Monthly Archives: Agustus 2007

Nasionalisme Ganyang Malaysia

Negara serumpun yang tidak ramah itu kembali berulah. Setelah sukses merampok pulau Sipadan dan Ligitan kemudian mencoba menyerobot blok Ambalat kemudian memperlakukan TKI secara kurang manusiawi kemudian membiarkan kayu hasil illegal logging masuk ke wilayah mereka dan kini seorang wasit karate kita yang diundang secara resmi oleh pemerintahnya digebuki 4 orang polisi pemerintah Malaysia.

Akumulasi dari semua itu mengundang reaksi kecaman yang keras dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia. DPR mendesak pemerintah RI untuk memutuskan hubungan diplomatik. Aktivis karateka menggelar demo. Mahasiswa menggelar orasi didepan kedutaan Malaysia. Bahkan di Surabaya masyarakat melakukan sweeping terhadap warga Malaysia.

Den Sepuh pernah cerita tentang pidato Bung Karno tahun 1963 yang isinya Ganyang Malaysia. Saya masih ingat sekilas kata katanya:

Ini dadaku, mana dadamu?
Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer

Bunga Karno

Rasa nasionalisme bergelora. Mungkin rasa ini yang mendorong teman teman berdemo dijalanan. Walaupun sebagian pengamat politik sekarang bisa melihat bahwa apa yang dilakukan Bung Karno kala itu adalah politik pengalihan perhatian.

Tapi saya menganggap bahwa pandangan itu terlalu praktis. Bung Karno adalah orang besar yang punya visi tentang nasionalisme dan ingin mengajarkan kepada bangsanya bahwa Malaysia layak untuk diganyang.

Seperti Sultan Agung yang menyerang Batavia untuk meletakkan dasar patriotisme pada bangsa ini. Hampir semua perlawanan kepada Belanda setelah itu menggunakan serangan Sultan Agung tersebut sebagai sumber kekuatan moral.

Kita harus bersukur punya pemimpin seperti Bung Karno yang tegas dalam mengekspresikan sikap. Tidak klemar klemer yang bisa mengakibatkan jatuhnya wibawa. Lihat sekarang betapa tidak hormatnya negara tetangga itu kepada kita. Rasanya ingin segera saja kita ganyang dia.

Tapi semudah itukah mengganyang Malaysia? Bukankah kenyataannya sekarang kita yang diganyang oleh Malaysia? Lho kenapa begitu?

Ya bagaimana tidak seperti itu kalau ekonomi kita lebih lemah dibanding ekonomi mereka, rakyat mereka lebih makmur dibanding rakyat kita, perdagangan mereka lebih menguntungkan dibanding perdagangan kita, gaji profesional mereka lebih tinggi dibanding gaji profesional kita, aparat mereka lebih disiplin dibanding aparat kita, perkebunan mereka lebih menghasilkan dibanding perkebunan kita, peralatan militer mereka lebih mematikan dibanding peralatan militer kita, hukum mereka lebih tegas dibanding hukum kita, politik luar negeri mereka lebih canggih dibanding politik luar negeri kita… pfff terlalu panjang daftarnya.

Lantas bagaimana? Masih mau mengganyang Malaysia? Kalau kita lihat para demonstran dipinggir jalan memang itulah yang mereka inginkan. Konfrontasi militer? Seperti pidato Bung Karno yang membakar rasa nasionalisme itu? Sesederhana itukah mereka menghayati nasionalisme?

Tapi memang itu yang dikatakan Bung Karno pada pidatonya. Hmmm.. mari kita simak. Memang ada kata konfrontasi. Tapi diawali dengan pertanyaan. Artinya kalau mereka macam macam baru kita sikat. Itupun bertahap mulai dari konfrontasi ekonomi, politik baru kemudian militer. Ini yang masih belum dihayati secara mendalam oleh bangsa ini.

Penghayatan tentang rasa nasionalisme yang lebih kepada wujud manifestasi emosi semata. Pak Amien Rais pernah memberi contoh tentang nasionalisme ketika rakyat berduyun duyun datang ke Senayan untuk membela kesebelasan Indonesia berlaga di piala Asia. Ini fenomena yang mencengangkan banyak pihak. Rasa nasionalisme itu memang masih ada dan kental cuma belum mampu diconvert ke dalam manifestasi rasio.

