Monthly Archives: September 2007

Renungan Fenomena Kangen Band

Kangen BandAkhir akhir ini Kangen Band semakin diguncang prahara setelah sebuah lagu berirama rap beredar yang isinya cacian dan makian kepada band asal Lampung ini.

Kita semua tahu bahwa banyak yang tidak suka dengan musik maupun penampilan band ini tetapi lebih banyak lagi yang suka. Itu soal biasa, suka dan tidak suka tapi kenapa yang ini jadi lain dan mulai memprihatinkan.

Sebelum lebih jauh lagi mari kita lihat dulu sejarahnya Kangen Band ini. Berasal dari Lampung dan digawangi oleh personel yang katanya berasal dari kaum marginal. Sekitar September 2006 rekaman album bajakannya beredar luas dan mengalahkan penjualan bajakan dari band yang sudah besar seperti Peterpan.

Oleh pelaku industri rekaman band ini diperlakukan sama dengan band top lainnya. Musiknya masuk rekaman dibawah major label, dibuatkan video klip, masuk TV, digelar show show bahkan pernah jadi bintang tamu acara talkshow populer Empat Mata.

Naluri bisnis para pelaku industri rekaman ini tidak meleset. Penjualan kasetnya laris manis hingga kini sudah mencapai 500 ribu copy lebih. Tentu pelaku bisnis senang, Kangen Band dan kru juga ikut senang. Apakah semua orang senang? Ternyata tidak.

Bagi orang orang yang mengatasnamakan bisnis tidak ada yang salah dengan Kangen Band. Tapi bagi kaum musisi terutama dari genre pop fenomena ini justru suatu langkah mundur buat musik Indonesia. Menurut kalangan musisi dan penikmat musik pop yang berkeberatan: musikalitas dari Kangen Band kurang greget dan menurunkan kualitas musik Indonesia khususnya pop.

Sampai disini kita bisa lihat ada dua kubu yang berseberangan yakni kubu pro dari Industri musik dan Kangen Band sendiri kemudian kubu kontra dari kalangan musisi. Sementara itu ada satu kubu walaupun sedikit banyak punya keberpihakan tapi pada dasarnya mereka ini netral yaitu pendengar musik pop pada umumnya.

Para pelaku industri musik jelas kepentingannya adalah bisnis yang tanggung jawabnya adalah mencari keuntungan sedangkan para musisi kepentingannya adalah musikalitas itu sendiri yang tanggung jawabnya adalah memajukan khazanah musik Indonesia.

Kaum musisi berkeberatan kualitas musik Indonesia dikorbankan demi untuk keuntungan bisnis. Mereka merasa dilecehkan apalagi melihat Kangen Band mulai menuai Award.

Kalau hanya sampai disini masih akan terasa normatif saja pertentangan ini. Kenyataannya para penikmat musik yang “netral” itu menunjukan perilaku yang membuat pelaku bisnis bereaksi secara alamiah untuk mencari keuntungan. Keadaan ini membuat pertentangan semakin panas dan memicu aksi beberapa kaum kontra yang mulai gerah dan tidak tahan.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu terjadi polemik nasional pada musik dangdut yang menampilkan fenomena Idul Daratista dengan goyang ngebornya yang kontroversial itu. Kubu yang menentang adalah Rhoma Irama dkk. Pada awalnya Inul tidak terlalu menarik simpati karena musikalitasnya bagi para penikmat dangdut juga tidak terlalu menarik dan memang sampai sekarang tidak ada singlenya yang melekat dihati penikmat dangdut selain goyang ngebornya itu.

Tapi karena Rhoma Irama sebagai pemimpin kaum kontra Goyang Ngebor yang bertindak terlampau demonstratif membuat simpati penikmat musik yang “netral” dan sangat fluid itu menjadi berubah. Yang semula biasa biasa saja menjadi pro Inul karena bersimpati dengan figur yang teraniaya.

