultas Pertanian
  7. Fakultas Ekonomi
  8. Fakultas Keguruan
  9. Fakultas Ilmu Pendidikan

Dalam perjalanan hingga sekarang, sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 204/0/1997, tanggal 22 Agustus 1997 Program Studi Kedokteran Hewan berubah status resmi menjadi Fakultas Kedokteran Hewan. Sehingga sampai tahun 2004, Universitas Udayana memiliki sembilan fakultas yaitu:

  1. Fakultas Sastra
  2. Fakultas Kedokteran
  3. Fakultas Hukum
  4. Fakultas Ekonomi
  5. Fakultas Teknik
  6. Fakultas Pertanian
  7. Fakultas Peternakan
  8. Fakultas MIPA
  9. Fakultas Kedokteran Hewan

B.Visi dan Misi

Visi

Universitas Udayana Menjadi Universitas yang Unggul, Mandiri, dan Berbudaya.

Misi

Sedangkan misi yang diemban dalam mewujudkan visi di atas adalah:

  1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi dengan melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, memiliki relevansi dan kompetensi tinggi
  2. Mengembangkan kerjasama diberbagai bidang dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri guna meningkatkan mutu Tri Darma, kemandirian dalam manajemen dan keuangan dan meningkatkan mutu pelayanan.
  3. Memberdayakan Universitas Udayana sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam membangun masyarakat yang berlandaskan pada pengembangan dan kemajuan IPTEKS terkini untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
  4. Menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh kepentingan masyarakat dan stakeholders, sehingga IPTEKS yang dikembangkan tetap tergayut dengan kebutuhan masyarakat.
  5. Meningkatkan kemampuan manajemen organisasi dan kepemimpinan yang berorientasi kepada pelayanan yang berkualitas, profesional, demokratis, dan berjiwa kewirausahaan.
  6. Mengembangkan infrastruktur pendidikan tinggi yang handal untuk penyelenggaraan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  7. Mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga fungsional yang berdaya saing dan berkelanjutan untuk mengoptimalkan ekstensi UNUD.

C. Tujuan Pendidikan di Universitas Udayana

Sebagai unsur pendidikan Nasional, Universitas Udayana menyelenggarakan pendidikan tinggi dengan tujuan:

  • Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat mengembangkan, menciptakan dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.
  • Mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan tahap kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

D. Motto dan Lambang Universitas Udayana

1. Motto
Universitas Udayana mempunyai motto sebagai berikut: TAKITAKINING SEWAKA GUNA WIDYA. Artinya Manusia sebagai penuntut ilmu berkewajiban mengejar pengetahuan dan kebajikan. Kata-kata ini menurut Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus diambil dari kitab Nitisastra yakni sebuah kitab yang memuat nasehat-nasehat orang berbuat dan bertingkah laku yang baik.

2. Lambang Universitas Udayana
Lambang Universitas Udayana dikenal dengan sebuatan Widya Cakra Prawartana yang maknanya pemutara roda ilmu pengetahuan berdasarkan Pancasila (lihat gambar di samping)

Lambang ini berwujud sebuah lingkaran yang mempunyai roda atau cakra. Pada bagian paling tengah terdapat padma atau bunga teratai dengan delapan helai daun, yang melambangkan kesucian Tuhan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila. Lingkaran atau roda tersebut mempunyai empat buah jari-jari atau ruji yang melambangkan kekuatan yang membaja dari empat sila lainnya dari Pancasila. Pada bagian luar dari jari-jari lingkaran atau roda tersebut dihiasi dengan 54 buah titik sebagai rantai permata sesuai dengan rangkaian ilmu pengetahuan yang diberikan di Universitas Udayana.

Pembuatan lambang Universitas Udayana diprakarsai oleh Prof. Dr. Ida. Bagus Mantra dengan mengundang Drs. I Gusti Ngurah Bagus (Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus), Dr. R. Goris dan I Gusti Bagus Sugriwa. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra mengusulkan bentuk lambang Universitas Udayana sesuai dengan bentuk gambar yang dimuat dalam bukunya Frits A. Wagner yang berjudul Indonesia, The Art of an Island Group, halaman 116. Gambar yang diusulkan oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra dari buku tersebut di atas berbentuk tiga buah roda matahari yang digunakan sebagai hiasan kepala atau dada mahkota kerajaan Majapahit.