Kalau ada TKW kita yang dianiaya majikannya kita marah marah tapi kalau para TKW itu pulang ke tanah air mereka dijadikan obyek pemerasan. Kalau atlet kita kalah bertanding kita kecewa berat tapi kalau diminta menyumbang untuk olahraga tidak mau. Lebih suka pakai barang import daripada pakai buatan dalam negeri walaupun kualitasnya sama. Bayar gaji profesional asing (expatriat) lebih tinggi dibanding bayar gaji profesional kita walaupun keahlian sama. Masih mau daftar yang lebih panjang? Bisa habis bandwidth untuk menuliskannya.

Kenapa bisa begitu? Sebab apa manusia Indonesia begitu? Den Sepuh sedang leyeh leyeh di depan TV menonton berita tentang penganiayaan wasit karate kita itu ketika saya memberi pertanyaan diatas. Karena tidak ingin terganggu dengan suara saya Den Sepuh menjawab dengan cepat. Jawabanya hanya satu kata: Leadership. Kemudian dengan remote TV Den Sepuh membesarkan volume TV.

Seandainya kita punya pemimpin yang memiliki leadership yang baik maka semua ini bisa diperbaiki. Tidak seperti sekarang yang pemimpinnya (baca: presiden) lebih banyak tebar pesona dan terlalu sibuk menjaga citra untuk melangsungkan kekuasannya.

Nasionalisme sederhana akan mengatakan urusin TKW tapi kalau Nasionalisme yang lebih dalam akan mengatakan ciptakan lapangan pekerjaan yang cukup sehingga rakyat tidak perlu menjadi TKW. Untuk semua itu perlu pemimpin yang punya leadership.

Malaysia memang layak diganyang karena kurang ajar tapi kalau dengan pemimpin seperti sekarang ini bagaimana cara mengganyangnya? Merancang kerja sama militer dengan Singapura saja tidak becus. Bikin harga diri negara terlecehkan. Apalagi mau mengganyang Malaysia. Wah jauh panggang dari api. Ganti dulu pemimpinnya baru kita ganyang Malaysia.

Update: 4 Okt 07
Malaysia kembali berulah dengan mengklaim lagu daerah Maluku Rasa Sayang Sayange sebagai lagu mereka. Mereka akan terus begitu sampai kita beri pelajaran.

82 Komentar

Filed under politik

Keblusuk Nalarmu

Menarik sekali tulisan Anand Krishna yang berjudul Arti Sebuah Penghargaan. Disitu Anand menggunakan logika (yang dia anggap benar) untuk menjelaskan arti sebuah penghargaan yang kemudian diakhir tulisan memberi nasihat bagaimana seharusnya sebuah penghargaan disikapi.

Menjadi menarik karena Anand menggunakan contoh contoh yang sederhana (baca: disederhanakan) untuk menjelaskan posisi psikologis pemberi penghargaan dan penerima penghargaan.

Contoh yang dia berikan tentang orang yang tidak waras bagus sekali. Logika yang sehat saya rasa kalau kita akan dianggap gila jika menanggapi orang gila. Dan juga contoh pujangga besar Rabindranath Tagore yang menolak hadiah dari penjajah karena dia merasa bagian dari rakyat yang menderita akibat ulah penjajah.

Orang waras menolak menanggapi orang gila karena melihat tidak ada manfaatnya. Tapi bagaimana jika orang waras itu adalah dokter jiwa yang akan memeriksa si gila. Si gila hanya mau diperiksa jika dokter jiwa tersebut mau menanggapinya. Pak dokter tentu saja bisa memenuhi keinginan si gila demi bisa menjalankan tugasnya. Atau katakanlah anda berhadapan dengan orang gila yang siap membunuh. Si gila akan bisa diredam hanya kalau anda mengaku sebagai atasannya. Walaupun anda bukan siapa siapanya tapi tentu ada baiknya jika anda mengaku sebagai atasannya sampai keadaan aman terkendali.

Tagore menolak menerima penghargaan karena melihat tidak ada manfaatnya. Kalau penghargaan diterima lalu apa yang bisa diberikan kepada rakyat? Tapi Tagore menerima hadiah Nobel dan menggunakan dana dari Eropa untuk pengembangan sekolah di India.