Bahkan saking dahsyatnya fenomena Inul itu sampai melibatkan penikmat musik dari genre yang lain selain dangdut. Banyak penikmat musik pop yang mengaku bahwa sebelumnya mereka tidak suka dangdut tapi setelah melihat Inul mereka jadi suka dangdut. Sungguh dahsyat dan bukan tidak mungkin perilaku yang sama juga terjadi pada fenomena Kangen Band kali ini, artinya dulu orang yang tidak terlalu suka akhirnya menjadi suka karena simpati.

Perlu diwaspadai untuk tidak bertindak berlebihan hingga bisa menimbulkan kesan Kangen Band teraniaya. Beredarnya musik rap yang penuh cacian dan makian terhadap Kangen Band sungguh suatu tindakan yang kontra produktif. Itu akan mengundang reaksi simpati kepada Kangen Band yang bisa membutakan kenyataan bahwa musikalitas Kangen Band memang kurang memiliki greget.

Orang orang yang bersimpati akan mendengar musik Kangen Band dengan semangat apologetic. Kalau sudah demikian maka sulit sekali menempatkan duduk persoalannya pada tempat yang benar.

Saya sendiri tidak suka dengan musik Kangen Band tapi itu bukan alasan untuk membenarkan saya mencaci maki mereka. Santai sajalah kalau memang tidak suka. Bagi saya Kangen Band bukan harga mati, siapa tahu mereka berubah bisa bikin musik lebih baik lagi.

Sudah sejauh ini saya masih belum masuk ke subtansi permasalahan kenapa Kangen Band disukai dan tidak disukai. Itu (selera musik) merupakan misteri. Bagaimana selera penikmat musik Indonesia tidak bisa didefinisikan tapi bisa diarahkan seperti yang kita lihat berikut ini.

Ketika tahun 80an dimana ada musik berkualitas seperti Fariz RM, Dian Pramana Putra, Vina Panduwinata, Iwan Fals, atau Chrisye tapi juga ada musik yang kurang berkualitas seperti musiknya RH, OM, TJP, AP… ah tidak usahlah saya sebutkan namanya, tidak enak.

Era 90an musik musik yang kurang berkualitas mulai tenggelam dan perhatian mulai ke musisi muda yang berbakat dan menghasilkan musik yang bagus seperti Kla Project, Kahitna, Slank, Dewa19, PADI dst.

Apalagi kemudian era 2000an dimana banyak sekali musisi musisi muda berbakat lahir seperti The Groove, Sheila On 7, Ungu, Samsons, Peterpan, Maliq & d’esential dll.

Usaha yang dilakukan oleh para musisi senior dan praktisi musik seperti wartawan, pengamat, kritisi, radio, televisi dan bahkan pemerintah dalam memberi ruang dan motivasi bagi musisi muda untuk menghasilkan karya yang berkualitas terasa membawa hasil.

Yang ingin saya sampaikan adalah penikmat musik itu memiliki selera yang liar dan tak bisa didefisinikan karena dia senantiasa berubah. Adalah tugas praktisi musik untuk mengarahkan ke arah yang lebih maju dan berkualitas.

Kini setelah hasil dari sekian dekade tanda tanda ke arah yang lebih baik mendapat tantangan dari keadaan itu sendiri. Mulai dari ancaman ambruknya industri rekaman sampai pada ingin mencapai sukses secara instant dari musisi muda dengan mengikuti berbagai macam kontes yang tidak kredibel ditelevisi itu.

Ini semua ancaman bagi perkembangan musik Indonesia. Perusakanya seperti efek domino. Bajakan dimana mana membuat major label mudah melihat mana musik yang digemari dan mana musik yang kurang digemari terlepas dari apakah musik itu berkualitas atau tidak.

Kita tidak bisa menyalahkan publik penikmat musik dengan alasan memang selera mereka begitu karena sekali lagi selera musik itu bersifat bebas, tidak bisa ditetapkan dan tidak boleh dibiarkan lari kearah yang lebih rendah. Adalah tanggung jawab kita semua untuk membentuk selera musik masyarakat Indonesia kearah yang lebih berkualitas.

Itulah sebabnya saya memahami para Music Director radio radio di Jakarta yang mengeluarkan maklumat bahwa stasiun radio mereka tidak dapat memutar lagu lagu Kangen Band.