Lambang Universitas Udayana yang dipakai sekarang juga bermakna matahari. Warna lambang Universitas Udayana adalah kuning keemasan dengan dasar biru. Warna kuning keemasan melambangkan matahari terbit dan warna biru melambangkan warna langit. Lambang dan nama Universitas Udayana mengandung makna dan harapan bahwa senantiasa menerangi kegelapan atau kebodohan (awidya) sehingga dapat mensejahterakan dunia.

E. Hymne Universitas Udayana

Universitas Udayana mempunyai hymne seperti dibawah ini. Hymne ini hanya dinyanyikan pada hari-hari tertentu
Lagu : Drs. I. G. B. N. Pandji
Syair : dr. IBN. Narendra

Hymne Universitas Udayana
Pujastuti Kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
Udayana Kau Ksatria Kusuma Negara
Kami Kau Berikan Pusaka Widya Maha Merta
Kuberjanji Setiakan Mengabdi Darma-Mu
Udayana Jayalah kau Dipersada Bu Pertiwi
Udayana Megalah Kau untuk Indonesia Raya

Hymne ini dinyanyikan secara resmi untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Mei 1966 pada saat pengukuhan dokter Goesti Ngoerah Gde sebagai Lektor Kepala dalam kuliah Neurologi dalam rapat Senat Universitas Udayana. Kemudian untuk pertama kalinya dinyanyikan dalam Dies Natalis Udayana pada tanggal 29 September 1966.

32 Komentar

Filed under sejarah, tokoh

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Gubernur SutedjaTahun 1961 AA Bagus Sutedja adalah seorang Gubernur Bali yang ambisius, idealis dan sangat patriotik. Maklum beliau adalah pejuang yang dulu ikut bergerilia dihutan mengusir penjajah Belanda.

Beliau sangat tidak suka dengan segala macam yang berbau barat karena mengingatkan kesan akan penjajah dimasa yang lampau. Sementara itu para expatriat masih banyak diperkerjakan sebagai tenaga ahli di Bali pada waktu itu karena memang kekurangan tenaga ahli terutama dibidang kedokteran.

Sutedja sangat ingin segera mengusir para dokter expatriat itu lalu menggantikanya dengan tenaga ahli lokal. Mengandalkan tenaga ahli dari Jawa tidak mungkin karena di Jawa juga kekurangan tenaga ahli. Satu satunya cara adalah menciptakan tenaga ahli sendiri. Ini adalah suatu visi panjang kedepan Sutedja kala itu.

Ide dan mimpinya tentang mendirikan sekolah kedokteran itu sering beliau beberkan pada teman teman tokoh lainnya. Salah satunya kepada Kepala Kesehatan Propinsi Bali pada waktu itu Dr Djelantik. Dr Djelantik yang tahu bagaimana persyaratan dan kebutuhan untuk membangun sebuah fakultas kedokteran menganggap ide Sutedja terlalu dini.

Selama tidak kurang 3 tahun Dr Djelantik harus mendengarkan mimpi Sutedja yang terasa mengambang diawang-awang itu. Segala penjelasan Dr Djelantik tidak bisa meyakinkan Sutedja bahwa kini belum saatnya membangun fakultas kedokteran. Sutedja berharap terlalu besar kepada Dr Djelantik karena Dr Djelantik sebagai dokter lulusan Belanda dianggap mampu merealisasikan mimpinya tersebut.

Bung KarnoSampai suatu saat, awal tahun 1961 Bung Karno datang berkunjung ke Bali. Pada sebuah pertemuan informal antara Bung Karno, Sutedja, Dr Djelantik dan beberapa tokoh penting Bali lainnya, Sutedja menceritakan idenya tersebut kepada Bung Karno.

Bung Karno kemudian meminta penjelasan Dr Djelantik sebagai dokter yang diisyaratkan Sutedja mampu merealisasikan idenya. Dr Djelantik kemudian memberikan pandanganya bahwa melihat kenyataan sekarang ini rasanya tidak mungkin bisa terwujud dalam waktu dekat.

