Cipoa

Hari sabtu tanggal 23 juni pementasan teater Mandiri yang berjudul Cipoa di TIM berlangsung sukses. Sejak pementasan Jangan Menangis Indonesia teater Mandiri punya konsep baru yang membuatnya menjadi berbeda dari pementasan sebelumnya. Pementasan selanjutnya memberi ruang lebih banyak pada dialog tanpa membunuh sisi visual teater Mandiri yang sudah mendarah mendaging.

Teror mental Putu Wijaya yang bila pada pementasan visual ditampilkan dengan wujud abstrak dan suara yang menggelegar dan bila pada monolog disajikan dengan penjungkirbalikan norma yang berlaku di masyarakat. Tapi pada pementasan Cipoa ini, teror itu dikemas dalam dialog komedi satire tentang hal hal yang sedang melanda masyarakat dan negara kita sekarang ini.

Pementasan Cipoa ini kalau saya lihat terdiri dari praktis 2 babak, babak pertama dibuka dengan semacam monolog Putu Wijaya yang berperan sebagai tokoh pewayangan Semar yang memberi restu pada para raksasa yang menyamar sebagai manusia untuk dapat kembali mengunakan jati dirinya sebagai rakasa guna memakan daging manusia. Isi monolognya seperti memberi pengantar tentang apa yang akan terjadi di babak selanjutnya. Babak selanjutnya dikemas dalam drama komedi satire yang mengambil setting di sebuah pertambangan.

Cerita yang diusung tentang sebuah eksplorasi pertambangan untuk mencari harta karun memberikan kemungkinan dimasukkannya peran peran yang bisa mewakili berbagai macam elemen di masyarakat seperti penguasa (peran Juragan, diperankan oleh Putu Wijaya sendiri), birokrat (peran anak buah Juragan, diperankan oleh Alung dan Kribo), kaum wanita (peran para istri, diperankan oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Fien Herman), rakyat jelata (peran para pekerja tambang, diperankan oleh Ucok,Kardi,Kleng,Bei,Dyas,Agung dkk) dan investor asing (peran Meneer Belanda, diperankan oleh Arswendy Nasution).

Dengan komposisi peran seperti itu dan format komedi satire yang sudah dikuasai dengan sangat baik oleh teater Mandiri membuat pementasan benar benar bisa mendramatisasi berbagai macam persoalan bangsa.

Sebagai contoh ketika adegan Juragan menekan anak buahnya yang lugu untuk mau menjadi corong penguasa dan menipu rakyat terasa sangat membumi karena kita bisa dapati pada kehidupan sehari hari. Saya teringat sebuah dialog di TV swasta dimana tampil seorang juru bicara Presiden RI membela mati matian keputusan pemerintah tentang dukungan Indonesia terhadap resolusi PBB tentang nuklir Iran.

Kemudian ketika adegan harta karun berupa bongkahan emas yang dijual oleh Juragan ke Meneer Belanda dengan harga bongkahan batu saja. Saya teringat bagaimana BUMN BUMN kita dijual dengan harga obral ke investor asing melalui restu IMF, teringat bagaimana kayu gelondongan kita dicuri oleh rakyat kita sendiri untuk dijual ke Malaysia, teringat bagaimana hak pengelolaan berbagai lahan tambang dan pengeboran minyak kita jatuh ke tangan asing.

Semua itu digambarkan penuh dengan aksi tipu menipu untuk kepentingan sendiri yang di justifikasi dengan semboyan bohong itu benar untuk kebaikan. Tentunya kebaikan yang menipu. Adegan tipu menipu ini mengundang tawa penonton tiada henti hingga akhir pementasan.

Para pemain kali ini bermain dengan sangat baik. Sebagai catatan setiap celetukan Rieke Dyah Pitaloka selalu saja dapat diasosiasikan dengan kritikan atas kondisi masyarakat sekarang. Kemudian Kardi yang memerankan rakyat jelata yang lugu tapi skeptis ini sangat lihai menghidupkan suasana kocak. Kemudian Yanto Kribo berperan sebagai birokrat yang masih memiliki nilai moral kejujuran digambarkan sering mendapat sial dan malu, celananya sering dibikin melorot hingga hanya tampak celana dalamnya yang dekil itu membuat penonton tertawa terpingkal pingkal.

Walhasil di akhir pementasan semua menjadi sadar bahwa bohong dan tipu menipu itu hanya akan membawa sengsara dan memberi keuntungan pada pihak asing saja. Butet Kertaradjasa muncul di penutup pementasan sebagai pemanis dengan gaya Pak Harto membawakan pidato yang isinya tidak penting.

Yah.. itulah teater yang bisa dibikin happy ending atas skenario sutradaranya. Pementasan teater sudah berakhir tapi masalah yang dihadapi bangsa ini belum lagi mau berakhir. Malah makin menggila. Banyak pihak dan cara yang dilakukan anak bangsa untuk mengingatkan penguasa akan bahaya cipoa atau tipu menipu atau korupsi atau apapun yang merugikan bangsa ini.

Ada yang tajam seperti Kwik Kian Gie yang menghitung ada 28 miliar US dolar (atau sekitar 280 trilyun Rupiah) uang negara hilang akibat korupsi tiap tahunnya yang membuat banyak orang kaget dan prihatin. Ada yang blak blakan seperti Amien Rais dengan pengakuan kasus DKP yang membuat berbagai pihak beringsut memasang kuda kuda. Tapi Putu Wijaya dengan teater Mandirinya menyampaikan peringatan itu dengan cara yang sangat halus sehingga bila sang koruptor ikut menontonpun akan masih bisa tertawa karena memang sudah tidak punya hati nurani lagi.

Tinggalkan komentar

Filed under teater

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s