David NaifBisa dimaklumi juga David Bayu Danangjoyo vokalis Naif pada acara ulang tahun majalah Rolling Stones yang ke-2 mengeluarkan statement:

Tega bener. Mau dikemanain musik Indonesia. ‘Kangen Band’ please deh jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin

Bagi outsider yang bukan praktisi musik mungkin statement diatas akan terasa keras dan sinis tapi bagi kalangan musisi itu bukan suatu kecemburuan terhadap sukses Kangen Band secara komersil tapi lebih kepada kekhawatiran terhadap arah perkembangan musik Indonesia.

Band band di Indonesia sudah silih berganti tampil kedepan yang jika mereka mendapatkannya dengan cara yang berkualitas maka mereka akan dihormati dan tidak akan mendapat cemooh dari musisi lain seperti Kangen Band.

Fenomena Kangen Band adalah renungan bagaimana perkembangan musik Indonesia itu bisa terpengaruh oleh keadaan industri musik yang ketika terpuruk akan mencari jalan pintas mencari keberlangsungan hidup dengan cara menjual musik minim greget kepada khalayak penikmat musik yang seleranya seharusnya dilindungi tapi malah dikorbankan.

119 Komentar

Filed under musik

Kekasih Sejati Monita

Monita IdolMalam ini saya lagi sendiri sambil nunggu sahur saya upload kerjaan ke server. Lagi bosen trus jalan jalan ke FS temen yang kebetulan ada lagu Kekasih Sejati ciptaan Yovie Widianto yang dinyanyikan oleh Monita Idol.

Sejak album Kemenangan Hati dirilis saya udah sering dengar lagu ini di radio dan saya suka nada nadanya yang ringan, lembut dan indah. Tapi malam ini kok beda rasanya, saya putar berulang ulang dan simak liriknya.

Ternyata liriknya tidak kalah indah dengan nadanya. Sebelum ini lirik tidak terlalu saya simak karena gak punya CDnya dan dengerin cuma kalo lagi ada diradio.

Coba deh baca liriknya:

Aku yang memikirkan
Namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu

*

Mencoba lupakan
Tapi ku tak bisa
Mengapa… Begini…

**

Oh Mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada disini menemaniku
Oh Mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
semoga tak sekedar harapku

kembali ke *,**

Bila…
Tak menjadi milikku
Aku takkan menyesal
Telah jatuh hati

kembali ke **

Semoga tak sekedar harapku..

Padahal saya sedang tidak jatuh cinta atau kasmaran tapi dengar lagu ini berkali kali rasanya ingin jatuh cinta, gak harus sama Monita kan? sama seseoranglah pokoknya…

Kenapa bisa begitu yah, mungkin karena saya terlalu sering mengalami apa yang ada di lirik itu.. halah ngelamun lagi.. kerja kerja woiii.. ini bentar lagi mau sahur….

BTW my highest appreciation for Yovie Widianto yang udah nyiptain lagu seindah ini.. I’m proud of you man.

3 Komentar

Filed under musik

Jaman Edan

Ini bulan puasa. Bulan yang harusnya orang berlomba lomba berbuat kebajikan. Kenyataannya Blog yang jadi nomor satu di wordpress adalah Blog yang isinya merangkum berita berita semacam “heboh foto bugil siswi smk citra bangsa bogor“.

Tapi itu kan masih belum Edan bener, karena yang namanya hawa nafsu tak kenal Ramadhan. Kalau saya bilang ada polisi merampok sudah cukup edan belum? belum yah? Abis ngerampok dia bunuh diri tuh…

Eh ada lagi nih orang “terhormat”, anggota Komisi Yudisial yang kerjaannya harusnya mengawasi hakim supaya gak terima uang sogokan eh malah ketangkep basah nerima sogokan. Padahal jabatannya di Komisi Yudisial adalah ketua bidang kehormatan dan keluhuran martabat hakim… hmm… bener gak sih? wah saking terhormatnya jabatan itu sampe susah bener ngingetnya.