Kalau tokoh nasional dr Cipto Mangunkusumo sempat menerima penghargaan dari penjajah Belanda berupa Bintang Orde van Oranye Nassau karena jasanya membasmi wabah Pes di Malang. Penghargaan tersebut dikemudian hari dikembalikan ke pemerintah Belanda. Penghargaan tersebut sempat diterima karena untuk menghindari ketegangan dengan pemerintah Hindia Belanda yang bisa berakibat negatif bagi dirinya dan bangsanya.

Jadi jelas manfaatnya bukan untuk diri sendiri tapi untuk masyarakat luas. Termasuk juga Romo Magnis yang menggunakan Lumpur Lapindo sebagai alasan untuk tidak menerima penghargaan dari keluarga Bakrie. Begitu juga Putu Wijaya yang menerima penghargaan Bakrie Award dengan alasan yang sama yaitu untuk manfaat masyarakat luas yang dalam hal ini adalah masyarakat sastra.

Sampai disini semuanya masih kompatibel dengan logika saya. Tapi begitu Anand memberi himbauannya supaya Putu Wijaya mengembalikan penghargaan yang diterimanya saya tidak dapat memahami logika yang dipakai oleh Anand.

Berikut cuplikannya:

Bukan nasihat, bukan tuntutan, apalagi kritikan, tidak, bukanlah semuanya itu. Hanya satu permohonan:Bli, kembalikan penghargaan itu. Penghargaan itu tidak menambahkan sesuatu pada Kepribadian Bli Putu. Bli Putu jauh lebih berharga, sudah cukup berharga, sekalipun tanpa penghargaan itu

Logika Anand mengesankan bahwa Putu menerima penghargaan demi untuk dirinya sendirinya. Padahal sudah jelas seperti uraian diatas bahwa manfaatnya adalah untuk masyarakat luas. Sungguh tuduhan yang bertolak belakang dengan sanjungan dan ucapan hormat yang ia sertakan pada tulisannya itu.

Sulit memahami logikanya atau karena Anand iki wis keblusuk nalare…

1 Komentar

Filed under sosial, tokoh

Arti Sebuah Penghargaan

Sebuah tulisan dari Anand Krishna di Radar Bali, Senin 20 Agustus 2007

Saya pernah berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa di Jakarta. Tujuannya mulia, setidaknya demikian di mata masyarakat hingga hari ini, dan di mataku saat itu. Melayani mereka yang berada dalam keadaan susah,sakit.

Kemuliaan Melayani atau Nilai Pelayanan sering terkalahkan oleh pujian dan penghargaan. Kemudian,pujian dan penghargaan itu yang menjadi penting. Kita lupa bahwa pelayanan bukanlah pelayanan bila yang dituju adalah pujian dan penghargaan.

Jiwa Pelayanan tercemar oleh pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan merubah pelayanan menjadi jasa. Dan, jasa adalah dagang, usaha, bisnis.

Hari itu, saya bersama rombongan disambut oleh seorang wanita cantik, dalam keadaan ceria…. Sulit untuk menerka apakah dia seorang pasien atau seseorang yangdatang untuk menjenguk pasien. Ketika diperkenalkanoleh petugas rumah sakit, kita baru tahu bila dia memang pasien dan sudah dianggap “aman”.

Sambutan wanita itu penuh dengan kegembiraan dan keceriaan… Ia menyanyikan lagu-lagu gereja.Kemudian, tiba-tiba ia mendekati seorang teman yang berjanggut seperti saya juga, dan menyapanya:
“TuhanYesus telah datang, Tuhan Yesus telah datang……”
Untuk sesaat, temanku barangkali lupa bahwa yang menyapanya adalah seorang penderita kelainan jiwa…..
Karena kemiripan janggut, saya pun lupa…. kemudian,tiba-tiba wanita itu menampar teman saya:
“Dari dulusaya panggil-panggil, baru datang sekarang….Kenapa?”

Adakah kebahagiaan dari pujian dan penghargaan yangkita peroleh dari seseorang yang tidak waras? Pujiandan penghargaan dari orang-orang yang tidak warashanya membuktikan bahwa kita dianggap sebagai bagiandari komunitas orang-orang yang tidak waras. Dan,dengan mempercayai pujian mereka, menerima penghargaandari mereka – kita mengamini kepercayaan mereka.

“Come, join the club!”

Kita menerima undangan itu, dan menjadi bagian darikomunitas yang tidak waras.