Jika kita memang mau mendirikan fakultas kedokteran dengan sumber daya kita sendiri maka dibutuhkan waktu paling tidak sepuluh tahun lagi untuk menunggu lulusan fakultas kedokteran dari Jawa. Lagi pula dari mana kita akan dapatkan dananya? Begitu penjelasan Dr Djelantik.

Bung Karno tertegun sesaat lalu memandang kearah Dr Djelantik. Saling pandang untuk sesaat kemudian Bung Karno tersenyum dan dengan suara mantap beliau berkata:

Baiklah Djelantik, saya tahu kamu menyelesaikan kedokteranmu di Belanda. Saya kira kamu tahu cara yang terbaik untuk mewujudkannya berdasarkan apa yang telah kamu pelajari disana. Jangan lupa bahwa negara kita masih negara berkembang.

Kamu masih perlu belajar tentang motto saya vivere in pericoloso, dan mesti ngerti bahwa kita tidak akan mencapai tujuan kalau harus menunggu sampai semuanya siap, kita harus berani ambil resiko.

Walaupun Dr Djelantik mengerti maksud motto yang sering dipakai di berbagai pidato Bung Karno itu tapi dengan gusar Dr Djelantik keceplosan dengan mengatakan “Maksud Bapak bagaimana?”.

Bung Karno tertawa terbahak lalu menjawab dengan lantang:

Dokter, laksanakan perintah saya Presiden Republik Indonesia. Saya pikir anda orang yang tepat dan mampu mewujudkan keinginan saya. Keinginan saya adalah mendirikan sekolah kedokteran sesegera mungkin.

Saya akan menginstruksikan kepada semua aparat terkait untuk memberikan semua dukungannya atas apapun yang dibutuhkan. Saya ulangi sekali lagi, ini perintah.

Bagi Dr Djelantik semuanya sudah menjadi sangat jelas dan setelah menelan ludah beberapa kali Dr Djelantik menjawab: “Baik Pak, saya mengerti.”

Tidak ada pilihan lain bagi Dr Djelantik yang baru saja meniti karirnya. Dr Djelantik melirik kearah Gubernur Sutedja yang terlihat puas dan sumringah, begitu juga para pejabat dan tokoh penting lainnya yang hadir.

Pada saat rapat dengan aparat terkait sadarlah Dr Djelantik bahwa sebenarnya Sutedja sudah melakukan pendekataan dengan beberapa tokoh lain dan merencanakan tidak hanya mendirikan sebuah sekolah kedokteran tapi bahkan sebuah universitas. Bahkan sudah terbentuk beberapa panitia untuk persiapan pendirian universitas yang dikemudian hari bernama Universitas Udayana.

Sementara para panitia menyiapkan formatur dan legal formal pendirian universitas, Dr Djelantik segera bekerja. Sebagai direktur RSUP Sanglah Dr Djelantik menyediakan ruang aula Rumah Sakit untuk perkuliahan. Menata bangku kelas untuk kuliah fisika, kimia, biologi dan membentuk dua laboratorium sederhana. RSUP Sanglah masih bisa melayani orang sakit tanpa aula.

Masalah timbul ketika kekurangan tenaga dan peralatan. Kemudian Dr Djelantik mengirim surat secara pribadi kepada dekan fakultas kedokteran di Jakarta dan Surabaya untuk memohon bantuan tenaga pengajar dan peralatan untuk tahun pertama perkuliahan.

Beruntung simpati dan dukungan diberikan dari beberapa pengajar muda tanpa pamrih. Sebagai tambahan Dr Djelantik memberikan staff administrasi paling berpengalaman dari RSUP Sanglah untuk ikut membantu.

Akhirnya pada tahun 17 agustus 1962, Universitas Udayana resmi berdiri dengan 4 fakultas, salah satunya adalah fakultas kedokteran dengan Dr Djelantik menjabat sebagai dekan.

Tulisan terkait:

28 Komentar

Filed under sejarah, tokoh