Keblusuk Nalarmu

Menarik sekali tulisan Anand Krishna yang berjudul Arti Sebuah Penghargaan. Disitu Anand menggunakan logika (yang dia anggap benar) untuk menjelaskan arti sebuah penghargaan yang kemudian diakhir tulisan memberi nasihat bagaimana seharusnya sebuah penghargaan disikapi.

Menjadi menarik karena Anand menggunakan contoh contoh yang sederhana (baca: disederhanakan) untuk menjelaskan posisi psikologis pemberi penghargaan dan penerima penghargaan.

Contoh yang dia berikan tentang orang yang tidak waras bagus sekali. Logika yang sehat saya rasa kalau kita akan dianggap gila jika menanggapi orang gila. Dan juga contoh pujangga besar Rabindranath Tagore yang menolak hadiah dari penjajah karena dia merasa bagian dari rakyat yang menderita akibat ulah penjajah.

Orang waras menolak menanggapi orang gila karena melihat tidak ada manfaatnya. Tapi bagaimana jika orang waras itu adalah dokter jiwa yang akan memeriksa si gila. Si gila hanya mau diperiksa jika dokter jiwa tersebut mau menanggapinya. Pak dokter tentu saja bisa memenuhi keinginan si gila demi bisa menjalankan tugasnya. Atau katakanlah anda berhadapan dengan orang gila yang siap membunuh. Si gila akan bisa diredam hanya kalau anda mengaku sebagai atasannya. Walaupun anda bukan siapa siapanya tapi tentu ada baiknya jika anda mengaku sebagai atasannya sampai keadaan aman terkendali.

Tagore menolak menerima penghargaan karena melihat tidak ada manfaatnya. Kalau penghargaan diterima lalu apa yang bisa diberikan kepada rakyat? Tapi Tagore menerima hadiah Nobel dan menggunakan dana dari Eropa untuk pengembangan sekolah di India.

Kalau tokoh nasional dr Cipto Mangunkusumo sempat menerima penghargaan dari penjajah Belanda berupa Bintang Orde van Oranye Nassau karena jasanya membasmi wabah Pes di Malang. Penghargaan tersebut dikemudian hari dikembalikan ke pemerintah Belanda. Penghargaan tersebut sempat diterima karena untuk menghindari ketegangan dengan pemerintah Hindia Belanda yang bisa berakibat negatif bagi dirinya dan bangsanya.

Jadi jelas manfaatnya bukan untuk diri sendiri tapi untuk masyarakat luas. Termasuk juga Romo Magnis yang menggunakan Lumpur Lapindo sebagai alasan untuk tidak menerima penghargaan dari keluarga Bakrie. Begitu juga Putu Wijaya yang menerima penghargaan Bakrie Award dengan alasan yang sama yaitu untuk manfaat masyarakat luas yang dalam hal ini adalah masyarakat sastra.

Sampai disini semuanya masih kompatibel dengan logika saya. Tapi begitu Anand memberi himbauannya supaya Putu Wijaya mengembalikan penghargaan yang diterimanya saya tidak dapat memahami logika yang dipakai oleh Anand.

Berikut cuplikannya:

Bukan nasihat, bukan tuntutan, apalagi kritikan, tidak, bukanlah semuanya itu. Hanya satu permohonan:Bli, kembalikan penghargaan itu. Penghargaan itu tidak menambahkan sesuatu pada Kepribadian Bli Putu. Bli Putu jauh lebih berharga, sudah cukup berharga, sekalipun tanpa penghargaan itu

Logika Anand mengesankan bahwa Putu menerima penghargaan demi untuk dirinya sendirinya. Padahal sudah jelas seperti uraian diatas bahwa manfaatnya adalah untuk masyarakat luas. Sungguh tuduhan yang bertolak belakang dengan sanjungan dan ucapan hormat yang ia sertakan pada tulisannya itu.

Sulit memahami logikanya atau karena Anand iki wis keblusuk nalare…

1 Komentar

Filed under sosial, tokoh

One response to “Keblusuk Nalarmu

  1. Gak sengaja mendapatkan halaman ini, dan ternyata kalimat terakhir dalam posting ini tebukti😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s