Bagaimana pula dengan penghargaan dan pujian yangdiberikan oleh seseorang yang telah menyebabkan banyakpenderitaan bagi banyak orang? Sama saja, setiap penerima pujian dan penghargaan itu menjadi bagiandari Komunitas Orang-Orang yang Menyebabkan Penderitaan.

Rabindranath Tagore ditawari gelar kehormatan oleh pihak penjajah. Ia menolak gelar tersebut. Dengan sopan, secara santun, ia berterima kasih kepada pihakpemberi, tetapi secara tegas menyampaikan penolakannyakarena ia merasa dirinya sebagai bagian dari ratusan juta penduduk India saat itu yang masih hidup dalam penindasan dan penderitaan.

Kiranya sikap ini pula yang ditunjukkan oleh Romo Magnis dengan menolak penghargaan yang diberikan, disponsori, atau ada hubungannya secara langsung maupun tidak langsung dengan Keluarga Bakrie.

Keluarga Bakrie, secara langsung maupun tidak langsung, terlibat dalam perusahaan yang, sekali lagi,secara langsung maupun tidak langsung, telah menyebabkan penderitaan bagi sekian banyak warga Sidoarjo dan sekitarnya. Dengan menerima pujian dan penghargaan dari mereka, untuk urusan apa pun,bukanlah sebuah kehormatan.

Romo Magnis yang saya cintai, saya banggakan – telah melihat hal ini. Dan, ia telah bertindak sesuai dengan penglihatannya. Seorang pejabat, yang kerap membela keluarga Bakrie, lagi-lagi secara langsung maupuntidak langsung, menganggap penolakan Sang Romo sebagai sesuatu yang sangat emosional, tendesius, tidak pada tempatnya, kurang objektif.

Saya tidak terkejut, tidak kaget, karena pejabat itu memang memiliki hubungan yang cukup erat, cukup mesra dengan keluarga Bakrie. Dan, hubungan mereka itusah-sah saja, tidak menjadi soal. Hanya saja, sebagai Pejabat Negara, semestinya ia menempatkan Jabatannya diatas hubungan-hubungan pribadi itu.

Bagaimana dengan mereka yang menerima penghargaan itu? Termasuk diantaranya, seorang Putra Bali, seorang Nasionalis Tulen, yang saya selalu banggakan. Saudarasaya, Putu Wijaya.

Beliau, menurut pengakuannya, yang kemudian dipublikasikan oleh media, sempat berpikir-pikir.Tapi, kemudian memutuskan untuk menerima penghargaan tersebut.

Saya tidak tahu apa yang beliau pikirkan. Dan, sayapun tidak tahu atas dasar maupun kesimpulan apa,kemudian beliau memutuskan untuk menerima penghargaan tersebut. Saya juga tidak ingin menasihati seseorang yang saya anggap sebagai Guru, sebagai Inspirator,sebagai Anak Bangsa yang Kontribusinya akan selalu saya banggakan.

Apa yang mesti saya katakan kepada Bli Putu?

Kata-kata apa yang mesti saya sampaikan kepada beliau? I am speechless.

Putu Wijaya adalah Warga Indonesia, tetapi beliau juga adalah Putra Bali. Bali adalah Ibu beliau. Saat ini,Bali, sebagaimana juga Indonesia, membutuhkan sosok-sosok pemimpin yang dapat dijadikan sebagai panutan.

Bli Putu memenuhi seluruh syarat.

Baik untuk menjadi panutan bagi warga Bali, maupun sebagai panutan bagi warga Indonesia, khususnya bagi seniman dan budayawan muda.

Apa pun keputusan Bli Putu, hal tersebut tidak akan pernah mengurangi rasa hormat saya terhadap beliau.Apapun keputusan beliau, saya akan tetap mencintai beliau. Beliau tetaplah seorang Guru bagi saya.

Bukan nasihat, bukan tuntutan, apalagi kritikan –tidak, bukanlah semuanya itu. Hanya satu permohonan:Bli, kembalikan penghargaan itu. Penghargaan itu tidak menambahkan sesuatu pada Kepribadian Bli Putu. Bli Putu jauh lebih berharga, sudah cukup berharga, sekalipun tanpa penghargaan itu.

Bli telah menerima penghargaan itu.

Bli telah menghormati pihak pemberi….. Sekarang,saatnya, Bli membiarkan penghargaan itu terkalahkanoleh kepedulian Bli, yang saya yakini ada, terhadap bangsa dan negara. Terhadap ribuan warga Sidoarjo yang telah kehilangan akar mereka. Terhadap penderitaan mereka. Terhadap kesengsaraan mereka.

