Mengenang Dr A.A.M Djelantik sebagai Bangsawan

The Birthmark, Memoirs of a Balinese PrinceMendengar kepergian Dr Djelantik saya masih belum yakin siapa orangnya. Karena dari Bali yang bernama Djelantik dari kalangan bangsawan itu tidak hanya satu. Bahkan ada Djelantik yang juga dokter dari Puri Buleleng. Saya pikir beliau yang berpulang.

Tapi setelah Den Sepuh memberi tahu yang dimaksud adalah Dr Djelantik dari Puri Karangasem maka tidak lain beliau adalah Dr Anak Agung Made Djelantik seorang dokter ahli malaria malariologist mantan dekan fakultas kedokteran UNUD yang lahir tahun 1919 putra Raja terakhir Puri Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Djelantik dan juga seorang budayawan, seniman dan pejuang kemerdekaan bangsawan yang pro pejuang.

Dari sekian banyak reputasinya yang gemilang itu orang banyak mengenal beliau dari prestasinya sebagai dokter ahli malaria malariologist yang jasanya tidak hanya dirasakan oleh bangsa Indonesia tapi juga oleh warga dunia karena beliau pernah bertugas untuk PBB dibawah WHO memberantas wabah malaria di Iraq, Somalia dan Afghanistan.

Melihat lukisan lukisanya dan aktifitasnya dibidang budaya orang orang bisa mengenang banyak hal tentang beliau. Kali ini saya ingin mengenang beliau sebagai seorang pejuang bangsawan yang pro pejuang.

Mengingat statusnya sebagai seorang putra Raja atau Pangeran tidaklah mudah bagi Djelantik untuk bersikap. Seperti halnya di Jawa, keraton Kasultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta adalah contoh yang jelas tentang bagaimana pentingnya menentukan sikap pada jaman revolusi khususnya tahun tahun awal setelah proklamasi 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Kita tahu Sultan Hamengkubuwono IX bersikap tegas memihak Republik. Namun tidak demikian dengan Sunan Pakubuwono XII yang ragu-ragu dalam bersikap sehingga menimbulkan stigma dimata rakyat. Sunan PB XII memang dikenal tidak tegas. Bahkan hingga akhir hayatnya beliau tidak menentukan pewaris tahta hingga menimbulkan friksi internal keluarga yang sekarang menghasilkan dua raja (PB XIII) yang bertahta di Keraton Kasunanan.

Terlihat dengan gamblang betapa pentingnya transformasi nilai budaya yang luhur yang porsinya lebih banyak tersedia bagi para bangsawan ketimbang rakyat jelata. Tidak dapat disangkal bahwa seorang bangsawan berkewajiban menjaga transformasi tersebut dari detik detik yang menentukan hingga detak detak terakhir jantung berdegub.

Berikut adalah sebuah kisah tentang patriotisme seorang bangsawan pro perjuangan sebagai pejuang bernama Dr Djelantik. Seperti halnya di Jawa di Balipun kalangan Puri tidak seragam dalam menentukan sikap. Setelah proklamasi rakyat sangat antusias untuk mempertahankan kemerdekaan sementara Belanda masuk kembali menempatkan pasukannya di lokasi lokasi strategis.

Para pemuda bergerak melakukan perlawanan dengan cara gerilya. Para politisi berdiplomasi untuk bisa mendapatkan pengakuan politik dari dunia International. Belanda melakukan propaganda dan adu domba untuk memecah persatuan dan merusak kepercayaan rakyat. Disini bangsawan dituntut untuk bersikap.

Para politisi berhasil mengatur gencatan senjata dengan Belanda untuk memberikan ruang bagi para pejuang melakukan konsolidasi. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh pejabat Belanda untuk melakukan lobi-lobi politik di kalangan Puri sebagai penguasa lokal. Segala macam acara Puri dihadiri, berbagai macam perayaan dimeriahkan guna menarik simpati Puri dan rakyat.

Tidak luput juga Puri Karangasem tempat tinggal Dr Djelantik putra Raja Karangasem. Pada waktu itu Dr Djelantik akan melangsungkan acara pernikahan adat dengan istrinya seorang gadis Belanda bernama Astri Henriette Zwart yang diboyongnya dari negeri Belanda tempatnya menuntut ilmu kedokteran. Sebuah pernikahan putra Raja Karangasem dengan seorang gadis Belanda tentulah sangat menghebohkan kala itu.

Raja Karangasem menginginkan sebuah upacara pernikahan yang selayaknya untuk seorang Pangeran putra Raja. Semua pejabat penguasa dan orang orang penting di Bali pada saat itu diundang dan tentu saja tidak ketinggalan para pejabat militer Belanda.

Dr Djelantik sebenarnya tidak setuju dengan diundangnya para pejabat Belanda ke pernikahannya tapi beliau merasa sungkan untuk mendebat ayahnya yang sangat dihormatinya itu. Sang istri menghiburnya dengan mengatakan bahwa upacara ini lebih kepada hajatan ayahanda sebagai Raja ketimbang hajatan mereka berdua. Istri yang sangat pengertian dan sehati dengan nurani suaminya.

Setelah acara pernikahan berlangung dengan sukses, kehadiran mempelai wanita yang berdarah Belanda sangat menarik perhatian pejabat militer Belanda dan mengupayakan lobi untuk memasukan politik penguasaan. Sebuah acara Gala Lunch diselenggarakan keesokan harinya. Tentunya pejabat Belanda dan tokoh tokoh Puri yang pro Belanda diundang dalam acara Gala Lunch tersebut. Salah satunya adalah A.A Gede Agung teman lama Dr Djelantik yang pada saat itu sudah menjadi Raja Muda Puri Gianyar.

A.A Gede Agung adalah bangsawan yang pro Belanda dan sangat dibenci oleh para pejuang. Dalam pidatonya di pesta itu A.A Gede Agung dengan gaya aristokrat memegang segelas Champagne menggambarkan ikatan pernikahan antara Dr Djelantik dan Astri sebagai lambang ikatan antara Belanda dan Bali.

Disini Dr Djelantik harus memainkan peran yang elegan, tidak demonstratif memperlihatkan ketidaksukaannya pada Belanda sambil tetap memperlihatkan rasa hormatnya pada orangtua tapi juga berusaha menjaga hubungan baik dengan para pejuang yang notabene adalah teman teman sekolahnya dimasa kecil. Salah satunya adalah I Gusti Ngurah Rai yang gugur dipertempuran Margarana hingga beliau dianugrahi gelar Pahlawan Kemerdekaan. Kemudian lagi harus menenteramkan hati rakyatnya sekaligus istrinya yang gadis Belanda.