Mosok ketua bidang keluhuran martabat terima sogokan.
Mosok polisi ngerampok.
Mosok bulan puasa nyari gambar gituan.

Edaaannn…

2 Komentar

Filed under curhat

7 Keajaiban Indonesia

Dapat email dari seorang teman tentang 7 keajaiban dunia yang sudah tidak mengandung candi Budha terbesar dunia Borobudur lagi. Namun Indonesia tidak kehabisan “keajaiban”, simak daftar dibawah:

  1. Ditengah krisis kedamaian, NAD menuju kedamaian
  2. Ditengah krisis pendidikan, (siapa namanya, lupa) menjadi juara dunia olimpiade fisika
  3. Ditengah krisis pertanian, pak tani Murjiyo (63), petani di Jetis, Bantul, DIY menciptakan 87 resep pembasmi hama dan penyakit, serta 16 resep pupuk kompos, pupuk cair, dan perangsang tumbuh
  4. Ditengah krisis teknologi informasi, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD (35) menciptakan antena satelit setebal 1,6 mm yang tembus pandang
  5. Ditengah krisis energi listrik, Desa Bomomani, Distrik Mapia, Kabupaten Nabire, Papua cukupi energi listrik secara mandiri
  6. Ditengah krisis birokrasi, Kabupaten Jembrana yang tergolong miskin membebaskan anak-anaknya dari biaya pendidikan dan masyarakatnya dari biaya pelayanan kesehatan
  7. Ditengah krisis kejujuran, Waras (56), warga Siring, Porong Sidoarjo mengembalikan kelebihan pembayaran uang muka ganti rugi sebesar Rp. 429 juta ke PT Minarak Lapindo Jaya

Indonesia memang “ajaib”… 🙂

3 Komentar

Filed under iseng

Mengenang Dr A.A.M Djelantik sebagai Bangsawan

The Birthmark, Memoirs of a Balinese PrinceMendengar kepergian Dr Djelantik saya masih belum yakin siapa orangnya. Karena dari Bali yang bernama Djelantik dari kalangan bangsawan itu tidak hanya satu. Bahkan ada Djelantik yang juga dokter dari Puri Buleleng. Saya pikir beliau yang berpulang.

Tapi setelah Den Sepuh memberi tahu yang dimaksud adalah Dr Djelantik dari Puri Karangasem maka tidak lain beliau adalah Dr Anak Agung Made Djelantik seorang dokter ahli malaria malariologist mantan dekan fakultas kedokteran UNUD yang lahir tahun 1919 putra Raja terakhir Puri Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Djelantik dan juga seorang budayawan, seniman dan pejuang kemerdekaan bangsawan yang pro pejuang.

Dari sekian banyak reputasinya yang gemilang itu orang banyak mengenal beliau dari prestasinya sebagai dokter ahli malaria malariologist yang jasanya tidak hanya dirasakan oleh bangsa Indonesia tapi juga oleh warga dunia karena beliau pernah bertugas untuk PBB dibawah WHO memberantas wabah malaria di Iraq, Somalia dan Afghanistan.

Melihat lukisan lukisanya dan aktifitasnya dibidang budaya orang orang bisa mengenang banyak hal tentang beliau. Kali ini saya ingin mengenang beliau sebagai seorang pejuang bangsawan yang pro pejuang.

Mengingat statusnya sebagai seorang putra Raja atau Pangeran tidaklah mudah bagi Djelantik untuk bersikap. Seperti halnya di Jawa, keraton Kasultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta adalah contoh yang jelas tentang bagaimana pentingnya menentukan sikap pada jaman revolusi khususnya tahun tahun awal setelah proklamasi 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Kita tahu Sultan Hamengkubuwono IX bersikap tegas memihak Republik. Namun tidak demikian dengan Sunan Pakubuwono XII yang ragu-ragu dalam bersikap sehingga menimbulkan stigma dimata rakyat. Sunan PB XII memang dikenal tidak tegas. Bahkan hingga akhir hayatnya beliau tidak menentukan pewaris tahta hingga menimbulkan friksi internal keluarga yang sekarang menghasilkan dua raja (PB XIII) yang bertahta di Keraton Kasunanan.