Saudara-saudaraku yang lain, yang ikut menerima penghargaan tersebut, silakan menaruhnya bila menganggap penghargaan itu menambahkan sesuatu padai dentitas diri Anda. Saya akan tetap menghormati keputusan, kesimpulan, bahkan anggapan Anda. Karena,saya pun mencintai Anda…..

Tetapi, sekali lagi kepada Bli Putu, cintaku terhadapmu tak tertandingi oleh cintaku terhadap siapa-siapa – karena kau, kuanggap saudaraku yang sekandung. Bunda Besakih adalah ibu kita bersama.Langit Bali adalah Ayah yang mengayomi kita bersama.Demi Ibu dan Ayah, demi saudara-saudara kita, demi tanah dan air kita, demi Cinta…. please Bli!

Anand Krishna: Nasionalis/Spiritualis Lintas Agama, Anand Krishna telah menulis lebih dari 110 buku (http://www.anandkrishna.org)

2 Komentar

Filed under sastra, sosial, tokoh

Bakrie Award 2007

Beberapa waktu yang lalu, tanggal 14 agustus sebuah lembaga penelitian dan kajian Freedom Institut memberikan penghargaan yang bernama Achmad Bakrie Award kepada empat orang putra Indonesia yang dianggap telah memberi karya terbaiknya.

Empat orang tersebut adalah Putu Wijaya di bidang kesusastraan, Prof Dr Franz Magnis Suseno di bidang pemikiran sosial, Prof Dr Sangkot Marzuki di bidang kedokteran, Dr Jorga Ibrahim di bidang sains dan lembaga Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi (BB Sukamandi) di bidang teknologi.

Sejak 2003 Freedom Institute sudah memberikan Award ini kepada Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Rendra (sastra), Ignas Kleden, Nurcholish Madjid, Sartono Kartodirdjo, Arief Budiman (pemikiran sosial), Sri Oemijati dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran).

Yang menarik dari penganugrahan Bakrie Award kali ini adalah penolakan penghargaan oleh salah satu penerimanya Franz Magnis Suseno.

Menurut Franz, beliau tidak bisa menerima penghargaan itu karena pemberi penghargaan adalah keluarga Bakrie merupakan pemilik mayoritas PT Lapindo Brantas yang sedang bermasalah dengan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo.

Saya tidak sedang mempermasalahkan hubungan antara penghargaan oleh keluarga Bakrie dan masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki keluarga Bakrie.

Foto dari pikiran-rakyat.co.idTapi ada pro kontra itu jelas. Putu Wijaya sendiri sebelum menerima penghargaan ini mengaku banyak menerima masukan melalui sms dari rekan rekan senimannya yang sebagian besar menyarankan untuk menolak penghargaan tersebut.

Putu akhirnya menerima penghargaan Bakrie Award dengan penjelasaan bahwa penghargaan yang diterimanya atas nama sastra dan bukan atas nama dirinya.

Franz dan Putu adalah dua orang yang sama-sama mengerti dan membela nilai nilai kemanusiaan. Franz menunjukanya dengan cara menolak penghargaan dan Putu menunjukannya dengan cara menerima penghargaan tersebut.

Bagi pikiran orang awam ini sulit dipahami. Bisa jadi dua duanya memiliki kebenaran. Kalau begitu dua duanya juga bisa memiliki kekeliruan?

Foto dari wikipediaDari sudut pandang Franz tentulah sangat jelas dan gamblang hubungannya. Banyak pihak akan merasa sikap Franz ini membela nilai kemanusiaan mengingat banyak korban lumpur Lapindo yang masih menderita di Sidoarjo.

Coba kita lihat sikap Putu dari sudut pandang yang dipakai Franz. Penjelasan Putu yang mengatas-namakan sastra untuk menerima penghargaan seolah olah terkesan sastra tidak peka dengan nilai kemanusiaan yang mestinya berperan dalam melihat korban lumpur Lapindo. Apakah benar demikian?

Menurut Putu lagi sastra selama ini dimasyarakat tidak mendapat penghargaan selayaknya seperti bidang bidang yang lain seperti politik, ekonomi atau teknologi. Bahkan didalam bidang senipun sastra masih belum cukup mendapat penghargaan dibanding dengan bidang seni Musik atau Film.