Sungguh suatu posisi yang sangat sulit untuk bersikap. Tapi Dr Djelantik adalah seorang yang pemuda yang brilian. Sebelum acara Gala Lunch dilangsungkan Dr Djelantik sudah mengatur siasat untuk mengatasi keadaan. Pada waktu pagi hari persiapan pesta dilakukan Dr Djelantik menggerakkan orang-orang dalam istana kepercayaanya untuk menurunkan bendera Kerajaan Belanda yang berwarna merah putih biru itu, kemudian untuk memeriahkan suasana dan sekaligus mengalihkan perhatian, Dr Djelantik atas saran Astri memerintahkan untuk menaikkan umbul umbul berwarna pelangi merah kuning hijau di langit yang biru. Walhasil istana menjadi sangat meriah bak festival perayaan ulang tahun tapi tanpa bendera Belanda.

Tentu saja semua itu dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. Rapi, diam diam dan tak mencurigakan. Dr Djelantik paham betul persoalan bendera ini sangat sensitif karena bendera akan dilihat oleh rakyat yang diantaranya pasti terdapat agen pemuda pejuang kemerdekaan.

Begitu acara pesta selesai Sang Raja memanggil Dr Djelantik ke kamarnya dan bicara dengan suara pelan dan sangat serius. Ayahanda Raja kelihatan gusar dan tertekan. Dr Djelantik sempat khawatir ayahnya sakit. Dr Djelantik kemudian bertanya ada apa. Ayahnya memberi tahu bahwa tadi dia ditegur oleh komandan intelijen tentara Belanda yang mempersoalkan kenapa tidak mengibarkan bendera Belanda untuk menghormati para pejabat Belanda.

Ayahnya kemudian meminta maaf dan mengatakan itu kekhilafannya lalu segera memanggil Punggawa yang bertanggung jawab dengan persiapan pesta. Punggawa kemudian menjawab bahwa tadi ketika akan menaikkan bendera ternyata talinya hilang dan sebelum mendapat ganti tali yang baru para tamu sudah keburu datang jadi tidak sempat menaikan bendera, begitu kilah sang Punggawa.

Komandan intelijen tentara Belanda manggut manggut tapi dengan sorot mata tidak percaya. Kemudian Punggawa disuruh pergi dan Komandan memperingatkan Raja dengan serius bahwa kemungkinan agen pemuda pejuang kemerdekaan telah melakukan sabotase dengan menyusup masuk diantara para Punggawa istana.

Dalam hati Dr Djelantik tersenyum dan puas dengan kinerja Punggawa yang berakting sesuai dengan petunjuk yang diinstruksikannya. Ayahanda terlihat sangat khawatir dan meminta Dr Djelantik untuk mengambil tindakan yang perlu guna melindungi Puri dari sabotase para pemuda pejuang. Inilah salah satu bentuk propaganda dan teror mental penjajah Belanda kepada kaum bangsawan. Tapi tidak untuk Dr Djelantik.

Djelantik dan Tirta GanggaDengan senyum penuh kedamaian dan wajah yang tenang Dr Djelantik meyakinkan ayahnya bahwa tidak perlu khawatir dengan para pemuda karena mereka masih sangat menghormati ayahanda sebagai Raja.

Para pemuda berjuang di medan tempur, para politisi berjuang dengan diplomasi meja perundingan dan para bangsawan berjuang bersikap salah satunya adalah dengan cara seperti yang ditunjukan oleh Dr A.A.M Djelantik.

34 Komentar

Filed under tokoh

34 responses to “Mengenang Dr A.A.M Djelantik sebagai Bangsawan

  1. Pejuang Bali

    Maaf, isi artikel ini tidak sesuai dengan kenyataan dan hanya berisi propaganda.
    Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada almarhum dr Jelantik, perkenankan saya memberikan beberapa tanggapan atas artikel ini.
    Beberapa koreksi:
    Dr Jelantik bukan dokter spesialis, tapi hanya dokter umum. Tidak pernah ada istilah spesialis malaria.
    Dr Jelantik bukan seorang pejuang. Seorang pejuang adalah seseorang yang berani mengorbankan jiwa, raga, dan pikirannya untuk kepentingan bangsa dan negara. Dr Jelantik sama dengan Anak Agung Gde Agung dari Puri Gianyar.
    Sejak kecil beliau dibesarkan di keluarga yg merupakan kroni penjajah Belanda, kemudian bersekolah dan menyunting gadis Belanda.

    Jangan berusaha menyamakan dr Jelantik dengan dokter-dokter pejuang di Indonesia yang sangat harum namanya. Merah muka ini.

    Warga Bali di rantau.

  2. YTH Pejuang Bali,

    Saya sudah lama sekali menunggu komentar untuk postingan saya yang satu ini, semakin lama semakin was was, saya berpikir kenapa tidak ada yang hirau dengan kebenaran. Akhirnya hari ini terjawab, sayang anda tidak menyertakan nama asli, tidak usah takut atau ewuh pakewuh, nyatakan saja, kita sama sama pejuang.

    Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat anda tanpa bermaksud mengurangi sedikitpun hormat saya pada beliu. Mohon maaf jika ada pengetahuan saya yang tidak mencakup segala aspek tentang Dr Djelantik, karena itulah saya menulis tulisan diatas berdasarkan buku The Birthmark, Memoir of a Balinese Prince yang saya tahu persis pasti banyak mengandung bias tentang visi kepejuangan beliau dengan tujuan menggali informasi yang tidak saya dapat dari Buku tersebut.

    Saya sudah dengar selentingan kabar bahwa Dr Djelantik sinis kepada RI pada masa perjuangan tapi saya tidak punya data yang akurat tentang hal itu, bahkan hingga kini.

    Saya berterima-kasih anda sudah sudi memberi komentar yang jujur dan tulus untuk mengungkap kebenaran. Karena Dr Djelantik ini tidak seperti AA Gde Agung yang lebih demonstratif sehingga lebih banyak orang yang tahu tentang sepak terjang beliau. Dr Djelantik lebih “kalem” dalam dunia politik sehingga jika tidak dari lingkungan terdekat tidak akan tahu banyak tentang kiprah beliau dimasa perjuangan.

    Sekali lagi jika anda berkenan mohon diinformasikan saja segala sesuatu tentang beliau dimasa perjuangan demi kebenaran sejarah, terima kasih.