Terlihat dengan gamblang betapa pentingnya transformasi nilai budaya yang luhur yang porsinya lebih banyak tersedia bagi para bangsawan ketimbang rakyat jelata. Tidak dapat disangkal bahwa seorang bangsawan berkewajiban menjaga transformasi tersebut dari detik detik yang menentukan hingga detak detak terakhir jantung berdegub.

Berikut adalah sebuah kisah tentang patriotisme seorang bangsawan pro perjuangan sebagai pejuang bernama Dr Djelantik. Seperti halnya di Jawa di Balipun kalangan Puri tidak seragam dalam menentukan sikap. Setelah proklamasi rakyat sangat antusias untuk mempertahankan kemerdekaan sementara Belanda masuk kembali menempatkan pasukannya di lokasi lokasi strategis.

Para pemuda bergerak melakukan perlawanan dengan cara gerilya. Para politisi berdiplomasi untuk bisa mendapatkan pengakuan politik dari dunia International. Belanda melakukan propaganda dan adu domba untuk memecah persatuan dan merusak kepercayaan rakyat. Disini bangsawan dituntut untuk bersikap.

Para politisi berhasil mengatur gencatan senjata dengan Belanda untuk memberikan ruang bagi para pejuang melakukan konsolidasi. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh pejabat Belanda untuk melakukan lobi-lobi politik di kalangan Puri sebagai penguasa lokal. Segala macam acara Puri dihadiri, berbagai macam perayaan dimeriahkan guna menarik simpati Puri dan rakyat.

Tidak luput juga Puri Karangasem tempat tinggal Dr Djelantik putra Raja Karangasem. Pada waktu itu Dr Djelantik akan melangsungkan acara pernikahan adat dengan istrinya seorang gadis Belanda bernama Astri Henriette Zwart yang diboyongnya dari negeri Belanda tempatnya menuntut ilmu kedokteran. Sebuah pernikahan putra Raja Karangasem dengan seorang gadis Belanda tentulah sangat menghebohkan kala itu.

Raja Karangasem menginginkan sebuah upacara pernikahan yang selayaknya untuk seorang Pangeran putra Raja. Semua pejabat penguasa dan orang orang penting di Bali pada saat itu diundang dan tentu saja tidak ketinggalan para pejabat militer Belanda.

Dr Djelantik sebenarnya tidak setuju dengan diundangnya para pejabat Belanda ke pernikahannya tapi beliau merasa sungkan untuk mendebat ayahnya yang sangat dihormatinya itu. Sang istri menghiburnya dengan mengatakan bahwa upacara ini lebih kepada hajatan ayahanda sebagai Raja ketimbang hajatan mereka berdua. Istri yang sangat pengertian dan sehati dengan nurani suaminya.

Setelah acara pernikahan berlangung dengan sukses, kehadiran mempelai wanita yang berdarah Belanda sangat menarik perhatian pejabat militer Belanda dan mengupayakan lobi untuk memasukan politik penguasaan. Sebuah acara Gala Lunch diselenggarakan keesokan harinya. Tentunya pejabat Belanda dan tokoh tokoh Puri yang pro Belanda diundang dalam acara Gala Lunch tersebut. Salah satunya adalah A.A Gede Agung teman lama Dr Djelantik yang pada saat itu sudah menjadi Raja Muda Puri Gianyar.

A.A Gede Agung adalah bangsawan yang pro Belanda dan sangat dibenci oleh para pejuang. Dalam pidatonya di pesta itu A.A Gede Agung dengan gaya aristokrat memegang segelas Champagne menggambarkan ikatan pernikahan antara Dr Djelantik dan Astri sebagai lambang ikatan antara Belanda dan Bali.