Tapi bukankah ini justru kesempatan yang baik untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa sastra bisa ikut berperan membela nilai kemanusiaan dengan cara menolak penghargaan?

Sebaliknya dari sudut pandang yang dipakai oleh Putu akan mengatakan bahwa tidak demikian cara kerja sastra dalam membela nilai kemanusiaan. Sastra membela nilai kemanusiaan melalui karya sastra. Dalam karya sastra nilai nilai kemanusiaan diangkat sehingga membuka mata dan nurani pembacanya.

Siapa tahu setelah ini Putu akan menulis cerpen atau pementasan teater tentang penderitaan korban lumpur Lapindo, kan bisa saja, sebab pemberian penghargaan tidak boleh membatasi obyektifitas penerimanya.

Seperti halnya peraih hadiah Nobel Jean-Paul Sartre yang karena obyektifitas pemikiran filsafatnya mencegah dia dari menerima hadiah penghargaan yang paling bergengsi tersebut.

Memang penolakan terhadap perhargaan akan memberikan dampak politis atau paling tidak kehebohan di media masa tentang penolakan itu sendiri. Tapi itu mungkin bagi cara pandang yang dipakai Putu akan terasa terlalu mencari perhatian dan mengurangi ketulusannya dalam bersastra karena harus dikait-kaitkan dengan kejadian yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan karya yang diberi penghargaan (karya sastra Putu berjudul “Telegram” yang dibuat tahun 1973 dan “Stasiun” yang dibuat 1977) jauh sebelum peristiwa lumpur Lapindo.

Kalau memang demikian cara kerja sastra dalam membela nilai kemanusiaan lalu apakah Franz keliru dalam bersikap? Apakah seharusnya Franz menerima saja penghargaan tersebut seperti halnya Putu? Apakah Franz lantas menjadi tidak tulus dalam berkarya dan suka mencari perhatian?

Tentu saja tidak karena bidang yang geluti Franz berbeda dengan bidang yang digeluti Putu. Bayangkan sebuah paradoks akan tercipta bila seorang pemerhati dan pemikir sosial menerima penghargaan dari pembuat masalah sosial.

Jadi Franz Magnis Suseno tidak keliru dalam bersikap karena posisinya sebagai pemikir sosial dan Putu Wijaya juga tidak keliru karena cara kerja sastra adalah dalam karya sastra.

foto diambil dari pikiran-rakyat.comSatu satunya yang keliru disini adalah keluarga Bakrie, kecuali bapak Achmad Bakrie yang memiliki nilai kepekaan sosial yang tinggi dan saya yakin kalau beliau yang menangani masalah lumpur Lapindo ini maka solusi yang elegan akan dicapai sehingga tidak terjadi problem sosial seperti sekarang ini.

Berharap keluarga Bakrie terketuk hatinya walaupun dengan diteruskannya tradisi pemberian penghargaan ini sudah cukup bagus. Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang Aburizal? Menjadi Menko Ekonomi tidak becus sekarang jadi Menko Kesra didera kasus Lapindo. Yah jadi penerus tradisi keluarga sajalah, itu yang terbaik yang bisa dia lakukan.

3 Komentar

Filed under sosial, tokoh

Fenomena Roy Suryo

Semenjak ribut ribut tentang lagu Indonesia Raya temuan Roy Suryo banyak sekali blogger yang menulis tentang hal ini. Rata rata bernada mengejek. Karena memang sepak terjangnya yang dianggap kurang memiliki kompetensi di bidang TI.

Sebenarnya tipe orang seperti Roy cukup banyak dan mudah ditemukan. Tapi karena Roy Suryo itu ngetop dan sering dijadikan referensi oleh media maka ulahnya selalu mengundang perhatian.

Terlepas dari usaha yang dia lakukan punya manfaat tapi memang Roy agak gegabah dalam bertindak atau mungkin terlalu tergesa gesa. Hasilnya informasi yang tidak akurat atau tidak pantas akhirnya tersebar ke publik. Misalnya ketika memberi informasi tentang durasi video monitor hotel tempat meninggalnya artis Alda Risma yang dikatakannya hanya 2 jam padahal durasinya 2 hari.