  3. saraswati

    Maaf, tulisan ttg dr Djelantik tidak sesuai dengan kenyataan. Tulisan ini seperti propaganda mengangkat seorang pro belanda menjadi seorang pejuang.
    Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada almarhum, ada beberapa koreksi yang perlu saya sampaikan.
    Dr Jelantik hanyalah seorang dokter umum. Beliau tidak merupakan dokter pejuang. Beliau pada masa perjuangan berada di belanda. Namanya tidak tercantum dalam buku Mahasiswa’45 Prapatan-10 : Pengabdiannya dan tidak pula dalam buku Lahirnya Satu Bangsa dan Negara.

    Dr Jelantik sama dengan Anak Agung Gde Agung berasal dari puri yang pro belanda.
    Buku The Birthmark, Memoir of a Balinese Prince merupakan buku tulisan dr Djelantik tentang dirinya tanpa referensi yang menguatkan. Hampir semua tulisannya yang berhubungan dengan perjuangan tidak benar.

    Jadi mohon jangan samakan dr Djelantik dengan dokter-dokter pejuang di Indonesia.

    Putri seorang dokter pejuang.
    tulisan ini bisa dipulikasikan

  4. Yang hirau akan kebenaran

    Tulisan ini ingin meluruskan suatu cerita sejarah tentang dr. Djelantik yang muncul di beberapa web. Tulisan2 tersebut seperti suatu propaganda yang ditulis oleh komunitas tertentu.
    Ada yang mengatakan dr Djelantik adalah pendiri fakultas kedokteran Univ. Udayana. Padahal Ketua Panitia Persiapan Pendirian Universitas Udayana termasuk Ketua Panitia Persiapan FK/Fakultas Kedokteran dengan SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 4, 1962 (15 Januari 1962) adalah Prof. dr. I G. N. G. Ngoerah.

    Ada juga yang menyebutkan bahwa dokter kepresidenan. Padahal dokter kepresidenan saat Presiden Sukarno di Bali (satu-satunya) adalah Prof. dr I G. N. G. Ngoerah. Kalau ingintahu lebih jelas tentang Prof. dr I G. N. G. Ngoerah bacalah buku yang dibuat oleh Tim Peneliti Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana ”Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gede Ngoerah, sebuah Biografi Pendidikan” (1998).

    maaf kalau tulisan ini mengecewakan komunitas dr Djelantik

  5. Ok, mbak Saraswati.
    Sebenarnya saya tidak bermaksud menyebar propaganda, tapi justru untuk menggali informasi yang komprehensif tentang siapa sebenarnya Dr Djelantik itu.

    Terima kasih telah memberi masukan pada blog saya dan saya terima dengan senang hati demi sejarah. Mbak, mohon untuk tidak berganti ganti nama sebab itu penting untuk akuntabilitas komentar.

    Salam kenal mbak Saraswati, kebetulan saya juga anak seorang dokter dan kebetulan kakek saya juga pejuang. Jadi saya berkepentingan mengetahui sejarah yang benar.

    Bisa mbak cerita lebih lanjut, bagaimana sikap Dr Djelantik selain dari sisi kedokterannya dan beristri wanita Belanda, sehingga dia dinilai sama dengan AA Gde Agung?

    Kalau AA Gde Agung dari informasi kakek saya yang diutus oleh ketua KNI Bali bpk Ida Bagus Indra bahwa AA Gde Agung menolak utusan dari pejuang untuk mewartakan kemerdekaan RI.

    Adakah sikap sikap dari Dr Djelantik yang secara terbuka menolak kemerdekaan RI? tolong di ungkapkan.

    Soal bapak Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gede Ngoerah apakah ada website yng memuat informasi tentang beliau?

    Bagi yang lain yang punya pendapat juga silahkan beri masukan.

  6. Pejuang Bali

    Dh,

    Saya kagum dengan respons saudara sebagai penulis yang menyadari perlunya penggalian informasi lebih dalam untuk menyempurnakan artikel saudara.
    Andaikan semua pakar sejarah seperti anda, tentunya segenap sejarah dapat diluruskan. Sbg. catatan, kerabat dr Djelantik sendiri adalah seorang Prof Sejarah di Universitas Udayana. Tapi apakah beliau akan mengatakan yg sebenarnya?
    Usulan saya: hubungi para narasumber (terutama di Bali) yg mengenal dr Djelantik dengan baik, dan coba rangkai informasi2xnya untuk dapat disimpulkan.

    Saya sendiri mengakui berbagai jasa dr Djelantik, namun tidaklah elok untuk mengatakan beliau sbg dokter pejuang. Logikanya: beliau kembali ke Indonesia tahun 1948. Lha, kapan berjuangnya? Indonesia sudah merdeka tahun 1945. Apa yang dimaksud berjuang untuk negeri Belanda melawan Nazi Jerman?? Trus, apa korelasinya dengan yang saya hormati Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai?? Ngurah Rai gugur 20/11/1946 saat dr Djelantik di Belanda. Apa ada bukti surat-menyurat/hubungan antara dr Djelantik dgn Ngurah Rai walau mereka pernah satu sekolah waktu di Indonesia?
    Memang periode 1945-1949, keadaan masih gonjang-ganjing namun sudah pasca revolusi kemerdekaan.

    Sekali lagi, saya tidak meragukan jasa2x dr Djelantik, namun saya berkeyakinan bahwa beliau belum tepat disebut dr pejuang apabila dikaitkan dengan konteks perjuangan revolusi kemerdekaan RI. Kalau dikaitkan dgn konteks kekinian dalam pengembangan budaya, ya monggo saja.

    PB
    di rantau

  7. @Saraswati, saya menterjemahkan kata “malariologist” menjadi dokter ahli malaria, rupanya saya salah, tolong diberi masukan terjemahan yang tepat untuk kata “malariologist”.

    @Pejuang Bali,

    Usulan saya: hubungi para narasumber (terutama di Bali) yg mengenal dr Djelantik dengan baik, dan coba rangkai informasi2xnya untuk dapat disimpulkan.

    Sayang sekali saya berdomisili di Jakarta, memang ada keinginan untuk pulang ke Bali tapi belum dalam waktu dekat ini.

    Logikanya: beliau kembali ke Indonesia tahun 1948. Lha, kapan berjuangnya? Indonesia sudah merdeka tahun 1945.

    Kisah yang saya ceritakan pada artikel saya diatas terjadi pada kurun waktu 1946, Dr Djelantik pernah pulang sebentar sekitar 6 mingguan atas panggilan ayahnya.

    Trus, apa korelasinya dengan yang saya hormati Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai?? Ngurah Rai gugur 20/11/1946 saat dr Djelantik di Belanda. Apa ada bukti surat-menyurat/hubungan antara dr Djelantik dgn Ngurah Rai walau mereka pernah satu sekolah waktu di Indonesia?