Disini Dr Djelantik harus memainkan peran yang elegan, tidak demonstratif memperlihatkan ketidaksukaannya pada Belanda sambil tetap memperlihatkan rasa hormatnya pada orangtua tapi juga berusaha menjaga hubungan baik dengan para pejuang yang notabene adalah teman teman sekolahnya dimasa kecil. Salah satunya adalah I Gusti Ngurah Rai yang gugur dipertempuran Margarana hingga beliau dianugrahi gelar Pahlawan Kemerdekaan. Kemudian lagi harus menenteramkan hati rakyatnya sekaligus istrinya yang gadis Belanda.

Sungguh suatu posisi yang sangat sulit untuk bersikap. Tapi Dr Djelantik adalah seorang yang pemuda yang brilian. Sebelum acara Gala Lunch dilangsungkan Dr Djelantik sudah mengatur siasat untuk mengatasi keadaan. Pada waktu pagi hari persiapan pesta dilakukan Dr Djelantik menggerakkan orang-orang dalam istana kepercayaanya untuk menurunkan bendera Kerajaan Belanda yang berwarna merah putih biru itu, kemudian untuk memeriahkan suasana dan sekaligus mengalihkan perhatian, Dr Djelantik atas saran Astri memerintahkan untuk menaikkan umbul umbul berwarna pelangi merah kuning hijau di langit yang biru. Walhasil istana menjadi sangat meriah bak festival perayaan ulang tahun tapi tanpa bendera Belanda.

Tentu saja semua itu dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. Rapi, diam diam dan tak mencurigakan. Dr Djelantik paham betul persoalan bendera ini sangat sensitif karena bendera akan dilihat oleh rakyat yang diantaranya pasti terdapat agen pemuda pejuang kemerdekaan.

Begitu acara pesta selesai Sang Raja memanggil Dr Djelantik ke kamarnya dan bicara dengan suara pelan dan sangat serius. Ayahanda Raja kelihatan gusar dan tertekan. Dr Djelantik sempat khawatir ayahnya sakit. Dr Djelantik kemudian bertanya ada apa. Ayahnya memberi tahu bahwa tadi dia ditegur oleh komandan intelijen tentara Belanda yang mempersoalkan kenapa tidak mengibarkan bendera Belanda untuk menghormati para pejabat Belanda.

Ayahnya kemudian meminta maaf dan mengatakan itu kekhilafannya lalu segera memanggil Punggawa yang bertanggung jawab dengan persiapan pesta. Punggawa kemudian menjawab bahwa tadi ketika akan menaikkan bendera ternyata talinya hilang dan sebelum mendapat ganti tali yang baru para tamu sudah keburu datang jadi tidak sempat menaikan bendera, begitu kilah sang Punggawa.

Komandan intelijen tentara Belanda manggut manggut tapi dengan sorot mata tidak percaya. Kemudian Punggawa disuruh pergi dan Komandan memperingatkan Raja dengan serius bahwa kemungkinan agen pemuda pejuang kemerdekaan telah melakukan sabotase dengan menyusup masuk diantara para Punggawa istana.

Dalam hati Dr Djelantik tersenyum dan puas dengan kinerja Punggawa yang berakting sesuai dengan petunjuk yang diinstruksikannya. Ayahanda terlihat sangat khawatir dan meminta Dr Djelantik untuk mengambil tindakan yang perlu guna melindungi Puri dari sabotase para pemuda pejuang. Inilah salah satu bentuk propaganda dan teror mental penjajah Belanda kepada kaum bangsawan. Tapi tidak untuk Dr Djelantik.

Djelantik dan Tirta GanggaDengan senyum penuh kedamaian dan wajah yang tenang Dr Djelantik meyakinkan ayahnya bahwa tidak perlu khawatir dengan para pemuda karena mereka masih sangat menghormati ayahanda sebagai Raja.

Para pemuda berjuang di medan tempur, para politisi berjuang dengan diplomasi meja perundingan dan para bangsawan berjuang bersikap salah satunya adalah dengan cara seperti yang ditunjukan oleh Dr A.A.M Djelantik.

34 Komentar

Filed under tokoh

Ironi Pertumbuhan Blog

Hari ini saya agak capek karena tadi siang seharian menghadiri gathering milis PHPUG di Ciragil. Tapi saya sempetinlah baca email dan buka WordPress hanya untuk moderasikan beberapa comment baru.

