Bakrie Award 2007

Beberapa waktu yang lalu, tanggal 14 agustus sebuah lembaga penelitian dan kajian Freedom Institut memberikan penghargaan yang bernama Achmad Bakrie Award kepada empat orang putra Indonesia yang dianggap telah memberi karya terbaiknya.

Empat orang tersebut adalah Putu Wijaya di bidang kesusastraan, Prof Dr Franz Magnis Suseno di bidang pemikiran sosial, Prof Dr Sangkot Marzuki di bidang kedokteran, Dr Jorga Ibrahim di bidang sains dan lembaga Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi (BB Sukamandi) di bidang teknologi.

Sejak 2003 Freedom Institute sudah memberikan Award ini kepada Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Rendra (sastra), Ignas Kleden, Nurcholish Madjid, Sartono Kartodirdjo, Arief Budiman (pemikiran sosial), Sri Oemijati dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran).

Yang menarik dari penganugrahan Bakrie Award kali ini adalah penolakan penghargaan oleh salah satu penerimanya Franz Magnis Suseno.

Menurut Franz, beliau tidak bisa menerima penghargaan itu karena pemberi penghargaan adalah keluarga Bakrie merupakan pemilik mayoritas PT Lapindo Brantas yang sedang bermasalah dengan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo.

Saya tidak sedang mempermasalahkan hubungan antara penghargaan oleh keluarga Bakrie dan masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki keluarga Bakrie.

Foto dari pikiran-rakyat.co.idTapi ada pro kontra itu jelas. Putu Wijaya sendiri sebelum menerima penghargaan ini mengaku banyak menerima masukan melalui sms dari rekan rekan senimannya yang sebagian besar menyarankan untuk menolak penghargaan tersebut.

Putu akhirnya menerima penghargaan Bakrie Award dengan penjelasaan bahwa penghargaan yang diterimanya atas nama sastra dan bukan atas nama dirinya.

Franz dan Putu adalah dua orang yang sama-sama mengerti dan membela nilai nilai kemanusiaan. Franz menunjukanya dengan cara menolak penghargaan dan Putu menunjukannya dengan cara menerima penghargaan tersebut.

Bagi pikiran orang awam ini sulit dipahami. Bisa jadi dua duanya memiliki kebenaran. Kalau begitu dua duanya juga bisa memiliki kekeliruan?

Foto dari wikipediaDari sudut pandang Franz tentulah sangat jelas dan gamblang hubungannya. Banyak pihak akan merasa sikap Franz ini membela nilai kemanusiaan mengingat banyak korban lumpur Lapindo yang masih menderita di Sidoarjo.

Coba kita lihat sikap Putu dari sudut pandang yang dipakai Franz. Penjelasan Putu yang mengatas-namakan sastra untuk menerima penghargaan seolah olah terkesan sastra tidak peka dengan nilai kemanusiaan yang mestinya berperan dalam melihat korban lumpur Lapindo. Apakah benar demikian?

Menurut Putu lagi sastra selama ini dimasyarakat tidak mendapat penghargaan selayaknya seperti bidang bidang yang lain seperti politik, ekonomi atau teknologi. Bahkan didalam bidang senipun sastra masih belum cukup mendapat penghargaan dibanding dengan bidang seni Musik atau Film.

Tapi bukankah ini justru kesempatan yang baik untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa sastra bisa ikut berperan membela nilai kemanusiaan dengan cara menolak penghargaan?

Sebaliknya dari sudut pandang yang dipakai oleh Putu akan mengatakan bahwa tidak demikian cara kerja sastra dalam membela nilai kemanusiaan. Sastra membela nilai kemanusiaan melalui karya sastra. Dalam karya sastra nilai nilai kemanusiaan diangkat sehingga membuka mata dan nurani pembacanya.

Siapa tahu setelah ini Putu akan menulis cerpen atau pementasan teater tentang penderitaan korban lumpur Lapindo, kan bisa saja, sebab pemberian penghargaan tidak boleh membatasi obyektifitas penerimanya.

Seperti halnya peraih hadiah Nobel Jean-Paul Sartre yang karena obyektifitas pemikiran filsafatnya mencegah dia dari menerima hadiah penghargaan yang paling bergengsi tersebut.

Memang penolakan terhadap perhargaan akan memberikan dampak politis atau paling tidak kehebohan di media masa tentang penolakan itu sendiri. Tapi itu mungkin bagi cara pandang yang dipakai Putu akan terasa terlalu mencari perhatian dan mengurangi ketulusannya dalam bersastra karena harus dikait-kaitkan dengan kejadian yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan karya yang diberi penghargaan (karya sastra Putu berjudul “Telegram” yang dibuat tahun 1973 dan “Stasiun” yang dibuat 1977) jauh sebelum peristiwa lumpur Lapindo.

Kalau memang demikian cara kerja sastra dalam membela nilai kemanusiaan lalu apakah Franz keliru dalam bersikap? Apakah seharusnya Franz menerima saja penghargaan tersebut seperti halnya Putu? Apakah Franz lantas menjadi tidak tulus dalam berkarya dan suka mencari perhatian?

Tentu saja tidak karena bidang yang geluti Franz berbeda dengan bidang yang digeluti Putu. Bayangkan sebuah paradoks akan tercipta bila seorang pemerhati dan pemikir sosial menerima penghargaan dari pembuat masalah sosial.

Jadi Franz Magnis Suseno tidak keliru dalam bersikap karena posisinya sebagai pemikir sosial dan Putu Wijaya juga tidak keliru karena cara kerja sastra adalah dalam karya sastra.

foto diambil dari pikiran-rakyat.comSatu satunya yang keliru disini adalah keluarga Bakrie, kecuali bapak Achmad Bakrie yang memiliki nilai kepekaan sosial yang tinggi dan saya yakin kalau beliau yang menangani masalah lumpur Lapindo ini maka solusi yang elegan akan dicapai sehingga tidak terjadi problem sosial seperti sekarang ini.

Berharap keluarga Bakrie terketuk hatinya walaupun dengan diteruskannya tradisi pemberian penghargaan ini sudah cukup bagus. Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang Aburizal? Menjadi Menko Ekonomi tidak becus sekarang jadi Menko Kesra didera kasus Lapindo. Yah jadi penerus tradisi keluarga sajalah, itu yang terbaik yang bisa dia lakukan.

3 Komentar

Filed under sosial, tokoh

3 responses to “Bakrie Award 2007

  1. Ping-balik: Budayawan Muda

  2. Ping-balik: Seputar FTI Award 2007 « Budayawan Muda

  3. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s