    Untuk lebih jelasnya begini ceritanya:

    Ketika Belanda kembali menguasai Indonesia tahun 46, pemerintah Belanda di Bali sangat direpotkan oleh gerilya para pejuang di Bali pimpinan IGN Rai.

    Atas hasutan pemerintah Belanda kepada raja Karangasem sebuah surat panggilan pulang atas nama Raja Karangasem dikirim untuk memanggil pulang Dr Djelantik dengan alasan Raja Khawatir atas keselamatannya.

    Maksud dan tujuan sebenarnya dari pemanggilan pulang tersebut adalah pemerintah Belanda ingin memanfaatkan hubungan dekat Dr Djelantik dengan IGN Rai. Diharapkan Dr Djelantik bisa membujuk IGN Rai untuk menghentikan perlawanannya.

    Setibanya di Bali Dr Djelantik dijadwalkan oleh Belanda untuk melakukan safari ke puri puri dan penjara penjara untuk bisa memotivasi para bangsawan dan pejuang agar mau kembali kepada kondisi semula yaitu dibawah pemerintahan Belanda.

    Dr Djelantik tahu persis kemauan Belanda itu dan memberi syarat untuk menjamin kebebasannya berbicara tanpa harus didikte oleh Belanda. Jadi walaupun safari itu atas prakarsa Belanda tapi isinya tidak bisa didikte oleh Belanda, Dr Djelantik memanfaatkannya untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya (aspirasi) dari rakyat.

    Pada sebuah safari di puri Klungkung Dr Djelantik mendapat sepucuk surat dalam bahasa Indonesia (tulisan di buku dalam bhs Inggris, daripada salah terjemahan saya sadur dari bahasa Inggrisnya saja):

    My dear friend,
    I fully approve of what you are doing.
    Please carry on with your mission.
    I will not follow your steps, because I have vowed that I will continue our armed struggle until my last drop of blood!
    Let us fight together, each in his own way.
    We remain brothers.
    Destroy this peace of paper,
    Ng Rai.
    “.

    Dari surat tersebut Dr Djelantik merasa yakin bahwa IGN Rai dan pejuang yang lain percaya atas dirinya dan memang selama safari itu mereka tidak pernah dihadang oleh para gerilyawan.

    Saya masih ingin menjelaskan bahwa yang saya kisahkan pada tulisan saya diatas adalah bukan kepejuangan Dr Djelantik sebagai dokter tapi sebagai bangsawan yang berada ditengah tengah pertikaian politik antara Belanda-Puri-Pejuang.

    Kalau memang Dr Djelantik dianggap tidak layak sebagai pejuang seyogyanyalah diungkap sikap yang mana yang membuat beliau jadi tidak pantas disebut pejuang. Apalagi jika Dr Djelantik dianggap sama dengan AA Gde Agung yang sangat jelas penolakannya itu.

    Saya butuh masukan yang banyak tentang hal ini supaya bisa bikin analisa yang lebih tajam. tapi mohon beri masukan berupa fakta dan bukan pendapat.

  8. Yang hirau akan kebenaran

    Saya sangat setuju diskusi ini dilanjutkan dengan penelitian yang lebih saksama. Segala tulisan harusnya mendapat penguat dari saksi-saksi dan dari catatan yang tertinggal bukan tulisan dari cerita sendiri (apakah ada surat asli yang masih tertinggal?). Saya menyimpan kata2 tertinggal tentang pendapat dr Djelantik terhadap para dokter Indonesia. Saya sangat mendukung bila anda melakukan penelitian lebih saksama di Bali. Adakah yang sadar kenapa dr Djelantik tidak kembali langsung ke Bali setelah kemerdekaan, namun sebagai dokter di Sulawesi dll.

    Pertanyaan perihal Prof.I G.N.G.Ngoerah, adakah web yang memuat beliau? Sebagian termuat di web unud (mantan pendiri dan mantan rektor). Beliau juga merupakan dokter perintis RSUP Sanglah. RSUP Sanglah belum tersadar tentang ini, padahal saksi2 hidup masih banyak.

    Perihal “malariologist” apakah dunia kedokteran mengenal istilah tersebut? Apakah ada dokter ahli demam berdarah?

  9. masye. putri seorang pejuang

    saya setuju 2 komentar terdahulu. saya mengenal dr. Jelantik sejak kecil, dokter umum yang murah senyum.tapi setahu saya, beliau bukan dokter pejuang. karena di jaman perjuangan, beliau ad di belanda. kapan berjangnya?

    mohon penulis membaca dan mengartikan lebih banyak tulisan-tulisan tentang “dokter pejuang” supaya tulisannya tidak jauh menyimpang dari kebenaran.

  10. Pejuang Bali

    >Saya masih ingin menjelaskan bahwa yang saya >kisahkan pada tulisan saya diatas adalah bukan >kepejuangan Dr Djelantik sebagai dokter tapi >sebagai bangsawan yang berada ditengah tengah >pertikaian politik antara Belanda-Puri-Pejuang.

    Kalau yang ini: ada beberapa bangsawan Bali yg tergolong pejuang. Untuk keluarga Puri Karangasem, pilihan saya adalah A. A. Bharayawangsa Djelantik. Beliau ini baru pejuang yg menentang Belanda, dan beberapa kali dibuang oleh penjajah Belanda. Tidaklah tepat dr Djelantik berada di kategori ini. Beliau lebih tepat dibahas dalam konteks kedokteran dan budaya..

    Saya juga di rantau dan berbagai referensi saya ada di Bali. Mudah2xan anda sempat ke Bali dan mengumpulkan informasi2x tambahan untuk memperkaya tulisan anda. Selamat menulis.

    Salam,
    PB
    di rantau

  11. @masye. putri seorang pejuang,

    Mbak Masye, mohon baca kembali komentar saya diatas yang menjelaskan kurun waktu kejadian keterlibatan beliau pada masa perjuangan.

    Soal “dokter pejuang”, saya tidak mengatakan Dr Djelantik “dokter pejuang” tapi bangsawan yang pro pejuang, mohon dibaca lagi dengan seksama artikel saya dan diakhir artikel saya menjelaskan makna pejuang untuk Dr Djelantik.

  12. @saraswati (Yang hirau akan kebenaran),

    (apakah ada surat asli yang masih tertinggal?). Saya menyimpan kata2 tertinggal tentang pendapat dr Djelantik terhadap para dokter Indonesia.

    Jika mbak Saraswati membaca dengan seksama komentar saya diatas maka tidak perlu bertanya begitu karena disana tertulis surat dari IGN Rai harus dimusnahkan. Bisa dishare kata kata beliau itu disini? Supaya kita bisa tahu semua tentang Dr Djelantik, please jangan pelit informasi mbak!