Mata sayu saya jadi terbelalak melihat Blog Budayawan Muda ini masuk Blog yang tumbuh cepat urutan kedua.

Urutan Blog Tumbuh cepat

Saya cari cari ke statistik untuk melihat posting yang mana sih yang bikin pertumbuhan jadi cepat? Oh ternyata posting “Deddy Corbuzier vs Utut Adianto“.

Tapi kenapa bisa begitu, soalnya Blog Budayawan Muda ini belum ikut agregator manapun. Saya perhatikan rujukan dari search engine rata rata memakai keyword “Utut” dan “Deddy”. Saya coba search di Google  dan ternyata memang posisi di Google masuk ke peringkat 3 setelah SCTV posisi 1 dan 2, Liputan 6 masuk posisi ke 5 dst… Ini satu lagi bukti efek judul postingan yang SEO friendly.

Search Result Google

Hmm… padahal saya gak suka tuh dengan caranya Deddy memperlakukan GM Utut tapi gara gara ulahnya Blog saya masuk Blog yang tumbuh cepat… halah.. ironi bener

4 Komentar

Filed under curhat

Blog Yang Ditinggal Pergi Pemiliknya

Dari Blog Ndoro Kakung saya baca ada teman blogger kita yang meninggal dunia. Namanya Susiawan Wijaya.

Pertama-tama saya mengucapkan turut berbela sungkawa semoga amal ibadahnya diterima dan mendapat tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Pengampun.

Saya tidak berkesempatan mengenal almarhum semasa hidupnya. Blognya pun baru saya tahu sekarang. Kemudian saya teringat dengan beberapa blogger yang lain yang telah pergi lebih dulu meninggal kita semua.

Diantaranya Natasha Anya dan Inong. Mereka adalah blogger ngetop yang punya komunitas pembaca yang ramai. Setelah kepergian mereka tentu membuat komunitas itu menjadi bertambah sunyi.

Dalam dunia Blog tidak ada batu nisan yang menandakan si pemilik Blog telah tiada. Satu satunya media untuk mengenangnya adalah Blognya itu sendiri. Padahal cara kepemilkan Blog itu bisa beragam. Ada yang puya domain sendiri dan ada yang “numpang” di Blog service provider seperti WordPress atau Blogspot. Untuk yang punya domain sendiri tentu setelah mereka meninggal keberadaan Blog mereka terancam meninggal juga karena hosting domain harus terus dibayar sementara yang punya sudah tidak ada.

Coba bayangkan kalau misalnya Blogger sekondang Ndoro Kakung atau Budi Putra “lewat”. Tulisan tulisan mereka tentu masih bisa sangat bermanfaat bagi komunitasnya. Ah.. semoga saja mereka diberi umur panjang dan rejeki yang melimpah ruah.

Cepat atau lambat, mau tidak mau, saat itu akan tiba untuk kita semua. Untuk yang numpang hosting di WordPress atau Blogspot masih mending karena account mereka akan tetap ada sampai kapanpun asal si provider masih beroperasi.

Seperti Blognya Inong saya baca di Guestbooknya banyak teman temanya semasa hidup mengirim pesan kangen sbb:

nong..kangen kamu…kawan
seperantauan….al Fatihah
utk sahabatku..

Atau ada juga pembaca baru dengan pesan sbb:

maaf..saya baru masuk ke
blog ini, dan hanya baca
postingannya..tidak ke
sotbok..maaf bunda
ya,…al fatihah ku kirim
untuk bunda…semoga
tenang di alam sana..amin

Kayanya perlu pasang Guestbook nih… bukan siap siap mau mati tapi perlu ajah…
BTW bagi teman temannya mas Susiawan ada baiknya semua postingan kenangan dari almarhum difeed kesebuah Blog di WordPress jadi ntar kalo hostingan http://i-bebek.net/ habis masa berlakunya kita masih punya kenangan tentang seorang Blogger yang pernah meramai hidup kita.

12 Komentar

Filed under curhat