Atau ketika memberi analisa tentang keaslian foto adegan mesra Sukma Ayu dan Bejah. Mungkin dia benar bahwa foto itu asli tapi kok ya tidak punya tenggang perasaan dengan keluarga Ibu Nani Wijaya yang tentunya akan sangat dipojokkan dengan keterangannya.

Entahlah dalihnya apa tapi kalau saya jadi dia (walaupun mungkin saya tidak memiliki kemamuan seperti Roy Suryo terutama dalam hal keberanian) maka saya memilih no-comment ke media. Tapi ini bukan tulisan yang ingin mengungkit semua kiprahnya. Fenomena Roy Suryo memang unik dan bagi sebagian kalangan menjadi dagelan yang seru.

Dan juga karena fenomena Roy ini mengungkap bahwa para petinggi kita (wakil Presiden dan ketua MPR) juga ternyata tidak aware dengan sejarah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian rating berita di TV jadi naik dan trafik blog juga meningkat gara gara fenomena Roy Suryo. Mungkin alasan kenapa media suka menjadikan Roy sebagai referensi adalah sama dengan alasan kenapa para blogger tidak bosan menulis tentang Roy Suryo.

3 Komentar

Filed under tokoh

Pilkada Gubernur DKI

Sekarang ini kita (warga DKI) sedang menghadapi “pesta” demokrasi pilkada. Dua pasang cagub dan cawagub diusung dan diarak keliling kota bikin jalanan yang sudah macet jadi tambah parah. Tapi pilkada yang satu ini tidak seperti pilkada di daerah lain.

Kalau oligarki masih terjadi di jaman reformasi sekarang ini mungkin analis politik akan memberi analisa bahwa para politisi kita masih menggunakan gaya berpolitik jaman orde baru.

Tapi saya tidak heran dengan hal itu karena memang bisa dilihat dengan jelas masih banyak gaya orde baru yang masih bertahan di masyarakat kita. Termasuk masuknya artis ke kegiatan kampanye.

Pasangan Fauzi-Priyanto merekrut keluarga si Doel (Rano Karno cs) dan pasangan Adang-Dani merekrut keluarga Bajaj Bajuri (Mat Solar cs). Tapi lucunya dari anggota keluarga tv-show tersebut semuanya mau kompak mendukung pasangan yang sama. Keluarga si Doel mulai dari Rano, Basuki, Mandra, Mak Nyak sampe ke Atun semua jadi pendukung Fauzi. Begitu juga dari keluarga Bajuri, Mat Solar dan Nani Wijaya menjadi pendukung Adang.

Setahu saya aspirasi politik seseorang itu adalah hal yang sangat subyektif orang per orang. Tidakkah diantara mereka itu memiliki perbedaan aspirasi? Kok bisa seragam dan kompak padahal ikatan diantara mereka hanya sebatas teman kerja di tv-show.

Diantara teman teman sekantor saja pasti pilihannya tidak seragam tapi kok para artis ini bisa seragam. Apakah ini berhubungan dengan uang yang mereka peroleh dari iklan tv yang mereka bintangi? Kalau memang begitu berarti aspirasi mereka bisa dibeli dong?

Bagaimana tidak kalau sebelumnya Rano Karno pernah bertekad menjadi cawagub untuk partai manapun yang mau meminangnya tapi lantas karena ada tawaran Rp 3 milyar dari pihak Fauzi maka Rano mengurungkan niatnya untuk fight terus.

Yang membuat saya heran apa pertimbangan Rano memberikan dukungannya pada Fauzi? Tidakkah semangat reformasi memberitahu bahwa oligarki dan politik uang tidak baik? Dan yang lebih bikin saya heran lagi teman teman artisnya yang lain ikut ikutan mendukung hanya karena supaya dapet job bikin iklan tv.

Saya bukan pembela Adang karena Adang juga tidak mumpuni memimpin Jakarta sementara Fauzi yang mumpuni tapi tidak berkultur reformasi. Om Wimar Witoelar bilang begini:
Fauzi Bowo adalah orang yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman lama, sayang kapabilitas itu tidak dipakai. Keahlian yang dipakai bukan dalam pemerintah kota tapi justru dalam pemanfaatan birokrasi dan uang”.

Duh pilkada kali ini saya gak milih deh daripada ntar salah pilih. Kecuali kalau ada calon lain yang independen, itu juga masih mau dilihat dulu, kalo kwalitasnya macam Rano yah sama ajah.

2 Komentar

Filed under politik