    Adakah yang sadar kenapa dr Djelantik tidak kembali langsung ke Bali setelah kemerdekaan, namun sebagai dokter di Sulawesi dll.

    Menurut pengetahuan saya beliau ditugaskan ke Sulawesi karena disana ada wabah malaria. Saya tidak tahu kalau ada alasan.

    Pertanyaan perihal Prof.I G.N.G.Ngoerah, adakah web yang memuat beliau? Sebagian termuat di web unud (mantan pendiri dan mantan rektor). Beliau juga merupakan dokter perintis RSUP Sanglah. RSUP Sanglah belum tersadar tentang ini, padahal saksi2 hidup masih banyak.

    Sayang sekali mbak Saraswati tidak menyertakan linknya disini, tapi gak papa saya akan cari sendiri.

    Perihal “malariologist” apakah dunia kedokteran mengenal istilah tersebut? Apakah ada dokter ahli demam berdarah?

    Sesungguhnya saya bertanya dan minta masukan, tapi rupanya mbak Saraswati juga tidak tahu yah? atau tahu tapi tidak mau share dengan saya? OK lah saya akan cari tahu sendiri.

    @Pejuang Bali,

    ada beberapa bangsawan Bali yg tergolong pejuang. Untuk keluarga Puri Karangasem, pilihan saya adalah A. A. Bharayawangsa Djelantik. Beliau ini baru pejuang yg menentang Belanda, dan beberapa kali dibuang oleh penjajah Belanda. Tidaklah tepat dr Djelantik berada di kategori ini. Beliau lebih tepat dibahas dalam konteks kedokteran dan budaya..

    Saya sudah melakukan perbaikan pada artikel diatas dengan memberi tanda petik pada kata Pejuang. Terima kasih atas masukanya mas.

  13. Yang hirau akan kebenaran

    Hey sepertinya anda putra dokter Soegiarto Sastrodiwiryo yang lama tinggal di Singaraja. Ayah anda menulis beberapa sejarah di bali. Mungkin sekarang ada di Jakarta. Saya rasa anda perlu datang ke nyonya dr Nuridja. Banyak cerita yg bisa di dapat di sana.

    “Adakah yang sadar kenapa dr Djelantik tidak kembali langsung ke Bali setelah kemerdekaan, namun sebagai dokter di Sulawesi dll. ”

    “Menurut pengetahuan saya beliau ditugaskan ke Sulawesi karena disana ada wabah malaria. Saya tidak tahu kalau ada alasan”.

    Halaman 187
    “We considered it not safe for you to be placed in Bali,” Gde Agung said
    “Why?” I was astonished
    “Please, don’t ask too many questions. The political situation in Bali is very tense. The Pemudas are very active supporting the Republic, they are planning something”

    Kalau dibaca secara kritis, ini karena dr. Djelantik sudah menjadi incaran para pemuda. Wabah malaria saat itu terjangkit hampir di seluruh Indonesia. Pelukis Le Mayeur yang tinggal di bali, juga meninggal saat pulang ke Eropa karena terkena malaria yg dibawa dr Indonesia.

    “Perihal malariologist apakah dunia kedokteran mengenal istilah tersebut? Apakah ada dokter ahli demam berdarah?”
    “Sesungguhnya saya bertanya dan minta masukan, tapi rupanya mbak Saraswati juga tidak tahu yah? atau tahu tapi tidak mau share dengan saya? OK lah saya akan cari tahu sendiri”.

    Sesungguhnya ya memang tidak ada. atau tanyalah pada ayah, dokter Soegiarto Sastrodiwiryo. Mohon maaf, bukankah beliau masih sehat?

    Ada kejadian yg menarik juga saat di Bali Hotel, Denpasar.
    Halaman 176
    The first public meeting, held in Denpasar, was for me quite embarrassing. Not having spoken the official Indonesian language for a long time, I was unable to make speech in public in my own language. I spoke in Dutch, translated, phase by phase, by the Assistant-Resident, Mr Major Polak.

    Ada saksi yg saya kenal. Beliau mengatakan dr. Djelantik dilempar oleh para pemuda. Hal ini dilakukan karena dr Djelantik orang Bali berpidato dalam bahasa belanda serta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh orang Belanda.

    Saudara Wibisono Sastrodiwiryo, untuk selanjutnya saya hanya akan menjadi pembaca saja. Saya Yang hirau akan kebenaran merasa, saya telah ikut membuka wawasan diskusi ini. Bila anda perlu data untuk penulisan sejarah, (seperti yang sy tahu dr soegiarto Sastrodiwiryo adalah seorang penulis sejarah)untuk selanjutnya silakan ke bali. Banyak orang yang masih bisa ditanyakan.

  14. @Saraswati (Yang hirau akan kebenaran),

    Correction: nama ayah saya bukan Soegiarto tapi Soegianto. Alhamdulilah bapak masih sehat tapi sekarang sedang berada di Laut China berkerja sebagai dokter.

    Halaman 187
    “We considered it not safe for you to be placed in Bali,” Gde Agung said
    “Why?” I was astonished
    “Please, don’t ask too many questions. The political situation in Bali is very tense. The Pemudas are very active supporting the Republic, they are planning something”

    Kalau dibaca secara kritis, ini karena dr. Djelantik sudah menjadi incaran para pemuda.

    Mari kita analisa:
    Kalimat “We considered it not safe for you to be placed in Bali” diucapkan oleh AAG Agung seorang yang jelas pro Belanda. Patut dicurigai bahwa hal ini merupakan manuver Gde Agung untuk menakuti-nakuti. Ini cara khas mereka dalam mendramatisir keadaan. Kala itu IGN Rai sudah gugur, tidak ada lagi tokoh pergerakan pemuda yang dikenal dekat oleh Dr Djelantik, situasi ini bisa saja membuat Dr Djelantik merasa tidak aman.

    Memang sikap yang seharusnya diambil oleh Dr Djelantik adalah tidak menuruti nasihat Gde Agung dan tetap tinggal di Bali. Tapi rupanya sikap itu tidak diambil beliau, disini saya bisa simpulkan bahwa keberanian Dr Djelantik tidak memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai pejuang. Beliau hanya seorang dokter yang bangsawan, yang kebetulan punya hubungan dekat dengan IGN Rai.

    Ada saksi yg saya kenal. Beliau mengatakan dr. Djelantik dilempar oleh para pemuda.Hal ini dilakukan karena dr Djelantik orang Bali berpidato dalam bahasa belanda serta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh orang Belanda.

    Saya tidak sangsikan itu, memang sikap Dr Djelantik tidak arif melakukan hal seperti itu.

