Pilkada Gubernur DKI

Sekarang ini kita (warga DKI) sedang menghadapi “pesta” demokrasi pilkada. Dua pasang cagub dan cawagub diusung dan diarak keliling kota bikin jalanan yang sudah macet jadi tambah parah. Tapi pilkada yang satu ini tidak seperti pilkada di daerah lain.

Kalau oligarki masih terjadi di jaman reformasi sekarang ini mungkin analis politik akan memberi analisa bahwa para politisi kita masih menggunakan gaya berpolitik jaman orde baru.

Tapi saya tidak heran dengan hal itu karena memang bisa dilihat dengan jelas masih banyak gaya orde baru yang masih bertahan di masyarakat kita. Termasuk masuknya artis ke kegiatan kampanye.

Pasangan Fauzi-Priyanto merekrut keluarga si Doel (Rano Karno cs) dan pasangan Adang-Dani merekrut keluarga Bajaj Bajuri (Mat Solar cs). Tapi lucunya dari anggota keluarga tv-show tersebut semuanya mau kompak mendukung pasangan yang sama. Keluarga si Doel mulai dari Rano, Basuki, Mandra, Mak Nyak sampe ke Atun semua jadi pendukung Fauzi. Begitu juga dari keluarga Bajuri, Mat Solar dan Nani Wijaya menjadi pendukung Adang.

Setahu saya aspirasi politik seseorang itu adalah hal yang sangat subyektif orang per orang. Tidakkah diantara mereka itu memiliki perbedaan aspirasi? Kok bisa seragam dan kompak padahal ikatan diantara mereka hanya sebatas teman kerja di tv-show.

Diantara teman teman sekantor saja pasti pilihannya tidak seragam tapi kok para artis ini bisa seragam. Apakah ini berhubungan dengan uang yang mereka peroleh dari iklan tv yang mereka bintangi? Kalau memang begitu berarti aspirasi mereka bisa dibeli dong?

Bagaimana tidak kalau sebelumnya Rano Karno pernah bertekad menjadi cawagub untuk partai manapun yang mau meminangnya tapi lantas karena ada tawaran Rp 3 milyar dari pihak Fauzi maka Rano mengurungkan niatnya untuk fight terus.

Yang membuat saya heran apa pertimbangan Rano memberikan dukungannya pada Fauzi? Tidakkah semangat reformasi memberitahu bahwa oligarki dan politik uang tidak baik? Dan yang lebih bikin saya heran lagi teman teman artisnya yang lain ikut ikutan mendukung hanya karena supaya dapet job bikin iklan tv.

Saya bukan pembela Adang karena Adang juga tidak mumpuni memimpin Jakarta sementara Fauzi yang mumpuni tapi tidak berkultur reformasi. Om Wimar Witoelar bilang begini:
Fauzi Bowo adalah orang yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman lama, sayang kapabilitas itu tidak dipakai. Keahlian yang dipakai bukan dalam pemerintah kota tapi justru dalam pemanfaatan birokrasi dan uang”.

Duh pilkada kali ini saya gak milih deh daripada ntar salah pilih. Kecuali kalau ada calon lain yang independen, itu juga masih mau dilihat dulu, kalo kwalitasnya macam Rano yah sama ajah.

2 Komentar

Filed under politik

2 responses to “Pilkada Gubernur DKI

  1. dyno

    oneng ga kompak loh mas…dia kan pilih foke

  2. Oh yaa?.. Mungkin karena Rieke punya visi, visi dengan naluri politik siapa yang bakal menang, terbukti kan Foke yang menang.. hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s