    Sebenarnya kakek saya dulu pernah cerita tentang bangsawan bangsawan yang ia lempari batu karena tidak bersimpati pada perjuangan (termasuk AAG Agung) tapi waktu itu saya masih kecil dan belum melek sejarah jadi tidak saya tanyakan lebih lanjut, setelah kakek wafat 1989 tidak ada lagi yang bisa didengar apalagi saya harus kuliah ke Jakarta.

    Saudara Wibisono Sastrodiwiryo, untuk selanjutnya saya hanya akan menjadi pembaca saja. Saya Yang hirau akan kebenaran merasa, saya telah ikut membuka wawasan diskusi ini.

    Sayang sekali anda tidak mau berpartisipasi lebih lanjut, padahal kita baru saja akan memasuki diskusi pengungkapan fakta sejarah.

    Yang jelas saya sudah mengubah redaksi tulisan saya dari “pejuang” menjadi “bangsawan”, silahkan dibaca lagi, sementara itu saya akan membuat tulisan lain yang khusus membahasa masalah ini, perlu banyak data yang harus dihimpun dulu. Terima kasih atas partipasinya sehingga saya bisa melakukan koreksi pada tulisan saya.

  15. Pagi ini saya bicara dengan ayah melalui telephone dari Laut China. Banyak masukan yang diberi soal ini. Saya akan menulis artikel lanjutan tentang hal ini, terima kasih atas partisipasinya.

  16. Putra Pejuang

    Membaca tulisan anda saya sepakat dengan komentar Saraswati, anda sedang melakukan propaganda.
    Bila saya simak komentar diatas, kenapa dr Jelantik tidak pulang ke Bali, maka dapat dikatakan beliau takut pulang ke Bali karena situasi di Bali sedang memanas. Jadi apa itu yg dikatakan pejuang ? yang saya tahu para pejuang kita tanpa rasa takut berkorban demi mengusir Belanda.
    Surat menyurat beliau dengan I Gst Ngurah Rai membuat saya curiga, kenapa Belanda bisa tahu posisi pasukan Ngurah Rai. Apa mungkin ada hubungannya dengan surat menyurat tersebut?
    Untuk penulis agar melengkapi terlebih dahulu referensi dan data-data yg dapat mendukung tulisan anda

  17. @Putra Pejuang,

    Membaca tulisan anda saya sepakat dengan komentar Saraswati, anda sedang melakukan propaganda.

    Apakah anda hanya membaca komentar Ibu Saraswati saja? tidakkah anda membaca artikelnya? Saya sudah melakukan perubahan text artikel saya dan mengganti kata pejuang menjadi bangsawan.

    Surat menyurat beliau dengan I Gst Ngurah Rai membuat saya curiga, kenapa Belanda bisa tahu posisi pasukan Ngurah Rai. Apa mungkin ada hubungannya dengan surat menyurat tersebut?

    Ini kajian sejarah, harus berhati hati dalam menulisnya, saya sedang mengumpulkan data untuk membuat analisa.

  18. Ping-balik: Peran Tokoh di Grey Area « Soegianto Sastrodiwiryo

  19. Putra Pejuang

    Saya telah membaca dan sangat menyimak tulisan anda. Anda memang mengatakan bukan dokter pejuang, tetapi bangsawan yang pro pejuang. Dari sudut pandang yg mana anda mengatakan ybs propejuang ? Dr Jelantik tinggal di Belanda, beristri orang belanda, berpidato pakai bahasa belanda (di Bali Hotel). Kalau anda katakan beliau brilian, saya setuju. Karena pada situasi seperti yg anda ceritakan diatas beliau berada pada diposisi menang ataupun kalah tetap menang.

  20. @Putra Pejuang, semua kata “pejuang” dan “pro pejuang” sudah diberi tanda coret yang artinya diralat pada artikel diatas, kecuali pada komentar saya untuk Ibu Masye.

    Pada komentar itu memang tidak dicoret karena itu bagian dari diskusi, saudara harus melihat alur diskusi saya dengan Ibu Saraswati sampai habis.

    Kalau anda katakan beliau brilian, saya setuju. Karena pada situasi seperti yg anda ceritakan diatas beliau berada pada diposisi menang ataupun kalah tetap menang

    Posisi beliau memang unik karena berada di grey area, ini tidak bisa dijelaskan dalam satu komentar. Untuk sementara bisa baca bisa artikel tentang peran tokoh dalam grey area.

    Ciri utama orang yang memilih berada pada posisi grey area adalah tidak berani tampil tegas dalam komitmen. Ini akan menyebabkan bias persepsi dimata pihak pihak yang berseberangan. Kecuali untuk orang orang yang benar benar dekat dan memahaminya. Karena itulah perlu pengungkapan data lebih dalam yang sedang saya lakukan.

    Orang orang dengan ciri ini biasanya kurang memiliki keberanian walaupun sesungguhnya mereka brilian. Sayang sekali seandainya mereka berani tampil maka namanya akan sangat berkilau dan tidak buram (grey).

    Sdr Putra Pejuang, anda seorang yang kritis dan komentar anda berani. Tampilah berani, seperti Ibu Saraswati yang demi mencari kebenaran berani menunjukan jatidirinya. Tidak heran karena beliau adalah putri Prof Ngurah seorang pejuang.

    Jika anda seorang putra pejuang tentunya anda akan mewarisi darah keberanian ayahanda dan tidak tampil anonymous. Tampil anonymous adalah ciri orang pada grey area yang saya yakin anda bukan dari golongan itu.

  21. Ada respond dari anak sulung Almarhum Dr AA Made Djelantik, Ibu Bulantrisna Djelantik

    baca http://blog.baliwww.com/people-community/953/

  22. Ping-balik: Fakta Kepulangan Dr AAM Djelantik « Budayawan Muda

  23. Putra Pejuang

    seperti yg telah saya sampaikan, bahwa saya tidak memiliki jiwa pejuang. Jadi tidak memiliki keberanian untuk tampil seperti anda.
    Komentar saya diatas semuanya hanya bersifat bertanya atas pernyataan2 yg anda tulis.
    Sekali lagi saya ingin bertanya, adakah referensi atau buku2 yg mendukung tulisan anda selain buku yg ditulisnya sendiri.

  24. @Putra Pejuang,

    seperti yg telah saya sampaikan, bahwa saya tidak memiliki jiwa pejuang. Jadi tidak memiliki keberanian untuk tampil seperti anda.

    Sadarkah anda bahwa sikap anda ini memiliki konsekuensi? konsekuensinya adalah untuk tidak menjadi nyinyir dan duduk manis saja menjadi pendengar.

    Komentar saya diatas semuanya hanya bersifat bertanya atas pernyataan2 yg anda tulis.

    Saya sudah berbaik hati mau menjawab berbagai pertanyaan anda sebelumnya. Lagipula anda tidak sepenuhnya bertanya tapi juga memberi opini…

    Membaca tulisan anda saya sepakat dengan komentar Saraswati, anda sedang melakukan propaganda.

    …yang sebenarnya baik tapi sayang anda tidak tahu adab berdiskusi.

    Sekali lagi saya ingin bertanya, adakah referensi atau buku2 yg mendukung tulisan anda selain buku yg ditulisnya sendiri.

    Sebenarnya saya bisa saja menjawab ya, tapi untuk apa? Saya tahu best interest anda bukanlah visi kebangsaan Dr Djelantik tapi perubahan nama RSUP Sanglah.

    Jika tidak ada isu perubahan nama RSUP Sanglah saya yakin anda tidak berminat komentar di Blog ini.

    Anda bisa saja menyembunyikan identitas tapi tidak bisa menyembunyikan maksud. Sebenarnya apa yang anda lakukan sah sah saja tapi saya peringatkan bahwa cara yang anda lakukan itu kontra-produktif dengan apa yang anda perjuangkan.

    Jadi begini mas, dalam sebuah forum diskusi jika ada yang mau bertanya maka si penanya akan dipersilahkan maju kedepan memperkenalkan diri, setelah itu baru mengajukan pertanyaan.

    Itupun tetap masih dalam koridor etika berdiskusi. Dalam pendadaran makalah atau paper peserta diskusi dipersilahkan merujuk ke bahan yang ditulis kemudian membahasnya kalau memang ada yang perlu didiskusikan.

    Tidak lantas mempertanyakan referensi tanpa merujuk apapun kedalam bahan diskusi. Apa yang anda lakukan adalah tidak mau memperkenalkan diri tapi mau memeriksa referensi tanpa rujukan bahan mana yang dipermasalahkan. Malu mas…

    Jika anda pernah menjadi warga civitas akademika maka saya yakin anda tahu tentang hal ini.

  25. Autinus Perkasa

    diskusi yg menarik. Sebaiknya penulis tidak terpancing emosi. Sah-sah saja seorang penanya tidak mau menyebutkan namanya.
    Seorang akademika sebaiknya menjawab dengan tenang setiap pertanyaan dari penanya menyangkut tulisannya. Bila kurang menguasai isi tulisannya sebaiknya balik bertanya untuk melengkapi dan memperbaiki tulisannya

  26. Putra Pejuang

    Terima kasih penulis telah menangapi pertanyaan saya. Selanjutnya saya akan menjadi penonton, karena saya telah bisa mengerti isi tulisan anda yang tidak lebih dari sebuah tulisan cerita dongeng dan bukan merupakan fakta sejarah

  27. Sebaiknya penulis tidak terpancing emosi.

    Terimakasih,
    Saya tidak bermaksud kasar, tapi kalau disalah-artikan demikian sayang sekali. Cuma kadang kita mesti mengalami pembelajaran dari cara yang keras kalau tidak berhati hati. Saya pernah mengalaminya.

    Sah-sah saja seorang penanya tidak mau menyebutkan namanya.

    Memang sah sah saja dan saya tahu itu, buktinya saya selalu approve komentar yang masuk bukan? Tapi kalau mengharap mendapat respon yang apresiatif maka sah saja tidak cukup, perlu pakai etika yang baik dan jelas apa yang ditanyakan.

    Seorang akademika sebaiknya menjawab dengan tenang setiap pertanyaan dari penanya menyangkut tulisannya.

    Baca dulu diskusinya dengan lengkap, atau biar lebih yakin baca juga tulisan saya yang lain (di sidebar ada daftar link Tulisan Teratas), jadi anda bisa tahu bagaimana saya menjawab secara umum dan bukan hanya melihat cara saya menjawab komentar teman anda.

    Bila kurang menguasai isi tulisannya sebaiknya balik bertanya untuk melengkapi dan memperbaiki tulisannya

    Ouch… Jelas anda belum baca diskusi saya dengan Ibu Saraswati. Beliau telah memberi saya masukan yang menjadi bahan untuk perubahan tulisan saya. Lain kali kalo mau mempermasalahkan tulisan beri rujukan tulisan yang mana.

    Untuk teman anda Putra Pejuang, beliau ini tidak punya masukan apapun selain opini pribadi yang sebenarnya tidak original. Jadi mohon maaf kalau tidak mendapat civilized response.

    hehe.. anda pasti komentar hanya untuk membela teman anda si Putra Pejuang itu (kalian satu segmen IP jadi kira kira temen satu kantor?). Its ok, tapi sebenarnya saya lebih tertarik bila komentar mengarah ke bahan tulisan seperti komentator yang lain dan bukan pribadi saya.

    @Putra Pejuang,

    karena saya telah bisa mengerti isi tulisan anda yang tidak lebih dari sebuah tulisan cerita dongeng dan bukan merupakan fakta sejarah

    ha ha ha ha… ya ya ya lambat laun pasti akan terlihat juga aslinya orang yang miskin kosa kata dan hanya mahir caci maki, itupun beraninya kalau pakai topeng.

    Terima kasih untuk tidak nyampah di Blog saya, wasalam.

  28. Ping-balik: Budayawan Muda

  29. Ping-balik: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana « Budayawan Muda

  30. made

    wah mas wibsono ini kayaknya paham benar ya tentang sejarah pejuang2 bali.. melebihi saya, orang bali yang mendengar cerita kepahlawanan bukan hanya dari buku tapi pelaku sejarah sendiri. salut buat anda. tap kok di artikel pertama kok banyak coretan? salah ya? apa asal ketik dulu baru dicorat coret.ga yakin dunk, gak yakin apa sok tahu apa pura2 pintar?.he he

  31. apa asal ketik dulu baru dicorat coret.ga yakin dunk, gak yakin apa sok tahu apa pura2 pintar?.he he

    Boleh boleh saja, terserah pada pengertian anda🙂

    tap kok di artikel pertama kok banyak coretan? salah ya?

    Coretan adalah bagian dari akuntabilitas. Sebuah tanda bahwa saya sebagai penulis bisa dikoreksi jika memang ada yang salah.

    Bisa saja saya hilangkan coretannya dan mengganti dengan yang baru tapi itu akan kehilangan historisitas.

    Sebuah tulisan supaya bisa dikoreksi tidak sembarangan, yang mengkoreksi harus memiliki argumentasi seperti yang anda lihat pada diskusi diatas.

    Kalo mau mengkoreksi tapi hanya dengan modal ngotot, hehe maaf, tidak saya layani. Masih banyak loh yang begitu, tapi kalo Bli Made saya rasa tidak demikian…🙂

  32. saya adalah kerabat/dadya Pahlawan yg bernama Kapten Muka asal Br TegalGgV, Singaraja. Ayah saya Veteran KetutKalerTukangPenatu Terkenal yang pernah/sering cuci/seterika pakaian BungKarno,ketika berkunjung /dinas di IbuKotaPropinsiSundaKeci(th 50ans/d 60an)l yaitu Singaraja(rumah saya Jln Pahlawan 11) Yang hendak tiang ceritakan adalah hubungan persahabatan(?) antara drAAMDjelantik(Ahli malaria?), dengan(teman sebayanya ) dr IdaBagusOka ahli paru2diKlaten+ Malioboro Yogya/Meminpin RS Paru2 terkenal bersama dr Samalo) .. dr IBOka ini kerabat dari kakak-beradik drIBAgung(ahliTHT diYgya/sdh tiada) dan IB Wesnawa(mantan KetuaDPRDBali. Masalahnya adalah: ada masalah (campuran antara pribadi dan lainnya(drIAAMDjelantik dan dr IBOka sbb.
    .IBOka sudah lama jadi dokter(sy lupa lulusan DN atauLN) ==drDjelantik.
    Stlh lama jadi pimpinan RSParu diMalioboro(skr sdh jadi MalioboroMall), niatnya pindah ke Bali nekat dilaksanakan, walaupun beliau ragu sahabatnya ini bisa mendukung. Ternyata benar., Dr Oka diberi tempat (hanya)di RS Wongaya/bukan di Sanglah dan menyiapkan SEGALANYA DR KOCEKNYA SENDIRI TANPA BANTUAN SEPESERPUN DARI SAHABATNYA ITU. Komentar dr IBOka sat itu, normatifnya tak begitu, dan beliau sangat kecewa, identk dengan cerita/comment shbt lainnya. Pokoknya tak pantaslah drAAMDjelantik dpt bintang macam2 itu dr PMRNTH. Hrpn saya, kerabat drIBOka cerita lebih banyak ttg hub antara kedua dokter tsb. IBWisnawa(mantan KetDPR)yang kakakkandung dokter IBAgung(alm).,dapat cerita lbh banyak. Catatan: Sy kenal sangat baik dg drIBOka karenath 60an beliau dokter ayah saya/ pasien ayah kandungsaya (Veteran:KetutKalerPenatu terkenal th 50an).
    Sy harap bermanfaat

    dr sy:irPutuGelgelWisanatapaDiplHE
    asal Br Tegal Jln Pahlawan Singaraja

  33. Ketut

    Wah..diskusi menarik rupanya…sayang saya baru tahu sekarang kalau ada diskusi seperti ini… terima kasih telah menambah wawasan saya…

    Salam buat Bapak Mas Wib, semoga sehat selalu…
    Kita sempat beberapa kali bertemu di Pulau Matak🙂 Beliau salah satu orang yang bahasa Balinya lebih halus dari bahasa Bali saya:-)

    Ketut

  34. Saya – dr IGP.Wiadnyana,MPH, pensiunan Kemkes dan sekarang bertugas di FKIK Univ,Warmadewa – ingin menambah informasi yang saya tahu tentang dr AA M Djelantik. Dimulai dari cukup sering ayah/ibu/keluarga kami / masyarakat desa Dalung berobat ke Balun (tempat praktek beliau), mulai dari sekitar tahun 1955-an. Saya lebih mengenalnya sewaktu beliau 2 hari menunggu dan membagikan kertas ujian seleksi untuk masuk FKUI Jakarta, yang diselenggarakan di Aula RSUP Sanglah pada pertengahan tahun 1961. Astungkara saya berhasil diterima di FKUI, dan sewaktu telah menamatkan dokter (1968), kami melapor ke beliau selaku Kepala Dinas Kesehatan, dan menjelaskan bahwa saya akan ditempatkan oleh Depkes di Kupang (NTT). Segera beliau menulis surat ke Menkes, memohon agar saya bisa ditempatkan di Bali, karena waktu itu di Kab Gianyar, Bangli, Kelungkung dan Karangasem hanya masing-masing ada seorang dokter (untuk Dokabu dan sekaligus RSU). Bersyukur diijinkan oleh Depkes, dan sewaktu proses penempatan saya di Kab. Gianyar, beliau sendiri yang mengantarkan kami ke Bapak Gubernur Bali dan sekaligus ke Kasudinkes Gianyar, disinkronkan dengan tugas beliau supervisi. Bahkan beliau sendiri yang mengenalkan kami ke Cokorde Agung Sukawati Puri Ubud karena akan ditugaskan di wilayah utara Kab. Gianyar.
    Setelah beliau menyelesaikan tugas di Bali, beliau ditugaskan oleh WHO di Timur Tengah dalam rangka pemberantasan Malaria, karena pengalaman Indonesia sangat banyak dan cukup berhasil dalam pemberantasan malaria, melalui KOPEM dll. Mungkin beliau bukan ahli malaria (“malariologist”), akan tetapi dari segi public health di lapangan demikian adanya karena pengalamannya dalam pemberantasan malaria sangat monumental.
    Kesempatan lainnya..sewaktu saya bertugas di Depkes dan dalam kesempatan mengkoordinasikan pelayanan kesehatan ke daerah transmigrasi, saya pada tahun 1987 berkesempatan ke Kotomobago / Bolaangmangondo (Sulut), a.l untuk pelayanan kesehatan transmigran di desa “Pancasari”, lokasi trasnsmigran yang pada umumnya berasal dari desa Pancasari Bedugul (akibat longsor dll). Di Kota Mobago (Bolaangmangondo) ada RSU di mana saya melihat foto beliau (karena beliau pernah beliau tugas disitu), dan keluarga-keluarga di sekitar RSU tsb yang saya kunjungi ada juga foto-foto beliau. Di situ saya mendapatkan informasi pula baik dari teman di Pemda Kab dan dari staff RS, bahwa sangat sering beliau harus (dijemput malam-malam) ke hutan mengobati para “pemberontak” waktu itu yang sakit / luka-luka,, dan menjelang pagi diantarkan kembali ke RSU Kotomobago untuk beliau bertugas melayani masyarakat yang berobat ke RS. Yang saya ingin sumbangkan adalah bagaimana perjuangannya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di manapun beliau bertugas (termasuk di LN-Timteng). Nungkin banyak yang tak setuju mengatakan beliau pejuang kemerdekaan, akan tetapi upaya dan pengabdiannya juga merupakan perjuangan bagi bangsa kita. semoga bermanfaat. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s